Channel YouTube

Jumat, 21 Februari 2020

Guru Versus Youtuber



Keluhan sering datang dari teman-teman sesama guru. Tentang anak-anaknya yang tidak berminat jadi guru. “Aneh, masa anak yang dihidupi dari gaji guru malah menolak jadi guru”, kata seorang teman yang lagi kesal. Kecewa karena anaknya yang akan masuk universitas menolak mentah-mentah ketika ditawari jurusan keguruan.

Teman-teman yang memaksa, atau setengah memaksa, atau merayu-rayu anaknya menjadi guru kemungkinan didorong oleh bermacam-macam pertimbangan. Bisa jadi ingin mempertahankan tradisi keluarga guru. Kakek dan neneknya guru, ayah dan ibunya juga guru maka akan sangat lengkap jika anaknya pun menjadi guru. Pertimbangan ini masuk akal bagi mereka yang memandang profesi guru sebagai profesi yang sangat terhormat, bahkan sangat sakral.

Mungkin juga karena berharap nasibnya menular ke anaknya, cepat dapat pekerjaan. Guru dianggap pekerjaan yang tidak akan gulung tikar. Sampai kapanpun akan tetap dibutuhkan. Selama manusia belum punah sekolah akan tetap berfungsi. Laju perkembangan teknologi yang menggila tidak menggoyahkan keyakinan mereka. Bahwa ada kemungkinan fungsi guru di masa depan akan tergeser oleh teknologi. Mereka tidak percaya. Hebat!

Bisa juga, bukan karena alasan mempertahankan tradisi keluarga yang seoalah ditakdirkan menjadi “kasta guru”. Juga bukan karena pertimbangan mudah dapat pekerjaan. Tetapi semata didorong oleh keinginan untuk mengabdikan diri. Guru dipandang sebagai pekerjaan yang paling mulia. Salah satu amalan yang dijanjikan pahala yang tidak akan terputus meskipun yang bersangkutan telah meninggal.

Kita mengenal banyak guru yang mengajar dengan semangat keikhlasan. Di pelosok-pelosok yang nun jauh di sana. Di wilayah yang tak terjamah alat komunikasi canggih. Akses trasfortasi yang sulit dijangkau, keadaan yang membayangkannya saja bisa membuat ngilu seluruh persendian. Imbalan bukanlah yang utama. Bagi mereka mengeluarkan masyarakat dari gelapnya kebodohan adalah prioritas. Kita wajib bersyukur masih ada penduduk bumi dengan akhlak melangit seperti mereka.

Faktanya, minat generasi muda menjadi guru sedang mengalami penurunan. Tahun lalu (2019), pihak kementerian pendidikan merilis hasil survey terhadap pelajar SMA tentang pilihan profesi mereka. Survey ini dilakukan pada saat mereka mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Hasilnya menunjukkan adanya penurunan minat pelajar (kaum milineal) menjadi guru.

Pak Totok Suprayitno (Kepala Balitbang Kemendikbud) menyebutkan bahwa dari keseluruhan responden yang diuji hanya 11 persen yang tertarik jadi guru. Dari 11 persen tersebut, siswa yang tertarik menjadi guru didominasi oleh kaum perempuan, dan rata-rata memiliki nilai Ujian Nasional di bawah rata-rata. Menariknya, profesi guru kalah bersaing dengan profesi yang terhitung baru namun sangat digandrungi kaum milineal yaitu youtuber.

Mengapa profesi guru sepi peminat, bahkan oleh anak guru sendiri yang nota bene hidup, bergaul dan tentu sangat akrab dengan atmosfir keguruan. Jawabannya bisa bermacam-macam. Tetapi menurut saya, problem utamanya ada dua. Pertama; karena profesi guru tidak prestisius di mata anak-anak. Guru selama ini digambarkan sebagai sosok sederhana dan sangat bersahaja. Ingat cerita tentang Guru Oemar Bakri dalam lirik lagu penyanyi legendaris, Iwan Fals. Dalam visualisasinya Oemar Bakri digambarkan sebagai seorang guru dengan baju safari yang khas menenteng tas kulit buaya (lusu) mengayu sepeda kumbang di jalan yang berlubang.

Walaupun mungkin cerita Iwan Fals dalam lagu ini hanyalah fiktif belaka namun bisa mewakili profil sebagian guru-guru kita di masa lalu. Bisa jadi sosok guru dengan visualisasi seperti Oemar Bakri inilah yang kemudian direkam kuat dalam benak anak-anak kita dan menyimpulkan bahwa menjadi guru tidaklah prestisius dan sekaligus kurang menjanjikan. Berbeda dengan profesi-profesi lain. Dokter misalnya, selalu digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan berwibawa, rapi dengan jas putihnya dan mengendarai mobil mewah. Maka pantas jika profesi dokter selalu menjadi incaran anak-anak cerdas. Bukan hanya pretisius dalam penampilan tetapi juga dalam ukuran materi, pendapatan.

Dengan adanya tunjangan profesi, apakah tidak menjadikan guru sebagai profesi yang pantas diidamkan? Dari segi pendapatan mungkin iya. Berkat tunjangan profesi penampilan guru-guru banyak yang berubah. Tak ada lagi sepeda kumbang, atau sepeda motor butut. Sekarang guru-guru sudah pakai mobil pribadi. Pakaian dan tas juga tak lagi lusu. Tunjangan profesi menyulap penampilan guru-guru menjadi sosok yang berbeda tak lagi seperti Oemar Bakri.

Tetapi dari segi kompetensi, secara rata-rata belum seperti yang diharapkan. Hal ini bisa kita lihat dari hasil UKG (Uji Kompetensi Guru) tahun 2015. Secara nasional, rata-rata UKG adalah 53,02 masih di bawah standar nasional. Padahal standar nasionalnya masih rendah yakni 55,00. Meskipun hasil UKG tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya indikator kualitas guru. Tetapi setidaknya fakta ini mengungkapkan betapa masih banyak guru yang tidak kompeten.

Kedua; guru selama ini terkesan bekerja di bawah tekanan. Kesan ini sangat terasa sejak pemberlakuan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Sedikit-sedikit guru diancam dengan akan dicabut tunjangan profesinya. Hal ini menyebar di media-media sosial yang biasanya mengutip pidato para pejabat.

Guru juga sering menjadi korban pertarungan politik di daerah. Menimbulkan kekhawatiran dan keprihatinan tersendiri. 

Bukan itu saja. Publik juga sering dipertontonkan dengan kasus-kasus pelecehan terhadap guru. Siswa yang menantang guru berkelahi. Orang tua siswa yang menyeret guru ke meja hijau dan berakhir di penjara. Yang paling sadis, siswa membunuh gurunya. Fakta-fakta ini membuat potret diri guru menjadi suram.

Kerja keras memang perlu dilakukan untuk mengangkat kembali derajat guru-guru kita. Kompetensinya harus segera dibenahi secara tersktruktur melalui kementerian pendidikan dan secara mandiri oleh guru-guru itu sendiri. Empat jenis kompetensi guru; pedagogik, profesi, kepbribadian dan sosial harus mewujud dan bersenyawa dalam diri seorang guru.
Peningkatan kesejahteraan, meskipun terkesan klise tetapi tidak bisa dinafikan. Guru juga perlu hidup layak bahkan kalau bisa, lebih dari layak. Bagaimana mungkin generasi muda akan tertarik menjadi guru jika profesi ini kurang menjanjikan dari sisi ekonomi?

Guru sejahtera akan menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk memilih profesi ini. Profesi guru akan memiliki daya tawar yang tinggi seperti profesi-profesi lain yang banyak peminatnya. Rekrutmen calon guru juga bisa ditata dengan baik, diperketat. rekrutmen yang selektif akan menghasilkan calon-calon guru yang kompeten.

Kurangnya minat generasi muda untuk menjadi guru sebagaimana hasil survey Kementerian Pendidikan mestinya mendapat perhatian yang serius. Sehingga suatu saat guru tidak hanya menyaingi youtuber tetapi juga menjadi profesi selingan. Guru sekaligus youtuber.

Senin, 17 Februari 2020

Menyapa




Pujangga besar Inggris, William Shakespeare (1564 - 1616) pernah berucap, "what's in a name?". Apalah arti sebuah nama?

Hampir semua orang suka disapa dengan nama terbaiknya. Memang nama tidak akan mengubah substansi sesuatu, seperti kata Shakespeare, "That which we call a rose by any other name would smell as sweet," (andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi). Akan tetapi nama akan memberikan efek spikologis bagi pemiliknya. Jika seseorang disebut namanya dengan penuh penghormatan tentu akan membuat senang. Sebalikya, menyebut nama seseorang dengan nada mengejek apalagi menghina maka akan memancing amarah dan kebencian.

Dalam suatu sesi pelatihan, seorang fasilitator berjuang keras menghafal nama-nama peserta yang berjumlah lebih dari empat puluh orang. Lakban besar dibagikan, lalu peserta menulis nama sapaan mereka dan menempelkannya di dada. Dengan cara itu fasilitator bisa dengan mudah menyebut nama setiap peserta. Dengan menyapa nama, komunikasi terbangun dengan baik. Interaksi dengan peserta berjalan tanpa hambatan. Kegiatan pelatihan berjalan lancar, cair dan penuh keakraban. Bagi fasilitator, kondisi pelatihan yang demikian sudah menjadi bagian dari keberhasilan.

Sering mendengar keluhan beberapa teman guru tentang siswa yang sulit ditertibkan di kelas, tidak konsentrasi dan cenderung abai dalam pembelajaran. Mengapa hal ini terjadi? Bisa jadi karena hubungan antara guru dan siswa yang kurang harmonis. Ada gap antara guru dan siswa di kelas, interaksinya kaku bahkan kadang kurang menyenangkan.

Bagaimana mengatasinya? Saya mencoba mengatasinya dengan meniru fasilitator pelatihan yang saya ceritakan di awal, menghafal nama siswa dan menyapanya. Kelas yang saya ajar, saya bagi dua. Ada kelas yang saya hafal semua nama siswanya, saya namakan kelas A. Kelas yang lainnya hanya nama siswa tertentu saja yang saya hafal, saya sebut kelas B. Di kelas A saya mengabsen siswa tidak menggunakan daftar hadir. Di sela-sela pembelajaran saya menghampiri beberapa siswa, menyebut namanya, alamatnya dan ngobrol tentang keadaannya, termasuk keadaan keluarganya. Kadang bercanda ringan yang tidak membuat kelas gaduh.

Cara ini saya ulang-ulang di setiap pembelajaran. Dampaknya, di kelas A saya sangat akrab, terasa ada ikatan batin dengan siswa, pembelajaran berlangsung dengan santai tetapi juga serius. Kelihatannya siswa menikmati pembelajaran, tingkat kehadiran meningkat demikian pula dengan keaktifan mereka dalam mengikuti proses pembelajaran. Sekat-sekat antara guru dan siswa tanpa terasa terjembatani, sebagian besar siswa bebas berbicara dan mengemukakan pendapat tanpa beban. Kondisi ini dimungkinkan karena kehadiran guru di kelas dianggap sebagai mitra yang siap membantu mereka dalam belajar. Di luar kelas siswa tidak segan-segan menyapa dan bahkan sering menguji daya ingat saya dengan menanyakan namanya. Mereka sangat gembira jika saya bisa menyebut namanya dengan benar.

Sementara itu di kelas B pembelajaran terkesan kaku, kurang gairah dan tidak ada keakraban. Kelihatan sekali siswa memasang jarak dengan saya, pembelajaran jauh  dari menyenangkan. Sampai pada akhirnya strateginya saya ubah, mengikuti kelas A. Menghafal nama dan menyapa mereka.

Dari pengalaman kecil ini saya menyimpulkan bahwa rajin menyapa siswa dengan menyebut namanya mempunyai pengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Karena itu guru perlu mengenal siswanya dengan baik, akrab dengan mereka, tentu tetap dalam batas-batas kewajaran. Hubungan yang harmonis antara guru dan siswa akan mempermudah kerja guru. Siswa akan mudah diarahkan sehingga manejemen kelas bisa berjalan dengan baik sesuai dengan perencanaan.





Di Batas Usia


Lama menatap layar laptop, memelototi sebuah pengumuman. Untuk pertama  kalinya aku menertawai umurku.
Sebuah lembaga pemerintahan membuka pendaftaran untuk suatu lomba. Entah kenapa aku sangat tertarik. Padahal dalam persoalan begini biasanya paling malas. Lebih dari 30 tahun lalu ketika masih di Sekolah Dasar aku dipersiapkan oleh guru olahragaku untuk mengikuti perlombaan Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) tingkat Kabupaten. Aku dan teman-teman berlatih tiap hari, kostum pun sudah disiapkan meski dengan utang.
Pertandingannya akan dilaksanakan di ibu kota kabupaten. Bagi anak-anak kampung seperti kami, mendengar nama ibu kota kabupaten disebut, kami berlompatan nyaris lupa diri, saking bahagianya. Ibu kota kabupaten wilayah terlalu elit bagi kami. Sekarang kami akan berkunjung, bukan berkunjung biasa. Bertanding, sodara-sodara.
Namun yang terjadi kemudian, lomba itu dibatalkan dengan alasan yang aku tidak mengerti. Aku kecewa, kecewa berat. Sejak saat itu, aku malas ikut lomba.
Tetapi lomba kali ini lain. Sangat menarik. Aku membaca pengumuman yang dikirimkan teman lewat whatsapp. Ku klik link yang ditunjuk untuk melihat persyaratan. Alhamdulillah semua persyaratan bisa saya penuhi KECUALI satu, umur maksimal 45 tahun.
Aku tersentak, menyadari bahwa umurku sudah lewat 45 tahun. Memasang kuda-kuda start di gerbang ketuaan. Perlahan menuruni bukit keperkasaan menuju lembah sunyi. Menyiapkan tempat peristirahatan dari kebisingan dunia. Dan karena itu kegiatan ini dianggap tidak cocok lagi untukku dan entah berapa banyak orang yang seumuran denganku. Mungkin pantasnya menjadi pertapa di gua-gua gelap, di tengah hutan. Jauh dari kebisingan.
Saya teringat cerita tentang pendiri KFC (Kentucky Fried Chicken), Harland "Colonel" Sanders yang mulai aktif mewaralabakan bisnis ayamnya pada usia 65 tahun. Dalam usianya yang terbilang senja itu dia berkeliling menawarkan resep masakan ayamnya ke restoran-restoran. Luar biasanya, terdapat 1000 restoran menolak resepnya. Tetapi dia tidak putus asa, terus berkeliling menawarkan resepnya. Hingga sampai pada restoran ke 1008. Restoran ini bersedia membeli resepnya dan selanjutnya mengembangkan waralaba yang diberi nama KFC. Saat ini cabang-cabang KFC tumbuh menggurita di berbagai negara.
Pernah mendengar nama Yuichiro Miura? Dia adalah pemegang Guinness Record sebagai pendaki tertua di dunia. Kakek asal Jepang ini pada tahun 2003 saat usianya mencapai 74 tahun berhasil mendaki puncak gunung Everest. Tahun 2013 ketika usianya menginjak 80 tahun Miura kembali mencatatkan namanya sebagai orang tertua yang menaklukkan puncak tertinggi dunia itu.
Bagi penggila mie instan jangan lupakan Momofuku Ando. Pria asal Jepang ini adalah penemu mie instan. Ando menemukan mie instan pada tahun 1958 di saat usianya tidak muda lagi, yakni 48 tahun.
Ternyata usia tua tidak identik dengan kelemahan dan ketidakberdayaan. Pintu prestasi belum tertutup selama semangat masih membara.
***
Tidak masalah. Ini otoritas panitia. Saya bersangka baik saja. Walaupun pikiran picikku memprovokasi. Panitia pasti tidak ingin repot jika di tengah penyelenggaraan kegiatan ini banyak peserta yang bertumbangan karena kondisi tubuh yang tidak lagi bugar. Atau peserta yang uring-uringan karena nyaris kehabisan nafas. Atau peserta yang merengek-rengek ingin dipulangkan karena rindu sama cucunya. Atau peserta yang tiap malam merepotkan peserta lain minta dikerok karena masuk angin. Atau peserta yang protes minta makan, dia lupa bahwa baru semenit yang lalu dia menghabiskan dua mangkuk sup ayam. Atau...atau..ahh terlalu banyak atau.
Namun jika deretan "atau" itu adalah kekhawatiran panitia. Bukankah masalah-masalah semacam ini milik semua umur? Kecapean, sakit, lemah fisik dan halangan-halangan semakna lainnya, tidak hanya milik mereka yang berumur 45 tahun ke atas. Bisa dialami oleh siapa saja. Muda ataupun tua, malahan anak-anakpun bisa mengalaminya.
Jangan-jangan setelah tidak puas berdebat tentang diskriminasi ras, agama, suku dan antar golongan. Kini kita sedang membuka front perdebatan baru, diskriminasi umur. Wahh, kok jadi seram begini  ya? Untungnya pendaftaran haji dan umrah tidak mengenal batasan umur maksimal. Padahal haji dan umrah adalah ibadah yang mengandalkan fisik.
Baiklah, sekali lagi kita bersangka baik. Saya kira pertimbangan utama panitia membatasi usia lebih pada masalah regenerasi/kaderisasi yang harus jalan. Beri kesempatan kepada yang lebih muda untuk berkarya. Bukankah yang "tua" juga sudah lama diberi kesempatan? Karena sebelum mereka tua, mereka juga pernah muda, hehe! (Maaf).
Baiklah, yang tua harus mengalah. Negeri kita butuh regenerasi. Sejarah mengajari kita, bahwa salah satu sebab kemunduran Kerajaan Majapahit yang perkasa itu, karena kepemimpinan yang lemah sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Majapahit lemah dalam hal kaderisasi kepemimpinan.
Kita tidak perlu mengulangi sisi lemah para pendahulu kita. Ayo anak muda, silahkan melangkah jangan pernah ragu. Persembahkan karya-karya terbaikmu untuk negerimu. 

Kamis, 13 Februari 2020

Bercermin


Apakah Anda sering dipusingkan dengan tingkah siswa? Sering bolos, ribut di kelas, susah diatur, dan berbagai tingkah tak menyenangkan lainnya? Jika ya, tenang saja, jangan panik. Sebab Anda tidak sendirian. Begitu banyak guru yang mengalaminya. Baiklah mari kita berpikir yang jernih untuk mengurai soal ini. Kita mulai dari fakta bahwa seringkali guru bersikap tidak adil terhadap siswa. Memvonis seenaknya tanpa mau melihat secara utuh kejadian-kejadian yang berlangsung di kelas.

Padahal, perilaku siswa yang menyimpang, bisa jadi bersumber dari guru. Metode Pembelajaran yang tidak menarik, minim kreatifitas, membosankan dan tidak menantang. Guru yang mengajar sekedar gugur kewajiban tanpa peduli dengan sikap belajar siswanya. Apa kebutuhan mereka dan bagaimana memperlakukan mereka sesuai dengan karakter dan dunianya. Pembelajaran macam ini jauh dari kata menyenangkan, justru yang terjadi adalah penyiksaan. Saat-saat pembelajaran berlangsung siswa merasa sedang berada dalam ruang-ruang penjara yang menyeramkan. Atau sedang duduk di ruang tunggu yang menyiksa.Tanyakan pada siswa yang berkeliaran di luar ketika pembelajaran berlangsung, jika dia jujur maka jawaban-jawaban yang mengejutkan akan kita dengar.

Tetapi anehnya, kadang guru tidak menyadari masalah ini atau malah tidak peduli. Problem-problem yang dikemukakan di atas hanya jadi bahan keluhan setiap hari. Diperdebatkan dan memvonis. Siswa menjadi tertuduh dan akhirnya dipersalahkan. Sekali-sekali mari menunjuk ke dalam diri kita. Introspeksi, di mana letak masalah yang perlu dibenahi. Kita sudah berada di abad 21, era yang penuh dengan tantangan. Perubahan demi perubahan berlangsung dengan begitu cepat bahkan dalam hitungan detik. Guru bersaing dengan kecanggihan teknologi yang sangat menggiurkan bagi siapa saja termasuk siswa. Maka tidak boleh tidak, guru harus berpacu dengan waktu menyesuaikan diri dengan denyut perubahan yang terjadi. Cara-cara pembelajaran konvensional dengan hanya mengandalkan pembelajaran monolog dan dengan media yang seadanya sudah harus ditinggalkan. Kalau tidak, guru yang akan ditinggalkan oleh siswanya.

Empat ciri pembelajaran abad 21 harus benar-benar mewujud di kelas. Critical thinking (berpikir kritik), communication (komunikasi), collaboration (kerja sama), dan creativity (daya cipta) mestinya mewarnai aktifitas siswa dalam belajar.  Ciptakan kelas yang menyenangkan dengan model pembelajaran yang variatif dan inspiratif serta media pembelajaran yang sesuai. Bagaimana mewujudkannya? Seperti yang dijelas sebelumnya, guru harus berpacu dengan waktu, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Setiap saat meng-upgrade kemampuan dan keterampilan mengajarnya. Penguasaan teknologi terutama teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi agenda utama sebagai pintu masuk menuju akses ilmu pengetahuan yang lebih luas. Termasuk menggunakan fasilitas pembelajaran yang lebih variatif.

Semoga dengan demikian, tingkat kejenuhan siswa akan berkurang. Berganti dengan kegembiraan dan semangat dalam mengikuti pembelajaran. Tulisan ini adalah otokritik untuk diri sendiri sebagai bahan instrospeksi.

Rabu, 05 Februari 2020

Mindset



Pertanyaan yang sering diperdebatkan siswa ketika membahas tema negara maju dan negara berkembang adalah; Indonesia, apakah tergolong negara maju atau negara berkembang? Biasanya dengan menggunakan metode brainstorming (curah pendapat), saya mendapati silang pendapat. Kelas pecah menjadi dua kelompok. Sekelompok siswa mengatakan Indonesia negara maju, kelompok lain menyebut Indonesia negara berkembang.

Siswa yang mengelompokkan Indonesia pada negara maju menyampaikan fakta. Tentang mall-mall yang tumbuh liar di kota-kota besar dengan model dan gaya modern membuat air liur penggila mall bercucuran. Mobil-mobil mewah dengan model dan gaya kekinian yang memadati jalan dan tempat parkir perkantoran. Gaya hidup para pesohor negeri ini yang penuh glamor dan banyak ditiru oleh anak muda dan anak tua yang seolah-olah muda. Perangkat-perangkat elektronik canggih, seperti smartphone dan smart TV  yang menyasar semua kalangan, bukan lagi makhluk langka.  Pemaparan yang masuk akal.

Di sisi seberang, siswa yang mengelompokkan Indonesia sebagai negara berkembang tak kalah galaknya menyampaikan fakta. Tentang fasilitas kesehatan yang jauh tertinggal, mereka dengan cekatan mencomot berita tentang mantan Ibu Negara, Ibu Ani Yudoyono, Ustadz Arifin Ilham dan beberapa tokoh lainnya yang harus dirujuk ke rumah sakit Singapura karena fasilitas rumah sakit Indonesia yang kurang memadai. Fasilitas pendidikan Indonesia yang juga menurut mereka kalah bersaing negara-negara lain. Buktinya banyak generasi muda Indonesia yang tergila-gila untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Mereka tidak lupa menyebut sederet nama artis terkenal seperti Maudy Ayunda, El Rumi, Teuku Rasya, dan entah nama siapa lagi yang mereka sebut, saya tidak kenal. Ahh! Dasar siswa penggila infotaiment!

Kelompok ini juga menunjukkan bukti tentang taraf kesejahteraan rakyat yang masih rendah, dengan masih banyaknya orang miskin. “Faktanya tidak usah jauh-jauh, di kampung saya, rata-rata penduduknya miskin”, ucap Nadiah dengan mimik yang sengaja dibuat garang. Di luar dugaan, mereka sampai menyerempet masalah korupsi. Menurutnya, alasan yang paling tepat untuk mengelompokkan Indonesia sebagai negara berkembang adalah masih maraknya prilaku korupsi di kalangan pejabat dan dunia usaha. “Bagaimana negara mau maju kalau pejabat tidak berhenti korupsi”, kata Kholis sang ketua kelas.

Saya menikmati curah pendapat ini. Diam-diam saya mengagumi keluasan wawasan mereka. Kelihatan sekali, mereka akrab dengan sumber-sumber belajar yang tidak terbatas pada buku-buku teks di sekolah yang keadaannya sudah kumal dan penuh coretan iseng. Ini sisi positif pemilikan gedget, bagi siswa.

Brainstorming selesai. Untuk memberikan kejelasan bagaimana mendudukkan Indonesia, apakah di kelompok negara maju atau di negara berkembang, maka siswa diberi tugas secara berkelompok untuk mengidentifikasi ciri negara berkembang dan ciri negara maju yang kemudian dicocokkan dengan kondisi Indonesia. Dengan mencermati ciri-ciri itu merekapun akhirnya sepakat, Indonesia tergolong negara berkembang!

Sekarang tugas saya memberikan penguatan. Faktor yang sangat menentukan untuk kemajuan suatu bangsa adalah mindset (pola pikir) warganya. Mindset menjadi dasar bagi seseorang untuk bertindak dan berprilaku. Bisa lahir dari agama/keyakinan yang dianut, bacaan, pengalaman, lingkungan, bisa pula dari kebiasaan yang terawat bertahun-tahun. Saya pernah membaca di sebuah majalah, saya lupa namanya. Cerita tentang seorang dari negara berkembang (di majalah itu disebutkan nama negaranya), sebut saja namanya Hendrik. Hendrik melawat ke satu-satunya negara maju di Asia Tenggara, Singapura.

Suatu pagi Hendrik keluar dari hotel tempatnya menginap untuk jogging. Bersamaan dengannya seorang warga Singapura, sebut saja nama Thomas, juga keluar dari halaman rumahnya untuk keperluan yang sama. Thomas ditemani oleh anjing kesayanganya. Jalanan masih sunyi, kendaraan yang melintas masih jarang. Di sebuah perempatan, lampu merah menyala. Thomas yang posisinya paling depan sudah menyebrang sebelum lampu merah menyala. Sementara Hendrik dan anjingnya Thomas bersamaan tiba pada saat lampu merah menyala. Anjing Thomas secara spontan berhenti dan menunggu lampu selanjutnya menyala. Sementara Hendrik karena beranggapan bahwa jalanan masih sunyi lagi pula tidak ada kendaraan yang lewat maka dia memilih lanjut melanggar lampu merah. Hendrik dari sebuah negara berkembang membawa kebiasaannya ke Singapura, tidak disiplin. Malahan kalah sama anjingnya Thomas yang dengan patuh mengikuti isyarat lampu lalu lintas.

Pada kesempatan yang lain saya membaca pula bagaimana budaya pengendara di Jepang. Meskipun mengendara tengah malam, sendirian tanpa kendaraan lain dan tanpa petugas yang berjaga. Jika lampu merah menyala pengendara tetap patuh, berhenti. Dalam hal antri, Jepang adalah contoh terbaik. Dimanapun, kapanpun, dan dalam keadaan mepet apapun, kalau sudah gilirannya mengantri maka orang Jepang akan melakukannya dengan sangat baik dan teratur meski tak ada yang mengatur. Di Jepang dan negara-negara maju lainnya menganggap bahwa budaya antri harus ditanamkan ke anak-anak sedini mungkin bahkan pembelarannya melebihi porsi mata pelajaran. Seorang guru dari Australia konon pernah berkata; “kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai matematika, kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri”.

Pada perhelatan Piala Dunia di Rusia tahun 2018 lalu, suporter Jepang membuat dunia tercengang. Meskipun kesebelasan kesayangannya tersingkir di Piala Dunia setelah kalah dari Belgia pada babak 16 besar, tetapi negara ini diinggap memenangi hati pencinta bola seluruh dunia. Berawal dari aksi simpatik yang dipertontonkan oleh suporter negeri Sakura itu. Mereka membersihkan sampah di stadion seusai pertandingan. Aksi ini menjadi viral dan menginspirasi beberapa negara lainnya.

Dalam perhelatan Asean Games tahun 2018 di Jakarta aksi serupa kembali dipertontonkan. Dua orang suporter Jepang memunguti puntung rokok yang banyak bertebaran di bawah pohon dan membuangnya di bak sampah. Foto-foto mereka tersebar luas di media sosial dan mengundang banyak simpati. Beberapa waktu lalu menteri Jepang untuk urusan olimpiade dan paralimpik, Yoshita Sakurada meminta maaf secara terbuka karena terlambat tiga menit mengikuti rapat. Meskipun demikian parlemen tetap mendesaknya untuk mengundurkan diri.

Jadi penting untuk dipahami bahwa kemajuan suatu negara tidak boleh hanya dilihat dari tampilan fisik. Dari gedung-gedung pencakar langit, mobil-mobil mewah, atau perangkat teknologi serba canggih. Tetapi yang lebih utama dari semuanya adalah memahami apa yang menjadi landasan dari capaian-capaian itu.

Mindset, pola pikir membangun. Ini yang mendasari kemajuan Jepang, Singapura, Australia, Amerika Serikat, Korea Selatan dan umumnya negara-negara Eropa. Pola pikir akan menghasilkan karakter; disiplin, rajin, bertanggung jawab, ulet, sabar, menghargai waktu, serta jujur. Karakter ini yang dimiliki oleh penduduk negara-negara maju seperti yang dicontohkan pada beberapa potongan cerita di atas. Pantas kalau mereka menikmati kemajuan dan berlomba menjauh meninggalkan negara-negara berkembang.

Lalu bagaimana dengan negeri kita? Saya sering bercerita sambil mengelus dada. Di jalan, saat lampu merah menyala dengan tanpa penjagaan petugas, sebagian pengendara malah tancap gas. Lampu hijau menyala, terlambat sedikit saja star suara klakson berhamburan memekakkan telinga. Di perkantoran, pelayanan publik terhambat oleh tidak adanya budaya antri, siapa kuat apalagi kenal dengan petugas, urusan cepat beres. Di kendaraan umum maupun kendaraan pribadi, penumpang seenaknya membuang sampah cemilan sepanjang jalan yang dilaluinya. Di kantor-kontor, di sekolah, keterlambatan adalah hal yang lumrah. Di pemerintahan, pengangkatan pejabat bukan kerena prestasi tetapi karena kedekatan. Pengambilan keputusan, bukan karena kemaslahatan rakyat tetapi karena kepentingan pribadi dan golongan. Masih banyak lagi yang akan membuat sesak napas jika ingin menyebutnya.

Karakter semacam inilah yang membuat bangsa ini berjalan terseok-terseok mengejar ketertinggalannya. Maka tidak boleh tidak, kita harus bersegera mengikis habis karakter parasit ini. Dan hal ini sangat bisa dilakukan sepanjang kita mau. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius, malahan adalah bangsa dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Semua agama menjunjung tinggi karakter berkemajuan. Ditambah lagi dengan falsafah negara yang menempatkan Indonesia sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.  Kita juga memiliki banyak kearifan lokal serta budaya yang mendukung kemajuan.  Unsur-unsur ini bisa kita padukan, di-eksplorasi untuk menghasilkan pola pikir dan karakter membangun.

Selasa, 04 Februari 2020

Monumen



 
Monumen Mandala
Ada yang belum pernah melihat monumen? Ahh!! Keterlaluan kalau ada.  Bangunan ini begitu familiar di negeri kita.

Di setiap kecamatan dibangun taman makam pahlawan yang sekaligus merupakan monumen untuk mengingatkan tentang arti sebuah pengorbanan. Bahwa jasad yang terkubur di dalam tanah, di tempat itu, adalah orang-orang yang rela mengorbankan jiwa raganya demi membela tanah air yang dicintainya. Pusat-pusat kota tidak lengkap rasanya jika tidak dihiasi dengan monumen. Sudah seperti aksesoris wajib. Malahan beberapa di antaranya menjadi ikon, penanda, ciri khas sebuah kota.

Di Kota Makassar, kita mengenal ada Monumen Mandala yang berdiri gagah di tengah kota. Letaknya strategis. Saking strategisnya, menjadi tempat favorit bagi para demonstran untuk meluapkan aspirasinya. Monumen Mandala, pengingat sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam usaha merebut kembali Irian Barat. Dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) Belanda bersedia meninggalkan Indonesia. Kecuali di Irian Barat,  Belanda masih bertahan. Masalahnya akan dibicarakan satu tahun kemudian, demikian keputusan KMB berkenaan dengan masalah Irian Barat. Akan tetapi beberapa kali perundingan dilakukan tetap saja menemui jalan buntu. Belanda sepertinya sengaja mengulur-ulur waktu agar bisa tetap bertahan di pulau paling timur Indonesia itu.

Pemerintah Indonesia terpaksa menempuh jalan konfrontasi, siap berperang. Tanggal 2 Januari 1962 Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala untuk operasi pembebasan Irian Barat. Markas Besar Komando Mandala dipusatkan di Makassar. Demi melihat keseriusan Indonesia dalam melakukan operasi militer, Perserikata Bangsa-Bangsa (PBB)  turun tangan. PBB membentuk UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority). UNTEA berhasil memediasi Indonesia dengan Belanda. Irian Barat kembali ke pangguan RI secara damai.
Monumen Korban 40.000 Jiwa

Di bagian lain kota Makassar, berdiri monumen yang mengingatkan kita tentang kisah pilu perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Monumen Korban 40.000 jiwa. Terletak di jalan Korban 40.000 Jiwa, Tallo Makassar. Dalam lokasi monumen berdiri beberapa bangunan seperti pendopo, monumen utama yang bagian dindingnya dihiasi dengan relief, dan  pada salah satu sisi bangunan berdiri sebuah patung. Patung dengan tinggi empat meter tersebut menggambarkan seorang korban selamat dari pembantaian dengan kaki yang buntung serta tangannya menggunakan penyangga.

Menatap monumen ini tergambar kebiadaban pasukan Belanda di Sulawesi Selatan. Di bawah pimpinan Kapten Reymond Westerling pasukan Belanda mengadakan pembunuhan dengan keji di beberapa wilayah di Sulawesi Selatan dalam rangka operasi militer yang dinamakan Counter Insurgency atau penumpasan pemberontakan. Pemberontak yang mereka maksud adalah para pejuang yang menolak kehadiran Belanda di Sulawesi Selatan.

Pembunuhan demi pembunuhan dilakukan sejak Desember 1946 hingga Februari 1947. Diperkirakan tidak kurang dari 40.000 jiwa rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi korban. Monumen Korban 40.000 jiwa melambangkan penderitaan, kesetiaan dan pengorbanan rakyat Sulawesi Selatan untuk tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Monumen Emmy Saelan
Masih di Kota Makassar. Kita menjumpai Monumen Emmy Saelan. Terletak di jalan Emmy Saelan, Rappocini, Makassar.  Emmy Saelan yang diabadikan melalui monumen ini adalah adalah salah seorang pejuang wanita Sulawesi Selatan. Lahir pada tanggal 15 Oktober 1924 dan meninggal tanggal 23 Januari 1947 dalam usia 22 tahun. Emmy Saelan adalah anggota Laskar Harimau Indonesia yang berperan sebagai pemimpin laskar perempuan sekaligus bertugas di Palang Merah.

Laskar Harimau Indonesia adalah organisasi pejuang Sulawesi Selatan yang gigih menentang Belanda. Emmy Saelan gugur di kampung Kassi-kassi, Makassar tanggal 23 Januari 1947 dalam bentrokan Laskar Harimau Indonesia dengan Belanda. Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu (dari 40 Pasukan Harimau Indonesia hanya satu orang yang membawa senjata api, yang lainnya senjata tradisonal), para pejuang ini terdesak. Pasukan terpaksa ditarik mundur, tetapi terlambat, teman-teman Emmy berguguran dan dia terkepung oleh tentara Belanda. Emmy tidak rela ditanggap, dia pun meledakkan granat di dekatnya. Emmy Saelan akhirnya gugur bersama dengan tentara Belanda yang mengepungnya.

Emmy Saelan adalah lambang wanita pemberani yang jasa-jasanya perlu dikenang. Monumen yang didirikan di tempat Beliau gugur sejatinya menjadi perantara untuk mengenang perjuanganya. Jasadnya boleh saja terkubur tetapi semangatnya harus tetap dipelihara sampai kapan pun.

Apa pentingnya pembahasan ini? Saya ingin mengatakan bahwa monumen, semakin kehilangan ruhnya. Bangunannya masih kokoh berdiri, dibanggakan sebagai ikon kota, di datangi sebagai tempat wisata, pengunjung dengan penuh kebanggaan berselfi ria di tempat itu, dana digelontorkan untuk memelihara dan menjaganya. Tetapi tak lagi punya ruh.

Monumen punya ruh? Ya. Ruhnya adalah nilai-nilai yang dikandungnya serta sejarah yang melatarinya. Dengan memahami nilai dan latar sejarahnya kita bisa mengambil pelajaran dan meneguk sebanyak-banyaknya hikmah. Monumen bukan sekedar bangunan kaku dan bisu, tetapi senantiasa bercerita. Bercerita lewat makna-makna yang tersirat.

Dalam hubungannya dengan monumen yang telah kita bicarakan sebelumnya. Sejatinya menjadi inspirasi, yang mengabarkan kepada kita hari ini dan kepada generasi mendatang, betapa besar cinta mereka kepada negerinya. Mereka rela mempertaruhkan segalanya, termasuk nyawanya untuk menempatkan bangsa ini di posisi terhormat sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Lalu bagaimana dengan kita hari ini? Apa yang telah kita perbuat untuk negeri ini? Malu rasanya, kita malah menjadi bagian dari masalah. Penghambat kemajuan dan merusak tatanan kehidupan berbangsa. Menggerogoti bangsa ini dengan perilaku tak terhormat, merendahkannya dengan menaruh di bawah kaki-kaki imprealisme baru, para pemodal asing. Yang menjajah melalui ekonomi, budaya dan mendikte arah politik kita. Menghambur-hamburkan uang negara untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Baca sejarah! Kita adalah pewaris manusia-manusia hebat. Manusia pemberani, pahlawan! Dalam tubuh kita mengalir deras darah para pahlawan, bukan pecundang. Bangkit dan teruskan perjuangan mereka. Raih cita-cita yang masih menggantung di angan-angan. Itulah ruh dari setiap monumen. Dan untuk itulah monumen didirikan.


Senin, 03 Februari 2020

Buku Tua


Seorang teman alumni jurusan sejarah suatu ketika curhat. Curhat tentang bagaimana pengalaman dia ketika menyumbang buku di perpustakaan kampusnya. Di kampus itu setiap mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya dianjurkan untuk menyumbang buku referensi sesuai jurusan. Dengan senang hati dia menyumbangkan buku yang baru saja dibelinya yang memang diperuntukkan untuk disumbangkan. Judulnya, "Memenuhi Panggilan Tugas", ditulis oleh Bapak AH. Nasution. Mengapa buku ini jadi pilihan? Belum pernah dia melihat teman-temannya membawa buku ini, meskipun sering disebut-sebut beberapa dosen di ruang kuliah. Jadi bukunya masih langka di kalangan mahasiswa, pasti akan menjadi buku yang menarik.

Tetapi alangkah kecewanya, petugas perpustakaan menolak bukunya dengan alasan yang tidak jelas. Itupun dengan kata-kata yang menusuk. "Kalau tidak mau menyumbang tidak usah, ini suka rela tidak ada paksaan," kata petugas itu dengan sinisnya. Dia menduga buku tersebut ditolak karena terbitan lama alias buku tua. Buku, "Memenuhi Panggilan Tugas", terdiri atas delapan Jilid. Saya cek di internet 1 set (jilid 1-8) harganya Rp. 1.500.000 (www.bukukoleksi.com). Buku yang rencananya disumbangkan oleh teman saya ini adalah jilid 8. Terakhir diterbitkan pada tahun 1989 dengan 475 halaman.

Keistimewaan buku ini terletak pada sisi penulis. AH. Nasution adalah tokoh sekaligus pelaku sejarah. Beliau telah ikut mengalami pahit getirnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan, menegakkan kewibawaan negara dari banyak gangguan dan ancaman. Beliau juga mengalami tumbuh dan berkembangnya bangsa ini mulai dari awal kemerdekaan hingga masa orde baru. Pengalamannya sebagai prajurit hingga sebagai pejabat negara sangat patut dijadikan sebagai referensi untuk mengungkap bagian-bagian yang kabur dari sejarah bangsa ini.

Jurusan sejarah memang identik dengan buku tua. Ini yang sering tidak dipahami oleh sebagian orang, termasuk petugas perpustakaan tadi. Padahal buku tua memegang peranan penting dalam penelitian sejarah. Bisa menjadi sumber primer karena ditulis pada saat peristiwa berlangsung atau setidaknya ditulis dekat dengan peristiwa yang ingin diteliti. Kredibilitas buku itu sebagai sumber sejarah semakin berbobot jika penulisnya adalah juga sebagai pelaku sejarah. Tidak heran jika buku-buku tua banyak yang menjadi incaran para peneliti sejarah atau kolektor yang sekedar menyalurkan hobi mengumpulkan barang-barang langka.

Sejarah bangsa kita bisa tersingkap sebagian besar karena peran buku tua. Di Jawa kita mengenal kitab yang melegenda seperti kitab Negarakertagama yang bercerita tentang kerajaan Majapahit bahkan dari isinya terambil semboyan bangsa kita "Bhineka tunggal ika". Di Sulawesi Selatan kita juga mengenal kitab La Galigo dan Lontara Bilang Raja-raja Gowa – Tallo. Umumnya daerah-daerah di Indonesia memiliki kitab kuno yang menjelaskan keberadaan daerah itu di masa lalu. Kitab-kitab tua ini telah berjasa menyingkap sejarah bangsa kita. Sulit membayangkan bagaimana berbicara tentang negeri ini tanpa kehadiran kitab-kitab itu. Terutama masa di mana sumber-sumber tertulis masih sangat terbatas.

Sangat disayangkan bahwa penghargaan kita terhadap buku-buku tua sangat rendah. Mungkin itulah sebabnya orang-orang Belanda konon ragu untuk mengembalikan kitab-kitab tua yang mereka ambil dari berbagai tempat di Indonesia. Khawatirnya bangsa Indonesia akan menelantarkan harta yang sangat berharga bagi mereka itu. Akibatnya orang-orang Indonesia yang ingin mempelajari sejarahnya, tak jarang harus ke negeri Belanda menggali arsip-arsip kuno milik bangsanya. Tidak dipungkiri ada banyak ilmuan Belanda yang justru lebih ahli tentang Indonesia dibanding orang Indonesia sendiri.

Saatnya kita lebih peduli dengan buku-buku tua yang menyejarah. Kalau perlu dikumpulkan dan diterbitkan ulang. Untuk membantu para sejarawan merekonstruksi sejarah Indonesia yang hingga saat ini masih saja diperdebatkan. Tugas ini bukan hanya dipundak mahasiswa sejarah dan juga sejarawan tetapi semua orang yang punya kepedulian terhadap sejarah.

Hal ini penting untuk melahirkan karya sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Agar di masa depan, sejarah benar-benar bisa menjadi inspirasi kemajuan bangsa. Bukan kebanggaan semu yang dibangun di atas pondasi sejarah yang direkayasa.