Channel YouTube

Selasa, 31 Desember 2019

Generasi Literat yang Dirindukan



Laporan Program for Internasional Student Assessment (PISA) 2018 baru saja dirilis. Studi ini membandingkan kemampuan membaca, matematika, dan kinerja sains setiap anak di negara yang diteliti. Di mana posisi Indonesia berdasarkan survei ini?

Tidak jauh beda dengan PISA 2015 lalu, posisi Indonesia masih setia menggantung di posisi bawah. Khusus untuk kemampuan membaca, Indonesia berada di posisi 6 dari bawah atau peringkat 74 dari 79 negara yang diteliti. Indonesia mendapatkan skor 371 jauh di bawah standar Oganisation for Economic Co-operation and Development (0ECD) penggagas PISA, yakni 487. 

Rendahnya kemampuan membaca bisa jadi karena budaya kita adalah budaya ngobrol, bukan budaya baca. Masyarakat Indonesia terbiasa ngobrol di mana saja, di warung kopi, di pos ronda, di rapat-rapat, bahkan di pertemuan-pertemuan ilmiah sekalipun. Maka jangan heran jika di banyak seminar seringkali pembicaranya di-cuek-in oleh peserta. Tema seminar bisa melenceng ke tema-tema yang lain sesuai selerah peserta dengan kelompok ngobrolnya.

Dalam hal menulis tampaknya tidak jauh beda. Kita lebih suka menyampaikan pikiran atau gagasan secara lisan dibanding dengan tulisan. Padahal menurut seorang teman, menulis itu hanya memindahkan bahasa lisan ke bahasa tulisan. Jadi kalau seseorang itu hebat dalam berbicara seharusnya hebat pula dalam menulis. Kalau ini benar maka profesi yang menuntut banyak bicara seperti penceramah, guru, dosen, pejabat-pejabat yang sering memberikan kata sambutan, mestinya mereka telah menghasilkan banyak tulisan. Tetapi seperti halnya minat baca, minat menulis masyarakat Indonesia juga masih payah.

Bukan hanya minat baca atau menulis yang rendah, kemampuan memahami bacaan pun memprihatinkan. Akibatnya ada banyak pesan bacaan yang gagal membumi dalam realitas. Peringatan di setiap kemasan produk, baliho dan papan-papan bicara yang banyak terpasang di tempat-tempat umum tinggal menjadi slogan-slogan kosong.

“MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”. Kalimat peringatan ini tersemat dengan sangat jelas di setiap pembungkus rokok. Tidak main-main, peringatan ini ditulis dengan huruf kapital, sangat mencolok. Tidak berhenti di situ, malah ditambah dengan gambar yang sangat menyeramkan sebagai visualisasi dari bahaya rokok. Gambar ini dipertegas lagi dengan kata-kata yang singkat, jelas dan mengerikan, “MEROKOK MEMBUNUHMU”.

Lalu apakah upaya “menakut-nakuti” ini berhasil? Ternyata tidak! Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI 2018, menunjukkan bahwa kaum perokok di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tingginya angka perokok menjadikan Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asia Tenggara.  Menurut laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) jumlah perokok aktif di Indonesia adalah 65,19 juta orang. Angka tersebut setara dengan 34% dari total penduduk Indonesia pada tahun 2016.

Padahal produsen rokok telah diperlakukan dengan tidak adil. Jika produk-produk lain bebas mengajak orang secara terang-terangan menggunakan produknya, produsen rokok tidak. Mereka justru dilarang mengajak orang dengan terang-terangan mengisap rokok produksinya. Jangankan mengajak, mereka bahkan diwajibkan mencantumkan gambar seram dan kalimat menakutkan di iklan-iklannya. Aneh kan? Lebih anehnya lagi, justru produknya laku. Masih ada yang lebih aneh lagi, barang ini dianggap berbahaya bagi kesehatan tetapi produksinya tetap jalan dengan legal. Konon, pemasukan negara melalui pajak rokok lebih kecil jika dibanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengobati penyakit yang diakibatkan oleh asap rokok. Kalimat-kalimatnya dibaca, gambarnya dipelototi tetapi pesannya tak diindahkan. Tingkat literasi yang sangat rendah.

Gambar burung garuda lengkap dengan sila-sila Pancasila-nya terpajang di setiap kantor. Setiap upacara pekanan, bulanan, tahunan sila-sila Pancasila dibacakan. Tetapi pengamalannya masih jauh panggang dari api. Berketuhanan belum merasuk jauh ke dalam hati, prikemanusiaan masih mengawan-awan, persatuan rapuh oleh disintegrasi bangsa, permusyawaratan tidak dipimpin oleh dan secara hikmah, dan keadilan hanya jargon untuk menarik simpati. Dasar negara hanya dimuliakan dan dijunjung tinggi dalam ucapan bukan dalam pengamalan. Pancasila perlu dibaca ulang, bukan hanya menggunakan lidah tetapi juga hati, perasaan dan perbuatan.

Hal yang sama berlaku pada ajaran-ajaran agama. Kitab suci memuat aturan-aturan hidup memandu para pemeluknya, menuju jalan keselamatan menurut versinya masing-masing. tetapi nyatanya hidup jauh dari agama sering diperlihatkan oleh orang-orang yang katanya penganut agama yang taat. Literasi kitab sucinya mana?

Setiap pengendara pasti tahu isyarat lampu tiga warna pengatur lalu lintas. Tetapi sebagian pengguna jalan main labrak begitu saja tanpa mau tahu lampu warna apa yang sedang menyala.  Di tempat pelayanan umum peringatan tentang budaya antri jelas terpampang dengan huruf-huruf yang mudah terbaca, tetapi betapa banyak orang yang memilih untuk menerobos antrian tanpa mau tahu perasaan mereka yang lebih dahulu menunggu giliran.

Jika demikian, Indonesia bukan hanya krisis literasi tetapi sudah pada level darurat literasi. Memprihatinkan, mengingat bahwa kemajuan suatu bangsa sangat tergantung dari budaya literasinya. Peradaban Islam pernah berjaya selama kurang lebih 1400 tahun lamanya menjadikan membaca sebagai aktifitas yang sangat diutamakan. Bukankah wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah iqra’ yang berarti bacalah. Semangat membaca dan sekaligus memahami isi bacaan menjadikan pusat-pusat peradaban Islam sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan yang tokoh-tokohnya masih dikenang jasa-jasanya bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga saat ini.

Lalu, apa yang haru dilakukan? Untuk melahirkan kaum literat, tidak bisa tidak, harus melibatkan berbagai kalangan. Orang tua, sekolah, masyarakat, serta pemerintah. Membaca harus menjadi budaya di rumah, di sekolah, dan di masyarakat. Orang tua harus tampil memberi contoh dengan membiasakan membaca di rumah atau setidaknya menyiapkan bahan bacaan. Di sekolah pun demikian, sediakan pojok-pojok baca yang mudah dijangkau dengan bahan bacaan yang variatif dan menarik. Buatkan program literasi yang memotivasi peserta didik untuk membaca dan menulis. Guru memberikan teladan sebagai kaum literat.

Sebenarnya pemerintah sudah cukup baik dalam menggalakkan kegiatan literasi di sekolah lewat program GLS (Gerakan Literasi Sekolah). Yang masih diperlu dibenahi adalah bahan bacaan yang masih kurang, baik dalam hal jumlah maupun variasinya. Serta kesungguhan pihak-pihak terkait untuk menjadikan persoalan literasi ini sebagai hal yang sangat urgen dan mendesak untuk ditangani. Di samping monitoring dan evaluasi dari program ini yang juga masih sangat lemah. Tanpa monitoring dan evaluasi yang kontinu, khawatirnya prgram GLS perlahan-lahan redup dan akhirnya hilang tanpa bekas.

Minat dan kemampuan literasi peserta didik hanya bisa meningkat jika terjadi perubahan mindset dari semua pihak yang terlibat. Bahwa persoalan literasi ini sangat penting. Hanya generasi literat yang bisa diharapkan melejitkan daya saing bangsa di masa depan. Generasi literat akan lahir dari orang tua literat, guru-guru literat, lingkungan literat dan pemerintah yang berorientasi literat. Betapa indahnya hidup dalam masyarakat literat yang tak sekedar mampu membaca tetapi juga memahami dan memaknai bacaan. 

2 komentar: