Channel YouTube

Kamis, 15 April 2021

Kelapa Atau Tebu?



Kelapa muda untuk berbuka puasa, ini menu favorit saya. Puasa tahun lalu agak sulit mendapatkannya, pembatasan sosial berdampak pula pada penjualan buah kelapa. Mungkin cukup tersedia tetapi saya yang tidak berani keluar. Covid menjadi berita horor di mana-mana. Selera harus mengalah. Alhamdulillah tahun ini tidak lagi. Penjual Kelapa muda bisa ditemukan di pinggir-pinggir jalan.


Waktu saya kecil ada pohon kelapa berdiri kokoh di pojok halaman rumah. Jenis kelapa hibrida, pohonnya pendek. Untuk memetik buahnya cukup dijolok saja, tidak perlu mengorbankan tenaga ekstra untuk memanjat. Ini menguntungkan bagi saya yang tidak ahli memanjat. Pernah berhasil memanjat pohon coppeng (?) tetapi kesulitan ketika hendak turun. 


Sayang sekali, pohon kelapa itu ditebang ketika rumah kami direhab. Untunglah sekarang sudah banyak penjual es kelapa muda. Jadi memudahkan bagi para penggemarnya untuk menikmati kesukaannya. 


Bicara tentang kelapa. Saya teringat cerita ayah saya yang seringkali disampaikan setiap memasuki bulan Ramadan. Memang cerita ini cocoknya disampaikan di awal untuk mengingatkan para peserta Ramadan tentang perlunya Istiqomah dalam menjaga ritme ibadah. 


Ayah saya menyebutkan. Ada dua sikap kaum Muslimin dalam memperlakukan Ramadan. Pertama, orang yang memandang Ramadan seperti sebuah kelapa. Kedua, mereka yang melihat Ramadan seperti sebatang tebu.


Orang yang memandang Ramadan seperti sebuah kelapa, mereka akan konsisten dalam memaksimalkan ibadah. Sejak awal Ramadan hingga akhir. Sesuai dengan karakter buah kelapa. Perhatikanlah buah kelapa. Dari bakal buah hingga yang tua bisa dimanfaatkan. Buah kelapa yang masih kecil yang sering jatuh dan berserakan di sekitar pohonnya, oleh ibu-ibu zaman dulu dipungut lalu dimasak dengan ikan. (Ini di kebiasaan di kampung saya, maaf kalau di kampung lain tidak ditemukan). Rasanya khas dan mengundang selera. Resep yang kemungkinan belum terlacak oleh om google. 


Jika buah kelapa ini beranjak menjadi muda, penggemarnya bertambah banyak. Orang-orang rela antri di kafe atau di kedai pinggir jalan, hanya untuk menikmati lezatnya es kelapa muda. Bulan Ramadan seperti ini saya yakin penggemarnya bertambah banyak. Yang tertarik melakukan survey, waktu dan tempat dipersilahkan.


Selanjutnya, kelapa tua. Tidak disangsikan lagi manfaatnya. Ini termasuk bumbu dapur kategori VVIP. Kalau pasokannya bermasalah, bisa-bisa Komunitas emak-emak seluruh Nusantara mogok kerja. Cukup berbahaya!


Bagi orang yang memperlakukan Ramadan seperti buah kelapa,  mereka akan konsisten beribadah. Mulai dari hari pertama hingga Ramadan berakhir. Karena mereka paham bahwa Allah mendatangkan keberkahan atas Ramadan selama sebulan. Bukan hanya pada hari-hari tertentu saja. Sama seperti buah kelapa yang seluruh fase perkembangannya membawa manfaat.


Sebaliknya, jenis kedua. Orang yang memperlakukan Ramadan seperti sebatang tebu. Batang tebu bisa dibagi dalam tiga bagian. Bagian paling bawah rasanya manis, bagian tengah manisnya mulai berkurang, dan bagian pucuk rasanya sudah hambar. 


Bagian tebu yang terbanyak penggemarnya tentu batang paling bawah. Karena paling manis. Bagian tengah sudah kurang peminatnya, manisnya mulai berkurang. Pucuknya bahkan sudah dibuang, siapa yang mau makan tebu yang rasanya hambar.


Tidak sedikit orang yang memperlakukan Ramadan seperti sebatang tebu. Beribadah dengan penuh semangat di awal-awal Ramadan. Pertengahan Ramadan, pikiran mulai dikacaukan oleh persiapan lebaran. Semangat beribadah pun mulai kendor. Dan di bagian akhir, jamaah masjid sudah banyak yang beralih menjadi jamaah mall. Aktivitas ibadah semakin berkurang.


Ironisnya, untuk persiapan lebaran, ada yang rela meninggalkan kewajibannya. Saya pernah bertemu seseorang yang dengan santai minum es di tengah hari Ramadan. Mengakunya, dia kehausan berkeliling pasar mencari baju lebaran. Memprihatinkan!


Bagaimana Anda memperlakukan Ramadan tahun ini? Seperti kelapa, atau tebu? 

Lalu...

Bagaimana jika Ramadan tahun ini adalah Ramadan terakhir Anda?


Rabu, 14 April 2021

Mengulang


Mendiang ayah saya (semoga Allah merahmatinya) adalah khatib tunggal di kampung saya. Mohon jangan dihubung-hubungkan dengan Datuk ri Bandang. Pemilik gelar Khatib Tunggal yang sebenarnya dan penyebar Islam di Kerajaan Gowa ini, sama sekali tidak ada kaitannya dengan cerita ini.


Saya menggelari ayah saya Khatib Tunggal karena dialah satu-satunya khatib di kampungku. Setiap Jumat dia yang tampil di mimbar, berkhutbah. Sesekali diganti kalau ada ustadz berkunjung. Biasanya penyuluh agama dari kecamatan atau kabupaten. Tetapi sangat jarang. 


Zaman dulu ustadz begitu langka. Alhamdulillah sekarang sudah berdiri sebuah pesantren. Di kampung tetangga juga sudah banyak. Insya Allah tidak akan kekurangan ustadz lagi. Semoga anak-anak di kampung saya sudah bisa menikmati pendidikan agama yang lebih baik.


Bukan hanya khatib Jumat, di bulan Ramadan pun ayahku menjadi penguasa mimbar. Akibatnya pesan-pesan, termasuk cerita yang disampaikannya sering berulang. Saking seringnya diulang saya sampai hafal ceramahnya.  Ayah saya juga masih suka mengulang sebagian ceramahnya di rumah. Di hadapan jamaah yang terbatas, saya dan saudara-saudaraku. Tentu dengan format yang berbeda. Sambil berbincang santai. 


Di kemudian hari, baru saya paham. Pengulangan adalah salah satu prinsip pembelajaran. Prinsip ini terutama direkomendasi oleh penganut teori psikologi daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamati, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, dan berpikir. 

Penganut teori ini yakin, dengan mengadakan pengulangan, maka daya-daya tersebut akan berkembang. Sama halnya dengan pisau, jika selalu diasah maka akan semakin tajam. Demikian juga, daya yang selalu dilatih dengan mengadakan pengulangan maka akan menjadi sempurna.


Dalam Islam, pembelajaran dengan menggunakan sistem pengulangan ini sering kali dijumpai. Beberapa ayat atau kisah dalam al-Qur'an banyak yang diulang di berbagai surat, kadang dengan redaksi yang berbeda. Bahkan di surat ke 55 (Ar-Rahman) terdapat ayat yang diulang hingga 31 kali. Ayat dengan terjemahan : "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


Kalau kita perhatikan hadist-hadist yang ada, kita juga akan menemukan cara yang sama. Nabi menggunakan cara pengulangan ketika berdialog atau menyampaikan sesuatu kepada para sahabatnya.


Ayah saya tidak pernah belajar teori psikologi daya. Strata pendidikannya terlalu rendah untuk pemikiran serumit itu. Tetapi dia telah mempraktekkannya dengan baik. Walaupun mungkin tanpa kesengajaan. Dan hasilnya, saya yang nikmati. Cerita atau kisah yang selalu dia ulang itu masih saya ingat hingga sekarang. Sebagiannya sudah saya wariskan ke anak-anak saya. Sebagian lagi sudah saya bagikan ke siswa jika mereka menantang saya bercerita di kelas. Kelihatannya mereka sangat senang. 


Dalam pembelajaran di kelas setiap sesi perlu dilakukan pengulangan. Apakah itu dalam bentuk penugasan, pemberian kesimpulan, atau refleksi. Setiap guru tentu sudah melakukannya. Yang perlu lebih dipahami adalah mengapa pengulangan itu perlu dilakukan. Tanpa pemahaman ini, penugasan, kesimpulan, refleksi, dan bentuk-bentuk pengulangan yang lain hanya sebatas formalitas. Memenuhi langkah-langkah pembelajaran. Beralasan jika pengulangan yang dilakukan tidak membawa kesan.


Ramadan ini adalah waktu yang terbaik melakukan pengulangan. Mengulang-ulang kembali bacaan Qur'an kita. Memperbaiki hafalan yang mungkin sudah mulai kabur termakan usia. Mengulangi lagi pelajaran agama yang sering luput dikalahkan oleh kesibukan. Mengulang-ulang lagi kebiasaan-kebiasaan baik yang lain.


Hebatnya, menurut sebuah penelitian sesuatu yang diulang-ulang dalam rentang waktu sebulan maka akan menjadi kebiasaan. Pada akhirnya kebiasaan akan menjadi karakter. Jadi karakter seseorang sangat tergantung dari apa yang menjadi kebiasaannya. 


Mungkin inilah rahasianya, mengapa ibadah Ramadan dilakukan selama satu bulan. Tidak salah jika Ramadan disebut-sebut sebagai universitas peradaban.  Tempat menempa manusia unggul dengan kualitas takwa yang meninggi. Sangat merugi seseorang yang Ramadan mendatanginya lalu menyia-nyiakannya.



Selamat menjalankan ibadah Ramadan. Jangan pernah bosan mengulang kebiasaan-kebiasaan baik Anda. 

Berikari 1, 2 Ramadan 1442 H/14 April 2021 M

Selasa, 13 April 2021

Ramadan Bersama Corona (Lagi)



Untuk kedua kalinya Ramadan bersama corona. Kita sudah merasakan betapa anehnya Ramadhan tahun lalu. Masjid sunyi dari aktivitas ibadah di saat seharusnya diramaikan. Kegiatan-kegiatan sosial seperti buka puasa bersama ditiadakan. Di saat kesalehan sosial harus diaktualisasikan.


Ramadan adalah bulan istimewa. Allah memberi peluang sebesar-besarnya untuk mendulang pahala. Membuka pintu taubat seluas-luasnya. Menutup ruang-ruang maksyiat, bahkan syetan pun dibelenggu. 


Wajar jika kaum Muslimin menggunakan kesempatan ini dengan penuh semangat. Tetapi apa boleh buat, corona telah mengubah segalanya. Tak terkecuali dalam hal yang sangat mendasar, peribadatan.


Ramadan tahun lalu menjadikan rumah sebagai pusat peribadatan. Kalau pun ada masjid yang nekat melaksanakan shalat tarwih, dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Shalat dengan lampu yang diredupkan. 


Rasa-rasanya kita sedang berada di fase awal dakwah Rasulullah. Dakwah secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari mata-mata para pembenci. 


Corona membuat kita merasakan apa yang pernah dialami oleh Kaum Muslimin generasi awal. Seolah menyindir kita yang selama ini diberikan kelonggaran dan keleluasaan beribadah tetapi kebanyakan malah menyia-nyiakannya. Bisa jadi Allah menghadirkan suasana tak nyaman itu, siapa tahu bisa mengusik kerinduan kita akan nikmatnya beribadah di masa tenang. 


Bukankah sering kali terjadi, kesadaran akan nikmat, baru terasa ketika nikmat itu telah dicabut oleh Allah. Disaat masih dalam limpahan nikmat, lupa mensyukurinya, menggunakan nikmat itu untuk mendekat kepada Allah.


Bersyukurlah jika ada rasa sesal dan berharap diberi kesempatan yang kedua. Berusaha meraih apa yang telah luput di masa lalu. Semoga Allah berkenan. 


Satu tahun berlalu,  Ramadan hadir kembali. Sayangnya corona belum juga berakhir. Kita menjalani Ramadan bersama corona lagi. Bedanya, tahun ini sedikit ada pelonggaran. Pelonggoran itu lalu diterjemahkan lebih longgar lagi oleh masyarakat. Sikap masyarakat ini saya kira adalah dampak dari begitu banyaknya inkonsistensi dalam penegakan aturan (protokol kesehatan).


Tempat-tempat wisata di pekan terakhir memasuki Ramadan ramai dengan pengunjung, persis sebelum adanya corona. Pusat-pusat perbelanjaan pun sesak. Satu malam sebelum Ramadan saya lewat di depan sebuah pusat perbelanjaan. Pengunjungnya berjubel. Parkirannya penuh sehingga sebagian kendaraan parkir di badan jalan. 


Benar juga protes sebagian orang, mudik dilarang tetapi pariwisata malah dipromosikan, berjamaah di masjid dibatasi, tetapi berjamaah di mall dibebaskan. Maklumlah, ekonomi harus diselamatkan. Masalah nyawa biarkan menjadi urusan malaikat maut. 


Berita baiknya, karena pelonggaran itu, masjid pun kembali dibuka untuk ibadah Ramadan. Meski dengan sejumlah syarat. Tidak apalah, saya kira ini penting sebagai ikhtiar untuk menghindari kemudharatan. Di masjid tempat tinggal saya, acara buka puasa akan kembali diadakan. Supaya bapak-bapak yang akan shalat Magrib tidak terlambat karena bukanya di rumah. 


Selamat menjalankan ibadah Ramadan. Semoga Ramadan tahun ini benar-benar menjadikan kita orang-orang muttaqin yang dijanjikan Allah dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.


Berdikari 1, 1 Ramadan 1442 H/13 April 2021




Senin, 05 April 2021

Kelas Akuarium



Akhirnya sebuah akuarium terpajang di rumah saya. Ini atas permintaan si kecil sejak dulu. Dia ingin sekali menyaksikan dari dekat gaya ikan berenang. Mungkin dia penasaran. Selama ini dalam urusan gaya renang, yang sering disebut dan mungkin juga secara tidak sengaja sudah dipraktekkannya di sungai (secara sembunyi-sembunyi) hanya gaya katak dan gaya kupu-kupu. Tidak ada gaya ikan. Memang aneh, kupu-kupu yang jelas tidak bisa berenang, namanya diabadikan. Sedangkan ikan yang habitatnya di air malah tidak kebagian. 


Tetapi, sudahlah. Apapun alasannya, yang jelas dia sangat menikmati tingkah pola ikan. Tidak boleh diganggu kalau sudah khusyuk di depan akuarium.


Akuarium ini dihuni beberapa jenis ikan. 2 ekor ikan koi kepala singa, 1 ekor ikan patin, 2 ekor ikan komet dan 2 ekor ikan kecil seukuran jari kelingking namanya ikan pedang (nama-nama ikan ini saya kutip langsung dari penjualnya, mohon diampuni jika nama dan gelar tidak sesuai).


Menariknya. Ikan-ikan ini bukan hanya wajah, warna, dan bentuknya yang beragam. Tetapi kelakuannya pun berbeda-beda. Patin adalah ikan yang paling besar. Besarnya sekira jempol kaki orang dewasa dengan panjang sekitar 15 cm. Memiliki tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. Sedikit saja gerakan aneh di akuarium, dia langsung gelisah mondar-mondar mencari jalan keluar. Semula ikan patin ada dua ekor, tetapi yang satunya melompat keluar dan jatuh di pelukan kucing yang kebetulan lewat. Dan innalilah! Segala sesuatu memang tidak boleh berlebihan, termasuk terlalu waspada! Banyak orang yang justru dapat celaka karena over sensitif terhadap ancaman. Belum apa-apa sudah melompat duluan.


Ikan pedang. Bentuknya kecil seukuran jari kelingking. Gerakannya sangat lincah. Awalnya saya khawatir akan jadi santapan ikan lain. Tetapi setelah melihat kelincahan geraknya, kekhawatiran saya hilang. Sulit  menangkapnya. Kecuali jika ikan-ikan lain berkoalisi mengeroyoknya. Lagi pula ikan-ikan ini sepertinya tidak doyan makan sesamanya. Atau mungkin di antara mereka sudah menandatangani fakta integritas untuk tidak saling memangsa? hehe.


Komet,  saya paling suka memandangi jenis ikan ini. Ekornya yang menjuntai menjadi daya tariknya. Bergerak lincah dan menguasai seluruh penjuru akuarium. Satu lagi, paling kuat berebut makanan. Sayangnya, dia suka membully. Sungguh perbuatan yang tidak terpuji.


Terakhir, ikan kepala singa. Gerakannya lambat dan paling jinak. Inilah jenis ikan yang paling sengsara. Hidup di akuarium tanpa ketenangan. Menjadi obyek bully-an ikan komet. Dikejar ke sana kemari tanpa alasan yang jelas. Kasihan sekali.


Untuk menolong si Kepala singa, saya coba pisahkan. Kepala singa saya tempatkan di penyaringan, sendirian. Lama-lama saya merasa kasihan. Dia yang dibully kenapa dia yang diasingkan. Akhirnya saya kembalikan, lalu si komet saya pindahkan ke kolam depan rumah. Dengan cara ini tampaknya semua puas. kepala singa bisa kembali hidup bersama ikan lainnya tanpa gangguan. Sementara yang komet juga kelihatannya senang mendapat tempat yang  lebih luas, di dalam kolam. 


Kehidupan di akuarium begitu mirip dengan ruang kelas. Kelas dihuni oleh siswa dengan aneka karakter, dengan latar belakang budaya yang juga berbeda-beda. Perilakunya pun tidak sama. Persis suasana di akuarium itu. 


Bedanya hanyalah bahwa menyelesaikan masalah di akuarium jauh lebih mudah dibanding penyelesaian masalah di kelas. Menghentikan perilaku bully di akuarium misalnya,  cukup dengan memindahkan si pembully ke kolam. Pembully dengan sendirinya berhenti, di kolam tidak ada lagi ikan dibawa levelnya yang bisa dia bully. Keadaan aman terkendali.


Ruang kelas memiliki kompleksitas masalah yang lebih rumit. Kelas dihuni oleh siswa dengan segenap potensi yang dimilikinya. Mereka memiliki keinginan untuk mengaktualisasikan potensinya hingga ke level irrasional. Jika tidak bijak, guru akan dengan mudah menjatuhkan vonis nakal, bodoh, egois, dan label-label negatif sejenisnya.


Padahal seringkali vonis terburu-buru ini terbukti keliru. Siswa yang dulu divonis negatif itu ternyata sukses di kemudian hari. Kebalikan dari label yang dilengketkan dahulu.


Saya kerapkali menemukannya. Seorang siswa yang dulu dikeluhkan kenakalannya tetapi di kampus dia malah menjadi aktivis dakwah yang getol menyerukan pesan-pesan kebaikan. Dan begitu hormat jika ketemu gurunya. Siswa yang dulu dianggap bodoh nyatanya sukses di bidang pekerjaan yang ditekuninya. Tidak jarang bahkan menjadi kebanggaan seluruh warga sekolah.


Guru sebaiknya fokus di titik ini. Agar tidak keliru dalam membaca tanda-tanda yang diperlihatkan siswa. Bisa jadi tanda-tanda itu adalah jalan sukses baginya yang sudah tentu butuh sentuhan guru untuk menatanya dengan benar. Keliru dalam menyikapi masalah ini, akan menjadi awal lahirnya problem yang bukan tidak mungkin akan berpengaruh terhadap masa depan siswa.


Itulah sebabnya, salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah mengenal karakteristik siswa. Dan memperlakukan mereka sesuai dengan karakternya. Komunikasi yang baik dengan siswa juga sangat dibutuhkan. Berbicaralah dengan mereka dan jadilah pendengar yang baik.


Guru sesekali berperan selaku coach untuk menggali potensi yang dimiliki siswa. Selanjutnya, membimbing mereka menemukan cara terbaik mengoptimalkan potensi itu. Arahkan mereka untuk membuat komitmen, dan tugas guru adalah mendampingi serta memastikan bahwa semua berjalan sesuai dengan komitmennya.


Saya kutipkan sebuah pernyataan yang patut dijadikan sebagai renungan bersama. Pernyataan dari seorang ahli komputer yang pernah disampaikan oleh Ayah Edy dalam tulisannya. Beliau mengatakan bahwa ternyata anak-anak kita itu dirancang dengan kekuatan dan kecepatan berpikir yang sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan Prossesor (otaknya) Komputer mungkin setara dengan Pentium Core I5 atau I7 (Kecepatan tertinggi note book saat ini) atau bahkan lebih hebat lagi. Namun menurutnya, kekuatan dan kecepatan para orang tua dan guru sering kali berada jauh di bawah itu. 


Mari terus belajar, introspeksi, dan mengasah kearifan untuk tetap bisa mendampingi anak-anak kita. Mengawal serta mengarahkannya untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.


Gowa 31 Maret 2021