Channel YouTube

Kamis, 02 April 2020

Melawan Tembok





Covid-19 dengan mudah mengubah kebiasaan sebagian orang. Hanya dalam waktu yang sangat singkat. Tiba-tiba kita disibukkan dengan urusan peningkatan imunitas. Langkah yang masuk akal untuk memproteksi diri dari serangan virus. Minum ramuan herbal salah satu pilihan favorit. Sangat kebetulan negeri tercinta ini kaya dengan tanaman yang bisa diracik menjadi ramuan yang dipercaya bisa meningkatkan imunitas.

Tanaman seperti jahe, kunyit, serai, dan temulawak menjadi barang buruan. Sejarah berulang. Hanya pelakunya yang berganti. Dulu orang Eropa datang ke Nusantara menjelajah setiap pulau untuk mencari rempah-rempah. Sekarang orang Nusantara yang berburu rempah-rempah di negerinya sendiri. Setelah kita dibanjiri makanan dan minuman impor, kini saatnya makanan dan minuman tradisional menunjukkan eksistensinya.

Keadaan ini berdampak pada kenaikan harga. Di Jakarta misalnya, harga jahe mencapai Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu. Padahal dalam kondisi normal hanya berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram. Bukan hanya jahe. Kunyit, serai, dan temulawak juga mengalami kenaikan.

Harganya yang meroket bisa jadi juga setelah dipromosikan oleh Presiden Jokowi. Dalam sebuah acara di Istana negara, Jokowi mengaku minum jamu dari ramuan empon-empon (jahe, serai, temulawak, dan kunyit) tiga kali sehari untuk menangkal corona. Pernyataan ini tak ayal menjadi bahan perbincangan. Termasuk di media-media luar negeri. Presiden dinilai telah memperkuat spekulasi bahwa ramuan herbal dapat menangkal infeksi virus corona.

Suatu malam saya ditelepon oleh seorang teman. Dia mengabarkan bahwa saat ini dia rutin mengunyah daun sirih sebagai upaya pencegahan covid-19. Sambil menelepon saya terbayang mendiang kakek saya yang suka menguyah daun siri dioplos dengan buah pinang.

Beberapa waktu yang lalu memang ramai diperbincangkan tentang khasiat daun sirih untuk mencegah corona. Informasi yang konon bersumber dari pesan seorang dokter asal Singapura. Dalam pesannya dia menyarankan untuk mengunyah daun sirih setidaknya satu kali sehari di pagi hari. Daun sirih dinilai mengandung antiseptik yang bisa menangkal paparan virus corona. Kandungan itu juga diketahui dapat membersihkan tenggorokan, yang menjadi tempat pertama masuknya virus corona.

Tetapi apakah betul ramuan jahe, serai, temulawak, dan kunyit, serta daun sirih bisa mencegah virus corona? Sangat disayangkan, belum ada penelitian yang bisa membuktikan.

Peningkatan imunitas juga dilakukan dengan berolahraga. Jogging, lari pagi, dan bersepada kelihatannya menjadi olahraga yang banyak diminati. Mungkin karena bebas, bisa menjaga jarak aman, dan tidak harus berkelompok. Bagi penggemar olahraga sepak bola sebaiknya memilih bersabar, sulit bagi pesepak bola untuk tidak berdekatan dan bahkan bersentuhan. Sangat tidak menarik menonton sepak bola yang pemainnya saling jaga jarak. Tidak seru!

Aslinya, saya tidak gemar berolahraga. Paling mencangkul di kebun. Itu pun hanya di hari-hari libur. Tetapi di era corona ini saya harus mengatur jadwal olahraga. Tetapi olahraga apa? Sejak SMA, saya paling malas ikut pelajaran olahraga. Biasanya hanya ikut pemanasan, sudah itu mundur dan masuk ke perpustakaan. Jadi hampir tidak ada olahraga yang menjadi spesialis saya.

Tetapi bukan berarti tak punya prestasi sama sekali. Pada Porseni jurusan pertengahan 1990-an di kampus, saya turut memperkuat tim tarik tambang angkatan saya. Meski berstatus pemain pelengkap. Saat pertandingan akan dimulai, tim angkatan saya kekurangan satu pemain, saya yang kebetulan hadir menonton, dipaksa masuk dan memegang tali. Sejak itu saya menjadi atlet tarik tambang. Dengan rekor, satu kali main dan satu kali kalah.

Untunglah di kebun saya tersedia meja pingpong, sumbangan dari seorang dermawan. Selama sekolah di liburkan, saya jadi sering ke kebun. Mencangkul dan main pingpong. Karena tidak punya lawan, saya terpaksa main pingpong melawan tembok. Irama permainan saya yang mengatur. Menang dan kalah saya yang menentukan. Saya banyak belajar dari permainan ini.

Jika ada orang yang hobi mengeluhkan beratnya hidup ini. Sesekali lawanlah tembok. Dia akan mengerti bahwa hidup ada dalam kendali kita. Bahagia dan sengsara tergantung dari bagaimana kita menyikapi setiap persoalan yang ada.

Tetaplah berpikir positif dan bersikap optimis. Wabah yang sedang meneror kita saat ini akan segera berlalu. Kehidupan akan normal kembali.

Jangan lupa, imunitas tubuh juga sangat ditentukan oleh pikiran.

Gowa, 1 April 2020

0 komentar:

Posting Komentar