Keluhan sering datang dari teman-teman sesama guru. Tentang anak-anaknya yang tidak berminat jadi guru. “Aneh, masa anak yang dihidupi dari gaji guru malah menolak jadi guru”, kata seorang teman yang lagi kesal. Kecewa karena anaknya yang akan masuk universitas menolak mentah-mentah ketika ditawari jurusan keguruan.
Teman-teman yang memaksa,
atau setengah memaksa, atau merayu-rayu anaknya menjadi guru kemungkinan didorong
oleh bermacam-macam pertimbangan. Bisa jadi ingin mempertahankan tradisi
keluarga guru. Kakek dan neneknya guru, ayah dan ibunya juga guru maka akan
sangat lengkap jika anaknya pun menjadi guru. Pertimbangan ini masuk akal bagi
mereka yang memandang profesi guru sebagai profesi yang sangat terhormat,
bahkan sangat sakral.
Mungkin juga karena
berharap nasibnya menular ke anaknya, cepat dapat pekerjaan. Guru dianggap
pekerjaan yang tidak akan gulung tikar. Sampai kapanpun akan tetap dibutuhkan.
Selama manusia belum punah sekolah akan tetap berfungsi. Laju perkembangan
teknologi yang menggila tidak menggoyahkan keyakinan mereka. Bahwa ada
kemungkinan fungsi guru di masa depan akan tergeser oleh teknologi. Mereka
tidak percaya. Hebat!
Bisa juga, bukan karena
alasan mempertahankan tradisi keluarga yang seoalah ditakdirkan menjadi “kasta
guru”. Juga bukan karena pertimbangan mudah dapat pekerjaan. Tetapi semata
didorong oleh keinginan untuk mengabdikan diri. Guru dipandang sebagai
pekerjaan yang paling mulia. Salah satu amalan yang dijanjikan pahala yang
tidak akan terputus meskipun yang bersangkutan telah meninggal.
Kita mengenal banyak guru
yang mengajar dengan semangat keikhlasan. Di pelosok-pelosok yang nun jauh di
sana. Di wilayah yang tak terjamah alat komunikasi canggih. Akses trasfortasi yang
sulit dijangkau, keadaan yang membayangkannya saja bisa membuat ngilu seluruh
persendian. Imbalan bukanlah yang utama. Bagi mereka mengeluarkan masyarakat
dari gelapnya kebodohan adalah prioritas. Kita wajib bersyukur masih ada
penduduk bumi dengan akhlak melangit seperti mereka.
Faktanya, minat generasi
muda menjadi guru sedang mengalami penurunan. Tahun lalu (2019), pihak kementerian
pendidikan merilis hasil survey terhadap pelajar SMA tentang pilihan profesi
mereka. Survey ini dilakukan pada saat mereka mengikuti Ujian Nasional Berbasis
Komputer (UNBK). Hasilnya menunjukkan
adanya penurunan minat pelajar (kaum milineal) menjadi guru.
Pak Totok Suprayitno (Kepala Balitbang Kemendikbud) menyebutkan bahwa dari keseluruhan responden yang diuji
hanya 11 persen yang tertarik jadi guru. Dari 11 persen tersebut, siswa yang
tertarik menjadi guru didominasi oleh kaum perempuan, dan rata-rata memiliki
nilai Ujian Nasional di bawah rata-rata. Menariknya, profesi guru kalah
bersaing dengan profesi yang terhitung baru namun sangat digandrungi kaum
milineal yaitu youtuber.
Mengapa profesi guru sepi peminat, bahkan oleh anak guru sendiri yang nota
bene hidup, bergaul dan tentu sangat akrab dengan atmosfir keguruan. Jawabannya
bisa bermacam-macam. Tetapi menurut saya, problem utamanya ada dua. Pertama;
karena
profesi guru tidak prestisius di mata anak-anak. Guru selama ini digambarkan
sebagai sosok sederhana dan sangat bersahaja. Ingat cerita tentang Guru Oemar
Bakri dalam lirik lagu penyanyi legendaris, Iwan Fals. Dalam visualisasinya
Oemar Bakri digambarkan sebagai seorang guru dengan baju safari yang khas
menenteng tas kulit buaya (lusu) mengayu sepeda kumbang di jalan yang
berlubang.
Walaupun mungkin cerita Iwan Fals dalam lagu ini hanyalah fiktif belaka
namun bisa mewakili profil sebagian guru-guru kita di masa lalu. Bisa jadi
sosok guru dengan visualisasi seperti Oemar Bakri inilah yang kemudian direkam
kuat dalam benak anak-anak kita dan menyimpulkan bahwa menjadi guru tidaklah
prestisius dan sekaligus kurang menjanjikan. Berbeda dengan profesi-profesi
lain. Dokter misalnya, selalu digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan
berwibawa, rapi dengan jas putihnya dan mengendarai mobil mewah. Maka pantas
jika profesi dokter selalu menjadi incaran anak-anak cerdas. Bukan hanya
pretisius dalam penampilan tetapi juga dalam ukuran materi, pendapatan.
Dengan adanya tunjangan profesi, apakah tidak menjadikan guru sebagai profesi yang pantas
diidamkan? Dari segi pendapatan mungkin iya. Berkat tunjangan profesi
penampilan guru-guru banyak yang berubah.
Tak ada lagi sepeda kumbang, atau sepeda motor butut. Sekarang guru-guru sudah pakai
mobil pribadi. Pakaian dan tas juga tak lagi lusu. Tunjangan profesi menyulap
penampilan guru-guru menjadi sosok yang berbeda tak lagi seperti Oemar Bakri.
Tetapi dari segi kompetensi, secara rata-rata belum seperti yang
diharapkan. Hal ini bisa kita lihat
dari hasil UKG (Uji Kompetensi Guru) tahun 2015. Secara nasional, rata-rata UKG
adalah 53,02 masih di bawah standar nasional. Padahal standar nasionalnya masih
rendah yakni 55,00. Meskipun hasil UKG tidak bisa dijadikan sebagai
satu-satunya indikator kualitas guru. Tetapi setidaknya fakta ini mengungkapkan
betapa masih banyak guru yang tidak kompeten.
Kedua; guru selama ini terkesan bekerja di
bawah tekanan. Kesan ini sangat terasa sejak pemberlakuan UU
Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Sedikit-sedikit
guru diancam dengan akan dicabut tunjangan profesinya. Hal ini menyebar di
media-media sosial yang biasanya mengutip pidato para pejabat.
Guru juga sering menjadi
korban pertarungan politik di daerah. Menimbulkan kekhawatiran dan keprihatinan tersendiri.
Bukan itu saja. Publik juga
sering dipertontonkan dengan kasus-kasus pelecehan terhadap guru. Siswa yang
menantang guru berkelahi. Orang tua siswa yang menyeret guru ke meja hijau dan
berakhir di penjara. Yang paling sadis, siswa membunuh gurunya. Fakta-fakta ini
membuat potret diri guru menjadi suram.
Kerja keras memang perlu
dilakukan untuk mengangkat kembali derajat guru-guru kita. Kompetensinya harus
segera dibenahi secara tersktruktur melalui kementerian pendidikan dan secara
mandiri oleh guru-guru itu sendiri. Empat jenis kompetensi guru; pedagogik, profesi,
kepbribadian dan sosial harus mewujud dan bersenyawa dalam diri seorang guru.
Peningkatan kesejahteraan,
meskipun terkesan klise tetapi tidak bisa dinafikan. Guru juga perlu hidup
layak bahkan kalau bisa, lebih dari layak. Bagaimana mungkin generasi muda akan
tertarik menjadi guru jika profesi ini kurang menjanjikan dari sisi ekonomi?
Guru sejahtera akan menjadi
daya tarik bagi generasi muda untuk memilih profesi ini. Profesi guru akan
memiliki daya tawar yang tinggi seperti profesi-profesi lain yang banyak
peminatnya. Rekrutmen calon guru juga bisa ditata dengan baik, diperketat. rekrutmen
yang selektif akan menghasilkan calon-calon guru yang kompeten.
Kurangnya minat generasi
muda untuk menjadi guru sebagaimana hasil survey Kementerian Pendidikan
mestinya mendapat perhatian yang serius. Sehingga suatu saat guru tidak hanya
menyaingi youtuber tetapi juga
menjadi profesi selingan. Guru sekaligus youtuber.


0 komentar:
Posting Komentar