Channel YouTube

Jumat, 20 Mei 2022

Buku, Literasi, dan Kebangkitan

Ilustrasi : Medcom.id

Jika dicermati, gerakan kebangkitan (revolusi) di berbagai negara, kita akan mendapati bahwa pada umumnya gerakan-gerakan itu memiliki latar dan pemantik yang sama. Digerakkan oleh ide, pemikiran dari tokoh-tokoh yang berpengaruh. Ide dan pemikiran ini berkembang melalui tulisan, berupa artikel atau dalam bentuk buku. Juga disampaikan melalui rapat-rapat umum, diskusi dan forum serupa lainnya.  


Revolusi industri yang melanda Eropa antara abad 18-19 misalnya,  sangat erat kaitannya dengan munculnya gerakan renaissance yang melahirkan aufklarung dan rasionalisme. Paham yang menjunjung tinggi pikiran atau rasio. Paham ini telah mendorong perkembangan ilmu pengetahuan yang melahirkan penemuan-penemuan di berbagai bidang; mesin, transportasi, listrik, dan bidang lainnya. 


Termasuk ide yang kemudian melahirkan revolusi agraria. Salah satu pemikir yang sangat berpengaruh dalam revolusi agraria, seperti disebutkan oleh L. Santoso A.Z, dalam bukunya; Para Penggerak Revolusi (2017), adalah Thomas Robert Malthus (1766-1834). Menurut Malthus kemiskinan dan kemelaratan adalah masalah yang tidak bisa dihindari. Ini terjadi karena pertumbuhan penduduk yang berjalan lebih cepat dibandingkan peningkatan produksi pangan. Teorinya yang terkenal adalah, “pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung.”


Tulisan Malthus membawa pengaruh yang luas di Eropa, terutama Inggris. Muncullah gerakan pengendalian pertumbuhan penduduk serta pencarian dan penelitian bibit unggul dalam pertanian. Digalakkan pula penelitian cara pengolahan tanah untuk melipatgandakan hasil. Ditemukanlah mesin-mesin pengolahan tanah serta pabrik penghasil obat dan pupuk. Penemuan terus berlangsung hingga ke alat transportasi pengangkut hasil-hasil pertanian. 


Revolusi Perancis juga didorong oleh ide. Pemikiran para ilmuan yang tersebar melalui buku-buku yang mereka tulis. Para pemikir yang sangat berpengaruh ketika itu, seperti; Voltaire, Montesquieu, JJ Rousseau, dan John Locke. 


Voltaire dalam tulisan-tulisannya memprotes cara hidup para bangsawan yang menindas rakyat jelata. Dia juga mengusulkan tentang perlunya pendidikan secara meluas. Ide-ide Voltaire kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi 35 jilid ensiklopedia. 


John Locke menganjurkan dibentuknya sebuah konstitusi dengan menjadikan hak asasi manusia sebagai prioritas. Montesquieu melalui bukunya, “L’Esprit de Lois” menyerukan bahwa negara ideal adalah negara yang menjalankan pemisahan kekuasaan yang dikenal dengan “Trias Politica.” 


Sedangkan JJ Rousseau mengemukakan teori du contract social (perjanjian sosial). Berdasarkan teori tersebut, menurutnya, manusia memiliki kesamaan, derajat dan kemerdekaan berasal dari rakyat, dan untuk rakyat sehingga memerlukan perjanjian masyarakat, kesamaan, dan kemerdekaan dalam sebuah pemerintahan.


Ide-ide para tokoh ini mengilhami rakyat Perancis mengoreksi total sistem kediktatoran di bawah monarki absolut yang sudah berlangsung lama di negeri itu. Perjuangan mereka berhasil. Monarki tumbang dan berdirilah Republik Perancis. 


Semboyan Revolusi Perancis; liberte, fraternite, dan egalite menyebar ke seluruh Eropa dan menginspirasi perjuangan serupa di berbagai tempat. Termasuk mendorong terjadi Revolusi Amerika. Di bawah tokoh-tokoh revolusioner; George Washington, Thomas Paine, Thomas Jefferson, Benjamin Franklin, dan yang lainnya.


Di Rusia, China, dan Kuba revolusi digerakkan oleh Marxisme yang didasarkan pada buku-buku karya Karl Marx. Sedangkan Revolusi Iran sangat dipengaruhi oleh pemikiran Ali Syariati dan Ayatullah Khomeini. 


Proses kebangkitan Indonesia juga sama. Diawali dengan terbukanya kran pemikiran, dengan lahirnya kaum terpelajar. Paham-paham yang berkembang di luar; Barat maupun di Timur, dicerna dengan baik. Diformulasikan kembali sebagai roh untuk kebangkitan Indonesia. Hal ini sangat jelas terlihat dari pembentukan organisasi-organisasi pergerakan di awal abad ke-20. Organisasi-organisasi itu merupakan perwujudan dari afiliasi pemikiran para pendirinya.


Buku dan literasi; membaca, menganalisis, membuat kesimpulan lalu bertindak adalah siklus baku dari kebangkitan suatu bangsa. Sebagaimana telah dijelaskan di awal. Para penggerak revolusi adalah orang yang sangat literat. Gila membaca, penulis yang produktif dan propagandis yang getol dalam menyebarkan ide-idenya. 


Bung Karno, saking cintanya dengan buku, beliau digelari “hantu buku.” Segala jenis buku dibacanya; politik, sejarah, ekonomi, seni, buku-buku tentang agama dan sosial lainnya. Dari hobinya itu sejak muda Bung Karno sudah menjejali otaknya dengan ide-ide pemikir dunia baik barat maupun timur. 


Bukan hanya membaca, beliau juga penulis aktif. Kumpulan tulisan Bung Karno telah diterbitkan menjadi buku yang sangat terkenal adalah “Di bawah Bendera Revolusi”, sebanyak dua jilid. Di samping tulisan-tulisan yang lain diterbitkan secara terpisah.


Bung Hatta pun demikian. Salah satu pernyataannya yang sangat terkenal, “saya rela dipenjara asalkan bersama buku, dengan buku aku bisa bebas.” Kecintaannya terhadap buku tidak diragukan lagi, sampai-sampai peristiwa yang sangat bersejarah dalam hidupnya disimbolkan dengan buku. Saat beliau menikah (18 Nopember 1945), maharnya adalah buku karyanya sendiri berjudul “Alam Pikiran Yunani.”


Ketika Meutia, anak pertamanya berulang tahun ke 30, Hatta memberinya hadiah buku berjudul “History of Java” karya stamford Raffles. Dan untuk menyambut kelahiran cucu pertamanya beliau pun menyiapkan sejumlah buku. Di hari tuanya Hatta mendirikan perpustakaan dari koleksi buku pribadinya sekitar sepuluh ribu buah.


Tan Malaka adalah tokoh revolusioner yang juga sangat produktif dalam menulis. Sejumlah buku dari tulisan-tulisannya telah diterbitkan, di antara yang sangat terkenal adalah “Madilog; Materialisme, Dialektika, dan Logika.” Hebatnya, sebagian besar tulisan Tan Malaka dibuat ketika dalam pelarian. 


Bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (1925) disebut-sebut sebagai salah satu buku rujukan kaum pergerakan kemerdekaan Indonesia. Tidak heran kalau kemudian Tan Malaka dijuluki Bapak Republik.


Tokoh pergerakan yang lain pun, demikian. Mereka bergelut dengan bahan bacaan, menulis,  menyebarkan ide, dan memperjuangkannya.


Kebangkitan suatu bangsa tidak bisa dipisahkan dari perkembangan ide dan pemikirannya. Dan hal itu hanya bisa didapatkan dari ruang-ruang literasi. 


Setiap kali kita memperingati hari kebangkitan nasional, kita selalu dijejali dengan slogan pembangkit semangat. Tetapi setelah peringatan selesai, pesta berakhir, semangat itu pun menguap entah ke mana. Kita seakan tidak punya landasan, atau mungkin lupa dengan landasan berpikir serta arah yang kita ingin tuju dengan slogan-slogan kebangkitan itu. 


Padahal negeri ini kaya dengan konsep. Baik yang diwariskan oleh para leluhur maupun yang ditawarkan oleh para pemikir kontemporer. Dalam bentuk tulisan, juga dalam khazanah budaya yang lain. Bahkan sebagian konsep itu telah membawa kejayaan di masa lalu.  


Yang mungkin kurang dari kita adalah kesungguhan dalam menggalinya. Kita masih tergagap membacanya. Belum lagi menerjemahkannya dalam kehidupan berbangsa. Lagi-lagi ini terkait dengan kemampuan literasi kita yang masih melambat.


Selamat memperingati Hari kebangkitan Nasional

20 Mei 1908 - 20 Mei 2022

Jumat, 13 Mei 2022

Membaca KHD Lagi

Ki Hajar Dewantara  (Foto : Wikipedia)
Ki Hajar Dewantara - Foto : Wikipedia


Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini masih fokus pada upaya pemulihan pendidikan sebagai jawaban atas terjadinya learning loss, dampak pandemi covid-19.  Peran guru sebagai pemimpin pembelajaran sangat menentukan dalam percepatan pemulihan tersebut. 


Tentu saja, guru dituntut memiliki bekal yang cukup dalam menjalankan tugas ini. Bukan hanya bekal pengetahuan tetapi juga bekal berupa kepribadian. Pada tulisan ini saya ingin mengajak untuk kita kembali menyelami kepribadian Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara (KHD). Harapannya dapat menjadi panutan setiap pendidik terutama dalam masa-masa sulit seperti saat ini.


KHD adalah seorang patriotik sejati. Terlahir sebagai bangsawan, tetapi sejak kecil sangat akrab dengan rakyat jelata. Bersahabat dengan anak-anak kampung di luar tembok keraton. Dari pergaulan itulah KHD merasakan ketimpangan antara anak-anak Belanda (dan Eropa lainnya), anak-anak golongan priyayi, dan bangsawan yang mendapat akses pendidikan yang layak. Sementara anak-anak pribumi tidak mendapat layanan pendidikan yang semestinya.


Pada usia belia, KHD bertekad ingin menjadi guru dan mendirikan perguruan untuk rakyat jelata. Ingin sekali melihat anak-anak kampung, teman bermainnya, juga dapat menikmati pendidikan. Cita-cita inilah yang mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan di sekolah keguruan, kweekschool setamat dari ELS (Europeesche Lagere School). Meskipun tidak menamatkan pendidikannya di lembaga itu, karena menerima tawaran beasiswa di sekolah kedokteran, STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Tetapi cita-citanya untuk memajukan pendidikan bangsanya tidak pernah padam.


Saat KHD menempuh pendidikan di STOVIA, beliau turut serta dalam merintis pergerakan nasional. Bergabung dengan Budi Utomo, Sarekat Islam dan bersama-sama dengan Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo mendirikan Indische Party (partai politik pertama di Indonesia). Selanjutnya, aktif menulis di beberapa surat kabar dan majalah. Tulisan-tulisannya banyak menyoroti persoalan politik, terutama yang berkaitan dengan perilaku kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Pilihan yang di kemudian hari menyebabkan KHD sering berurusan dengan pihak keamanan.


Pada tanggal 19 Juli 1913 KHD menulis sebuah artikel di Surat Kabar Harian De Expres, dengan judul “Als Ik Nederlander Was”  (Seandainya Aku Seorang Belanda). Artikel ini mengecam tindakan pemerintah Belanda yang hendak merayakan 100 tahun kemerdekaannya dari Perancis di Hindia Belanda. Dalam artikel itu KHD menilai perayaan hari kemerdekaan Belanda di tanah jajahan dan dibiayai oleh penduduk negeri jajahan adalah tindakan tidak adil dan memalukan. Dua orang sahabatnya, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo memberikan dukungan, juga melalui tulisan di surat kabar yang sama. Tulisan-tulisan mereka membuat pemerintah Hindia Belanda murka. Akibatnya, ketiganya ditangkap dan dibuang ke negeri Belanda. 


Selama dalam masa pembuangan, KHD banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh cendekiawan di Eropa, termasuk tokoh pendidikan. Menyelami ide dan pemikiran mereka. Di antara tokoh pendidikan yang banyak mempengaruhi pemikirannya di kemudian hari, adalah Mr. Frobel dan dr. Maria Montessori. 


Sepulang dari pembuangan KHD kembali aktif dalam pergerakan. Kegigihannya dalam pergerakan membuatnya beberapa kali merasakan hidup di balik jeruji besi. Beliau akhirnya memilih  fokus pada perjuangan di bidang pendidikan. Tanggal 3 Juli 1922 mendirikan Taman Siswa yang kelak menjadi wadah untuk mewujudkan mimpinya. Memberikan layanan pendidikan yang merata ke rakyat jelata yang selama ini terpinggirkan.  


Melalui Taman Siswa KHD menggelorakan semangat patriotisme. Patriotisme yang tumbuh dari jiwa-jiwa merdeka. Peserta didik dituntun agar memiliki kemandirian, membebaskan diri dari ketergantungan dengan pihak manapun. Jiwa merdeka adalah syarat bagi kemerdekaan sebuah bangsa.  Pembelajaran dilaksanakan dengan berpusat pada murid, guru atau disebut pamong hanya sebatas memfasilitasi, menuntun proses pengembangan potensi murid agar terarah sesuai harapan.


KHD mengibaratkan guru adalah petani, sedangkan peserta didik adalah tanaman. Petani yang bijak adalah petani yang memperlakukan tanaman; menanam dan memelihara sesuai dengan karakternya. Sama halnya dengan guru, memperlakukan peserta didik sesuai dengan kodrat dan karakternya, bakat dan minatnya. Hanya dengan demikian akan tercipta pembelajaran yang memerdekakan.   


Membaca kembali KHD, kita bisa memahami bahwa perjuangannya dilandasi oleh spirit patriotisme. Cinta dan kesetiaan pada bangsanya menjadikannya kuat menghadapi beratnya tantangan ketika itu. Anak-anak pribumi yang selama ini tidak tersentuh pendidikan diangkat derajatnya melalui pembelajaran tanpa diskriminasi. Bahkan beliau rela menanggalkan status kebangsawanannya untuk menghilangkan jarak dengan peserta didik dan masyarakat lainnya. Namanya yang mencirikan kebangsawanan, Raden Mas Suwardi Suryaningrat diganti menjadi Ki Hajar Dewantara.


Spirit patriotisme ini sangat kita butuhkan dan seharusnya dihidupkan kembali oleh para pelaku pendidikan saat ini. Para guru mesti menyadari bahwa tugas yang mereka emban adalah tugas yang tidak sederhana. Tugas ini berkaitan dengan keberlangsungan negara. Menyelamatkan setiap generasi dari keterbelakangan. 


Semangat ini pula yang semestinya menjadi dasar bagi setiap pendidik dalam memimpin pemulihan pembelajaran. Kita tahu; loss leaning ancaman serius bagi masa depan anak-anak kita. Sama halnya dengan kolonialisme yang membuat bangsa kita terpuruk di masa lalu. Saatnya melipatgandakan semangat pengabdian, bergerak serentak mengambil peran.  


Patriotisme yang memenuhi jiwa-jiwa para tokoh pejuang-pergerakan telah melahirkan proklamasi kemerdekaan. Maka yakinlah semangat yang sama, yang memenuhi jiwa-jiwa para pendidik saat ini, pun akan mewujudkan merdeka belajar sebagai bagian dari ikhtiar kita melahirkan manusia mandiri untuk Indonesia di masa depan. 


Selebihnya, kita berserah kepada Allah SWT, semoga berkenan merestui perjuangan ini, sebagaimana Allah telah memberkati perjuangan para pendahulu kita. 

Senin, 02 Mei 2022

Ramadankan Hidup Kita





Ramadan itu hanya sebulan tetapi pembuktiannya sepanjang tahun. Indikator keberhasilan Ramadan adalah jika semangat Ramadhan mewujud dalam kehidupan. Larut bersama kesibukan sehari-hari.
Berulang-ulang Ramadhan datang, dan setiap penghujungnya selalu saja kita disadarkan oleh keajaiban-keajaiban tak terduga.
Ternyata kita mampu berpuasa sebulan penuh. Padahal di luar ramadhan begitu sulitnya menaklukkan puasa senin Kamis, atau puasa 3 hari dalam sebulan (ayyamul bidh).
Ternyata masjid-masjid kita bisa ramai, dipadati oleh jamaah. Walaupun euphorianya terus menyusut seiiring menyusutnya bulan purnama menjadi bulan sabit, mengecil dan akhirnya hilang. Tahun depan berharap jumpa kembali dengan hilal Ramadan. Siklusnya terkadang demikian.
Ternyata kita bisa dengan seriusnya membolak-balik lembar Al-Quran membaca dan mentadabburinya. Mengkhatamkan hingga berkali-kali. Di luar Ramadan, terkalahkan oleh kesibukan demi kesibukan yang seolah tak berujung.
Ternyata dengan mudahnya kita bisa bangun tengah malam, shalat lail, berdzikir mengakrabkan diri dengan Allah. Di luar Ramadhan, berat rasanya untuk membuka mata mesti sekejap, menjedah lelapnya tidur.
Ternyata kita bisa sedermawan ini. Menebar kebaikan kepada sesama meski hanya sekotak nasi atau segelas air minum untuk berbuka. Kepedulian kepada sesama melalui sedekah dan zakat begitu massivenya. Senang berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kurang beruntung.
Ternyata kita bisa dengan sabarnya menyimak nasihat-nasihat yang disampaikan oleh para penganjur kebaikan. Di mimbar-mimbar masjid, setiap malam. Atau melalui video-video dakwah yang menyebar di media sosial dan chanel-chanel Televisi.
Tidak peduli siapapun. Kita tiba-tiba menjadi sangat saleh, tentu dengan persefsi dan ukuran masing-masing. Kurva kebaikan meninggi, beriring dengan melandainya perbuatan sia-sia yang mungkin saja menjadi rutinitas di luar Ramadan.
Ramadan membangunkan kesadaran, tentang jati diri kita yang sesungguhnya. Bahwa manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan secara khusus dengan paket yang sangat sempurna. Dibekali dengan potensi yang tidak main-main, untuk menjalankan misi yang juga tidak main-main. Sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi. Mengelola dan memakmurkan bumi sesuai dengan syariat yang ditetapkan Allah baginya.
Melalui Ramadan Allah ingin menunjukkan prototipe masyarakat ideal yang seharusnya menjadi tujuan bersama. Masyarakat yang menjadikan takwa kepada Allah sebagai landasan dari segala tatanan yang berlaku. Allah menggambarkan masyarakat yang demikian dalam firman-Nya: "Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi."(QS. 7 : 96). Betapa indahnya masyarakat yang bertakwa, hidup dalam keberkahan Allah. Terlindungi dari marabahaya dalam kedamaian yang memesona.
Ramadan adalah momen yang paling tepat mewujudkan masyarakat ideal yang dimaksud. Dengan syarat, meramadankan hidup kita. Ritualnya boleh saja berbatas waktu, satu bulan. Tetapi semangat dan ajaran Ramadan menembus ruang dan waktu. Mengilhami dan memandu para alumninya pada titian ketakwaan.
Ketakwaan yang indikasinya banyak disebutkan dalam A-Qur'an. Dalam surat Ali Imran ayat 134-135 disebutkan, orang-orang bertakwa itu adalah :
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Jadi keberhasilan Ramadan, tidak hanya dilihat dari kesalehan selama menjalankan ritual sebulan penuh. Tetapi seberapa banyak kesalehan itu membumi dan membawa dampak baik bagi pribadi maupun lingkungan sekitar, sebelas bulan berikutnya. Alumni Ramadan adalah manusia-manusia terbaik yang dibuktikan dengan kebermanfaatannya terhadap sesama makhluk.
Bersyukurlah, sekali setahun Allah memperbaharui kesadaran itu. Ini adalah bagian dari rahmat dan hidayah Allah yang teramat berarti. Beruntunglah mereka yang memanfaatkannya dengan baik. Mendulang keberkahan, meraih maghfirah Allah. Pantas kalau kemudian mereka layak disebut sebagai pemenang.
Semoga Allah menerima ibadah kita selama Ramadan dan menjadikan semangat Ramadan menyertai hari-hari kita sepanjang tahun. Mari Ramadankan hidup kita.
Taqabballahu minna wa minkum
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H

Maaf Lahir Batin