Channel YouTube

Selasa, 20 Juli 2021

Cinta dalam Sembelihan



Buya Hamka berbicara tentang cinta. Menurutnya; "Cinta adalah perasaan yang mesti ada pada setiap manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih, dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, dan perkara tercela lainnya. Tetapi jika ia jatuh ke tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi, dan lain-lain yang terpuji”.
Siapapun tidak bisa memungkirinya, cinta secara fitra ada pada setiap manusia. Hanya wujudnya yang bisa berbeda-beda. Tergantung kecenderungan hati pemiliknya. Hati yang oleh Buya Hamka dianalogikan dengan tanah. Hati yang bersih akan menumbuhkan cinta yang lurus sedangkan hati yang kotor hanya akan menghasilkan cinta yang salah kaprah.
Kurban itu, drama tentang cinta. Kisah nyata, jauh dari fiktif. Dikabarkan oleh kitab suci dan dinukil oleh kitab-kitab keagamaan. Melalui keluarga kecil Nabi Ibrahim AS, Allah mengajari kita tentang manifestasi cinta yang lurus, cinta yang tertinggi. Bahwa cinta kepada Allah di atas segalanya. Kecintaan kepada anak, harta dan yang lainnya tidak boleh membutakan dan mengalihkan cinta kepada-Nya.
Manifestasi cinta kepada Allah adalah dengan mendekat kepada-Nya, mencintai syariat-Nya. Di situ intinya. Allah menguji Nabi Ibrahim dengan ujian yang belum pernah diberikan kepada manusia sebelum dan sesudahnya. Perintah menyembelih putranya, Ismail. Putra yang lahir dari penantian yang panjang. Melalui doa yang tak terputus. Jika kita membaca Al-Quran kita akan menemukan jejak-jejak doanya terabadikan di berbagai ayat. Kita bisa merasakan, betapa besar cinta Ibrahim kepada anaknya. Tetapi ketika perintah Allah datang, tidak sedikitpun keraguan dalam hatinya untuk membuktikan ketaatannya kepada Sang Pemilik cinta sejati, Allah SWT.
Inilah cinta tertinggi yang untuk menggapainya mengharuskan kita mengorbankan cinta kepada selainnya. Allah berfirman : Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At Taubah : 24).
Hidup adalah perjalanan menuju cinta Allah, yang hanya bisa dicapai dengan menautkan hati pada-Nya. Kecintaan kepada Allah akan mengosongkan hati dari rasa benci. Pada saat Rabiah Adawiyah ditanya, “Apakah kau cinta kepada Tuhan yang Maha Kuasa?” Ia menjawab, “Ya”. Ia ditanya lagi, “Apakah kau benci kepada syaitan?” Ia menjawab, “Tidak. Cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk menumbuhkan rasa benci kepada syaitan.”
Mencintai Allah juga dengan mencintai makhluknya. Menjaga dan memeliharanya. Bahkan hewan yang akan disembelih pun harus diperlakukan dengan baik, Tanpa penyiksaan. Pisau yang dipakai harus diasah setajam mungkin agar hewan yang disembelih tidak lama merasakan sakitnya. Dalam hal mencintai sesama Muslim Nabi SAW bersabda: “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kurban juga berbicara tentang memanusiakan manusia. Perilaku dan label kehewanan sangat tidak pantas disematkan kepada manusia. Serendah apapun pandangan orang terhadapnya. Penyelamatan Ismail dari penyembelihan ayahnya. Lalu Allah menggantikannya dengan seekor domba, adalah pertanda tentang kemuliaan manusia. Manusia tidak boleh dijadikan sembelihan bahkan untuk alasan pengabdian kepada “sang penguasa.” Ini adalah pengingkaran terhadap kebiasaan paganisme yang menjadikan manusia sebagai persembahan kepada sesembahan mereka. Kebiasaan yang masih juga mengakar hingga berabad-abad setelah masa Nabi Ibrahim.
Pesan ini sangat penting, dan masih relevan hingga zaman ini. Zaman di mana pengkhianatan terhadap harkat kemanusiaan masih terus terjadi. Wujudnya bisa dalam bentuk Pengkotak-kotakan manusia berdasarkan ras, golongan, warna kulit, dan etnik. Bisa juga dalam bentuk arogansi kekuasaan. Merasa memiliki kewenangan untuk menindas manusia lainnya hanya karena merasa memiliki strata sosial yang lebih tinggi. Strata yang ditentukan oleh kuasa dan harta. Maka penyembelihan hewan kurban mestinya diterjemahkan sebagai simbol pengendalian sifat-sifat hewani yang bersemayam dalam diri setiap manusia.
Sedangkan pembagian daging kurban adalah bagian dari penyucian diri dari sifat kikir. Merendah dengan berbagi kepada sesama. Semoga menjadi jalan bagi menipisnya rasa benci dan tumbuhnya rasa cinta. “Sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah daging-dagingnya dan tidak juga darah-darahnya, tetapi yang dapat mencapainya adalah ketakwaan kamu,” (Al Hajj : 37).

Senin, 12 Juli 2021

MPLS DARING (LAGI)



Mewakili kepala sekolah membuka MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Untuk kedua kalinya MPLS dilaksanakan secara daring. Tahun lalu dan terulang tahun ini. Pengenalan Lingkungan sekolah melalui video konferensi, seolah-olah anak-anak diajak berkhayal. Mengkhayalkan keadaan sekolah barunya. Gedung, halaman sekolah, ruang belajar, dan fasilitas lainnya. Beruntung, ada gambar dan video sebagai pemanis khayalan. Jadi mengkhayalnya masih cukup berkelas.


Sedikit agak baik saat perkenalan guru-guru. Mereka masih bisa menyapa dan berbalas senyum. Sementara sebagian besar program sekolah hanya bisa dijelaskan sambil berandai-andai. Jika keadaan kembali normal.


Sedih sekali ketika harus menyampaikan bahwa pembelajaran di awal tahun pelajaran ini masih harus dilakukan dengan Pembelajaran jarak jauh (PJJ) alias Belajar Dari Rumah (BDR). Pilihan yang sangat sulit. Keadaan memang sedang tidak baik-baik saja. Keselamatan dan kesehatan peserta didik dan juga gurunya harus diutamakan. Prinsip ini yang sejak awal dipegang oleh para pengambil kebijakan di negeri ini. Memang kita tidak boleh menantang resiko dengan bertindak ceroboh.

Sempat ada harapan untuk Pembelajaran tatap muka meski terbatas. Tetapi buyar kembali setelah Varian Delta mengamuk dan PPKM diberlakukan.

Hasil survei Belajar dari Rumah sebagaimana yang dirilis puslitjak kemendikbud tahun ini, memperlihatkan bahwa 71% siswa mengalami kendala selama pembelajaran dari rumah. Kendala-kendala yang dimaksud, diantaranya; sulit konsentrasi, keterbatasan jaringan internet, kurang bersemangat, sulit berkomunikasi dengan guru, keterbatasan pengetahuan orang tua, belum mampu mengoptimalkan media, dan tidak memiliki perangkat TIK.

Bisa dipahami kalau Mendikbud sering menyebut pandemik akan melahirkan learning loss. Penurunan kompetensi di kalangan anak-anak. Anak-anak akan mengalami penurunan kemampuan dalam memahami materi pelajaran. Learning loss adalah sebuah kerugian jangka panjang yang dialami oleh sebuah bangsa.

Dampak pandemi terhadap pendidikan memang tidak langsung terasa. Sebagaimana bidang kesehatan, ekonomi dan bidang sosial lainnya. Dampaknya pada bidang pendidikan akan terasa mungkin puluhan tahun mendatang. Ketika generasi “leaning loss” ini seharusnya tampil memegang peran.

Dengan demikian, cukup beralasan jika sejumlah pihak menghendaki pembukaan sekolah terutama pada wilayah zona hijau dan kuning. Ini bisa kita lihat dari hasil polling yang dilakukan oleh direktorat SMA tahun 2020. Polling melalui facebook dan website Direktorat SMA ini menunjukkan bahwa 90% guru, 82% siswa, 76% orang tua, dan  71% masyarakat lainnya menyatakan setuju pembukaan sekolah zona hijau dan zona kuning. Bahkan ada yang meminta sekolah tetap buka pada wilayah zona orange.

Sedangkan hasil survei Belajar Dari Rumah (BDR) tahun pelajaran 2020/2021 oleh Kemdikbud memperlihatkan bahwa tidak semua sekolah belajar secara BDR. Terdapat 7,1% yang melakukan pembelajaran tatap muka, dan 11,1% kombinasi antara BDR dengan tatap muka. Sekolah yang mengadakan pembelajaran tatap muka maupun kombinasi umumnya di daerah-daerah tertinggal. Survei ini juga menunjukkan bahwa secara nasional umumnya guru-guru siap melakukan pembelajaran tatap muka. Angkanya sangat tinggi yaitu 91,4%. Untuk daerah tertinggal bahkan mencapai 97,8%.

Di balik data-data ini tersirat kegelisahan. Bahwa pembelajaran dari rumah meskipun dianggap cara yang paling tepat di tengah ancaman virus, namun tetap saja menyisakan kekhawatiran. Ini ancaman serius bagi dunia pendidikan dan kualitas generasi muda Indonesia.

Di sisi lain, BDR yang berkelanjutan mengingatkan kita dengan sistem pendidikan masa kolonial. Pendidikan yang berkualitas hanya dinikmati oleh kalangan berduit dan dari keluarga terpandang. Sangat diskriminatif. Pendidikan kita di era pandemik ini sedang mengarah ke sana. Akses pendidikan yang layak hanya milik mereka yang mempunyai perangkat TIK yang baik, jaringan internet yang stabil, penyediaan data internet tidak jadi masalah, dan orang tua siap serta mampu melakukan pendampingan dalam pembelajaran. Dan sebagian besar siswa kita tidak memiliki kriteria seperti ini. Kesenjangan antara yang mampu dan yang kurang mampu kian menganga. Pilihan memang serba sulit.

Apa yang bisa kita perbuat untuk sekadar mengurangi dampak ini? Saya sependapat dengan sementara kalangan. Bahwa penentu kebijakan sebaiknya membuat pemetaan penyebaran Covid tidak secara general menurut provinsi atau kabupaten. Tetapi pemetaannya secara parsial sampai pada unit wilayah terkecil. Karena bisa jadi status sebuah kabupaten/kota berada pada zona merah atau orange, tetapi terdapat kecamatan atau desa/kelurahan di Kabupaten/kota tersebut terkategori zona hijau, tanpa kasus covid sama sekali. Maka untuk wilayah seperti ini sebaiknya diberi izin  untuk pembelajaran tatap muka meski dengan prokes yang diperketat. Tidak harus mengikut pada status zona Provinsi atau Kabupaten.

Hal ini bisa berlaku pada sekolah-sekolah di wilayah pinggiran/pegunungan. Di wilayah ini biasanya jumlah siswa tidak sebanyak di perkotaan sehingga kontrol pemberlakuan prokes juga relatif lebih mudah. Dan sebenarnya PTM di wilayah-wilayah ini sudah dilakukan. Meskipun pembelajaran bukan di ruang kelas. Kadang dilakukan di ruang terbuka, di halaman penduduk, atau di rumah-rumah warga dengan memecah siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. Jadi tinggal menunggu izin dari penentu kebijakan saja.

Mungkin ini langkah kecil, tetapi setidaknya bisa menjadi pilihan untuk mengejar ketertinggalan pembelajaran anak-anak kita. Sambil berharap segera datangnya pertolongan Allah. Karena sesungguhnya pertolongan Allah teramat dekat.

Untuk sahabat-sahabat baruku, para generasi tangguh, selamat datang. Bersama kita hadapi tantangan ini. Insyaallah bisa!"

 

Minggu, 04 Juli 2021

Camping



Hanya iseng membuat rencana, ehh malah jadi. Sisi lucunya hidup ini, ya di sini ini. Kadang sesuatu yang direncanakan dengan begitu matangnya, mengerahkan seluruh kekuatan ikhtiar. Dipadu dengan teori-teori perencanaan yang bikin mumet, malah gagal. Yang direncanakan sambil bercanda malah jadi.


Tetapi disitulah rahasianya. Kamu tidak punya hak menentukan hidupmu. Kewenanganmu hanya membuat proposal. Allahlah yang akan menentukan jadi tidaknya. Kewenanganmu hanyalah menerima apa yang ditentukan Allah. Kepercayaanmu seharusnya mengajarimu untuk meyakini bahwa apapun yang diputuskan Allah untukmu itulah yang terbaik. Tidaklah Allah memutuskan sesuatu untukmu kecuali sesuai dengan pengetahuan-Nya tentangmu, maka mustahil Dia keliru dengan ketetapan itu. Demikianlah kira-kira pesan-pesan agama yang selalu harus kita ingat.


Akhir pekan ini dengan bercanda, saya menyodorkan tawaran ke seorang teman. Berlibur ke gunung, berkemah. Serius, saya hanya bercanda. Malah dia menanggapinya serius. Dia lalu menghubungi teman yang lain. Beberapa menit kemudian dia melapor, sudah beberapa orang yang bersedia ikut. Saya tertawa membayangkan sekumpulan lansia nekad sedang menuju gunung untuk berkemah. Tidak lupa membayangkan bagaimana rempongnya mereka.


Baiklah, ini bukan lagi candaan, harus serius. Perkakas kemah saya siapkan dengan memesan ke seorang teman. Waktu dan target ditentukan. Berangkattt.


Seumur saya jadi siswa, tidak pernah sekalipun mengikuti perkemahan. Di SD saya menghindar. Saya selalu memberi kesempatan kepada kakak saya. Dia pimpinan regu pramuka di sekolah. Harus ikut, dia dibutuhkan. Untuk ikut berdua rasanya tidak mungkin. Ongkosnya terlalu besar untuk ukuran penghasilan orang tua saya.


Kalau berkemah di sawah, sering. Di kampung, jika tanaman padi kekeringan, petani menggunakan mesin air untuk mengairi sawah. Saya biasa ikut paman bermalam di sawah. Pasang tenda, sebut saja itu adalah berkemah. Mengontrol air, bahan bakar, dan yang tak kalah pentingnya, menjaga mesin air dari orang yang secara diam-diam mengklaim sebagai pemiliknya.


Tetapi berkemah di sawah tidak ada sensasinya. Selain bertengkar dengan nyamuk yang tak berprikemanusiaan. Saya bahkan sering pamit sebelum memasuki masa in juri time. Lagi pula berkemah model begini tidak dihitung sebagai prestasi di sekolah. Tidak ada kolom untuk menuliskannya di raport. Juga tidak akan menjadi pertimbangan untuk penentuan rangking.


Padahal ini adalah aksi nyata siswa dalam ikut merasakan tanggung jawab sebagai individu dan sebagai makhluk sosial. Merasakan dengan nyata kerasnya hidup. Pantas saja banyak anak rangking satu tetapi cemeng. Gagah perkasa menghadapi ujian di sekolah tetapi gagal berantakan menghadapi ujian hidup.


Kami tiba di lokasi menjelang sore. Kawasan Wisata alam Puncak Tinambung, Bissoloro. Kawasan ini adalah salah satu destinasi wisata alam di Kabupaten Gowa. Berada di wilayah pegunungan dengan hutan pinusnya yang lumayan lebat. Udaranya sejuk tidak terlalu dingin. Sangat cocok sebagai tempat pelarian sementara dari kepenatan hidup sehari-hari. Dari tugas dan pekerjaan yang menumpuk. Dari beban psikis akibat kenyataan yang tak sesuai harapan. Lupakan sementara, santai sejenak.


Berharap udara bersih pegunungan akan mengisi rongga-rongga jiwa dengan semangat yang kembali menyala. Merefresh pikiran untuk kembali segar dan siap menjemput rutinitas. Pun mentadabburi alam sebagai lukisan terindah dari pelukis paling agung. Sang Pencipta tanpa tanding. Menyadari betapa pandirnya kita di hadapan kemahakuasaan Allah.


Di luar dugaan. Hanya dalam beberapa jam kawasan ini penuh dengan tenda. Pesertanya pun sejenis dengan rombongan saya, didominasi emak-emak. Malah yang ini lebih nekad, mengangkut keluarga dan isi dapur, tak ketinggalan perabot kamar tidurnya pun dibawa. Tetapi tetap kalah ekstrim dengan rombongan saya. Tak satupun dari mereka yang membawa serta rice cooker seperti yang rombongan saya bawa. Pemandangan ini membuat kelompok anak muda, yang juga mendirikan tenda di lokasi ini, melongo. Mungkin mau ketawa tapi takut dosa.


Oh, iya anak-anak muda ini begitu baik, membantu kami merangkai tenda. Kalau tidak, kami akan kebingungan menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya. Merangkai tenda sepertinya lebih susah dari membuat PPt, hehe.


Melihat ramainya emak-emak mendirikan tenda. Tak terasa hati saya berbisik penuh heran. Ah gila. Apa bumi ini sudah beredar di luar orbitnya, sampai emak-emak pun ikut-ikutan camping. Ini adalah bentuk intervensi paling nyata ke daerah kekuasaan anak muda. Bukankah camping semacam ini adalah wilayahnya anak muda?


Tetapi sudahlah. Saya kira hal Ini wajar, mudah-mudahan membawa pengaruh positif. Setidaknya para orang tua perlahan-lahan akan lebih memahami dunia anak muda sehingga gap pemikiran di antara dua generasi ini semakin bisa terjembatani.


Silang pemahaman keduanya memang rentan membuat keterpecahan. Bukan hanya dalam tataran keluarga tetapi juga dalam hal bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Diperlukan orang tua bijaksana yang mampu menyelami lubuk terdalam pemikiran anak muda. Hanya orang tua yang demikian yang mampu bersikap arif dan bijaksana pembawa kesejukan bagi generasi penerusnya.


Bisa jadi suatu saat dibutuhkan camping terpadu antara anak-anak dan orang tua agar kesepahaman semakin terjalin. Begitu banyak problem bisa selesai dengan pertemuan-pertemuan tidak formal seperti ini. Hubungan akan mencair dan sekat-sekat akan pupus.


Selamat datang emak-emak milineal..