PBG Gowa kembali menggelar Workshop Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran. Kali ini bekerja sama dengan KKKS dan PGRI Kecamatan Parigi. Workshop dilaksanakan selama 2 hari 8-9 Maret 2022 bertempat di SD Negeri Longka. Diikuti oleh sekitar 60 guru tingkat SD dan TK/PAUD se Kecamatan Parigi.
“Sekolahmu adalah ladangmu,” kata Pak Basri, S.Pd.,M.Si., Korwil Bidang Pendidikan Kecamatan Parigi, saat membuka workshop. Ini perumpamaan yang menarik. Bagi petani ladang adalah hidupnya. Petani yang cerdas, akan mengerahkan seluruh daya untuk ladangnya. Tanaman dirawat dengan sepenuh hati, memenuhi nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Bukan hanya itu. Petani harus menentukan strategi yang tepat; memilih jenis tanaman yang cocok, cara pemeliharaan, hingga manajemen pemasaran hasil panen.
Saat ini profesi petani tidak lagi identik dengan ketertinggalan. Ada banyak petani yang sukses. Hasil pertaniannya tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga menembus pasar mancanegara. Petani sekaligus eksportir. Membanggakan.
Petani milenial yang digagas Kementerian Pertanian, misalnya. Telah turut berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Keterlibatan kaum milenial dalam bidang pertanian sangat menggembirakan. Memberikan harapan bagi kembalinya Indonesia menjadi negara agraris dengan swasembada pangan.
Digitalisasi pertanian mungkin tidak pernah terbayangkan oleh petani-petani zaman dulu, orang-orang tua kita. Tetapi di tangan anak-anak muda, pertanian memasuki era digital. Pertanian tidak lagi sebatas tanah dan lumpur tetapi juga soal internet dan berbagai aplikasinya.
Data dari Kementerian Pertanian menyebutkan; ada sekitar 2,7 juta orang yang terkategori petani milenial dari 33 juta petani yang ada di Indonesia saat ini. Usianya umumnya masih muda, mereka juga terdidik, adaptif dan inovatif terutama dalam penggunaan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Mereka juga kreatif dalam memanfaatkan alat dan mesin pertanian.
Dengan tata kelola yang baik. Para petani milenial telah banyak yang berhasil dengan pendapatan yang cukup fantastis. Ada yang sampai pada angka ratusan juta rupiah per bulan. Petani Muda yang tergabung dalam PMK (Petani Muda Keren) Bali misalnya, sejak tahun 2018 sudah melakukan ekspor hasil pertanian dengan omset mendekati angka 100 milyar. Dalam pengelolaan, mereka mengembangkan marketplace berbasis aplikasi.
Pertanian telah melahirkan miliader-miliader muda. Petani yang sering diidentikkan dengan keterbelakangan kini berubah menjadi pekerjaan yang sangat menjanjikan.
Pendidik ibarat petani. Sekolah adalah ladangnya, dan siswa adalah tanamannya. Pendidik yang baik akan mengerahkan seluruh kemampuan, mencari formula yang tepat bagi pengembangan sekolah dan pelayanan terbaik untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa. Apapun fungsinya. Apakah dia guru atau seorang kepala sekolah. Persis seperti petani yang bekerja keras, mengolah ladang, merawat dan memelihara tanamannya.
Jika petani menganggap ladang adalah hidupnya, maka guru harus pula memperlakukan sekolah sebagai bagian dari denyut nadinya. Nadi itu bisa bernama tanggung jawab. Muarahnya adalah ketercapaian tujuan pendidikan nasional.
Karena tanggung jawab itulah, peningkatan kompetensi harus terus dilakukan. Tidak bisa tidak. Zaman berubah, guru harus menyesuaikan diri. Pendidikan harus mengikuti jiwa zaman dan kodrat alam. Itu yang dipesankan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara.
“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup pada zaman mereka, bukan pada zamanmu. Mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.” Ini kata-kata bijak yang sering kita dengar, memberikan pemahaman tentang perkembangan pengetahuan yang dinamis. Perubahan terus terjadi. Apa yang sangat istimewa sepuluh atau duapuluh tahun yang lalu, hari ini menjadi biasa-biasa saja. Atau boleh jadi sudah ditinggalkan, tidak lagi relevan dengan adanya temuan-temuan baru.
Anda boleh bernostalgia dengan mengingati satu demi satu barang-barang kesayangan anda di masa lalu yang hari ini sudah dipensiunkan. Jangan lupa sambil tersenyum.
Kita berada di era digital. Hampir semua aspek selalu terhubung dengan perangkat itu. Siswa yang kita hadapi adalah “anak-anak digital.” Lahir dan bertumbuh dalam intaian gadget. Ada ungkapan begini; “anak-anak sekarang terlahir dengan gadget di tangannya.” Ungkapan ini tidaklah bermaksud untuk mendramatisir keadaan, hanya untuk menyadarkan betapa perangkat itu telah menjadi bagian dari siklus keseharian anak-anak. Hendaknya guru sadar akan kenyataan itu.
Maka penguasaan teknologi di kalangan guru menjadi agenda yang sangat mendesak. Memang betul, teknologi bukanlah segala-galanya, tetapi tanpa teknologi capaian pendidikan akan melambat. Sementara, zaman berubah dengan cepat. Kita tentu tidak ingin anak-anak kita hanya menjadi penonton di tengah riuhnya kompetisi.
Sekolah adalah ladangmu, kelolalah ladangmu dengan penuh kesungguhan.
Terima kasih :
Korwil Bid. Pendidikan Kecamatan Parigi
KKKS Kecamatan Parigi
PGRI Cabang Parigi
Sahabat-sahabat pendidik se Kecamatan Parigi
Tim Pbg Gowa
.jpg)

0 komentar:
Posting Komentar