Channel YouTube

Jumat, 24 April 2020

Ramadhan Telah Tiba, Bergembirah!



Noureddine Boukrouh, politisi asal Aljazair membuat pernyataan yang dinilai kontroversi beberapa waktu yang lalu. Melalui akun facebooknya, Boukrouh mengimbau agar ibadah puasa tahun ini ditangguhkan dulu. Menurutnya, puasa memiliki risiko kesehatan dan dapat berkontribusi pada meluasnya coronavirus.

Di tanah air, pernyataan yang senada disampaikan oleh Rudi Valinka. Melalui akun Twitter @kurawa tanggal 5 April 2020, penulis buku “A Man Called Ahok” itu mengusulkan kepada Kemenag dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat fatwa untuk membolehkan orang tidak berpuasa. Valinka, mengusulkan puasa diganti dengan membayar fidyah (denda) dan memberi makan untuk orang miskin. “Ini cara yang paling ideal dalam kondisi sekarang,” katanya.

Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Prof Hasanudin AF memberikan tanggapan. Menurutnya, usulan tersebut tidak ada dasar hukumnya sehingga tidak perlu dikeluarkan fatwa.

“Gak berdasar, syariahnya itu apa. Karena orang yang boleh tidak berpuasa itu hanya orang sakit, ketika dalam perjalanan, dan orang tua renta,” ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (19/04/2020).

Menghilangkan puasa sama saja dengan menghalangi kebahagiaan bagi kaum Muslimin. Karena bagi kaum Muslim, Ramadhan adalah bulan kebahagiaan. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira ketika memasuki Ramadhan. Beliau bersabda :

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”(HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385).

Hadist ini menunjukkan bahwa kita seharusnya bergembira dengan datangnya Ramadhan. Bagaimana tidak? Rasulullah SAW secara khusus mengabarkan kedatangan Ramadhan dan menyebutnya sebagai bulan yang diberkahi. Di dalamnya diwajibkan berpuasa. Ibadah yang sangat istimewa.

Sebuah hadist qudsi yang diriwayatkan dari Abu Huraerah Ra, Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman : “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung ”. (HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 ).

Ramadhan, bulan yang segala kebaikan dimudahkan. Dan jalan-jalan kemaksyiatan dipersempit, “pintu-pintu syurga dibuka. Pintu-pintu neraka ditutup”.

Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan ”Pintu-pintu surga dibuka pada bulan ini oleh karena banyaknya amal saleh yang dikerjakan, dan sekaligus untuk memotivasi umat Islam agar melakukan kebaikan. Pintu-pintu neraka ditutup karena sedikitnya maksiat yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman."

Pada bulan Ramadhan bahkan setan-setan diikat dan dibelenggu, tidak dibiarkan lepas seperti di bulan-bulan selain Ramadhan.

Bulan Ramadhan juga dikenal sebagai bulan ampunan. Allah mempersiapkan begitu banyak amalan yang bisa digunakan dalam meraih ampunan-Nya.

”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760)

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Berpuasa, menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah, dan shalat di malam lailatul qadar adalah rangkaian amalan yang akan menjadi sebab datangnya ampunan Allah.

Tidak ada seorang pun yang terbebas dari dosa. Karena itu meraih ampunan pasti menjadi harapan semua orang.Sungguh merugi orang-orang yang bertemu dengan Ramadhan namun dosa-dosanya tidak terampuni.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Karena banyaknya pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapati pengampunan tersebut, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.”

Dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)

Saat berbuka orang berpuasa merasakan kebahagiaan. Bahagia karena telah berhasil menjalankan ibadah puasa. Lapar dan dahaga pun sudah terobati. Dan Kebahagiaan yang paling sempurna adalah ketika orang-orang yang berpuasa bertemu dengan Tuhannya. Saat Allah memperlihatkan pahala dan ganjaran syurga yang dijanjikan kepada Mereka.

Inilah beberapa alasan mengapa kaum Muslim seharusnya bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Pun di tengah-tengah kita berhadapan dengan bahaya covid-19.

Kegembiraan membawa pengaruh positif terhadap kesehatan. Dr. Naomi Soetikno, M.Pd, Psikolog dalam tulisannya di kompas.com mengatakan bahwa banyak hasil riset menjelaskan bahwa ada kaitan rasa bahagia dengan kesehatan dan imunitas tubuh.

Menurutnya, yang terjadi pada tubuh ketika individu merasa bahagia adalah, adanya pelepasan hormon seperti oxytocin, dopamin, dan serotonin. Ketiga hormon ini seringkali disebut sebagai hormon bahagia. Hormon-hormon ini diproduksi oleh hypothalamus. Oxytocin memberikan efek adanya rasa relaks. Oxytocin juga memberi pengaruh pada sistem imun di tubuh manusia.

Dr. Naomi menyimpulkan bahwa dengan memahami pentingnya merasa bahagia dan keterkaitannya dengan sistem imun tubuh, maka sangat perlu menciptakan kebahagiaan itu, khususnya di masa pandemik ini.

Sangat relevan dengan anjuran untuk bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan.

Tentu menciptakan rasa bahagia dalam keadaan sulit seperti ini bukan perkara gampang. Tetapi dengan tetap bersandar pada Allah, yakin dengan pertolongan-Nya, sambil terus berusaha mencari jalan keluar, maka bencana ini akan bisa dilewati.

Ingatlah kepada Allah maka hati akan tenang. Tetaplah bersabar. Ingat! Allah tidak akan membebani hambanya dengan sesuatu di luar batas kemampuannya. Maka tetaplah berprasangka baik kepada Allah, yakinlah dengan janji-janji-Nya.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (QS. Huud: 6).

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)”

Perbanyaklah berdoa, bulan Ramadhan adalah waktu-waktu di mana Allah mengijabah doa-doa hambanya. Semoga Allah segera mengangkat wabah ini dan kita menjalankan Ramadhan dengan normal sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Gowa, 1 Ramadhan 1441 H/24 April 2020

Rabu, 22 April 2020

Kita Butuh Dakota Lagi

Dakota RI 001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama yang dipunyai Republik Indonesia. Pesawat ini merupakan cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama Indonesia, Indonesian Airways.

Tahun 1948 TNI AU berencana membeli pesawat angkut. Rencana ini disampaikan ke Presiden Soekarno, presiden menyetujui. Untuk itu Presiden Soekarno mengadakan perjalanan keliling Pulau Sumatera dalam rangka penggalangan dana.

Tanggal 16 Juni 1948 Presiden Soekarno tiba di Aceh. Di hadapan rakyat Aceh Presiden berpidato mengenai rencana pembelian pesawat. Beliau berhasil membangkitkan patriotisme. Dengan penuh semangat rakyat Aceh bersedia menyumbang untuk pembelian pesawat tersebut. Dari rakyat Aceh, panitia berhasil mengumpulkan sumbangan senilai 20 kg emas.

Sumbangan inilah yang kemudian digunakan untuk membeli sebuah pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Diberi nama Dakota RI 001 Seulawah. Seulawah adalah nama salah satu gunung di Aceh yang berarti gunung emas. Nama yang sekaligus menjadi tanda penghormatan terhadap semangat patriotisme masyarakat Aceh.

Cerita tentang pembelian pesawat Dakota, hanya satu dari sekian banyak peristiwa heroik yang menghias sejarah perjuangan bangsa. Sejarah tentang semangat gotong royong, yang ditunjukkan oleh orang-orang terdahulu. Kegotongroyongan inilah yang menjadi kekuatan bangsa kita dalam merebut dan mempertahkan kemerdekaan.

Di masa pandemik covid-19 ini, sepertinya semangat ini perlu untuk digelorakan kembali. Saya yakin ini akan menjadi kekuatan yang besar dalam menyelesaikan perkara-perkara yang ada. Kurangnya APD untuk tenaga medis serta dampak sosial ekonomi yang timbul akibat penerapan pembatasan sosial.

Akan tetapi apakah semangat gotong royong ini masih ada? Terus terang saya ragu. Mengingat bangsa kita terlanjur mengalami keterpecahan yang kronis. Imbas dari perpolitikan yang tidak sehat beberapa tahun terakhir.

Namun berita menggembirakan itu datang. Seorang bocah berusia 9 tahun bernama Akram Ataya asal Pangkep, Sulawesi Selatan. Bocah ini bercita-cita memiliki sebuah sepeda. Dia pun rajin menabung untuk memenuhi keinginannya itu. Tetapi pandemik covid-19 memaksa dia mengurungkan keinginannya. Celengannya dibongkar dan uang tabungan sebesar Rp 570 ribu disumbangkan ke Rumah Sakit Umum Daerah Batara Siang Pangkep untuk pembelian APD (suara.com, 12/04/2020).

Selanjutnya, Nu Online (10/04/2020) juga memberitakan aksi solidaritas anak bernama Muhammad Ridwan Asfi, Murid kelas 4 sebuah Sekolah Dasar di Rembang, Jawa Tengah. Asfi menyerahkan sumbangan untuk membantu penangan covid-19. Sumbangan dari hasil tabungannya sebesar Rp 100 ribu itu diserahkan ke Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Masih dari aksi bocah. Sinar Harapan.co memberitakan seorang murid Sekolah Dasar di Bandung bernama Muhammad Hafidz turut menunjukkan rasa simpatinya. Seperti dua bocah yang disebutkan sebelumnya, anak ini juga rela menyumbangkan hasil tabungannya untuk membantu penanganan covid-19.

Aksi anak-anak ini membuat haru. Masih kecil tetapi memiliki empati yang besar. Mengorbankan kepentingan dirinya untuk kepentingan orang banyak. Selamat untuk kedua orang tuanya, anak yang membanggakan. Semoga aksi anak-anak ini semakin menggugah banyak orang untuk turut ambil bagian dalam perang melawan covid-19.

Ternyata kita masih punya harapan. Jiwa kegotongroyongan belum padam, semangat bersatu juga belum luntur. Kesadaran untuk bersama menghadapi wabah ini bermunculan, bahkan sejak awal wabah covid-19 terdeteksi.
Penggalangan dana terus dilakukan. Secara pribadi, melalui lembaga sosial, kalangan kampus, dan kelompok-kelompok masyarakat yang lain . Harapannya, upaya ini menjadi padu, bergerak bersama dengan tujuan yang sama, menyelamatkan bangsa dari keterpurukan.

Kita tentu tidak ingin krisis ekonomi tahun 1998 terulang lagi. Kita telah merasakan betapa sulitnya masa-masa itu, ekonomi melambat, kerawanan sosial menajam hingga mengarah ke disintegrasi bangsa. Maka Pandemik ini tidak boleh membuat kita lemah. Saatnya semua pihak bersatu. Satu kata, satu gerak. Bukan waktunya mempertontonkan keegoan dan arogansi kelompok.

Ini menyangkut nyawa manusia. Menyelamatkannya harus menjadi prioritas dibanding yang lainnya. Presiden Ghana, Nana Akufo Addo usai mengumumkan lockdown parsial di Republik Ghana mengatakan, “Kami tahu cara menghidupkan kembali ekonomi. Yang kami tidak tahu adalah cara menghidupkan kembali manusia.” Pernyataan ini sempat menjadi trending topik di Twitter di tanah air beberapa waktu lalu. Sebuah ungkapan yang sangat cerdas dan layak dijadikan referensi dalam menentukan kebijakan.

Kita tidak punya waktu untuk tunjuk sana, tunjuk sini. Menyalahkan sana, menyalahkan sini. Kita berpacu dengan waktu, jika terlambat dampaknya akan mengerikan. Kematian tiap hari bertambah, yang positif pun demikian. Maka sekecil apapun bantuan yang diberikan akan sangat berharga.

Kita diwarisi keteladanan oleh para tokoh bangsa, para pejuang kemerdekaan. Betapa pun mereka berbeda pendapat tetapi mereka bisa melebur keegoan mereka, bersatu menghadapi musuh yang sama, kaum imprealis.

Undang-undang Dasar 1945 serta rumusan Pancasila yang ada di dalamnya adalah hasil kompromi dari beragam pandangan yang berbeda. Proklamasi 17 Agustus 1945 juga dihasilkan dari proses yang sama. Setelah kemerdekaan, semangat kebersamaan terus menerus diuji. Melalui ambisi Belanda yang ingin mempertahankan kekuasaannya. Demikian pula, gangguan dari bangsa sendiri yang ingin merebut kekuasaan.

Indonesia hari ini adalah, Indonesia yang sudah melalui banyak ujian di masa lalu. Dan bangsa besar ini bisa melewatinya. Dengan semangat bersatu yang ditanamkan Allah SWT ke dalam jiwa-jiwa para pendiri bangsa.

Maka sangat penting untuk mengeratkan kembali kebersamaan ini. Yang dengan itu rakyat Aceh menghadiahi Republik Indonesia sebuah Dakota. Sepertinya kita butuh Dakota lagi. Bukan pesawatnya, tetapi semangatnya yang akan memenangkan negeri ini dalam peperangan melawan corona.

Gowa, 21 April 2020

Sabtu, 11 April 2020

Dunia yang Dibalik

Ilustrasi ( Hidayatullah.com)

Nabi Luth A.S. diutus Allah SWT di Kota Sadum, penduduknya kemudian dikenal dengan sebutan Kaum Sodom. Kaum Sodom sangat buruk perilakunya, kafir dan senang berbuat dosa. Mereka memelopori perbuatan dosa yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari keturunan Nabi Adam sebelumnya, yaitu homoseks.

Dakwah Nabi Luth A.S. tidak digubris. Malah mereka hendak mengusir Nabi Luth dari negerinya. Allah SWT menurunkan azab untuk menghukum kaum Sodom. Negeri mereka dibalikkan oleh Allah dan dihujani dengan batu-batu dari tanah yang terbakar (TQS. 11 : 82).

Ibnu Katsir menceritakan dalam Kitabnya, Kisah Para Nabi. Penduduk di negeri itu semuanya diangkat ke atas termasuk hewan-hewan yang ada di dalamnya, rumah-rumah, perkebunan, beserta apapun yang ada di negeri tersebut. Semua diangkat hingga mencapai awan, sampai-sampai para penghuni langit dapat mendengar kokok ayam dan lolongan anjing dari dekat. Setelah terangkat ke atas, kemudian negeri itu diputar hingga bagian atas menjadi di bawah dan bagian di bawah menjadi di atas.

Demikian azab Allah atas negeri kaum Sodom. Negeri yang dibalikkan.

Selama empat pekan berkurung di rumah. Rasa-rasanya covid-19 ini telah menciptakan kondisi yang mirip dengan apa yang menimpa kaum Sodom. Kalau kita fokus pada kata “dibalik”. Bedanya, kaum Sodom negerinya yang dibalik (secara fisik). Sedangkan kondisi kita saat ini interaksi sosiallah yang dibalik.

Agama dengan jelas mengajarkan untuk memperkokoh silaturahmi, misalnya dengan saling mengunjungi. Kitab-kitab hadist menjelaskan, siapa yang ingin diperlancar rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka perbanyaklah silaturahmi. Begitu pentingnya hingga menjadi jaminan kelancaran rezeki dan dipanjangkannya usia.

Namun selama pandemi covid-19, silahturahmi dengan saling mengunjungi dibatasi. Orang sangat selektif menerima tamu. Anak saya malah menempelkan kertas di pintu rumah saya yang bertuliskan, “selain keluarga Bapak Abdulkarim, dilarang masuk”, hehe. Untung bukan spanduk yang dipasang.

Jika sayang sama orang tua, sering-seringlah berkunjung, memeluk dan mencium tangannya. Itu dulu!
Sekarang, jika Anda mencintai orang tua, para “ahli corona” menyarankan untuk  tidak mendekatinya, apalagi memeluk dan mencium tangannya. Orang tua terutama yang sudah berumur 60 tahun ke atas sangat rentan terjangkit covid-19. Tetaplah di rumah mendoakannya dari jauh, atau berbicaralah lewat telefon. Syukur-syukur kalau bisa video call.

Entah siapa yang menulis dan menyebarkannya di grup-grup WhatsApp :
….dulu hewan yang dikandangkan, sekarang orang yang di rumahkan
dulu musuh besar yang ditakuti sekarang musuh kecil yang ditakutkan
dulu yang di garis depan peperangan tentara belakangnya tenaga medis sekarang team medis yang di depan membelakangi tentara
dulu bersatu kita teguh bercerai kita jatuh sekarang bersatu kita runtuh bercerai kita utuh. Sudah sekarang di rumah saja, tidak boleh keluar seperti orang yang dipenjara, eh malah yang dipenjara disuruh keluar….

Ini pesan menyentuh yang disampaikan dengan bahasa santai namun sangat tepat untuk menggambarkan keadaan sekarang. Dan seperti yang katakan oleh penulisnya, ini akan menjadi pelajaran yang berharga untuk diingatkan kepada anak cucu kita kelak. Semoga kita diberi kesempatan untuk itu.

Berjamaah di masjid yang biasanya shafnya dirapatkan, kini harus direnggangkan, minimal dua meter. Bahkan kemudian shalat berjamaah pun tidak boleh dilakukan terutama di daerah-daerah yang masuk zona merah. Padahal shalat berjamaah adalah perkara yang sangat dipentingkan dalam Islam. Pantas kalau kemudian mengundang polemik di masyarakat.

Merenggangkan jarak. Bisa saja ini suatu tanda yang diperlihatkan Allah untuk mengoreksi semakin renggangnya hubungan sosial kita selama ini. Kepedulian sosial semakin menipis. Hubungan antar manusia semakin individualis, sibuk dengan dirinya sendiri.

Pergerseran ini terjadi seiring dengan perkembangan teknologi, utamanya di bidang komunikasi. Smartphone telah mempermudah hidup manusia. Hidup bisa diatur hanya dalam genggaman, kendalinya ada di ujung jari.

Hubungan antar manusia menjadi renggang, interaksi berpindah dari dunia nyata ke dunia maya. Kalau pun bertemu fisik, masing-masing sibuk dengan smartphonenya. Pertemuan yang seharusnya diwarnai obralan akrab, menyenangkan tak jarang berubah menjadi majelis nunduk. Fisik berdekatan tetapi hati berjauhan. Kalaupun mata sesekali saling tatap, pikirannya melanglang entah di mana.

Fakta ini menggerus kepekaan sosial. Mengikis kepedulian terhadap orang-orang sekitar. Terhadap mereka yang memerlukan uluran tangan. Kaum miskin dan anak-anak yatim yang tidak berdaya. Hidup hanya mengejar kepentingan pribadi dan kelompok. Tidak peduli meski harus mengorbankan kepentingan orang lain. EGP, emangnya gue pikirin.

Tak hanya hubungan sosial yang bermasalah. Hubungan dengan alam pun tidak harmonis lagi. Pengrusakan alam di mana-mana. Penggundulan hutan, pencemaran lingkungan; air, tanah,dan udara adalah berita yang tiada putus-putusnya diwartakan. Manusia menjadi monster bagi alam tempat tinggalnya sendiri. Peringatan-peringatan Allah melalui bencana tidak dipedulikan. 

Manusia banyak yang keliru dalam menentukan orientasi hidup. Mengejar dunia yang akan ditinggalkannya dan lupa akhirat, negeri abadi yang akan dituju. Tidak belajar dari kisah kehancuran umat-umat terdahulu. Kisah kehancuran Fir’aun yang sombong dengan kekuasaannya, Qorun dengan harta kekayaannya, Haman dengan kepintarannya. Kehancuran umat Nabi Nuh A.S., demikian juga dengan kaum Sodom yang merasa bangga dengan dosa-dosanya. Dan kehancuran umat ahli maksiat lainnya.

Kita hidup di zaman di mana perilaku jahil umat terdahulu diulang dalam bungkus kemodernan. Teknologi menjadi berhala baru yang disembah melebihi Tuhan. Syair-syair penuh syahwat digemari mengalahkan ayat-ayat suci. Para artis diidolakan dan dibela, ulama dan penganjur kebaikan dicaci, dibenci. Wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang disanjung dan dihormati, wanita dengan pakaian tertutup dihina dan dilecehkan kehormatannya. Penganjur dosa diakrabi, penganjur kebaikan dijauhi.

Hukum Allah dicampakkan, hukum buatan manusia diagungkan. Manusia terang-terangan meng-kudeta Tuhan.  Sungguh dunia sudah terbolak-balik.

Berdiam di rumah untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Waktu untuk me-reset dan menormalkan kembali tata hidup. Hidup sesuai dengan tuntunan Allah. Tanpa melakukan ini berdiam diri selama berhari-hari di rumah akan sia-sia adanya.

Harus ada gerakan taubat global, tak cukup skala nasional. Masing-masing orang mengakui kesalahannya, menyungkurkan diri di hadapan Allah.  Menyesali dosa. Mohon ampun dari segala kesombongan yang menghias diri selama ini. 

Saatnya kita lebih  mendekat kepada Allah. Bertobat, berdoa, menangis di hadapan-Nya. Mintalah  agar Allah segera mengangkat wabah ini. Pasrahkan diri, mengemis mohon perlindungan. Lakukan dengan dorongan iman dan kesungguhan hati, penuh keyakinan. Yakin dengan pertolongan Allah.

Ini bukan wabah biasa. Maka usaha pun tidak boleh biasa-biasa saja. Beri sokongan terhadap ikhtiar yang telah dilakukan oleh para pemimpin kita, aparat dan tim medis, dengan apa yang kita bisa. Bahkan meski hanya dengan doa dan pengharapan.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu, ada kemudahan” (TQS. 94 : 6)
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (TQS 56 : 2)
“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung” (TQS. 3 : 173)


Gowa, 11 April 2020

Minggu, 05 April 2020

TV Discon


Awalnya siswa diliburkan 14 hari. Perkembangan tidak menggembirakan, libur diperpanjang 14 hari lagi. Setelah itu belum ada kepastian kapan libur akan berakhir. Tentu kita berharap musibah ini cepat berlalu. Tetapi harus dipersiapkan langkah antisipatif andai saja keadaan tidak jua membaik.
Pembelajaran di sekolah pasti akan kena dampaknya. Pembelajaran online akan terus berlangsung. Sisi baiknya, guru banyak yang tergerak untuk belajar teknologi pembelajaran. Belajar internet dan segala perangkat digital. Siswa pun demikian.
Dari pengalaman saya dan juga hasil bincang dengan teman yang lain, siswa sangat senang dengan model pembelajaran online. Malah beberapa guru sering ditagih oleh siswanya yang ingin segera belajar. Sangat beda dengan laporan KPAI bahwa siswa terbebani dengan tugas-tugas selama belajar di rumah.
Meski demikian pembelajaran online yang berkepanjangan akan bermasalah pada akhirnya. Bisa saja siswanya senang. Tetapi bagi orang tua, hal ini akan memberatkan. Masa pembatasan ruang gerak dengan program tinggal di rumah, akan berdampak pada berkurangnya pendapatan. Daya beli akan menurun. Mereka akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika mereka dibebani lagi dengan pembelian kuota untuk belajar online anak-anaknya, maka akan sangat memberatkan.
Saya tertarik dengan usul sebagian kalangan untuk menggunakan televisi sebagai media pembelajaran. Alasannya, daya jangkauan televisi jauh lebih luas dibanding internet. Televisi tidak memerlukan kuota internet, jadi lebih murah. Selain itu, televisi telah menjadi barang yang umumnya dimiliki oleh keluarga di Indonesia. Jadi siswa tidak akan kesulitan untuk mengaksesnya.
TVRI sebagai stasiun televisi milik pemerintah harus diperdayakan. Bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk membuat program siaran pendidikan. Acuannya tentu saja materi pembelajaran sesuai dengan kurikulum di setiap tingkatan.
Selain TVRI, pemerintah juga bisa menggandeng televisi swasta. Baik nasional maupun lokal. Hitung-hitung mereka turut berkontribusi dalam upaya nyata mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika perlu dibuatkan aturan tentang kewajiban setiap stasiun televisi untuk menayangkan program siaran pendidikan.
Jika televisi swasta bisa ikut serta maka distribusi siaran pendidikan ini akan lebih meluas. Tinggal jadwalnya yang diatur dan disosialisasikan kepada seluruh guru dan siswa. Setiap guru hanya mengintruksikan kepada siswanya untuk mengikuti pembelajaran sesuai jadwal dan apa yang harus mereka lakukan setelah pembelajaran usai. Artinya, guru tetap membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berdasar pada siaran pendidikan yang dirujuk.
Dengan siaran pendidikan, anak-anak akan menemukan tontonan yang tepat. Sekaligus meminimalkan kesempatan bagi mereka terpapar sinetron dan tayangan tak mendidik. Minimal selama masa libur corona.
Televisi sebagai media pendidikan, sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Tahun 1991 sudah ada Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Di awal kehadirannya TPI sangat konsen dalam menghadirkan siaran-siaran edukatif bagi masyarakat.
Siaran Pendidikan program TPI ini sempat masuk ke sekolah-sekolah. Di beberapa sekolah masih ada sisa-sisanya. Berupa televisi, buku panduan siaran pendidikan ,dan antena parabola bantuan dari kementerian untuk mengakses siaran tersebut.
Sayang sekali TPI kalah bersaing dengan Televisi Swasta lainnya. Konten pendidikan yang melekat pada TPI rupanya kurang menarik para pengiklan. TPI direkturisasi untuk mengikuti selera pasar. Akhirnya siaran pendidikan dihilangkan. TPI bukan lagi Televisi Pendidikan Indonesia tetapi menjadi Televisi Paling Indonesia.
Tahun 2010 bukan hanya siaran pendidikan yang dihilangkan, bahkan namanya pun diubah menjadi MNC TV.
Dalam masa krisis sebagaimana yang kita hadapi saat ini, sepertinya ide mengembalikan televisi sebagai media pendidikan sangat beralasan. Apapun yang terjadi, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi hak anak-anak kita mendapatkan pendidikan.
Jika hal itu terwujud, mungkin bisa diberi nama siaran Televisi Pendidikan Khusus Corona. Disingkat TV Discon.

Gowa, 2 April 2020

Kamis, 02 April 2020

Melawan Tembok





Covid-19 dengan mudah mengubah kebiasaan sebagian orang. Hanya dalam waktu yang sangat singkat. Tiba-tiba kita disibukkan dengan urusan peningkatan imunitas. Langkah yang masuk akal untuk memproteksi diri dari serangan virus. Minum ramuan herbal salah satu pilihan favorit. Sangat kebetulan negeri tercinta ini kaya dengan tanaman yang bisa diracik menjadi ramuan yang dipercaya bisa meningkatkan imunitas.

Tanaman seperti jahe, kunyit, serai, dan temulawak menjadi barang buruan. Sejarah berulang. Hanya pelakunya yang berganti. Dulu orang Eropa datang ke Nusantara menjelajah setiap pulau untuk mencari rempah-rempah. Sekarang orang Nusantara yang berburu rempah-rempah di negerinya sendiri. Setelah kita dibanjiri makanan dan minuman impor, kini saatnya makanan dan minuman tradisional menunjukkan eksistensinya.

Keadaan ini berdampak pada kenaikan harga. Di Jakarta misalnya, harga jahe mencapai Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu. Padahal dalam kondisi normal hanya berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram. Bukan hanya jahe. Kunyit, serai, dan temulawak juga mengalami kenaikan.

Harganya yang meroket bisa jadi juga setelah dipromosikan oleh Presiden Jokowi. Dalam sebuah acara di Istana negara, Jokowi mengaku minum jamu dari ramuan empon-empon (jahe, serai, temulawak, dan kunyit) tiga kali sehari untuk menangkal corona. Pernyataan ini tak ayal menjadi bahan perbincangan. Termasuk di media-media luar negeri. Presiden dinilai telah memperkuat spekulasi bahwa ramuan herbal dapat menangkal infeksi virus corona.

Suatu malam saya ditelepon oleh seorang teman. Dia mengabarkan bahwa saat ini dia rutin mengunyah daun sirih sebagai upaya pencegahan covid-19. Sambil menelepon saya terbayang mendiang kakek saya yang suka menguyah daun siri dioplos dengan buah pinang.

Beberapa waktu yang lalu memang ramai diperbincangkan tentang khasiat daun sirih untuk mencegah corona. Informasi yang konon bersumber dari pesan seorang dokter asal Singapura. Dalam pesannya dia menyarankan untuk mengunyah daun sirih setidaknya satu kali sehari di pagi hari. Daun sirih dinilai mengandung antiseptik yang bisa menangkal paparan virus corona. Kandungan itu juga diketahui dapat membersihkan tenggorokan, yang menjadi tempat pertama masuknya virus corona.

Tetapi apakah betul ramuan jahe, serai, temulawak, dan kunyit, serta daun sirih bisa mencegah virus corona? Sangat disayangkan, belum ada penelitian yang bisa membuktikan.

Peningkatan imunitas juga dilakukan dengan berolahraga. Jogging, lari pagi, dan bersepada kelihatannya menjadi olahraga yang banyak diminati. Mungkin karena bebas, bisa menjaga jarak aman, dan tidak harus berkelompok. Bagi penggemar olahraga sepak bola sebaiknya memilih bersabar, sulit bagi pesepak bola untuk tidak berdekatan dan bahkan bersentuhan. Sangat tidak menarik menonton sepak bola yang pemainnya saling jaga jarak. Tidak seru!

Aslinya, saya tidak gemar berolahraga. Paling mencangkul di kebun. Itu pun hanya di hari-hari libur. Tetapi di era corona ini saya harus mengatur jadwal olahraga. Tetapi olahraga apa? Sejak SMA, saya paling malas ikut pelajaran olahraga. Biasanya hanya ikut pemanasan, sudah itu mundur dan masuk ke perpustakaan. Jadi hampir tidak ada olahraga yang menjadi spesialis saya.

Tetapi bukan berarti tak punya prestasi sama sekali. Pada Porseni jurusan pertengahan 1990-an di kampus, saya turut memperkuat tim tarik tambang angkatan saya. Meski berstatus pemain pelengkap. Saat pertandingan akan dimulai, tim angkatan saya kekurangan satu pemain, saya yang kebetulan hadir menonton, dipaksa masuk dan memegang tali. Sejak itu saya menjadi atlet tarik tambang. Dengan rekor, satu kali main dan satu kali kalah.

Untunglah di kebun saya tersedia meja pingpong, sumbangan dari seorang dermawan. Selama sekolah di liburkan, saya jadi sering ke kebun. Mencangkul dan main pingpong. Karena tidak punya lawan, saya terpaksa main pingpong melawan tembok. Irama permainan saya yang mengatur. Menang dan kalah saya yang menentukan. Saya banyak belajar dari permainan ini.

Jika ada orang yang hobi mengeluhkan beratnya hidup ini. Sesekali lawanlah tembok. Dia akan mengerti bahwa hidup ada dalam kendali kita. Bahagia dan sengsara tergantung dari bagaimana kita menyikapi setiap persoalan yang ada.

Tetaplah berpikir positif dan bersikap optimis. Wabah yang sedang meneror kita saat ini akan segera berlalu. Kehidupan akan normal kembali.

Jangan lupa, imunitas tubuh juga sangat ditentukan oleh pikiran.

Gowa, 1 April 2020

Rabu, 01 April 2020

Mencandai Maut




Kita terlalu asyik menikmati candaan tentang covid-19, ketika virus ini masih jauh di Wuhan sana. Di saat menyeberang ke negeri lain pun kita masih mendengar candaan renyah. Candaannya berkelas karena yang menyampaikannya bukan orang biasa. Varian candaannya juga bermacam-macam, bisa ditelusuri melalui jejak digital. Silahkan jika berkenan.

Di tengah himbauan social distancing guna memutus mata rantai penyebaran virus, Jamaah Tabligh justru menyelenggarakan kegiatan besar. Tanggal 18 Maret 2020, 8000-an orang jamaahnya berkumpul di Desa Pakatto Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan untuk mengikuti tabligh akbar (Ijtima Asia). Pesertanya bukan hanya dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Meskipun pada akhirnya kegiatan ini dibatalkan, tetapi mengumpulkan orang dalam jumlah besar di tengah ancaman virus yang penyebarannya sangat liar ini, patut disayangkan.

Tabligh akbar sangat berpotensi menjadi pusat penyebaran virus. Tidak percaya, lihat apa yang terjadi di Malaysia. Seperti yang kita ketahui, sebelum di Gowa kegiatan serupa telah diselenggarakan di Malaysia. Pesertanya mencapai 16.000 orang, juga diikuti oleh jamaah dari Negara lain. Beberapa hari setelahnya Pemerintah Malaysia mengumumkan warganya yang positif covid-19 melonjak tajam. Dan lebih dari separuhnya adalah peserta ijtima.

Berawal dari tabligh akbar ini, virus corona masuk ke Negara Asia Tenggara yang lain. Di bawa oleh warga negaranya yang menjadi peserta. Tanggal 9 Maret, Brunei mengumumkan kasus Covid-19 pertama di negara tersebut, seorang jamaah yang mengikuti tabligh akbar di Malaysia. Satu minggu kemudian kasus Covid-19 di Brunei melonjak menjadi 50 orang, 45 orang di antaranya adalah peserta tabligh akbar di Malaysia.

Tetapi Jamaah Tabligh bukan satu-satunya komunitas yang nekat. Di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kabupaten Manggarai, mobilisasi massa juga terjadi. Kamis, 19 Maret 2020, sekitar 6.000 umat Katolik menghadiri pentasbihan Uskup Ruteng Mgr Siprianus Hormat. Misa besar ini juga dihadiri oleh 37 uskup dari seluruh Indonesia dan pejabat Kongres Wali Gereja Indonesia (KWI). Kegiatan ini sangat disayangkan oleh beberapa pihak. Akan sangat bijak andai ditunda untuk sementara menunggu keadaan kondusif. Sebagaimana permohonan Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Letjen Doni Monardo melalui surat kepada panitia.

Kalau yang ini benar-benar bercanda. Sebuah video memperlihatkan hasil tes kesehatan deteksi dini virus corona dari RSUD Dr Moewardi Surakarta viral di media sosial pada Sabtu (21/3/2020). Hasil tes kesehatan itu dimiliki seorang perempuan yang berada di salah satu toko ponsel di Pasar Songosaren Solo, Jawa Tengah. Dalam video berdurasi 21 detik itu, hasil tes memperlihatkan perempuan tersebut berstatus orang dalam pengawasan (ODP) Covid-19. Setelah dikonfirmasi kepada pihak-pihak yang terlibat mereka mengaku video itu hanya sebatas candaan.

Bercanda di tengah maut. Tampaknya memang ada hal kontras di negeri ini. Di kala aparat dan petugas medis berjibaku mempertaruhkan nyawa mereka, di sisi lain ada pula kelompok yang santai-santai saja. Padahal sejumlah petugas medis sudah turut menjadi korban, beberapa diantaranya bahkan wafat dalam tugas. Mereka mempertaruhkan nyawa sendiri untuk menyelamatkan nyawa orang lain.

Kebijakan meliburkan sekolah yang sejatinya dimaksudkan untuk menghindarkan anak-anak dari perkumpulan yang rentan tertular virus, malah dimanfaatkan untuk mengajak anak-anak jalan-jalan ke pantai, ke mall, dan tempat rekreasi lainnya. Warung kopi masih sesak oleh pengunjung. Tempat-tempat hiburan malam juga masih buka. Pada akhirnya aparat kepolisian turun tangan untuk menertibkan masyarakat “pemberani” ini.

Fenomena macam ini memang lazim di negeri kita. Masih ingat peristiwa bom Thamrin? Ketika terjadi ledakan bom dan aparat keamanan terlibat baku tembak dengan pelaku teror, masyarakat malah asyik menonton. Padahal ini peristiwa sungguhan, senjata dan peluruh yang digunakan juga sungguhan. Sepertinya mereka begitu yakin bahwa peluruh yang ditembakkan tidak akan mungkin nyasar ke yang bukan sasaran.

Di jagat medsos candaan tentang virus ini lebih ramai lagi. Seolah netizen tidak punya rasa takut. Atau mungkin mereka memerangi rasa takut dengan candaan. Dari Kreatifitas mereka lahirlah meme atau cerita-cerita lucu. Jujur, karya netizen ini sekilas sangat menghibur, pengusir rasa bosan berkurung di rumah. Saya pun sangat menikmatinya. Tetapi di sisi lain sepertinya kurang etis jika terus menerus bercanda dalam keprihatinan. Candaan yang saya maksud adalah candaan yang tidak meng-edukasi dan cenderung meremehkan wabah ini.

Zaman memang mengubah segalanya. Dulu ketika ada tetangga yang meninggal suara radio pun tidak boleh terdengar. Kita rela berpuasa tidak mendengar radio sampai berhari-hari hingga masa berkabung dianggap selesai. Repotnya, masa berkabung kadang tidak punya batasan waktu. Kita tidak sanggup menunjukkan rasa gembira di saat saudara kita berduka, meski hanya mendengar siaran radio.

Akan sangat bijak, andai energi dan kreatifitas kita dikerahkan untuk membantu pemerintah mengedukasi masyarakat. Memahamkan mereka bagaimana berbahayanya virus ini. Mengajak untuk bersama bersatu padu menghambat penyebarannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Minimal dengan hanya berdiam di rumah. Saya terkesan dengan salah satu meme yang wara-wiri di media sosial, “Jika kamu pernah bermimpi untuk menyelamatkan jutaan orang di dunia, tetapi keahlianmu adalah rebahan. Ini kesempatanmu. Rebahan yuk, di rumah aja”. (Dikutip dari Twitter; @ElviantoBagus). Sederhana tetapi sangat sesuai dengan kondisi saat ini.

Social distancing atau physical distancing yang sekarang diterapkan hanya akan berhasil jika masyarakat patuh dan disiplin menjalaninya. Jika tidak, maka cara ini akan gagal total. Percayalah, wabah yang kita hadapi ini sangat serius, bukan main-main.