![]() |
| Ilustrasi : Medcom.id |
Jika dicermati, gerakan kebangkitan (revolusi) di berbagai negara, kita akan mendapati bahwa pada umumnya gerakan-gerakan itu memiliki latar dan pemantik yang sama. Digerakkan oleh ide, pemikiran dari tokoh-tokoh yang berpengaruh. Ide dan pemikiran ini berkembang melalui tulisan, berupa artikel atau dalam bentuk buku. Juga disampaikan melalui rapat-rapat umum, diskusi dan forum serupa lainnya.
Revolusi industri yang melanda Eropa antara abad 18-19 misalnya, sangat erat kaitannya dengan munculnya gerakan renaissance yang melahirkan aufklarung dan rasionalisme. Paham yang menjunjung tinggi pikiran atau rasio. Paham ini telah mendorong perkembangan ilmu pengetahuan yang melahirkan penemuan-penemuan di berbagai bidang; mesin, transportasi, listrik, dan bidang lainnya.
Termasuk ide yang kemudian melahirkan revolusi agraria. Salah satu pemikir yang sangat berpengaruh dalam revolusi agraria, seperti disebutkan oleh L. Santoso A.Z, dalam bukunya; Para Penggerak Revolusi (2017), adalah Thomas Robert Malthus (1766-1834). Menurut Malthus kemiskinan dan kemelaratan adalah masalah yang tidak bisa dihindari. Ini terjadi karena pertumbuhan penduduk yang berjalan lebih cepat dibandingkan peningkatan produksi pangan. Teorinya yang terkenal adalah, “pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung.”
Tulisan Malthus membawa pengaruh yang luas di Eropa, terutama Inggris. Muncullah gerakan pengendalian pertumbuhan penduduk serta pencarian dan penelitian bibit unggul dalam pertanian. Digalakkan pula penelitian cara pengolahan tanah untuk melipatgandakan hasil. Ditemukanlah mesin-mesin pengolahan tanah serta pabrik penghasil obat dan pupuk. Penemuan terus berlangsung hingga ke alat transportasi pengangkut hasil-hasil pertanian.
Revolusi Perancis juga didorong oleh ide. Pemikiran para ilmuan yang tersebar melalui buku-buku yang mereka tulis. Para pemikir yang sangat berpengaruh ketika itu, seperti; Voltaire, Montesquieu, JJ Rousseau, dan John Locke.
Voltaire dalam tulisan-tulisannya memprotes cara hidup para bangsawan yang menindas rakyat jelata. Dia juga mengusulkan tentang perlunya pendidikan secara meluas. Ide-ide Voltaire kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi 35 jilid ensiklopedia.
John Locke menganjurkan dibentuknya sebuah konstitusi dengan menjadikan hak asasi manusia sebagai prioritas. Montesquieu melalui bukunya, “L’Esprit de Lois” menyerukan bahwa negara ideal adalah negara yang menjalankan pemisahan kekuasaan yang dikenal dengan “Trias Politica.”
Sedangkan JJ Rousseau mengemukakan teori du contract social (perjanjian sosial). Berdasarkan teori tersebut, menurutnya, manusia memiliki kesamaan, derajat dan kemerdekaan berasal dari rakyat, dan untuk rakyat sehingga memerlukan perjanjian masyarakat, kesamaan, dan kemerdekaan dalam sebuah pemerintahan.
Ide-ide para tokoh ini mengilhami rakyat Perancis mengoreksi total sistem kediktatoran di bawah monarki absolut yang sudah berlangsung lama di negeri itu. Perjuangan mereka berhasil. Monarki tumbang dan berdirilah Republik Perancis.
Semboyan Revolusi Perancis; liberte, fraternite, dan egalite menyebar ke seluruh Eropa dan menginspirasi perjuangan serupa di berbagai tempat. Termasuk mendorong terjadi Revolusi Amerika. Di bawah tokoh-tokoh revolusioner; George Washington, Thomas Paine, Thomas Jefferson, Benjamin Franklin, dan yang lainnya.
Di Rusia, China, dan Kuba revolusi digerakkan oleh Marxisme yang didasarkan pada buku-buku karya Karl Marx. Sedangkan Revolusi Iran sangat dipengaruhi oleh pemikiran Ali Syariati dan Ayatullah Khomeini.
Proses kebangkitan Indonesia juga sama. Diawali dengan terbukanya kran pemikiran, dengan lahirnya kaum terpelajar. Paham-paham yang berkembang di luar; Barat maupun di Timur, dicerna dengan baik. Diformulasikan kembali sebagai roh untuk kebangkitan Indonesia. Hal ini sangat jelas terlihat dari pembentukan organisasi-organisasi pergerakan di awal abad ke-20. Organisasi-organisasi itu merupakan perwujudan dari afiliasi pemikiran para pendirinya.
Buku dan literasi; membaca, menganalisis, membuat kesimpulan lalu bertindak adalah siklus baku dari kebangkitan suatu bangsa. Sebagaimana telah dijelaskan di awal. Para penggerak revolusi adalah orang yang sangat literat. Gila membaca, penulis yang produktif dan propagandis yang getol dalam menyebarkan ide-idenya.
Bung Karno, saking cintanya dengan buku, beliau digelari “hantu buku.” Segala jenis buku dibacanya; politik, sejarah, ekonomi, seni, buku-buku tentang agama dan sosial lainnya. Dari hobinya itu sejak muda Bung Karno sudah menjejali otaknya dengan ide-ide pemikir dunia baik barat maupun timur.
Bukan hanya membaca, beliau juga penulis aktif. Kumpulan tulisan Bung Karno telah diterbitkan menjadi buku yang sangat terkenal adalah “Di bawah Bendera Revolusi”, sebanyak dua jilid. Di samping tulisan-tulisan yang lain diterbitkan secara terpisah.
Bung Hatta pun demikian. Salah satu pernyataannya yang sangat terkenal, “saya rela dipenjara asalkan bersama buku, dengan buku aku bisa bebas.” Kecintaannya terhadap buku tidak diragukan lagi, sampai-sampai peristiwa yang sangat bersejarah dalam hidupnya disimbolkan dengan buku. Saat beliau menikah (18 Nopember 1945), maharnya adalah buku karyanya sendiri berjudul “Alam Pikiran Yunani.”
Ketika Meutia, anak pertamanya berulang tahun ke 30, Hatta memberinya hadiah buku berjudul “History of Java” karya stamford Raffles. Dan untuk menyambut kelahiran cucu pertamanya beliau pun menyiapkan sejumlah buku. Di hari tuanya Hatta mendirikan perpustakaan dari koleksi buku pribadinya sekitar sepuluh ribu buah.
Tan Malaka adalah tokoh revolusioner yang juga sangat produktif dalam menulis. Sejumlah buku dari tulisan-tulisannya telah diterbitkan, di antara yang sangat terkenal adalah “Madilog; Materialisme, Dialektika, dan Logika.” Hebatnya, sebagian besar tulisan Tan Malaka dibuat ketika dalam pelarian.
Bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (1925) disebut-sebut sebagai salah satu buku rujukan kaum pergerakan kemerdekaan Indonesia. Tidak heran kalau kemudian Tan Malaka dijuluki Bapak Republik.
Tokoh pergerakan yang lain pun, demikian. Mereka bergelut dengan bahan bacaan, menulis, menyebarkan ide, dan memperjuangkannya.
Kebangkitan suatu bangsa tidak bisa dipisahkan dari perkembangan ide dan pemikirannya. Dan hal itu hanya bisa didapatkan dari ruang-ruang literasi.
Setiap kali kita memperingati hari kebangkitan nasional, kita selalu dijejali dengan slogan pembangkit semangat. Tetapi setelah peringatan selesai, pesta berakhir, semangat itu pun menguap entah ke mana. Kita seakan tidak punya landasan, atau mungkin lupa dengan landasan berpikir serta arah yang kita ingin tuju dengan slogan-slogan kebangkitan itu.
Padahal negeri ini kaya dengan konsep. Baik yang diwariskan oleh para leluhur maupun yang ditawarkan oleh para pemikir kontemporer. Dalam bentuk tulisan, juga dalam khazanah budaya yang lain. Bahkan sebagian konsep itu telah membawa kejayaan di masa lalu.
Yang mungkin kurang dari kita adalah kesungguhan dalam menggalinya. Kita masih tergagap membacanya. Belum lagi menerjemahkannya dalam kehidupan berbangsa. Lagi-lagi ini terkait dengan kemampuan literasi kita yang masih melambat.
Selamat memperingati Hari kebangkitan Nasional
20 Mei 1908 - 20 Mei 2022



