Saya mengira kelangkaan masker hanya terjadi di kota-kota besar. Pulang dari rumah ibu, diakhir pekan, saya penasaran. Saya coba melakukan survey kecil-kecilan dengan menyinggahi beberapa apotek di sepanjang Jalan yang saya lalui. Saya ingin memastikan ketersediaan masker di tempat-tempat tersebut (seolah-olah pejabat lagi sidak, hehe). Hasilnya, nihil. Semua apotek yang saya masuki kehabisan stok.
Teringat beberapa hari yang lalu media ramai memberitakan dua orang mahasiswa di Makassar ditangkap polisi karena berusaha menjual masker ke luar negeri, Selandia Baru. Polisi berhasil mengamankan paket berisi 200 boks masker dengan berbagai merek. Keduanya mengumpulkan masker tersebut selama dua pekan dari tiga daerah yaitu, Makassar, Gowa, dan Takalar.
Wadduh! Pantas saja masker di beberapa apotek yang saya datangi ludes. Anehnya, saat singgah dipenjual roti langganan saya, lagi-lagi saya kehabisan stok. Roti kok ikut-ikutan menghilang.
Masker menjadi barang yang paling dicari menyusul pernyataan pemerintah yang memastikan adanya 2 orang WNI positif COVID-19. Kondisi ini menyebabkan kenaikan harga yang tidak wajar di pasaran. Data dari kepolisian menyebutkan, masker yang biasanya dijual dengan harga 50.000 – 70.000 Rupiah per dus bisa menembus harga ratusan ribu rupiah. Bahkan untuk masker dengan merek tertentu bisa mencapai 1,5 juta rupiah. Bukan hanya harganya yang naik, keberadaannya pun semakin langka.
Selain masker, hand sanitizer juga menghilang di pasaran. Di Bogor warga menjadikan alkohol sebagai pengganti hand sanitizer. Akibatnya, alkohol pun menjadi barang buruan.
Kenaikan harga masker dan hand sanitizer disebabkan oleh adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja menimbun. Kabareskrim Polri pada hari Kamis, 5 Maret 2020 mengatakan bahwa pihaknya sudah menemukan 13 kasus penimbunan masker hingga hand sanitizer, dengan barang bukti 822 kardus, 61.550 lembar masker, 138 kardus sanitizer. Kita pantas mengapresiasi kerja polisi yang cepat tanggap.
Kasus penimbunan barang-barang kebutuhan hal jamak terjadi. Terutama dalam menghadapi peristiwa tertentu. Saat terjadi bencana misalnya, selalu saja ada orang yang rela mengambil keuntungan dengan mempermainkan nyawa sesamanya manusia. Baginya, permintaan yang meningkat adalah kesempatan emas yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Bahan bakar minyak, gas, dan sembako adalah deretan barang yang sering langka pada saat-saat tertentu.
Dalam kebudayaan Romawi Kuno dikenal ungkapan homo homoni lupus yang berarti manusia adalah serigala bagi manusia yang lainnya. Ungkapan ini Pertama kali diperkenalkan oleh penulis drama asal Roma bernama Titus Maccius Plautus dalam karyanya berjudul Asinaria pada tahun 195 SM. Kemudian Thomas Hobbes menuliskan dalam bukunya yang berjudul De Cive pada tahun 1651.
Homo homoni lupus mengumpamakan kehidupan manusia seperti binatang. Bersaing, saling memangsa. Tidak sekedar untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menunjukkan kekuasaan atas manusia lainnya. Maka berlakulah hukum rimba. Siapa kuat, dia yang berkuasa. Dan dengan kekuasaannya dia bisa melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya.
Dalam ekonomi, homo homoni lupus mewujud dalam bentuk ideologi kapitalisme. Kapitalisme memandang segala sesuatu dengan azas manfaat. Perilaku dan pola pikir manusia diukur berdasarkan kebermanfaatan atas dirinya. Tidak peduli, sekalipun merugikan orang lain. Kapitalisme sejatinya adalah ideologi serakah yang menjadi sumber kerusakan di muka bumi.
Hutan digunduli, perut bumi dikuras, air laut, tanah dan udara dicemari. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin menganga lebar dan merosotnya nilai-nilai luhur kemanusiaan. Relasi antar manusia diukur dari keuntungan materi, bukan atas dasar prikemanusiaan apalagi nilai-nilai keilahian. Maka pantas jika dalam keadaan genting sekalipun masih saja ada orang yang rela menari-nari di atas derita orang lain.
Dalam politik, homo homoni lupus diadopsi oleh Niccolo Machiavelli (1469-1527). Seorang filsuf Italia yang terkenal dengan bukunya “The Prince”. Namanya dimasukkan oleh Michael H. Hart dalam bukunya, “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia”. Machiavelli dikenal dengan sarannya bahwa seorang penguasa yang ingin memelihara dan meningkatkan kekuasaannya harus menggunakan cara-cara curang, licik, dan kebohongan dikombinasikan dengan penggunaan kekerasan yang bengis.
Konsepsi politik Machiavelli yang demikian itu banyak digunakan oleh penguasa-penguasa diktator maupun pelaku-pelaku politik untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan. Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Meskipun kawan harus menjadi lawan atau sebaliknya, lawan menjadi kawan. Keluarga dekat pun rela disingkirkan jika menghalangi tujuan.
Kolaborasi antara kapitalisme dan Machiavellisme inilah yang saat ini mengendalikan dunia. Negara-negara Barat dan Amerika sebagai sponsor utamanya. Jelas keberadaannya merupakan ancaman serius.
Benarkah manusia adalah serigala bagi manusia lainnya? Teks-teks agama menyatakan sebaliknya. Dalam ajaran Islam, orang-orang beriman adalah bersaudara. Tidak peduli asal keturunan, warna kulit maupun strata sosial.
Persaudaraan diikat dengan cinta dan kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadist yang lain disebutkan : “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]
Islam sangat mencela manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa mempedulikan orang lain, serakah dan aniayah. Alih alih menjadi serigala bagi manusia lainnya. Islam justru mendorong manusia menjadi rahmat untuk seluruh alam.


0 komentar:
Posting Komentar