Channel YouTube

Senin, 06 Januari 2020

Seni Berorganisasi


Saya sedikit punya pengalaman memimpin organisasi dengan karakter yang berbeda-beda. Sewaktu kuliah pernah menjadi ketua organisasi kemahasiswaan. Memimpin mahasiswa dengan karakter yang sangat dinamis, berpikir kritis, anti kemapanan, dan semangat yang meledak-ledak. Sebenarnya karakter semacam ini jika dikelola dengan benar akan menjadi daya dorong yang hebat untuk memajukan organisasi. Tentu saja memerlukan keterampilan khusus untuk dapat mendayagunakan potensi ini.

Memimpin orang-orang pintar memang syarat tantangan. Betapa sulitnya menyatukan ide dan pikiran yang beragam. Terlebih pemilik ide biasanya ngotot dengan kebenaran yang diembannya lalu membuat rekayasa untuk memenangkan idenya dengan berbagai cara.  Ada-ada saja yang diperdebatkan kadang persoalan kecil dibesar-besarkan, masalah besar justru diremehkan, salah fokus. Mungkin ini adalah bawaan dari semangat mahasiswa yang selalu ingin mengaktualisasikan diri, apalagi mereka yang sudah malang melintang di dunia organisasi dengan doktrin-doktrin khas pembangkit semangat

Ketika mengikuti pengkaderan sebuah organisasi ekstra kampus, senior saya memberikan doktrin begini,”pengkaderan di organisasi ini ada tiga tingkatan, pengkaderan tingkat 1, 2, dan 3. Alumni Pengkaderan tingkat 1 kemampuannya sama dengan Bupati, tingkat 2 selevel dengan Gubernur, tingkat 3 sama dengan Presiden”. Jadi jika anggota organisasi ini merasa diri paling jago, harap maklum, karena level paling rendah di antara mereka adalah Bupati. Saya saja begitu lulus pengkaderan tingkat 1 gaya jalannya sudah mirip Bupati. Hehe, Itu kata seorang teman. Terus terang doktrin ini telah berhasil mengangkat rasa percaya diri bagi anggota-anggotannya. Termasuk dalam berdebat.

Sayangnya, keseringan berdebat membuat organisasi oleng. Terlalu banyak berteori, lupa beraksi. Atau mungkin bingung bagaimana menerapkan teorinya sendiri. Jenis manusia model begini ini biasa ada di hampir semua organisasi. Banyak bicara, protes sana-sini tetapi kerjanya tidak ada. Biasa digelari NATO singkatan dari No Action Talk Only terjemahan bebasnya, “banyak bicara tetapi tidak ada kerjanya”. Akhirnya target-target organisasi banyak yang tidak terpenuhi.

Kali lain, saya diamanahi memimpin organisasi Remaja Masjid di kampungku. Karakter orang-orangmya jauh berbeda dengan mahasiswa. Di Remaja Masjid saya memimpin anak-anak SMP, SMA dan beberapa di antaranya putus sekolah tak seorang pun berstatus mahasiswa. Pikirannya masih polos, lugu, belum tercemar doktrin-doktrin gombal. Jangankan ngotot dengan pemikirannya, berbicara di forum-forum resmi saja banyak yang gagap. Minim pengetahuan organisasi, jarang duduk dalam acara-acara formal. Bahkan menerima surat undangan rapat saja sampai ada yang gemetaran. 

Kondisi ini membuat rapat-rapat resmi ditiadakan, diganti dengan bincang-bincang santai di mana saja. Terkadang sementara duduk di pematang sawah sehabis main bola, di pos ronda yang sekaligus berfungsi sebagai gedung DPR-nya anak muda, atau di serambi rumah salah seorang teman sambil nguliti singkong. Ngobrol sesantai-santainya. Meskipun alur pembicaraan tidak tertata rapi, tetapi biasanya mengerucut ke satu masalah dan akhirnya ada kesimpulan yang siap dieksekusi. Jangan dikira kami tidak punya program kerja, ada. Program kerjanya pun mengadopsi model organisasi kemahasiswaan. Tata persuratannya juga rapi, jelek-jelek begini saya mantan sekretaris umum HMJ loh!

Dengan manajemen yang disederhanakan dan dengan kemampuan personil yang sangat terbatas. Organisasi Remaja Masjid yang saya pimpin mampu membuat kegiatan-kegiatan yang bagi masyarakat kampung saya termasuk spektakuler. Salah satunya adalah turnamen sepak bola antar Remaja Masjid. Selama kurang lebih satu bulan, kampung saya dibanjiri penonton yang datang dari berbagai penjuru. Ibu-ibu sangat gembira, mereka berlomba-lomba membuat stand penjualan makanan dan minuman. Bapak-bapaknya juga senang, mereka banyak yang menjadi petugas keamanan dadakan sambil menenteng kardus sumbangan suka rela kepada penonton, petugas parkir amatiran juga bermunculan. Bahagia sekali dapat mempromosikan kampung saya dengan kegiatan-kegiatan positif. Kampung saya mendadak terkenal.

Di bidang keagamaan, saya dan teman-teman menggalakkan gerakan shalat berjamaah di masjid. Waktu itu, jamaah di masjid sangat kurang. Remaja Masjid lalu membuat terobosan yang meskipun terkesan aneh tetapi membuahkan hasil. Yaitu membuat surat edaran yang isinya menghimbau kepada semua warga yang tidak pernah shalat di masjid untuk datang berjamaah. Edaran ini disertai dengan ancaman, bagi yang tidak mengindahkan maka jika kelak meninggal dunia jenazahnya tidak akan dishalati. Surat edaran ini saya bawa kepada kepala Desa dan Beliau bersedia pasang badan jika ada yang keberatan. Beliau kemudian turut menandatangani surat edaran itu. Di luar dugaan, ketika hari Jumat tiba, masjid penuh sesak dengan jamaah. Untuk pertama kalinya shalat Jumat dilaksanakan dengan jamaah yang berdesak-desakan. Sekarang saya paham, rupanya warga kampung saya masih takut pula tak dishalati jenazahnya.

Cara ini saya pernah coba ditempat lain,  tetapi gagal. Kepala Desanya takut bertanda tangan, tidak mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Beda pejabat, Beda pula cara berpikirnya.

Berdasar  pengalaman ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa SDM yang handal tidak menjadi jaminan organisasi bisa berjalan dengan normal. Saya merasa gagal memimpin organisasi kemahasiswaan yang dijejali oleh SDM yang hebat. Tetapi sukses memimpin organisasi remaja masjid meskipun kemampuan SDM-nya sangat terbatas. Organisasi membutuhkan orang-orang yang menjaga komitmen untuk setia pada garis perjuangannya. Menjaga budaya organisasi yang telah disepakati bersama dan membangun kesepahaman serta saling menghormati dengan semua unsur yang ada. Untuk apa SDM yang hebat tanpa komitmen yang kuat?

Organisasi diatur dengan manejeman rasio dengan tetap mempertimbangkan rasa. Peka dalam membaca setiap gejala dan tidak over sensitive terhadap perkembangan yang mungkin tidak dikehendaki. Bisa membedakan mana fakta dan mana opini, bijak dalam sikap dan tindakan, siap mendengar dan menerima saran dan bahkan kritikan. Memandang kritikan sekeras apapun bentuknya, sebagai bagian dari obat yang akan menyehatkan jiwa dan raga organisasi.

Tidak menutup kemungkinan, organisasi akan mendapat pesaing. Pandang mereka bukan sebagai saingan apalagi musuh, tetapi sebagai mitra dalam berkolaborasi berjalan beriring dalam mencapai tujuan bersama. Semangatnya adalah ber-fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Jangan terpancing dengan manuver yang dibuat oleh pihak-pihak tertentu yang ingin merusak kesolidan organisasi. Selama semua unsur dalam organisasi solid maka sekeras apapun upaya pihak luar ingin merusak organisasi, mereka hanya akan menuai kegagalan.

Dukungan dari pihak-pihak terkait sangat dibutuhkan. Pihak yang bisa menjadi sandaran ketika organisasi butuh penyokong, kasus tanda tangan kepala desa pada surat edaran shalat berjamaah yang saya buat adalah contohnya. Tanpa tanda tangan kepala desa mungkin surat edaran itu dianggap sekedar lelucon yang tidak lucu. Karena itu hubungan dengan simpul-simpul kekuasaan sangatlah penting dan untuk itu harus dijalin dan dijaga dengan baik.


0 komentar:

Posting Komentar