Awalnya siswa diliburkan 14 hari. Perkembangan tidak menggembirakan, libur diperpanjang 14 hari lagi. Setelah itu belum ada kepastian kapan libur akan berakhir. Tentu kita berharap musibah ini cepat berlalu. Tetapi harus dipersiapkan langkah antisipatif andai saja keadaan tidak jua membaik.
Pembelajaran di sekolah pasti akan kena dampaknya. Pembelajaran online akan terus berlangsung. Sisi baiknya, guru banyak yang tergerak untuk belajar teknologi pembelajaran. Belajar internet dan segala perangkat digital. Siswa pun demikian.
Dari pengalaman saya dan juga hasil bincang dengan teman yang lain, siswa sangat senang dengan model pembelajaran online. Malah beberapa guru sering ditagih oleh siswanya yang ingin segera belajar. Sangat beda dengan laporan KPAI bahwa siswa terbebani dengan tugas-tugas selama belajar di rumah.
Meski demikian pembelajaran online yang berkepanjangan akan bermasalah pada akhirnya. Bisa saja siswanya senang. Tetapi bagi orang tua, hal ini akan memberatkan. Masa pembatasan ruang gerak dengan program tinggal di rumah, akan berdampak pada berkurangnya pendapatan. Daya beli akan menurun. Mereka akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika mereka dibebani lagi dengan pembelian kuota untuk belajar online anak-anaknya, maka akan sangat memberatkan.
Saya tertarik dengan usul sebagian kalangan untuk menggunakan televisi sebagai media pembelajaran. Alasannya, daya jangkauan televisi jauh lebih luas dibanding internet. Televisi tidak memerlukan kuota internet, jadi lebih murah. Selain itu, televisi telah menjadi barang yang umumnya dimiliki oleh keluarga di Indonesia. Jadi siswa tidak akan kesulitan untuk mengaksesnya.
TVRI sebagai stasiun televisi milik pemerintah harus diperdayakan. Bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk membuat program siaran pendidikan. Acuannya tentu saja materi pembelajaran sesuai dengan kurikulum di setiap tingkatan.
Selain TVRI, pemerintah juga bisa menggandeng televisi swasta. Baik nasional maupun lokal. Hitung-hitung mereka turut berkontribusi dalam upaya nyata mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika perlu dibuatkan aturan tentang kewajiban setiap stasiun televisi untuk menayangkan program siaran pendidikan.
Jika televisi swasta bisa ikut serta maka distribusi siaran pendidikan ini akan lebih meluas. Tinggal jadwalnya yang diatur dan disosialisasikan kepada seluruh guru dan siswa. Setiap guru hanya mengintruksikan kepada siswanya untuk mengikuti pembelajaran sesuai jadwal dan apa yang harus mereka lakukan setelah pembelajaran usai. Artinya, guru tetap membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berdasar pada siaran pendidikan yang dirujuk.
Dengan siaran pendidikan, anak-anak akan menemukan tontonan yang tepat. Sekaligus meminimalkan kesempatan bagi mereka terpapar sinetron dan tayangan tak mendidik. Minimal selama masa libur corona.
Televisi sebagai media pendidikan, sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Tahun 1991 sudah ada Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Di awal kehadirannya TPI sangat konsen dalam menghadirkan siaran-siaran edukatif bagi masyarakat.
Siaran Pendidikan program TPI ini sempat masuk ke sekolah-sekolah. Di beberapa sekolah masih ada sisa-sisanya. Berupa televisi, buku panduan siaran pendidikan ,dan antena parabola bantuan dari kementerian untuk mengakses siaran tersebut.
Sayang sekali TPI kalah bersaing dengan Televisi Swasta lainnya. Konten pendidikan yang melekat pada TPI rupanya kurang menarik para pengiklan. TPI direkturisasi untuk mengikuti selera pasar. Akhirnya siaran pendidikan dihilangkan. TPI bukan lagi Televisi Pendidikan Indonesia tetapi menjadi Televisi Paling Indonesia.
Tahun 2010 bukan hanya siaran pendidikan yang dihilangkan, bahkan namanya pun diubah menjadi MNC TV.
Dalam masa krisis sebagaimana yang kita hadapi saat ini, sepertinya ide mengembalikan televisi sebagai media pendidikan sangat beralasan. Apapun yang terjadi, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi hak anak-anak kita mendapatkan pendidikan.
Jika hal itu terwujud, mungkin bisa diberi nama siaran Televisi Pendidikan Khusus Corona. Disingkat TV Discon.
Gowa, 2 April 2020


Keren idenya pak ketua PBG Gowa
BalasHapusAlhamdulillah, Terima kasih pak
HapusJudul yang menarik
BalasHapus