Channel YouTube

Jumat, 31 Desember 2021

MUHASABAH



Umar bin Khattab ra, pernah mengingatkan dengan perkataannya yang sangat populer, “Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu.” Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab. Kalimat ini ramai diingatkan kembali oleh para dai menjelang pergantian tahun seperti saat ini. Momennya memang tepat. Pergantian tahun adalah waktu yang paling spesial untuk bermuhasabah, mengevaluasi diri. “Mumpung kita masih diberi waktu,” kata Ebit G. Ade. Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan.


Meskipun tidak harus menunggu berganti tahun untuk menghisab diri. Tiap detik adalah waktu-waktu untuk bermuhasabah. Membaca diri dari setiap helaan nafas. Bukankah nafas adalah bukti kasih sayang Allah? Dengannya kita dapat merasakan nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung jumlahnya. Tidak terukur nilainya. Banyak, tak perlu menghitung. Kita tidak akan sanggup. Cukuplah dengan mensyukurinya.  Dan dengan syukur itu, Allah berjanji akan menambahkan lagi nikmatnya. Sebaliknya, para pengingkar nikmat, Allah mengancamnya dengan azab yang pedih (QS. 14 : 7).


Syukuri nikmat yang diberikan dengan menggunakannya hanya untuk mengabdi kepada Sang Pemberi nikmat, Allah SWT. Kufur nikmat adalah kekeliruan yang sejati. Bagaimana mungkin menggunakan nikmat untuk melawan sang pemberi? Nikmat ibarat barang titipan. Akan dikembalikan kepada pemiliknya, kelak di kemudian hari. Sudikah mengembalikan barang pinjaman dalam keadaan rusak?, Atau malah menghilangkannya? Memalukan!.


Ada muhasabah di setiap langkah yang diayun. Ayunan yang akan mengantar kita ke ujung jalan. Akhir kehidupan. Dimana kita hanya bisa menoleh ke belakang. Menatapi jejak-jejak yang membekas, tetapi tidak lagi bisa kembali menata ulang jejak-jejak itu. Jejak buruk akan membawa penyesalan. Pasti! Perhatikan perkataan Allah ini :


“Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), ‘Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin.” (QS. 32 : 12)


Atau ayat yang ini : “Andaikata kami dahulu mau mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya kami tidaklah termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala (QS. 67:10).


Betapa besar penyesalan bagi mereka yang salah dalam memilih jalan. Penyesalan yang tidak berguna lagi.


Maka pastikan setiap langkah adalah detik-detik yang membawa kebermaknaan. Membawa manfaat yang akan membawa kepada kebahagiaan di kehidupan kekal. Diriwayatkan dalam sebuah hadist, Nabi bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (HR. Ahmad).” Hadits yang lain mengatakan, "Sebaik-baik diantara kalian ialah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya". (HR At-Tirmidzi).


Berjalanlah pada titian yang lurus, jalan hidayah yang telah dipilihkan Allah. Jalan yang tidak pernah luput dari doa pada shalat-shalat yang didirikan : “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. 1: 6-7)


Momen muhasabah yang paling mengesankan adalah ketika shalat. Shalat adalah dialog antara seorang hamba dengan Tuhannya. Langsung tanpa perantara. Perhatikanlah sekali lagi bacaan-bacaan shalat itu. Resapi maknanya. Anda akan merasakan kedekatan dengan Allah. Kedekatan yang melahirkan kepasrahan. Kedekatan yang menghadirkan ketakberdayaan di hadapan Sang Maha Perkasa. Kehinaan di hadapan pemilik Kemahamuliaan.


Itulah sebabnya shalat terkadang membuat anda terisak, mengingati dosa-dosa yang telah diperbuat. Menyesal dan merasa tak berguna di hadapan Allah.


Maka sejatinya, shalat kita mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Itulah hasil dari muhasabah dalam shalat. Hebatnya, kaum Muslim diberi waktu sekurang-kurangnya lima kali dalam sehari untuk melaksanakan amalan dahsyat ini. Betapa beruntungnya. Perhatikan dialog Nabi dengan sahabat-sahabatnya :


Nabi berkata : “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Di hadist lain Nabi berkata : “Permisalan shalat yang lima waktu itu seperti sebuah sungai yang mengalir melimpah di dekat pintu rumah salah seorang di antara kalian. Ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali.” Al Hasan berkata, “Tentu tidak tersisa kotoran sedikit pun (di badannya).” (HR. Muslim).


Mari menghisab diri setiap waktu untuk kehidupan di hari depan. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. 59 : 18).


Selamat menjalani hari-hari baik di tahun baru ini. Semoga dilimpahi keberkahan dan keberuntungan.


“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka." (HR. Al Hakim).

Sabtu, 25 Desember 2021

Tamalanrea




Saya berkunjung ke sekolah seorang teman. Empat atau lima tahun yang lalu. Sekolahnya baru saja terpilih sebagai sekolah Adiwiyata Nasional. Sangat membanggakan. Kebetulan, sekolah saya juga akan mengikuti lomba serupa untuk tingkat Kabupaten. Jadi ingin melihat bagaimana sekolah Adiwiyata itu. Sekaligus belajar dari apa yang telah dilakukan.. Bagaimana mereka mempersiapkan diri hingga bisa tembus tingkat nasional. Menang pula.


Saya tiba di sekolah itu, pagi. Sekira pukul 09.00. Sekolahnya sunyi, siswa sedang belajar. Teman saya sudah menunggu, rupanya jamnya sedang kosong, tidak mengajar.


Area sekolahnya luas, halamannya rindang, teduh oleh pepohonan. Taman bunga ada di setiap kelas, terpelihara dengan baik. Beberapa bunga terpajang dengan pot yang terbuat dari bahan daur ulang. "Hasil karya siswa," kata teman saya. Temboknya juga tampak bersih. Tidak ada coretan seperti umumnya di banyak sekolah. Tidak ada mural. Apalagi mural yang digambar tanpa tujuan yang jelas. Ngawur, bikin mumet melihatnya.


Beberapa siswa tampak dengan rompi khusus. Mereka adalah petugas piket kebersihan. Petugas piket ini terjadwal.  Tugasnya berpatroli untuk mengingatkan siswa yang lain untuk, membuang sampah pada tempatnya. Mereka harus memastikan tidak ada sampah yang terbuang dari kumpulannya. Mungkin karena itulah, kebersihan sekolah ini selalu terjaga.


Saya menengok ke ruang kelasnya. Pun tertata rapi. Temboknya dihiasi dengan lukisan. Ada lukisan pemandangan ada pula slogan-slogan pembangkit semangat untuk terus belajar, mengejar cita-cita. Bukan mengejar cinta buta. Apalagi cinta monyet...hehe


Satu hal yang membuat saya kagum. Siswanya begitu patuh. Bisa menahan diri dari merusak tanaman atau mengotori tembok, atau perbuatan-perbuatan jahil lainnya. Ini di luar kebiasaan. Setidaknya, jika saya bandingkan dengan keluhan dari beberapa teman guru di luar sana.


Ketika  hal itu saya tanyakan ke teman saya, dia malah tertawa lebar. Dia bilang, "kamu tidak tahu, awalnya kami sangat kesulitan menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik kepada siswa. Butuh waktu lama, berbulan-bulan. Suara kami sampai parau berteriak mengingatkan siswa. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Sulit sekali, tetapi kami terus mengingatkan, melakukan pendekatan. Konsisten tidak pernah kendor. Alhamdulillah, ada hasil. Perlahan-lahan mereka berubah. Kebiasaan-kebiasaan baik itu mulai tertanam dan akhirnya menjadi budaya. Itulah yang kita saksikan saat ini.” Penjelasan yang sangat meyakinkan.


Saya pernah ceritakan pengalaman ini pada saat pendampingan Calon Guru Penggerak di salah satu sekolah dampingan saya. Kebetulan pendampingan ketika itu temanya tentang budaya positif. Bagaimana menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik pada siswa. 


Kepala sekolah yang sejak awal menyimak dengan serius cerita saya, memberi kesimpulan dengan hanya satu kata, "tamalanrea." Sebagai sikap yang harus dimiliki oleh setiap pendidik untuk menanamkan budaya positif pada diri siswa. Tamalanrea adalah istilah dalam bahasa Makassar yang berarti tidak putus asa, tidak bosan, konsisten dan bersabar dalam melakukan sesuatu. 


Dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan memang harus dengan kesabaran, telaten. Karena yang akan diubah adalah perilaku. Ini tidak mudah, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Butuh proses. Dan tidak boleh terburu-buru untuk melihat hasilnya.


Menanamkan nilai kebaikan juga butuh keteladanan. Kata-kata tanpa keteladanan tidak akan memiliki kekuatan yang berarti. Tindakanlah yang memberi kesan kuat. Jadi lakukanlah apa yang anda ingin siswa anda melakukannya. Contohkan. Kalau tidak, kata-kata hanya akan menjadi angin lalu. Datang dan pergi tak memberi kesan.


Dalam pendidikan guru penggerak, penanaman budaya positif dimulai dari kelas. Guru dan siswa bersama-sama merumuskan mimpi. Mimpi tentang kelas mereka. Dan bagaimana mewujudkannya. 


Mewujudkan mimpi itu melalui penanaman budaya positif. Diawali dengan membuat kesepakatan kelas. Guru dan siswa bersepakat mengenai budaya positif yang hendak dikembangkan. Jika kelas ingin selalu bersih, apa yang harus dilakukan? Jika kelasnya ingin rapi, apa yang harus dilakukan? Jika kelasnya ingin indah, apa yang harus dilakukan? Jika ingin menghilangkan bullying di kelas, apa yang harus dilakukan? Jika ingin pembelajaran dilakukan tepat waktu, apa yang harus dilakukan? Dan seterusnya. 


Buat kesepakatan-kesepakatan dan lakukan dengan disiplin dan konsisten. Tanamkan sikap tamalanrea, lakukan terus menerus. Jangan pernah bosan, jangan putus asa.


Siswa harus diberi kebebasan seluas-luasnya untuk terlibat langsung dalam membuat kesepakatan kelas. Buka ruang diskusi yang sedemoktatis mungkin. Dan yang perlu diingat, kesepakatan kelas tidak boleh ada sanksi atau pun hadiah. Kenapa? Kita ingin motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, dari dalam. Mereka melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena terdorong oleh kesadaran sendiri. Atas pemahaman rasional tentang penting dan tidak pentingnya sesuatu. Tentang pantas dan tidak pantasnya sesuatu. 


Tindakan yang didorong oleh pertimbangan sanksi dan hadiah cenderung manipulatif, penuh keterpaksaan. Berbuat karena ada hadiah atau tidak melakukan sesuatu karena takut sanksi. Inilah yang melahirkan disiplin kucing, takut melanggar karena ada yang menjaga. Penjaganya pergi mereka pun melanggar. Mau melakukan sesuatu karena ada hadiah, tidak ada hadiah mereka pun kehilangan semangat. 


Anda pasti sering melihat pengendara di jalan raya yang menerobos lampu merah, saya juga serin. Bahkan sangat sering. Mereka menerobos saat tidak ada Polantas yang berjaga. Tetapi jika ada Polantas, mereka tunduk dengan patuhnya. Siswa di sekolah sangat bersemangat membersihkan kelas saat lomba kebersihan. Tetapi saat tidak ada lomba, semangatnya pun hilang entah kemana.


Perilaku positif yang kita inginkan adalah yang bersifat permanen. Dan ini yang akan membentuk budaya. Bukan yang sekejap lalu hilang.


Anda bisa bayangkan jika semua kelas menerapkan budaya positif seperti ini. Maka budaya positif akan menjadi trend di sekolah. Menyebar di lingkungan sekolah, ke seluruh komunitas yang ada di sekolah. 


Bukan hanya di sekolah, budaya positif ini juga bisa terbawa ke rumah. Selanjutnya ke lingkungan di mana siswa tinggal. Caranya bagaimana? Melalui komunikasi antara guru dan orang tua. Melibatkan orang tua untuk mengontrol perilaku siswa di rumah. 


Sahabat saya, guru yang saya dampingi di Pendidikan guru penggerak membuat buku penghubung dengan orang tua. Di buku itu orang tua mencatat bagaimana perkembangan perilaku siswa di rumah. Demikian juga, guru mencatat perkembangan perilaku siswa di sekolah. Sesekali guru mengadakan kunjungan rumah untuk sekadar berbincang-bincang dengan orang tua juga dengan siswa. Membangunkan kedekatan emosional demikian penting untuk menanamkan budaya positif.


Menanamkan budaya positif tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus bersama-sama, kolaboratif. Pendidik, orang tua, aparat pemerintah dan juga seluruh pemangku kepentingan. Dengan bekerja bersama saya yakin karakter siswa yang selama ini sering dikeluhkan, perlahan akan membaik. Jangan pernah bosan menyeru kepada kebaikan, jangan pernah putus asa, tamalanrea!


Minggu, 19 Desember 2021

INILAH SAATNYA



Ini adalah perjalanan ruhani. Sembilan bulan berjalan seolah mengisi jiwa dengan butiran kebijaksanaan. Setiap langkah yang diayun bagai membuka lembaran kurikulum, kurikulum alam. Kurikulum yang tak tertulis, dan hanya bisa dipahami dengan meresapinya, merenunginya.


Prosesi pendidikan Guru Penggerak Angkatan ke 2 baru saja selesai. Ditandai dengan penyelenggaraan Lokakarya 9, lokakarya penutup. Setelah ini tidak ada lagi lokakarya, tidak ada lagi pendampingan individu. Aksi nyata, ini yang dinanti. 


Lokakarya 9 adalah alarm. Pertanda gerakan sesungguhnya baru saja dimulai. Tidak bisa ditunda lagi. Tentu kita tidak ingin program ini tidak mati suri, layu sebelum berkembang. 


Maka mulailah dari sekarang. Bagian tersulit dari suatu pekerjaan adalah memulainya. Betapa banyak perencanaan yang tersusun rapi, gagal diwujudkan karena hanya tertulis dalam dokumen lalu disimpan rapat-rapat dalam tumpukan arsip. 


Pengetahuan hanya bisa membawa manfaat jika mewujud dalam aksi nyata. Memang begitulah seharusnya, teori itu bukan sekadar gudang kata, tetapi juga kerangka aksi, panduan tindakan. Saya suka mengulang-ulang kalimat ini, “pekerjaan yang tidak pernah selesai adalah pekerjaan yang tidak pernah dimulai”. Kalimat yang mungkin saja dibuat untuk berkelakar tetapi benar adanya. Bagaimana mungkin berharap pekerjaan selesai jika tidak pernah memulainya. 


Setelah memulai, pekerjaan terberat berikutnya adalah konsistensi. Konsisten menjaga spirit untuk tidak kendor hingga tujuan tercapai. Tidak gampang menyerah terhadap rintangan apapun. Itulah pentingnya perencanaan diikat  dengan komitmen. 



Guru Penggerak telah dibekali dengan ilmu yang lebih dari cukup. Dengannya mereka diharapkan menjadi pemeran utama dalam proses transformasi pendidikan yang sedang berjalan. 


Rencana Tindak Lanjut (RTL), lengkap dengan manajemen risiko telah disusun, didiskusikan. Malah sudah banyak yang ujicobakan di sekolah. Komitmen juga sudah diikrarkan, sudah ditandatangani. Tinggal kesungguhan dalam memulai aksi. Ini pun tidak terlalu sulit, Tim dan jaringan kerja berupa komunitas praktisi sudah tersedia. 


Dan yang terpenting:  mereka adalah orang-orang terpilih. Diseleksi dengan ketat lalu dilatih. Tidak tanggung-tanggung, selama 9 bulan. Banyak energi yang terkuras. Tetapi lebih banyak lagi harapan yang menggantung. Sama banyaknya dengan potensi kekecewaan jika program ini gagal. 


Maka jangan biarkan bola mati di kaki anda. Ingat, di pinggir lapangan begitu banyak penonton yang akan menyoraki atau malah melempari dengan botol air mineral. Belum lagi para netizen, yang umpatannya bisa melampaui nalar. Bermainlah dengan cantik, fokus pada tujuan, fokus pada kemenangan. 


Jika semangat kendor, buka album. Lihat kembali jejak digital yang bertebaran di media sosial. Saya yakin, gambar-gambar dan video itu akan membuatmu senam wajah. Sekali senyum, lain waktu tertawa, atau bisa saja meneteskan air mata. Entah karena sedih, entah karena saking bahagianya.


Kita butuh kenangan itu, sebagai penyemangat. Bahwa keberadaan kita saat ini telah melalui perjuangan panjang, tidak instan. Jangan biarkan perjuangan ini sia-sia. Guru penggerak adalah mata air yang akan memancarkan air kehidupan di manapun berada.


Buat sahabat-sahabat seperjalannaku di program ini. Pak kaparuddin , Pak Hamzari Hafid, bu Wiwik Pratiwi Yunus, pak Rusli. Terima kasih telah memberikan banyak pelajaran dan pengalaman berharga. Yang di awal tulisan ini saya menyebutnya kurikulum alam. 


Pengalaman yang tidak ternilai. Saya banyak paham tentang arti kekeluargaan dan persahabatan. Saya merasa sebagai bagian dari keluarga besar empat sekolah yang saya kunjungi setiap bulan. Dijamu dengan penuh keramahan, diperlakukan bagai keluarga terhormat, bukan sebagai tamu. 



Diskusi yang menginspirasi dengan kepala sekolah dan juga teman-teman guru. Menu yang akan selalu dirindukan, menyegarkan alam pikiran. 


Tentu saya tidak akan melupakannya, perjalanan ke perbukitan mengunjungi sekolah-sekolah itu. Mentadabburi keindahan alam ciptaan Sang kreator Maha Agung, Allah SWT. Bagian yang tidak boleh luput untuk disyukuri.


Saya ikut merasakan denyut perjuangan sahabat-sahabat saya. Berjuang di dataran tinggi dengan sarana prasarana terbatas. Lokasi yang tak mudah dijangkau. Ditambah kebijakan yang kadang tidak berpihak ke mereka. Butuh nyali yang tidak biasa untuk bisa bertahan. Saya bangga dengan mereka. Semoga tetap istiqamah di jalan ini. 


Terima kasih pak Kaparuddin Nompo . Nasehatanya yang selalu mengingatkan "mulailah dari dirimu" selalu saya ingat. Menjadi teladan dari yang kita ucapkan. 


Terima kasih pak Hamzari Hafid, sahabat yang selalu energik. Teman diskusi yang menginspirasi, sarat kreativitas.

Terima kasih bu Wiwik Pratiwi Yunus karenamu tim ini menjadi berwarna. Meskipun kelihatannya kesulitan mengekspresikan kebahagiannya di tim ini. Atau jangan-jangan tidak bahagia? Hehe...Terima kasih telah bersedia mengikuti jalan para bapak-bapak yang suka berpetualang ini.


Terima kasih pak Rusdii guru muda yang bertalenta, gagah pula orangnya. Teruslah berkarya mumpung masih muda.


Terima kasih bapak/ibu kepala sekolah dan teman-teman guru ; SDN Tassese (Manuju), SDI Kananga (Manuju), SDI Parang (Parangloe), dan SDI Pakkolompo (Parangloe).


Terima kasih sahabat-sahabat para pengajar praktik Pendidikan Guru Penggerak Kabupaten Gowa-Takalar angkatan 2. Segenap Panitia dari PPPPTK Penjs/BK. 


Maafkan atas segala khilaf dan keterbatasan saya. 

Mari bergerak untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Selasa, 30 November 2021

NGOTOT



Ini ngotot yang benar. Tak sekadar berjalan bahkan dia berlari untuk meraih mimpinya. Terus bergerak dari satu tugas ke tugas yang lain. Dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain. Dia paham betul makna ayat "Maka apabila engkau telah selesai (dri suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)" QS 94 : 7.

Umurnya masih terhitung mudah, setidaknya lebih mudah dari saya. Tetapi pengalamannya jauh melampaui usianya. Etos kerjanya luar biasa. Maqamnya sampai pada level "ngotot". Sedikit lagi mencapai level "gila". Gila kerja! Gila belajar! Saya tidak sedang berbasa-basi. Periksa saja riwayat karirnya.
Dia adik kelas saya di SMA. Kuliah di Perguruan Tinggi yang sama, satu fakultas. Sama-sama merintis berdirinya HIPMA Gowa Komisariat IKIP Ujungpandang. Dia kemudian menjadi sekretaris dan saya di Dewan Pembina. Tapi sangat jarang bertegur sapa, atau mungkin sama sekali tidak pernah. Aneh!
Menjadi guru juga pada rumpun mata pelajaran yang sama. Bernaung pada organisasi yang sama, MGMP IPS. Kali ini kami sering bersama, menjadi teman diskusi, sering bekerja bareng pada tugas-tugas di Dinas Pendidikan.
Saat Mahasiswa pernah mewakili IKIP Ujungpandang sebagai Mahasiswa berprestasi tingkat Nasional. Sebagai guru juga menjadi guru berprestasi tingkat nasional. Mengharumkan nama daerahnya, Kabupaten Gowa. Sejak itu menjadi langganan lomba dan event-event pendidikan di berbagai tingkatan. Instruktur di berbagai hal. Banyak, saya tidak menghapalnya.
Sebagai pengawas, dia sangat profesional. All out dalam bekerja. Pernah jadi pengawas bina di sekolah saya. Lama, sekitar enam tahun. Suatu ketika, jam 2 malam, lewat pesan di Whatshapp dia minta dikirimi data-data sekolah. Saya malah memintanya tidur saja dulu. Dia malah ketawa. Rupanya dia baru bangun. Di saat saya bersiap tidur, dia justru baru bangun. Baru mulai bekerja. Pola kerja yang sehat. Saya mengaku kalah.
Sebagai pengawas dia membawa nuansa baru. Hubungan yang memanusiakan. Memberi bimbingan tanpa menggurui. Memberi solusi tanpa mengintervensi. Antara dia dengan guru dan kepala sekolah nyaris tanpa jarak. Batasannya hanya karena tupoksi masing-masing yang berbeda. Di luar itu, dia memperlakukan rekan kerja dalam kedudukan yang sama. Sebagai teman. Pengawas tetapi juga sahabat.
Hari ini dia berdiri di ruang sidang yang mulia. Di hadapan para guru besar, disaksikan keluarga, sahabat dan rekan kerja. Sidang Promosi doktor. Dia telah mencapai strata tertinggi akademiknya. Capaian yang sangat prestisius. Pantas membuat kita iri.
Semoga semangatnya menjalari kita semua. Untuk tidak pernah berhenti berkarya. Memotivasi anak-anak muda untuk mewarisi semangat pantang menyerah, memiliki etos ngotot untuk terus berlari mengejar mimpi.

SELAMAT SAUDARIKU
Dr Astuti Nurdin Yudhar S.Pd.,M.Pd.,MM
Rahmat Allah selalu bersamamu, insyaallah sukses menyertai

Tassese, 30 November 2021

Jumat, 26 November 2021

TLC KENDARI



Menyebrang ke bagian lain Pulau Sulawesi. Sulawesi Tenggara, tepatnya Kota Kendari. Di bawah penugasan dari Putra Sampoerna Foundation (PSF), saya bersama Ibu Jani Natasari (PSF) melanjutkan rintisan pembentukan TLC (Teacher Learning Center) di Kendari. Kerja sama PSF dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara. TLC di tempat lain dinamakan PBG (Pusat Belajar Guru). 



Tugas kami adalah melaksanakan seleksi tahap 2 terhadap 62 calon Master Teacher/guru  inti yang dinyatakan lulus pada seleksi tahap 1.


Jika TLC Kendari terbentuk, ini akan menjadi TLC kedua di Pulau Sulawesi, setelah PBG Gowa, Sulawesi Selatan. 


Saat diskusi dengan panitia, terlihat betapa antusiasnya mereka. Berharap, di masa depan Sulawesi Tenggara akan memiliki TLC yang kelak menjadi mercusuar perkembangan pendidikan di daerah ini. 


Apakah ini sekadar angan-angan? Saya yakin bukan. Saya telah mengalami proses yang sama ketika PBG Gowa dirintis sejak tahun 2017 lalu. Sebagai Calon Guru Inti (GI), saya dan teman-teman mengikuti gemblengan yang terprogram dengan sangat rapi dan terstruktur.  Sangat terukur.


Model pelatihannya khas, sangat beda dengan pelatihan yang sering saya ikuti selama ini.  Dimulai dari seleksi calon GI yang ketat. Test tertulis, penilaian portofolio, test wawancara, dan test mengajar melalui video pembelajaran. Lalu mengikuti diklat dan pendampingan hampir tiga tahun lamanya. Sebuah proses yang panjang. 


Program ini serius tidak asal jadi, bukan karbitan. Sistem yang dibangun PSF Sangat mengayomi dan terkontrol. Bahkan hingga program ini selesai hubungan kelembagaan dan juga personal masih tetap terjaga. PSF memberdayakan para "kadernya" untuk tampil di program pendidikan yang dikelolanya. Bentuknya, kerja sama kemitraan antara PSF dengan TLC/PBG yang sudah terbentuk.


Saya pikir, ini adalah cara PSF menjaga konsistensi sistem yang sudah terbangun. Memang disayangkan jika susah payah membangun, mengerahkan segala daya namun setelah program selesai, habis pula aktivitas di dalamnya. Lenyap tanpa bekas. Seperti sering kita jumpai pada beberapa program di waktu yang lalu.


Ibarat membangun sebuah monumen, PSF membangun TLC dimulai dengan memperkuat pondasinya.  Memang membutuhkan waktu yang relatif lama. Begitu banyak hal yang perlu penyesuaian agar pondasi itu kokoh. Butuh kesabaran. 


Bagian terpenting dari pondasi itu adalah meletakkan landasan berpikir yang benar. Bahwa mengembangkan kompetensi guru harus dimulai dari memperbaiki mindsetnya. Guru harus berpikir maju. Melahirkan ide-ide kreatif untuk perkembangan pendidikan.


Bukan hanya guru, para pemangku kepentingan pun harus memiliki mindset yang benar, yang padu tentang arah yang ingin dituju dan bagaimana mencapainya. Setidaknya para pemangku kepentingan memberi ruang dan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para guru untuk berkarya. 


Monumen yang dibangun di atas pondasi yang kokoh tidak akan mudah goyah. Dia akan berdiri gagah menatap derap zaman. Dan TLC bukan monumen biasa. Monumen yang dibangun di atas ide. Ide itu abadi, tidak akan pernah hilang. Akan terus menginspirasi, sekalipun pencetusnya telah tiada.


Dari proses pembentukannya TLC Sultra tampak sekali didukung penuh oleh pemangku kepentingan. Para pejabat struktural, Gubernur, Kadis dikbud beserta jajarannya. Demikian pula dengan MKKS, pengawas dan MGMP. Inilah pondasinya, modal dasar yang jika mampu dikelola dengan baik akan menjadi daya dorong yang kuat untuk percepatan ketercapaian tujuan TLC.


Antusiasme para calon master teacher/guru inti yang mengikuti seleksi pun sangat memberi harapan. Bukan antusiasme belaka. Dari wawancara yang kami lakukan, mereka adalah guru-guru hebat, kompeten, dan punya komitmen yang kuat untuk membesarkan TLC. Tinggal bagaimana manajemen bisa mengelola dengan baik potensi ini. Kekuatan jika tidak dikelola dengan benar bisa saja berbalik arah menjadi titik lemah yang akan menjadi bumerang. Harus diwaspadai.


Jika ingin menjadikan guru hebat. Hadirkan sistem yang sehat dan ruang yang layak untuk berkarya. TLC adalah salah satu ikhtiar menghadirkan sistem sekaligus ruang yang layak bagi mereka. 


Untuk itu TLC didesain tidak seperti rumah makan yang semuanya sudah tersaji lengkap. TLC hanya menyiapkan kail, dan membebaskan siapa saja untuk berkreasi dengan kail itu untuk memperoleh ikan. TLC adalah tempat para guru mempertemukan ide, menyatukan langkah, berkreasi, dan bergerak untuk tujuan yang sama.


Semoga TLC Kendari segera terwujud, dan benar-benar menjadi mercusuar bagi kemajuan pendidikan. Bukan hanya Sulawesi Tenggara tetapi juga untuk kemajuan Pendidikan Nasional.


Kendari, 26 November 2021

 

Selasa, 16 November 2021

Ekspedisi Topidi


Mewujudkan rencana membutuhkan keteguhan hati, tekad yang kuat. Tidak cukup dengan debat kusir seperti yang sering terjadi grup-grup WA. Saling berbalas ocehan yang tidak punya titik temu. Masalah remeh diributkan, masalah substantif terlupakan. 


Ini adalah ekspedisi kecil yang dibangun hanya dengan diskusi seadanya, tanpa debat, dan terwujud. 


Saya hanya mengikuti seseorang teman yang meskipun posturnya kecil tetapi gerak telunjuknya mampu mengendalikan kemana ban mobil berputar. Tanpa acara basa-basi dan bahkan tanpa sepengetahuannya saya serahkan kepemimpinan kepadanya. Ekspedisi dadakan seperti ini adalah keahliannya.


Dua mobil bergerak membawa rombongan kecil ini, dibekali tekad kuat. Takkan pulang sebelum mencium hawa Langit Topidi, sasaran ekspedisi ini. Begitu bersemangatnya. Tetiba saya membayangkan diri sebagai pengelana Makassar tempo dulu sekali, yang bersumpah dengan kalimat penyemangat yang abadi hingga hari ini. "Takunjunga' bangungturu nakugunciri' gulingku, kuallenna tallanga na toalia" (tidak begitu saja aku ikut angin buritan dan aku putar kemudiku, lebih baik aku pilih tenggelam daripada balik haluan). 


Inilah prinsip tekad kuat itu. Jika layar sudah berkembang, kemudi pun sudah terpasang. Tidak ada lagi alasan untuk mundur. Bahkan risiko terberat sekalipun siap dihadapi daripada balik haluan kembali ke pantai.



Di saat yang lain. Saya terasa turut menyaksikan para pahlawan Badar Kubra bahu membahu menahan gempuran pasukan kafir Quraisy dengan kekuatan yang tidak sebanding. Kaum Muslimin berjumlah 300-an orang menghadapi 1000-an musuh. Keyakinan yang kuat akan janji Allah menjadi amunisi tak terkalahkan. Kaum Muslimin menang, tak masuk akal. "Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” (Qs. 2 : 249)


Pada menit berikutnya, saya membayangkan ikut memanggul tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dengan keteguhanhatinya mempimpin perang gerilya di hutan-hutan. Meskipun fisiknya lemah akibat sakit yang dideritanya. Keteguhan itu pula yang menulari para prajuritnya hingga mampu bertahan menyusuri hutan lebat sambil memanggul tandu sang Panglima. Di bawah bayang-bayang ancaman musuh.


Kita butuh keteguhan itu untuk menyelesaikan bengkalai problem di banyak titik hidup ini. Dan ekspedisi yang saya maksud di awal tulisan ini hanyalah wujud kecil dari bagaimana keteguhan itu bekerja.


Selesai mengikuti sebuah workshop di Malino, saya dan teman-teman dari PBG Gowa sepakat memulai ekspedisi ini. Tujuannya adalah salah satu destinasi wisata alam "langit Topidi". Letaknya di desa Topidi kecamatan Tinggimoncong kurang lebih 11 KM dari Malino.


Perjalanan menuju lokasi, ekstra hati-hati. Mengendalikan mobil kecil yang cocoknya mengaspal di jalan-jalan kota yang datar, dipaksa mengikuti jalan di perbukitan yang berombak, dengan tanjakan dan penurunan.  Jalan yang sempit dan berbatu sekitar satu kilometer sebelum lokasi membuat suasana mirip sedang mengikuti acara adu nyali seperti di tivi-tivi itu.


Terus terang saya harus berjuang keras meredam rasa khawatir. Apapun yang terjadi supir harus terlihat tenang. Tidak boleh sama sekali memperlihatkan kecemasan kepada penumpang. Kecemasan hanya akan membuat suasana menjadi kacau. Jika 4 orang penumpang mobil ini cemas, kacaulah segalanya. Sampai pada akhirnya kami harus turun, berjalan kaki. Mobil tidak bisa dipaksakan pada medan yang tidak layak.


Perjuangan tidak sia-sia. Kami tiba di wisata alam Langit Topidi. Alam pegunungan yang sejuk dengan pemandangan yang menakjubkan. Suasananya tenang, jauh dari kebisingan. Sangat cocok sebagai tempat beristirahat dari kepenatan hidup. Tempat ini dirancang sedemikian menarik, dilengkapi dengan penginapan dan restoran. Bangunannya menyatu dengan alam, terbuat dari bambu dan kayu. Berada di tempat ini terasa kita dibawa ke alam pedesaan asli Indonesia yang biasanya kita hanya menikmatinya pada lukisan-lukisan hayalan.


Keteguhan hati membawa kami ke sini. Teruslah berkarya jangan pernah menyerah.

Jumat, 29 Oktober 2021

Berjalan


Saya bukan pejalan. Kalau pun melakukan perjalanan hanya karena alasan yang sangat penting, mendesak. Sejak kecil dan sisa-sisanya masih membekas hingga sekarang.
Apa saya tidak suka hiburan, rekreasi misalnya? Eits, jangan salah. Bahkan hari-hariku adalah rekreasi. Saya menikmati alam kampungku. Hamparan sawahnya, rimbun pepohonan dan kesejukan udaranya. Saya menikmati kebebasan bermain lumpur di sawah, malah sering tertidur dengan olesan lumpur di kaki.
Ke sawah adalah rutinitas wajib, tiap hari. Bekerja sambil bermain. Bermainnya pun di alam nyata, bukan di dunia lain (maya). Mengasyikkan, bertengger di atas pohon sambil memandangi mobil yang lalu lalang di jalan raya. Tidak lupa menghitungnya, berapa mobil yang mengarah ke kanan dan berapa pula yang jalan ke arah kiri. Menghitung mobil adalah ajang perlombaan bagi kami anak-anak kampung. Game yang mengasyikkan.
Bukan hanya menghitung mobil. Dari atas pohon itu saya dan teman-teman biasa menikmati tentara yang latihan terjun payung. Dari arah asrama tentara duapuluhan kilometer dari kampung saya. Di kejauhan tentara yang terjun itu tampak seperti bebatuan yang keluar dari (maaf) pantat burung. Mungkin penampakannya mirip dengan burung ababil yang melempari pasukan Abraham dengan krikil panas.
Akstraksi tentara payung ini sangat menghibur. Saking disukainya, ada orang tua yang ingin menyewa tentara payung untuk hiburan di pernikahan putrinya. Sayang tak pernah kesampaian. Padahal banyak yang penasaran dengan model pertunjukkannya. Termasuk saya.
Tetapi berkurung di kampung tidaklah selalu menguntungkan. Kita butuh melihat dunia luar. Jangan bernasib seperti katak yang asyik bermain dengan dunianya sendiri. Dunia di bawah tempurung. Pengetahuannya hanya sebatas langit-langit tempurung. Dan tergagap dengan "keanehan" demi "keanehan" yang terlumrakan di luar sana.
Maka berjalanlah. Banyak berjalan, banyak dilihat, banyak mengalami. Melihat dan mengalami adalah instrumen terpenting bagi tumbuhnya pengetahuan dan lahirnya kebijaksanaan. Allah Swt berfirman, "maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?" (Qs. 22 : 46)
Dengan berjalan anda akan merasakan kerasnya perjuangan. Tokoh-tokoh besar di masa lalu adalah mereka yang berani keluar menembus batas teritorial negerinya. Menjelajah negeri-negeri. Sebutlah Alexander the Great dari Macedonia yang wilayah kekuasaannya membentang luas dari Laut Ionia di Eropa hingga Pegunungan Himalaya di Asia. Penakluk yang tidak pernah terkalahkan dalam pertempuran dan dianggap sebagai komandan perang terhebat sepanjang masa.
Alexander ditempah oleh penjelajahan. Keberaniannya untuk berjalan sejauh yang dapat dijangkaunya. Jatuh bangun menghadapi tantangan. Pengalaman adalah sumber kekuatannya.
Berjalan adalah sebuah kemestian. Butuh kebulatan tekad, butuh keberanian. Berjalan bukan sekadar bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Tetapi juga bergerak dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Bergerak keluar dari zona nyaman yang melenakan. Menuju zona pergerakan yang mungkin saja melelahkan. Tetapi bagi pejalan justru disitulah nilainya.
Berjalanlah menelusuri pelosok bumi yang terhampar luas. Berjalanlah menelusuri jejak-jejak peradaban yang tersisa. Berjalanlah dan jadilah saksi dari proses peradaban yang akan lahir. Berjalanlah dan saksikanlah karya-karya fantastis dari orang-orang yang tak pernah lelah bergerak. Berjalanlah menyusuri alam pikiran orang-orang jenius melalui halaman-halaman kitab yang ditulisnya. Berjalanlah dan anda akan tahu eksistensi diri anda.
Berjalanlah dan jangan lupa pulang. Begitu banyak harapan bertengger di atas pundakmu. Begitu banyak amanah yang harus ditunaikan dari hasil perjalananmu.
Jepang melesat menjadi bangsa modern berawal dari restorasi Meiji. Restorasi Meiji membawa Jepang keluar dari tempurung kekolotan. Di bawah Kaisar Meiji, Jepang memperjalankan putra-putra terbaiknya untuk belajar di negeri-negeri Eropa. Mempelajari teknologi dan yang lainnya. Setelah puas menimba ilmu mereka dipulangkan untuk membangun negerinya. Hasilnya, seperti apa yang anda saksi saat ini. Jepang memang hancur di Perang dunia kedua tetapi begitu cepatnya mereka bisa bangkit lagi. Unggul kembali.
Berjalan adalah gerakan, menuntut ilmu, berburu pengalaman, dan menyerap inspirasi. Perjalanan akan menempah jiwa pelopor. Agar tak hanya menjadi saksi lahirnya peradaban tetapi juga pelaku dan pencipta peradaban.
Siapapun anda, anda harus berjalan, terus bergerak. Termasuk sahabat-sahabat saya, para guru.

Jumat, 08 Oktober 2021

SERAGAM



Ada banyak alasan mengapa sebagian orang suka dengan pakaian seragam. Dalam sebuah komunitas misalnya, tidak afdol rasanya tanpa pakaian seragam. Meskipun pengadaannya harus melewati diskusi dan debat panjang, mengalahkan diskusi tentang substansi keberadaan komunitas itu sendiri. Pesta perkawinan tidak semarak tanpa pakaian seragam. Walaupun harus mendongkrak uang panaik bergerak meninggi menjauhi kemampuan si jomblo yang bisa saja memupus impiannya. Upacara bendera kelihatan unik tanpa baju seragam. Meski upacaranya tetap sah.


Seragam itu perlu sebagai identitas. Perusahaan merasa penting untuk menyeragamkan pakaian karyawannya. Sebagai bagian dari brand, identitas, dan ajang promosi. Dengan pakaian seragam, perusahaan bisa dikenal, menembus pelosok yang tidak terjangkau oleh rayuan iklan televisi. Bagi anak sekolah, seragam bisa melatih kedisiplinan. Seragam juga bisa menunjukkan kebersamaan, kekompakan, juga sebagai suplemen rasa bangga. Bangga tentu tidak dilarang, kecuali jika kebanggaan kelewat batas yang lalu menimbulkan arogansi pada pihak-pihak yang tidak berseragam.


Konon, kegiatan mengenakan seragam, telah ada sejak dahulu. Tentara Kekaisaran Romawi telah mengenakan seragam sebagai simbol kesatuan. Juga, agar mudah mengenali lawan atau kawan saat terjadi perang. Untuk urusan ini, tentara Indonesia mungkin bisa dikecualikan. Saat perang kemerdekaan, mereka justru mudah dikenali karena tidak seragam.


Tetapi tidak semua hal harus diseragamkan. Dalam beberapa kasus, keragaman justru menciptakan harmoni dan keindahan. Taman menjadi indah karena bunga yang berwarna-warni. Pelangi dirindukan justru karena paduan warna yang berbeda. Hidup menjadi nikmat karena menyatunya keragaman. Keragaman adalah kodrat, sunnatullah. Memaksakan keseragaman di atas kodrat keragaman justru bisa merugikan.


Penyeragaman soal penilaian peserta didik, misalnya. Menyamakan soal untuk semua sekolah dalam satu wilayah di masa pembelajaran tidak normal ini, tentu tidaklah bijak. Ada sejumlah alasan yang bisa dikemukakan. Di antaranya;


Pertama; Kementerian telah mengeluarkan kebijakan memberikan pilihan kepada setiap sekolah untuk menggunakan kurikulum khusus di masa pandemik. Ada tiga opsi yang ditawarkan; menggunakan kurikulum 2013 secara penuh, menggunakan kurikulum 2013 yang disederhanakan oleh kementerian, atau pihak sekolah secara mandiri membuat penyederhanaan kurikulum. Jadi besar kemungkinan dalam satu wilayah, sekolah menerapkan kurikulum yang berbeda-beda.


Kedua; Menteri Pendidikan di banyak kesempatan sering menyatakan bahwa pembelajaran di masa pandemik ini tidak dituntut untuk menuntaskan semua Kompetensi Dasar (KD) di setiap mata pelajaran. Guru dipersilahkan kembali mengkaji/membuat pemetaan KD dan hanya mengajarkan materi-materi esensial saja. Artinya, ada kemungkinan ketidakseragaman materi ajar di setiap sekolah.


Ketiga; Pembelajaran jarak jauh yang dilakukan selama ini menghadapi hambatan yang tidak sederhana, terutama di daerah dataran tinggi atau daerah-daerah pinggiran lainnya. Jaringan internet yang timbul tenggelam, bahkan tidak ada sama sekali, perangkat siswa yang sangat terbatas, belum lagi soal kuota yang saya tidak tegah menyebutkannya. Memang ada upaya teman-teman guru untuk mendatangi siswa di titik-titik tertentu. Sesuatu yang perlu diapresiasi. Tetapi pembelajaran dengan cara seperti ini jauh dari kata efektif. Bagi sekolah-sekolah di kota, kendala ini mungkin bisa teratasi sehingga pembelajaran sedikit lebih baik. Maka penyeragaman soal dalam kondisi seperti ini adalah sesuatu yang tidak adil.


Keempat; Peluang kebocoran soal sangat mungkin terjadi, zaman serba online akan menyulitkan siapapun mengontrol dan mengawasi agar soal tidak bocor. Soal Ujian Nasional saja yang pengamanannya super ketat masih bisa bocor, apalagi soal Penilaian Akhir Semester yang tanpa pengamanan. Jika hal itu terjadi penilaian tidak lagi punya arti selain formalitas semata.


Problem pendidikan di masa pandemik ini sudah terlalu banyak. Sangatlah bijak untuk tidak menambah problem baru. Penilaian siswa serahkan kepada guru yang mengajar mereka. Guru yang lebih tahu kondisi siswanya. Saatnya guru diberi kebebasan untuk memilih bentuk penilaian yang paling sesuai dengan karakteristik siswanya. Dan ini sangat sejalan dengan program Kementerian Pendidikan, MERDEKA BELAJAR!!!


Selasa, 20 Juli 2021

Cinta dalam Sembelihan



Buya Hamka berbicara tentang cinta. Menurutnya; "Cinta adalah perasaan yang mesti ada pada setiap manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih, dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, dan perkara tercela lainnya. Tetapi jika ia jatuh ke tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi, dan lain-lain yang terpuji”.
Siapapun tidak bisa memungkirinya, cinta secara fitra ada pada setiap manusia. Hanya wujudnya yang bisa berbeda-beda. Tergantung kecenderungan hati pemiliknya. Hati yang oleh Buya Hamka dianalogikan dengan tanah. Hati yang bersih akan menumbuhkan cinta yang lurus sedangkan hati yang kotor hanya akan menghasilkan cinta yang salah kaprah.
Kurban itu, drama tentang cinta. Kisah nyata, jauh dari fiktif. Dikabarkan oleh kitab suci dan dinukil oleh kitab-kitab keagamaan. Melalui keluarga kecil Nabi Ibrahim AS, Allah mengajari kita tentang manifestasi cinta yang lurus, cinta yang tertinggi. Bahwa cinta kepada Allah di atas segalanya. Kecintaan kepada anak, harta dan yang lainnya tidak boleh membutakan dan mengalihkan cinta kepada-Nya.
Manifestasi cinta kepada Allah adalah dengan mendekat kepada-Nya, mencintai syariat-Nya. Di situ intinya. Allah menguji Nabi Ibrahim dengan ujian yang belum pernah diberikan kepada manusia sebelum dan sesudahnya. Perintah menyembelih putranya, Ismail. Putra yang lahir dari penantian yang panjang. Melalui doa yang tak terputus. Jika kita membaca Al-Quran kita akan menemukan jejak-jejak doanya terabadikan di berbagai ayat. Kita bisa merasakan, betapa besar cinta Ibrahim kepada anaknya. Tetapi ketika perintah Allah datang, tidak sedikitpun keraguan dalam hatinya untuk membuktikan ketaatannya kepada Sang Pemilik cinta sejati, Allah SWT.
Inilah cinta tertinggi yang untuk menggapainya mengharuskan kita mengorbankan cinta kepada selainnya. Allah berfirman : Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At Taubah : 24).
Hidup adalah perjalanan menuju cinta Allah, yang hanya bisa dicapai dengan menautkan hati pada-Nya. Kecintaan kepada Allah akan mengosongkan hati dari rasa benci. Pada saat Rabiah Adawiyah ditanya, “Apakah kau cinta kepada Tuhan yang Maha Kuasa?” Ia menjawab, “Ya”. Ia ditanya lagi, “Apakah kau benci kepada syaitan?” Ia menjawab, “Tidak. Cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk menumbuhkan rasa benci kepada syaitan.”
Mencintai Allah juga dengan mencintai makhluknya. Menjaga dan memeliharanya. Bahkan hewan yang akan disembelih pun harus diperlakukan dengan baik, Tanpa penyiksaan. Pisau yang dipakai harus diasah setajam mungkin agar hewan yang disembelih tidak lama merasakan sakitnya. Dalam hal mencintai sesama Muslim Nabi SAW bersabda: “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kurban juga berbicara tentang memanusiakan manusia. Perilaku dan label kehewanan sangat tidak pantas disematkan kepada manusia. Serendah apapun pandangan orang terhadapnya. Penyelamatan Ismail dari penyembelihan ayahnya. Lalu Allah menggantikannya dengan seekor domba, adalah pertanda tentang kemuliaan manusia. Manusia tidak boleh dijadikan sembelihan bahkan untuk alasan pengabdian kepada “sang penguasa.” Ini adalah pengingkaran terhadap kebiasaan paganisme yang menjadikan manusia sebagai persembahan kepada sesembahan mereka. Kebiasaan yang masih juga mengakar hingga berabad-abad setelah masa Nabi Ibrahim.
Pesan ini sangat penting, dan masih relevan hingga zaman ini. Zaman di mana pengkhianatan terhadap harkat kemanusiaan masih terus terjadi. Wujudnya bisa dalam bentuk Pengkotak-kotakan manusia berdasarkan ras, golongan, warna kulit, dan etnik. Bisa juga dalam bentuk arogansi kekuasaan. Merasa memiliki kewenangan untuk menindas manusia lainnya hanya karena merasa memiliki strata sosial yang lebih tinggi. Strata yang ditentukan oleh kuasa dan harta. Maka penyembelihan hewan kurban mestinya diterjemahkan sebagai simbol pengendalian sifat-sifat hewani yang bersemayam dalam diri setiap manusia.
Sedangkan pembagian daging kurban adalah bagian dari penyucian diri dari sifat kikir. Merendah dengan berbagi kepada sesama. Semoga menjadi jalan bagi menipisnya rasa benci dan tumbuhnya rasa cinta. “Sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah daging-dagingnya dan tidak juga darah-darahnya, tetapi yang dapat mencapainya adalah ketakwaan kamu,” (Al Hajj : 37).

Senin, 12 Juli 2021

MPLS DARING (LAGI)



Mewakili kepala sekolah membuka MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Untuk kedua kalinya MPLS dilaksanakan secara daring. Tahun lalu dan terulang tahun ini. Pengenalan Lingkungan sekolah melalui video konferensi, seolah-olah anak-anak diajak berkhayal. Mengkhayalkan keadaan sekolah barunya. Gedung, halaman sekolah, ruang belajar, dan fasilitas lainnya. Beruntung, ada gambar dan video sebagai pemanis khayalan. Jadi mengkhayalnya masih cukup berkelas.


Sedikit agak baik saat perkenalan guru-guru. Mereka masih bisa menyapa dan berbalas senyum. Sementara sebagian besar program sekolah hanya bisa dijelaskan sambil berandai-andai. Jika keadaan kembali normal.


Sedih sekali ketika harus menyampaikan bahwa pembelajaran di awal tahun pelajaran ini masih harus dilakukan dengan Pembelajaran jarak jauh (PJJ) alias Belajar Dari Rumah (BDR). Pilihan yang sangat sulit. Keadaan memang sedang tidak baik-baik saja. Keselamatan dan kesehatan peserta didik dan juga gurunya harus diutamakan. Prinsip ini yang sejak awal dipegang oleh para pengambil kebijakan di negeri ini. Memang kita tidak boleh menantang resiko dengan bertindak ceroboh.

Sempat ada harapan untuk Pembelajaran tatap muka meski terbatas. Tetapi buyar kembali setelah Varian Delta mengamuk dan PPKM diberlakukan.

Hasil survei Belajar dari Rumah sebagaimana yang dirilis puslitjak kemendikbud tahun ini, memperlihatkan bahwa 71% siswa mengalami kendala selama pembelajaran dari rumah. Kendala-kendala yang dimaksud, diantaranya; sulit konsentrasi, keterbatasan jaringan internet, kurang bersemangat, sulit berkomunikasi dengan guru, keterbatasan pengetahuan orang tua, belum mampu mengoptimalkan media, dan tidak memiliki perangkat TIK.

Bisa dipahami kalau Mendikbud sering menyebut pandemik akan melahirkan learning loss. Penurunan kompetensi di kalangan anak-anak. Anak-anak akan mengalami penurunan kemampuan dalam memahami materi pelajaran. Learning loss adalah sebuah kerugian jangka panjang yang dialami oleh sebuah bangsa.

Dampak pandemi terhadap pendidikan memang tidak langsung terasa. Sebagaimana bidang kesehatan, ekonomi dan bidang sosial lainnya. Dampaknya pada bidang pendidikan akan terasa mungkin puluhan tahun mendatang. Ketika generasi “leaning loss” ini seharusnya tampil memegang peran.

Dengan demikian, cukup beralasan jika sejumlah pihak menghendaki pembukaan sekolah terutama pada wilayah zona hijau dan kuning. Ini bisa kita lihat dari hasil polling yang dilakukan oleh direktorat SMA tahun 2020. Polling melalui facebook dan website Direktorat SMA ini menunjukkan bahwa 90% guru, 82% siswa, 76% orang tua, dan  71% masyarakat lainnya menyatakan setuju pembukaan sekolah zona hijau dan zona kuning. Bahkan ada yang meminta sekolah tetap buka pada wilayah zona orange.

Sedangkan hasil survei Belajar Dari Rumah (BDR) tahun pelajaran 2020/2021 oleh Kemdikbud memperlihatkan bahwa tidak semua sekolah belajar secara BDR. Terdapat 7,1% yang melakukan pembelajaran tatap muka, dan 11,1% kombinasi antara BDR dengan tatap muka. Sekolah yang mengadakan pembelajaran tatap muka maupun kombinasi umumnya di daerah-daerah tertinggal. Survei ini juga menunjukkan bahwa secara nasional umumnya guru-guru siap melakukan pembelajaran tatap muka. Angkanya sangat tinggi yaitu 91,4%. Untuk daerah tertinggal bahkan mencapai 97,8%.

Di balik data-data ini tersirat kegelisahan. Bahwa pembelajaran dari rumah meskipun dianggap cara yang paling tepat di tengah ancaman virus, namun tetap saja menyisakan kekhawatiran. Ini ancaman serius bagi dunia pendidikan dan kualitas generasi muda Indonesia.

Di sisi lain, BDR yang berkelanjutan mengingatkan kita dengan sistem pendidikan masa kolonial. Pendidikan yang berkualitas hanya dinikmati oleh kalangan berduit dan dari keluarga terpandang. Sangat diskriminatif. Pendidikan kita di era pandemik ini sedang mengarah ke sana. Akses pendidikan yang layak hanya milik mereka yang mempunyai perangkat TIK yang baik, jaringan internet yang stabil, penyediaan data internet tidak jadi masalah, dan orang tua siap serta mampu melakukan pendampingan dalam pembelajaran. Dan sebagian besar siswa kita tidak memiliki kriteria seperti ini. Kesenjangan antara yang mampu dan yang kurang mampu kian menganga. Pilihan memang serba sulit.

Apa yang bisa kita perbuat untuk sekadar mengurangi dampak ini? Saya sependapat dengan sementara kalangan. Bahwa penentu kebijakan sebaiknya membuat pemetaan penyebaran Covid tidak secara general menurut provinsi atau kabupaten. Tetapi pemetaannya secara parsial sampai pada unit wilayah terkecil. Karena bisa jadi status sebuah kabupaten/kota berada pada zona merah atau orange, tetapi terdapat kecamatan atau desa/kelurahan di Kabupaten/kota tersebut terkategori zona hijau, tanpa kasus covid sama sekali. Maka untuk wilayah seperti ini sebaiknya diberi izin  untuk pembelajaran tatap muka meski dengan prokes yang diperketat. Tidak harus mengikut pada status zona Provinsi atau Kabupaten.

Hal ini bisa berlaku pada sekolah-sekolah di wilayah pinggiran/pegunungan. Di wilayah ini biasanya jumlah siswa tidak sebanyak di perkotaan sehingga kontrol pemberlakuan prokes juga relatif lebih mudah. Dan sebenarnya PTM di wilayah-wilayah ini sudah dilakukan. Meskipun pembelajaran bukan di ruang kelas. Kadang dilakukan di ruang terbuka, di halaman penduduk, atau di rumah-rumah warga dengan memecah siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. Jadi tinggal menunggu izin dari penentu kebijakan saja.

Mungkin ini langkah kecil, tetapi setidaknya bisa menjadi pilihan untuk mengejar ketertinggalan pembelajaran anak-anak kita. Sambil berharap segera datangnya pertolongan Allah. Karena sesungguhnya pertolongan Allah teramat dekat.

Untuk sahabat-sahabat baruku, para generasi tangguh, selamat datang. Bersama kita hadapi tantangan ini. Insyaallah bisa!"

 

Minggu, 04 Juli 2021

Camping



Hanya iseng membuat rencana, ehh malah jadi. Sisi lucunya hidup ini, ya di sini ini. Kadang sesuatu yang direncanakan dengan begitu matangnya, mengerahkan seluruh kekuatan ikhtiar. Dipadu dengan teori-teori perencanaan yang bikin mumet, malah gagal. Yang direncanakan sambil bercanda malah jadi.


Tetapi disitulah rahasianya. Kamu tidak punya hak menentukan hidupmu. Kewenanganmu hanya membuat proposal. Allahlah yang akan menentukan jadi tidaknya. Kewenanganmu hanyalah menerima apa yang ditentukan Allah. Kepercayaanmu seharusnya mengajarimu untuk meyakini bahwa apapun yang diputuskan Allah untukmu itulah yang terbaik. Tidaklah Allah memutuskan sesuatu untukmu kecuali sesuai dengan pengetahuan-Nya tentangmu, maka mustahil Dia keliru dengan ketetapan itu. Demikianlah kira-kira pesan-pesan agama yang selalu harus kita ingat.


Akhir pekan ini dengan bercanda, saya menyodorkan tawaran ke seorang teman. Berlibur ke gunung, berkemah. Serius, saya hanya bercanda. Malah dia menanggapinya serius. Dia lalu menghubungi teman yang lain. Beberapa menit kemudian dia melapor, sudah beberapa orang yang bersedia ikut. Saya tertawa membayangkan sekumpulan lansia nekad sedang menuju gunung untuk berkemah. Tidak lupa membayangkan bagaimana rempongnya mereka.


Baiklah, ini bukan lagi candaan, harus serius. Perkakas kemah saya siapkan dengan memesan ke seorang teman. Waktu dan target ditentukan. Berangkattt.


Seumur saya jadi siswa, tidak pernah sekalipun mengikuti perkemahan. Di SD saya menghindar. Saya selalu memberi kesempatan kepada kakak saya. Dia pimpinan regu pramuka di sekolah. Harus ikut, dia dibutuhkan. Untuk ikut berdua rasanya tidak mungkin. Ongkosnya terlalu besar untuk ukuran penghasilan orang tua saya.


Kalau berkemah di sawah, sering. Di kampung, jika tanaman padi kekeringan, petani menggunakan mesin air untuk mengairi sawah. Saya biasa ikut paman bermalam di sawah. Pasang tenda, sebut saja itu adalah berkemah. Mengontrol air, bahan bakar, dan yang tak kalah pentingnya, menjaga mesin air dari orang yang secara diam-diam mengklaim sebagai pemiliknya.


Tetapi berkemah di sawah tidak ada sensasinya. Selain bertengkar dengan nyamuk yang tak berprikemanusiaan. Saya bahkan sering pamit sebelum memasuki masa in juri time. Lagi pula berkemah model begini tidak dihitung sebagai prestasi di sekolah. Tidak ada kolom untuk menuliskannya di raport. Juga tidak akan menjadi pertimbangan untuk penentuan rangking.


Padahal ini adalah aksi nyata siswa dalam ikut merasakan tanggung jawab sebagai individu dan sebagai makhluk sosial. Merasakan dengan nyata kerasnya hidup. Pantas saja banyak anak rangking satu tetapi cemeng. Gagah perkasa menghadapi ujian di sekolah tetapi gagal berantakan menghadapi ujian hidup.


Kami tiba di lokasi menjelang sore. Kawasan Wisata alam Puncak Tinambung, Bissoloro. Kawasan ini adalah salah satu destinasi wisata alam di Kabupaten Gowa. Berada di wilayah pegunungan dengan hutan pinusnya yang lumayan lebat. Udaranya sejuk tidak terlalu dingin. Sangat cocok sebagai tempat pelarian sementara dari kepenatan hidup sehari-hari. Dari tugas dan pekerjaan yang menumpuk. Dari beban psikis akibat kenyataan yang tak sesuai harapan. Lupakan sementara, santai sejenak.


Berharap udara bersih pegunungan akan mengisi rongga-rongga jiwa dengan semangat yang kembali menyala. Merefresh pikiran untuk kembali segar dan siap menjemput rutinitas. Pun mentadabburi alam sebagai lukisan terindah dari pelukis paling agung. Sang Pencipta tanpa tanding. Menyadari betapa pandirnya kita di hadapan kemahakuasaan Allah.


Di luar dugaan. Hanya dalam beberapa jam kawasan ini penuh dengan tenda. Pesertanya pun sejenis dengan rombongan saya, didominasi emak-emak. Malah yang ini lebih nekad, mengangkut keluarga dan isi dapur, tak ketinggalan perabot kamar tidurnya pun dibawa. Tetapi tetap kalah ekstrim dengan rombongan saya. Tak satupun dari mereka yang membawa serta rice cooker seperti yang rombongan saya bawa. Pemandangan ini membuat kelompok anak muda, yang juga mendirikan tenda di lokasi ini, melongo. Mungkin mau ketawa tapi takut dosa.


Oh, iya anak-anak muda ini begitu baik, membantu kami merangkai tenda. Kalau tidak, kami akan kebingungan menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya. Merangkai tenda sepertinya lebih susah dari membuat PPt, hehe.


Melihat ramainya emak-emak mendirikan tenda. Tak terasa hati saya berbisik penuh heran. Ah gila. Apa bumi ini sudah beredar di luar orbitnya, sampai emak-emak pun ikut-ikutan camping. Ini adalah bentuk intervensi paling nyata ke daerah kekuasaan anak muda. Bukankah camping semacam ini adalah wilayahnya anak muda?


Tetapi sudahlah. Saya kira hal Ini wajar, mudah-mudahan membawa pengaruh positif. Setidaknya para orang tua perlahan-lahan akan lebih memahami dunia anak muda sehingga gap pemikiran di antara dua generasi ini semakin bisa terjembatani.


Silang pemahaman keduanya memang rentan membuat keterpecahan. Bukan hanya dalam tataran keluarga tetapi juga dalam hal bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Diperlukan orang tua bijaksana yang mampu menyelami lubuk terdalam pemikiran anak muda. Hanya orang tua yang demikian yang mampu bersikap arif dan bijaksana pembawa kesejukan bagi generasi penerusnya.


Bisa jadi suatu saat dibutuhkan camping terpadu antara anak-anak dan orang tua agar kesepahaman semakin terjalin. Begitu banyak problem bisa selesai dengan pertemuan-pertemuan tidak formal seperti ini. Hubungan akan mencair dan sekat-sekat akan pupus.


Selamat datang emak-emak milineal..