Channel YouTube

Minggu, 21 Agustus 2022

Setelah Pesta Usai



Dua tahun sepi. Tahun ini kita kembali merayakan ulang tahun kemerdekaan dengan meriah. Berbagai jenis lomba mewarnai hari-hari di bulan Agustus ini. Mengharukan, Indonesia sedang dalam mode bahagia.


Kebahagiaan yang merata dari rakyat yang paling jelata hingga ke pejabat-pejabatnya. Rakyat di pelosok-pelosok kampung hingga ke kota metropolitan cukup bahagia dengan lomba makan kerupuk, balap karung dan sejenisnya. Pejabatnya pun terlihat bahagia. Perhatikan saja mimik mereka yang berjoget koplo di istana merdeka. Begitu bahagianya.


Lalu setelah kemeriahan ini selesai, apa yang tertinggal?

Memperingati sebuah peristiwa sejarah tentu sangat penting. Bukan sekadar bernostalgia. Bukan pula sebatas seremoni. Tidak sama sekali. Memperingati sebuah peristiwa dimaksudkan untuk mengambil pelajaran dari peristiwa itu. Kejadian di masa lampau adalah rentetan pengalaman yang akan melahirkan kebijaksanaan bagi siapa saja yang ingin belajar. Saya setuju dengan kalimat bijak ini, "pengalaman adalah guru yang paling berharga".


Proklamasi adalah sebuah peristiwa besar. Dengannya nasib Indonesia berubah, dari sebuah bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang merdeka. Karenanya penting untuk selalu diingat, dipelajari dan terus dikaji. Dari perjuangan panjang menuju kemerdekaan, kita belajar tentang patriotisme, persatuan dan nilai-nilai kepahlawanan yang mestinya diwarisi oleh setiap generasi.


Maka event-event yang mewarnai pesta kemerdekaan ini haruslah yang mampu memantik kembali semangat/jiwa kepahlawanan itu. Semangat yang dulu dimiliki oleh para pejuang kemerdekaan untuk membebaskan bangsanya dari ketertindasan.


Kita butuh semangat itu lagi, karena perjuangan belum selesai. Kemerdekaan bukanlah tujuan, tetapi hanya jembatan yang akan mengantar kepada tujuan berbangsa dan bernegara, masyarakat adil dan makmur. Perjuangan akan terus berlanjut, dan kita butuh amunisi yang sudah teruji. Karena antangannya sangatlah berat. Kita sedang menghadapi penjajahan yang disamarkan. Fisik merdeka, tetapi jiwa terpenjara. Maka pekikan "merdeka" pun di hari-hari terakhir ini terasa hambar. Sebatas bunyi-bunyian yang terdengar nyaring tetapi tak bertenaga. Tidak punya efek apapun.


Berbeda dengan apa yang dialami oleh pejuang dahulu. Fisik mereka boleh saja terhalang oleh dinding penjara. Tetapi jiwanya bebas menyusuri relung hati bangsanya, menyalakan api perjuangan. Jiwa yang merdeka tidak pernah terbeli seberapa menggiurkannya tawaran yang datang.


Kita krisis jiwa merdeka. Lihatlah, begitu mudahnya bangsa ini dipecah belah, diadu domba. Ironisnya seringkali dilakukan oleh bangsa sendiri, mereka para pembajak kemerdekaan. Yang membelokkan cita-cita bangsa dari kemakmuran untuk seluruh rakyat, menjadi kemakmuran untuk golongan tertentu saja. Tantangan yang berat. Persis seperti yang pernah diucapkan oleh Bung Karno, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri".


Selain patriotisme kita juga butuh semangat persatuan dan kebersamaan. Proklamasi lahir dari kesatuan tekad dan kesamaan visi untuk Indonesia merdeka. Berproses dalam rentang waktu yang panjang, sepanjang usia penjajahan.


Kesungguhan kita menghadirkan kemeriahan hari kemerdekaan adalah bukti bahwa kita pun memiliki tekad yang kuat. Hanya perlu dikelola dengan baik, sehingga di masa yang akan datang energi yang terkuras ini tidak hanya digunakan untuk lomba makan kerupuk, balap karung, panjat pinang dan sejenisnya. Perlu lebih kreatif, karena pemiskinan dan pembodohan masih menjadi musuh yang harus dilawan bersama. Butuh energi besar untuk memeranginya.


Hal lain yang tidak boleh kita lupakan, dan ini yang seharusnya menjadi ruh bagi perayaan hari kemerdekaan, bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah dari penjajah. Tetapi nikmat Allah SWT, sebagai buah dari usaha keras para pejuang bangsa. Seperti yang diabadikan dalam pembukaan UUD 1945, "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan kemerdekaannya".


Perayaan hari kemerdekaan, adalah saat yang baik untuk mengukur kesyukuran kita kepada Allah SWT. Sejauh mana negeri ini sudah diatur sesuai dengan kehendak Sang pemberi nikmat. Kesadaran akan campur tangan Allah dalam kemerdekaan, mewujud dalam ketundukan dan ketakwaan kepada-Nya. Hanya dengan ketundukan kepada Allah yang akan mengantarkan kita kepada tercapainya cita-cita bangsa. Sebaliknya, menjauh dari Allah adalah bentuk kekufuran terhadap nikmat kemerdekaan dan menjauhkan bangsa ini dari tujuan mulianya.


"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya". (TQS Al-A'raf : 96)


 "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". TQS. Ibrahim : 7)


Semoga kalimat suci ini menjadi renungan untuk kita semua

MERDEKA!!!