Channel YouTube

Selasa, 31 Desember 2019

Generasi Literat yang Dirindukan



Laporan Program for Internasional Student Assessment (PISA) 2018 baru saja dirilis. Studi ini membandingkan kemampuan membaca, matematika, dan kinerja sains setiap anak di negara yang diteliti. Di mana posisi Indonesia berdasarkan survei ini?

Tidak jauh beda dengan PISA 2015 lalu, posisi Indonesia masih setia menggantung di posisi bawah. Khusus untuk kemampuan membaca, Indonesia berada di posisi 6 dari bawah atau peringkat 74 dari 79 negara yang diteliti. Indonesia mendapatkan skor 371 jauh di bawah standar Oganisation for Economic Co-operation and Development (0ECD) penggagas PISA, yakni 487. 

Rendahnya kemampuan membaca bisa jadi karena budaya kita adalah budaya ngobrol, bukan budaya baca. Masyarakat Indonesia terbiasa ngobrol di mana saja, di warung kopi, di pos ronda, di rapat-rapat, bahkan di pertemuan-pertemuan ilmiah sekalipun. Maka jangan heran jika di banyak seminar seringkali pembicaranya di-cuek-in oleh peserta. Tema seminar bisa melenceng ke tema-tema yang lain sesuai selerah peserta dengan kelompok ngobrolnya.

Dalam hal menulis tampaknya tidak jauh beda. Kita lebih suka menyampaikan pikiran atau gagasan secara lisan dibanding dengan tulisan. Padahal menurut seorang teman, menulis itu hanya memindahkan bahasa lisan ke bahasa tulisan. Jadi kalau seseorang itu hebat dalam berbicara seharusnya hebat pula dalam menulis. Kalau ini benar maka profesi yang menuntut banyak bicara seperti penceramah, guru, dosen, pejabat-pejabat yang sering memberikan kata sambutan, mestinya mereka telah menghasilkan banyak tulisan. Tetapi seperti halnya minat baca, minat menulis masyarakat Indonesia juga masih payah.

Bukan hanya minat baca atau menulis yang rendah, kemampuan memahami bacaan pun memprihatinkan. Akibatnya ada banyak pesan bacaan yang gagal membumi dalam realitas. Peringatan di setiap kemasan produk, baliho dan papan-papan bicara yang banyak terpasang di tempat-tempat umum tinggal menjadi slogan-slogan kosong.

“MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”. Kalimat peringatan ini tersemat dengan sangat jelas di setiap pembungkus rokok. Tidak main-main, peringatan ini ditulis dengan huruf kapital, sangat mencolok. Tidak berhenti di situ, malah ditambah dengan gambar yang sangat menyeramkan sebagai visualisasi dari bahaya rokok. Gambar ini dipertegas lagi dengan kata-kata yang singkat, jelas dan mengerikan, “MEROKOK MEMBUNUHMU”.

Lalu apakah upaya “menakut-nakuti” ini berhasil? Ternyata tidak! Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI 2018, menunjukkan bahwa kaum perokok di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tingginya angka perokok menjadikan Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asia Tenggara.  Menurut laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA) jumlah perokok aktif di Indonesia adalah 65,19 juta orang. Angka tersebut setara dengan 34% dari total penduduk Indonesia pada tahun 2016.

Padahal produsen rokok telah diperlakukan dengan tidak adil. Jika produk-produk lain bebas mengajak orang secara terang-terangan menggunakan produknya, produsen rokok tidak. Mereka justru dilarang mengajak orang dengan terang-terangan mengisap rokok produksinya. Jangankan mengajak, mereka bahkan diwajibkan mencantumkan gambar seram dan kalimat menakutkan di iklan-iklannya. Aneh kan? Lebih anehnya lagi, justru produknya laku. Masih ada yang lebih aneh lagi, barang ini dianggap berbahaya bagi kesehatan tetapi produksinya tetap jalan dengan legal. Konon, pemasukan negara melalui pajak rokok lebih kecil jika dibanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengobati penyakit yang diakibatkan oleh asap rokok. Kalimat-kalimatnya dibaca, gambarnya dipelototi tetapi pesannya tak diindahkan. Tingkat literasi yang sangat rendah.

Gambar burung garuda lengkap dengan sila-sila Pancasila-nya terpajang di setiap kantor. Setiap upacara pekanan, bulanan, tahunan sila-sila Pancasila dibacakan. Tetapi pengamalannya masih jauh panggang dari api. Berketuhanan belum merasuk jauh ke dalam hati, prikemanusiaan masih mengawan-awan, persatuan rapuh oleh disintegrasi bangsa, permusyawaratan tidak dipimpin oleh dan secara hikmah, dan keadilan hanya jargon untuk menarik simpati. Dasar negara hanya dimuliakan dan dijunjung tinggi dalam ucapan bukan dalam pengamalan. Pancasila perlu dibaca ulang, bukan hanya menggunakan lidah tetapi juga hati, perasaan dan perbuatan.

Hal yang sama berlaku pada ajaran-ajaran agama. Kitab suci memuat aturan-aturan hidup memandu para pemeluknya, menuju jalan keselamatan menurut versinya masing-masing. tetapi nyatanya hidup jauh dari agama sering diperlihatkan oleh orang-orang yang katanya penganut agama yang taat. Literasi kitab sucinya mana?

Setiap pengendara pasti tahu isyarat lampu tiga warna pengatur lalu lintas. Tetapi sebagian pengguna jalan main labrak begitu saja tanpa mau tahu lampu warna apa yang sedang menyala.  Di tempat pelayanan umum peringatan tentang budaya antri jelas terpampang dengan huruf-huruf yang mudah terbaca, tetapi betapa banyak orang yang memilih untuk menerobos antrian tanpa mau tahu perasaan mereka yang lebih dahulu menunggu giliran.

Jika demikian, Indonesia bukan hanya krisis literasi tetapi sudah pada level darurat literasi. Memprihatinkan, mengingat bahwa kemajuan suatu bangsa sangat tergantung dari budaya literasinya. Peradaban Islam pernah berjaya selama kurang lebih 1400 tahun lamanya menjadikan membaca sebagai aktifitas yang sangat diutamakan. Bukankah wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah iqra’ yang berarti bacalah. Semangat membaca dan sekaligus memahami isi bacaan menjadikan pusat-pusat peradaban Islam sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan yang tokoh-tokohnya masih dikenang jasa-jasanya bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga saat ini.

Lalu, apa yang haru dilakukan? Untuk melahirkan kaum literat, tidak bisa tidak, harus melibatkan berbagai kalangan. Orang tua, sekolah, masyarakat, serta pemerintah. Membaca harus menjadi budaya di rumah, di sekolah, dan di masyarakat. Orang tua harus tampil memberi contoh dengan membiasakan membaca di rumah atau setidaknya menyiapkan bahan bacaan. Di sekolah pun demikian, sediakan pojok-pojok baca yang mudah dijangkau dengan bahan bacaan yang variatif dan menarik. Buatkan program literasi yang memotivasi peserta didik untuk membaca dan menulis. Guru memberikan teladan sebagai kaum literat.

Sebenarnya pemerintah sudah cukup baik dalam menggalakkan kegiatan literasi di sekolah lewat program GLS (Gerakan Literasi Sekolah). Yang masih diperlu dibenahi adalah bahan bacaan yang masih kurang, baik dalam hal jumlah maupun variasinya. Serta kesungguhan pihak-pihak terkait untuk menjadikan persoalan literasi ini sebagai hal yang sangat urgen dan mendesak untuk ditangani. Di samping monitoring dan evaluasi dari program ini yang juga masih sangat lemah. Tanpa monitoring dan evaluasi yang kontinu, khawatirnya prgram GLS perlahan-lahan redup dan akhirnya hilang tanpa bekas.

Minat dan kemampuan literasi peserta didik hanya bisa meningkat jika terjadi perubahan mindset dari semua pihak yang terlibat. Bahwa persoalan literasi ini sangat penting. Hanya generasi literat yang bisa diharapkan melejitkan daya saing bangsa di masa depan. Generasi literat akan lahir dari orang tua literat, guru-guru literat, lingkungan literat dan pemerintah yang berorientasi literat. Betapa indahnya hidup dalam masyarakat literat yang tak sekedar mampu membaca tetapi juga memahami dan memaknai bacaan. 

Kamis, 05 Desember 2019

Guru Versus Siswa, Kapan Berakhirnya?


Tragedi Paduan Suara

Satu-satunya kejadian yang dulu membuat saya diinterogasi di ruang BK adalah paduan suara. Hari senin, pagi itu siswa sudah siap di lapangan, upacara akan segera dimulai. Kelas saya mendapat giliran menjadi pelaksana upacara. Dalam pembagian petugas upacara, saya didaftar di kelompok paduan suara. Tugas yang paling tidak menyenangkan,  saya selalu tidak percaya diri untuk memperdengarkan suara, bernyanyi di hadapan orang banyak. Paduan suara sangat tidak cocok bagiku. Selama ini setiap bertugas sebagai pelaksana upacara, saya langganan sebagai pembaca doa, dan saya bisa menjalankan tugas ini dengan senang hati. Di sekolah baru ini, saya terasing, nyaris tanpa teman. Maklum, saya termasuk manusia dengan tingkat sosialisasi yang sangat rendah. Hal ini membuat saya lebih banyak diam dan pasrah dengan keputusan teman-teman.

Upacara sebentar lagi dimulai. Saya memilih tidak bergabung dengan kelompok paduan suara. Saya menyelinap berdiri di barisan kelas yang lain. Pagi itu upacara berlangsung dengan hikmat, teman-teman bisa menjalankan tugas dengan baik. Upacara selesai, siswa bubar masuk ke kelas masing-masing.

Di kelas, sebelum guru jam pertama datang, wali kelas saya masuk. Diam sejenak, dari tatapannya sepertinya beliau mencari seseorang. Tiba-tiba dia memandang ke arahku lalu mengajak saya keluar. Saya menurut mengikuti langkahnya, rupanya dia menuju ke ruang Bimbingan Konseling (BK). Saya sadar, ada yang tidak beres. Ternyata wali kelas cukup teliti, dia tahu saya tidak bergabung dengan kelompok paduan suara saat upacara tadi. Menurutnya ini adalah kesalahan yang sangat serius, mengancam stabilitas sekolah sehingga pelakunya harus digiring ke ruang paling angker di sekolah itu, Ruang BK. Di ruang BK saya diinterogasi oleh guru BK paling senior, yang diakhiri dengan penandatanganan surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatan itu di kemudian hari.

Dengan mengaku bersalah dan berjanji tidak mengulangi lagi, saya kira masalahnya selesai. Rupanya tidak sesederhana itu. Guru BK menyodorkan surat skorsing. Hari itu saya diskorsing dan dipersilahkan kembali ke kelas mengambil perlengkapan dan pulang. Saya protes, hukuman ini terlalu berat. Selama ini saya belum pernah melanggar tata tertib sekolah. Saya adalah siswa yang sangat patuh, saya belum pernah punya catatan pelanggaran apapun, dan hal itu bisa ditelusuri. Tanyakan ke guru mata pelajaran dan bahkan ke wali kelas yang menyeret saya ke ruangan ini. Apakah adil, siswa yang selama ini berlaku baik harus diberikan hukuman seberat ini, untuk pelanggaran yang pertama kali dilakukannya. Itupun pelanggaran yang tidak tergolong berat.
Dengan pertimbangan-pertimbangan itu, saya memohon, berharap guru BK mengubah keputusannya. Tetapi apa boleh buat, dia sekokoh tembok, tetap pada keputusannya. Saya pulang dengan perasaan kacau balau. Merasa terhina, diperlakukan bak penjahat kelas kakap. Sangat tidak adil.


Petaka Kue Bagea

Hari Jumat, saya datang lebih awal. Hari ini adalah tugas saya membersihkan kelas. Tanpa menunggu teman-teman yang juga bertugas hari itu, saya mengambil sapu dan sejurus kemudian sampah-sampah di kelas sudah berpindah ke tempatnya yang layak. Tugas selesai, saya istirahat sambil menunggu bel masuk. Teman-teman yang lain mulai berdatangan. Seorang teman yang baru saja pulang kampung masuk dengan mengumbar senyum. Tangannya menenteng oleh-oleh, bagea, penganan tradisional yang terbuat dari sagu dan dibungkus daun pisang kering. Dia berteriak menawarkan bagea yang dibawanya. Satu kelas menyerbu, berebutan, termasuk saya..hehe.

Suasana kelas menjadi ramai, sepertinya teman-teman sangat menikmati kue gratis itu. Tetapi petaka bagi saya, sampah pembukus bagea berserakan memenuhi kelas. Bersamaan dengan itu bel tanda masuk berbunyi, tidak berselang lama guru jam pertama pun datang. Dia kaget melihat sampah berserakan. Tanpa berkata sepatah pun dia berjalan menghampiri daftar piket kebersihan kelas yang tertempel di tembok. Lalu memanggil satu demi satu nama petugas kebersihan hari itu. Di awali nama saya menyusul nama-nama yang lain. Kami diminta berdiri di depan kelas setelah itu kami disuruh keluar tidak boleh mengikuti pelajaran. Saya ingin protes dan menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi, tapi tidak berani, takut melihat wajah guru saya yang memerah, jangan-jangan kena damprat lagi. Teman-teman yang lainpun tidak ada yang berani. Akhirnya petugas kebersihan hari itu dihukum berjamaah tidak diizinkan mengikuti pelajaran.


Harus Bagaimana?

Dua peristiwa di atas sangat membekas, tidak pernah saya lupakan. Mohon maaf, tanpa bermaksud menjelek-jelekkan guru saya. Apapun adanya mereka adalah guru saya yang wajib dihormati. Saya hanya ingin kita semua mengambil pelajaran bahwa terkadang guru memiliki keterbatasan dalam memahami masalah dan lalu terburu-buru mengambil tindakan memberikan sanksi.  Bagi sebagian guru hal ini mungkin dianggap sederhana, tetapi bagi siswa tidak. Peristiwa-peristiwa menyakitkan ketika dia merasa diperlakukan tidak adil akan terus membekas, dan tidak jarang menjadi trauma baginya.

Pengalaman saya berdialog dengan siswa yang sering bermasalah di sekolah, beberapa di antaranya mengaku bahwa perbuatannya berawal sejak gurunya berlaku aniaya terhadapnya, memaksa mengakui perbuatan yang dia tidak pernah dilakukan. Pengalaman buruk ini malah ada yang menjadi sebab siswa memutuskan untuk berhenti sekolah.

Bijaklah dalam membuat keputusan, termasuk jika siswa dengan terpaksa diberikan sanksi. Lakukan sesuai prosedur yang benar. Untuk itu saya menyarankan beberapa hal yang mungkin bisa dipertimbangkan :
1.     Pastikan bahwa di setiap sekolah terdapat tata tertib sekolah. Tata tertib sekolah harus jelas mengatur hal-hal apa saja yang termasuk pelanggaran jika dilakukan oleh siswa, kategori pelanggaran (ringan, sedang, berat), prosedur penanganan kasusnya, jenis sanksi yang diberikan untuk semua kategori pelanggaran, serta prosedur pemberian sanksi. Tata tertib ini harus dipahami oleh setiap warga sekolah, siswa, guru, pegawai, petugas keamanan, bahkan karyawan kantinpun harus tahu. Tidak hanya itu komite sekolah dan orang tua pun wajib paham. Karena itu tata tertib sekolah mestinya disosialisasikan kepada semua pihak yang terkait dengan pengelolaan sekolah.
2.     Setiap pelanggaran yang dilakukan oleh siswa penanganannya merujuk ke tata tertib ini. Jadi tidak boleh ada oknum memberikan sanksi di luar apa yang diatur oleh tata tertib.
3.     Sebagai pengawal tata tertib, sekolah sebaiknya membentuk tim penegak disiplin atau katakanlah komite disiplin, semacam Dewan Kehormatanlah kalau di DPR. Tim ini beranggotakan guru BK, wali kelas, guru-guru yang berkompeten, termasuk Komite Sekolah. Komite disiplin bertugas mempelajari setiap kasus yang diduga pelanggaran yang dilakukan oleh siswa kemudian memberikan keputusan terhadap kasus itu. Jadi prilaku siswa yang diduga kuat sebagai tindak pelanggaran dilaporkan ke Komite Disiplin untuk dipelajari dan diberi keputusan. Tentu tidak semua kasus harus dibawa ke komite disiplin, kasus-kasus ringan cukup diselesaikan di tempat dengan tetap berpedoman pada ketentuan tata tertib.
4.     Dalami setiap kasus secara menyeluruh. Jangan mengambil keputusan dengan hanya melihat hal-hal dipermukaan saja. Terkadang kita menghukum orang yang hanya pelaku piguran dan mengabaikan tokoh utamanya. Umar bin Khattab pernah mengatakan, “lebih baik saya melepaskan orang yang bersalah tetapi tidak cukup bukti dari pada saya menghukum orang yang sama sekali tidak bersalah”. Mengapa ini penting? Di sekolah begitu banyak siswa yang dikira pelaku padahal sesungguhnya dia adalah korban. Korban ketidakberdayaan, mungkin lebih tepat dikatakan dikorbankan. Ketakutannya pada temannya jauh lebih besar dibanding ketakukannya terhadap sanksi di sekolah. Sudahlah menjadi korban bully oleh temannya dapat bully pula oleh sekolah.
5.     Efektifkan program pembinaan karakter baik yang terintegrasi dengan pembelajaran di kelas maupun melalui kegiatan-kegiatan eksrakurikuler. Fokuslah pada penyaluran bakat dan minat siswa untuk memperkecil peluang mereka melakukan tindakan yang tidak bermanfaat.
6.     Jangan lupa, lakukan kerja sama yang baik dengan orang tua siswa dan seluruh stakeholder yang ada. Karena prilaku siswa sebagian dipengaruhi oleh latar belakang keluarga dan juga lingkungan di mana dia berada. Adakan disdikusi secara berkala terkait dengan problem siswa baik dalam hal pencegahan maupun penanggulangan. Sekolah, orang tua, dan semua stakeholder memiliki tanggung jawab yang sama dalam pencegahan dan penanggulangan prilaku menyimpang siswa.
7.     Mendidiklah dengan hati. Kalimat ini mungkin terlalu normatif, menerapkannya pun tidak semudah mengucapkannya. Tetapi jika ingin sukses sebagai pendidik, tidak bisa tidak, konsep ini harus dijalankan. Karena inilah keunggulan guru di atas teknologi. Masalah kecerdasan, teknologi jauh lebih hebat dari guru. Kotak ilmu ada di genggaman anak-anak kita. ilmu apapun yang mereka ingin pelajari cukup memainkan jari-jemari di layar smartphone miliknya. Tetapi teknologi tidak punya filter dalam mentransfer nilai, kebaikan atau ketidakbaikan dan ini berbahaya. Teknologi tergantung dari penggunanya digunakan untuk kebaikan, siap! digunakan untuk kejahatanpun oke-oke saja!.

Guru yang mendidik dengan hati tidak sekedar menstransfer ilmu tetapi juga menularkan nilai-nilai kebaikan kepada siswanya melalui keteladanan. Cara berpikir, bertindak dan bertutur didasari oleh hati yang bening, hati yang bersih. Menghadapi siswa yang bermasalahpun tidak menyebabkan dia bertindak arogan dan tutur kata yang menyakitkan, malah tetap bersangka baik. Meminjam istilah Aa Gym, sekolah harus dikelola dengan prinsip manajemen qalbu, menata hati.

Sekali lagi ini berat, tidak semudah mengucapkannya. Tetapi saya yakin setiap guru yang menyadari tugas dan tanggung jawabnya akan selalu berusaha. Berusaha yang terbaik untuk mengawal dan mempersiapkan generasi bangsa menuju masa depan yang lebih baik.

Semoga dengan demikian, kasus-kasus perseteruan antara guru dengan siswa yang kian marak akhir-akhir ini akan semakin berkurang. Atau kalau mungkin dihilangkan sama sekali. 



Senin, 25 November 2019

Jadilah Guru Inspiratif


Apa yang paling berkesan dari sosok guru-guru anda? Bagi yang sering reunian saya yakin tahu jawabannya.  Hal yang paling sering dibicarakan menyangkut guru-guru kita adalah tentang kepribadiannya. Mengenai sikap, cara berbicara, kelakuan, dan nasehat-nasehatnya. Saat masih dibangku sekolah saja, ketika ada acara ngumpul yang banyak dibahas adalah pribadi guru. Tentang materi pelajaran yang mereka sampaikan sangat jarang dibahas, kalaupun dibicarakan ada kelompok tersendiri dengan bahasan yang super serius dan orang-orang terpilih, mirip dengan FGD (Focus Group Discussion) zaman sekarang.

Materi yang disampaikan oleh guru lebih banyak dilupa dari pada diingat. Tetapi kepribadian seorang guru tertancap sangat dalam di hati siswanya. Tidak jarang kepribadian seorang guru menginspirasi siswa hingga menjadi panduan dalam memilih jalan hidup di masa depan.  Seorang guru pernah bertemu dengan siswanya di SMP dulu. Muridnya ini kebetulan juga berprofesi sebagai guru. Ketika dia bertanya mengapa memilih menjadi guru. Sang murid dengan enteng menjawab “karena Bapaklah sehingga saya memilih menjadi guru”. Sang siswa mengaku terkesan dengan pribadi gurunya sehingga diapun memutuskan menjadikan guru.

Di SD ada guru saya yang mengajar dengan menyelipkan dongeng atau kisah yang sarat dengan makna hidup. Saya paling suka dengan beliau, saya selalu menunggu cerita-ceritanya. Sepulang sekolah ketika berada di tengah-tengah keluarga saya selalu mengulangi cerita-cerita dari guru saya. Ayah, Ibu dan saudara-saudara saya menjadi penyimaknya. Dongeng dan cerita guru saya menempel dengan kuat dalam benak saya hingga sekarang. Begitu berkesannya, saat mengajar sayapun sering menyelipkan dongengan dan cerita tentang pengalaman hidup kepada siswa. Tentu saja sebagian besarnya hasil copy paste dari cerita guru saya. Siswa sepertinya senang dengan cerita-cerita ini, setiap saya mengajar selalu diminta bercerita. Kadang waktu istirahat ada saja yang datang ingin mendengar saya bercerita. 

Masa kuliah, saya mengagumi seorang dosen. Pintar, wawasannya luas, kritis dan penuh semangat. Tetapi yang paling membekas bagi saya adalah ketika suatu pagi sebelum perkuliahan dimulai, sang dosen memanggil saya dan berkata, “saya sudah membaca tugasmu kemarin dan luar biasa, kamu mengerjakannya dengan sangat baik”. Wah, saya dipuji dosen, bangga dong. Efeknya, seharian itu, saya sering senyum-senyum sendiri tanpa diperintah, hehe.  Dan sejak saat saya tambah semangat mengikuti perkuliahan.  

Ternyata pujian berdampak besar bagi peserta didik. Karena itu, guru jangan pelit memberikan pujian pada hal-hal baik yang dilakukan oleh siswa. Tentu pujian yang sesuai dengan proporsinya, tidak berlebih-lebihan.

Masih ingat bu Een Sukaesih? Beliau adalah penerima penghargaan spesial Achievement Liputan6 Award untuk kategori Inovasi, Kemanusiaan, Pendidikan, Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan dari SCTV Award 2013. Ibu Een adalah pendiri Rumah Pintar yang diberi nama Al-Barokah yang berlokasi di Dusun Batukarut, Desa Cibereum Wetan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Rumah Pintar ini menjadi sarana kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak darimana saja yang ingin belajar secara gratis. Di Rumah Pintar yang dia dirikan ini, Bu Een sekaligus sebagai tenaga pengajar. Aktivitas mengajar beliau lakoni sambil berbaring di tempat tidur akibat penyakit lumpuh yang telah lama dideritanya.  Semangat hidup dan pengabdiannya di bidang pendidikan patut diteladani. Keterbatasan yang dialaminya bukan penghalang untuk memajukan pendidikan bagi semua kalangan.

Ketika Ibu Een ditanya siapa sumber inspirasinya, beliau menyebut Pak Ahmad, Gurunya semasa SD. Menurutnya, cara Pak Ahmad mengajar mudah dipahami membuat murid-muridnya jadi pintar. Tidak hanya itu, Bu Een juga sangat kagum pada tulisan gurunya ini di papan tulis, tulisannya cantik. Sampai-sampai bu Een berlatih untuk meniru tulisan gurunya tetapi selalu gagal. Hal ini diungkapkan Bu Een ketika wartawan dari Lipuutan6.com bertandang ke rumahnya.

Bill Gates, pebinis dan penulis asal Amerika Serikat, serta mantan CEO dan saat ini sebagai ketua Microsoft, perusahaan perangkat lunak yang dia didirikan bersama seorang rekannya, Paul Allen. Sejak 1995 hingga 2009, Dia menduduki peringkat pertama orang terkaya di dunia. Tidak termasuk tahun 2008 ketika dia turun ke peringkat ke tiga. Kisah perjalanan hidupnya telah memotivasi dan menginspirasi begitu banya orang. Ketika ditanya, siapakah yang telah membentuk dirinya sehingga menjadi pebisnis milyarder seperti sekarang ini, dengan mantap Bill Gates menjawab: guru-gurunya. Dan dia merasa beruntung memiliki guru-guru yang merupakan sumber inspirasinya. Dia tidak pernah melupakan jasa Blanche Caffiere, guru SD-nya yang disebut memiliki peran penting dalam hidup Gates di masa lampau. Baginya Caffiere adalah pemicu semangatnya untuk belajar.

Stephen Hawking, seorang ilmuan besar asal Oxford, Inggris. Kelumpuhan bahkan tidak membuatnya lemah semangat. Dia terus menciptakan terobosan-terobosan baru dalam bidang ilmu pengetahuan Alam hingga membuat namanya termasyhur di dunia. Ketertarikannya akan ilmu pengetahuan alam dimulai saat dirinya menjadi siswa di St. Albans School di Hertfordshire, Inggris. Dalam sebuah video yang dibuat khusus, Hawking mengakui dirinya sebagai anak yang malas dengan tulisan tangan yang buruk. Itu karena guru-guru di sekolahnya yang membosankan, katanya. Tetapi ada seorang guru yang sangat dia idolakan, Dikran Tahta. Lewat kelas yang dihadirinya, Hawking mengaku gurunya itu berhasil membuka matanya bahwa untuk menyingkap rahasia alam semesta adalah dengan matematika. “Kelasnya begitu hidup dan menarik. Semuanya bisa diperdebatkan, kata Prof. Hawking (dilansir dari BBC.com; 9/3/2016).

Guru yang hebat adalah guru yang mampu menginspirasi sebanyak mungkin peserta didik. Begitu banyak kisah yang dapat dijadikan contoh betapa guru inspiratif memiliki jasa besar dalam mengubah dan membukakan jalan sukses bagi peserta didiknya di masa depan. Menginspirasi peserta didik yang juga adalah generasi penerus berarti telah memberikan arah dan tuntutan bagi kemajuan bangsa.

Selamat Hari Guru Nasional untuk semua guruku dan sesamaku guru
Selamat menginspirasi



Selasa, 19 November 2019

CINGKRANG



Ribut tentang celana cingkrang membuat saya penasaran. Cingkrang itu apa sih? Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) cingkrang artinya “sangat pendek”. Kalau begitu celana cingkrang berarti celana yang sangat pendek. Sementara yang diributkan selama ini adalah celana panjang yang menggantung di atas mata kaki. Model celana ini digunakan oleh sebagian kaum Muslimin untuk menghindari isbal atau menjulurkan kain sampai ke mata kaki. Dalam beberapa riwayat perbuatan ini dilarang oleh Nabi. Jadi celana yang dimaksud tidak tepat disebut celana cingkrang, lebih tepat disebut celana anti isbal kalau mau lebih keren singkat saja celtibal.

Andai saja yang dipersoalkan adalah celana cingkrang versi KBBI, saya kira tidak terlalu gaduh, bahkan kemungkinan akan banjir dukungan. Bukankah penggunaan celana semacam itu di tempat-tempat umum telah meneror mental kita dan anak-anak selama ini. Heran juga kok bukan yang ini yang dilarang. Bayangkan jika orang-orang yang bercelana sangat pendek dibiarkan berkeliaran dan membuat aksi di mana-mana apa jadinya bangsa ini.

Berbicara tentang cingkrang, izinkan saya meminjam istilah ini untuk membahas masalah pendidikan. Menurut saya, perkembangan pendidikan kita yang melambat, antara lain disebabkan oleh ke-cingkrang-an ini. Sebut saja ke-cingkarang-an berpikir, atau boleh juga disebut pikiran cingkrang. Pikiran cingkrang itu apa? Lagi-lagi kalau kita merujuk ke KBBI maka Pikiran cingkrang berarti pikiran (yang) sangat pendek. Sebuah keputusan yang diambil tidak melalui pemikiran dan pertimbangan yang mendalam. Nah sekarang ngerti kan?

Di ruang guru,  seorang guru dengan jengkel bercerita tentang keadaan kelas yang baru saja ditinggalkannya. Dia mengeluh disertai kedongkolan yang sulit terlukiskan, beberapa kali dia harus berhenti bercerita untuk mengatur nafasnya yang tersengal dilumat amarah. Guru-guru yang lain menyimak dengan setia, sambil sesekali manggut-manggut, kadang memberi komentar pendek tanda simpati.

Merasa mendapat respon baik dari guru yang lain, guru ini semakin semangat bercerita tentang siswanya yang super bandel, kurang ajar, bodoh dan malas. Sebuah kombinasi yang memang sangat sempurna untuk menaikkan tekanan darah hingga ke level hipertensi yang bisa berakhir stroke. Endingnya adalah dia bersumpah untuk tidak lagi mau mengajar di kelas itu dan merelakan siswanya terbengkalai tanpa menerima pelajaran darinya. Beberapa guru menasihati untuk bersabar dan tetap masuk mengajar tetapi dia teguh dengan pendiriannya. “Biarkan saja, siapa suruh membandel” demikian closing statement yang dia ucapkan setelah beberapa menit menumpahkan kekesalannya.

Jika anda pernah menyaksikan potongan sinetron seperti kisah di atas, selamat anda sudah bertemu dengan guru yang mengidap ke-cingkrang-an berpikir. Bagaimana mungkin dia rela mengorbankan kepentingan siswa demi memuaskan ke-cingkrang-annya. Aneh kan? Mengapa dia tidak mencoba berpikir lebih jauh, merganalisa secara mendalam untuk mengetahui permasalahan yang sesungguhnya. Setelah itu mencarikan jalan keluar yang lebih bijak. Bukan dengan menunjukkan kekerdilan jiwa, lari dari tanggung jawab dan mengorbankan integritasnya sebagai pendidik. Jelas ini bukan karakter guru yang pantas dilestarikan.

Kita tentu sangat prihatin dan maklum betapa karakter anak didik kita terkadang di luar batas kewajaran. Ruang-ruang pemberitaan hampir setiap hari tersuguhi berita tentang peserta didik yang melawan guru atau berbagai jenis perilaku menyimpang lainnya. Tetapi hal ini tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan dan mengabaikan mereka. Jika kita melihat persoalan ini secara komprehensif, maka kita akan mengetahui bahwa prilaku anak-anak kita tidak berdiri sendiri tetapi merupakan akumulasi dari banyak faktor yang saling berkaitan. Faktor lingkungan, keluarga, pemerintah, bahkan termasuk pihak guru (sekolah). Ditambah lagi dengan gegap-gempitanya perkembangan teknologi yang memengaruhi sikap dan mental peserta didik. Bisa jadi perilaku konyol anak-anak kita adalah akibat dari kegagapan menghadapi perkembangan zaman. Jadi persoalannya tidak sesederhana membuat keputusan untuk mogok mengajar dan mencopoti hak peserta didik untuk mendapatkan pembelajaran.

Lalu apa yang harus dilakukan? Setiap guru harus memahami identitas dirinya. Seorang penulis pernah mengatakan bahwa ada perbedaan mendasar antara ‘Saya bekerja sebagai guru’ dan ‘Saya seorang Guru’. Yang pertama berbicara tentang profesi dan yang kedua berbicara tentang identitas. Profesi terkait dengan gaji, sedangkan identitas berbicara tentang nilai. Guru yang memahami identitasnya sebagai pendidik akan bekerja berdasarkan nilai. Dan ini jauh melebihi sekadar menjalankan fungsi profesi. Nilai-nilai identitas ini terpancar dari cara berinteraksi dengan siswa dan rekan guru serta semua orang di sekitarnya.

Guru harus bisa diteladani, diguguh dan ditiru. Menebarkan semangat, memberikan motivasi, serta bijak dalam bertindak. Begitu banyak problem pembelajaran yang terjadi di kelas hanya karena pola interaksi antara guru dan peserta didik yang tidak harmonis. Maka pola interaksi ini yang perlu dijaga dengan baik untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondisif. Tentu saja tanpa melupakan hal-hal lain yang tidak kalah pentingnya. Misalnya yang terkait dengan kemampuan dan kompetensi guru serta kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Semoga ke-cingkrang-an berpikir segera berakhir.

Senin, 12 Agustus 2019

Sembelihlah Egomu!


"Siapkan garasi sebelum anda membeli mobil". Demikian kalimat yang terpampang pada sebuah spanduk yang terbentang gagah di sebuah lorong. Lorong ini sempit hanya cukup untuk satu mobil, berpapasan dengan sepeda motor pun salah satunya harus mengalah, minggir dan berhenti sejenak. Seorang warga memiliki mobil, karena tidak punya garasi mobilnya dia parkir di jalan depan rumahnya yang meskipun terparkir sangat mepet ke tembok rumah tetap saja menghambat kendaraan yang lalu lalang. Warga menjadi jengkel dan memicu pemasangan spanduk bermakna sindiran tersebut.

Masih soal lorong dan mobil. Seorang teman bercerita bagaimana dia seringkali harus turun dari mobil untuk memindahkan benda-benda atau kendaraan yang terparkir di tepi lorong masuk rumahnya. Sudah capek pulang kerja malah dapat pekerjaan tambahan merapikan lorong dari penghalang kendaraan. Begitu keluhan teman tadi.

Inilah pernak-pernik hidup bermasyarakat, yang jika tidak bijak menyikapinya akan menjadi penyebab terjadinya Ketidakharmonisan. Betapa tersiksanya hidup dalam masyarakat yang tidak harmonis.

Masyarakat adalah kumpulan orang dengan latar belakang yang berbeda-beda juga memiliki karakter dan ego masing-masing. Dibutuhkan kearifan untuk melebur ego dan kepentingan pribadi ke dalam kepentingan bersama.

Sangat tepat ketika Islam menjadikan ibadah qurban sebagai bagian dari syariat agama. Qurban bisa diartikan sebagai simbol kentalnya sifat sosial dan kesetiakawanan dalam Islam. Batalnya penyembelihan Ismail oleh Ibrahim sebagaimana kisah awal syariat qurban ini juga menunjukkan bahwa derajat kemanusian dihargai dengan begitu tinggi. Darah manusia tidak pantas untuk dikucurkan tanpa alasan yang hak. Karena itu tenggang rasa, saling pengertian dan hormat menghormati menjadi perkara yang layak di kedepankan dalam hubungan antar sesama.

Dalam kenyataannya, seekor sapi, domba atau kambing yang disembelih. Tetapi hakekatnya, sifat-sifat kebinatanganlah yang kita kikis dalam diri kita. Sifat rakus, aniayah, dan egois adalah di antara sifat-sifat binatang yang tidak pantas bersarang dalam diri.

Nabi Ibrahim AS harus meminta pendapat anaknya, Ismail. Meskipun dia yakin bahwa perintah penyembelihan itu benar-benar dari Allah. Lihatlah betapa Nabi Ibrahim membuang egonya.

Maka sembelihlah egomu! Agar tercipta keharmonisan hidup bermasyarakat.


Selamat Idul Adha 1440 H


Senin, 15 Juli 2019

Olahraga Produktif

Setiap orang memiliki motivasi tersendiri untuk berolahraga. Karena itu lahirlah beberapa varian olahraga. Pertama, ada yang berolahraga semata-mata karena alasan kesehatan. Kelompok ini sadar betul betapa pentingnya gerak tubuh dalam menunjang kesehatan. Karena motivasinya hanya untuk kesehatan mereka biasanya tidak mempedulikan bentuk olahraganya. Yang penting bergerak dan menghasilkan keringat. Joging adalah salah satu bentuk olahraga yang banyak dipilih oleh kelompok ini. Terutama bagi mereka yang terlambat sadar, giat berolahraga setelah usia mendekati finis. Joging, murah meriah tidak membutuhkan keahlian khusus dan juga peralatan yang ribet. Yang penting bisa jalan,  sempoyongan pun tak masalah.

Kedua; mereka yang berolahraga karena dorongan hobi, kesenangan. Mereka biasanya fokus pada olahraga tertentu, bahkan olahraga ekstrim sekalipun.  Kelompok ini terkadang nekad menyalurkan hobinya. Tidak jarang olahraga jenis ini menelan banyak korban. Penyuka olahraga ekstrim sepertinya yakin punya nyawa serep. Berani menantang maut. MotoGP bisa dimasukkan pada kategori ini. Sirkuit sudah menelan banyak korban tetapi minat orang terhadap jenis olahraga ini tak kunjung surut.

Ketiga; dorongan untuk berprestasi, disebut olahraga prestasi. Orang yang menekuni olahraga jenis ini adalah mereka yang dipersiapkan atau mempersiapkan diri untuk berbagai event kejuaraan. Baik atas nama perorangan maupun atas nama lembaga, institusi. Berolahraga dengan motivasi untuk meraih juara. Imbalannya adalah hadiah, medali, aneka macam bonus, dan ketenaran. Pelaku olahraga ini telah banyak mengharumkan nama bangsa. Memperkenalkan Indonesia di dunia internasional. Rudi Hartono adalah legenda bulutangkis Indonesia yang namanya abadi sepanjang sejarah bulutangkis. Tidak tanggung-tanggung, juara All England 8 kali tahun 1960-an hingga 1970-an dan juara dunia tahun 1980.

Keempat, olahraga sebagai profesi. Olahraga yang dijadikan sebagai profesi. Mereka yang menekuni olahraga ini bukan sekadar kesenangan, tidak juga semata untuk kesehatan tetapi baginya olahraga adalah mata pencaharian, tempat menggantungkan hidup. Untuk urusan yang satu ini olahraga telah menyumbangkan banyak atlit atau olahragawan dalam deretan orang-orang kaya di dunia. Cristiano Ronaldo adalah salah contoh pesepak bola yang menjadi milyarder, yang membuat kita pusing bagaimana dia menghabiskan uangnya.

Sejak dulu olahraga sudah melahirkan industri tersendiri dengan perputaran uang yang sangat cepat. Banyak perusahaan yang menjadikan olahraga sebagai mesin pencetak uang. Mulai dari perlengkapannya hingga kostum pemainnya. Belum lagi perhelatannya yang melibatkan banyak sektor. Olimpiade, Piala Dunia, Piala Eropa, Piala Thomas dan Uber adalah deretan pesta olahraga yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat internasional. Dan ini merupakan keuntungan besar bagi dunia industri.

Jenis kelima saya menyebutnya olahraga produktif. Olahraga multiguna, menyehatkan, menyenangkan, dan juga bisa menghasilkan. Melihat prospeknya yang cukup menjanjikan, saya memilih olahraga ini untuk saya tekuni. Selain karena sepertinya olahraga jenis inilah yang paling cocok untuk saya. Gerakannya bebas tak terikat. Pakaiannya tak harus aneh-aneh seperti olahraga tertentu yang orang lebih tertarik menonton pemainnya yang berpakaian seadanya daripada menikmati permainannya. Tidak juga dipusingkan dengan aturan-aturan tak beraturan mulai dari tingkat RT hingga internasional.

Berkebun, inilah olahraga yang saya tekuni. Saya kategorikan sebagai olahraga produktif. Berkebun menyehatkan. Mencangkul, menebas ilalang, menjolok mangga, menyiram, dan mensupervisi tanaman adalah gerakan-gerakan yang menyegarkan,  menghasilkan keringat dan menyenangkan.

Produktif? Iya. Berkebun juga membuahkan hasil, hasil kebun tentu. Setidaknya bisa membantu meringankan beban keperluan dapur. "Kalau cabe mahal, ya tanam cabe di halaman," Jadi ingat solusi rada konyol dari seorang pejabat ketika harga cabe melonjak tinggi, tinggi sekali.

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu ayah saya menanam mangga di halaman rumah. Kini ketika ayah saya sudah tiada, mangga yang dia tanam masih dinikmati buahnya. Mudah-mudahan menjadi amal jariyah baginya. Berkebun bukan saja produktif dalam hitungan duniawi tetapi juga produktif dalam ukuran ukhrawi. Menjadi ladang amal, amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun pelakunya sudah meninggal. Itulah sebabnya saya sering menolak jika buah mangga ayah saya dijual, biarkan dinikmati secara gratis, sebagai tabungan untuknya.

Berkebun insyaallah mendatangkan keberkahan. Jika hasil kebun kita bisa dinikmati orang banyak, terlebih jika gratis. Insyaallah sehat, insyaallah berkah.

Bagi Anda yang pusing memilih olahraga untuk menjaga kebugaran. Berkebun adalah pilihan terbaik. Kalau tidak punya kebun, maksimalkan halaman rumah. Kalau itupun sulit, boleh numpang pada kebun tetangga. Tetapi jangan lupa berdoa semoga dapat bagi hasil.

Selamat berkebun, dapat sehatnya dapat berkahnya.

Malino, 13 Juli 2019

Rabu, 29 Mei 2019

PENGUMUMAN KELULUSAN SMP NEGERI 1 PARANGLOE 2019





Selamat Kami ucapkan kepada segenap Siswa yang dinyatakan lulus, semoga bisa menjadi jembatan untuk meraih cita-cita di hari depan. Teruslah belajar dengan penuh semangat, masa depan yang gemilang ada di tangan kalian. Kami, guru-guru dan orang tuamu menanti karya-karya terbaik kalian. Buatlah kami bangga dengan prestasimu bidang apapun yang kalian pilih. Ingat! kalian adalah wajah masa depan Indonesia. Di pundakmu masa depan bangsa besar ini dipertaruhkan.

Teruslah melangkah untuk menjadi yang terbaik, jangan pernah ragu. Doa-doa terbaik kami Insyaallah akan selalu menyertai.

Kami bangga pernah menjadi bagian dari kisah hidup kalian 
Maafkan jika kami pernah khilaf

Silahkan lihat pengumumannya DI SINI

Senin, 20 Mei 2019

Semangat Ramadhan




Sekitar satu jam menjelang buka dengan sepeda motor saya berkeliling kampung. Ingin melihat situasi kampung di sore hari di bulan Ramadhan tahun ini. Ternyata situasinya tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Lorong dan jalan-jalan utama dijejali oleh ibu-ibu dengan tempat seadanya, sibuk menjual menu buka puasa, makanan dan minuman dengan berbagai varian. Pembelipun cukup ramai. Jika ulama ditanya tentang fenomena ini mungkin dia akan menjawab, "inilah berkahnya Ramadhan." Tetapi kalau ekonom yang dimintai tanggapan barangkali dia akan berkata, "Ramadhan mampu mengangkat ekonomi umat." Kesimpulannya, berkah Ramadhan membangkitkan ekonomi umat.

***

Anak saya minta izin mengikuti Tablik Akbar Ustadz Hanan Attaki di Makassar. Acaranya dipusatkan di Lapangan Karebosi, saya izinkan. Pukul 10 malam saya telpon, dia rupanya masih di Karebosi, acara masih berlangsung. Melalui video call anaknya saya memperlihatkan peserta menyesaki lapangan. Ah, anak muda sedang bersemangat, jangan diganggu. Ramadhan setidaknya telah membuat anak-anak muda ini memiliki girah keberislaman khas mereka. Rela berdesak-desakan hanya untuk merasakan suasana yang berbeda. Jika orang tua mereka senangnya duduk tafakur di masjid sambil meresapi ayat demi ayat dari Al-Qur'an yang dibacanya, atau memaksa matanya melek untuk mendengar ceramah ustadz yang silih berganti tiap malam. Maka anak-anak ini malah memilih berdiri berdesakan di lapangan.

***

Di masjid tempat tinggal saya, jamaah anak-anak dipisah dengan jamaah orang dewasa. Anak-anak dikumpulkan dengan sesamanya di teras masjid. Cara ini saya kira bagus agar anak-anak tidak lalu-lalang di shaf-shaf orang dewasa yang bisa menggangu ketenangan beribadah. Di teras masjid mereka dengan bebas shalat sesuai dengan batas pemahaman mereka tentang gerakan-gerakan shalat dan bacaan-bacaannya. Kesempatan yang mereka tunggu-tunggu rupanya adalah kalimat "waladhdhollin" dari imam. Begitu kalimat ini terucap oleh imam mereka segera menyambutnya dengan aamiin, hingga masjid dipenuhi oleh suara gemuruh.

Biarkanlah mereka menikmati Ramadhan ini dengan gaya mereka. Mereka butuh membenamkan memori tentang Ramadhan kedalam benaknya. Kelak di masa yang akan datang, mereka akan sibuk membuka kembali memori ini dan akan tersenyum sendiri mengenang masa-masa konyol ini. Ah, betapa indahnya Ramadhan. Semoga saja melahirkan rasa bangga menjadi Muslim. Maka biarkan saja jangan diganggu. Tugas kita hanyalah membimbing dan mengarahkan mereka bagaimana bersikap yang benar di masjid.

***

Sekitar pukul 11 siang, saya singgah di sebuah masjid. Setelah shalat tahiyatul masjid, datang tiga orang anak sekira kelas tiga SD. Salah seorang menuju saya dan minta izin untuk adzan. Saya tunjukkan jam dinding, dia tersenyum jam baru menunjukkan pukul 11.15. Dia mundur dan melanjutkan ritualnya, kejar-kejaran di halaman masjid. Hehe, ini semangat dalam versi lain. Terlalu!!!

***

Kaum Muslimin dari segala lapisan menjalani Ramadhan dengan semangatnya masing-masing. Betapa dahsyatnya energi Ramadhan. 

Sayangnya umat Islam belum mampu mengelola dengan baik energi ini. Pasca Ramadhan perlahan tapi pasti kehidupan kembali pada ritme yang sesungguhnya. Semangat berislam yang sangat terasa selama satu bulan sirna tersiram kerasnya godaan materialisme. Hedonisme kembali menguasai hajat hidup orang banyak. Masjid kembali sepi, anak-anak pun kembali pada pangkuan game online dan playstation. Masjid menjadi sunyi, tawa dan teriakan anak-anak nyaris tak terdengar lagi.

Itulah yang terjadi pada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Semoga saja tahun ini semangat Ramadhan tetap terpelihara menyertai langkah-langkah kita di bulan-bulan di luar Ramadhan. Menjadikan kita semua manusia-manusia takwa yang kehadirannya sangat dirindukan untuk kedamaian dan kesejahteraan alam ini. Aamiin.

Kontroversi Hari Kebangkitan Nasional



Memasuki abad ke 20,  nasionalisme berkembang di Indonesia. Paham yang berkembang di Eropa ini membawa perubahan besar dalam pola perjuangan melawan kolonialisme-imprealisme. Hal ini ditandai dengan tumbuhnya semangat kebangsaan yang kemudian menggeser pola perjuangan fisik yang bersifat kedaerahan ke arah perjuangan non fisik yang bersifat nasional (kebangsaan).  Indonesia pun memasuki babak baru,  masa pergerakan nasional.

Pergerakan nasional lahir sebagai wujud dari tumbuhnya kesadaran akan rasa senasib sepenanggungan di kalangan elit, terutama kaum terpelajar. Senasib sepenanggungan, kesamaan sejarah, kesamaan penderitaan sebagai bangsa yang terjajah dan oleh penjajah yang sama, Belanda.  Kesadaran ini yang kemudian memompakan energi untuk  bersama-sama bangkit berjuang dengan cara yang lebih modern sesuai dengan tuntutan zaman,  melalui organisasi pergerakan.

Masa pergerakan nasional telah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi Indonesia merdeka. Sangat pantas jika masa pergerakan nasional perlu dikenang untuk melestarikan semangat kebangsaan (nasionalisme) yang memenuhi dada para pejuang ketika itu. Hal inilah yang melandasi peringatan Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei.   

Dalam buku-buku sejarah terutama buku pelajaran  yang digunakan di sekolah-sekolah disebutkan bahwa penetapan  20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional didasarkan pada tanggal berdirinya Budi Utomo yang diyakini sebagai organisasi modern pertama yang bersifat nasional yang juga berarti pelopor kebangkitan nasional. Benarkah Budi Utomo adalah pelopor kebangkitan nasional? Jawaban dari pertanyaan ini sangat penting karena akan terkait dengan pertanyaan selanjutnya, sudahkah tepat 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional? Menurut penulis ada dua faktor yang perlu diperhatikan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama; kapan organisasi pertama didirikan dan kedua; bagaimana sifat perjuangannya.

Organisasi pertama

Tentang organisasi pertama yang didirikan antara lain dapat kita merujuk pada pendapat Ahmad Mansyur Suryanegara (1995). Dalam bukunya “Menemukan Sejarah” beliau menyebutkan bahwa penetapan Budi Utomo sebagai organisasi pelopor pergerakan nasional  tidak mempunyai landasan yang kuat. Hal ini didasarkan atas kenyataan bahwa tiga tahun sebelum berdirinya, sudah berdiri Syarikat Dagang Islam (SDI) tepatnya pada tanggal 16 Oktober 1905, yang kemudian berubah nama menjadi  Sarikat Islam (SI) satu tahun kemudian.  Fakta ini didasarkan atas hasil wawancara Tamarjaya dengan KH. Samanhudi, pendiri SDI pada tahun 1952. Hal yang sama diungkapkan oleh KH. Firdaus AN (1999) dalam bukunya “ Dosa-dosa Orde lama dan Orde Baru yang tidak boleh berulang kembali di era  reformasi”,  serta sejarawan Dr. Nina Herlina Lubis dalam pernyataannya seperti dikutif dari Tabloid Suara Islam edisi 21 (Mei 2007).

Dengan demikian, jika penetapan hari kebangkitan nasional didasarkan pada hari lahir Budi Utomo, maka hal ini jelas sangat keliru. Peringatan hari kebangkitan nasional yang paling tepat adalah tanggal 16 Oktober, hari berdirinya SDI/SI sebagai organisasi pergerakan nasional yang pertama.

Sifat perjuangan

Dalam konsep perjuangannya, Budi Utomo lebih memilih merapat kepada pemerintah Hindia Belanda daripada perjuangan untuk kepentingan rakyat. Anggotanya yang didominasi oleh pegawai Hindia Belanda, berusaha untuk tetap mempertahankan kedudukannya, misalnya dengan berupaya memperdalam Bahasa Belanda.  Dalam buku sejarah Nasional Indonesia jilid V yang tulis oleh Marwati Djoened Poeponegoro dkk (1990) yang dijadikan sebagai buku standar Sejarah Nasional dikatakan bahwa Budi Utomo sangat mementingkan pengetahuan akan Bahasa Belanda karena tanpa bahasa itu seseorang tidak dapat diharapkan mendapat kedudukan yang layak dalam jenjang kepegawaian kolonial.  

Kalaupun berpikir tentang rakyat maka yang diperjuangkan hanyalah suku Jawa dan Madura saja. Sebagaimana yang tercantum dalam anggaran dasarnya yang antara lain memuat tujuan Budi Utomo yaitu “ de harmonische ontwikkeling van land end volk van Java en Madura”, artinya : “kemajuan yang harmonis untuk nusa bangsa Jawa dan Madura” (Susanto Tirtoprojo, 1989). Dengan demikian  dapat dipahami bahwa   perjuangan Budi Utomo sama sekali tidak bercorak nasional  (kebangsaan) tetapi kedaerahan (kesukuan).   Budi Utomo sama sekali tidak berpikir tentang Indonesia, setidak-tidaknya selama kurun waktu 23 tahun (1908 – 1931). Dalam kurun waktu tersebut Budi Utomo masih menjadi organisasi eksklusif, “menutup diri dari keanggotaan di luar suku Jawa” (Ahmad Masyur Suryanegara, 1995).

Budi Utomo bukanlah organisasi yang bersifat nasional karena nyatanya organiasi ini hanya fokus pada perbaikan nasib orang-orang Jawa dan Madura saja. Budi Utomo juga bukan organisasi yang gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pengurusnya yang terdiri atas para pegawai Hindia Belanda (Ambtenaar) dan kaum bangsawan (ningrat) justru terdiri atas orang-orang yang sangat patuh kepada pemerintah Hindia Belanda. Tidak mungkin mereka dapat memobilisasi rakyat untuk menentang Belanda, karena hal itu berarti mengancam kedudukan mereka.  Itulah sebabnya maka tokoh-tokoh muda seperti dr Sutomo (pendiri Budi Utomo) dan dr Tjipto Mangunkusumo memilih keluar dari organisasi itu.

Dengan sifatnnya yang moderat itu, menurut Asvi Arman Adam (2007), Budi Utomo mendapat sambutan yang baik dari pemerintah Belanda dan dianggap sebagai bukti keberhasilan politik etis.  Karena itu pada tahun 1909 organisasi ini diresmikan oleh pemerintah Belanda sebagai organisasi yang sah. Kedekatan antara Budi Utomo dengan pemerintah Belanda pada akhirnya   memicu kecurigaan dari organisasi-organisasi anti pemerintah terhadap keberadaan budi Utomo sebagai “anak emas” kolonial.

Lalu bagaimana  dengan Sarikat Islam?  Sejak awal berdirinya, Sarikat Islam telah berada di barisan terdepan sebagai organisasi yang memperjuangkan nasib rakyat kecil, meskipun pada awalnya terbatas pada bidang ekonomi yang berbasis Islam, tetapi pada perkembangan selanjutnya SI terjun pada lapangan politik, pendidikaan, dan sosial budaya  yang konsisten memperjuangkan Indonesia merdeka. Perkembangan SI begitu menakjubkan, Sartono Kartodirjo (1992)  menggambarkan perkembangan SI ketika itu sebagai sebuah ‘banjir besar’. Kala itu, menurut Sartono, massa dapat dimobilisasi serentak secara besar-besaran, baik dari kota-kota maupun dari daerah pedesaan sehingga menimbulkan suatu pergolakan yang melanda seluruh Indonesia.

Perjuangan SI tidak terbatas pada etnis tertentu saja tetapi seluruh penduduk asli (pribumi). Hal ini tergambar jelas dalam tujuan organisasi ini sebagaimana yang tercantum dalam statutennya yaitu memajukan kepentingan rohani dan jasmani dari penduduk asli. Bahkan pada kongres tahun 1916 SI menegaskan bahwa istilah “nasional” dipergunakan untuk menegaskan bahwa SI mencita-citakan supaya penduduk asli menjadi satu natie, satu bangsa. Jadi ketika Budi Utomo masih bersikukuh dengan sifat kesukuannya, SI sudah meningkat ingin mempersatukan seluruh rakyat jajahan menjadi sebuah bangsa.  Dalam kongres tahun 1927 tujuan SI lebih dipertegas lagi yakni mencapai kemerdekaan nasional Indonesia, atas dasar agama Islam  (Tirtoprodjo, 1989).
Penetapan Hari Kebangkitan Nasional

Sangat jelas bahwa dari segi waktu (kapan) berdirinya dan sifat perjuangannya maka yang lebih pantas dijadikan sebagai pelopor kebangkitan nasional adalah Sarikat Dagang Islam dan bukannya Budi Utomo. Dengan demikian Hari Kebangkitan Nasional seharusnya diperingati setiap tanggal 16 Oktober bukannya 20 Mei. Sekarang tinggal menunggu keberanian dan ketegasan dari pemerintah untuk mengambil sikap terkait persoalan ini.

Masalah ini sangat penting sebagai bagian dari upaya pelurusan sejarah bangsa yang selama ini terkesan banyak dibengkokkan oleh para pemegang kebijakan dengan dalih demi stabiltas negara. Pertanyaannya kemudian apakah stabiltas dapat tercapai dengan memelihara kebohongan? Bukankah kebohongan itu yang justru selalu menimbulkan masalah. Penetapan Hari Kebangkitan Nasional harus segera dikembalikan sesuai dengan fakta yang sesungguhnya. Ini harus segera dituntaskan, kalau tidak, generasi mendatang akan  kehilangan kepercayaan terhadap sejarah bangsanya yang juga berarti meruntuhkan semangat nasionalisme yang telah dibangun dengan susah payah oleh generasi-generasi terdahulu.

Jumat, 10 Mei 2019

Bulan Tarbiyah


Ramadhan adalah bulan Tarbiyah, bulan pendidikan. Kita dididik untuk membiasakan perbuatan baik yang bernilai ibadah, mempertahankan puasa dari hal-hal pembatal. Dan itu butuh perjuangan berat. Kalau sekedar menahan diri dari makan dan minum, gampang tetapi menahan mulut dari bergunjing, menahan hati dari buruk sangka, menahan tangan dari melakukan perbuatan sia-sia, ini yang memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Pantas kalau orang yang berhasil melalui ujian Ramadhan diberi gelar manusia takwa, level kemanusiaan yang paling terhormat yang dengannya manusia akan dinilai di hadapan Allah. Manusia takwa, jenis manusia yang ingin dihasilkan oleh Ramadhan ini kehadirannya sangat dibutuhkan, tetapi sayangnya manusia jenis ini semakin langkah.

Maka puasa sebagai ibadah utama Ramadhan harus dilatihkan sejak kecil, meskipun bagi anak-anak puasa tidaklah wajib. Namun melatihnya adalah suatu keharusan. 

Saya dilatih berpuasa oleh orang tua saya pada usia 7 tahun. Dan langsung puasa full, menurut versi ayah saya, kalau versi saya tentu beda (hehe). Yang paling berat ada dua, pertama menahan lapar dan haus yang kedua bangun makan sahur. Ini untuk puasa standar anak-anak, orang dewasa tentu beda standarnya, semakin banyak variabel yang perlu diperhitungkan.

Bagaimana saya bisa "bertahan" dari godaan lapar dan haus? Ayah saya menjanjikan pakaian yang terbaik untuk lebaran. Dan ini dibuktikan. Saya pada akhirnya bisa tampil beda di lapangan tempat penyelenggaraan shalat Id. Dengan stelan jas lengkap saya berjalan dengan penuh kebangggaan membuat anak-anak lain menatap heran. Maklum pakaian model ini tak banyak yang mampu membelinya. Belum ada orang tua di kampung saya yang nekat memanjakan anaknya dengan pakaian semewa itu apalagi ukuran ayah saya yang hanya pedagang sayur keliling. Anaknya Kepala Desa saja sampai melotot, entah apa yang dipikirkannya. 

Untuk memastikan bahwa semua anak-anaknya berpuasa, ayah saya tidak hanya menjanjikan hadiah, tetapi juga menebar kecemasan, "Siapa yang tidak puasa akan diberi makan dengan nasi basi dan tulang ikan," sebuah menu dengan kombinasi yang cukup menakutkan untuk anak-anak di bawah umur. Dan Saya tidak punya pemikiran aternatif selain bahwa ayah saya tidak pernah bermain-main dengan hukum yang dia buat. Maka selapar dan sehaus apapun, saya harus bertahan.

Bangun sahur. Nah,  ini masalah berat kedua. Saya terkadang dikeroyok dibangunkan oleh ayah, ibu dan kakak saya. Mereka seperti beradu trik membangunkan raksasa tidur. Ibu dengan teriakan khasnya sambil meracik bumbu di dapur, kakak saya dengan gelitiknya disertai cubitan kesal. Namun, biasanya yang berhasil membangunkan adalah ayah. 

Ayah tidak bersuara, dia hanya mendatangi tempat tidur, mengangkat saya, mendudukkan di depan piring nasi dan membasuh muka saya dengan air, hehe. Ini cara yang paling ampuh membuat kantuk tak berdaya. Aksi tanpa kata, operasi senyap!

Ayah dan ibu saya meskipun pemahaman keagamaannya sangat terbatas, tetapi dari keterbatasan itu mereka paham bahwa penanam nilai-nilai ketakwaan harus diusahakan sedini mungkin, sejak kecil. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda, "Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika telah berumur tujuh tahun. Dan apabila telah berumur 10 tahun belum shalat, maka pukullah ia." Dalam hal melatih anak-anak berpuasa, sebuah riwayat menceritakan bahwa para sahabat Nabi biasa menyediakan mainan yang terbuat dari bulu (sejenis boneka) untuk anak-anak mereka saat berpuasa. Jika anak-anak menangis mereka membujuk dengan memberikan mainan itu. 

Pada intinya adalah bagaimana menanamkan ketaatan pada perintah Allah sejak dini. Anak-anak yang sudah terbiasa melakukan ketaatan sejak kecil biasanya akan terbawa hingga dewasa, demikian pula sebaliknya.

Ramadhan adalah waktu yang terbaik untuk mengajarkan dan membiasakan perbuatan baik. Puasa, shalat berjamaah, tilawah Qur'an, sedekah dan amalan-amalan baik lainnya. Demikian pula dengan pendidikan pengembangan diri misalnya dengan melatih  percaya diri anak melalui praktek MC, kultum, adzan atau tilawah Qur'an di masjid-masjid.

Konon kebiasaan yang terus menerus diulang-ulang selama 30 hari akan menjadi habbit. Suatu kebiasaan yang secara otomatis muncul ketika menghadapi situasi tertentu, reaksi otomatis bahkan tanpa dipikirkan. Orang yang terbiasa minum kopi di pagi hari akan merasakan keanehan jika suatu saat dia tidak menemukan secangkir kopi di pagi hari. Orang yang terbiasa tidur siang pada jam 2 siang akan merasakan kantuk ketika jam 2 siang belum juga beranjak tidur. Orang yang terbiasa bergegas ke masjid ketika terdengar adzan akan kelihatan gelisah saat diminta menyelesaikan pekerjaan di saat adzan sudah berkumandang. Orang yang terbiasa bangun sahur pada jam 3 dinihari secara otomatis akan terbangun pada waktu itu meskipun tidak dibangunkan. Demikian seterusnya. 

Semoga Ramadhan tahun ini kita jadikan sebagai waktu terbaik untuk menumbuhkan kebiasaan baik dalam diri, kekuarga, dan lingkungan kita. Insya Allah kita semua benar-benar akan menjadi manusia takwa yang didambakan.

Minggu, 05 Mei 2019

Menyambut Ramadhan


Tradisi menyambut Ramadhan sangat bervariasi. Setiap orang punya cara tersendiri dalam mengagungkan kedatangan bulan mulia ini. Ada yang rela berdesakan di pasar-pasar berburu bahan pokok untuk menu makan sahur dan berbuka puasa. Puasa pertama menunya harus spesial sebagai pemompa semangat menjalankan ibadah puasa, terutama mereka yang sedang melatih anak-anaknya berpuasa, menu sahur dan berbuka sangat menentukan. Maka kita bisa menyaksikan pasar dan pusat-pusat perbelanjaan mengalami over kapasitas menjelang Ramadhan, sebuah semangat yang menggembirakan. 
Ada pula yang memilih mendatangi sanak kerabat untuk bersilaturahim, saling memaafkan, mendoakan, membersihkan hati dan pikiran agar tenang menjalani Ramadhan. Ramadhan adalah bulan suci maka selayaknya disambut dengan hati yang suci. Mungkin di situ korelasinnya. Ziarah kubur juga menjadi tradisi menjelang Ramadhan, peziarah ini datang “bersilaturahim” kepada keluarganya yang telah tiada membagikan doa-doa untuknya. Kebahagiaan memasuki Ramadhan harus pula dirasakan oleh mereka yang telah mendahului kita.
Sebagian yang lainnya menyambut Ramadhan dengan mendatangi tempat rekreasi. Walaupun ini sedikit unik jika dihubungkan dengan Ramadhan tetapi baiknya kita berbaik sangka bahwa mereka merasa perlu untuk memastikan bahwa hatinya senang, bahagia dan dengan rekreasi kesenangan itu mereka peroleh. Keunikan cara ini datang dari kalangan anak muda. Mereka menyambut Ramadhan dengan mendaki gunung. Makan sahur ratusan meter di atas permukaan laut, di puncak gunung dalam cuaca dingin mungkin memberikan sensasi yang luar biasa nikmat bagi mereka. Atau mungkin juga mereka merasa sangat dekat dengan Allah jika berada di ketinggian? Ah, semoga tidak, kedekatan seseorang dengan Allah tidak ditentukan oleh jarak tetapi oleh kesucian hati. Anak muda memang sering membuat bingung, masjid tersedia di depan rumahnya tetapi malah memilih puncak gunung untuk shalat tarwih.
Bagaimana dengan pedagang? Kedatangan Bulan Ramadhan adalah kesempatan bagi kaum pedagang untuk meraup keuntungan yang besar, kebutuhan akan segala jenis barang dan jasa meningkat tajam. Pemerintah malah sering dibuat kelabakan dalam mengontrol harga-harga yang sering berjalan di luar kendali, hanya mengikuti naluri pedagang. Ramadhan adalah bulan panen rezki. Itulah sebabnya selama Ramadhan banyak orang mendadak jadi pedagang, itu sah dan sangat wajar. Setiap orang tidak ingin melepaskan kesempatan berharga ini. Dan mungkin demikianlah cara mereka menyambut Ramadhan.
Seorang teman memilih cara tak biasa setiap menyambut Ramadhan. Dia adalah seorang pedagang yang sangat sibuk. Hampir-hampir tidak punya waktu luang, aktivitasnya terkonsentrasi pada barang-barang dagangannya yang beraneka ragam. Mulai dari keperluan dapur, peralatan rumah tangga, pakaian sampai urusan travel umrah dan haji. Kebayangkan bagaimana sibuknya? Apa yang dilakukannya menyambut Ramadhan? Jika Anda membayangkan bahwa dia menambah modal usahanya, memperluas jejaring bisinisnya, dan menambah pekerjanya, Anda keliru. Justru di minggu akhir Bulan Sya’ban dia mulai mengurangi aktivitas dagangnya dan memasuki Ramadhan dia hanya menjalankan usaha di rumahnya. Kalau biasanya dia keliling dari pasar yang satu ke pasar yang lain, di Ramadhan dia hentikan sama sekali. Ketika ditanya, kenapa berhenti berdagang? Jawabnya simpel, tidak ingin perdagangan membuatnya lalai dari ibadah. Saya angkat jempol dengan teman saya ini. Bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan bisikan dunia, di saat orang berlomba-lomba mencarinya, hanya karena takut ibadahnya terganggu. Hebat, semoga istiqamah.
Ramadhan adalah sebuah proyek besar , keuntungan yang ditawarkan sangat menggiurkan. Kita dipersilakan memilih model keuntungan yang ingin diraih, keuntungan dunia atau keuntungan akhirat. Merugilah seseorang yang hanya mengejar keuntungan dunia yang sementara dan tidak hirau dengan keuntungan akhirat yang abadi. Maka jika Anda memandang Ramadhan sebagai proyek akhirat maka selamat anda telah berada di jalan yang benar. Ramadhan jangan disia-siakan, boleh jadi Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir buat kita, maka bersungguh-sungguhlah dalam mempersiapkan diri. Sukses Ramadhan sangat tergantung dari sesiap apa kita menghadapinya.
Perbaharui kembali pemahaman mengenai ibadah-ibadah Ramadhan, hukum di sekitar puasa, zakat, sedekah, i’tikaf dan yang lainnya. Susun rencana dengan baik, shalat sunnahnya, tilawah Qur’annya, dan pengajian serta aktivitas ibadah lainnya. Jangan lupa memasang target dengan benar dan konsisten dengan rencana yang telah dipersiapkan. Semoga kita semua diberi kekuatan lahir dan bathin dalam menjalani ibadah Ramadhan dan meraih gelar takwa yang dijanjikan Allah dengan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, aamiin.
Marhaban ya Ramadhan.

Jumat, 03 Mei 2019

Budaya Mendidik




Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini mengangkat tema “ Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan.” Tema ini kembali mengingatkan kita tentang eratnya  kaitan antara pendidikan dan kebudayaan. Mungkin karena itulah keduanya digabung dalam satu kementrian yang disebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan ditujukan untuk  mengembangkan, melestarikan dan mentrasfer budaya atau bahkan menciptakan budaya baru. Demikian pula, budaya adalah sumber inspirasi dan dasar pijakan dalam pengembangan pendidikan. Sehingga kita dapat menyaksikan bahwa tradisi pendidikan suatu negara sangat ditentukan oleh budaya yang dianut oleh masyarakat pendukungnya.

Keterkaitan antara pendidikan dan kebudayaan telah dikemukakan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Menurutnya, pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat.

Penjelasan ini memberikan gambaran bahwa pendidikan hakikatnya adalah penanaman dan penguatan karakter yang baik kepada peserta didik, yang sebenarnya adalah embrio dari sebuah masyarakat. Pada akhirnya harus diakui bahwa pendidikan adalah upaya mempersiapkan, membina dan memelihara masyarakat yang beradab. Untuk itu pendidikanlah yang berperan dalam memastikan masyarakat tetap terikat dengan budayanya. Tanggung jawab ini sangat berat. Karena itu harus dipikul bersama oleh tiga lembaga yang disebut tri pusat pendidikan, yaitu;  keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Keluarga adalah madrasah pertama seorang anak. Dalam ruang-ruang keluarga anak-anak diperkenalkan karakter, seperti adat sopan santun, kejujuran, saling hormat menhormati dan nilai-nilai luhur lainnya. Dalam keluarga pulalah anak-anak ditanamkan keimanan dan ketakwaan yang menjadi rumah besar bagi bersemayamnya karakter yang baik dalam diri anak-anak. Diperlukan kerja sama dan saling memahami peran masing-masing dari anggota keluarga untuk mengembang tugas ini. Ayah dan Ibu memegang peranan yang paling menentukan. Mereka berdua adalah role model bagi anak-anaknya. Anak punya kecenderungan untuk meniru ucapan, tindakan atau kebiasaan yang sering diperlihatkan oleh orang tuanya. Jika orang tua menginginkan anak-anaknya berkarakter baik maka orang tua berkewajiban untuk memberi teladan terhadap prilaku-prilaku baik yang ingin ditanamkan dalam jiwa anak. Keluarga juga harus menjadi tempat bernaung yang memberi rasa aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak-anak baik secara fisik maupun spikis. Andai keluarga bisa menjalankan perannya dengan benar maka separuh dari problem pendidikan kita hari ini selesai.

Sekolah adalah lembaga kedua yang memiliki peran penting bagi keberlangsungan pendidikan. Tempat anak-anak berinteraksi dengan guru dan teman-teman sebayanya. Anak-anak datang dari berbagai lembaga keluarga dengan latar belakang dan karakter yang berbeda-beda. Tugas sekolah adalah memberi jaminan bagi tumbuhnya budaya yang saling memahami dan toleransi terhadap perbedaan. Anak-anak harus bisa bekerja sama dengan teman-teman mereka tanpa mempersoalkan keragaman yang ada. Bahwa keragaman bukan untuk dipertentangkan tetapi untuk disinergikan dalam kebersamaan mencapai cita-cita bersama.

Sekolah menjadi laboratorium budaya terbesar,  tempatnya menguji budaya yang sesuai dengan kepribadian bangsa, budaya yang mendukung kemajuan, serta budaya akan memuliakan manusia. Sekolah harus memerdekakan manusia dari budaya merusak yang akan mencederai bangsa ini dan akan memerosokkan manusia ke dalam jurang kehinaan. Upaya ini diintegrasikan dalam pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler serta aktivitas sekolah yang lain.  Semua komponen sekolah harus memahami tugas ini, kepala sekolah, guru, pegawai, dan unsur lainnya yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses pendidikan.

Jika dalam keluarga orang tua adalah role model bagi anak-anak maka di sekolah guru adalah role model-nya. Guru harus tampil menjadi contoh bagi karakter yang ingin ditanamkan kepada peserta didik. Sekolah juga harus menjadi rumah yang aman dan nyaman tempat peserta didik mendapatkan kedamaian dalam menyelami ilmu pengetahuan, berpetualang melalui pengalaman-pengalaman yang menarik dengan teman sebayanya dan menikmati keteladanan dari guru-gurunya. Peranan sekolah yang seperti ini bisa terwujud hanya jika mendapat sokongan kuat dari negara terkait regulasi dan kebijakan yang propendidikan.

Berikutnya lingkungan. Lingkungan yang dimaksud adalah masyarakat. Masyarakat adalah tempatnya peserta didik hidup dan bergaul bukan hanya dengan teman sebayanya tetapi juga dengan orang lain dan juga dengan lembaga-lembaga lain. Kehidupan masyarakat sedemikian kompleks, jika peserta didik tidak cukup bekal maka mereka akan asing di tengah keramaian atau malah bisa tenggelam dalam arus kehidupan yang merusak. Bekal yang dimaksud adalah karakter, kompetensi  yang diperoleh dari keluarga dan sekolah.

Sebagai lembaga pendidikan, masyarakat semestinya menjadi tempat bersemainya budaya dan karakter yang membangun. Anggota masyarakat harus bahu membahu menyiapkan lahan yang kondusif bagi tumbuhnya karakter yang baik bagi masyarakat secara menyeluruh. Dalam ajaran Islam dikenal istilah amar ma'ruf nahi mungkar. Ajaran yang mengedepankan kebersamaan dalam masyarakat, merasa turut bertanggung jawab atas apapun yang terjadi. Amar ma'ruf berarti saling mengajak untuk berbuat baik, sedangkan nahi mungkar adalah saling mengingatkan untuk bersama-sama menghindari kemungkaran atau kerusakan. Amar ma'ruf nahi mungkar akan membentengi masyarakat dari prilaku amoral yang akan merusak moral anak-anak kita.

Jelaslah bahwa budaya dan pendidikan tidak bisa dilepaskan. Keduanya memiliki porsi yang sama dalam mewujudkan manusia seutuhnya. Orang yang terdidik bukan hanya mereka yang pintar secara intelektual tetapi juga mereka yang tidak tercerabut dari akar budayanya. Pikirannya boleh saja dipenuhi oleh teori-teori ilmu dan filsafat Barat atau Timur tetapi kepribadiannya tetap berpijak pada kearifan budaya lokal miliknya. Budaya yang sesuai dengan fitranya sebagai makhluk ciptaan Allah yang mempunyai kewajiban untuk tunduk dan taat atas perintah-Nya. Maka Pendidikan yang berbudaya sesungguhya adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran akan kedudukan manusia sebagai hamba Allah sekaligus sebagai khalifah-Nya di muka bumi.


Kamis, 25 April 2019

Spirit Sejarah Lokal




Henry Ford pernah berkata “ History is bunk”, sejarah itu bohong. Pernyataan ini mewakili sebagian orang yang beranggapan bahwa sejarah tidaklah berguna dan untuk itu tidak perlu buang-buang waktu untuk mengajarkannya. Ketika penulis mengusulkan agar sejarah lokal dimasukkan sebagai salah satu pelajaran muatan lokal di sekolah, seorang teman dengan sinis berkata, “apa tidak ada mata pelajaran yang lebih berguna?” Benarkah sejarah tidak berguna?

Bung Karno punya jawaban yang cukup menarik mengenai masalah ini. Pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke VI (1951) beliau mengatakan : “Sejarah adalah berguna sekali. Dari mempelajari sejarah orang menemukan hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia. Salah satu hukum itu ialah: Bahwa tidak ada bangsa bisa menjadi besar zonder kerja. Terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran-kebesaran dan kemakmuran tidak pernah jatuh gratis dari langit. Kebesaran bangsa dan kemakmuran selalu kristalisasi keringat. Ini adalah hukum, yang kita temukan dari mempelajari sejarah”. 

Jawaban ini keluar dari mulut seorang yang bukan sekedar ahli dalam teori-teori sejarah tetapi sekaligus seorang pelaku sejarah yang sudah membuktikan betapa romantisme masa lalu, mampu membakar semangat rakyat untuk berjuang membebaskan diri dari penjajahan. Dalam konteks ini jelas sekali bahwa sejarah bukanlah masa lampau untuk masa lampau, tetapi sejarah adalah masa lampau untuk masa depan. 

Dalam menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks sebagaimana yang kita hadapi saat ini, masalah kesejarahan - khususnya sejarah Gowa - terasa sangat penting untuk diperbincangkan kembali. Bukan tanpa alasan, sebab Gowa adalah bekas sebuah kerajaan yang cukup berpengaruh di kawasan Timur Nusantara, bahkan sampai ke mancanegara. Dengan sejarahnya yang panjang, Gowa telah turut mengambil peran dalam percaturan politik, ekonomi dan sosial budaya di Nusantara. Dalam posisi yang demikian, sejarah Gowa sarat dengan makna hidup yang perlu diwariskan kepada generasi pelanjut.

Oleh karena itu, sejarah Gowa perlu untuk dipahami oleh setiap generasi, guna menumbuhkan apa yang sering disebut sebagai kesadaran sejarah. Yakni sikap mental, jiwa, pemikiran yang dapat membawa untuk tetap dalam rotasi sejarah (Juraid Abdul Latief; 2001).  Sikap ini akan membuat seseorang semakin arif dan bijaksana dalam memaknai kehidupan. Dengan karateristiknya yang berorientasi pada sikap mental, semangat dan muatan moral, maka masyarakat yang memiliki kesadaran sejarah tidak akan kehilangan nilai-nilai dasar yang sangat dibutuhkan dalam membangun sebuah masyarakat.

Dengan demikian, salah satu persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Gowa saat ini adalah bagaimana membangkitkan kesadaran sejarah itu. Mengingatkan orang-orang Gowa tentang kebesaran dan kejayaan Gowa di masa lalu, dan menjadikannya sebagai sprit dan motivasi untuk membangun.

Menurut penulis, setidaknya ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama; menjadikan sejarah Gowa sebagai muatan lokal wajib di sekolah-sekolah. Hal ini perlu dilakukan karena saat ini pemahaman siswa tentang sejarah Gowa sangat terbatas. Penyebabnya adalah karena sejarah lokal termasuk sejarah Gowa kurang mendapat tempat semestinya dalam kurikulum pelajaran sejarah (SMA) maupun IPS (SD dan SMP). Kalaupun sejarah Gowa diungkap hanya pada dua kesempatan yaitu ketika membahas tentang masuknya Islam di Indonesia dan ketika perjuangan Sultan Hasanuddin melawan VOC (Belanda). Tetapi bagaimana kerajaan Gowa tumbuh, berkembang, dan mencapai puncak kejayaannya, dan siapa saja tokoh-tokohnya yang berpengaruh tidak pernah dibahas secara detail.

Sangat bertolak belakang jika dibandingkan dengan beberapa kerajaan di Pulau Jawa yang diberikan tempat yang sangat memadai dalam kurikulum. Tidak mengherankan jika siswa sangat hapal sejarah Mataram, Singosari, Majapahit dsb. tetapi kebingungan ketika ditanya tentang sejarah kerajaan Gowa yang justru adalah daerahnya  sendiri.  Memilukan sekaligus memalukan!

Menjadikan sejarah Gowa sebagai muatan lokal sangat mungkin dilakukan. Dalam Buku Panduan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk SMP dikemukakan bahwa Ruang lingkup muatan lokal adalah lingkup keadaan dan kebutuhan daerah. Yang dimaksud dengan keadaan daerah menurut buku itu adalah  segala sesuatu yang terdapat di daerah tertentu yang pada dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan sosial budaya. Sedangkan kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat di suatu daerah, khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat tersebut, yang disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta potensi daerah yang bersangkutan. Salah satu kebutuhan daerah yang dimaksud adalah melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah. 

Dalam upaya melestarikan dan mengembangkan budaya daerah inilah sejarah lokal  memegang peranan penting. Sebab sejarah lokal mengandung unsur-unsur budaya lokal, yang keberadaannya perlu dilestarikan dan dikembangkan, tentunya dengan tetap memperhatikan relevansinya dengan nilai-nilai yang berkembang dan dianut oleh  masyarakat dewasa ini. 

Kedua; melestarikan peninggaan-peninggalan bersejarah. Sebagai sebuah kerajaan besar, kerajaan Gowa memiliki peninggalan-peninggalan bersejarah yang tersebar di berbagai tempat.  Peninggalan-peninggalan itu harus dijaga kelestariannya karena situs itulah yang menjadi saksi yang akan berdialog kepada generasi sekarang dan yang akan datang tentang Gowa di masa lalu. Adanya upaya revitalasasi sejumlah peninggalan bersejarah oleh Pemkab Gowa saat ini, semisal situs  Ballalompoa, perlu diapresiasi dengan baik. Mudah-mudahan setelah revitalisasi minat orang berkunjung ke tempat-tempat bersejarah terutama siswa semakin meningkat.

Penelitian yang penulis lakukan pada tahun 2006 menunjukkan bahwa minat masyarakat berkunjung ke tempat bersejarah sangat kurang. Di kalangan siswa misalnya, menurut data dari BPPP Makassar memperlihatkan bahwa siswa yang berkunjung ke tempat bersejarah di Gowa hanya sekitar 3,30%. Kenyataan ini menjadi pertanda betapa apresiasi siswa dan boleh jadi juga gurunya sangat minim terhadap sejarah daerahnya sendiri.

Jadi revitalisasi sebagai bagian dari pelestarian peninggalan sejarah sangat diperlukan, dengan catatan bahwa upaya tersebut tetap mempertahankan aspek keasliannya. Agar peninggalan bersejarah itu tetap memiliki “roh” sebagai warisan masa lalu yang mewakili jiwa zamannya. Dan tetap eksis sebagai simbol pergulatan hidup masyarakat pendukungnya.

Semoga dengan demikian, kebesaran Gowa ratusan tahun yang lalu akan selalu memberikan inspirasi kepada generasi-generasi sekarang dan yang akan datang untuk terus berkarya, mengejar impian-impiannya. Bukan tidak mungkin kebesaran Gowa akan kembali terulang ditangan generasi sekarang.