Channel YouTube

Senin, 12 Juli 2021

MPLS DARING (LAGI)



Mewakili kepala sekolah membuka MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Untuk kedua kalinya MPLS dilaksanakan secara daring. Tahun lalu dan terulang tahun ini. Pengenalan Lingkungan sekolah melalui video konferensi, seolah-olah anak-anak diajak berkhayal. Mengkhayalkan keadaan sekolah barunya. Gedung, halaman sekolah, ruang belajar, dan fasilitas lainnya. Beruntung, ada gambar dan video sebagai pemanis khayalan. Jadi mengkhayalnya masih cukup berkelas.


Sedikit agak baik saat perkenalan guru-guru. Mereka masih bisa menyapa dan berbalas senyum. Sementara sebagian besar program sekolah hanya bisa dijelaskan sambil berandai-andai. Jika keadaan kembali normal.


Sedih sekali ketika harus menyampaikan bahwa pembelajaran di awal tahun pelajaran ini masih harus dilakukan dengan Pembelajaran jarak jauh (PJJ) alias Belajar Dari Rumah (BDR). Pilihan yang sangat sulit. Keadaan memang sedang tidak baik-baik saja. Keselamatan dan kesehatan peserta didik dan juga gurunya harus diutamakan. Prinsip ini yang sejak awal dipegang oleh para pengambil kebijakan di negeri ini. Memang kita tidak boleh menantang resiko dengan bertindak ceroboh.

Sempat ada harapan untuk Pembelajaran tatap muka meski terbatas. Tetapi buyar kembali setelah Varian Delta mengamuk dan PPKM diberlakukan.

Hasil survei Belajar dari Rumah sebagaimana yang dirilis puslitjak kemendikbud tahun ini, memperlihatkan bahwa 71% siswa mengalami kendala selama pembelajaran dari rumah. Kendala-kendala yang dimaksud, diantaranya; sulit konsentrasi, keterbatasan jaringan internet, kurang bersemangat, sulit berkomunikasi dengan guru, keterbatasan pengetahuan orang tua, belum mampu mengoptimalkan media, dan tidak memiliki perangkat TIK.

Bisa dipahami kalau Mendikbud sering menyebut pandemik akan melahirkan learning loss. Penurunan kompetensi di kalangan anak-anak. Anak-anak akan mengalami penurunan kemampuan dalam memahami materi pelajaran. Learning loss adalah sebuah kerugian jangka panjang yang dialami oleh sebuah bangsa.

Dampak pandemi terhadap pendidikan memang tidak langsung terasa. Sebagaimana bidang kesehatan, ekonomi dan bidang sosial lainnya. Dampaknya pada bidang pendidikan akan terasa mungkin puluhan tahun mendatang. Ketika generasi “leaning loss” ini seharusnya tampil memegang peran.

Dengan demikian, cukup beralasan jika sejumlah pihak menghendaki pembukaan sekolah terutama pada wilayah zona hijau dan kuning. Ini bisa kita lihat dari hasil polling yang dilakukan oleh direktorat SMA tahun 2020. Polling melalui facebook dan website Direktorat SMA ini menunjukkan bahwa 90% guru, 82% siswa, 76% orang tua, dan  71% masyarakat lainnya menyatakan setuju pembukaan sekolah zona hijau dan zona kuning. Bahkan ada yang meminta sekolah tetap buka pada wilayah zona orange.

Sedangkan hasil survei Belajar Dari Rumah (BDR) tahun pelajaran 2020/2021 oleh Kemdikbud memperlihatkan bahwa tidak semua sekolah belajar secara BDR. Terdapat 7,1% yang melakukan pembelajaran tatap muka, dan 11,1% kombinasi antara BDR dengan tatap muka. Sekolah yang mengadakan pembelajaran tatap muka maupun kombinasi umumnya di daerah-daerah tertinggal. Survei ini juga menunjukkan bahwa secara nasional umumnya guru-guru siap melakukan pembelajaran tatap muka. Angkanya sangat tinggi yaitu 91,4%. Untuk daerah tertinggal bahkan mencapai 97,8%.

Di balik data-data ini tersirat kegelisahan. Bahwa pembelajaran dari rumah meskipun dianggap cara yang paling tepat di tengah ancaman virus, namun tetap saja menyisakan kekhawatiran. Ini ancaman serius bagi dunia pendidikan dan kualitas generasi muda Indonesia.

Di sisi lain, BDR yang berkelanjutan mengingatkan kita dengan sistem pendidikan masa kolonial. Pendidikan yang berkualitas hanya dinikmati oleh kalangan berduit dan dari keluarga terpandang. Sangat diskriminatif. Pendidikan kita di era pandemik ini sedang mengarah ke sana. Akses pendidikan yang layak hanya milik mereka yang mempunyai perangkat TIK yang baik, jaringan internet yang stabil, penyediaan data internet tidak jadi masalah, dan orang tua siap serta mampu melakukan pendampingan dalam pembelajaran. Dan sebagian besar siswa kita tidak memiliki kriteria seperti ini. Kesenjangan antara yang mampu dan yang kurang mampu kian menganga. Pilihan memang serba sulit.

Apa yang bisa kita perbuat untuk sekadar mengurangi dampak ini? Saya sependapat dengan sementara kalangan. Bahwa penentu kebijakan sebaiknya membuat pemetaan penyebaran Covid tidak secara general menurut provinsi atau kabupaten. Tetapi pemetaannya secara parsial sampai pada unit wilayah terkecil. Karena bisa jadi status sebuah kabupaten/kota berada pada zona merah atau orange, tetapi terdapat kecamatan atau desa/kelurahan di Kabupaten/kota tersebut terkategori zona hijau, tanpa kasus covid sama sekali. Maka untuk wilayah seperti ini sebaiknya diberi izin  untuk pembelajaran tatap muka meski dengan prokes yang diperketat. Tidak harus mengikut pada status zona Provinsi atau Kabupaten.

Hal ini bisa berlaku pada sekolah-sekolah di wilayah pinggiran/pegunungan. Di wilayah ini biasanya jumlah siswa tidak sebanyak di perkotaan sehingga kontrol pemberlakuan prokes juga relatif lebih mudah. Dan sebenarnya PTM di wilayah-wilayah ini sudah dilakukan. Meskipun pembelajaran bukan di ruang kelas. Kadang dilakukan di ruang terbuka, di halaman penduduk, atau di rumah-rumah warga dengan memecah siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. Jadi tinggal menunggu izin dari penentu kebijakan saja.

Mungkin ini langkah kecil, tetapi setidaknya bisa menjadi pilihan untuk mengejar ketertinggalan pembelajaran anak-anak kita. Sambil berharap segera datangnya pertolongan Allah. Karena sesungguhnya pertolongan Allah teramat dekat.

Untuk sahabat-sahabat baruku, para generasi tangguh, selamat datang. Bersama kita hadapi tantangan ini. Insyaallah bisa!"

 

0 komentar:

Posting Komentar