Noureddine Boukrouh, politisi asal Aljazair membuat pernyataan yang dinilai kontroversi beberapa waktu yang lalu. Melalui akun facebooknya, Boukrouh mengimbau agar ibadah puasa tahun ini ditangguhkan dulu. Menurutnya, puasa memiliki risiko kesehatan dan dapat berkontribusi pada meluasnya coronavirus.
Di tanah air, pernyataan yang senada disampaikan oleh Rudi Valinka. Melalui akun Twitter @kurawa tanggal 5 April 2020, penulis buku “A Man Called Ahok” itu mengusulkan kepada Kemenag dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat fatwa untuk membolehkan orang tidak berpuasa. Valinka, mengusulkan puasa diganti dengan membayar fidyah (denda) dan memberi makan untuk orang miskin. “Ini cara yang paling ideal dalam kondisi sekarang,” katanya.
Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Prof Hasanudin AF memberikan tanggapan. Menurutnya, usulan tersebut tidak ada dasar hukumnya sehingga tidak perlu dikeluarkan fatwa.
“Gak berdasar, syariahnya itu apa. Karena orang yang boleh tidak berpuasa itu hanya orang sakit, ketika dalam perjalanan, dan orang tua renta,” ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (19/04/2020).
Menghilangkan puasa sama saja dengan menghalangi kebahagiaan bagi kaum Muslimin. Karena bagi kaum Muslim, Ramadhan adalah bulan kebahagiaan. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira ketika memasuki Ramadhan. Beliau bersabda :
“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”(HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385).
Hadist ini menunjukkan bahwa kita seharusnya bergembira dengan datangnya Ramadhan. Bagaimana tidak? Rasulullah SAW secara khusus mengabarkan kedatangan Ramadhan dan menyebutnya sebagai bulan yang diberkahi. Di dalamnya diwajibkan berpuasa. Ibadah yang sangat istimewa.
Sebuah hadist qudsi yang diriwayatkan dari Abu Huraerah Ra, Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman : “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung ”. (HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 ).
Ramadhan, bulan yang segala kebaikan dimudahkan. Dan jalan-jalan kemaksyiatan dipersempit, “pintu-pintu syurga dibuka. Pintu-pintu neraka ditutup”.
Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan ”Pintu-pintu surga dibuka pada bulan ini oleh karena banyaknya amal saleh yang dikerjakan, dan sekaligus untuk memotivasi umat Islam agar melakukan kebaikan. Pintu-pintu neraka ditutup karena sedikitnya maksiat yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman."
Pada bulan Ramadhan bahkan setan-setan diikat dan dibelenggu, tidak dibiarkan lepas seperti di bulan-bulan selain Ramadhan.
Bulan Ramadhan juga dikenal sebagai bulan ampunan. Allah mempersiapkan begitu banyak amalan yang bisa digunakan dalam meraih ampunan-Nya.
”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760)
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Berpuasa, menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah, dan shalat di malam lailatul qadar adalah rangkaian amalan yang akan menjadi sebab datangnya ampunan Allah.
Tidak ada seorang pun yang terbebas dari dosa. Karena itu meraih ampunan pasti menjadi harapan semua orang.Sungguh merugi orang-orang yang bertemu dengan Ramadhan namun dosa-dosanya tidak terampuni.
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Karena banyaknya pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapati pengampunan tersebut, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.”
Dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,
“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)
Saat berbuka orang berpuasa merasakan kebahagiaan. Bahagia karena telah berhasil menjalankan ibadah puasa. Lapar dan dahaga pun sudah terobati. Dan Kebahagiaan yang paling sempurna adalah ketika orang-orang yang berpuasa bertemu dengan Tuhannya. Saat Allah memperlihatkan pahala dan ganjaran syurga yang dijanjikan kepada Mereka.
Inilah beberapa alasan mengapa kaum Muslim seharusnya bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Pun di tengah-tengah kita berhadapan dengan bahaya covid-19.
Kegembiraan membawa pengaruh positif terhadap kesehatan. Dr. Naomi Soetikno, M.Pd, Psikolog dalam tulisannya di kompas.com mengatakan bahwa banyak hasil riset menjelaskan bahwa ada kaitan rasa bahagia dengan kesehatan dan imunitas tubuh.
Menurutnya, yang terjadi pada tubuh ketika individu merasa bahagia adalah, adanya pelepasan hormon seperti oxytocin, dopamin, dan serotonin. Ketiga hormon ini seringkali disebut sebagai hormon bahagia. Hormon-hormon ini diproduksi oleh hypothalamus. Oxytocin memberikan efek adanya rasa relaks. Oxytocin juga memberi pengaruh pada sistem imun di tubuh manusia.
Dr. Naomi menyimpulkan bahwa dengan memahami pentingnya merasa bahagia dan keterkaitannya dengan sistem imun tubuh, maka sangat perlu menciptakan kebahagiaan itu, khususnya di masa pandemik ini.
Sangat relevan dengan anjuran untuk bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan.
Tentu menciptakan rasa bahagia dalam keadaan sulit seperti ini bukan perkara gampang. Tetapi dengan tetap bersandar pada Allah, yakin dengan pertolongan-Nya, sambil terus berusaha mencari jalan keluar, maka bencana ini akan bisa dilewati.
Ingatlah kepada Allah maka hati akan tenang. Tetaplah bersabar. Ingat! Allah tidak akan membebani hambanya dengan sesuatu di luar batas kemampuannya. Maka tetaplah berprasangka baik kepada Allah, yakinlah dengan janji-janji-Nya.
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (QS. Huud: 6).
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)”
Perbanyaklah berdoa, bulan Ramadhan adalah waktu-waktu di mana Allah mengijabah doa-doa hambanya. Semoga Allah segera mengangkat wabah ini dan kita menjalankan Ramadhan dengan normal sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
Gowa, 1 Ramadhan 1441 H/24 April 2020





