Selasa, 20 Juli 2021
Cinta dalam Sembelihan
Senin, 12 Juli 2021
MPLS DARING (LAGI)
Mewakili kepala sekolah membuka MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Untuk kedua kalinya MPLS dilaksanakan secara daring. Tahun lalu dan terulang tahun ini. Pengenalan Lingkungan sekolah melalui video konferensi, seolah-olah anak-anak diajak berkhayal. Mengkhayalkan keadaan sekolah barunya. Gedung, halaman sekolah, ruang belajar, dan fasilitas lainnya. Beruntung, ada gambar dan video sebagai pemanis khayalan. Jadi mengkhayalnya masih cukup berkelas.
Sedikit agak baik saat perkenalan guru-guru. Mereka masih bisa menyapa dan berbalas senyum. Sementara sebagian besar program sekolah hanya bisa dijelaskan sambil berandai-andai. Jika keadaan kembali normal.
Sedih sekali ketika harus menyampaikan bahwa pembelajaran di awal tahun
pelajaran ini masih harus dilakukan dengan Pembelajaran jarak jauh (PJJ) alias
Belajar Dari Rumah (BDR). Pilihan yang sangat sulit. Keadaan memang sedang
tidak baik-baik saja. Keselamatan dan kesehatan peserta didik dan juga gurunya
harus diutamakan. Prinsip ini yang sejak awal dipegang oleh para pengambil
kebijakan di negeri ini. Memang kita tidak boleh menantang resiko dengan
bertindak ceroboh.
Sempat ada harapan untuk Pembelajaran tatap muka meski terbatas. Tetapi
buyar kembali setelah Varian Delta mengamuk dan PPKM diberlakukan.
Hasil survei Belajar dari Rumah sebagaimana yang dirilis puslitjak
kemendikbud tahun ini, memperlihatkan bahwa 71% siswa mengalami kendala selama
pembelajaran dari rumah. Kendala-kendala yang dimaksud, diantaranya; sulit
konsentrasi, keterbatasan jaringan internet, kurang bersemangat, sulit
berkomunikasi dengan guru, keterbatasan pengetahuan orang tua, belum mampu
mengoptimalkan media, dan tidak memiliki perangkat TIK.
Bisa dipahami kalau Mendikbud sering menyebut pandemik akan melahirkan
learning loss. Penurunan kompetensi di kalangan anak-anak. Anak-anak akan
mengalami penurunan kemampuan dalam memahami materi pelajaran. Learning loss
adalah sebuah kerugian jangka panjang yang dialami oleh sebuah bangsa.
Dampak pandemi terhadap pendidikan memang tidak langsung terasa.
Sebagaimana bidang kesehatan, ekonomi dan bidang sosial lainnya. Dampaknya pada
bidang pendidikan akan terasa mungkin puluhan tahun mendatang. Ketika generasi
“leaning loss” ini seharusnya tampil memegang peran.
Dengan demikian, cukup beralasan jika sejumlah pihak menghendaki pembukaan
sekolah terutama pada wilayah zona hijau dan kuning. Ini bisa kita lihat dari
hasil polling yang dilakukan oleh direktorat SMA tahun 2020. Polling melalui
facebook dan website Direktorat SMA ini menunjukkan bahwa 90% guru, 82% siswa,
76% orang tua, dan 71% masyarakat
lainnya menyatakan setuju pembukaan sekolah zona hijau dan zona kuning. Bahkan
ada yang meminta sekolah tetap buka pada wilayah zona orange.
Sedangkan hasil survei Belajar Dari Rumah (BDR) tahun pelajaran 2020/2021
oleh Kemdikbud memperlihatkan bahwa tidak semua sekolah belajar secara BDR.
Terdapat 7,1% yang melakukan pembelajaran tatap muka, dan 11,1% kombinasi
antara BDR dengan tatap muka. Sekolah yang mengadakan pembelajaran tatap muka
maupun kombinasi umumnya di daerah-daerah tertinggal. Survei ini juga
menunjukkan bahwa secara nasional umumnya guru-guru siap melakukan pembelajaran
tatap muka. Angkanya sangat tinggi yaitu 91,4%. Untuk daerah tertinggal bahkan
mencapai 97,8%.
Di balik data-data ini tersirat kegelisahan. Bahwa pembelajaran dari rumah
meskipun dianggap cara yang paling tepat di tengah ancaman virus, namun tetap
saja menyisakan kekhawatiran. Ini ancaman serius bagi dunia pendidikan dan
kualitas generasi muda Indonesia.
Di sisi lain, BDR yang berkelanjutan mengingatkan kita dengan sistem
pendidikan masa kolonial. Pendidikan yang berkualitas hanya dinikmati oleh
kalangan berduit dan dari keluarga terpandang. Sangat diskriminatif. Pendidikan
kita di era pandemik ini sedang mengarah ke sana. Akses pendidikan yang layak
hanya milik mereka yang mempunyai perangkat TIK yang baik, jaringan internet
yang stabil, penyediaan data internet tidak jadi masalah, dan orang tua siap
serta mampu melakukan pendampingan dalam pembelajaran. Dan sebagian besar siswa
kita tidak memiliki kriteria seperti ini. Kesenjangan antara yang mampu dan
yang kurang mampu kian menganga. Pilihan memang serba sulit.
Apa yang bisa kita perbuat untuk sekadar mengurangi dampak ini? Saya
sependapat dengan sementara kalangan. Bahwa penentu kebijakan sebaiknya membuat
pemetaan penyebaran Covid tidak secara general menurut provinsi atau kabupaten.
Tetapi pemetaannya secara parsial sampai pada unit wilayah terkecil. Karena
bisa jadi status sebuah kabupaten/kota berada pada zona merah atau orange,
tetapi terdapat kecamatan atau desa/kelurahan di Kabupaten/kota tersebut
terkategori zona hijau, tanpa kasus covid sama sekali. Maka untuk wilayah
seperti ini sebaiknya diberi izin untuk
pembelajaran tatap muka meski dengan prokes yang diperketat. Tidak harus
mengikut pada status zona Provinsi atau Kabupaten.
Hal ini bisa berlaku pada sekolah-sekolah di wilayah pinggiran/pegunungan.
Di wilayah ini biasanya jumlah siswa tidak sebanyak di perkotaan sehingga
kontrol pemberlakuan prokes juga relatif lebih mudah. Dan sebenarnya PTM di
wilayah-wilayah ini sudah dilakukan. Meskipun pembelajaran bukan di ruang
kelas. Kadang dilakukan di ruang terbuka, di halaman penduduk, atau di
rumah-rumah warga dengan memecah siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. Jadi
tinggal menunggu izin dari penentu kebijakan saja.
Mungkin ini langkah kecil, tetapi setidaknya bisa menjadi pilihan untuk
mengejar ketertinggalan pembelajaran anak-anak kita. Sambil berharap segera
datangnya pertolongan Allah. Karena sesungguhnya pertolongan Allah teramat
dekat.
Untuk sahabat-sahabat baruku, para generasi tangguh, selamat datang.
Bersama kita hadapi tantangan ini. Insyaallah bisa!"
Minggu, 04 Juli 2021
Camping
Hanya iseng membuat rencana, ehh malah jadi. Sisi lucunya hidup ini, ya di sini ini. Kadang sesuatu yang direncanakan dengan begitu matangnya, mengerahkan seluruh kekuatan ikhtiar. Dipadu dengan teori-teori perencanaan yang bikin mumet, malah gagal. Yang direncanakan sambil bercanda malah jadi.
Tetapi disitulah rahasianya. Kamu tidak punya hak menentukan hidupmu. Kewenanganmu hanya membuat proposal. Allahlah yang akan menentukan jadi tidaknya. Kewenanganmu hanyalah menerima apa yang ditentukan Allah. Kepercayaanmu seharusnya mengajarimu untuk meyakini bahwa apapun yang diputuskan Allah untukmu itulah yang terbaik. Tidaklah Allah memutuskan sesuatu untukmu kecuali sesuai dengan pengetahuan-Nya tentangmu, maka mustahil Dia keliru dengan ketetapan itu. Demikianlah kira-kira pesan-pesan agama yang selalu harus kita ingat.
Akhir pekan ini dengan
bercanda, saya menyodorkan tawaran ke seorang teman. Berlibur ke gunung,
berkemah. Serius, saya hanya bercanda. Malah dia menanggapinya serius. Dia lalu
menghubungi teman yang lain. Beberapa menit kemudian dia melapor, sudah
beberapa orang yang bersedia ikut. Saya tertawa membayangkan sekumpulan lansia
nekad sedang menuju gunung untuk berkemah. Tidak lupa membayangkan bagaimana
rempongnya mereka.
Baiklah, ini bukan lagi candaan, harus serius. Perkakas kemah saya siapkan dengan memesan ke seorang teman. Waktu dan target ditentukan. Berangkattt.
Seumur saya jadi siswa, tidak pernah sekalipun mengikuti perkemahan. Di SD saya menghindar. Saya selalu memberi kesempatan kepada kakak saya. Dia pimpinan regu pramuka di sekolah. Harus ikut, dia dibutuhkan. Untuk ikut berdua rasanya tidak mungkin. Ongkosnya terlalu besar untuk ukuran penghasilan orang tua saya.
Kalau berkemah di sawah, sering. Di kampung, jika tanaman padi kekeringan, petani menggunakan mesin air untuk mengairi sawah. Saya biasa ikut paman bermalam di sawah. Pasang tenda, sebut saja itu adalah berkemah. Mengontrol air, bahan bakar, dan yang tak kalah pentingnya, menjaga mesin air dari orang yang secara diam-diam mengklaim sebagai pemiliknya.
Tetapi berkemah di sawah tidak ada sensasinya. Selain bertengkar dengan nyamuk yang tak berprikemanusiaan. Saya bahkan sering pamit sebelum memasuki masa in juri time. Lagi pula berkemah model begini tidak dihitung sebagai prestasi di sekolah. Tidak ada kolom untuk menuliskannya di raport. Juga tidak akan menjadi pertimbangan untuk penentuan rangking.
Padahal ini adalah
aksi nyata siswa dalam ikut merasakan tanggung jawab sebagai individu dan
sebagai makhluk sosial. Merasakan dengan nyata kerasnya hidup. Pantas saja
banyak anak rangking satu tetapi cemeng. Gagah perkasa menghadapi ujian di
sekolah tetapi gagal berantakan menghadapi ujian hidup.
Kami tiba di lokasi menjelang sore. Kawasan Wisata alam Puncak Tinambung, Bissoloro. Kawasan ini adalah salah satu destinasi wisata alam di Kabupaten Gowa. Berada di wilayah pegunungan dengan hutan pinusnya yang lumayan lebat. Udaranya sejuk tidak terlalu dingin. Sangat cocok sebagai tempat pelarian sementara dari kepenatan hidup sehari-hari. Dari tugas dan pekerjaan yang menumpuk. Dari beban psikis akibat kenyataan yang tak sesuai harapan. Lupakan sementara, santai sejenak.
Berharap udara bersih
pegunungan akan mengisi rongga-rongga jiwa dengan semangat yang kembali
menyala. Merefresh pikiran untuk kembali segar dan siap menjemput rutinitas.
Pun mentadabburi alam sebagai lukisan terindah dari pelukis paling agung. Sang
Pencipta tanpa tanding. Menyadari betapa pandirnya kita di hadapan
kemahakuasaan Allah.
Di luar dugaan. Hanya dalam beberapa jam kawasan ini penuh dengan tenda. Pesertanya pun sejenis dengan rombongan saya, didominasi emak-emak. Malah yang ini lebih nekad, mengangkut keluarga dan isi dapur, tak ketinggalan perabot kamar tidurnya pun dibawa. Tetapi tetap kalah ekstrim dengan rombongan saya. Tak satupun dari mereka yang membawa serta rice cooker seperti yang rombongan saya bawa. Pemandangan ini membuat kelompok anak muda, yang juga mendirikan tenda di lokasi ini, melongo. Mungkin mau ketawa tapi takut dosa.
Oh, iya anak-anak muda ini begitu baik, membantu kami merangkai tenda. Kalau tidak, kami akan kebingungan menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya. Merangkai tenda sepertinya lebih susah dari membuat PPt, hehe.
Melihat ramainya emak-emak mendirikan tenda. Tak terasa hati saya berbisik penuh heran. Ah gila. Apa bumi ini sudah beredar di luar orbitnya, sampai emak-emak pun ikut-ikutan camping. Ini adalah bentuk intervensi paling nyata ke daerah kekuasaan anak muda. Bukankah camping semacam ini adalah wilayahnya anak muda?
Tetapi sudahlah. Saya kira hal Ini wajar, mudah-mudahan membawa pengaruh positif. Setidaknya para orang tua perlahan-lahan akan lebih memahami dunia anak muda sehingga gap pemikiran di antara dua generasi ini semakin bisa terjembatani.
Silang pemahaman keduanya memang rentan membuat keterpecahan. Bukan hanya dalam tataran keluarga tetapi juga dalam hal bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Diperlukan orang tua bijaksana yang mampu menyelami lubuk terdalam pemikiran anak muda. Hanya orang tua yang demikian yang mampu bersikap arif dan bijaksana pembawa kesejukan bagi generasi penerusnya.
Bisa jadi suatu saat
dibutuhkan camping terpadu antara anak-anak dan orang tua agar kesepahaman
semakin terjalin. Begitu banyak problem bisa selesai dengan pertemuan-pertemuan
tidak formal seperti ini. Hubungan akan mencair dan sekat-sekat akan pupus.
Selamat datang emak-emak milineal..



