Channel YouTube

Jumat, 21 Februari 2020

Guru Versus Youtuber



Keluhan sering datang dari teman-teman sesama guru. Tentang anak-anaknya yang tidak berminat jadi guru. “Aneh, masa anak yang dihidupi dari gaji guru malah menolak jadi guru”, kata seorang teman yang lagi kesal. Kecewa karena anaknya yang akan masuk universitas menolak mentah-mentah ketika ditawari jurusan keguruan.

Teman-teman yang memaksa, atau setengah memaksa, atau merayu-rayu anaknya menjadi guru kemungkinan didorong oleh bermacam-macam pertimbangan. Bisa jadi ingin mempertahankan tradisi keluarga guru. Kakek dan neneknya guru, ayah dan ibunya juga guru maka akan sangat lengkap jika anaknya pun menjadi guru. Pertimbangan ini masuk akal bagi mereka yang memandang profesi guru sebagai profesi yang sangat terhormat, bahkan sangat sakral.

Mungkin juga karena berharap nasibnya menular ke anaknya, cepat dapat pekerjaan. Guru dianggap pekerjaan yang tidak akan gulung tikar. Sampai kapanpun akan tetap dibutuhkan. Selama manusia belum punah sekolah akan tetap berfungsi. Laju perkembangan teknologi yang menggila tidak menggoyahkan keyakinan mereka. Bahwa ada kemungkinan fungsi guru di masa depan akan tergeser oleh teknologi. Mereka tidak percaya. Hebat!

Bisa juga, bukan karena alasan mempertahankan tradisi keluarga yang seoalah ditakdirkan menjadi “kasta guru”. Juga bukan karena pertimbangan mudah dapat pekerjaan. Tetapi semata didorong oleh keinginan untuk mengabdikan diri. Guru dipandang sebagai pekerjaan yang paling mulia. Salah satu amalan yang dijanjikan pahala yang tidak akan terputus meskipun yang bersangkutan telah meninggal.

Kita mengenal banyak guru yang mengajar dengan semangat keikhlasan. Di pelosok-pelosok yang nun jauh di sana. Di wilayah yang tak terjamah alat komunikasi canggih. Akses trasfortasi yang sulit dijangkau, keadaan yang membayangkannya saja bisa membuat ngilu seluruh persendian. Imbalan bukanlah yang utama. Bagi mereka mengeluarkan masyarakat dari gelapnya kebodohan adalah prioritas. Kita wajib bersyukur masih ada penduduk bumi dengan akhlak melangit seperti mereka.

Faktanya, minat generasi muda menjadi guru sedang mengalami penurunan. Tahun lalu (2019), pihak kementerian pendidikan merilis hasil survey terhadap pelajar SMA tentang pilihan profesi mereka. Survey ini dilakukan pada saat mereka mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Hasilnya menunjukkan adanya penurunan minat pelajar (kaum milineal) menjadi guru.

Pak Totok Suprayitno (Kepala Balitbang Kemendikbud) menyebutkan bahwa dari keseluruhan responden yang diuji hanya 11 persen yang tertarik jadi guru. Dari 11 persen tersebut, siswa yang tertarik menjadi guru didominasi oleh kaum perempuan, dan rata-rata memiliki nilai Ujian Nasional di bawah rata-rata. Menariknya, profesi guru kalah bersaing dengan profesi yang terhitung baru namun sangat digandrungi kaum milineal yaitu youtuber.

Mengapa profesi guru sepi peminat, bahkan oleh anak guru sendiri yang nota bene hidup, bergaul dan tentu sangat akrab dengan atmosfir keguruan. Jawabannya bisa bermacam-macam. Tetapi menurut saya, problem utamanya ada dua. Pertama; karena profesi guru tidak prestisius di mata anak-anak. Guru selama ini digambarkan sebagai sosok sederhana dan sangat bersahaja. Ingat cerita tentang Guru Oemar Bakri dalam lirik lagu penyanyi legendaris, Iwan Fals. Dalam visualisasinya Oemar Bakri digambarkan sebagai seorang guru dengan baju safari yang khas menenteng tas kulit buaya (lusu) mengayu sepeda kumbang di jalan yang berlubang.

Walaupun mungkin cerita Iwan Fals dalam lagu ini hanyalah fiktif belaka namun bisa mewakili profil sebagian guru-guru kita di masa lalu. Bisa jadi sosok guru dengan visualisasi seperti Oemar Bakri inilah yang kemudian direkam kuat dalam benak anak-anak kita dan menyimpulkan bahwa menjadi guru tidaklah prestisius dan sekaligus kurang menjanjikan. Berbeda dengan profesi-profesi lain. Dokter misalnya, selalu digambarkan sebagai sosok yang cerdas dan berwibawa, rapi dengan jas putihnya dan mengendarai mobil mewah. Maka pantas jika profesi dokter selalu menjadi incaran anak-anak cerdas. Bukan hanya pretisius dalam penampilan tetapi juga dalam ukuran materi, pendapatan.

Dengan adanya tunjangan profesi, apakah tidak menjadikan guru sebagai profesi yang pantas diidamkan? Dari segi pendapatan mungkin iya. Berkat tunjangan profesi penampilan guru-guru banyak yang berubah. Tak ada lagi sepeda kumbang, atau sepeda motor butut. Sekarang guru-guru sudah pakai mobil pribadi. Pakaian dan tas juga tak lagi lusu. Tunjangan profesi menyulap penampilan guru-guru menjadi sosok yang berbeda tak lagi seperti Oemar Bakri.

Tetapi dari segi kompetensi, secara rata-rata belum seperti yang diharapkan. Hal ini bisa kita lihat dari hasil UKG (Uji Kompetensi Guru) tahun 2015. Secara nasional, rata-rata UKG adalah 53,02 masih di bawah standar nasional. Padahal standar nasionalnya masih rendah yakni 55,00. Meskipun hasil UKG tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya indikator kualitas guru. Tetapi setidaknya fakta ini mengungkapkan betapa masih banyak guru yang tidak kompeten.

Kedua; guru selama ini terkesan bekerja di bawah tekanan. Kesan ini sangat terasa sejak pemberlakuan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Sedikit-sedikit guru diancam dengan akan dicabut tunjangan profesinya. Hal ini menyebar di media-media sosial yang biasanya mengutip pidato para pejabat.

Guru juga sering menjadi korban pertarungan politik di daerah. Menimbulkan kekhawatiran dan keprihatinan tersendiri. 

Bukan itu saja. Publik juga sering dipertontonkan dengan kasus-kasus pelecehan terhadap guru. Siswa yang menantang guru berkelahi. Orang tua siswa yang menyeret guru ke meja hijau dan berakhir di penjara. Yang paling sadis, siswa membunuh gurunya. Fakta-fakta ini membuat potret diri guru menjadi suram.

Kerja keras memang perlu dilakukan untuk mengangkat kembali derajat guru-guru kita. Kompetensinya harus segera dibenahi secara tersktruktur melalui kementerian pendidikan dan secara mandiri oleh guru-guru itu sendiri. Empat jenis kompetensi guru; pedagogik, profesi, kepbribadian dan sosial harus mewujud dan bersenyawa dalam diri seorang guru.
Peningkatan kesejahteraan, meskipun terkesan klise tetapi tidak bisa dinafikan. Guru juga perlu hidup layak bahkan kalau bisa, lebih dari layak. Bagaimana mungkin generasi muda akan tertarik menjadi guru jika profesi ini kurang menjanjikan dari sisi ekonomi?

Guru sejahtera akan menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk memilih profesi ini. Profesi guru akan memiliki daya tawar yang tinggi seperti profesi-profesi lain yang banyak peminatnya. Rekrutmen calon guru juga bisa ditata dengan baik, diperketat. rekrutmen yang selektif akan menghasilkan calon-calon guru yang kompeten.

Kurangnya minat generasi muda untuk menjadi guru sebagaimana hasil survey Kementerian Pendidikan mestinya mendapat perhatian yang serius. Sehingga suatu saat guru tidak hanya menyaingi youtuber tetapi juga menjadi profesi selingan. Guru sekaligus youtuber.

0 komentar:

Posting Komentar