Saya berkunjung ke sekolah seorang teman. Empat atau lima tahun yang lalu. Sekolahnya baru saja terpilih sebagai sekolah Adiwiyata Nasional. Sangat membanggakan. Kebetulan, sekolah saya juga akan mengikuti lomba serupa untuk tingkat Kabupaten. Jadi ingin melihat bagaimana sekolah Adiwiyata itu. Sekaligus belajar dari apa yang telah dilakukan.. Bagaimana mereka mempersiapkan diri hingga bisa tembus tingkat nasional. Menang pula.
Saya tiba di sekolah itu, pagi. Sekira pukul 09.00. Sekolahnya sunyi, siswa sedang belajar. Teman saya sudah menunggu, rupanya jamnya sedang kosong, tidak mengajar.
Area sekolahnya luas, halamannya rindang, teduh oleh pepohonan. Taman bunga ada di setiap kelas, terpelihara dengan baik. Beberapa bunga terpajang dengan pot yang terbuat dari bahan daur ulang. "Hasil karya siswa," kata teman saya. Temboknya juga tampak bersih. Tidak ada coretan seperti umumnya di banyak sekolah. Tidak ada mural. Apalagi mural yang digambar tanpa tujuan yang jelas. Ngawur, bikin mumet melihatnya.
Beberapa siswa tampak dengan rompi khusus. Mereka adalah petugas piket kebersihan. Petugas piket ini terjadwal. Tugasnya berpatroli untuk mengingatkan siswa yang lain untuk, membuang sampah pada tempatnya. Mereka harus memastikan tidak ada sampah yang terbuang dari kumpulannya. Mungkin karena itulah, kebersihan sekolah ini selalu terjaga.
Saya menengok ke ruang kelasnya. Pun tertata rapi. Temboknya dihiasi dengan lukisan. Ada lukisan pemandangan ada pula slogan-slogan pembangkit semangat untuk terus belajar, mengejar cita-cita. Bukan mengejar cinta buta. Apalagi cinta monyet...hehe
Satu hal yang membuat saya kagum. Siswanya begitu patuh. Bisa menahan diri dari merusak tanaman atau mengotori tembok, atau perbuatan-perbuatan jahil lainnya. Ini di luar kebiasaan. Setidaknya, jika saya bandingkan dengan keluhan dari beberapa teman guru di luar sana.
Ketika hal itu saya tanyakan ke teman saya, dia malah tertawa lebar. Dia bilang, "kamu tidak tahu, awalnya kami sangat kesulitan menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik kepada siswa. Butuh waktu lama, berbulan-bulan. Suara kami sampai parau berteriak mengingatkan siswa. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Sulit sekali, tetapi kami terus mengingatkan, melakukan pendekatan. Konsisten tidak pernah kendor. Alhamdulillah, ada hasil. Perlahan-lahan mereka berubah. Kebiasaan-kebiasaan baik itu mulai tertanam dan akhirnya menjadi budaya. Itulah yang kita saksikan saat ini.” Penjelasan yang sangat meyakinkan.
Saya pernah ceritakan pengalaman ini pada saat pendampingan Calon Guru Penggerak di salah satu sekolah dampingan saya. Kebetulan pendampingan ketika itu temanya tentang budaya positif. Bagaimana menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik pada siswa.
Kepala sekolah yang sejak awal menyimak dengan serius cerita saya, memberi kesimpulan dengan hanya satu kata, "tamalanrea." Sebagai sikap yang harus dimiliki oleh setiap pendidik untuk menanamkan budaya positif pada diri siswa. Tamalanrea adalah istilah dalam bahasa Makassar yang berarti tidak putus asa, tidak bosan, konsisten dan bersabar dalam melakukan sesuatu.
Dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan memang harus dengan kesabaran, telaten. Karena yang akan diubah adalah perilaku. Ini tidak mudah, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Butuh proses. Dan tidak boleh terburu-buru untuk melihat hasilnya.
Menanamkan nilai kebaikan juga butuh keteladanan. Kata-kata tanpa keteladanan tidak akan memiliki kekuatan yang berarti. Tindakanlah yang memberi kesan kuat. Jadi lakukanlah apa yang anda ingin siswa anda melakukannya. Contohkan. Kalau tidak, kata-kata hanya akan menjadi angin lalu. Datang dan pergi tak memberi kesan.
Dalam pendidikan guru penggerak, penanaman budaya positif dimulai dari kelas. Guru dan siswa bersama-sama merumuskan mimpi. Mimpi tentang kelas mereka. Dan bagaimana mewujudkannya.
Mewujudkan mimpi itu melalui penanaman budaya positif. Diawali dengan membuat kesepakatan kelas. Guru dan siswa bersepakat mengenai budaya positif yang hendak dikembangkan. Jika kelas ingin selalu bersih, apa yang harus dilakukan? Jika kelasnya ingin rapi, apa yang harus dilakukan? Jika kelasnya ingin indah, apa yang harus dilakukan? Jika ingin menghilangkan bullying di kelas, apa yang harus dilakukan? Jika ingin pembelajaran dilakukan tepat waktu, apa yang harus dilakukan? Dan seterusnya.
Buat kesepakatan-kesepakatan dan lakukan dengan disiplin dan konsisten. Tanamkan sikap tamalanrea, lakukan terus menerus. Jangan pernah bosan, jangan putus asa.
Siswa harus diberi kebebasan seluas-luasnya untuk terlibat langsung dalam membuat kesepakatan kelas. Buka ruang diskusi yang sedemoktatis mungkin. Dan yang perlu diingat, kesepakatan kelas tidak boleh ada sanksi atau pun hadiah. Kenapa? Kita ingin motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, dari dalam. Mereka melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena terdorong oleh kesadaran sendiri. Atas pemahaman rasional tentang penting dan tidak pentingnya sesuatu. Tentang pantas dan tidak pantasnya sesuatu.
Tindakan yang didorong oleh pertimbangan sanksi dan hadiah cenderung manipulatif, penuh keterpaksaan. Berbuat karena ada hadiah atau tidak melakukan sesuatu karena takut sanksi. Inilah yang melahirkan disiplin kucing, takut melanggar karena ada yang menjaga. Penjaganya pergi mereka pun melanggar. Mau melakukan sesuatu karena ada hadiah, tidak ada hadiah mereka pun kehilangan semangat.
Anda pasti sering melihat pengendara di jalan raya yang menerobos lampu merah, saya juga serin. Bahkan sangat sering. Mereka menerobos saat tidak ada Polantas yang berjaga. Tetapi jika ada Polantas, mereka tunduk dengan patuhnya. Siswa di sekolah sangat bersemangat membersihkan kelas saat lomba kebersihan. Tetapi saat tidak ada lomba, semangatnya pun hilang entah kemana.
Perilaku positif yang kita inginkan adalah yang bersifat permanen. Dan ini yang akan membentuk budaya. Bukan yang sekejap lalu hilang.
Anda bisa bayangkan jika semua kelas menerapkan budaya positif seperti ini. Maka budaya positif akan menjadi trend di sekolah. Menyebar di lingkungan sekolah, ke seluruh komunitas yang ada di sekolah.
Bukan hanya di sekolah, budaya positif ini juga bisa terbawa ke rumah. Selanjutnya ke lingkungan di mana siswa tinggal. Caranya bagaimana? Melalui komunikasi antara guru dan orang tua. Melibatkan orang tua untuk mengontrol perilaku siswa di rumah.
Sahabat saya, guru yang saya dampingi di Pendidikan guru penggerak membuat buku penghubung dengan orang tua. Di buku itu orang tua mencatat bagaimana perkembangan perilaku siswa di rumah. Demikian juga, guru mencatat perkembangan perilaku siswa di sekolah. Sesekali guru mengadakan kunjungan rumah untuk sekadar berbincang-bincang dengan orang tua juga dengan siswa. Membangunkan kedekatan emosional demikian penting untuk menanamkan budaya positif.
Menanamkan budaya positif tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus bersama-sama, kolaboratif. Pendidik, orang tua, aparat pemerintah dan juga seluruh pemangku kepentingan. Dengan bekerja bersama saya yakin karakter siswa yang selama ini sering dikeluhkan, perlahan akan membaik. Jangan pernah bosan menyeru kepada kebaikan, jangan pernah putus asa, tamalanrea!

0 komentar:
Posting Komentar