Channel YouTube

Minggu, 21 Agustus 2022

Setelah Pesta Usai



Dua tahun sepi. Tahun ini kita kembali merayakan ulang tahun kemerdekaan dengan meriah. Berbagai jenis lomba mewarnai hari-hari di bulan Agustus ini. Mengharukan, Indonesia sedang dalam mode bahagia.


Kebahagiaan yang merata dari rakyat yang paling jelata hingga ke pejabat-pejabatnya. Rakyat di pelosok-pelosok kampung hingga ke kota metropolitan cukup bahagia dengan lomba makan kerupuk, balap karung dan sejenisnya. Pejabatnya pun terlihat bahagia. Perhatikan saja mimik mereka yang berjoget koplo di istana merdeka. Begitu bahagianya.


Lalu setelah kemeriahan ini selesai, apa yang tertinggal?

Memperingati sebuah peristiwa sejarah tentu sangat penting. Bukan sekadar bernostalgia. Bukan pula sebatas seremoni. Tidak sama sekali. Memperingati sebuah peristiwa dimaksudkan untuk mengambil pelajaran dari peristiwa itu. Kejadian di masa lampau adalah rentetan pengalaman yang akan melahirkan kebijaksanaan bagi siapa saja yang ingin belajar. Saya setuju dengan kalimat bijak ini, "pengalaman adalah guru yang paling berharga".


Proklamasi adalah sebuah peristiwa besar. Dengannya nasib Indonesia berubah, dari sebuah bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang merdeka. Karenanya penting untuk selalu diingat, dipelajari dan terus dikaji. Dari perjuangan panjang menuju kemerdekaan, kita belajar tentang patriotisme, persatuan dan nilai-nilai kepahlawanan yang mestinya diwarisi oleh setiap generasi.


Maka event-event yang mewarnai pesta kemerdekaan ini haruslah yang mampu memantik kembali semangat/jiwa kepahlawanan itu. Semangat yang dulu dimiliki oleh para pejuang kemerdekaan untuk membebaskan bangsanya dari ketertindasan.


Kita butuh semangat itu lagi, karena perjuangan belum selesai. Kemerdekaan bukanlah tujuan, tetapi hanya jembatan yang akan mengantar kepada tujuan berbangsa dan bernegara, masyarakat adil dan makmur. Perjuangan akan terus berlanjut, dan kita butuh amunisi yang sudah teruji. Karena antangannya sangatlah berat. Kita sedang menghadapi penjajahan yang disamarkan. Fisik merdeka, tetapi jiwa terpenjara. Maka pekikan "merdeka" pun di hari-hari terakhir ini terasa hambar. Sebatas bunyi-bunyian yang terdengar nyaring tetapi tak bertenaga. Tidak punya efek apapun.


Berbeda dengan apa yang dialami oleh pejuang dahulu. Fisik mereka boleh saja terhalang oleh dinding penjara. Tetapi jiwanya bebas menyusuri relung hati bangsanya, menyalakan api perjuangan. Jiwa yang merdeka tidak pernah terbeli seberapa menggiurkannya tawaran yang datang.


Kita krisis jiwa merdeka. Lihatlah, begitu mudahnya bangsa ini dipecah belah, diadu domba. Ironisnya seringkali dilakukan oleh bangsa sendiri, mereka para pembajak kemerdekaan. Yang membelokkan cita-cita bangsa dari kemakmuran untuk seluruh rakyat, menjadi kemakmuran untuk golongan tertentu saja. Tantangan yang berat. Persis seperti yang pernah diucapkan oleh Bung Karno, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri".


Selain patriotisme kita juga butuh semangat persatuan dan kebersamaan. Proklamasi lahir dari kesatuan tekad dan kesamaan visi untuk Indonesia merdeka. Berproses dalam rentang waktu yang panjang, sepanjang usia penjajahan.


Kesungguhan kita menghadirkan kemeriahan hari kemerdekaan adalah bukti bahwa kita pun memiliki tekad yang kuat. Hanya perlu dikelola dengan baik, sehingga di masa yang akan datang energi yang terkuras ini tidak hanya digunakan untuk lomba makan kerupuk, balap karung, panjat pinang dan sejenisnya. Perlu lebih kreatif, karena pemiskinan dan pembodohan masih menjadi musuh yang harus dilawan bersama. Butuh energi besar untuk memeranginya.


Hal lain yang tidak boleh kita lupakan, dan ini yang seharusnya menjadi ruh bagi perayaan hari kemerdekaan, bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah dari penjajah. Tetapi nikmat Allah SWT, sebagai buah dari usaha keras para pejuang bangsa. Seperti yang diabadikan dalam pembukaan UUD 1945, "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan kemerdekaannya".


Perayaan hari kemerdekaan, adalah saat yang baik untuk mengukur kesyukuran kita kepada Allah SWT. Sejauh mana negeri ini sudah diatur sesuai dengan kehendak Sang pemberi nikmat. Kesadaran akan campur tangan Allah dalam kemerdekaan, mewujud dalam ketundukan dan ketakwaan kepada-Nya. Hanya dengan ketundukan kepada Allah yang akan mengantarkan kita kepada tercapainya cita-cita bangsa. Sebaliknya, menjauh dari Allah adalah bentuk kekufuran terhadap nikmat kemerdekaan dan menjauhkan bangsa ini dari tujuan mulianya.


"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya". (TQS Al-A'raf : 96)


 "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". TQS. Ibrahim : 7)


Semoga kalimat suci ini menjadi renungan untuk kita semua

MERDEKA!!!


Jumat, 20 Mei 2022

Buku, Literasi, dan Kebangkitan

Ilustrasi : Medcom.id

Jika dicermati, gerakan kebangkitan (revolusi) di berbagai negara, kita akan mendapati bahwa pada umumnya gerakan-gerakan itu memiliki latar dan pemantik yang sama. Digerakkan oleh ide, pemikiran dari tokoh-tokoh yang berpengaruh. Ide dan pemikiran ini berkembang melalui tulisan, berupa artikel atau dalam bentuk buku. Juga disampaikan melalui rapat-rapat umum, diskusi dan forum serupa lainnya.  


Revolusi industri yang melanda Eropa antara abad 18-19 misalnya,  sangat erat kaitannya dengan munculnya gerakan renaissance yang melahirkan aufklarung dan rasionalisme. Paham yang menjunjung tinggi pikiran atau rasio. Paham ini telah mendorong perkembangan ilmu pengetahuan yang melahirkan penemuan-penemuan di berbagai bidang; mesin, transportasi, listrik, dan bidang lainnya. 


Termasuk ide yang kemudian melahirkan revolusi agraria. Salah satu pemikir yang sangat berpengaruh dalam revolusi agraria, seperti disebutkan oleh L. Santoso A.Z, dalam bukunya; Para Penggerak Revolusi (2017), adalah Thomas Robert Malthus (1766-1834). Menurut Malthus kemiskinan dan kemelaratan adalah masalah yang tidak bisa dihindari. Ini terjadi karena pertumbuhan penduduk yang berjalan lebih cepat dibandingkan peningkatan produksi pangan. Teorinya yang terkenal adalah, “pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung.”


Tulisan Malthus membawa pengaruh yang luas di Eropa, terutama Inggris. Muncullah gerakan pengendalian pertumbuhan penduduk serta pencarian dan penelitian bibit unggul dalam pertanian. Digalakkan pula penelitian cara pengolahan tanah untuk melipatgandakan hasil. Ditemukanlah mesin-mesin pengolahan tanah serta pabrik penghasil obat dan pupuk. Penemuan terus berlangsung hingga ke alat transportasi pengangkut hasil-hasil pertanian. 


Revolusi Perancis juga didorong oleh ide. Pemikiran para ilmuan yang tersebar melalui buku-buku yang mereka tulis. Para pemikir yang sangat berpengaruh ketika itu, seperti; Voltaire, Montesquieu, JJ Rousseau, dan John Locke. 


Voltaire dalam tulisan-tulisannya memprotes cara hidup para bangsawan yang menindas rakyat jelata. Dia juga mengusulkan tentang perlunya pendidikan secara meluas. Ide-ide Voltaire kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi 35 jilid ensiklopedia. 


John Locke menganjurkan dibentuknya sebuah konstitusi dengan menjadikan hak asasi manusia sebagai prioritas. Montesquieu melalui bukunya, “L’Esprit de Lois” menyerukan bahwa negara ideal adalah negara yang menjalankan pemisahan kekuasaan yang dikenal dengan “Trias Politica.” 


Sedangkan JJ Rousseau mengemukakan teori du contract social (perjanjian sosial). Berdasarkan teori tersebut, menurutnya, manusia memiliki kesamaan, derajat dan kemerdekaan berasal dari rakyat, dan untuk rakyat sehingga memerlukan perjanjian masyarakat, kesamaan, dan kemerdekaan dalam sebuah pemerintahan.


Ide-ide para tokoh ini mengilhami rakyat Perancis mengoreksi total sistem kediktatoran di bawah monarki absolut yang sudah berlangsung lama di negeri itu. Perjuangan mereka berhasil. Monarki tumbang dan berdirilah Republik Perancis. 


Semboyan Revolusi Perancis; liberte, fraternite, dan egalite menyebar ke seluruh Eropa dan menginspirasi perjuangan serupa di berbagai tempat. Termasuk mendorong terjadi Revolusi Amerika. Di bawah tokoh-tokoh revolusioner; George Washington, Thomas Paine, Thomas Jefferson, Benjamin Franklin, dan yang lainnya.


Di Rusia, China, dan Kuba revolusi digerakkan oleh Marxisme yang didasarkan pada buku-buku karya Karl Marx. Sedangkan Revolusi Iran sangat dipengaruhi oleh pemikiran Ali Syariati dan Ayatullah Khomeini. 


Proses kebangkitan Indonesia juga sama. Diawali dengan terbukanya kran pemikiran, dengan lahirnya kaum terpelajar. Paham-paham yang berkembang di luar; Barat maupun di Timur, dicerna dengan baik. Diformulasikan kembali sebagai roh untuk kebangkitan Indonesia. Hal ini sangat jelas terlihat dari pembentukan organisasi-organisasi pergerakan di awal abad ke-20. Organisasi-organisasi itu merupakan perwujudan dari afiliasi pemikiran para pendirinya.


Buku dan literasi; membaca, menganalisis, membuat kesimpulan lalu bertindak adalah siklus baku dari kebangkitan suatu bangsa. Sebagaimana telah dijelaskan di awal. Para penggerak revolusi adalah orang yang sangat literat. Gila membaca, penulis yang produktif dan propagandis yang getol dalam menyebarkan ide-idenya. 


Bung Karno, saking cintanya dengan buku, beliau digelari “hantu buku.” Segala jenis buku dibacanya; politik, sejarah, ekonomi, seni, buku-buku tentang agama dan sosial lainnya. Dari hobinya itu sejak muda Bung Karno sudah menjejali otaknya dengan ide-ide pemikir dunia baik barat maupun timur. 


Bukan hanya membaca, beliau juga penulis aktif. Kumpulan tulisan Bung Karno telah diterbitkan menjadi buku yang sangat terkenal adalah “Di bawah Bendera Revolusi”, sebanyak dua jilid. Di samping tulisan-tulisan yang lain diterbitkan secara terpisah.


Bung Hatta pun demikian. Salah satu pernyataannya yang sangat terkenal, “saya rela dipenjara asalkan bersama buku, dengan buku aku bisa bebas.” Kecintaannya terhadap buku tidak diragukan lagi, sampai-sampai peristiwa yang sangat bersejarah dalam hidupnya disimbolkan dengan buku. Saat beliau menikah (18 Nopember 1945), maharnya adalah buku karyanya sendiri berjudul “Alam Pikiran Yunani.”


Ketika Meutia, anak pertamanya berulang tahun ke 30, Hatta memberinya hadiah buku berjudul “History of Java” karya stamford Raffles. Dan untuk menyambut kelahiran cucu pertamanya beliau pun menyiapkan sejumlah buku. Di hari tuanya Hatta mendirikan perpustakaan dari koleksi buku pribadinya sekitar sepuluh ribu buah.


Tan Malaka adalah tokoh revolusioner yang juga sangat produktif dalam menulis. Sejumlah buku dari tulisan-tulisannya telah diterbitkan, di antara yang sangat terkenal adalah “Madilog; Materialisme, Dialektika, dan Logika.” Hebatnya, sebagian besar tulisan Tan Malaka dibuat ketika dalam pelarian. 


Bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (1925) disebut-sebut sebagai salah satu buku rujukan kaum pergerakan kemerdekaan Indonesia. Tidak heran kalau kemudian Tan Malaka dijuluki Bapak Republik.


Tokoh pergerakan yang lain pun, demikian. Mereka bergelut dengan bahan bacaan, menulis,  menyebarkan ide, dan memperjuangkannya.


Kebangkitan suatu bangsa tidak bisa dipisahkan dari perkembangan ide dan pemikirannya. Dan hal itu hanya bisa didapatkan dari ruang-ruang literasi. 


Setiap kali kita memperingati hari kebangkitan nasional, kita selalu dijejali dengan slogan pembangkit semangat. Tetapi setelah peringatan selesai, pesta berakhir, semangat itu pun menguap entah ke mana. Kita seakan tidak punya landasan, atau mungkin lupa dengan landasan berpikir serta arah yang kita ingin tuju dengan slogan-slogan kebangkitan itu. 


Padahal negeri ini kaya dengan konsep. Baik yang diwariskan oleh para leluhur maupun yang ditawarkan oleh para pemikir kontemporer. Dalam bentuk tulisan, juga dalam khazanah budaya yang lain. Bahkan sebagian konsep itu telah membawa kejayaan di masa lalu.  


Yang mungkin kurang dari kita adalah kesungguhan dalam menggalinya. Kita masih tergagap membacanya. Belum lagi menerjemahkannya dalam kehidupan berbangsa. Lagi-lagi ini terkait dengan kemampuan literasi kita yang masih melambat.


Selamat memperingati Hari kebangkitan Nasional

20 Mei 1908 - 20 Mei 2022

Jumat, 13 Mei 2022

Membaca KHD Lagi

Ki Hajar Dewantara  (Foto : Wikipedia)
Ki Hajar Dewantara - Foto : Wikipedia


Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini masih fokus pada upaya pemulihan pendidikan sebagai jawaban atas terjadinya learning loss, dampak pandemi covid-19.  Peran guru sebagai pemimpin pembelajaran sangat menentukan dalam percepatan pemulihan tersebut. 


Tentu saja, guru dituntut memiliki bekal yang cukup dalam menjalankan tugas ini. Bukan hanya bekal pengetahuan tetapi juga bekal berupa kepribadian. Pada tulisan ini saya ingin mengajak untuk kita kembali menyelami kepribadian Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara (KHD). Harapannya dapat menjadi panutan setiap pendidik terutama dalam masa-masa sulit seperti saat ini.


KHD adalah seorang patriotik sejati. Terlahir sebagai bangsawan, tetapi sejak kecil sangat akrab dengan rakyat jelata. Bersahabat dengan anak-anak kampung di luar tembok keraton. Dari pergaulan itulah KHD merasakan ketimpangan antara anak-anak Belanda (dan Eropa lainnya), anak-anak golongan priyayi, dan bangsawan yang mendapat akses pendidikan yang layak. Sementara anak-anak pribumi tidak mendapat layanan pendidikan yang semestinya.


Pada usia belia, KHD bertekad ingin menjadi guru dan mendirikan perguruan untuk rakyat jelata. Ingin sekali melihat anak-anak kampung, teman bermainnya, juga dapat menikmati pendidikan. Cita-cita inilah yang mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan di sekolah keguruan, kweekschool setamat dari ELS (Europeesche Lagere School). Meskipun tidak menamatkan pendidikannya di lembaga itu, karena menerima tawaran beasiswa di sekolah kedokteran, STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Tetapi cita-citanya untuk memajukan pendidikan bangsanya tidak pernah padam.


Saat KHD menempuh pendidikan di STOVIA, beliau turut serta dalam merintis pergerakan nasional. Bergabung dengan Budi Utomo, Sarekat Islam dan bersama-sama dengan Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo mendirikan Indische Party (partai politik pertama di Indonesia). Selanjutnya, aktif menulis di beberapa surat kabar dan majalah. Tulisan-tulisannya banyak menyoroti persoalan politik, terutama yang berkaitan dengan perilaku kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Pilihan yang di kemudian hari menyebabkan KHD sering berurusan dengan pihak keamanan.


Pada tanggal 19 Juli 1913 KHD menulis sebuah artikel di Surat Kabar Harian De Expres, dengan judul “Als Ik Nederlander Was”  (Seandainya Aku Seorang Belanda). Artikel ini mengecam tindakan pemerintah Belanda yang hendak merayakan 100 tahun kemerdekaannya dari Perancis di Hindia Belanda. Dalam artikel itu KHD menilai perayaan hari kemerdekaan Belanda di tanah jajahan dan dibiayai oleh penduduk negeri jajahan adalah tindakan tidak adil dan memalukan. Dua orang sahabatnya, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo memberikan dukungan, juga melalui tulisan di surat kabar yang sama. Tulisan-tulisan mereka membuat pemerintah Hindia Belanda murka. Akibatnya, ketiganya ditangkap dan dibuang ke negeri Belanda. 


Selama dalam masa pembuangan, KHD banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh cendekiawan di Eropa, termasuk tokoh pendidikan. Menyelami ide dan pemikiran mereka. Di antara tokoh pendidikan yang banyak mempengaruhi pemikirannya di kemudian hari, adalah Mr. Frobel dan dr. Maria Montessori. 


Sepulang dari pembuangan KHD kembali aktif dalam pergerakan. Kegigihannya dalam pergerakan membuatnya beberapa kali merasakan hidup di balik jeruji besi. Beliau akhirnya memilih  fokus pada perjuangan di bidang pendidikan. Tanggal 3 Juli 1922 mendirikan Taman Siswa yang kelak menjadi wadah untuk mewujudkan mimpinya. Memberikan layanan pendidikan yang merata ke rakyat jelata yang selama ini terpinggirkan.  


Melalui Taman Siswa KHD menggelorakan semangat patriotisme. Patriotisme yang tumbuh dari jiwa-jiwa merdeka. Peserta didik dituntun agar memiliki kemandirian, membebaskan diri dari ketergantungan dengan pihak manapun. Jiwa merdeka adalah syarat bagi kemerdekaan sebuah bangsa.  Pembelajaran dilaksanakan dengan berpusat pada murid, guru atau disebut pamong hanya sebatas memfasilitasi, menuntun proses pengembangan potensi murid agar terarah sesuai harapan.


KHD mengibaratkan guru adalah petani, sedangkan peserta didik adalah tanaman. Petani yang bijak adalah petani yang memperlakukan tanaman; menanam dan memelihara sesuai dengan karakternya. Sama halnya dengan guru, memperlakukan peserta didik sesuai dengan kodrat dan karakternya, bakat dan minatnya. Hanya dengan demikian akan tercipta pembelajaran yang memerdekakan.   


Membaca kembali KHD, kita bisa memahami bahwa perjuangannya dilandasi oleh spirit patriotisme. Cinta dan kesetiaan pada bangsanya menjadikannya kuat menghadapi beratnya tantangan ketika itu. Anak-anak pribumi yang selama ini tidak tersentuh pendidikan diangkat derajatnya melalui pembelajaran tanpa diskriminasi. Bahkan beliau rela menanggalkan status kebangsawanannya untuk menghilangkan jarak dengan peserta didik dan masyarakat lainnya. Namanya yang mencirikan kebangsawanan, Raden Mas Suwardi Suryaningrat diganti menjadi Ki Hajar Dewantara.


Spirit patriotisme ini sangat kita butuhkan dan seharusnya dihidupkan kembali oleh para pelaku pendidikan saat ini. Para guru mesti menyadari bahwa tugas yang mereka emban adalah tugas yang tidak sederhana. Tugas ini berkaitan dengan keberlangsungan negara. Menyelamatkan setiap generasi dari keterbelakangan. 


Semangat ini pula yang semestinya menjadi dasar bagi setiap pendidik dalam memimpin pemulihan pembelajaran. Kita tahu; loss leaning ancaman serius bagi masa depan anak-anak kita. Sama halnya dengan kolonialisme yang membuat bangsa kita terpuruk di masa lalu. Saatnya melipatgandakan semangat pengabdian, bergerak serentak mengambil peran.  


Patriotisme yang memenuhi jiwa-jiwa para tokoh pejuang-pergerakan telah melahirkan proklamasi kemerdekaan. Maka yakinlah semangat yang sama, yang memenuhi jiwa-jiwa para pendidik saat ini, pun akan mewujudkan merdeka belajar sebagai bagian dari ikhtiar kita melahirkan manusia mandiri untuk Indonesia di masa depan. 


Selebihnya, kita berserah kepada Allah SWT, semoga berkenan merestui perjuangan ini, sebagaimana Allah telah memberkati perjuangan para pendahulu kita. 

Senin, 02 Mei 2022

Ramadankan Hidup Kita





Ramadan itu hanya sebulan tetapi pembuktiannya sepanjang tahun. Indikator keberhasilan Ramadan adalah jika semangat Ramadhan mewujud dalam kehidupan. Larut bersama kesibukan sehari-hari.
Berulang-ulang Ramadhan datang, dan setiap penghujungnya selalu saja kita disadarkan oleh keajaiban-keajaiban tak terduga.
Ternyata kita mampu berpuasa sebulan penuh. Padahal di luar ramadhan begitu sulitnya menaklukkan puasa senin Kamis, atau puasa 3 hari dalam sebulan (ayyamul bidh).
Ternyata masjid-masjid kita bisa ramai, dipadati oleh jamaah. Walaupun euphorianya terus menyusut seiiring menyusutnya bulan purnama menjadi bulan sabit, mengecil dan akhirnya hilang. Tahun depan berharap jumpa kembali dengan hilal Ramadan. Siklusnya terkadang demikian.
Ternyata kita bisa dengan seriusnya membolak-balik lembar Al-Quran membaca dan mentadabburinya. Mengkhatamkan hingga berkali-kali. Di luar Ramadan, terkalahkan oleh kesibukan demi kesibukan yang seolah tak berujung.
Ternyata dengan mudahnya kita bisa bangun tengah malam, shalat lail, berdzikir mengakrabkan diri dengan Allah. Di luar Ramadhan, berat rasanya untuk membuka mata mesti sekejap, menjedah lelapnya tidur.
Ternyata kita bisa sedermawan ini. Menebar kebaikan kepada sesama meski hanya sekotak nasi atau segelas air minum untuk berbuka. Kepedulian kepada sesama melalui sedekah dan zakat begitu massivenya. Senang berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kurang beruntung.
Ternyata kita bisa dengan sabarnya menyimak nasihat-nasihat yang disampaikan oleh para penganjur kebaikan. Di mimbar-mimbar masjid, setiap malam. Atau melalui video-video dakwah yang menyebar di media sosial dan chanel-chanel Televisi.
Tidak peduli siapapun. Kita tiba-tiba menjadi sangat saleh, tentu dengan persefsi dan ukuran masing-masing. Kurva kebaikan meninggi, beriring dengan melandainya perbuatan sia-sia yang mungkin saja menjadi rutinitas di luar Ramadan.
Ramadan membangunkan kesadaran, tentang jati diri kita yang sesungguhnya. Bahwa manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan secara khusus dengan paket yang sangat sempurna. Dibekali dengan potensi yang tidak main-main, untuk menjalankan misi yang juga tidak main-main. Sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di muka bumi. Mengelola dan memakmurkan bumi sesuai dengan syariat yang ditetapkan Allah baginya.
Melalui Ramadan Allah ingin menunjukkan prototipe masyarakat ideal yang seharusnya menjadi tujuan bersama. Masyarakat yang menjadikan takwa kepada Allah sebagai landasan dari segala tatanan yang berlaku. Allah menggambarkan masyarakat yang demikian dalam firman-Nya: "Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi."(QS. 7 : 96). Betapa indahnya masyarakat yang bertakwa, hidup dalam keberkahan Allah. Terlindungi dari marabahaya dalam kedamaian yang memesona.
Ramadan adalah momen yang paling tepat mewujudkan masyarakat ideal yang dimaksud. Dengan syarat, meramadankan hidup kita. Ritualnya boleh saja berbatas waktu, satu bulan. Tetapi semangat dan ajaran Ramadan menembus ruang dan waktu. Mengilhami dan memandu para alumninya pada titian ketakwaan.
Ketakwaan yang indikasinya banyak disebutkan dalam A-Qur'an. Dalam surat Ali Imran ayat 134-135 disebutkan, orang-orang bertakwa itu adalah :
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Jadi keberhasilan Ramadan, tidak hanya dilihat dari kesalehan selama menjalankan ritual sebulan penuh. Tetapi seberapa banyak kesalehan itu membumi dan membawa dampak baik bagi pribadi maupun lingkungan sekitar, sebelas bulan berikutnya. Alumni Ramadan adalah manusia-manusia terbaik yang dibuktikan dengan kebermanfaatannya terhadap sesama makhluk.
Bersyukurlah, sekali setahun Allah memperbaharui kesadaran itu. Ini adalah bagian dari rahmat dan hidayah Allah yang teramat berarti. Beruntunglah mereka yang memanfaatkannya dengan baik. Mendulang keberkahan, meraih maghfirah Allah. Pantas kalau kemudian mereka layak disebut sebagai pemenang.
Semoga Allah menerima ibadah kita selama Ramadan dan menjadikan semangat Ramadan menyertai hari-hari kita sepanjang tahun. Mari Ramadankan hidup kita.
Taqabballahu minna wa minkum
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H

Maaf Lahir Batin

Kamis, 21 April 2022

PEREMPUAN; ANTARA BELENGGU ADAT DAN JERATAN LIBERALISME

Sejarah pergerakan kaum perempuan Indonesia  berawal dari kepeloporan R.A. Kartini. Putri Bupati Jepara ini  merasa terpanggil  setelah melihat dan merasakan sendiri betapa kaum perempuan di zamannya terbelenggu oleh aturan adat yang sangat tidak adil.

Keadaan perempuan pada masa itu terangkum dalam surat yang ditulis oleh Kartini kepada sahabatnya, Stellah Zeehandelaar, seorang gadis Belanda.  Dalam suratnya yang tertanggal 25 Mei 1899, Kartini mengatakan : “ Kami gadis-gadis masih terikat oleh adat istiadat lama dan sedikit sekali memperoleh kebahagiaan dari kemajuan pengajaran. Untuk keluar rumah sehari-hari dan mendapat pelajaran di sekolah saja sudah dianggap melanggar adat. Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis keluar rumah. Ketika saya berusia duabelas tahun, maka saya dikurung di dalam rumah, saya mesti masuk ‘kurungan’.. Saya dikurung dalam rumah, seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tidak boleh keluar dunia itu lagi, bila tidak disertai oleh seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi saya, dipilih oleh orang tua saya untuk saya, dikawinkan dengan tanpa sepengetahuan saya sendiri.”

Kartini sedikit lebih beruntung dibanding dengan perempuan-perempuan lainnya. Meskipun dia terlahir dalam keluarga bangsawan yang teguh memegamg adat, tetapi Ayahnya, R.M.A. Adipati Sostroningrat  yang juga adalah Bupati Jepara adalah seorang bangsawan yang berpikiran maju. Kartini diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan pada sekolah Rendah Kelas 2 di kotanya. Padahal akses pendidikan bagi perempuan ketika itu sangat dibatasi oleh aturan adat. Ricklefs (1998) menyebutkan bahwa sebagian besar Bupati di Jawa ketika itu berpandangan bahwa gagasan mengenai pendidikan bagi kaum wanita sama sekali tidak bisa diterima.

Pengalaman yang paling berharga bagi Kartini selama menempuh pendidikan yang kemudian banyak mempengaruhi ide-idenya adalah pergaulannya  dengan anak-anak gadis Belanda, teman sekolahnya. Kesempatannya bergaul dengan  gadis-gadis Belanda telah membuka mata serta membangkitkan kesadarannya akan dunia luar beserta nilai-nilai dan gaya hidup yang berbeda dengan apa yang dihayatinya selama ini. Hal inilah yang  memperkuat tekadnya untuk berjuang membebaskan kaumnya dari keterbelakangan. 

Perjuangan Kartini  dimulai dengan mendirikan sekolah khusus putri di rumahnya dengan memberikan pelajaran dan keterampilan dasar seperti membaca, menulis, memasak, dan menyulam.  Kartini yakin bahwa pendidikan akan mengangkat derajat kaum perempuan. Dalam salah satu suratnya kepada Prof. Anton dan Nyonya tertanggal 4 Oktober 1902, Kartini menulis : “ Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan  kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Perlahan tapi pasti, usaha Kartini mendapat sambutan yang baik dari berbagai kalangan. Sehingga berdirilah sekolah-sekolah keputrian di berbagai tempat.  Dari sekolah-sekolah keputrian inilah kemudian lahir perempuan-perempuan yang berpikiran “modern” yang  dengan berani melawan ketidakadilan   yang selama ini membelenggunya. Bahkan kemudian mereka tampil berjuang bersama-sama dengan kaum laki-laki dalam menegakkan kehormatan bangsanya, mengusir kaum penjajah.

Buah perjuangan Kartini untuk memajukan kaum perempuan Indonesia boleh dikatakan telah menghasilkan lompatan yang luar biasa.   Kaum perempuan  telah bebas mengekpresikan diri tanpa harus dihambat oleh aturan-aturan adat sebagaimana yang pernah dirasakan oleh Kartini dan perempuan-perempuan lain di zamannya. Pekerjaan yang dulu menjadi dominasi laki-laki kini telah banyak diisi oleh kaum perempuan, seperti pejabat, pengusaha, bahkan pekerjaan berat sekalipun seperti tukang becak, buruh bangunan, tukang parkir dsb. 

Akan tetapi seiring dengan kemajuan itu  muncul pula persoalan baru. Dengan dalih emansipasi, banyaknya kaum perempuan yang “mabuk” kebebasan yang akhirnya terjerat dalam  “jaring” liberalisme yang jauh lebih berbahaya.  Liberalisme yang terus menerus dikampanyekan oleh negara-negara Barat telah menyeret kaum perempuan ke dalam konspirasi kapitalisme, mereka tanpa sadar telah dijadikan mesin-mesin penghasil uang oleh kaum pemodal. Mereka menjadi obyek eksploitasi sistem kapitalis yang memandang materi adalah segalanya. 

Gaya hidup sebagian perempuan kemudian menjadi sangat hedonis, berlomba-lomba memburu kemewahan dan ketenaran, sekalipun harus mereduksi nilai-nilai agama dan budaya kemudian memuja budaya Barat sebagai simbol kemajuan.  Padahal Kartini - yang dijadikan sebagai icon perjuangan kaum perempuan - berpandangan sebaliknya. Kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902 Kartini menulis : “...... tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?” 

Seorang penulis perempuan, Asri Supatmiati, menuturkan keresahannya  terhadap nasib kaumnya. Beliau mengatakan, dengan dalih kebebasan berekspresi setiap inchi tubuh perempuan dijadikan komoditi. Membuka aurat bahkan sampai adegan berzina pun dilakoni, asalkan mendatangkan materi, aurat perempuan dilombakan dan dinilai, mana yang paling mendatangkan hoki (keuntungan). Anehnya, dengan penuh kesadaran, kaum perempuan antri minta dieksploitasi; bahkan semakin hari kian menggila. 

Fenomena seperti ini  sangat jelas dalam realitas di masyarakat. Perhatikan saja, tayangan yang disuguhkan melalui Televisi dalam bentuk sinetron, iklan, acara-acara pencarian bakat,  hingga kuis, terasa tidak sah jika tidak diwarnai penampilan wanita-wanita cantik yang mengumbar syahwat. Tak hanya perempuan dewasa, gadis-gadis ABG maupun anak-anak, sejak belia sudah mulai “dikader” untuk menjadi bagian dari bisnis eksploitasi ini.  Seandainya Kartini bisa bangun kembali dari kuburnya maka yakinlah dia akan menangis melihat kenyataan betapa misi perjuangannya dahulu tengah dirobek-robek oleh kaumnya yang justru menganggap diri sebagai penerus Kartini.

Implikasi dari semua ini adalah terjadinya dekadensi moral yang kemudian berimbas kepada rusaknya tatanan masyarakat. Walaupun tetap disadari bahwa perempuan bukanlah penyebab tunggal dari permasalahan ini, tetapi setidaknya, moralitas kaum perempuan sangat menentukan kondisi sebuah masyarakat. Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadistnya mengatakan : “perempuan adalah tiang negara, jika perempuannya baik maka baiklah negara tetapi jika perempuan rusak maka rusaklah negara” 

Karena itu diperlukan sebuah gerakan untuk “merebut” kaum perempuan dari   kaum pemodal dan mengembalikan kehormatan mereka.   Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah melalui pendekatan agama. Agama Islam misalnya, sejak awal kehadirannya telah menyelamatkan kaum perempuan dari rusaknya adat jahiliyah, kemudian menempatkan mereka pada posisi yang sangat terhormat bahkan lebih mulia dari kaum laki-laki. Agama akan menyadarkan perempuan tentang kodrat dan jati dirinya yang sebenarnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa kerusakan yang banyak terjadi di muka bumi disebabkan oleh pengingkaran manusia terhadap hukum-hukum Allah, termasuk pengingkaran perempuan terhadap kodrat yang ditetapkan Allah terhadapnya.

Akhirnya, perjalanan hidup Marlyn Monroe patut pula dijadikan sebagai bahan renungan. Sebelum bunuh diri, Merlyn Monroe menulis sebuah surat yang kemudian dimasukkan pada sebuah kotak di sebuah bank di New York. Dalam suratnya dia menulis :”Berhati-hatilah dengan ketenaran, berhati-hatilah dan waspadalah terhadap sinar-sinar yang menipu kalian. Sesungguhnya aku adalah wanita yang paling celaka di dunia! Aku tidak mampu menjadi seorang ibu. Aku adalah seorang wanita yang mencintai rumah. Kehidupan keluarga adalah simbol kebahagiaan seorang wanita, bahkan simbol bagi kemanusiaan itu sendiri. Aku adalah seorang wanita yang benar-benar telah didzalimi oleh manusia-manusia lain. Bekerja dalam sebuah teater atau perfilman betul-betul menjadikan wanita sebagai barang dagangan murahan dan remeh, meskipun dia mendapatkan popularitas dan ketinggian.”


Minggu, 03 April 2022

Healing Ramadan



Kata "healing" Menjadi trend akhir-akhir ini. Pengguna media sosial banyak memakainya dalam postingan di status maupun ketika memberi komentar.
"Healing" berasal dari bahasa Inggris yang berarti "penyembuhan". Dalam penggunaannya, lebih mengarah kepada self healing (penyembuhan diri sendiri) secara psikologis yakni jiwa, perasaan, dan pikiran.
Aktivitas yang demikian padat, ditambah dengan berbagai permasalahan yang kerap muncul, membuat seseorang mudah mengalami gangguan kejiwaan. Pikiran kalut, emosi, sedih, khawatir, stres dan berbagai gejala mental lainnya. Kita tahu, gejala-gejala ini sering menjadi pemicu lahirnya masalah yang lebih besar.
Mungkin anda masih ingat. Kasus seorang ibu di Brebes yang tega menggorok leher 3 orang anaknya, pertengahan Maret lalu. Sang ibu diduga depresi karena tekanan ekonomi.
Kebanyakan kasus bunuh diri juga dipicu oleh tekanan kejiwaan. Jumlah kematian akibat bunuh diri di dunia menurut laporan WHO Global Health Estimates diperkirakan mencapai 793 ribu kematian pada tahun 2016 atau satu kematian setiap 40 detik. Bunuh diri menyumbang 1,4 persen kematian seluruh dunia dan merupakan ranking ke-18 penyebab kematian terbanyak (antara.com
).
Healing diyakini bisa mengurangi depresi dan tekanan mental yang lain. Ada banyak hal yang biasa dilakukan, misalnya dengan mengadakan perjalanan ke tempat-tempat yang menyenangkan, berkumpul dengan sahabat atau keluarga atau menekuni hobi tertentu di sela-sela rutinitas.
Sebenarnya, fasilitas healing sudah disiapkan Allah SWT. Al-Quran secara tersirat menghubungkan antara tekanan kejiwaan dengan ketenangan hati. Siapa yang bisa mengelola hatinya dengan baik, akan terhindar dari depresi. Allah SWT menjelaskan :
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. 13 : 28).
Obat dari keresahan, ketidaktentraman adalah dengan mengingat Allah. Mengembalikan segala urusan kepada-Nya. Tidak akan terjadi sesuatu tanpa izin dan kehendak-Nya.
Beruntunglah seorang Muslim yang memelihara shalatnya. Shalat adalah waktu healing yang terbaik, mengingat Allah sambil menghadapkan segala persoalan kepada-Nya. "....laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. 20 : 14).
Setidaknya seorang Muslim mendatangi Allah lima kali sehari semalam. Atau jika berkenan, dan ini sangat dianjurkan, gunakan jalur khusus. Bangun tengah malam. Sujud, berdialog dengan Allah melalui dzikir dan doa-doa yang dipanjatkan dalam shalat lail.
“Dan pada sebahagian malam hari sholat Tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. 17 : 97)
Nabi SAW bersabda :
“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikitpun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
Dengan shalat, Allah menghapus segala dosa. Ini hebat, bukankah penyebab kegelisahan dan perasaan tak tenang itu adalah tumpukan dosa?
Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diterima langsung oleh Nabi tanpa perantaraan Malaikat Jibril sebagaimana ibadah-ibadah lainnya. Pada peristiwa Isra mi'raj yang terkenal itu.
Sebelumnya Nabi mengalami tahun duka cita (amul huzni). Dua orang pembela dan pendukung utamanya yakni pamannya, Abu Thalib dan istrinya, Khadijah meninggal dunia. Sementara penentangan kaum Quraisy terhadap dakwahnya semakin meningkat. Penyiksaan yang diterima kaum Muslimin juga tambah parah. Nabi mengalami masa-masa yang sangat sulit, sedih yang teramat.
Dalam keadaan seperti itulah Allah mengundang Nabi SAW menghadap-Nya. Seolah-olah Allah hendak menghibur Rasul-Nya, mengembalikan semangatnya dengan melakukan perjalanan, memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kekuasan-Nya.
Shalat adalah mi'rajnya kaum Muslimin. Maka sejatinya shalat adalah perjalanan batin menuju Allah, mengisi jiwa dengan energi baru dan mengusir kegundahan..
Demikian juga. Dalam setahun Allah membuka kesempatan seluas-luasnya untuk menyegarkan kembali kehidupan spiritual kita. Sebulan penuh, bulan Ramadan. Inilah bulan tamasya, tamasya ruhani. Saat tepat untuk membersihkan jiwa dari penyakit yang mengotorinya. Lalu mengisinya dengan amalan-amalan yang menentramkan dan memperkuat keimanan.
"Sungguh beruntunglah orang yang mensucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS : 91 : 9-10)
Jika belum punya waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang Anda impikan. Tenanglah, Allah telah mengirimkan Ramadan untuk menemani hari-harimu. Ramadan adalah waktu istimewa, hadiah dari Allah untuk meng-healing-kan diri.

Rabu, 30 Maret 2022

OSIS


Senin, 29 Maret 2022. Melantik Pengurus OSIS dan MPK SMP Negeri 1 Parangloe. Pelantikan dirangkaikan dengan Rapat Kerja untuk menyusun program kerja satu tahun kedepan. Mewakili kepala sekolah, saya mengucapkan terima kasih kepada pembina OSIS atas ketekunan mereka mendampingi. Mulai dari pemilihan pengurus hingga pelantikan dan pelaksanaan rapat kerja hari ini. Saya paham betul, tidak mudah melakukan koordinasi di masa tatap muka terbatas ini. Bahwa semuanya bisa berjalan dengan baik, tentu patut diapresiasi dan disyukuri.

Berorganisasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan secara menyeluruh. Organisasi memberikan pengalaman kepemimpinan dan manajerial yang mungkin saja terlewatkan dalam pembelajaran di kelas. Hal ini bisa terjadi, mengingat muatan materi mata pelajaran yang padat dengan alokasi waktu yang terbatas.
Maka kehadiran organisasi kesiswaaan di sekolah, intra maupun ekstra, sangat penting. Bukan hanya kepemimpinan, tetapi juga dalam penguatan karakter. Pengurus OSIS dapat menjadi pionir (pelopor) dalam menumbuhkan kebiasan-kebiasaan baik di sekolah dan di luar sekolah. Menjadi duta-duta kebaikan yang akan menebarkan sifat baik itu kepada teman-temannya yang lain.
Dalam pelaksanaan kegiatan, mereka dibiasakan membuat perencanaan, mengorganisir kegiatan dan juga mengevaluasinya. Secara tidak langsung, mereka ditunjukkan bagaimana sistem sosial di masyarakat itu terjadi. Bagaimana menyelesaikan setiap problem yang ada. Secara mandiri dan bertanggung jawab. Kemampuan ini adalah modal yang perlu dimiliki oleh setiap generasi. Untuk menghadapi kehidupan sesungguhnya. Kehidupan di tengah-tengah masyarakat yang sarat dengan problem.
Pun dalam hal pengembangan bakat minat. Begitu banyak siswa yang berbakat pada bidang akademik maupun non akademik tetapi sering tidak terdeteksi. Atau mungkin terdeteksi tetapi tidak memiliki wadah. Di sinilah peran organisasi kesiswaaan, mengidentifikasi bakat minat, dan juga menjadi wadah bagi pengembangannya.
Peran dan fungsi OSIS perlu terus diperkuat. Sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Pastikan kegiatan-kegiatan kesiswaan terarah dengan benar dan berorientasi pada kebutuhan siswa. OSIS memiliki kans yang besar dalam turut mewujudkan profil pelajar pancasila.
Selamat kepada anak-anakku yang terpilih sebagai pengurus OSIS dan MPK SMP Negeri 1 Parangloe.
Selamat menjalankan tugas. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Minggu, 27 Maret 2022

Wisuda Santri



Hari ini mengantar Fathan mengikuti wisuda santri. Wisuda santri TK/TPA ini bertempat di kampus Samata UIN Alauddin Makassar, serasa wisuda mahasiswa. Masuk kampus, melihat orang-orang bertoga, mengingatkan masa-masa itu. Puluhan tahun silam. Ketika menggunakan kostum yang sama, pakai jubah kebesaran bermahkotakan toga, sah menjadi sarjana. Meskipun sensasi sarjana waktunya hanya sebentar. Yang lama, pusing mau kerja apa.

Wisuda sarjana sama saja dengan wisuda santri. Pengantar lebih banyak dari wisudawannya. Satu orang wisudawan diantar minimal satu pete-pete (angkot) belum lagi yang berkendaraan roda dua. Bisa dibayangkan betapa membludaknya. Kalau kampusnya di jalan Poros, pengguna jalan siap-siap menikmati kemacetan.
Teman saya dari daerah malah menyewa satu bus untuk mengangkut keluarganya. Di negara maju, ada tidak yang beginian. Hehe.
Saya wisuda tahun 1997. Malam sebelum wisuda, ibu-ibu tetangga berkumpul di rumah. Menyiapkan hidangan untuk pengantar dan tamu. Prediksi ibu saya, besok akan banyak orang bertamu. Ini peristiwa langka. Untuk pertama kalinya ada wisudawan dari kampung ini. Dan orang itu adalah saya, istimewa kan?
Ke kampus, diantar dua mobil. Satu taksi, yang satunya pete-pete, yang naik motor entah berapa. Saya bersama bapak dan ibu di taksi. Bapak duduk di depan samping sopir pakai jas, lengkap dengan kopiah hitamnya. Kaca mobil diturunkan, sehingga dia bebas melambaikan tangan kepada teman-temannya, sesama pagandeng yang menjejali jalan. Dia kelihatan bahagia, bangga, akhirnya anak Mapala (Mahasiswa Paling Lama) ini wisuda juga. Setelah penantian yang melelahkan. Enam tahun.
Sementara ibu, hanya duduk dengan grogi di samping saya. Seumur-umur baru kali ini dia naik mobil bagus. Pak sopir saya minta untuk tidak menyalakan AC. kasihan ibu, bisa-bisa menggigil kedinginan.
Tahun 2006, wisuda lagi. Kali ini tanpa hiruk pikuk. Pengantarnya pun hanya dua orang, istri dan anak saya. Bertiga, naik motor. Pakai jubah wisuda dikombinasi helm. Seru sekali. Ini wisudawan atau cowboy sih...
Jika pada wisuda pertama menghabiskan rool film 36 kutip, wisuda kali ini tidak ada dokumentasi sama sekali. Terasa aneh juga, momen sepenting ini tidak diabadikan.
Tetapi dari sini kita bisa paham, ternyata ada banyak hal yang sebenarnya bisa disederhanakan, tetapi kadang dibuat rumit. Saking rumitnya sering lupa pada urusan yang sesungguhnya. Bingung, mana yang harus didahulukan, dan mana yang boleh ditunda.
Kembali ke wisuda santri hari ini. Bagi kalangan bawah, acara semacam ini adalah hiburan tersendiri. Bangga, tentu saja.
Saya perhatikan wajah-wajah orang tua yang mendampingi anaknya. Begitu bahagianya. Lebih antusias bahkan dari anaknya. Terlihat dari betapa sibuknya mereka mencari spot foto yang menarik. Yang lainnya malah tidak mempedulikan tempat, di mana ada kesempatan langsung jepret.
Bagi anak-anak, wisuda santri sangat penting. Untuk memberikan penghormatan, penghargaan akan capaian mereka. Dulu tidak ada wisuda santri. Cara mengapresiasi anak-anak yang tuntas pelajaran mengajinya adalah dengan acara khataman Qur'an, pesta khusus. Atau dirangkaikan dengan acara lain, perkawinan misalnya. Dibeberapa daerah, anak-anak ini diarak keliling kampung, menunggang kuda dengan pakaian adat.
Bisa membaca Al-Quran adalah prestasi luar biasa dan perlu dirayakan. Apresiasi ini dibutuhkan untuk memberi dorongan kepada anak-anak lebih semangat mempelajari Al-Quran. Semoga membekas hingga dewasa nanti, menjadi pengingat dan pengontrol diri.
Maka tidak boleh berhenti pada wisuda saja. Orang tua harus mengawal anak-anaknya agar konsisten membaca dan mempelajari Al-Quran. Meneruskan Kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah ditanamkan oleh guru-guru mereka di TK/TPA. Tentang Akhlakul karimah, menjaga shalat, membiasakan berdoa, hapalan Al-Quran, dan yang lainnya. Ciptakan kondisi rumah yang mendorong anak-anak konsisten pada nilai-nilai kebaikan.
Bukan hanya orang tua, pemerintah dan masyarakat secara umum juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk turut menjaga anak-anak ini. Melindungi mereka dari segala hal yang bisa merusak akhlak dan melemahkan gairah belajarnya.
Alumni TK/TPA adalah asset besar dalam membangun karakter bangsa. Sangat disayangkan seringkali orang tua dan juga pihak-pihak terkait lalai menyiapkan kondisi dan lingkungan yang layak bagi perkembangan mereka. Akhirnya, potensi ini tersia-siakan.

Kamis, 10 Maret 2022

Sekolahmu, Ladangmu



PBG Gowa kembali menggelar Workshop Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran. Kali ini bekerja sama dengan KKKS dan PGRI Kecamatan Parigi. Workshop dilaksanakan selama 2 hari 8-9 Maret 2022 bertempat di SD Negeri Longka. Diikuti oleh sekitar 60 guru tingkat SD dan TK/PAUD se Kecamatan Parigi.

“Sekolahmu adalah ladangmu,” kata Pak Basri, S.Pd.,M.Si., Korwil Bidang Pendidikan Kecamatan Parigi, saat membuka workshop. Ini perumpamaan yang menarik. Bagi petani ladang adalah hidupnya. Petani yang cerdas, akan mengerahkan seluruh daya untuk ladangnya. Tanaman dirawat dengan sepenuh hati, memenuhi nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Bukan hanya itu. Petani harus menentukan strategi yang tepat; memilih jenis tanaman yang cocok, cara pemeliharaan, hingga manajemen pemasaran hasil panen.
Saat ini profesi petani tidak lagi identik dengan ketertinggalan. Ada banyak petani yang sukses. Hasil pertaniannya tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga menembus pasar mancanegara. Petani sekaligus eksportir. Membanggakan.
Petani milenial yang digagas Kementerian Pertanian, misalnya. Telah turut berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Keterlibatan kaum milenial dalam bidang pertanian sangat menggembirakan. Memberikan harapan bagi kembalinya Indonesia menjadi negara agraris dengan swasembada pangan.
Digitalisasi pertanian mungkin tidak pernah terbayangkan oleh petani-petani zaman dulu, orang-orang tua kita. Tetapi di tangan anak-anak muda, pertanian memasuki era digital. Pertanian tidak lagi sebatas tanah dan lumpur tetapi juga soal internet dan berbagai aplikasinya.
Data dari Kementerian Pertanian menyebutkan; ada sekitar 2,7 juta orang yang terkategori petani milenial dari 33 juta petani yang ada di Indonesia saat ini. Usianya umumnya masih muda, mereka juga terdidik, adaptif dan inovatif terutama dalam penggunaan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Mereka juga kreatif dalam memanfaatkan alat dan mesin pertanian.
Dengan tata kelola yang baik. Para petani milenial telah banyak yang berhasil dengan pendapatan yang cukup fantastis. Ada yang sampai pada angka ratusan juta rupiah per bulan. Petani Muda yang tergabung dalam PMK (Petani Muda Keren) Bali misalnya, sejak tahun 2018 sudah melakukan ekspor hasil pertanian dengan omset mendekati angka 100 milyar. Dalam pengelolaan, mereka mengembangkan marketplace berbasis aplikasi.
Pertanian telah melahirkan miliader-miliader muda. Petani yang sering diidentikkan dengan keterbelakangan kini berubah menjadi pekerjaan yang sangat menjanjikan.
Pendidik ibarat petani. Sekolah adalah ladangnya, dan siswa adalah tanamannya. Pendidik yang baik akan mengerahkan seluruh kemampuan, mencari formula yang tepat bagi pengembangan sekolah dan pelayanan terbaik untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa. Apapun fungsinya. Apakah dia guru atau seorang kepala sekolah. Persis seperti petani yang bekerja keras, mengolah ladang, merawat dan memelihara tanamannya.
Jika petani menganggap ladang adalah hidupnya, maka guru harus pula memperlakukan sekolah sebagai bagian dari denyut nadinya. Nadi itu bisa bernama tanggung jawab. Muarahnya adalah ketercapaian tujuan pendidikan nasional.
Karena tanggung jawab itulah, peningkatan kompetensi harus terus dilakukan. Tidak bisa tidak. Zaman berubah, guru harus menyesuaikan diri. Pendidikan harus mengikuti jiwa zaman dan kodrat alam. Itu yang dipesankan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara.
“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup pada zaman mereka, bukan pada zamanmu. Mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.” Ini kata-kata bijak yang sering kita dengar, memberikan pemahaman tentang perkembangan pengetahuan yang dinamis. Perubahan terus terjadi. Apa yang sangat istimewa sepuluh atau duapuluh tahun yang lalu, hari ini menjadi biasa-biasa saja. Atau boleh jadi sudah ditinggalkan, tidak lagi relevan dengan adanya temuan-temuan baru.
Anda boleh bernostalgia dengan mengingati satu demi satu barang-barang kesayangan anda di masa lalu yang hari ini sudah dipensiunkan. Jangan lupa sambil tersenyum.
Kita berada di era digital. Hampir semua aspek selalu terhubung dengan perangkat itu. Siswa yang kita hadapi adalah “anak-anak digital.” Lahir dan bertumbuh dalam intaian gadget. Ada ungkapan begini; “anak-anak sekarang terlahir dengan gadget di tangannya.” Ungkapan ini tidaklah bermaksud untuk mendramatisir keadaan, hanya untuk menyadarkan betapa perangkat itu telah menjadi bagian dari siklus keseharian anak-anak. Hendaknya guru sadar akan kenyataan itu.
Maka penguasaan teknologi di kalangan guru menjadi agenda yang sangat mendesak. Memang betul, teknologi bukanlah segala-galanya, tetapi tanpa teknologi capaian pendidikan akan melambat. Sementara, zaman berubah dengan cepat. Kita tentu tidak ingin anak-anak kita hanya menjadi penonton di tengah riuhnya kompetisi.
Sekolah adalah ladangmu, kelolalah ladangmu dengan penuh kesungguhan.
Terima kasih :
Korwil Bid. Pendidikan Kecamatan Parigi
KKKS Kecamatan Parigi
PGRI Cabang Parigi
Sahabat-sahabat pendidik se Kecamatan Parigi