Channel YouTube

Rabu, 29 Januari 2020

Merawat PBG Kita


Senang sekali. Berbicara dengan seorang teman meski lewat telepon. Dia awali pembicaraanya dengan permintaan maaf bahwa akhir-akhir ini kurang aktif di PBG. Saya makhlum kesibukannya dalam urusan keluarga dan juga di instansi induknya tentu menyita waktu dan tenaga. Terlebih hal itu adalah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan.

Tentu saja saya bahagia. Di PBG saya dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki tanggung jawab dan komitmen. Peduli dan rela berkorban untuk perkembangan lembaga ini. Teman yang baru-baru menelpon adalah contohnya. Ada rasa tidak enak, rasa bersalah ketika terlewat dalam mengikuti kegiatan. Saya tersentuh.

Padahal, rasa bersalah dan permintaan maaf sebenarnya tidak perlu. Setelah event besar PBG di akhir tahun saya sengaja memberi kesempatan kepada teman-teman untuk menikmati masa liburan. Menggunakan waktu-waktu terbaiknya bersama keluarga. Jadi untuk membuat perencanaan kegiatan belum dilakukan secara teratur. Jika teman-teman kurang aktif, bisa dimaklumi.

Kecuali ada beberapa kegiatan yang sifatnya insedential dan dianggap mendesak, sayang untuk disia-siakan. Sebagai contoh. MGMP IPS meminta untuk bekerjasama melakukan workshop penyusunan RPP terbaru. RPP yang sesuai dengan Surat Edaran Mendikbud Nomor 14 tahun 2019. Surat Edaran ini mengatur tentang penyederhanaan RPP. RPP menjadi lebih simpel, bahkan bisa hanya 1 lembar.  Pantas kalau disebut RPP Merdeka. Tawaran ini saya sanggupi dengan menugaskan guru inti IPS sebagai fasilitator. Alhamdulillah, terlaksana tanggal 29 Desember 2019. Sekaligus sebagai Workshop pertama yang dilaksakan di Gedung PBG Gowa.

Dari pelaksanaan workshop RPP Merdeka, saya berpikir akan lebih baik jika teman-teman diundang untuk mendiskusikan model RPP baru ini, untuk sharing pendapat. Hal ini penting, mengingat sejak edaran itu keluar, sudah banyak format dengan aneka model yang beredar di media sosial. Para penjual RPP juga sudah mondar-mandir memperkenalkan modelnya dengan tawaran-tawaran menarik.

Tampaknya, teman-teman guru sudah mulai kebingungan melihat banyaknya model RPP yang beredar. Surat edaran itu sendiri menegaskan bahwa tidak ada format baku terkait dengan RPP itu. Malah memberikan kebebasan kepada komunitas-komunitas guru (MGMP/KKG), sekolah serta individu guru untuk mengembangkan ataupun memodifikasi RPP menurut versinya. Dengan tetap berpedoman pada prinsip; efisien, efektif, dan berorientasi kepada murid.

Tetapi Kehadiran model-model itu, justru membuat bingung. Ketika diskusi online PBG Gowa pada Program “Guru Belajar Online” 10 Januari lalu yang membahas tentang penyusunan RPP, menguatkan dugaan saya. Bahkan ada yang menganggapnya RPP tidak lengkap dan tidak sesuai dengan permedikbud Nomor 22 tahun 2016, sebagai dasar hukum penyusunan perencanaan pembelajaran selama ini.

Demikianlah, maka diadakanlah pertemuan terkait RPP merdeka. Juga menjajaki kemungkinan diadakannya workshop. Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa sekolah di bawah arahan pengawas binannya melakukan sosialisasi. Maka saya beranggapan bahwa workshop tidak efektif lagi. Kecuali jika ada permintaan dari KKG atau MGMP maka PBG siap memberikan pelayanan. Itulah yang dilakukan oleh KKG Gugus I dan V Kecamatan Bajeng. Dua Gugus ini meminta saya memberikan materi tentang RPP merdeka pada workshop mereka tanggal 16 dan 17 Januari 2020. Alhamdulillah, saya bisa penuhi permintaan itu. Ke depan teman-teman Guru Inti harus mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu mendapat undangan serupa.

Saat ini sarana dan prasarana di gedung PBG sedang di benahi. Pengadaan toilet sudah rampung, lanjut ke pengeboran sumur (saat tulisan ini saya ketik, pengeboran sedang berlangsung). Jika tidak ada halangan 2 hari ke depan toilet dan sumurnya sudah bisa difungsikan.

Ini alasan lain kenapa saya wajib bahagia, bangga, dan tentu saja sangat bersyukur. Betapa tidak, pengadaan sarana yang sangat penting ini dilakukan secara gotong royong. Bukankah ini bukti bahwa PBG telah bersemayam di hati. Bukan hanya guru inti dan pengelola, para dermawan di luar PBG pun tergerak untuk memberikan sokongan. Terima kasih saya ucapkan meski saya tahu ucapan terima kasih ini tidak sebanding dengan besarnya pengorbanan teman-teman semua. Insya Allah imbalan sepantasnya akan diberikan oleh Allah SWT dengan kebaikan yang banyak.

Tanggapan positif dari peserta workshop maupun stakeholder turut memberikan tambahan kebahagiaan. Maka, teman-teman berbahagialah. Kita ada di jalan yang benar. Teruslah berkhikmat di jalan ini. Rawat dengan baik PBG kita. Hidupkan kegiatannya. Kelak di kemudian hari kerja-kerja kita akan menyinari butta bersejarah ini. Cepat atau lambat, ini hanya persoalan waktu. Tetaplah dalam kesabaran, bersabar mengikuti proses yang sedang berjalan. Sukses sejatinya tidak datang secara instan tetapi melalui perjuangan panjang dan melelahkan.

Insya Allah PBG akan menjadi kendaraan yang layak menuju sukses bersama…

Saat menyendiri di Gedung PBG Gowa
Pallangga, 25 Januari 2020

Ibu dan Pendidikan Karakter


Tidak peduli siapa pun Anda. Pejabat tinggi, jenderal penuh bintang, artis terkenal atau pengusaha kaya raya. Di  mata Ibu, Anda tetaplah seorang anak.

Pada umumnya kaum Ibu tidak pernah berubah dalam memahami anak-anaknya. Bagaimana pun keadaan Anda hari ini, baginya,  Anda adalah bocah seperti dahulu kala. Sekalipun saat ini Anda sudah punya anak. Atau mungkin sudah bercucu.

Naluri keibuannya tidak berubah. Melindungi dengan segenap kemampuan, mengasihi tanpa batas, ikhlas tiada terukur, dan mencintai kadang tanpa logika (pinjam syair lagunya Agnes Mo, hehe). Tak peduli, berapa kali anda menyakiti, di hatinya tidak ada ruang sesempit apapun untuk menyelipkan rasa dendam. Kasih sayangnya tidak pernah berkurang.

Karena itulah saya kurang respek dengan cerita si Malinkundang, kok ada ibu yang tegah mengutuk anaknya jadi batu. Cerita ini mengingkari naluri keibuan. Kalau zaman sekarang, ibu si Malin ini sudah di mejahijaukan dengan dakwaaan melanggar Undang-undang Perlindungan Anak.

Izinkan saya untuk mengambil ibuku sebagai sampel. Setiap saya mengunjunginya, dia masih memperlakukan saya seperti puluhan tahun yang lalu, ketika saya masih ingusan. Menyiapkan makan, membuatkan teh, mengambilkan bantal. Tidak lupa mengurutkan instruksi-instruksi yang harus saya patuhi; pergi makan dulu nanti ikannya diambil kucing, tehnya diminum nanti dingin, selesai makan letakkan saja piring di meja. 

Bagi ibuku zaman boleh berubah tetapi ibu tetaplah ibu yang punya tanggung jawab merawat dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dan itu tidak boleh tergerus oleh zaman sampai kapan pun. Kalau saya coba protes, dia hanya ketawa kecil tetapi tidak merubah keadaan. Baginya mengurus keperluan anak-anaknya adalah suatu kebahagiaan. Jadi, sudahlah daripada mendebat, dapat dosa lagi.

Ibu saya adalah ibu rumah tangga tulen yang jam kerjanya 24 jam sehari. Tanpa mengenal hari libur apalagi cuti. Tidak punya gaji, uang yang diberikan oleh ayah, habis untuk keperluan rumah tangga. Itu pun setelah melalui proses pengiritan belanja yang super ketat. Hebatnya tidak sekalipun saya mendengar dia mengeluh.

Jangankan berkeluh kesah, ibuku malah dengan percaya diri memberikan nasehat, “jangan mengeluh, mengeluh adalah pekerjaan orang yang tidak memiliki rasa syukur”. Sebuah nasehat yang menurutku aneh. Biasanya nasehat yang bertemakan syukur ditujukan untuk orang kaya, orang berkecukupan. Orang miskin cocoknya adalah nasehat tentang sabar. Tetapi itulah ibu saya, sesekali dia berpikir out the box. “Orang kaya yang bersyukur, itu biasa. Si miskin tetapi bersyukur ini yang luar biasa”, mungkin itu yang ada di benaknya.

Ibuku paling tidak suka dengan orang malas. Saatnya kerja di sawah, tidak boleh ada yang tinggal di rumah. Termasuk saya, sejak kelas awal SD saya sudah berjibaku dengan lumpur di sawah. Paginya berseragam sekolah, siangnya mengenakan pakaian dinas harian (PDH) khusus sawah.

Kedisiplinan, jangan ditanya. Berangkat sekolah tidak boleh terlambat, dalam keadaan darurat sekalipun, hujan misalnya. Jika tanda-tanda musim hujan sudah terlihat, ibu cepat mengajukan proposal ke ayah untuk pembelian plastik (biasanya 1 x 1,5 meter) yang akan saya pakai sebagai jas hujan. Sedikit lebih elit dari beberapa teman yang ke sekolah berpayung daun pisang.

Hujan atau tidak hujan jam berangkat ke sekolah tetap sama, tidak boleh terlambat. Akibatnya saya sering sendirian di sekolah menunggu teman-teman yang menyengaja terlambat dengan menyalahkan hujan.

Membicarakan tentang ibu, tanpa kita sadari, kita telah membahas materi yang agak rumit dalam sistem pendidikan kita, yaitu pendidikan karakter. Saya katakan rumit karena prihal pendidikan karakter telah lama didiskusikan, dibahas dalam workshop-workshop bahkan Peraturan Pemerintah tentang Penguatan Pendidikan Karakter telah diterbitkan. Tetapi karakter anak-anak kita tampaknya belum menggembirakan. Berita-berita negatif tentang prilaku peserta didik masih setia menghias pemberitaan di media massa.

Salah satu problemnya adalah bahwa pendidikan karakter mulai melemah pada pusat penidikan pertama yaitu keluarga. Sejatinya, keluarga adalah tempat persemaian nilai-nilai kebaikan dan ibu adalah mentor utamanya. Melalui ibu, anak-anak akan belajar kasih sayang, kesabaran, ketulusan dan nilai-nilai kebaikan yang lain. Melalui ibu juga anak-anak mengenal penciptaNya serta kewajiban-kewajibannya sebagai seorang hamba. Dengan kata lain, dalam keluargalah anak-anak mengenal sikap spiritual dan sikap sosial. Dua sikap yang direkomendasikan oleh kurikulum sebagai acuan pendidikan karakter.

Sangat disayangkan, bahwa perubahan masa turut merubah tatanan keluarga. Keluarga yang dulu menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak. Kini pun mulai goyah dan tidak sedikit di antaranya gagal dalam menghadirkan anak-anak yang berkarakter sebagaimana yang diharapkan.

Andai saja keluarga menjalankan fungsinya, maka pengembangan pendidikan karakter di sekolah akan lebih mudah. Terlebih jika didukung oleh masyarakat dengan menyiapkan lingkungan yang kondusif. Maka semestinya pendidikan karakter selesai di rumah, dikembangkan di sekolah dan diterapkan di masyarakat.

Masalah ini menjadi rumit jika pendidikan karakter hanya diserahkan kepada sekolah. Sekolah akan menjadi gudang tempat penumpukan masalah yang seharusnya bisa selesai di tempat lain. Akhirnya sekolah sering menjadi terdakwa utama dalam hal prilaku-perlaku negatif peserta didik.

Sudah saatnya keluarga dan masyarakat mengambil peran lebih aktif dalam pengembangan pendidikan karakter sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing. Keluarga, sekolah dan masyarakat adalah tiga pusat pendidikan yang harus padu dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Sabtu, 11 Januari 2020

RPP Merdeka



Seorang petani di daerah Lampung menemukan seekor anak gajah di kebunnya. Rupanya anak gajah ini tertinggal dari induk dan kumpulannya. Anak gajah ini diambil dan dirawat dengan baik oleh petani tersebut. Namun karena tidak memiliki kandang yang memadai, akhirnya anak gajah ini diikat di sebatang bambu kecil dengan rantai anjing yang tidak terlalu besar.

Hari demi hari anak gajah tumbuh menjadi besar, dan keinginan naluriah hewani untuk bebas pun semakin besar. Setiap hari anak gajah yang beranjak dewasa ini mencoba menghentakkan kakinya untuk lepas dari rantai yang mengikatkan salah satu kakinya ke bambu. Tetapi tidak bisa, bahkan beberapa bagian kakinya mengalami luka lecet. Lama kelamaan keinganan gajah untuk melepaskan diri dari ikatan rantai tersebut mulai mengendor dan akhirnya tidak sama sekali.

Satu hal yang menarik, setelah gajah tersebut tumbuh menjadi dewasa dan memiliki taring yang cukupkpanjang, dia tetap terikat pada sebatang bambu yang kecil seperti ketika ia baru ditangkap dulu. Padahal, menurut logika sederhana saja, dengan sekali hentakan saja rantai tersebut sebenarnya bisa lepas. Mengapa tidak dilakukan sang gajah? Karena di dalam benaknya dia sudah merasa gagal dan tidak mungkin bisa melakukannya lagi.

Cerita di atas terdapat dalam buku, “Setengah Isi, Setengah Kosong”, yang ditulis oleh Parlindungan Marpaung.

Tiba-tiba saya teringat cerita di atas ketika mengamati sikap teman-teman guru dalam menghadapi kebijakan “Merdeka Belajar” yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.  Khususnya mengenai Surat Edaran Mendikbud Nomor 14 Tahun 2019 tentang penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Surat Edaran ini mempertegas bahwa penyusunan RPP didasarkan pada prinsip efisien, efektif dan berorientasi pada murid. Berbeda dengan format RPP versi Permendikbud Nomor 22 tahun 2016 yang memiliki banyak komponen, versi surat edaran ini memperbolehkan guru membuat RPP dengan hanya tiga komponen utama yaitu; tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran dan penilaian pembelajaran (asesmen). Komponen yang lainnya boleh dicantumkan tetapi hanya sebagai pelengkap.

Surat edaran ini juga memberikan kebebasan kepada sekolah, Kelompok Kerja Guru (KKG)/Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan bahkan individu guru untuk memilih, membuat, menggunakan dan mengembangkan RPP secara mandiri untuk sebesar-besarnya keberhasilan belajar murid. Dijelaskan pula bahwa guru masih bisa menggunakan RPP yang telah dibuat (sebelumnya), tetapi dapat pula menyesuaikan dengan ketentuan sebagaimana yang diatur dalam Surat Edaran tersebut.

Apa yang melatarbelakangi kebijakan ini? Dasar berpikirnya adalah bahwa selama ini guru banyak menghabiskan waktu untuk penyusunan RPP yang terperinci. Tentu saja ini tidak efisien, di mana guru seharusnya membagi waktunya secara proporsional antara perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi. Juga tidak efektif karena RPP yang tersusun secara terperinci, detail sampai pada hal-hal kecil yang dilakukan guru di kelas, bisa saja membuat guru kehilangan inovasi dan kreatifitas dalam pengembangan pembelajaran. Terlebih ada sebagian orang yang fanatik pada apa yang tertulis dalam dokumen RPP, seolah-olah menyalahi teks RPP dalam pembelajaran adalah dosa besar.

Dengan hanya menuliskan bagian-bagian pokok saja, maka guru diberi ruang untuk berimprovisasi dalam pembelajaran.  Hal ini didukung dengan tidak ditetapkannya standar baku dalam penyusunan RPP. Guru diberi kebebasan untuk membuat, memilih, mengembangkan, dan menggunakan RPP sesuai dengan prinsip efisien, efektif dan berorientasi pada murid.

Penyederhaan RPP sebagaimana yang termuat dalam surat edaran Mendikbud adalah angin segar bagi kemerdekaan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Tidak harus terbelenggu oleh aturan-aturan yang kontra produktif. Disadari atau tidak, aturan RPP yang ketat yang selama ini diberlakukan menumbuhkan prilaku instan pada sebagian guru. Hal ini dapat dilihat dari maraknya jual beli perangkat pembelajaran atau setidaknya copy paste. Padahal pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang tidak sedikit untuk melatih guru dalam membuat dokumen perencanaan pembelajaran. Ujung-ujungnya guru menggunakan RPP yang diperjualbelikan.

Penyerderhanaan RPP adalah proklamasi yang memerdekakan guru dari perbudakan administrasi.  Bentuknya sederhana, bahkan memungkinkan hanya satu lembar, sehingga mudah membuatnya, tidak menyulitkan. Waktu dan tenaga yang biasanya terkuras pada pembuatan perangkat bisa digunakan untuk hal-hal lain yang berkenaan dengan pengembangan diri untuk perbaikan kualitas pembelajaran.

Lalu apa hubungannya cerita tentang anak gajah di awal tulisan ini, dengan penyederhanaan RPP

Saat ini terbuka ruang bagi guru untuk membebaskan diri dari ribetnya administrasi. Maka bersegeralah berbuat.  Jangan sampai bernasib seperti gajah yang diceritakan, memilih untuk pasrah. Padahal andai saja dia terus berusaha maka dia akan bisa melepaskan diri. Apalah artinya sebatang bambu dengan rantai kecil di hadapan seekor gajah yang besar. Sayang sekali sang gajah tidak menyadari bahwa dirinya sudah dewasa dan kekuatannya mampu untuk membebaskan diri dari belenggu rantai kecil itu.

Guru merdeka akan menyambut kebijakan ini sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas pembelajaran anak-anak kita. Mulailah dengan RPP merdeka!

Jumat, 10 Januari 2020

Literasi Sejarah dan Budaya Gowa

Sebagai bekas kerajaan besar,  Gowa memiliki tinggalan-tinggalan sejarah yang syarat dengan makna dan kearifan. Situs-situs ini adalah saksi bisu kebesaran Gowa di masa lalu. Simbol dari pergolakan jiwa orang-orang Gowa dalam menegakkan sirik dan kehormatannya. 

Memandangi reruntuhan benteng-benteng pertahanan Gowa akan menuntun kita menyusuri lorong waktu masa lalu, dan menyaksikan betapa orang Gowa adalah patriot-patriot sejati. Mereka rela mengorbankan apa yang mereka miliki demi kehormatan bangsanya. Di lorong waktu kita membayangkan kilatan peluruh yang dimuntahkan meriam VOC menggetarkan tembok-tembok Benteng Somba Opu dan kegigihan tu baranina Gowa menghalau setiap serangan. Walaupun pada akhirnya benteng direbut. Apa boleh buat, setidaknya janji telah ditunaikan, kehormatan telah ditegakkan.

Benteng bisa saja hancur tetapi api perjuangan tidak akan pernah padam. “Takunjunga bangun turu’ nakugunciri’ gulingku kualleanna Tallanga na toalia” (bila layarku telah terkembang, kemudiku telah terpasang, lebih baik tenggelam daripada surut ke pantai). Filosofi pelaut Makassar ini menginspirasi orang-orang Gowa untuk berjuang pantang menyerah. Bila niat sudah terpatri persiapan sudah matang, bersegeralah melangkah dan jangan pernah kembali sebelum tujuan tercapai.

Setelah Benteng Sombaopu direbut kemudian dihancurkan oleh VOC, sebagian bangsawan Gowa yang tidak rela hidup dalam  kekuasaan VOC, menyebar ke berbagai wilayah Nusantara untuk meneruskan perjuangan. Karaeng Galesong menyeberang ke Jawa membantu perjuangan Trunojoyo di Jawa Timur dan Karaeng Bontomarannu bergabung dengan Syekh Yusuf di Banten. Adegan-adegan ini bukan drama picisan, tetapi fakta yang berbicara kepada generasi sekarang tentang kegigihan dan patriotisme yang tidak pernah luntur.

Di era milineal sekarang, penting untuk merangkai kembali ingatan kita tentang sejarah ini. Apa pentingnya?  Bukankah sejarah adalah bagian dari pendidikan karakter.  Kita butuh inspirasi sejarah untuk membangun karakter generasi bangsa yang hingga kini semakin kehilangan arah. Padahal pembangunan karakter seharusnya menjadi pijakan dari kesinambungan pembangunan di bidang lainnya. Sejarah adalah mata air yang tidak pernah kering sebagai sumber ilmu dan nilai. Mengajarkan kepada setiap generasi tentang pergulatan hidup manusia dengan berbagai peristiwa yang dilakoninya. Tentang benar dan yang salah, tentang kepahlawanan dan pengkhianatan, tentang keberanian dan kepengecutan. Dan tidak diragukan, Sejarah Gowa sarat dengan nilai-nilai itu.

Namun, apakah orang Gowa paham dengan sejarahnya? Entahlah. Tetapi dari pengalaman saya mengajarkan sejarah di sekolah dan perbincangan dengan sesama guru sejarah, saya mendapati bahwa pengetahuan siswa tentang sejarah Gowa teramat minim. Bagaimana dengan kalangan umum atau bahkan kalangan pejabat sekalipun? Bisa jadi keadaannya pun serupa.

Kepedulian masyarakat Gowa terhadap situs-situs sejarah juga masih tergolong rendah. Dari data yang ada di setiap tempat bersejarah memperlihatkan bahwa minat masyarakat berkunjung ke tempat-tempat itu masih kurang. Baik dari kalangan masyarakat umum maupun pelajar. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh dua hal; 1) penataannya yang kurang menarik ditambah dengan promosinya yang kurang giat; 2) sejarah Gowa tidak diajarkan di sekolah-sekolah sehingga tidak melahirkan rasa ingin tahu di kalangan siswa.

Tentang kemungkinan pertama; Penataan bangunan bersejarah kurang menarik. Hal ini telah dijawab oleh Pemerintah Kabupaten Gowa dengan merevitalisasi dan mengadakan penataan di beberpa situs. Seperti kawasan makam Sultan Hasanuddin di Bukit Tamalate serta kawasan Museum Ballalompoa. Patut disyukuri bahwa situs-situs tersebut mulai tertata dengan baik. Tetapi kita tidak boleh berhenti di penataan itu, dibutuhkan upaya promosi dan edukasi ke masyarakat tentang keberadaaan situs tersebut.

Di pelataran Ballalompoa misalnya, bisa dijadikan sebagai pusat pegelaran seni dan budaya Gowa. Kegiatan ini bisa dilakukan sekali dalam sebulan sangat bagus jika bertepatan dengan malam bulan purnama sehingga akan menghidupkan kembali budaya assinga-singara bulan yang dulu menjadi hiburan gratis dan sangat diminati oleh masyarakat Gowa. Pelaksananya adalah setiap kecamatan secara bergiliran. Setiap kecamatan akan menampilkan kesenian daerah seperti assinrinli, pakacaping, paddekko, akroyong, tarian tradisional, serta permainan rakyat bagi anak-anak seperti asing-asing, enggo, gasing dan sebagainya. Sementara ibu-ibu akan menjajakan kuliner khas Gowa berupa makanan, kue dan minuman tradisional dengan stand yang khusus dibuat untuk itu. Kegiatan ini akan sangat penting sebagai upaya pewarisan budaya leluhur sekaligus mempopulerkan Museum Ballompoa sebagai sumber informasi tentang sejarah tumbuh dan berkembangkannya Kerajaan Gowa. Secara ekonomis kegiatan ini juga akan mengangkat perekonomian masyarakat menengah ke bawah.

Kemungkinan kedua; sejarah Gowa tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Ironis memang. Di sekolah, anak-anak kita diajarkan sejarah tentang kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan detail, mulai dari awal terbentuknya, perkembangannya, hingga runtuhnya. Sementara materi sejarah Gowa hanya secuil paling hanya berkisar tentang sejarah masuknya Islam dan perjuangan Sultan Hasanuddin melawan VOC (bisa dilihat pada buku standar Sejarah Nasional Indonesia jilid III dan IV).  Lalu apa solusinya? Jadikan Sejarah Gowa sebagai muatan lokal. Bentuk tim untuk membuat kajian komprehensif terhadap materi ajar sejarah Gowa. Buat silabusnya, lengkapi bahan ajarnya. Lalu ajukan permohonan ke Kemendikbud untuk mendapat pengesahan.

Jika menjadikan sejarah Gowa sebagai muatan lokal tidak memungkinkan, masih ada alternatif lain. Masukkan materi-materi sejarah lokal ke dalam Bahasa Daerah. Kita tahu bahwa bahasa daerah sudah diakui sebagai muatan lokal di kurikulum. Materi Bahasa Daerah yang selama ini diajarkan direvisi, materi-materi yang kurang perlu seperti tata bahasa dikeluarkan dan digantikan dengan materi sejarah termasuk budaya. Jadi muatan kurikulum bahasa daerah hanya dua yaitu sejarah termasuk budaya Gowa serta Lontarak. Hal ini sekaligus memperbaiki bahan ajar Bahasa Daerah yang selama ini digunakan. Bahasa Daerah sebaiknya hanya fokus ke pelestarian huruf Lontarak dan budaya Makassar.

Kalau cara itupun masih sulit, masih ada cara ketiga. Membentuk tim safari sejarah dan budaya Gowa. Tim ini secara berkala akan berkeliling ke sekolah-sekolah atau mungkin juga ke instansi-instansi pemerintah untuk memberikan penerangan tentang sejarah Gowa. Dijadwalkan secara tetap dan materi yang sudah tersusun dengan silabus yang sudah divalidasi oleh ahlinya. Pelaksanaannya akan mirip dengan Jumat Ibadah yang selama ini sudah berjalan dengan jadwal tetap. Untuk mendukung edukasi sejarah, Pemerintah Kabupaten perlu juga menggalakkan penelitian, penulisan dan publikasi baik berupa buku, brosur, dan artikel tentang sejarah Gowa.  

Semoga dengan demikian sejarah Gowa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Menginspirasi setiap generasi untuk meraih kejayaan Gowa kini dan di masa depan. Karena sejatinya sejarah bukanlah masa lalu untuk masa lalu tetapi masa lalu untuk masa depan.  

Senin, 06 Januari 2020

Seni Berorganisasi


Saya sedikit punya pengalaman memimpin organisasi dengan karakter yang berbeda-beda. Sewaktu kuliah pernah menjadi ketua organisasi kemahasiswaan. Memimpin mahasiswa dengan karakter yang sangat dinamis, berpikir kritis, anti kemapanan, dan semangat yang meledak-ledak. Sebenarnya karakter semacam ini jika dikelola dengan benar akan menjadi daya dorong yang hebat untuk memajukan organisasi. Tentu saja memerlukan keterampilan khusus untuk dapat mendayagunakan potensi ini.

Memimpin orang-orang pintar memang syarat tantangan. Betapa sulitnya menyatukan ide dan pikiran yang beragam. Terlebih pemilik ide biasanya ngotot dengan kebenaran yang diembannya lalu membuat rekayasa untuk memenangkan idenya dengan berbagai cara.  Ada-ada saja yang diperdebatkan kadang persoalan kecil dibesar-besarkan, masalah besar justru diremehkan, salah fokus. Mungkin ini adalah bawaan dari semangat mahasiswa yang selalu ingin mengaktualisasikan diri, apalagi mereka yang sudah malang melintang di dunia organisasi dengan doktrin-doktrin khas pembangkit semangat

Ketika mengikuti pengkaderan sebuah organisasi ekstra kampus, senior saya memberikan doktrin begini,”pengkaderan di organisasi ini ada tiga tingkatan, pengkaderan tingkat 1, 2, dan 3. Alumni Pengkaderan tingkat 1 kemampuannya sama dengan Bupati, tingkat 2 selevel dengan Gubernur, tingkat 3 sama dengan Presiden”. Jadi jika anggota organisasi ini merasa diri paling jago, harap maklum, karena level paling rendah di antara mereka adalah Bupati. Saya saja begitu lulus pengkaderan tingkat 1 gaya jalannya sudah mirip Bupati. Hehe, Itu kata seorang teman. Terus terang doktrin ini telah berhasil mengangkat rasa percaya diri bagi anggota-anggotannya. Termasuk dalam berdebat.

Sayangnya, keseringan berdebat membuat organisasi oleng. Terlalu banyak berteori, lupa beraksi. Atau mungkin bingung bagaimana menerapkan teorinya sendiri. Jenis manusia model begini ini biasa ada di hampir semua organisasi. Banyak bicara, protes sana-sini tetapi kerjanya tidak ada. Biasa digelari NATO singkatan dari No Action Talk Only terjemahan bebasnya, “banyak bicara tetapi tidak ada kerjanya”. Akhirnya target-target organisasi banyak yang tidak terpenuhi.

Kali lain, saya diamanahi memimpin organisasi Remaja Masjid di kampungku. Karakter orang-orangmya jauh berbeda dengan mahasiswa. Di Remaja Masjid saya memimpin anak-anak SMP, SMA dan beberapa di antaranya putus sekolah tak seorang pun berstatus mahasiswa. Pikirannya masih polos, lugu, belum tercemar doktrin-doktrin gombal. Jangankan ngotot dengan pemikirannya, berbicara di forum-forum resmi saja banyak yang gagap. Minim pengetahuan organisasi, jarang duduk dalam acara-acara formal. Bahkan menerima surat undangan rapat saja sampai ada yang gemetaran. 

Kondisi ini membuat rapat-rapat resmi ditiadakan, diganti dengan bincang-bincang santai di mana saja. Terkadang sementara duduk di pematang sawah sehabis main bola, di pos ronda yang sekaligus berfungsi sebagai gedung DPR-nya anak muda, atau di serambi rumah salah seorang teman sambil nguliti singkong. Ngobrol sesantai-santainya. Meskipun alur pembicaraan tidak tertata rapi, tetapi biasanya mengerucut ke satu masalah dan akhirnya ada kesimpulan yang siap dieksekusi. Jangan dikira kami tidak punya program kerja, ada. Program kerjanya pun mengadopsi model organisasi kemahasiswaan. Tata persuratannya juga rapi, jelek-jelek begini saya mantan sekretaris umum HMJ loh!

Dengan manajemen yang disederhanakan dan dengan kemampuan personil yang sangat terbatas. Organisasi Remaja Masjid yang saya pimpin mampu membuat kegiatan-kegiatan yang bagi masyarakat kampung saya termasuk spektakuler. Salah satunya adalah turnamen sepak bola antar Remaja Masjid. Selama kurang lebih satu bulan, kampung saya dibanjiri penonton yang datang dari berbagai penjuru. Ibu-ibu sangat gembira, mereka berlomba-lomba membuat stand penjualan makanan dan minuman. Bapak-bapaknya juga senang, mereka banyak yang menjadi petugas keamanan dadakan sambil menenteng kardus sumbangan suka rela kepada penonton, petugas parkir amatiran juga bermunculan. Bahagia sekali dapat mempromosikan kampung saya dengan kegiatan-kegiatan positif. Kampung saya mendadak terkenal.

Di bidang keagamaan, saya dan teman-teman menggalakkan gerakan shalat berjamaah di masjid. Waktu itu, jamaah di masjid sangat kurang. Remaja Masjid lalu membuat terobosan yang meskipun terkesan aneh tetapi membuahkan hasil. Yaitu membuat surat edaran yang isinya menghimbau kepada semua warga yang tidak pernah shalat di masjid untuk datang berjamaah. Edaran ini disertai dengan ancaman, bagi yang tidak mengindahkan maka jika kelak meninggal dunia jenazahnya tidak akan dishalati. Surat edaran ini saya bawa kepada kepala Desa dan Beliau bersedia pasang badan jika ada yang keberatan. Beliau kemudian turut menandatangani surat edaran itu. Di luar dugaan, ketika hari Jumat tiba, masjid penuh sesak dengan jamaah. Untuk pertama kalinya shalat Jumat dilaksanakan dengan jamaah yang berdesak-desakan. Sekarang saya paham, rupanya warga kampung saya masih takut pula tak dishalati jenazahnya.

Cara ini saya pernah coba ditempat lain,  tetapi gagal. Kepala Desanya takut bertanda tangan, tidak mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Beda pejabat, Beda pula cara berpikirnya.

Berdasar  pengalaman ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa SDM yang handal tidak menjadi jaminan organisasi bisa berjalan dengan normal. Saya merasa gagal memimpin organisasi kemahasiswaan yang dijejali oleh SDM yang hebat. Tetapi sukses memimpin organisasi remaja masjid meskipun kemampuan SDM-nya sangat terbatas. Organisasi membutuhkan orang-orang yang menjaga komitmen untuk setia pada garis perjuangannya. Menjaga budaya organisasi yang telah disepakati bersama dan membangun kesepahaman serta saling menghormati dengan semua unsur yang ada. Untuk apa SDM yang hebat tanpa komitmen yang kuat?

Organisasi diatur dengan manejeman rasio dengan tetap mempertimbangkan rasa. Peka dalam membaca setiap gejala dan tidak over sensitive terhadap perkembangan yang mungkin tidak dikehendaki. Bisa membedakan mana fakta dan mana opini, bijak dalam sikap dan tindakan, siap mendengar dan menerima saran dan bahkan kritikan. Memandang kritikan sekeras apapun bentuknya, sebagai bagian dari obat yang akan menyehatkan jiwa dan raga organisasi.

Tidak menutup kemungkinan, organisasi akan mendapat pesaing. Pandang mereka bukan sebagai saingan apalagi musuh, tetapi sebagai mitra dalam berkolaborasi berjalan beriring dalam mencapai tujuan bersama. Semangatnya adalah ber-fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Jangan terpancing dengan manuver yang dibuat oleh pihak-pihak tertentu yang ingin merusak kesolidan organisasi. Selama semua unsur dalam organisasi solid maka sekeras apapun upaya pihak luar ingin merusak organisasi, mereka hanya akan menuai kegagalan.

Dukungan dari pihak-pihak terkait sangat dibutuhkan. Pihak yang bisa menjadi sandaran ketika organisasi butuh penyokong, kasus tanda tangan kepala desa pada surat edaran shalat berjamaah yang saya buat adalah contohnya. Tanpa tanda tangan kepala desa mungkin surat edaran itu dianggap sekedar lelucon yang tidak lucu. Karena itu hubungan dengan simpul-simpul kekuasaan sangatlah penting dan untuk itu harus dijalin dan dijaga dengan baik.