Channel YouTube

Rabu, 30 Maret 2022

OSIS


Senin, 29 Maret 2022. Melantik Pengurus OSIS dan MPK SMP Negeri 1 Parangloe. Pelantikan dirangkaikan dengan Rapat Kerja untuk menyusun program kerja satu tahun kedepan. Mewakili kepala sekolah, saya mengucapkan terima kasih kepada pembina OSIS atas ketekunan mereka mendampingi. Mulai dari pemilihan pengurus hingga pelantikan dan pelaksanaan rapat kerja hari ini. Saya paham betul, tidak mudah melakukan koordinasi di masa tatap muka terbatas ini. Bahwa semuanya bisa berjalan dengan baik, tentu patut diapresiasi dan disyukuri.

Berorganisasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan secara menyeluruh. Organisasi memberikan pengalaman kepemimpinan dan manajerial yang mungkin saja terlewatkan dalam pembelajaran di kelas. Hal ini bisa terjadi, mengingat muatan materi mata pelajaran yang padat dengan alokasi waktu yang terbatas.
Maka kehadiran organisasi kesiswaaan di sekolah, intra maupun ekstra, sangat penting. Bukan hanya kepemimpinan, tetapi juga dalam penguatan karakter. Pengurus OSIS dapat menjadi pionir (pelopor) dalam menumbuhkan kebiasan-kebiasaan baik di sekolah dan di luar sekolah. Menjadi duta-duta kebaikan yang akan menebarkan sifat baik itu kepada teman-temannya yang lain.
Dalam pelaksanaan kegiatan, mereka dibiasakan membuat perencanaan, mengorganisir kegiatan dan juga mengevaluasinya. Secara tidak langsung, mereka ditunjukkan bagaimana sistem sosial di masyarakat itu terjadi. Bagaimana menyelesaikan setiap problem yang ada. Secara mandiri dan bertanggung jawab. Kemampuan ini adalah modal yang perlu dimiliki oleh setiap generasi. Untuk menghadapi kehidupan sesungguhnya. Kehidupan di tengah-tengah masyarakat yang sarat dengan problem.
Pun dalam hal pengembangan bakat minat. Begitu banyak siswa yang berbakat pada bidang akademik maupun non akademik tetapi sering tidak terdeteksi. Atau mungkin terdeteksi tetapi tidak memiliki wadah. Di sinilah peran organisasi kesiswaaan, mengidentifikasi bakat minat, dan juga menjadi wadah bagi pengembangannya.
Peran dan fungsi OSIS perlu terus diperkuat. Sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Pastikan kegiatan-kegiatan kesiswaan terarah dengan benar dan berorientasi pada kebutuhan siswa. OSIS memiliki kans yang besar dalam turut mewujudkan profil pelajar pancasila.
Selamat kepada anak-anakku yang terpilih sebagai pengurus OSIS dan MPK SMP Negeri 1 Parangloe.
Selamat menjalankan tugas. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Minggu, 27 Maret 2022

Wisuda Santri



Hari ini mengantar Fathan mengikuti wisuda santri. Wisuda santri TK/TPA ini bertempat di kampus Samata UIN Alauddin Makassar, serasa wisuda mahasiswa. Masuk kampus, melihat orang-orang bertoga, mengingatkan masa-masa itu. Puluhan tahun silam. Ketika menggunakan kostum yang sama, pakai jubah kebesaran bermahkotakan toga, sah menjadi sarjana. Meskipun sensasi sarjana waktunya hanya sebentar. Yang lama, pusing mau kerja apa.

Wisuda sarjana sama saja dengan wisuda santri. Pengantar lebih banyak dari wisudawannya. Satu orang wisudawan diantar minimal satu pete-pete (angkot) belum lagi yang berkendaraan roda dua. Bisa dibayangkan betapa membludaknya. Kalau kampusnya di jalan Poros, pengguna jalan siap-siap menikmati kemacetan.
Teman saya dari daerah malah menyewa satu bus untuk mengangkut keluarganya. Di negara maju, ada tidak yang beginian. Hehe.
Saya wisuda tahun 1997. Malam sebelum wisuda, ibu-ibu tetangga berkumpul di rumah. Menyiapkan hidangan untuk pengantar dan tamu. Prediksi ibu saya, besok akan banyak orang bertamu. Ini peristiwa langka. Untuk pertama kalinya ada wisudawan dari kampung ini. Dan orang itu adalah saya, istimewa kan?
Ke kampus, diantar dua mobil. Satu taksi, yang satunya pete-pete, yang naik motor entah berapa. Saya bersama bapak dan ibu di taksi. Bapak duduk di depan samping sopir pakai jas, lengkap dengan kopiah hitamnya. Kaca mobil diturunkan, sehingga dia bebas melambaikan tangan kepada teman-temannya, sesama pagandeng yang menjejali jalan. Dia kelihatan bahagia, bangga, akhirnya anak Mapala (Mahasiswa Paling Lama) ini wisuda juga. Setelah penantian yang melelahkan. Enam tahun.
Sementara ibu, hanya duduk dengan grogi di samping saya. Seumur-umur baru kali ini dia naik mobil bagus. Pak sopir saya minta untuk tidak menyalakan AC. kasihan ibu, bisa-bisa menggigil kedinginan.
Tahun 2006, wisuda lagi. Kali ini tanpa hiruk pikuk. Pengantarnya pun hanya dua orang, istri dan anak saya. Bertiga, naik motor. Pakai jubah wisuda dikombinasi helm. Seru sekali. Ini wisudawan atau cowboy sih...
Jika pada wisuda pertama menghabiskan rool film 36 kutip, wisuda kali ini tidak ada dokumentasi sama sekali. Terasa aneh juga, momen sepenting ini tidak diabadikan.
Tetapi dari sini kita bisa paham, ternyata ada banyak hal yang sebenarnya bisa disederhanakan, tetapi kadang dibuat rumit. Saking rumitnya sering lupa pada urusan yang sesungguhnya. Bingung, mana yang harus didahulukan, dan mana yang boleh ditunda.
Kembali ke wisuda santri hari ini. Bagi kalangan bawah, acara semacam ini adalah hiburan tersendiri. Bangga, tentu saja.
Saya perhatikan wajah-wajah orang tua yang mendampingi anaknya. Begitu bahagianya. Lebih antusias bahkan dari anaknya. Terlihat dari betapa sibuknya mereka mencari spot foto yang menarik. Yang lainnya malah tidak mempedulikan tempat, di mana ada kesempatan langsung jepret.
Bagi anak-anak, wisuda santri sangat penting. Untuk memberikan penghormatan, penghargaan akan capaian mereka. Dulu tidak ada wisuda santri. Cara mengapresiasi anak-anak yang tuntas pelajaran mengajinya adalah dengan acara khataman Qur'an, pesta khusus. Atau dirangkaikan dengan acara lain, perkawinan misalnya. Dibeberapa daerah, anak-anak ini diarak keliling kampung, menunggang kuda dengan pakaian adat.
Bisa membaca Al-Quran adalah prestasi luar biasa dan perlu dirayakan. Apresiasi ini dibutuhkan untuk memberi dorongan kepada anak-anak lebih semangat mempelajari Al-Quran. Semoga membekas hingga dewasa nanti, menjadi pengingat dan pengontrol diri.
Maka tidak boleh berhenti pada wisuda saja. Orang tua harus mengawal anak-anaknya agar konsisten membaca dan mempelajari Al-Quran. Meneruskan Kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah ditanamkan oleh guru-guru mereka di TK/TPA. Tentang Akhlakul karimah, menjaga shalat, membiasakan berdoa, hapalan Al-Quran, dan yang lainnya. Ciptakan kondisi rumah yang mendorong anak-anak konsisten pada nilai-nilai kebaikan.
Bukan hanya orang tua, pemerintah dan masyarakat secara umum juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk turut menjaga anak-anak ini. Melindungi mereka dari segala hal yang bisa merusak akhlak dan melemahkan gairah belajarnya.
Alumni TK/TPA adalah asset besar dalam membangun karakter bangsa. Sangat disayangkan seringkali orang tua dan juga pihak-pihak terkait lalai menyiapkan kondisi dan lingkungan yang layak bagi perkembangan mereka. Akhirnya, potensi ini tersia-siakan.

Kamis, 10 Maret 2022

Sekolahmu, Ladangmu



PBG Gowa kembali menggelar Workshop Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran. Kali ini bekerja sama dengan KKKS dan PGRI Kecamatan Parigi. Workshop dilaksanakan selama 2 hari 8-9 Maret 2022 bertempat di SD Negeri Longka. Diikuti oleh sekitar 60 guru tingkat SD dan TK/PAUD se Kecamatan Parigi.

“Sekolahmu adalah ladangmu,” kata Pak Basri, S.Pd.,M.Si., Korwil Bidang Pendidikan Kecamatan Parigi, saat membuka workshop. Ini perumpamaan yang menarik. Bagi petani ladang adalah hidupnya. Petani yang cerdas, akan mengerahkan seluruh daya untuk ladangnya. Tanaman dirawat dengan sepenuh hati, memenuhi nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Bukan hanya itu. Petani harus menentukan strategi yang tepat; memilih jenis tanaman yang cocok, cara pemeliharaan, hingga manajemen pemasaran hasil panen.
Saat ini profesi petani tidak lagi identik dengan ketertinggalan. Ada banyak petani yang sukses. Hasil pertaniannya tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga menembus pasar mancanegara. Petani sekaligus eksportir. Membanggakan.
Petani milenial yang digagas Kementerian Pertanian, misalnya. Telah turut berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Keterlibatan kaum milenial dalam bidang pertanian sangat menggembirakan. Memberikan harapan bagi kembalinya Indonesia menjadi negara agraris dengan swasembada pangan.
Digitalisasi pertanian mungkin tidak pernah terbayangkan oleh petani-petani zaman dulu, orang-orang tua kita. Tetapi di tangan anak-anak muda, pertanian memasuki era digital. Pertanian tidak lagi sebatas tanah dan lumpur tetapi juga soal internet dan berbagai aplikasinya.
Data dari Kementerian Pertanian menyebutkan; ada sekitar 2,7 juta orang yang terkategori petani milenial dari 33 juta petani yang ada di Indonesia saat ini. Usianya umumnya masih muda, mereka juga terdidik, adaptif dan inovatif terutama dalam penggunaan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Mereka juga kreatif dalam memanfaatkan alat dan mesin pertanian.
Dengan tata kelola yang baik. Para petani milenial telah banyak yang berhasil dengan pendapatan yang cukup fantastis. Ada yang sampai pada angka ratusan juta rupiah per bulan. Petani Muda yang tergabung dalam PMK (Petani Muda Keren) Bali misalnya, sejak tahun 2018 sudah melakukan ekspor hasil pertanian dengan omset mendekati angka 100 milyar. Dalam pengelolaan, mereka mengembangkan marketplace berbasis aplikasi.
Pertanian telah melahirkan miliader-miliader muda. Petani yang sering diidentikkan dengan keterbelakangan kini berubah menjadi pekerjaan yang sangat menjanjikan.
Pendidik ibarat petani. Sekolah adalah ladangnya, dan siswa adalah tanamannya. Pendidik yang baik akan mengerahkan seluruh kemampuan, mencari formula yang tepat bagi pengembangan sekolah dan pelayanan terbaik untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa. Apapun fungsinya. Apakah dia guru atau seorang kepala sekolah. Persis seperti petani yang bekerja keras, mengolah ladang, merawat dan memelihara tanamannya.
Jika petani menganggap ladang adalah hidupnya, maka guru harus pula memperlakukan sekolah sebagai bagian dari denyut nadinya. Nadi itu bisa bernama tanggung jawab. Muarahnya adalah ketercapaian tujuan pendidikan nasional.
Karena tanggung jawab itulah, peningkatan kompetensi harus terus dilakukan. Tidak bisa tidak. Zaman berubah, guru harus menyesuaikan diri. Pendidikan harus mengikuti jiwa zaman dan kodrat alam. Itu yang dipesankan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara.
“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup pada zaman mereka, bukan pada zamanmu. Mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.” Ini kata-kata bijak yang sering kita dengar, memberikan pemahaman tentang perkembangan pengetahuan yang dinamis. Perubahan terus terjadi. Apa yang sangat istimewa sepuluh atau duapuluh tahun yang lalu, hari ini menjadi biasa-biasa saja. Atau boleh jadi sudah ditinggalkan, tidak lagi relevan dengan adanya temuan-temuan baru.
Anda boleh bernostalgia dengan mengingati satu demi satu barang-barang kesayangan anda di masa lalu yang hari ini sudah dipensiunkan. Jangan lupa sambil tersenyum.
Kita berada di era digital. Hampir semua aspek selalu terhubung dengan perangkat itu. Siswa yang kita hadapi adalah “anak-anak digital.” Lahir dan bertumbuh dalam intaian gadget. Ada ungkapan begini; “anak-anak sekarang terlahir dengan gadget di tangannya.” Ungkapan ini tidaklah bermaksud untuk mendramatisir keadaan, hanya untuk menyadarkan betapa perangkat itu telah menjadi bagian dari siklus keseharian anak-anak. Hendaknya guru sadar akan kenyataan itu.
Maka penguasaan teknologi di kalangan guru menjadi agenda yang sangat mendesak. Memang betul, teknologi bukanlah segala-galanya, tetapi tanpa teknologi capaian pendidikan akan melambat. Sementara, zaman berubah dengan cepat. Kita tentu tidak ingin anak-anak kita hanya menjadi penonton di tengah riuhnya kompetisi.
Sekolah adalah ladangmu, kelolalah ladangmu dengan penuh kesungguhan.
Terima kasih :
Korwil Bid. Pendidikan Kecamatan Parigi
KKKS Kecamatan Parigi
PGRI Cabang Parigi
Sahabat-sahabat pendidik se Kecamatan Parigi

Minggu, 06 Maret 2022

Korsleting

 

Foto: Shutterstock

Sulit membayangkan dunia tanpa listrik. Ketergantungan kita kepada sumber energi yang satu ini demikian besarnya. Mati lampu sebentar saja begitu banyak sistem yang terganggu. Pelayanan di instansi-instansi bisa berhenti. Biasanya dalam keadaan begini, petugas PLN menjadi sasaran makian dan hujatan. Padahal kerapkali Listrik sengaja dimatikan untuk kepentingan yang sangat darurat. Untuk keselamatan masyarakat, misalnya.
Gangguan listrik sering terjadi karena adanya hubungan arus pendek. Istilah umumnya, korsleting. Jika memperhatikan data-data yang ada, korsleting menjadi penyebab dominan terjadinya kebakaran di beberapa pemukiman. Data dari Kementerian Dalam Negeri, menyebutkan; sepanjang tahun 2021 secara nasional telah terjadi kasus kebakaran sebanyak 17.768 kali. Sebanyak 5.274 kasus atau 45% disebabkan oleh korsleting.
Menariknya, istilah korsleting, bukan hanya digunakan dalam urusan listrik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah ini juga digunakan sebagai kiasan yang berarti keadaan tidak dapat berpikir dengan baik. Untuk lebih mudahnya saya menyebutnya korslet berpikir. Ini penting dikemukakan, mengingat kerusakan yang ditimbulkannya lebih berbahaya dibanding hubungan pendek arus listrik. Terlebih jika yang mengalaminya adalah tokoh-tokoh sentral dalam sebuah komunitas.
Sepanjang sejarah kita mengenal tokoh-tokoh yang terindikasi demikian. Firaun adalah penguasa dengan pemikiran korslet yang begitu parahnya. Demi melanggengkan kekuasaannya dia rela melakukan apa saja. Segala hal yang berpotensi mengancam eksistensinya harus dibasmi. Termasuk bayi yang baru lahir sekalipun, dicurigai dan dibunuh.
Sampai pada tingkat yang paling absurd, mengangkat dirinya sebagai tuhan. Ketika Nabi Musa datang untuk meluruskan kekeliruannya, Firaun murka. Dia pun mengerahkan para pembantunya (tukang sihir) untuk menghadapi Musa. Tukang sihir kalah, sebagian malah beriman kepada ajaran yang dibawa Musa.
Musa menjadi sandungan terbesar bagi kekuasaan Firaun. Harus dilenyapkan. Raja yang merangkap “tuhan” itu mengerahkan tentaranya. Endingnya anda sudah tahu, Firaun beserta tentaranya tenggelam di Laut Merah. Tragis,sosok yang berkuasa nyaris tanpa tanding mati dengan cara hina. Saat ini jasadnya bisa disaksikan di museum Peradaban Mesir, Kairo. Demikian cara Allah menjadikannya pelajaran dan saksi atas kekacauan berpikir.
Tokoh korslet lainnya adalah Adolf Hitler, penguasa Jerman. Sosok ini disebut-sebut sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas terjadinya Perang Dunia II. Hitler mengusung ideologi Fasis dengan konsep rasialnya. Bahwa ras Arya Jerman adalah ras yang paling unggul dan ditakdirkan menjadi pemimpin atas segala bangsa. Ideologi ini telah menjerumuskan masyarakat dunia ke dalam perang besar yang membawa korban jutaan jiwa dengan kerugian materi yang besar pula.
Demikian halnya dengan Pol Pot. Tokoh penganut Marxist-Leninist ini adalah perdana menteri Kamboja dari tahun 1975-1979. Masa pemerintahannya dikenal sebagai masa paling kelam dalam sejarah negeri itu. Selama menjadi Perdana Menteri, ia dikenal otoriter dan kejam baik kepada rakyat maupun pejabat. Sekitar 25% penduduk Kamboja tewas karena pembantaian, kerja paksa, maupun kelaparan. Kediktatoran dan kekejaman Pol Pot membuatnya masuk dalam jajaran 15 diktator kelas dunia dan 10 orang terkejam sepanjang masa.
Dunia terus dijejali pertunjukan korslet. PBB yang disponsori oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya menjatuhkan sanksi kepada Rusia atas serangannya ke Ukraina 24 Februari 2022. Beberapa organisasi internasional melakukan hal yang sama. Anehnya hal serupa tidak dilakukan atas Israel yang sudah puluhan tahun membantai rakyat Palestina, menjajah dan mencaplok tanah mereka. Negara ini seolah mendapat hak kekebalan hukum atas pelanggaran apapun yang dibuatnya.
Contoh paling dekat. Serangan Israel terhadap jamaah Masjidil Aqsa saat merayakan Isra Mi’raj 28 Februari lalu. Media-media Barat dan juga pemerintahnya sama sekali tidak ambil pusing dengan aksi kekerasan yang melukai 14 orang Palestina tersebut.
Zaman memang penuh ke-korslet-an. Perhatikanlah aksi para pejabat yang berlomba membuat kebijakan dan pernyataan kontroversial, membingungkan. Penyalahgunaan wewenang, korupsi dan kolusi yang tak kunjung redah. Amanah kepemimpinan digunakan sebagai alat pemaksaan kehendak. Hingga pada masalah sangat fundamental, mengubah jalannya sejarah. Entah disadari atau tidak.
Semoga ke-korslet-an berpikir tidak menjangkiti guru-guru kita. Ini benteng terakhir, semoga bukan harapan kosong.