Channel YouTube

Rabu, 29 Mei 2019

PENGUMUMAN KELULUSAN SMP NEGERI 1 PARANGLOE 2019





Selamat Kami ucapkan kepada segenap Siswa yang dinyatakan lulus, semoga bisa menjadi jembatan untuk meraih cita-cita di hari depan. Teruslah belajar dengan penuh semangat, masa depan yang gemilang ada di tangan kalian. Kami, guru-guru dan orang tuamu menanti karya-karya terbaik kalian. Buatlah kami bangga dengan prestasimu bidang apapun yang kalian pilih. Ingat! kalian adalah wajah masa depan Indonesia. Di pundakmu masa depan bangsa besar ini dipertaruhkan.

Teruslah melangkah untuk menjadi yang terbaik, jangan pernah ragu. Doa-doa terbaik kami Insyaallah akan selalu menyertai.

Kami bangga pernah menjadi bagian dari kisah hidup kalian 
Maafkan jika kami pernah khilaf

Silahkan lihat pengumumannya DI SINI

Senin, 20 Mei 2019

Semangat Ramadhan




Sekitar satu jam menjelang buka dengan sepeda motor saya berkeliling kampung. Ingin melihat situasi kampung di sore hari di bulan Ramadhan tahun ini. Ternyata situasinya tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Lorong dan jalan-jalan utama dijejali oleh ibu-ibu dengan tempat seadanya, sibuk menjual menu buka puasa, makanan dan minuman dengan berbagai varian. Pembelipun cukup ramai. Jika ulama ditanya tentang fenomena ini mungkin dia akan menjawab, "inilah berkahnya Ramadhan." Tetapi kalau ekonom yang dimintai tanggapan barangkali dia akan berkata, "Ramadhan mampu mengangkat ekonomi umat." Kesimpulannya, berkah Ramadhan membangkitkan ekonomi umat.

***

Anak saya minta izin mengikuti Tablik Akbar Ustadz Hanan Attaki di Makassar. Acaranya dipusatkan di Lapangan Karebosi, saya izinkan. Pukul 10 malam saya telpon, dia rupanya masih di Karebosi, acara masih berlangsung. Melalui video call anaknya saya memperlihatkan peserta menyesaki lapangan. Ah, anak muda sedang bersemangat, jangan diganggu. Ramadhan setidaknya telah membuat anak-anak muda ini memiliki girah keberislaman khas mereka. Rela berdesak-desakan hanya untuk merasakan suasana yang berbeda. Jika orang tua mereka senangnya duduk tafakur di masjid sambil meresapi ayat demi ayat dari Al-Qur'an yang dibacanya, atau memaksa matanya melek untuk mendengar ceramah ustadz yang silih berganti tiap malam. Maka anak-anak ini malah memilih berdiri berdesakan di lapangan.

***

Di masjid tempat tinggal saya, jamaah anak-anak dipisah dengan jamaah orang dewasa. Anak-anak dikumpulkan dengan sesamanya di teras masjid. Cara ini saya kira bagus agar anak-anak tidak lalu-lalang di shaf-shaf orang dewasa yang bisa menggangu ketenangan beribadah. Di teras masjid mereka dengan bebas shalat sesuai dengan batas pemahaman mereka tentang gerakan-gerakan shalat dan bacaan-bacaannya. Kesempatan yang mereka tunggu-tunggu rupanya adalah kalimat "waladhdhollin" dari imam. Begitu kalimat ini terucap oleh imam mereka segera menyambutnya dengan aamiin, hingga masjid dipenuhi oleh suara gemuruh.

Biarkanlah mereka menikmati Ramadhan ini dengan gaya mereka. Mereka butuh membenamkan memori tentang Ramadhan kedalam benaknya. Kelak di masa yang akan datang, mereka akan sibuk membuka kembali memori ini dan akan tersenyum sendiri mengenang masa-masa konyol ini. Ah, betapa indahnya Ramadhan. Semoga saja melahirkan rasa bangga menjadi Muslim. Maka biarkan saja jangan diganggu. Tugas kita hanyalah membimbing dan mengarahkan mereka bagaimana bersikap yang benar di masjid.

***

Sekitar pukul 11 siang, saya singgah di sebuah masjid. Setelah shalat tahiyatul masjid, datang tiga orang anak sekira kelas tiga SD. Salah seorang menuju saya dan minta izin untuk adzan. Saya tunjukkan jam dinding, dia tersenyum jam baru menunjukkan pukul 11.15. Dia mundur dan melanjutkan ritualnya, kejar-kejaran di halaman masjid. Hehe, ini semangat dalam versi lain. Terlalu!!!

***

Kaum Muslimin dari segala lapisan menjalani Ramadhan dengan semangatnya masing-masing. Betapa dahsyatnya energi Ramadhan. 

Sayangnya umat Islam belum mampu mengelola dengan baik energi ini. Pasca Ramadhan perlahan tapi pasti kehidupan kembali pada ritme yang sesungguhnya. Semangat berislam yang sangat terasa selama satu bulan sirna tersiram kerasnya godaan materialisme. Hedonisme kembali menguasai hajat hidup orang banyak. Masjid kembali sepi, anak-anak pun kembali pada pangkuan game online dan playstation. Masjid menjadi sunyi, tawa dan teriakan anak-anak nyaris tak terdengar lagi.

Itulah yang terjadi pada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Semoga saja tahun ini semangat Ramadhan tetap terpelihara menyertai langkah-langkah kita di bulan-bulan di luar Ramadhan. Menjadikan kita semua manusia-manusia takwa yang kehadirannya sangat dirindukan untuk kedamaian dan kesejahteraan alam ini. Aamiin.

Kontroversi Hari Kebangkitan Nasional



Memasuki abad ke 20,  nasionalisme berkembang di Indonesia. Paham yang berkembang di Eropa ini membawa perubahan besar dalam pola perjuangan melawan kolonialisme-imprealisme. Hal ini ditandai dengan tumbuhnya semangat kebangsaan yang kemudian menggeser pola perjuangan fisik yang bersifat kedaerahan ke arah perjuangan non fisik yang bersifat nasional (kebangsaan).  Indonesia pun memasuki babak baru,  masa pergerakan nasional.

Pergerakan nasional lahir sebagai wujud dari tumbuhnya kesadaran akan rasa senasib sepenanggungan di kalangan elit, terutama kaum terpelajar. Senasib sepenanggungan, kesamaan sejarah, kesamaan penderitaan sebagai bangsa yang terjajah dan oleh penjajah yang sama, Belanda.  Kesadaran ini yang kemudian memompakan energi untuk  bersama-sama bangkit berjuang dengan cara yang lebih modern sesuai dengan tuntutan zaman,  melalui organisasi pergerakan.

Masa pergerakan nasional telah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi Indonesia merdeka. Sangat pantas jika masa pergerakan nasional perlu dikenang untuk melestarikan semangat kebangsaan (nasionalisme) yang memenuhi dada para pejuang ketika itu. Hal inilah yang melandasi peringatan Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei.   

Dalam buku-buku sejarah terutama buku pelajaran  yang digunakan di sekolah-sekolah disebutkan bahwa penetapan  20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional didasarkan pada tanggal berdirinya Budi Utomo yang diyakini sebagai organisasi modern pertama yang bersifat nasional yang juga berarti pelopor kebangkitan nasional. Benarkah Budi Utomo adalah pelopor kebangkitan nasional? Jawaban dari pertanyaan ini sangat penting karena akan terkait dengan pertanyaan selanjutnya, sudahkah tepat 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional? Menurut penulis ada dua faktor yang perlu diperhatikan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama; kapan organisasi pertama didirikan dan kedua; bagaimana sifat perjuangannya.

Organisasi pertama

Tentang organisasi pertama yang didirikan antara lain dapat kita merujuk pada pendapat Ahmad Mansyur Suryanegara (1995). Dalam bukunya “Menemukan Sejarah” beliau menyebutkan bahwa penetapan Budi Utomo sebagai organisasi pelopor pergerakan nasional  tidak mempunyai landasan yang kuat. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa tiga tahun sebelum berdirinya, sudah berdiri Syarikat Dagang Islam (SDI) tepatnya pada tanggal 16 Oktober 1905, yang kemudian berubah nama menjadi  Sarikat Islam (SI) satu tahun kemudian.  Fakta ini didasarkan atas hasil wawancara Tamarjaya dengan KH. Samanhudi, pendiri SDI pada tahun 1952. Hal yang sama diungkapkan oleh KH. Firdaus AN (1999) dalam bukunya “ Dosa-dosa Orde lama dan Orde Baru yang tidak boleh berulang kembali di era  reformasi”,  serta sejarawan Dr. Nina Herlina Lubis dalam pernyataannya seperti dikutif dari Tabloid Suara Islam edisi 21 (Mei 2007).

Dengan demikian, jika penetapan hari kebangkitan nasional didasarkan pada hari lahir Budi Utomo, maka hal ini jelas sangat keliru. Peringatan hari kebangkitan nasional yang paling tepat adalah tanggal 16 Oktober, hari berdirinya SDI/SI sebagai organisasi pergerakan nasional yang pertama.

Sifat perjuangan

Dalam konsep perjuangannya, Budi Utomo lebih memilih merapat kepada pemerintah Hindia Belanda daripada perjuangan untuk kepentingan rakyat. Anggotanya yang didominasi oleh pegawai Hindia Belanda, berusaha untuk tetap mempertahankan kedudukannya, misalnya dengan berupaya memperdalam Bahasa Belanda.  Dalam buku sejarah Nasional Indonesia jilid V yang tulis oleh Marwati Djoened Poeponegoro dkk (1990) yang dijadikan sebagai buku standar Sejarah Nasional dikatakan bahwa Budi Utomo sangat mementingkan pengetahuan akan Bahasa Belanda karena tanpa bahasa itu seseorang tidak dapat diharapkan mendapat kedudukan yang layak dalam jenjang kepegawaian kolonial.  

Kalaupun berpikir tentang rakyat maka yang diperjuangkan hanyalah suku Jawa dan Madura saja. Sebagaimana yang tercantum dalam anggaran dasarnya yang antara lain memuat tujuan Budi Utomo yaitu “ de harmonische ontwikkeling van land end volk van Java en Madura”, artinya : “kemajuan yang harmonis untuk nusa bangsa Jawa dan Madura” (Susanto Tirtoprojo, 1989). Dengan demikian  dapat dipahami bahwa   perjuangan Budi Utomo sama sekali tidak bercorak nasional  (kebangsaan) tetapi kedaerahan (kesukuan).   Budi Utomo sama sekali tidak berpikir tentang Indonesia, setidak-tidaknya selama kurun waktu 23 tahun (1908 – 1931). Dalam kurun waktu tersebut Budi Utomo masih menjadi organisasi eksklusif, “menutup diri dari keanggotaan di luar suku Jawa” (Ahmad Masyur Suryanegara, 1995).

Budi Utomo bukanlah organisasi yang bersifat nasional karena nyatanya organiasi ini hanya fokus pada perbaikan nasib orang-orang Jawa dan Madura saja. Budi Utomo juga bukan organisasi yang gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pengurusnya yang terdiri atas para pegawai Hindia Belanda (Ambtenaar) dan kaum bangsawan (ningrat) justru terdiri atas orang-orang yang sangat patuh kepada pemerintah Hindia Belanda. Tidak mungkin mereka dapat memobilisasi rakyat untuk menentang Belanda, karena hal itu berarti mengancam kedudukan mereka.  Itulah sebabnya maka tokoh-tokoh muda seperti dr Sutomo (pendiri Budi Utomo) dan dr Tjipto Mangunkusumo memilih keluar dari organisasi itu.

Dengan sifatnnya yang moderat itu, menurut Asvi Arman Adam (2007), Budi Utomo mendapat sambutan yang baik dari pemerintah Belanda dan dianggap sebagai bukti keberhasilan politik etis.  Karena itu pada tahun 1909 organisasi ini diresmikan oleh pemerintah Belanda sebagai organisasi yang sah. Kedekatan antara Budi Utomo dengan pemerintah Belanda pada akhirnya   memicu kecurigaan dari organisasi-organisasi anti pemerintah terhadap keberadaan budi Utomo sebagai “anak emas” kolonial.

Lalu bagaimana  dengan Sarikat Islam?  Sejak awal berdirinya, Sarikat Islam telah berada di barisan terdepan sebagai organisasi yang memperjuangkan nasib rakyat kecil, meskipun pada awalnya terbatas pada bidang ekonomi yang berbasis Islam, tetapi pada perkembangan selanjutnya SI terjun pada lapangan politik, pendidikaan, dan sosial budaya  yang konsisten memperjuangkan Indonesia merdeka. Perkembangan SI begitu menakjubkan, Sartono Kartodirjo (1992)  menggambarkan perkembangan SI ketika itu sebagai sebuah ‘banjir besar’. Kala itu, menurut Sartono, massa dapat dimobilisasi serentak secara besar-besaran, baik dari kota-kota maupun dari daerah pedesaan sehingga menimbulkan suatu pergolakan yang melanda seluruh Indonesia.

Perjuangan SI tidak terbatas pada etnis tertentu saja tetapi seluruh penduduk asli (pribumi). Hal ini tergambar jelas dalam tujuan organisasi ini sebagaimana yang tercantum dalam statutennya yaitu memajukan kepentingan rohani dan jasmani dari penduduk asli. Bahkan pada kongres tahun 1916 SI menegaskan bahwa istilah “nasional” dipergunakan untuk menegaskan bahwa SI mencita-citakan supaya penduduk asli menjadi satu natie, satu bangsa. Jadi ketika Budi Utomo masih bersikukuh dengan sifat kesukuannya, SI sudah meningkat ingin mempersatukan seluruh rakyat jajahan menjadi sebuah bangsa.  Dalam kongres tahun 1927 tujuan SI lebih dipertegas lagi yakni mencapai kemerdekaan nasional Indonesia, atas dasar agama Islam  (Tirtoprodjo, 1989).
Penetapan Hari Kebangkitan Nasional

Sangat jelas bahwa dari segi waktu (kapan) berdirinya dan sifat perjuangannya maka yang lebih pantas dijadikan sebagai pelopor kebangkitan nasional adalah Sarikat Dagang Islam dan bukannya Budi Utomo. Dengan demikian Hari Kebangkitan Nasional seharusnya diperingati setiap tanggal 16 Oktober bukannya 20 Mei. Sekarang tinggal menunggu keberanian dan ketegasan dari pemerintah untuk mengambil sikap terkait persoalan ini.

Masalah ini sangat penting sebagai bagian dari upaya pelurusan sejarah bangsa yang selama ini terkesan banyak dibengkokkan oleh para pemegang kebijakan dengan dalih demi stabiltas negara. Pertanyaannya kemudian apakah stabiltas dapat tercapai dengan memelihara kebohongan? Bukankah kebohongan itu yang justru selalu menimbulkan masalah. Penetapan Hari Kebangkitan Nasional harus segera dikembalikan sesuai dengan fakta yang sesungguhnya. Ini harus segera dituntaskan, kalau tidak, generasi mendatang akan  kehilangan kepercayaan terhadap sejarah bangsanya yang juga berarti meruntuhkan semangat nasionalisme yang telah dibangun dengan susah payah oleh generasi-generasi terdahulu.

Jumat, 10 Mei 2019

Bulan Tarbiyah


Ramadhan adalah bulan Tarbiyah, bulan pendidikan. Kita dididik untuk membiasakan perbuatan baik yang bernilai ibadah, mempertahankan puasa dari hal-hal pembatal. Dan itu butuh perjuangan berat. Kalau sekedar menahan diri dari makan dan minum, gampang tetapi menahan mulut dari bergunjing, menahan hati dari buruk sangka, menahan tangan dari melakukan perbuatan sia-sia, ini yang memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Pantas kalau orang yang berhasil melalui ujian Ramadhan diberi gelar manusia takwa, level kemanusiaan yang paling terhormat yang dengannya manusia akan dinilai di hadapan Allah. Manusia takwa, jenis manusia yang ingin dihasilkan oleh Ramadhan ini kehadirannya sangat dibutuhkan, tetapi sayangnya manusia jenis ini semakin langkah.

Maka puasa sebagai ibadah utama Ramadhan harus dilatihkan sejak kecil, meskipun bagi anak-anak puasa tidaklah wajib. Namun melatihnya adalah suatu keharusan. 

Saya dilatih berpuasa oleh orang tua saya pada usia 7 tahun. Dan langsung puasa full, menurut versi ayah saya, kalau versi saya tentu beda (hehe). Yang paling berat ada dua, pertama menahan lapar dan haus yang kedua bangun makan sahur. Ini untuk puasa standar anak-anak, orang dewasa tentu beda standarnya, semakin banyak variabel yang perlu diperhitungkan.

Bagaimana saya bisa "bertahan" dari godaan lapar dan haus? Ayah saya menjanjikan pakaian yang terbaik untuk lebaran. Dan ini dibuktikan. Saya pada akhirnya bisa tampil beda di lapangan tempat penyelenggaraan shalat Id. Dengan stelan jas lengkap saya berjalan dengan penuh kebangggaan membuat anak-anak lain menatap heran. Maklum pakaian model ini tak banyak yang mampu membelinya. Belum ada orang tua di kampung saya yang nekat memanjakan anaknya dengan pakaian semewa itu apalagi ukuran ayah saya yang hanya pedagang sayur keliling. Anaknya Kepala Desa saja sampai melotot, entah apa yang dipikirkannya. 

Untuk memastikan bahwa semua anak-anaknya berpuasa, ayah saya tidak hanya menjanjikan hadiah, tetapi juga menebar kecemasan, "Siapa yang tidak puasa akan diberi makan dengan nasi basi dan tulang ikan," sebuah menu dengan kombinasi yang cukup menakutkan untuk anak-anak di bawah umur. Dan Saya tidak punya pemikiran aternatif selain bahwa ayah saya tidak pernah bermain-main dengan hukum yang dia buat. Maka selapar dan sehaus apapun, saya harus bertahan.

Bangun sahur. Nah,  ini masalah berat kedua. Saya terkadang dikeroyok dibangunkan oleh ayah, ibu dan kakak saya. Mereka seperti beradu trik membangunkan raksasa tidur. Ibu dengan teriakan khasnya sambil meracik bumbu di dapur, kakak saya dengan gelitiknya disertai cubitan kesal. Namun, biasanya yang berhasil membangunkan adalah ayah. 

Ayah tidak bersuara, dia hanya mendatangi tempat tidur, mengangkat saya, mendudukkan di depan piring nasi dan membasuh muka saya dengan air, hehe. Ini cara yang paling ampuh membuat kantuk tak berdaya. Aksi tanpa kata, operasi senyap!

Ayah dan ibu saya meskipun pemahaman keagamaannya sangat terbatas, tetapi dari keterbatasan itu mereka paham bahwa penanam nilai-nilai ketakwaan harus diusahakan sedini mungkin, sejak kecil. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda, "Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika telah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia." Dalam hal melatih anak-anak berpuasa, sebuah riwayat menceritakan bahwa para sahabat Nabi biasa menyediakan mainan yang terbuat dari bulu (sejenis boneka) untuk anak-anak mereka saat berpuasa. Jika anak-anak menangis mereka membujuk dengan memberikan mainan itu. 

Pada intinya adalah bagaimana menanamkan ketaatan pada perintah Allah sejak dini. Anak-anak yang sudah terbiasa melakukan ketaatan sejak kecil biasanya akan terbawa hingga dewasa, demikian pula sebaliknya.

Ramadhan adalah waktu yang terbaik untuk mengajarkan dan membiasakan perbuatan baik. Puasa, shalat berjamaah, tilawah Qur'an, sedekah dan amalan-amalan baik lainnya. Demikian pula dengan pendidikan pengembangan diri misalnya dengan melatih  percaya diri anak melalui praktek MC, kultum, adzan atau tilawah Qur'an di masjid-masjid.

Konon kebiasaan yang terus menerus diulang-ulang selama 30 hari akan menjadi habbit. Suatu kebiasaan yang secara otomatis muncul ketika menghadapi situasi tertentu, reaksi otomatis bahkan tanpa dipikirkan. Orang yang terbiasa minum kopi di pagi hari akan merasakan keanehan jika suatu saat dia tidak menemukan secangkir kopi di pagi hari. Orang yang terbiasa tidur siang pada jam 2 siang akan merasakan kantuk ketika jam 2 siang belum juga beranjak tidur. Orang yang terbiasa bergegas ke masjid ketika terdengar adzan akan kelihatan gelisah saat diminta menyelesaikan pekerjaan di saat adzan sudah berkumandang. Orang yang terbiasa bangun sahur pada jam 3 dinihari secara otomatis akan terbangun pada waktu itu meskipun tidak dibangunkan. Demikian seterusnya. 

Semoga Ramadhan tahun ini kita jadikan sebagai waktu terbaik untuk menumbuhkan kebiasaan baik dalam diri, kekuarga, dan lingkungan kita. Insya Allah kita semua benar-benar akan menjadi manusia takwa yang didambakan.

Minggu, 05 Mei 2019

Menyambut Ramadhan


Tradisi menyambut Ramadhan sangat bervariasi. Setiap orang punya cara tersendiri dalam mengagungkan kedatangan bulan mulia ini. Ada yang rela berdesakan di pasar-pasar berburu bahan pokok untuk menu makan sahur dan berbuka puasa. Puasa pertama menunya harus spesial sebagai pemompa semangat menjalankan ibadah puasa, terutama mereka yang sedang melatih anak-anaknya berpuasa, menu sahur dan berbuka sangat menentukan. Maka kita bisa menyaksikan pasar dan pusat-pusat perbelanjaan mengalami over kapasitas menjelang Ramadhan, sebuah semangat yang menggembirakan. 
Ada pula yang memilih mendatangi sanak kerabat untuk bersilaturahim, saling memaafkan, mendoakan, membersihkan hati dan pikiran agar tenang menjalani Ramadhan. Ramadhan adalah bulan suci maka selayaknya disambut dengan hati yang suci. Mungkin di situ korelasinnya. Ziarah kubur juga menjadi tradisi menjelang Ramadhan, peziarah ini datang “bersilaturahim” kepada keluarganya yang telah tiada membagikan doa-doa untuknya. Kebahagiaan memasuki Ramadhan harus pula dirasakan oleh mereka yang telah mendahului kita.
Sebagian yang lainnya menyambut Ramadhan dengan mendatangi tempat rekreasi. Walaupun ini sedikit unik jika dihubungkan dengan Ramadhan tetapi baiknya kita berbaik sangka bahwa mereka merasa perlu untuk memastikan bahwa hatinya senang, bahagia dan dengan rekreasi kesenangan itu mereka peroleh. Keunikan cara ini datang dari kalangan anak muda. Mereka menyambut Ramadhan dengan mendaki gunung. Makan sahur ratusan meter di atas permukaan laut, di puncak gunung dalam cuaca dingin mungkin memberikan sensasi yang luar biasa nikmat bagi mereka. Atau mungkin juga mereka merasa sangat dekat dengan Allah jika berada di ketinggian? Ah, semoga tidak, kedekatan seseorang dengan Allah tidak ditentukan oleh jarak tetapi oleh kesucian hati. Anak muda memang sering membuat bingung, masjid tersedia di depan rumahnya tetapi malah memilih puncak gunung untuk shalat tarwih.
Bagaimana dengan pedagang? Kedatangan Bulan Ramadhan adalah kesempatan bagi kaum pedagang untuk meraup keuntungan yang besar, kebutuhan akan segala jenis barang dan jasa meningkat tajam. Pemerintah malah sering dibuat kelabakan dalam mengontrol harga-harga yang sering berjalan di luar kendali, hanya mengikuti naluri pedagang. Ramadhan adalah bulan panen rezki. Itulah sebabnya selama Ramadhan banyak orang mendadak jadi pedagang, itu sah dan sangat wajar. Setiap orang tidak ingin melepaskan kesempatan berharga ini. Dan mungkin demikianlah cara mereka menyambut Ramadhan.
Seorang teman memilih cara tak biasa setiap menyambut Ramadhan. Dia adalah seorang pedagang yang sangat sibuk. Hampir-hampir tidak punya waktu luang, aktivitasnya terkonsentrasi pada barang-barang dagangannya yang beraneka ragam. Mulai dari keperluan dapur, peralatan rumah tangga, pakaian sampai urusan travel umrah dan haji. Kebayangkan bagaimana sibuknya? Apa yang dilakukannya menyambut Ramadhan? Jika Anda membayangkan bahwa dia menambah modal usahanya, memperluas jejaring bisinisnya, dan menambah pekerjanya, Anda keliru. Justru di minggu akhir Bulan Sya’ban dia mulai mengurangi aktivitas dagangnya dan memasuki Ramadhan dia hanya menjalankan usaha di rumahnya. Kalau biasanya dia keliling dari pasar yang satu ke pasar yang lain, di Ramadhan dia hentikan sama sekali. Ketika ditanya, kenapa berhenti berdagang? Jawabnya simpel, tidak ingin perdagangan membuatnya lalai dari ibadah. Saya angkat jempol dengan teman saya ini. Bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan bisikan dunia, di saat orang berlomba-lomba mencarinya, hanya karena takut ibadahnya terganggu. Hebat, semoga istiqamah.
Ramadhan adalah sebuah proyek besar , keuntungan yang ditawarkan sangat menggiurkan. Kita dipersilakan memilih model keuntungan yang ingin diraih, keuntungan dunia atau keuntungan akhirat. Merugilah seseorang yang hanya mengejar keuntungan dunia yang sementara dan tidak hirau dengan keuntungan akhirat yang abadi. Maka jika Anda memandang Ramadhan sebagai proyek akhirat maka selamat anda telah berada di jalan yang benar. Ramadhan jangan disia-siakan, boleh jadi Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir buat kita, maka bersungguh-sungguhlah dalam mempersiapkan diri. Sukses Ramadhan sangat tergantung dari sesiap apa kita menghadapinya.
Perbaharui kembali pemahaman mengenai ibadah-ibadah Ramadhan, hukum di sekitar puasa, zakat, sedekah, i’tikaf dan yang lainnya. Susun rencana dengan baik, shalat sunnahnya, tilawah Qur’annya, dan pengajian serta aktivitas ibadah lainnya. Jangan lupa memasang target dengan benar dan konsisten dengan rencana yang telah dipersiapkan. Semoga kita semua diberi kekuatan lahir dan bathin dalam menjalani ibadah Ramadhan dan meraih gelar takwa yang dijanjikan Allah dengan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, aamiin.
Marhaban ya Ramadhan.

Jumat, 03 Mei 2019

Budaya Mendidik




Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini mengangkat tema “ Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan.” Tema ini kembali mengingatkan kita tentang eratnya  kaitan antara pendidikan dan kebudayaan. Mungkin karena itulah keduanya digabung dalam satu kementrian yang disebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan ditujukan untuk  mengembangkan, melestarikan dan mentrasfer budaya atau bahkan menciptakan budaya baru. Demikian pula, budaya adalah sumber inspirasi dan dasar pijakan dalam pengembangan pendidikan. Sehingga kita dapat menyaksikan bahwa tradisi pendidikan suatu negara sangat ditentukan oleh budaya yang dianut oleh masyarakat pendukungnya.

Keterkaitan antara pendidikan dan kebudayaan telah dikemukakan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Menurutnya, pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat.

Penjelasan ini memberikan gambaran bahwa pendidikan hakikatnya adalah penanaman dan penguatan karakter yang baik kepada peserta didik, yang sebenarnya adalah embrio dari sebuah masyarakat. Pada akhirnya harus diakui bahwa pendidikan adalah upaya mempersiapkan, membina dan memelihara masyarakat yang beradab. Untuk itu pendidikanlah yang berperan dalam memastikan masyarakat tetap terikat dengan budayanya. Tanggung jawab ini sangat berat. Karena itu harus dipikul bersama oleh tiga lembaga yang disebut tri pusat pendidikan, yaitu;  keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Keluarga adalah madrasah pertama seorang anak. Dalam ruang-ruang keluarga anak-anak diperkenalkan karakter, seperti adat sopan santun, kejujuran, saling hormat menhormati dan nilai-nilai luhur lainnya. Dalam keluarga pulalah anak-anak ditanamkan keimanan dan ketakwaan yang menjadi rumah besar bagi bersemayamnya karakter yang baik dalam diri anak-anak. Diperlukan kerja sama dan saling memahami peran masing-masing dari anggota keluarga untuk mengembang tugas ini. Ayah dan Ibu memegang peranan yang paling menentukan. Mereka berdua adalah role model bagi anak-anaknya. Anak punya kecenderungan untuk meniru ucapan, tindakan atau kebiasaan yang sering diperlihatkan oleh orang tuanya. Jika orang tua menginginkan anak-anaknya berkarakter baik maka orang tua berkewajiban untuk memberi teladan terhadap prilaku-prilaku baik yang ingin ditanamkan dalam jiwa anak. Keluarga juga harus menjadi tempat bernaung yang memberi rasa aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak-anak baik secara fisik maupun spikis. Andai keluarga bisa menjalankan perannya dengan benar maka separuh dari problem pendidikan kita hari ini selesai.

Sekolah adalah lembaga kedua yang memiliki peran penting bagi keberlangsungan pendidikan. Tempat anak-anak berinteraksi dengan guru dan teman-teman sebayanya. Anak-anak datang dari berbagai lembaga keluarga dengan latar belakang dan karakter yang berbeda-beda. Tugas sekolah adalah memberi jaminan bagi tumbuhnya budaya yang saling memahami dan toleransi terhadap perbedaan. Anak-anak harus bisa bekerja sama dengan teman-teman mereka tanpa mempersoalkan keragaman yang ada. Bahwa keragaman bukan untuk dipertentangkan tetapi untuk disinergikan dalam kebersamaan mencapai cita-cita bersama.

Sekolah menjadi laboratorium budaya terbesar,  tempatnya menguji budaya yang sesuai dengan kepribadian bangsa, budaya yang mendukung kemajuan, serta budaya akan memuliakan manusia. Sekolah harus memerdekakan manusia dari budaya merusak yang akan mencederai bangsa ini dan akan memerosokkan manusia ke dalam jurang kehinaan. Upaya ini diintegrasikan dalam pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler serta aktivitas sekolah yang lain.  Semua komponen sekolah harus memahami tugas ini, kepala sekolah, guru, pegawai, dan unsur lainnya yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses pendidikan.

Jika dalam keluarga orang tua adalah role model bagi anak-anak maka di sekolah guru adalah role model-nya. Guru harus tampil menjadi contoh bagi karakter yang ingin ditanamkan kepada peserta didik. Sekolah juga harus menjadi rumah yang aman dan nyaman tempat peserta didik mendapatkan kedamaian dalam menyelami ilmu pengetahuan, berpetualang melalui pengalaman-pengalaman yang menarik dengan teman sebayanya dan menikmati keteladanan dari guru-gurunya. Peranan sekolah yang seperti ini bisa terwujud hanya jika mendapat sokongan kuat dari negara terkait regulasi dan kebijakan yang propendidikan.

Berikutnya lingkungan. Lingkungan yang dimaksud adalah masyarakat. Masyarakat adalah tempatnya peserta didik hidup dan bergaul bukan hanya dengan teman sebayanya tetapi juga dengan orang lain dan juga dengan lembaga-lembaga lain. Kehidupan masyarakat sedemikian kompleks, jika peserta didik tidak cukup bekal maka mereka akan asing di tengah keramaian atau malah bisa tenggelam dalam arus kehidupan yang merusak. Bekal yang dimaksud adalah karakter, kompetensi  yang diperoleh dari keluarga dan sekolah.

Sebagai lembaga pendidikan, masyarakat semestinya menjadi tempat bersemainya budaya dan karakter yang membangun. Anggota masyarakat harus bahu membahu menyiapkan lahan yang kondusif bagi tumbuhnya karakter yang baik bagi masyarakat secara menyeluruh. Dalam ajaran Islam dikenal istilah amar ma'ruf nahi mungkar. Ajaran yang mengedepankan kebersamaan dalam masyarakat, merasa turut bertanggung jawab atas apapun yang terjadi. Amar ma'ruf berarti saling mengajak untuk berbuat baik, sedangkan nahi mungkar adalah saling mengingatkan untuk bersama-sama menghindari kemungkaran atau kerusakan. Amar ma'ruf nahi mungkar akan membentengi masyarakat dari prilaku amoral yang akan merusak moral anak-anak kita.

Jelaslah bahwa budaya dan pendidikan tidak bisa dilepaskan. Keduanya memiliki porsi yang sama dalam mewujudkan manusia seutuhnya. Orang yang terdidik bukan hanya mereka yang pintar secara intelektual tetapi juga mereka yang tidak tercerabut dari akar budayanya. Pikirannya boleh saja dipenuhi oleh teori-teori ilmu dan filsafat Barat atau Timur tetapi kepribadiannya tetap berpijak pada kearifan budaya lokal miliknya. Budaya yang sesuai dengan fitranya sebagai makhluk ciptaan Allah yang mempunyai kewajiban untuk tunduk dan taat atas perintah-Nya. Maka Pendidikan yang berbudaya sesungguhya adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran akan kedudukan manusia sebagai hamba Allah sekaligus sebagai khalifah-Nya di muka bumi.