Channel YouTube

Selasa, 24 November 2020

Musik PJJ

 




Lagi bersemangat. Selesai mengikuti Bimbingan Tekhnik (Bimtek) guru belajar seri pandemic covid-19. Bimtek ini diadakan oleh Dirjen GTK secara daring melalui sim PKB masing-masing guru. Mengikuti bimtek ini sangat mudah. Guru bisa belajar secara mandiri dengan menentukan jadwal sesuai dengan waktu longgarnya. Waktu belajar juga sangat luwes, kapan saja. Asal tidak di luar jadwal yang sudah dipilih. Sangat mudah dan tentu sangat membantu guru dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama covid-19 ini. Beruntung saya bisa mengikutinya.


Tidak sabar ingin mempraktekkan ilmu yang diperoleh, beberapa waktu lalu saya memulai pembelajaran dengan terlebih dahulu memberikan asesmen nonkognitif, sesuatu yang sangat ditekankan dalam Bimtek. Asesmen nonkognitif dimaksudkan untuk menggali informasi mengenai keadaan siswa. Keadaan keluarganya, kondisi tempat tinggalnya, termasuk ketersediaan perangkat pendukung pembelajaran. Dengan mengetahui kondisi siswa yang sebenarnya maka guru dapat menyesuaikan mode serta alat pembelajaran yang digunakan. Cara ini diharapkan bisa membantu mengatasi hambatan pelaksanaan PJJ.


Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan ke siswa sekitar ketersediaan smartphone, kualitas jaringan di sekitar tempat tinggalnya, dukungan orang tua, model pembelajaran yang mereka sukai. Tidak ketinggalan bagaimana tanggapan mereka tentang aktivitas pembelajaran yang selama ini berlangsung. Apa saran mereka untuk pembelajaran mendatang.


Dari hasil asesmen ini, saya paham. Rupanya problem PJJ bukan hanya masalah perangkat seperti smarphone, bukan juga sekedar kualitas jaringan yang uring-uringan, atau pembeli kuota yang entah di mana memperolehnya. Tetapi juga persoalan ketentraman lingkungan.


Ketika saya Tanya tentang kondisi tempat tinggalnya, seorang siswa dengan panjang lebar menuliskan keluhannya. Dia tinggal di lingkungan yang lumayan padat penduduk. Pandemik covid-19 membuat orang lebih banyak tinggal di rumah. Hal ini membuat kebanyakan orang membuat kesibukan masing-masing untuk melawan rasa bosan. Menggeliatnya pencinta bunga akhir-akhir ini boleh jadi adalah pelampiasan dari rasa bosan itu. Dalam batas-batas yang wajar, tentu ini sangat positif. Konon bunga bisa menyegarkan mata, menenangkan pikiran dan mendamaikan hati. Artinya sibuk dengan bunga bisa meningkatkan imun tubuh. Ahli kesehatan mengatakan, imun tubuh yang kuat bisa menjadi penangkal covid-19. Berbahagialah mereka yang sibuk dengan bunga.


Menjamurnya pesepada juga bisa jadi motifnya sama. Daripada nganggur, lebih baik ambil sepeda, gowes. Dapat sehatnya banyak kenalan dan terhibur. Sangat positif.


Namun ada pula yang memilih kesibukan yang merugikan orang sekitarnya. Contohnya seperti apa yang dikeluhkan oleh siswa yang saya diceritakan di atas. Tetangganya memilih kesibukan yang justru membuat sang siswa stress. Betapa tidak, tetangga yang tidak memiliki kepekaan ini saban hari memutar musik keras-keras, berkaraoke ria, tanpa mengena waktu. “Bagaimana saya bisa konsentrasi belajar pak kalau telingaku penuh dengan suara musik?”, keluhnya. “Apa tidak ada yang tegur?”, tanyaku. “Tidak ada pak, saya sendiri tidak berani. Jadi saya pasrah saja, meskipun tersiksa karena tidak bisa mengikuti pembejaran dengan baik”, jawabnya.


Saya tertegun membaca chatnya. Selama ini kita sibuk mempersoalkan jaringan, kuota, dan smartphone. Tetapi abai mempersiapkan lingkungan belajar yang nyaman bagi anak-anak kita. Sudahlah cara belajarnya ribet,  ditambah lingkungan yang tidak mendukung. Lengkap sudah derita ini.


Bukan hanya siswa, guru, pekerja kantoran serta karyawan pun memerlukan lingkungan yang nyaman. Saat ini rapat-rapat kantor lebih banyak dilakukan secara virtual. Guru-guru mengikuti pelatihan juga secara daring. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya sebuah vidcon yang dipenuhi oleh suara musik.


Sangat mendesak, memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang kondisi ini. Aparat pemerintah setempat, dan semua tokoh masyarakat harus pro aktif dalam upaya menciptakan rasa aman dan nyaman. Demikian juga pihak sekolah, harus jeli mendeteksi problem yang dihadapi siswa. Di samping menjalin komunikasi yang intens dengan orang tua siswa dan seluruh pihak yang berkepentingan. Keberhasilan PJJ sangat ditentukan oleh dukungan semua pihak sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.

 


Berdikari 1, 24 Nopember 2020

Senin, 18 Mei 2020

Tidak Mencla-mencle

(Ilustrasi : experd.com)

Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar Ash-shiddiq dibaiat menjadi Khalifah. Di awal kekhalifahan Abu Bakar, kaum Muslimin menghadapi ancaman perpecahan. Beberapa kelompok secara terang-terangan murtad dan menolak membayar zakat. Ini adalah sebuah ancaman yang serius dan jika tidak segera diselesaikan akan menjadi masalah besar di kemudian hari. Sang Khalifah memutuskan untuk memerangi mereka.

Sikap Abu Bakar tidak disetujui oleh beberapa orang sahabat. Umar bin Khattab mendatangi Abu Bakar dan meminta untuk mengurungkan niatnya memerangi mereka. Umar berkata; “ Wahai Khalifah Rasul, bersikap lembutlah kepada umat. Mereka sekarang seperti binatang liar (karena baru ditinggalkan Nabi).”

Mendengar saran sahabatnya itu, Abu Bakar dengan tegas mengatakan; “Demi Allah, akan kuperangi mereka selama pedang dalam genggaman tanganku. Walau benda yang tidak mau mereka bayarkan itu hanya tali kekang kuda.” Dalam riwayat yang lain Abu Bakar berkata; “Demi Allah, aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat, karena zakat adalah haknya harta. Demi Allah seandainya mereka tidak mau menyerahkan tali kekang unta yang dulu pernah mereka serahkan kepada Rasulullah, aku akan memerangi mereka.”

Abu bakar tanpa ragu melaksanakan rencananya. Beliau segera menyiapkan pasukan untuk dikirim ke wilayah kaum murtad. Ekspedisi militer yang dikirim ini berhasil dengan gemilang. Islam terselamatkan dari orang-orang yang mencoba mempermainkan agama ini.

Sikap tegas Abu Bakar juga terlihat pada perdebatan mengenai pengiriman pasukan Usamah bin Zaid. Sebelum Nabi wafat, beliau telah mempersiapkan pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid untuk diberangkatkan ke Balqa (Romawi). Ketika Nabi wafat situasi menjadi tidak menentu. Banyak suku yang murtad, yang lainnya menolak menyerahkan zakat. Beredar pula desas-desus bahwa orang-orang Arab Badui akan menyerang Madinah.

Melihat situasi yang demikian, para sahabat meminta kepada Abu Bakar untuk membatalkan pemberangkatan pasukan Usamah. Namun, Abu Bakar menolak dan memutuskan pasukan Usamah tetap harus diberangkatkan. Abu Bakar berkata; “Demi zat yang jiwa Abu Bakar berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya binatang buas menyerangku, tetap kuberangkatkan pasukan Usamah seperti yang telah diperintahkan Rasulullah. Walaupun di tempat ini yang tersisa hanya aku, tetap kuberangkatkan pasukan Usamah.”

Alhasil, pasukan Usamah diberangkatkan dan kembali dengan membawa kemenangan. Pasukan Usamah sekaligus menjadi show of power Negara Madinah yang menciutkan nyali suku-suku yang semula ingin memberontak sepeninggal Nabi SAW.

Dua kebijakan yang diambil Abu Bakar di awal kekhalifahannya dua-duanya adalah pilihan yang sulit. Tetapi harus segera diputuskan, Negara dalam ancaman. Keliruh dalam bersikap apalagi tidak tegas mengambil kebijakan maka masa depan Negara menjadi taruhannya.

Abu Bakar berhasil menghilangkan bibit-bibit perpecahan dalam negeri dan juga menegakkan kewibawaan Islam di wilayah-wilayah lain.

Pengaruh dari kebijakan Abu Bakar ini tergambar dari apa yang dikatakan oleh Umar bin Khattab setelah kaum murtad berhasil dikalahkan. Umar berkata; “Abu Bakar benar-benar melaksanakan komitmennya. Dia tidak mendengar pendapatku. Dia justru makin yakin dengan keputusannya memerangi mereka dan mengajak manusia untuk melakukan hal-hal yang dampaknya bisa kami rasakan saat aku memimpin mereka”.
Pengakuan ini juga datang dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan; “Demi zat yang tiada Tuhan selain Dia, seandainya Abu Bakar tidak diangkat sebagai khalifah pasti tidak ada lagi yang menyembah Allah.” (Tarikh Khulafah, Ibrahim al-Quraibi).

Peristiwa yang lain. Tentang penaklukan benteng Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih. Konstantinopel dianggap sebagai salah satu kota terpenting di dunia, dibangun sejak tahun 330 Masehi. Posisinya sangat strategis sehingga ada yang mengatakan, “andaikata dunia berbentuk satu kerajaan, maka Konstantinopel akan menjadi kota yang paling cocok untuk menjadi ibukota kerajaan itu.”
Ketika kaum Muslimin berjihad melawan kekaisaran Byzantium, Konstantinopel menjadi penghalang yang sulit ditaklukkan. Itulah sebabnya beberapa pemimpin kaum Muslimin menjadikan penaklukan benteng itu sebagai agenda utamanya. Termasuk Sultan Muhammad II dari Kesultanan Turki Utsmani atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Al-Fatih.

Sejak dilantik menjadi Sultan, Al-Fatih sudah mempersiapkan rencana besar penaklukan. Segala kebutuhan perang dipersiapkan dengan matang.

Penakukan Konstantinopel bukan perkara mudah, benteng itu dilindungan dengan pertahanan berlapis yang sulit ditembus. Dalam sebuah pertempuran di Teluk Tanduk Emas, angkatan laut Utsmani berhasil dipukul mundur oleh pasukan gabungan dari beberapa negara Eropa yang membantu Byzantium. Al-Fatih marah besar dan langsung mencopot panglima armada lautnya.

Keadaan ini digunakan oleh para pembisik untuk membatalkan misi itu. Perdana Menteri Khalil Pasya menghadap Sultan dan membujuknya untuk menghentikan serangan dan melupakan impiannya menaklukkan Konstantinopel dan berdamai dengan Byzantium. Tetapi Sultan tidak menghiraukan. Dia tetap pada pendiriannya, tidak bergeser sedikit pun.

Serangan dilanjutkan. Akhirnya, pada bulan Mei 1453 Konstantinopel berhasil direbut oleh pasukan Utsmani. Keberhasilan ini disambut dengan suka cita di wilayah-wilayah Islam. Menjadi kisah yang sangat membanggakan hingga saat ini.

Dari dua tokoh yang kita bicarakan ini, kita belajar bahwa integritas pemimpin sangat menentukan. Baik Abu Bakar maupun Al-Fatih adalah pemimpin yang memiliki ketegasan untuk berpegang teguh pada apa yang diyakininya benar. Dan bersungguh-bersungguh berjuang untuk membuktikannya. Andai saja Abu Bakar atau Al-Fatih terpengaruh dengan para pembisiknya maka sejarah Islam tidak akan memperlihatkan kegemilangan selama kurang lebih 13 abad lamanya.

Saat ini seluruh dunia sedang menghadapi perang besar. Perang melawan corona. Ini musuh yang luar biasa, sampai presiden “sepede” Donald Trump pun dibuat frustrasi. Kelompok Yakuza, kelompok kriminal paling ditakuti di Jepang mengalami kebangkrutan. Hingga anggotanya beralih profesi menjadi penjual masker. Bahkan ketua gangster terkuat di Meksiko, Moises Escamilla May dikabarkan tewas hanya dua hari setelah terinfeksi virus ini. Hingga tulisan ini buat, covid-19 telah menewaskan lebih dari tiga ratus ribu orang di dunia. Ngeri!

Jika musuh sedemikian menakutkan maka tentu penanganannya pun tidak boleh main-main. Strategi yang dipilih harus jelas dan tegas sebagaimana yang dicontohkan pada kisah sejarah dari dua tokoh kita sebelumnya.

Terbukti dari negara-negara yang sampai hari ini dinilai suskes menangani virus ini. Misalnya Vietnam, Taiwan, Selandia Baru dan juga pemerintah China khususnya di Wuhan. Negara-negara yang disebutkan, dari awal cepat tanggap, mempersiapkan protokol yang ketat. Didukung oleh kepatuhan dan kedisiplinan rakyatnya. Dan satu lagi, tidak mencla-mencle.

Gowa, 25 Ramadhan 1441 H/18 Mei 2020

Kamis, 14 Mei 2020

Kearifan Orang-orang Kecil

(Ilustrasi; BeritaSatu.com)
Akun Facebook Humas Pemkab Gowa (10/05/ 2020) memberitakan; Irma, salah seorang warga Dusun Bontocinde, Desa Bontoramba, Kecamatan Pallangga memilih mengembalikan Paket sembako yang disalurkan Pemerintah Kabupaten Gowa melalui Pemerintah Desa. Pengembalikan bantuan itu dengan alasan dia telah menerima bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial.

Dari sumber yang sama. Di Kecamatan Parangloe juga diberitakan, seorang ibu rumah tangga bernama Daeng Saralia mengembalikan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Warga lingkungan Parang Kelurahan Lanna ini mengembalikan Uang sejumlah Rp 600.000 juga dengan alasan yang sama, yang bersangkutan adalah sebagai penerima bantuan PKH.

Akun Instagram Makassar_info (10/05/2020) mengunggah sebuah video yang memperlihatkan seorang warga yang mengembalikan bantuan sosial yang diantarkan petugas ke rumahnya. Warga yang kemudian diketahui bernama Alimin Dg Ngitung itu adalah warga dusun Pangajiang Desa Parigi Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Adapun alasan Alimin mengembalikan bansos itu adalah karena merasa masih ada yang lebih membutuhkan. “Merasa ada yang lebih membutuhkan, bapak ini memberikan kembali bantuan bansos kepada petugas lapangan”, demikian caption yang menyertai video tersebut.

Di Banyumas belasan warga desa Kemranjen juga mengembalikan BLT yang diterimanya dengan alasan mereka adalah orang-orang yang mampu dan tidak layak menerimanya. Siti Khasanah, salah seorang warga berterima kasih kepada Bapak Presiden dan berharap bantuan itu diserahkan kepada yang lebih berhak (cnnindonesia.com/tv).

Di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam Sumatera Barat sekitar 200 orang warga yang juga mengembalikan beras bantuan pemerintah. Mereka mengembalikan karena merasa masih berkecukupan dan ingin berbagi dengan warga lain yang lebih membutuhkan.

Salah satunya adalah seorang nenek bernama Opet. Meskipun tidak masuk pada kategori mampu tetapi dia dengan ikhlas mengembalikan bantuan itu. Hal ini sebagai wujud keprihatinannya dengan banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan akibat dari pademi ini (metrotvnews).

Tribunnews.com juga memberitakan; di Kulon Progo, DI Yogyakarta, seorang kakek bernama Suwardi merasa bersalah hingga tak bisa tidur lantaran mendapatkan undangan untuk mengambil BLT dari pemerintah. Rasa bersalahnya lantaran kakek yang sering dipanggil Mbah Wardi ini mendapat bantuan sebanyak dua kali. BLT yang bersumber dari APBDes dan Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kementerian Sosial. Nilainya sama, Rp. 600.000 perbulan selama tiga bulan.

Karena dobel maka Mbah Wardi mengembalikan dana sebesar Rp.600.000 ke Pemerintah Desa. Selanjutnya dia diberi tahu hanya akan menerima dari Kementerian Sosial.

Akun Twitter @kitabisacom (16 April 2020) mengunggah sebuah video yang kemudian diketahui terjadi di Kabupaten Agam Sumatera Barat. Seorang nenek menolak bantuan beras dari petugas. Nenek tersebut menolak karena merasa masih mampu mencukupi kebutuhan makanan pokok tersebut. Menurut sang nenek persediaan berasnya masih bisa untuk tiga bulan ke depan.

Bahagia sekali membaca berita-berita ini. Setidaknya ada berita baik. Berita yang memberikan harapan; denyut hati nurani masih ada. Dulu sempat ragu ketika seorang wanita penerima bantuan kecewa dengan paket yang diterimanya. Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, dia melampiaskan kekecewaannya, mengamuk dan memaki-maki gubernurnya. Bahkan mengajak orang-orang yang bersamanya untuk memotong-motong gubernurnya dan memasukkannya ke dalam karung. Sadis!

Bahwa ini adalah fakta bahwa pendataan warga masih semrawut, harus diakui. Tetapi itu soal lain. Yang menarik adalah sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang kecil ini yang sangat mengagumkan, sangat arif. Mereka tidak rela mengambil sesuatu yang bukan haknya. Merasa berdosa sampai-sampai Mbah Wardi tidak bisa tidur karena mendapat dua jatah bantuan yang seharusnya hanya satu. Nenek Opet rela menyerahkan bantuan yang dia terima kepada orang lain yang lebih membutuhkan, meskipun dia sendiri berhak menerimanya.

Andai saja sikap seperti ini juga dimiliki oleh para penyelenggara Negara dan juga orang-orang berpunya di negeri ini maka kemakmuran tidak hanya sekadar impian. Sangat disayangkan mental korup dan penyalahgunaan kekuasaan masih saja menjadi mimpi buruk.

Sumber daya alam yang melimpah dan sejatinya dinikmati oleh seluruh rakyat justru hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Pengelolaannya pun sebagian diserahkan ke negara lain yang menurut banyak ahli, berpotensi membawa kerugian Negara.

Membaca berita tentang penghasilan kanal youtube teratas di Indonesia yang dimuat di Tribunwow.com (12/05/2020), saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, ada yang diproyeksikkan memiliki penghasilan US $ 29,800 juta – US$ 476.500 per bulan. Setara dengan Rp 447 juta - 7,15 miliar perbulan (dengan kurs Rp 15.000 per dolar AS). Ini baru satu orang. Belum yang lainnya.

Belum termasuk pengusaha, pejabat, dan juga pejabat yang merangkap pengusaha. Kelompok ini bahkan banyak yang memiliki aset hingga triliunan. Menghitung nolnya saja kita bisa kelimpuhan. Apalagi hanya menggunakan kalkulator penjual telur di pasar-pasar tradisional di pelosok kampung.
Kembali berandai-andai. Andai saja mereka ini memiliki sikap seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang kecil yang diberitakan itu, maka persoalan kemiskinan akan menjadi lebih mudah ditangani.

Masyarakat kita adalah sumber kearifan yang tidak pernah habis untuk diselami. Corona telah memaksa kita membuka mata lebar-lebar menyaksikan itu semua. ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Semoga menjadi bahan renungan.

Gowa, 21 Ramadhan 1441 H/14 Mei 2020

Minggu, 10 Mei 2020

Ramadhan Spesial




Biasanya kalau akan memasuki Ramadhan, saya sudah mempersiapkan kebutuhan untuk anak-anak. Terutama baju lebaran. Saya tidak ingin mengganggu kenyamanan berpuasa dengan harus berdesakan-desakan di pasar-pasar atau pertokoan, hanya untuk urusan baju lebaran. Dengan cara ini saya bisa merdeka ketika orang lain masih berkeliling keluar masuk toko di akhir-akhir Ramadhan. Sayang sekali jika akhir Ramadhan yang seharusnya digunakan untuk memperbanyak ibadah, malah digunakan untuk keliling pasar, mall atau semacamnya.

Namun Ramadhan tahun ini berbeda. Semua tiba-tiba tidak berselera berbicara baju lebaran. Beberapa kali saya coba memancing, responnya hanya saling tatap. Tidak ada jawaban. Mungkin lagi bingung: mau lebaran ke mana? Corona menghadang di mana-mana.

Sahur pertama Ramadhan, biasanya dihidangkan menu spesial, agak bedalah dengan yang biasanya. Sekadar memotivasi anak-anak untuk bangun sahur. Tetapi sahur pertama Ramadhan kali ini menunya tidak spesial, biasa saja. Anehnya, pun tidak ada wajah-wajah kecewa di antara peserta sahur. Mereka tetap bersemangat menghadapi hidangan, siap berpuasa di hari pertama Ramadhan. Menu buka puasa pun tidak hingar-bingar, hanya kue kreasi ibunya dengan bahan seadanya yang sempat ditemukan di lemari dapur. Alhmadulillah buka puasanya tetap ceria.

Corona telah membuat Ramadhan tahun ini tampil tak biasa. Sederhana dan bersahaja. Pemberlakuan pembatasan sosial menimbulkan masalah sosial-ekonomi. Begitu banyak orang yang kehilangan pekerjaaan, tinggal di rumah tanpa penghasilan. Sementara mereka harus menghidupi anak dan istrinya. Bantuan pemerintah, kalau pun ada tentu sangat terbatas. Makhlum, Indonesia tidak seperti Jepang yang mampu menggaji rakyatnya Rp 14.400.000 per orang selama masa lockdown.

Bukan hanya kemampuan anggaran yang terbatas, manajemen penyaluran bantuan pun dipertanyakan. Data tidak valid, banyak penduduk miskin yang tidak terdata. Netizen sampai bilang begini : “Bansos banyak yang tidak terdata. Tapi kalau Pemilu, semua kedata. Bahkan orang gila aja terdata.” Benarkah? 

Saatnya Ramadhan benar-benar teraktualisasi. Ramadhan yang tidak hanya meresapi teori-teorinya tetapi melaksanakan ajarannya.

Sudah terlalu sering kita mendengar dan bahkan mungkin berpidato tentang empati. Bahwa puasa mengajarkan rasa empati. Sekarang saatnya empati itu benar-benar mewujud. Resapi apa yang dialami saudara-saudara kita yang secara ekonomi kurang beruntung. Ketika berpuasa, kita merasakan lapar di siang hari, demikianlah yang dirasakan oleh kaum papa. Terkadang mereka harus menahan lapar berhari-hari tanpa sesuap nasi mengisi perutnya.

Di tengah merebaknya covid-19 ini, kita disajikan kabar yang memilukan. Seorang ibu rumah tangga di kota Serang, Banten meninggal dunia diduga karena kelaparan akibat bertahan di rumah tanpa memiliki makanan. Perempuan itu bersama keluarganya menahan lapar selama dua hari hanya dengan meminum air minum galon.

Lalu, di Batam, Kepulauan Riau, seorang pria yang menanggung empat orang anaknya kehabisan uang untuk membeli bahan makanan. Sampai harus menawar-nawarkan ponselnya seharga Rp 10.000 untuk membeli beras.

Dua kasus ini hanya contoh, mungkin masih banyak kasus serupa di berbagai tempat namun tidak terekspos di media. Bisa jadi jumlahnya lebih banyak lagi. Sangat menyedihkan.

Itulah sebabnya mengapa Ramadhan tahun ini sangat istimewa, Ramadhan pembuktian. Bukankah yang diseru berpuasa adalah orang-orang beriman? Dan sangat tidak layak seorang yang beriman merasakan kenyang sementara dia tahu tetangganya dalam keadaan lapar. “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya padahal dia mengetahuinya” (HR. at-Thabrani).

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW berpesan kepada Abu Dzar RA, “jika engkau memasak masakan berkuah, perbanyaklah kuahnya. Kemudian lihatlah anggota keluarga dari tetanggamu, maka berikanlah kepada mereka dengan baik” (HR. Muslim).

Empati juga harus diwujudkan dengan menahan diri dari budaya pamer. Pamer menu buka puasa atau menu sahur misalnya. Termasuk pamer persiapan baju lebaran, padahal lebarannya bisa jadi tetap di rumah saja.

Covid-19 telah menambah daftar panjang saudara-saudara kita yang perlu mendapat uluran tangan. Berbagi untuk mengurangi beban mereka adalah bagian dari penanda sukses ibadah puasa yang kita jalankan.


Keharusan berdiam di rumah, warna lain Ramdhan tahun ini. Ramadhan terasa ringan, tidak banyak tantangan. Kesempatan beribadah terbuka dengan lebar. Baca Qur’an dan shalat-shalat sunnah dapat dengan seluasa dilakukan. Peluang berbuat dosa terkurangi karena pertemuan dengan banyak orang sangat terbatas.

Jika dipersiapkan dengan baik, tentu suasananya akan terasa nikmat. Saat ini kita berkumpul di rumah bersama keluarga. Maka jadikan rumah sebagai pusat ibadah, hidupkan Ramadhan dengan melaksanakan ibadah secara bersama-sama. Shalat berjamaah, tadarrus bersama, sahur, dan buka puasa bersama. Yakinlah Ramadhan tahun ini akan semakin merekatkan kebersamaan dalam keluarga. Sangat merugi jika disia-siakan.

Namun perlu diingat,rumah bukanlah tempat yang steril dari godaan berbuat dosa. Jadi meskipun berkurung di rumah, tetapi bukan berarti peluang itu tertutup sama sekali. Media sosial sebagai sarana baru pendulang dosa benar-benar tidak bisa disepelekan. Maka waspadalah terhadap godaan medsos. Batasi percakapan atau mengakses sesuatu di medsos hanya untuk yang penting-penting saja.

Tentu kita merasa tidak nyaman dengan kondisi Ramadhan tahun ini. Masjid sepi, gerak ekonomi melambat, agenda silaturahmi banyak tertunda, virus yang mengancam, dan problem sosial yang menghadang. Namun apapun adanya kita harus menerima ini sebagai bagian dari skenario Allah. Sebagai orang beriman kita pasti meyakini bahwa tidak satu pun yang terjadi di muka bumi ini tanpa izin-Nya, di balik setiap peristiwa pasti ada hikmah-Nya.

Demikian pula dengan wabah corona ini, begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Terlebih kehadirannya berbarengan dengan Ramadhan. Corona dan Ramadhan kedua-duanya adalah guru kehidupan. Keduanya membawa pesan-pesan Sang Pencipta untuk mengembalikan kehidupan makhluk pada fitrah yang sesungguhnya.

Semoga kita menjadi pembelajar yang baik.

Gowa, 17 Ramadhan 1441 H/10 Mei 2020

Sabtu, 02 Mei 2020

Belajar dari Covid-19


Judul di atas adalah tema yang dipilih oleh Kemdikbud dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini. Peringatan yang tentu jauh dari hingar bingar seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini bahkan upacara bendara di satuan-satuan pendidikan serta di instansi-instansi pun ditiadakan. Tidak mengapa. Bukankah yang terpenting dari sebuah peringatan adalah seberapa banyak kita mengambil pelajaran dari peristiwa yang dikenang. Bukan seberapa ramai dan seberapa meriah prosesi peringatan itu.

Tema ini saya kira membawa pesan. Bahwa kita tidak boleh terus-menerus memaki corona sebagai sumber dari segala kesulitan yang ada. Mari rehat sejenak dan melihat apa yang bisa kita pelajari dari merebaknya wabah ini. Khususnya dalam kaitannya dengan pendidikan.

Covid-19 memaksa pemerintah mengambil langkah cepat menyelamatkan siswa dari terpapar virus. Siswa diliburkan, pembelajaran dilaksanakan di rumah dengan mode daring. Mau tidak mau, guru harus menyesuaikan diri dengan model pembelajaran ini. Meskipun kelihatannya banyak yang kesulitan. Jujur saja belum semua guru terbiasa menggunakan internet untuk pembelajaran. Kabar baiknya, mereka segera bergegas ikut pelatihan yang mendadak ramai.

Tiba-tiba pembelajaran daring menjadi tren di dunia pendidikan. Sesuatu yang mungkin dulu sulit dibayangkan. Akhirnya guru dan siswa terbiasa dengan aplikasi-aplikasi video konferensi, serta aplikasi pembelajaran daring lainnya.

Covid-19 telah mengintervensi dunia pendidikan. Memaksa untuk mengubah gaya pembelajaran. Bahwa pembelajaran tidak harus di ruang-ruang kelas. Pembelajaran tidak harus bertatap muka antara guru dengan siswa. Persepsi tentang ruang-ruang kelas seketika berubah. Tidak harus berbentuk fisik dengan sekat-sekat tembok di setiap satuan pendidikan. Tetapi bisa berupa kelas virtual di ruang-ruang maya. Bukan tidak mungkin, di masa depan, ruang-ruang fisik di sekolah lebih banyak difungsikan dalam kegiatan administratif daripada ruang belajar.

Dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, bisa diprediksi bahwa pembelajaran jarak jauh akan mendominasi model pembelajaran. Dengan atau tanpa corona sekalipun. Kehadiran corona hanya mempercepatnya. Corona membuka selaput ketidaksadaran kita selama ini tentang mitos, “guru tak tergantikan.” Faktanya perangkat komunikasi perlahan mulai menggeser peran guru sebagai pemegang otoritas dalam proses belajar mengajar. Ini adalah tantangan bagi praktisi pendidikan dan lembaga-lembaga kependidikan pemerintah maupun nonpemerintah.

Era digital telah membawa perubahan besar-besaran dalam pola hidup manusia. Aktivitas manusia mulai bergeser dari kehidupan nyata ke alam maya. Dunia menghadapi inovasi disruptif. Renald Kasali dalam bukunya, Disruption, memaparkan tumbangnya satu persatu perusahaan-perusahan besar yang ditengarai sebagai akibat inovasi destruptif ini.

Beberapa tahun yang lalu kita bisa melihat begaimana perkasanya Nokia merajai produk ponsel dunia. Tetapi penemuan smartphone telah merubah segalannya, Nokia pun tumbang. Hal yang sama juga dialami oleh Blackberry. Kodak yang menjadi pioner dalam perkembangan fotografi film harus menyerah di tangan kamera digital. Taksi konvensional harus rela memberi jalan untuk berkembangnya taksi online. Demikaian juga dengan ojek pangkalan yang tersingkir oleh ojek online.

Kita pun bisa menyaksikan begitu banyak jenis pekerjaan yang dulu akrab dengan kita sekarang harus menerima kenyataan, tidak terpakai lagi. Atau setidaknya perannya terkurangi. Digantikan dengan pendatang-pendatang baru.

Bagaimana dengan dunia pendidikan? Di dunia pendidikan, sepertinya pun mengarah ke sana. Kita bisa melihat bimbingan belajar kini telah banyak dilakukan secara daring. Lembaga-lembaga pelatihan juga telah melakukan hal yang sama. Perpustakaan pun sudah banyak yang digitalkan dan bisa diakses secara daring. Bahkan peminjaman buku bisa dilakukan tanpa seseorang harus meninggalkan rumah.

Fakta-fakta ini memperlihatkan kepada kita betapa dunia pendidikan khususnya profesi guru menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dan untuk itu kita mestinya berterima kasih pada corona. Corona secara tidak langsung membuat tantangan ini yang semula tidak terlihat menjadi lebih nyata.

Corana telah menyentak kalangan pendidik segera berbenah. Berbenah sesegera mungkin. Menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Guru bukan hanya berhadapan dengan perangkat-perangkat canggih yang berkembangannya tidak terbendung. Tetapi juga berhadapan dengan generasi digital yang konon terlahir dengan “gadget di tangannya.”

Maka berubah adalah sebuah keniscayaan, bukan tawaran. Meminjam istilah Renald Kasali, guru harus mendisrupsi diri (self disruption). Bagaimana mungkin kita membelajarkan generasi zaman now dengan pengajaran zaman old? Bagaimana mungkin guru membereskan persoalan-persoalan kekinian dengan cara-cara kemarin? Bagaimana mungkin menghadapi anak-anak milineal dengan gaya kolonial?

Jika guru tidak membekali diri dengan penguasaan teknologi pembelajaran bukan tidak mungkin perannya akan tergeser oleh teknologi. Bisa jadi siswa akan lebih tertarik belajar ke google atau youtube daripada ke gurunya. Dan pendidikan akan menghasilkan manusia-manusia robot yang mungkin saja memiliki kompetensi yang baik tetapi jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Bukan hanya guru yang harus berbenah, lembaga-lembaga kependidikan pun demikian. Para pemegang kebijakan di bidang pendidikan, pembuat regulasi pun mestinya menyesuaikan diri. Kebijakan-kebijakan yang dihasilkan harus memberikan dukungan terhadap kemajuan pendidikan bukan justru menjadi penghambat. Perangkat kurikulum dirancang dan dipersiapkan untuk mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah. Aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan riil masa kini dan masa depan.

Memahami dengan baik kebutuhan dunia pendidikan dan fokus untuk memenuhinya. Pemenuhan kebutuhan akan perangkat teknologi dan sarana belajar lainnya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah konsisten dalam upaya peningkatan kompetensi guru.

Tiap-tiap celaka pasti ada gunanya. Pribahasa ini mengandung arti bawa setiap musibah sudah barang tentu ada hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik. Covid-19 adalah bencana yang berdampak demikian luas. Tetapi Covid-19 juga bisa menjadi sebab timbulnya revolusi besar-besaran dalam bidang pembelajaran. Mudah-mudahan ini menjadi wasilah bagi kemajuan pendidikan nasional.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020.
Jayalah pendidikan Indonesia

Gowa, 9 Ramadhan 1441 H/2 Mei 2020


Jumat, 24 April 2020

Ramadhan Telah Tiba, Bergembirah!



Noureddine Boukrouh, politisi asal Aljazair membuat pernyataan yang dinilai kontroversi beberapa waktu yang lalu. Melalui akun facebooknya, Boukrouh mengimbau agar ibadah puasa tahun ini ditangguhkan dulu. Menurutnya, puasa memiliki risiko kesehatan dan dapat berkontribusi pada meluasnya coronavirus.

Di tanah air, pernyataan yang senada disampaikan oleh Rudi Valinka. Melalui akun Twitter @kurawa tanggal 5 April 2020, penulis buku “A Man Called Ahok” itu mengusulkan kepada Kemenag dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat fatwa untuk membolehkan orang tidak berpuasa. Valinka, mengusulkan puasa diganti dengan membayar fidyah (denda) dan memberi makan untuk orang miskin. “Ini cara yang paling ideal dalam kondisi sekarang,” katanya.

Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Prof Hasanudin AF memberikan tanggapan. Menurutnya, usulan tersebut tidak ada dasar hukumnya sehingga tidak perlu dikeluarkan fatwa.

“Gak berdasar, syariahnya itu apa. Karena orang yang boleh tidak berpuasa itu hanya orang sakit, ketika dalam perjalanan, dan orang tua renta,” ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (19/04/2020).

Menghilangkan puasa sama saja dengan menghalangi kebahagiaan bagi kaum Muslimin. Karena bagi kaum Muslim, Ramadhan adalah bulan kebahagiaan. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira ketika memasuki Ramadhan. Beliau bersabda :

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”(HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385).

Hadist ini menunjukkan bahwa kita seharusnya bergembira dengan datangnya Ramadhan. Bagaimana tidak? Rasulullah SAW secara khusus mengabarkan kedatangan Ramadhan dan menyebutnya sebagai bulan yang diberkahi. Di dalamnya diwajibkan berpuasa. Ibadah yang sangat istimewa.

Sebuah hadist qudsi yang diriwayatkan dari Abu Huraerah Ra, Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman : “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung ”. (HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 ).

Ramadhan, bulan yang segala kebaikan dimudahkan. Dan jalan-jalan kemaksyiatan dipersempit, “pintu-pintu syurga dibuka. Pintu-pintu neraka ditutup”.

Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan ”Pintu-pintu surga dibuka pada bulan ini oleh karena banyaknya amal saleh yang dikerjakan, dan sekaligus untuk memotivasi umat Islam agar melakukan kebaikan. Pintu-pintu neraka ditutup karena sedikitnya maksiat yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman."

Pada bulan Ramadhan bahkan setan-setan diikat dan dibelenggu, tidak dibiarkan lepas seperti di bulan-bulan selain Ramadhan.

Bulan Ramadhan juga dikenal sebagai bulan ampunan. Allah mempersiapkan begitu banyak amalan yang bisa digunakan dalam meraih ampunan-Nya.

”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760)

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Berpuasa, menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah, dan shalat di malam lailatul qadar adalah rangkaian amalan yang akan menjadi sebab datangnya ampunan Allah.

Tidak ada seorang pun yang terbebas dari dosa. Karena itu meraih ampunan pasti menjadi harapan semua orang.Sungguh merugi orang-orang yang bertemu dengan Ramadhan namun dosa-dosanya tidak terampuni.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Karena banyaknya pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapati pengampunan tersebut, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.”

Dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)

Saat berbuka orang berpuasa merasakan kebahagiaan. Bahagia karena telah berhasil menjalankan ibadah puasa. Lapar dan dahaga pun sudah terobati. Dan Kebahagiaan yang paling sempurna adalah ketika orang-orang yang berpuasa bertemu dengan Tuhannya. Saat Allah memperlihatkan pahala dan ganjaran syurga yang dijanjikan kepada Mereka.

Inilah beberapa alasan mengapa kaum Muslim seharusnya bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Pun di tengah-tengah kita berhadapan dengan bahaya covid-19.

Kegembiraan membawa pengaruh positif terhadap kesehatan. Dr. Naomi Soetikno, M.Pd, Psikolog dalam tulisannya di kompas.com mengatakan bahwa banyak hasil riset menjelaskan bahwa ada kaitan rasa bahagia dengan kesehatan dan imunitas tubuh.

Menurutnya, yang terjadi pada tubuh ketika individu merasa bahagia adalah, adanya pelepasan hormon seperti oxytocin, dopamin, dan serotonin. Ketiga hormon ini seringkali disebut sebagai hormon bahagia. Hormon-hormon ini diproduksi oleh hypothalamus. Oxytocin memberikan efek adanya rasa relaks. Oxytocin juga memberi pengaruh pada sistem imun di tubuh manusia.

Dr. Naomi menyimpulkan bahwa dengan memahami pentingnya merasa bahagia dan keterkaitannya dengan sistem imun tubuh, maka sangat perlu menciptakan kebahagiaan itu, khususnya di masa pandemik ini.

Sangat relevan dengan anjuran untuk bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan.

Tentu menciptakan rasa bahagia dalam keadaan sulit seperti ini bukan perkara gampang. Tetapi dengan tetap bersandar pada Allah, yakin dengan pertolongan-Nya, sambil terus berusaha mencari jalan keluar, maka bencana ini akan bisa dilewati.

Ingatlah kepada Allah maka hati akan tenang. Tetaplah bersabar. Ingat! Allah tidak akan membebani hambanya dengan sesuatu di luar batas kemampuannya. Maka tetaplah berprasangka baik kepada Allah, yakinlah dengan janji-janji-Nya.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (QS. Huud: 6).

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)”

Perbanyaklah berdoa, bulan Ramadhan adalah waktu-waktu di mana Allah mengijabah doa-doa hambanya. Semoga Allah segera mengangkat wabah ini dan kita menjalankan Ramadhan dengan normal sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Gowa, 1 Ramadhan 1441 H/24 April 2020

Rabu, 22 April 2020

Kita Butuh Dakota Lagi

Dakota RI 001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama yang dipunyai Republik Indonesia. Pesawat ini merupakan cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama Indonesia, Indonesian Airways.

Tahun 1948 TNI AU berencana membeli pesawat angkut. Rencana ini disampaikan ke Presiden Soekarno, presiden menyetujui. Untuk itu Presiden Soekarno mengadakan perjalanan keliling Pulau Sumatera dalam rangka penggalangan dana.

Tanggal 16 Juni 1948 Presiden Soekarno tiba di Aceh. Di hadapan rakyat Aceh Presiden berpidato mengenai rencana pembelian pesawat. Beliau berhasil membangkitkan patriotisme. Dengan penuh semangat rakyat Aceh bersedia menyumbang untuk pembelian pesawat tersebut. Dari rakyat Aceh, panitia berhasil mengumpulkan sumbangan senilai 20 kg emas.

Sumbangan inilah yang kemudian digunakan untuk membeli sebuah pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Diberi nama Dakota RI 001 Seulawah. Seulawah adalah nama salah satu gunung di Aceh yang berarti gunung emas. Nama yang sekaligus menjadi tanda penghormatan terhadap semangat patriotisme masyarakat Aceh.

Cerita tentang pembelian pesawat Dakota, hanya satu dari sekian banyak peristiwa heroik yang menghias sejarah perjuangan bangsa. Sejarah tentang semangat gotong royong, yang ditunjukkan oleh orang-orang terdahulu. Kegotongroyongan inilah yang menjadi kekuatan bangsa kita dalam merebut dan mempertahkan kemerdekaan.

Di masa pandemik covid-19 ini, sepertinya semangat ini perlu untuk digelorakan kembali. Saya yakin ini akan menjadi kekuatan yang besar dalam menyelesaikan perkara-perkara yang ada. Kurangnya APD untuk tenaga medis serta dampak sosial ekonomi yang timbul akibat penerapan pembatasan sosial.

Akan tetapi apakah semangat gotong royong ini masih ada? Terus terang saya ragu. Mengingat bangsa kita terlanjur mengalami keterpecahan yang kronis. Imbas dari perpolitikan yang tidak sehat beberapa tahun terakhir.

Namun berita menggembirakan itu datang. Seorang bocah berusia 9 tahun bernama Akram Ataya asal Pangkep, Sulawesi Selatan. Bocah ini bercita-cita memiliki sebuah sepeda. Dia pun rajin menabung untuk memenuhi keinginannya itu. Tetapi pandemik covid-19 memaksa dia mengurungkan keinginannya. Celengannya dibongkar dan uang tabungan sebesar Rp 570 ribu disumbangkan ke Rumah Sakit Umum Daerah Batara Siang Pangkep untuk pembelian APD (suara.com, 12/04/2020).

Selanjutnya, Nu Online (10/04/2020) juga memberitakan aksi solidaritas anak bernama Muhammad Ridwan Asfi, Murid kelas 4 sebuah Sekolah Dasar di Rembang, Jawa Tengah. Asfi menyerahkan sumbangan untuk membantu penangan covid-19. Sumbangan dari hasil tabungannya sebesar Rp 100 ribu itu diserahkan ke Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Masih dari aksi bocah. Sinar Harapan.co memberitakan seorang murid Sekolah Dasar di Bandung bernama Muhammad Hafidz turut menunjukkan rasa simpatinya. Seperti dua bocah yang disebutkan sebelumnya, anak ini juga rela menyumbangkan hasil tabungannya untuk membantu penanganan covid-19.

Aksi anak-anak ini membuat haru. Masih kecil tetapi memiliki empati yang besar. Mengorbankan kepentingan dirinya untuk kepentingan orang banyak. Selamat untuk kedua orang tuanya, anak yang membanggakan. Semoga aksi anak-anak ini semakin menggugah banyak orang untuk turut ambil bagian dalam perang melawan covid-19.

Ternyata kita masih punya harapan. Jiwa kegotongroyongan belum padam, semangat bersatu juga belum luntur. Kesadaran untuk bersama menghadapi wabah ini bermunculan, bahkan sejak awal wabah covid-19 terdeteksi.
Penggalangan dana terus dilakukan. Secara pribadi, melalui lembaga sosial, kalangan kampus, dan kelompok-kelompok masyarakat yang lain . Harapannya, upaya ini menjadi padu, bergerak bersama dengan tujuan yang sama, menyelamatkan bangsa dari keterpurukan.

Kita tentu tidak ingin krisis ekonomi tahun 1998 terulang lagi. Kita telah merasakan betapa sulitnya masa-masa itu, ekonomi melambat, kerawanan sosial menajam hingga mengarah ke disintegrasi bangsa. Maka Pandemik ini tidak boleh membuat kita lemah. Saatnya semua pihak bersatu. Satu kata, satu gerak. Bukan waktunya mempertontonkan keegoan dan arogansi kelompok.

Ini menyangkut nyawa manusia. Menyelamatkannya harus menjadi prioritas dibanding yang lainnya. Presiden Ghana, Nana Akufo Addo usai mengumumkan lockdown parsial di Republik Ghana mengatakan, “Kami tahu cara menghidupkan kembali ekonomi. Yang kami tidak tahu adalah cara menghidupkan kembali manusia.” Pernyataan ini sempat menjadi trending topik di Twitter di tanah air beberapa waktu lalu. Sebuah ungkapan yang sangat cerdas dan layak dijadikan referensi dalam menentukan kebijakan.

Kita tidak punya waktu untuk tunjuk sana, tunjuk sini. Menyalahkan sana, menyalahkan sini. Kita berpacu dengan waktu, jika terlambat dampaknya akan mengerikan. Kematian tiap hari bertambah, yang positif pun demikian. Maka sekecil apapun bantuan yang diberikan akan sangat berharga.

Kita diwarisi keteladanan oleh para tokoh bangsa, para pejuang kemerdekaan. Betapa pun mereka berbeda pendapat tetapi mereka bisa melebur keegoan mereka, bersatu menghadapi musuh yang sama, kaum imprealis.

Undang-undang Dasar 1945 serta rumusan Pancasila yang ada di dalamnya adalah hasil kompromi dari beragam pandangan yang berbeda. Proklamasi 17 Agustus 1945 juga dihasilkan dari proses yang sama. Setelah kemerdekaan, semangat kebersamaan terus menerus diuji. Melalui ambisi Belanda yang ingin mempertahankan kekuasaannya. Demikian pula, gangguan dari bangsa sendiri yang ingin merebut kekuasaan.

Indonesia hari ini adalah, Indonesia yang sudah melalui banyak ujian di masa lalu. Dan bangsa besar ini bisa melewatinya. Dengan semangat bersatu yang ditanamkan Allah SWT ke dalam jiwa-jiwa para pendiri bangsa.

Maka sangat penting untuk mengeratkan kembali kebersamaan ini. Yang dengan itu rakyat Aceh menghadiahi Republik Indonesia sebuah Dakota. Sepertinya kita butuh Dakota lagi. Bukan pesawatnya, tetapi semangatnya yang akan memenangkan negeri ini dalam peperangan melawan corona.

Gowa, 21 April 2020

Sabtu, 11 April 2020

Dunia yang Dibalik

Ilustrasi ( Hidayatullah.com)

Nabi Luth A.S. diutus Allah SWT di Kota Sadum, penduduknya kemudian dikenal dengan sebutan Kaum Sodom. Kaum Sodom sangat buruk perilakunya, kafir dan senang berbuat dosa. Mereka memelopori perbuatan dosa yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari keturunan Nabi Adam sebelumnya, yaitu homoseks.

Dakwah Nabi Luth A.S. tidak digubris. Malah mereka hendak mengusir Nabi Luth dari negerinya. Allah SWT menurunkan azab untuk menghukum kaum Sodom. Negeri mereka dibalikkan oleh Allah dan dihujani dengan batu-batu dari tanah yang terbakar (TQS. 11 : 82).

Ibnu Katsir menceritakan dalam Kitabnya, Kisah Para Nabi. Penduduk di negeri itu semuanya diangkat ke atas termasuk hewan-hewan yang ada di dalamnya, rumah-rumah, perkebunan, beserta apapun yang ada di negeri tersebut. Semua diangkat hingga mencapai awan, sampai-sampai para penghuni langit dapat mendengar kokok ayam dan lolongan anjing dari dekat. Setelah terangkat ke atas, kemudian negeri itu diputar hingga bagian atas menjadi di bawah dan bagian di bawah menjadi di atas.

Demikian azab Allah atas negeri kaum Sodom. Negeri yang dibalikkan.

Selama empat pekan berkurung di rumah. Rasa-rasanya covid-19 ini telah menciptakan kondisi yang mirip dengan apa yang menimpa kaum Sodom. Kalau kita fokus pada kata “dibalik”. Bedanya, kaum Sodom negerinya yang dibalik (secara fisik). Sedangkan kondisi kita saat ini interaksi sosiallah yang dibalik.

Agama dengan jelas mengajarkan untuk memperkokoh silaturahmi, misalnya dengan saling mengunjungi. Kitab-kitab hadist menjelaskan, siapa yang ingin diperlancar rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka perbanyaklah silaturahmi. Begitu pentingnya hingga menjadi jaminan kelancaran rezeki dan dipanjangkannya usia.

Namun selama pandemi covid-19, silahturahmi dengan saling mengunjungi dibatasi. Orang sangat selektif menerima tamu. Anak saya malah menempelkan kertas di pintu rumah saya yang bertuliskan, “selain keluarga Bapak Abdulkarim, dilarang masuk”, hehe. Untung bukan spanduk yang dipasang.

Jika sayang sama orang tua, sering-seringlah berkunjung, memeluk dan mencium tangannya. Itu dulu!
Sekarang, jika Anda mencintai orang tua, para “ahli corona” menyarankan untuk  tidak mendekatinya, apalagi memeluk dan mencium tangannya. Orang tua terutama yang sudah berumur 60 tahun ke atas sangat rentan terjangkit covid-19. Tetaplah di rumah mendoakannya dari jauh, atau berbicaralah lewat telefon. Syukur-syukur kalau bisa video call.

Entah siapa yang menulis dan menyebarkannya di grup-grup WhatsApp :
….dulu hewan yang dikandangkan, sekarang orang yang di rumahkan
dulu musuh besar yang ditakuti sekarang musuh kecil yang ditakutkan
dulu yang di garis depan peperangan tentara belakangnya tenaga medis sekarang team medis yang di depan membelakangi tentara
dulu bersatu kita teguh bercerai kita jatuh sekarang bersatu kita runtuh bercerai kita utuh. Sudah sekarang di rumah saja, tidak boleh keluar seperti orang yang dipenjara, eh malah yang dipenjara disuruh keluar….

Ini pesan menyentuh yang disampaikan dengan bahasa santai namun sangat tepat untuk menggambarkan keadaan sekarang. Dan seperti yang katakan oleh penulisnya, ini akan menjadi pelajaran yang berharga untuk diingatkan kepada anak cucu kita kelak. Semoga kita diberi kesempatan untuk itu.

Berjamaah di masjid yang biasanya shafnya dirapatkan, kini harus direnggangkan, minimal dua meter. Bahkan kemudian shalat berjamaah pun tidak boleh dilakukan terutama di daerah-daerah yang masuk zona merah. Padahal shalat berjamaah adalah perkara yang sangat dipentingkan dalam Islam. Pantas kalau kemudian mengundang polemik di masyarakat.

Merenggangkan jarak. Bisa saja ini suatu tanda yang diperlihatkan Allah untuk mengoreksi semakin renggangnya hubungan sosial kita selama ini. Kepedulian sosial semakin menipis. Hubungan antar manusia semakin individualis, sibuk dengan dirinya sendiri.

Pergerseran ini terjadi seiring dengan perkembangan teknologi, utamanya di bidang komunikasi. Smartphone telah mempermudah hidup manusia. Hidup bisa diatur hanya dalam genggaman, kendalinya ada di ujung jari.

Hubungan antar manusia menjadi renggang, interaksi berpindah dari dunia nyata ke dunia maya. Kalau pun bertemu fisik, masing-masing sibuk dengan smartphonenya. Pertemuan yang seharusnya diwarnai obralan akrab, menyenangkan tak jarang berubah menjadi majelis nunduk. Fisik berdekatan tetapi hati berjauhan. Kalaupun mata sesekali saling tatap, pikirannya melanglang entah di mana.

Fakta ini menggerus kepekaan sosial. Mengikis kepedulian terhadap orang-orang sekitar. Terhadap mereka yang memerlukan uluran tangan. Kaum miskin dan anak-anak yatim yang tidak berdaya. Hidup hanya mengejar kepentingan pribadi dan kelompok. Tidak peduli meski harus mengorbankan kepentingan orang lain. EGP, emangnya gue pikirin.

Tak hanya hubungan sosial yang bermasalah. Hubungan dengan alam pun tidak harmonis lagi. Pengrusakan alam di mana-mana. Penggundulan hutan, pencemaran lingkungan; air, tanah,dan udara adalah berita yang tiada putus-putusnya diwartakan. Manusia menjadi monster bagi alam tempat tinggalnya sendiri. Peringatan-peringatan Allah melalui bencana tidak dipedulikan. 

Manusia banyak yang keliru dalam menentukan orientasi hidup. Mengejar dunia yang akan ditinggalkannya dan lupa akhirat, negeri abadi yang akan dituju. Tidak belajar dari kisah kehancuran umat-umat terdahulu. Kisah kehancuran Fir’aun yang sombong dengan kekuasaannya, Qorun dengan harta kekayaannya, Haman dengan kepintarannya. Kehancuran umat Nabi Nuh A.S., demikian juga dengan kaum Sodom yang merasa bangga dengan dosa-dosanya. Dan kehancuran umat ahli maksiat lainnya.

Kita hidup di zaman di mana perilaku jahil umat terdahulu diulang dalam bungkus kemodernan. Teknologi menjadi berhala baru yang disembah melebihi Tuhan. Syair-syair penuh syahwat digemari mengalahkan ayat-ayat suci. Para artis diidolakan dan dibela, ulama dan penganjur kebaikan dicaci, dibenci. Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang disanjung dan dihormati, wanita dengan pakaian tertutup dihina dan dilecehkan kehormatannya. Penganjur dosa diakrabi, penganjur kebaikan dijauhi.

Hukum Allah dicampakkan, hukum buatan manusia diagungkan. Manusia terang-terangan meng-kudeta Tuhan.  Sungguh dunia sudah terbolak-balik.

Berdiam di rumah untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Waktu untuk me-reset dan menormalkan kembali tata hidup. Hidup sesuai dengan tuntunan Allah. Tanpa melakukan ini berdiam diri selama berhari-hari di rumah akan sia-sia adanya.

Harus ada gerakan taubat global, tak cukup skala nasional. Masing-masing orang mengakui kesalahannya, menyungkurkan diri di hadapan Allah.  Menyesali dosa. Mohon ampun dari segala kesombongan yang menghias diri selama ini. 

Saatnya kita lebih  mendekat kepada Allah. Bertobat, berdoa, menangis di hadapan-Nya. Mintalah  agar Allah segera mengangkat wabah ini. Pasrahkan diri, mengemis mohon perlindungan. Lakukan dengan dorongan iman dan kesungguhan hati, penuh keyakinan. Yakin dengan pertolongan Allah.

Ini bukan wabah biasa. Maka usaha pun tidak boleh biasa-biasa saja. Beri sokongan terhadap ikhtiar yang telah dilakukan oleh para pemimpin kita, aparat dan tim medis, dengan apa yang kita bisa. Bahkan meski hanya dengan doa dan pengharapan.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu, ada kemudahan” (TQS. 94 : 6)
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (TQS 56 : 2)
“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung” (TQS. 3 : 173)


Gowa, 11 April 2020

Minggu, 05 April 2020

TV Discon


Awalnya siswa diliburkan 14 hari. Perkembangan tidak menggembirakan, libur diperpanjang 14 hari lagi. Setelah itu belum ada kepastian kapan libur akan berakhir. Tentu kita berharap musibah ini cepat berlalu. Tetapi harus dipersiapkan langkah antisipatif andai saja keadaan tidak jua membaik.
Pembelajaran di sekolah pasti akan kena dampaknya. Pembelajaran online akan terus berlangsung. Sisi baiknya, guru banyak yang tergerak untuk belajar teknologi pembelajaran. Belajar internet dan segala perangkat digital. Siswa pun demikian.
Dari pengalaman saya dan juga hasil bincang dengan teman yang lain, siswa sangat senang dengan model pembelajaran online. Malah beberapa guru sering ditagih oleh siswanya yang ingin segera belajar. Sangat beda dengan laporan KPAI bahwa siswa terbebani dengan tugas-tugas selama belajar di rumah.
Meski demikian pembelajaran online yang berkepanjangan akan bermasalah pada akhirnya. Bisa saja siswanya senang. Tetapi bagi orang tua, hal ini akan memberatkan. Masa pembatasan ruang gerak dengan program tinggal di rumah, akan berdampak pada berkurangnya pendapatan. Daya beli akan menurun. Mereka akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika mereka dibebani lagi dengan pembelian kuota untuk belajar online anak-anaknya, maka akan sangat memberatkan.
Saya tertarik dengan usul sebagian kalangan untuk menggunakan televisi sebagai media pembelajaran. Alasannya, daya jangkauan televisi jauh lebih luas dibanding internet. Televisi tidak memerlukan kuota internet, jadi lebih murah. Selain itu, televisi telah menjadi barang yang umumnya dimiliki oleh keluarga di Indonesia. Jadi siswa tidak akan kesulitan untuk mengaksesnya.
TVRI sebagai stasiun televisi milik pemerintah harus diperdayakan. Bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk membuat program siaran pendidikan. Acuannya tentu saja materi pembelajaran sesuai dengan kurikulum di setiap tingkatan.
Selain TVRI, pemerintah juga bisa menggandeng televisi swasta. Baik nasional maupun lokal. Hitung-hitung mereka turut berkontribusi dalam upaya nyata mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika perlu dibuatkan aturan tentang kewajiban setiap stasiun televisi untuk menayangkan program siaran pendidikan.
Jika televisi swasta bisa ikut serta maka distribusi siaran pendidikan ini akan lebih meluas. Tinggal jadwalnya yang diatur dan disosialisasikan kepada seluruh guru dan siswa. Setiap guru hanya mengintruksikan kepada siswanya untuk mengikuti pembelajaran sesuai jadwal dan apa yang harus mereka lakukan setelah pembelajaran usai. Artinya, guru tetap membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berdasar pada siaran pendidikan yang dirujuk.
Dengan siaran pendidikan, anak-anak akan menemukan tontonan yang tepat. Sekaligus meminimalkan kesempatan bagi mereka terpapar sinetron dan tayangan tak mendidik. Minimal selama masa libur corona.
Televisi sebagai media pendidikan, sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Tahun 1991 sudah ada Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Di awal kehadirannya TPI sangat konsen dalam menghadirkan siaran-siaran edukatif bagi masyarakat.
Siaran Pendidikan program TPI ini sempat masuk ke sekolah-sekolah. Di beberapa sekolah masih ada sisa-sisanya. Berupa televisi, buku panduan siaran pendidikan ,dan antena parabola bantuan dari kementerian untuk mengakses siaran tersebut.
Sayang sekali TPI kalah bersaing dengan Televisi Swasta lainnya. Konten pendidikan yang melekat pada TPI rupanya kurang menarik para pengiklan. TPI direkturisasi untuk mengikuti selera pasar. Akhirnya siaran pendidikan dihilangkan. TPI bukan lagi Televisi Pendidikan Indonesia tetapi menjadi Televisi Paling Indonesia.
Tahun 2010 bukan hanya siaran pendidikan yang dihilangkan, bahkan namanya pun diubah menjadi MNC TV.
Dalam masa krisis sebagaimana yang kita hadapi saat ini, sepertinya ide mengembalikan televisi sebagai media pendidikan sangat beralasan. Apapun yang terjadi, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi hak anak-anak kita mendapatkan pendidikan.
Jika hal itu terwujud, mungkin bisa diberi nama siaran Televisi Pendidikan Khusus Corona. Disingkat TV Discon.

Gowa, 2 April 2020