Mewujudkan rencana membutuhkan keteguhan hati, tekad yang kuat. Tidak cukup dengan debat kusir seperti yang sering terjadi grup-grup WA. Saling berbalas ocehan yang tidak punya titik temu. Masalah remeh diributkan, masalah substantif terlupakan.
Ini adalah ekspedisi kecil yang dibangun hanya dengan diskusi seadanya, tanpa debat, dan terwujud.
Saya hanya mengikuti seseorang teman yang meskipun posturnya kecil tetapi gerak telunjuknya mampu mengendalikan kemana ban mobil berputar. Tanpa acara basa-basi dan bahkan tanpa sepengetahuannya saya serahkan kepemimpinan kepadanya. Ekspedisi dadakan seperti ini adalah keahliannya.
Dua mobil bergerak membawa rombongan kecil ini, dibekali tekad kuat. Takkan pulang sebelum mencium hawa Langit Topidi, sasaran ekspedisi ini. Begitu bersemangatnya. Tetiba saya membayangkan diri sebagai pengelana Makassar tempo dulu sekali, yang bersumpah dengan kalimat penyemangat yang abadi hingga hari ini. "Takunjunga' bangungturu nakugunciri' gulingku, kuallenna tallanga na toalia" (tidak begitu saja aku ikut angin buritan dan aku putar kemudiku, lebih baik aku pilih tenggelam daripada balik haluan).
Inilah prinsip tekad kuat itu. Jika layar sudah berkembang, kemudi pun sudah terpasang. Tidak ada lagi alasan untuk mundur. Bahkan risiko terberat sekalipun siap dihadapi daripada balik haluan kembali ke pantai.
Di saat yang lain. Saya terasa turut menyaksikan para pahlawan Badar Kubra bahu membahu menahan gempuran pasukan kafir Quraisy dengan kekuatan yang tidak sebanding. Kaum Muslimin berjumlah 300-an orang menghadapi 1000-an musuh. Keyakinan yang kuat akan janji Allah menjadi amunisi tak terkalahkan. Kaum Muslimin menang, tak masuk akal. "Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” (Qs. 2 : 249)
Pada menit berikutnya, saya membayangkan ikut memanggul tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dengan keteguhanhatinya mempimpin perang gerilya di hutan-hutan. Meskipun fisiknya lemah akibat sakit yang dideritanya. Keteguhan itu pula yang menulari para prajuritnya hingga mampu bertahan menyusuri hutan lebat sambil memanggul tandu sang Panglima. Di bawah bayang-bayang ancaman musuh.
Kita butuh keteguhan itu untuk menyelesaikan bengkalai problem di banyak titik hidup ini. Dan ekspedisi yang saya maksud di awal tulisan ini hanyalah wujud kecil dari bagaimana keteguhan itu bekerja.
Selesai mengikuti sebuah workshop di Malino, saya dan teman-teman dari PBG Gowa sepakat memulai ekspedisi ini. Tujuannya adalah salah satu destinasi wisata alam "langit Topidi". Letaknya di desa Topidi kecamatan Tinggimoncong kurang lebih 11 KM dari Malino.
Perjalanan menuju lokasi, ekstra hati-hati. Mengendalikan mobil kecil yang cocoknya mengaspal di jalan-jalan kota yang datar, dipaksa mengikuti jalan di perbukitan yang berombak, dengan tanjakan dan penurunan. Jalan yang sempit dan berbatu sekitar satu kilometer sebelum lokasi membuat suasana mirip sedang mengikuti acara adu nyali seperti di tivi-tivi itu.
Terus terang saya harus berjuang keras meredam rasa khawatir. Apapun yang terjadi supir harus terlihat tenang. Tidak boleh sama sekali memperlihatkan kecemasan kepada penumpang. Kecemasan hanya akan membuat suasana menjadi kacau. Jika 4 orang penumpang mobil ini cemas, kacaulah segalanya. Sampai pada akhirnya kami harus turun, berjalan kaki. Mobil tidak bisa dipaksakan pada medan yang tidak layak.
Perjuangan tidak sia-sia. Kami tiba di wisata alam Langit Topidi. Alam pegunungan yang sejuk dengan pemandangan yang menakjubkan. Suasananya tenang, jauh dari kebisingan. Sangat cocok sebagai tempat beristirahat dari kepenatan hidup. Tempat ini dirancang sedemikian menarik, dilengkapi dengan penginapan dan restoran. Bangunannya menyatu dengan alam, terbuat dari bambu dan kayu. Berada di tempat ini terasa kita dibawa ke alam pedesaan asli Indonesia yang biasanya kita hanya menikmatinya pada lukisan-lukisan hayalan.
Keteguhan hati membawa kami ke sini. Teruslah berkarya jangan pernah menyerah.

0 komentar:
Posting Komentar