Saya sedikit punya pengalaman memimpin organisasi dengan
karakter yang berbeda-beda. Sewaktu kuliah pernah menjadi ketua organisasi
kemahasiswaan. Memimpin mahasiswa dengan karakter yang sangat dinamis, berpikir
kritis, anti kemapanan, dan semangat yang meledak-ledak. Sebenarnya karakter
semacam ini jika dikelola dengan benar akan menjadi daya dorong yang hebat
untuk memajukan organisasi. Tentu saja memerlukan keterampilan khusus untuk
dapat mendayagunakan potensi ini.
Memimpin orang-orang pintar memang syarat tantangan. Betapa
sulitnya menyatukan ide dan pikiran yang beragam. Terlebih pemilik ide biasanya
ngotot dengan kebenaran yang diembannya lalu membuat rekayasa untuk memenangkan
idenya dengan berbagai cara. Ada-ada
saja yang diperdebatkan kadang persoalan kecil dibesar-besarkan, masalah besar
justru diremehkan, salah fokus. Mungkin ini adalah bawaan dari semangat
mahasiswa yang selalu ingin mengaktualisasikan diri, apalagi mereka yang sudah
malang melintang di dunia organisasi dengan doktrin-doktrin khas pembangkit
semangat
Ketika mengikuti pengkaderan sebuah organisasi ekstra kampus,
senior saya memberikan doktrin begini,”pengkaderan di organisasi ini ada tiga
tingkatan, pengkaderan tingkat 1, 2, dan 3. Alumni Pengkaderan tingkat 1 kemampuannya
sama dengan Bupati, tingkat 2 selevel dengan Gubernur, tingkat 3 sama dengan Presiden”. Jadi jika anggota organisasi ini merasa diri paling jago,
harap maklum, karena level paling rendah di antara mereka adalah Bupati. Saya
saja begitu lulus pengkaderan tingkat 1 gaya jalannya sudah mirip Bupati. Hehe,
Itu kata seorang teman. Terus terang doktrin ini telah berhasil mengangkat rasa
percaya diri bagi anggota-anggotannya.
Termasuk dalam berdebat.
Sayangnya, keseringan berdebat membuat organisasi oleng. Terlalu
banyak berteori, lupa beraksi. Atau mungkin bingung bagaimana menerapkan teorinya
sendiri. Jenis manusia model begini ini biasa ada di hampir semua organisasi. Banyak
bicara, protes sana-sini tetapi kerjanya tidak ada. Biasa digelari NATO
singkatan dari No Action Talk Only
terjemahan bebasnya, “banyak bicara tetapi tidak ada kerjanya”. Akhirnya target-target
organisasi banyak yang tidak terpenuhi.
Kali lain, saya diamanahi memimpin organisasi Remaja Masjid
di kampungku. Karakter orang-orangmya jauh berbeda dengan
mahasiswa. Di Remaja Masjid saya memimpin anak-anak SMP, SMA dan beberapa di
antaranya putus sekolah tak seorang pun berstatus mahasiswa. Pikirannya masih polos,
lugu, belum tercemar doktrin-doktrin gombal. Jangankan ngotot dengan
pemikirannya, berbicara di forum-forum resmi saja banyak yang gagap. Minim
pengetahuan organisasi, jarang duduk dalam acara-acara formal. Bahkan menerima
surat undangan rapat saja sampai ada yang gemetaran.
Kondisi ini membuat rapat-rapat resmi ditiadakan, diganti
dengan bincang-bincang santai di mana saja. Terkadang sementara duduk di
pematang sawah sehabis main bola, di pos ronda yang sekaligus berfungsi sebagai
gedung DPR-nya anak muda, atau di serambi rumah salah seorang teman sambil nguliti
singkong. Ngobrol sesantai-santainya. Meskipun alur pembicaraan tidak tertata
rapi, tetapi biasanya mengerucut ke satu masalah dan akhirnya ada kesimpulan
yang siap dieksekusi. Jangan dikira kami tidak punya program kerja, ada. Program
kerjanya pun mengadopsi model organisasi kemahasiswaan. Tata persuratannya juga
rapi, jelek-jelek begini saya mantan sekretaris umum HMJ loh!
Dengan manajemen yang disederhanakan dan dengan kemampuan personil
yang sangat terbatas. Organisasi Remaja Masjid yang saya pimpin mampu membuat
kegiatan-kegiatan yang bagi masyarakat kampung saya termasuk spektakuler. Salah
satunya adalah turnamen sepak bola antar Remaja Masjid. Selama kurang lebih
satu bulan, kampung saya dibanjiri penonton yang datang dari berbagai penjuru. Ibu-ibu
sangat gembira, mereka berlomba-lomba membuat stand penjualan makanan dan
minuman. Bapak-bapaknya juga senang, mereka banyak yang menjadi petugas
keamanan dadakan sambil menenteng kardus sumbangan suka rela kepada penonton, petugas
parkir amatiran juga bermunculan. Bahagia sekali dapat mempromosikan kampung
saya dengan kegiatan-kegiatan positif. Kampung saya mendadak terkenal.
Di bidang keagamaan, saya dan teman-teman menggalakkan
gerakan shalat berjamaah di masjid. Waktu itu, jamaah di masjid sangat kurang.
Remaja Masjid lalu membuat terobosan yang meskipun terkesan aneh tetapi
membuahkan hasil. Yaitu membuat surat edaran yang isinya menghimbau kepada semua
warga yang tidak pernah shalat di masjid untuk datang berjamaah. Edaran ini
disertai dengan ancaman, bagi yang tidak mengindahkan maka jika kelak meninggal
dunia jenazahnya tidak akan dishalati. Surat edaran ini saya bawa kepada kepala
Desa dan Beliau bersedia pasang badan jika ada yang keberatan. Beliau kemudian
turut menandatangani surat edaran itu. Di luar dugaan, ketika hari Jumat tiba,
masjid penuh sesak dengan jamaah. Untuk pertama kalinya shalat Jumat
dilaksanakan dengan jamaah yang berdesak-desakan. Sekarang saya paham, rupanya
warga kampung saya masih takut pula tak dishalati jenazahnya.
Cara ini saya pernah coba ditempat lain, tetapi gagal. Kepala Desanya takut bertanda tangan, tidak mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Beda pejabat, Beda pula cara berpikirnya.
Berdasar pengalaman
ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa SDM yang handal tidak menjadi jaminan
organisasi bisa berjalan dengan normal. Saya merasa gagal memimpin organisasi
kemahasiswaan yang dijejali oleh SDM yang hebat. Tetapi sukses memimpin
organisasi remaja masjid meskipun kemampuan SDM-nya sangat terbatas. Organisasi
membutuhkan orang-orang yang menjaga komitmen untuk setia pada garis
perjuangannya. Menjaga budaya organisasi yang telah disepakati bersama dan
membangun kesepahaman serta saling menghormati dengan semua unsur yang ada. Untuk
apa SDM yang hebat tanpa komitmen yang kuat?
Organisasi diatur dengan manejeman rasio dengan tetap
mempertimbangkan rasa. Peka dalam membaca setiap gejala dan tidak over sensitive
terhadap perkembangan yang mungkin tidak dikehendaki. Bisa membedakan mana fakta
dan mana opini, bijak dalam sikap dan tindakan, siap mendengar dan menerima
saran dan bahkan kritikan. Memandang kritikan sekeras apapun bentuknya, sebagai
bagian dari obat yang akan menyehatkan jiwa dan raga organisasi.
Tidak menutup kemungkinan, organisasi akan mendapat pesaing.
Pandang mereka bukan sebagai saingan apalagi musuh, tetapi sebagai mitra dalam
berkolaborasi berjalan beriring dalam mencapai tujuan bersama. Semangatnya adalah
ber-fastabiqul khairat,
berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Jangan terpancing dengan manuver yang
dibuat oleh pihak-pihak tertentu yang ingin merusak kesolidan organisasi. Selama
semua unsur dalam organisasi solid maka sekeras apapun upaya pihak luar ingin
merusak organisasi, mereka hanya akan menuai kegagalan.
Dukungan dari pihak-pihak terkait sangat dibutuhkan. Pihak yang
bisa menjadi sandaran ketika organisasi butuh penyokong, kasus tanda tangan
kepala desa pada surat edaran shalat berjamaah yang saya buat adalah contohnya.
Tanpa tanda tangan kepala desa mungkin surat edaran itu dianggap sekedar lelucon yang tidak lucu. Karena itu hubungan dengan simpul-simpul kekuasaan sangatlah penting dan
untuk itu harus dijalin dan dijaga dengan baik.


0 komentar:
Posting Komentar