Channel YouTube

Sabtu, 21 Maret 2020

The Power of Kepepet


Covid-19 menyebar dengan cepat, jumlah orang yang dinyatakan positif terinfeksi terus bertambah. Untuk mengurangi laju penyebarannya pemerintah mengeluarkan himbauan melakukan social distancing. Tujuannya untuk mengurangi kemungkinan kontak antara orang yang terinfeksi dengan orang lain yang belum terinfeksi. Cara ini diharapkan bisa mengurangi tingkat penyebaran virus yang sangat mengkhawatirkan ini.

Social distancing berdampak ke dunia pendidikan. Menteri Pendidikan mengambil kebijakan meliburkan persekolahan. Langkah serupa dilakukan pula oleh pemerintah  daerah. Sekolah diliburkan tetapi pembelajaran tetap berlangsung. Modelnya adalah dengan melakukan pembelajaran dalam jaringan (daring). Model ini memungkinkan siswa dan guru tetap terhubung tanpa harus meninggalkan rumah.

Pembelajaran daring. Apakah guru dan siswa siap? Untuk wilayah perkotaan mungkin tidak terlalu bermasalah. Sarana dan prasarana daring cukup tersedia. Kemampuan guru dan siswa dalam beradabtasi juga tidak diragukan. Bagaimana dengan wilayah-wilayah lain.
Tetapi tidak baik mengeluh. Apalagi keadaan sudah darurat, “keluhan hanya akan melemahkan jiwa”, kata Bung Karno.

Di sekolah, saya segera mengumpulkan teman-teman di ruang guru. “Hari ini kita berkumpul untuk kursus kilat”, kataku membuka pembicaraan. Kursus kilat tips membelajarkan siswa secara daring. Ini mendesak. Tidak semua teman terbiasa dengan model pembelajaran daring. Meskipun semuanya memiliki perangkat smartphone yang mendukung.

Hari itu kami berdiskusi bersama. Kami memilih aplikasi yang paling sederhana dan paling familiar, yakni WhatsApp (WA). Langkah pertama adalah mendata nomor WA siswa, orang tua, atau kerabat lainnya yang bisa terhubung. Buat grup di setiap kelas. Kemudian belajar bagaimana mengunduh bahan ajar di internet baik berupa tulisan maupun video dan mengirimnya ke grup WA siswa. Untuk penilaian kami memilih quizizz pun dibahas secara kilat. Alhamdulillah, kami bubar dengan semangat siap membelajarkan siswa dengan model daring.

Kebijakan belajar di rumah secara daring membuat guru-guru memaksakan diri belajar IT. Melirik kembali aplikasi-aplikasi pembelajaran daring yang di masa lalu tak dianggap mendesak untuk dipelajari. Guru-guru menjadi akrab dengan mbah google mencari panduan, di samping rajin mengutak-atik playstore menginstal aplikasi pembelajaran di smartphonenya. 

Akhirnya guru-guru tersadar begitu pentingnya paham IT. Ternyata energi untuk belajar, visi untuk maju tidak pernah padam. Hanya membutuhkan pemicu, dorongan, atau sedikit rasa keterpaksaan. Dalam keadaan darurat energi itu menemukan jalannya.  

Jagat maya dibanjiri training daring yang dilakukan oleh komunitas-komunitas pendidik maupun secara individu. Tidak terkecuali, Teman-teman di Pusat Belajar Guru (PBG) Gowa sibuk membuka kelas bimbingan belajar daring. Mereka seolah berlomba untuk bersama membantu guru untuk terus terhubung dengan siswanya melakukan pembelajaran jarak jauh. Geliat guru-guru mengembangkan diri berjalan dengan alami, tanpa instruksi. Juga tanpa ancaman.

Teringat sebuah cerita. Seorang dikejar anjing. Dia berlari demikian cepat seperti kesurupan angin puting beliung. Tak hanya mampu berlari super cepat, dia juga bisa membuat selebrasi memukau untuk mengecoh pergerakan anjing. Bahkan bisa melompati tembok yang tinggi dan membuat anjing kehilangan jejak. Dia benar-benar bisa lolos. Setelah beristirahat dan menenangkan diri, bukan ekspresi bahagia yang nampak di mukanya.  Dia malah bingung, heran, kok bisa-bisanya berlari sekencang itu, membuat selebrasi gila dan melompati tembok yang tidak mungkin dia sanggup melakukannya dalam keadaan normal.
Manusia sesungguhnya punya kekuatan besar melebihi yang kita kira. Hanya saja jarang dimaksimalkan. Keadaan kepepetlah yang memaksa kekuatan itu muncul. Seorang teman menyebutnya “the power of kepepet” (istilah ini saya comot dari status WA seorang teman).

Semasa kuliah, saya dan teman-teman seringkali menggunakan kekuatan ini. Apalagi kalau bukan untuk menyelesaikan tugas-tugas. Khususnya mahasiswa yang punya keahlian khas, menunda-nunda pekerjaan. Begitu batas waktu penyetoran tugas mendekat baru dikebut mengumpulkan seluruh kekuatan dari segala penjuru arah angin. Tak peduli harus begadang semalam suntuk. Kami menyebutnya, SKS (Sistem Kebut Semalam). Tugas selesai, hati pun lega. Setelah tiba di tempat penjilidan baru tersadar bisa-bisanya menyelesaikan tugas setebal itu, hanya dalam semalam. Ini contoh jelek yang tidak boleh ditiru oleh mahasiswa zaman sekarang, meskipun didampingi oleh instruktur yang berpengalaman.

Keadaan darurat ini memicu semangat guru untuk belajar. Andai saja semangat belajar ini bisa dirawat, dipelihara hingga ke masa damai nanti (setelah wabah covid-19 berakhir), maka akan menjadi berita yang menggembirakan bagi kemajuan pendidikan nasional. Yang harus dilakukan tinggal membenahi fasilitas di setiap sekolah. Menyiapkan jaringan internet dan membekali siswa dengan perangkat elektronik.

Jika ini bisa terlaksana saya kira kesibukan pemerintah untuk melatih guru akan berkurang. Guru bisa dengan mandiri mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhannya.  Apalagi saat ini sudah banyak komunitas guru maupun lembaga diklat nonpemerintah yang melakukannya. Malah pelatihan yang mereka lakukan sangat diminati, karena sesuai dengan kebutuhan guru, selaras dengan perkembangan zaman (up to date).

Dengan demikian, anggaran untuk pelatihan guru di kementerian sebagian bisa dialihkan untuk pengadaan perangkat jaringan internet di sekolah. Saya yakin ini bisa menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan.

Dari kelas yang saya bimbing, nampaknya siswa cukup menikmati pembelajaran. Mereka bisa berselancar di dunia maya mencari materi, membaca atau menonton video pembelajaran. Menjawab pertanyaan seolah main game. “Mengasyikkan”, kata mereka. Memang asyik karena gadget adalah dunianya, game adalah mainannya. Maka, ketika pembelajaran memasuki dunianya dan memungsikan mainannya, tentu mereka akan senang.

Saya menikmati percakapan mereka di google classroom dan antusias mereka mengirimkan tugas. Saya juga menikmati semangat mereka berkompetisi menjawab soal di Quizizz . Betapa gembiranya mereka ketika pembelajaran kami laksanakan lewat Zoom Cloud Meeting. Saya kaget juga, kemampuan siswa untuk menggunakan aplikasi yang saya rujuk sangat luar biasa. Tidak terbayangkan sebelumnya. Sayang sekali bahwa belum semua siswa bisa terhubung, karena terkendala jaringan yang tidak stabil.

Semoga Allah segera menurunkan pertolongan-Nya. Mengangkat wabah ini dan menyelamatkan kita. Selanjutnya kita memunguti butiran-butiran hikmah yang tersisa. Semoga Allah berkenan memberikan kesempatan kepada kita semua untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu. Cukuplah wabah ini menjadi pengingat akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Dan membuat kita tersadar betapa kerdilnya manusia di hadapan Sang Khalik.

Gowa, 21 Maret 2020

0 komentar:

Posting Komentar