Channel YouTube

Kamis, 25 April 2019

Spirit Sejarah Lokal




Henry Ford pernah berkata “ History is bunk”, sejarah itu bohong. Pernyataan ini mewakili sebagian orang yang beranggapan bahwa sejarah tidaklah berguna dan untuk itu tidak perlu buang-buang waktu untuk mengajarkannya. Ketika penulis mengusulkan agar sejarah lokal dimasukkan sebagai salah satu pelajaran muatan lokal di sekolah, seorang teman dengan sinis berkata, “apa tidak ada mata pelajaran yang lebih berguna?” Benarkah sejarah tidak berguna?

Bung Karno punya jawaban yang cukup menarik mengenai masalah ini. Pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke VI (1951) beliau mengatakan : “Sejarah adalah berguna sekali. Dari mempelajari sejarah orang menemukan hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia. Salah satu hukum itu ialah: Bahwa tidak ada bangsa bisa menjadi besar zonder kerja. Terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran-kebesaran dan kemakmuran tidak pernah jatuh gratis dari langit. Kebesaran bangsa dan kemakmuran selalu kristalisasi keringat. Ini adalah hukum, yang kita temukan dari mempelajari sejarah”. 

Jawaban ini keluar dari mulut seorang yang bukan sekedar ahli dalam teori-teori sejarah tetapi sekaligus seorang pelaku sejarah yang sudah membuktikan betapa romantisme masa lalu, mampu membakar semangat rakyat untuk berjuang membebaskan diri dari penjajahan. Dalam konteks ini jelas sekali bahwa sejarah bukanlah masa lampau untuk masa lampau, tetapi sejarah adalah masa lampau untuk masa depan. 

Dalam menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks sebagaimana yang kita hadapi saat ini, masalah kesejarahan - khususnya sejarah Gowa - terasa sangat penting untuk diperbincangkan kembali. Bukan tanpa alasan, sebab Gowa adalah bekas sebuah kerajaan yang cukup berpengaruh di kawasan Timur Nusantara, bahkan sampai ke mancanegara. Dengan sejarahnya yang panjang, Gowa telah turut mengambil peran dalam percaturan politik, ekonomi dan sosial budaya di Nusantara. Dalam posisi yang demikian, sejarah Gowa sarat dengan makna hidup yang perlu diwariskan kepada generasi pelanjut.

Oleh karena itu, sejarah Gowa perlu untuk dipahami oleh setiap generasi, guna menumbuhkan apa yang sering disebut sebagai kesadaran sejarah. Yakni sikap mental, jiwa, pemikiran yang dapat membawa untuk tetap dalam rotasi sejarah (Juraid Abdul Latief; 2001).  Sikap ini akan membuat seseorang semakin arif dan bijaksana dalam memaknai kehidupan. Dengan karateristiknya yang berorientasi pada sikap mental, semangat dan muatan moral, maka masyarakat yang memiliki kesadaran sejarah tidak akan kehilangan nilai-nilai dasar yang sangat dibutuhkan dalam membangun sebuah masyarakat.

Dengan demikian, salah satu persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Gowa saat ini adalah bagaimana membangkitkan kesadaran sejarah itu. Mengingatkan orang-orang Gowa tentang kebesaran dan kejayaan Gowa di masa lalu, dan menjadikannya sebagai sprit dan motivasi untuk membangun.

Menurut penulis, setidaknya ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama; menjadikan sejarah Gowa sebagai muatan lokal wajib di sekolah-sekolah. Hal ini perlu dilakukan karena saat ini pemahaman siswa tentang sejarah Gowa sangat terbatas. Penyebabnya adalah karena sejarah lokal termasuk sejarah Gowa kurang mendapat tempat semestinya dalam kurikulum pelajaran sejarah (SMA) maupun IPS (SD dan SMP). Kalaupun sejarah Gowa diungkap hanya pada dua kesempatan yaitu ketika membahas tentang masuknya Islam di Indonesia dan ketika perjuangan Sultan Hasanuddin melawan VOC (Belanda). Tetapi bagaimana kerajaan Gowa tumbuh, berkembang, dan mencapai puncak kejayaannya, dan siapa saja tokoh-tokohnya yang berpengaruh tidak pernah dibahas secara detail.

Sangat bertolak belakang jika dibandingkan dengan beberapa kerajaan di Pulau Jawa yang diberikan tempat yang sangat memadai dalam kurikulum. Tidak mengherankan jika siswa sangat hapal sejarah Mataram, Singosari, Majapahit dsb. tetapi kebingungan ketika ditanya tentang sejarah kerajaan Gowa yang justru adalah daerahnya  sendiri.  Memilukan sekaligus memalukan!

Menjadikan sejarah Gowa sebagai muatan lokal sangat mungkin dilakukan. Dalam Buku Panduan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk SMP dikemukakan bahwa Ruang lingkup muatan lokal adalah lingkup keadaan dan kebutuhan daerah. Yang dimaksud dengan keadaan daerah menurut buku itu adalah  segala sesuatu yang terdapat di daerah tertentu yang pada dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan sosial budaya. Sedangkan kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat di suatu daerah, khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat tersebut, yang disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta potensi daerah yang bersangkutan. Salah satu kebutuhan daerah yang dimaksud adalah melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah. 

Dalam upaya melestarikan dan mengembangkan budaya daerah inilah sejarah lokal  memegang peranan penting. Sebab sejarah lokal mengandung unsur-unsur budaya lokal, yang keberadaannya perlu dilestarikan dan dikembangkan, tentunya dengan tetap memperhatikan relevansinya dengan nilai-nilai yang berkembang dan dianut oleh  masyarakat dewasa ini. 

Kedua; melestarikan peninggaan-peninggalan bersejarah. Sebagai sebuah kerajaan besar, kerajaan Gowa memiliki peninggalan-peninggalan bersejarah yang tersebar di berbagai tempat.  Peninggalan-peninggalan itu harus dijaga kelestariannya karena situs itulah yang menjadi saksi yang akan berdialog kepada generasi sekarang dan yang akan datang tentang Gowa di masa lalu. Adanya upaya revitalasasi sejumlah peninggalan bersejarah oleh Pemkab Gowa saat ini, semisal situs  Ballalompoa, perlu diapresiasi dengan baik. Mudah-mudahan setelah revitalisasi minat orang berkunjung ke tempat-tempat bersejarah terutama siswa semakin meningkat.

Penelitian yang penulis lakukan pada tahun 2006 menunjukkan bahwa minat masyarakat berkunjung ke tempat bersejarah sangat kurang. Di kalangan siswa misalnya, menurut data dari BPPP Makassar memperlihatkan bahwa siswa yang berkunjung ke tempat bersejarah di Gowa hanya sekitar 3,30%. Kenyataan ini menjadi pertanda betapa apresiasi siswa dan boleh jadi juga gurunya sangat minim terhadap sejarah daerahnya sendiri.

Jadi revitalisasi sebagai bagian dari pelestarian peninggalan sejarah sangat diperlukan, dengan catatan bahwa upaya tersebut tetap mempertahankan aspek keasliannya. Agar peninggalan bersejarah itu tetap memiliki “roh” sebagai warisan masa lalu yang mewakili jiwa zamannya. Dan tetap eksis sebagai simbol pergulatan hidup masyarakat pendukungnya.

Semoga dengan demikian, kebesaran Gowa ratusan tahun yang lalu akan selalu memberikan inspirasi kepada generasi-generasi sekarang dan yang akan datang untuk terus berkarya, mengejar impian-impiannya. Bukan tidak mungkin kebesaran Gowa akan kembali terulang ditangan generasi sekarang.


PATRIOTISME-RELIGIUS DALAM PERANG ACEH

Pada tahun 1869 terusan Suez dibuka. Terusan yang terletak di Mesir ini dibangun atas prakarsa seorang insinyur Perancis, Ferdinan Vicomte de Lesseps. Dengan dibukanya Terusan Suez, maka jalur perdagangan Eropa – Asia atau sebaliknya dapat dipersingkat, jalan niaga antara wilayah-wilayah di Nusantara (Indonesia) dengan Timur Tengah semakin dekat. Kedudukan Selat Malaka pun sebagai jalur pelayaran dan perdagangan internasional menjadi sangat strategis (Oktarino; 2018 : 13). Kerajaan Aceh yang berada di ujung barat Pulau Sumatera dan menjadi gerbang Selat Malaka, memiliki posisi yang sangat penting. Akibatnya Aceh menjadi incaran bangsa-bangsa Imprealis terutama Inggris dan Belanda yang berambisi memonopoli perdagangan di kawasan tersebut.

Pada awalnya posisi Aceh bisa dikatakan aman. Hal ini sesuai dengan hasil perjanjian London yang ditandatangani oleh Inggris dan Belanda pada bulan Maret 1824. Perjanjian London mengatur pembagian wilayah jajahan antara Belanda dan Inggris. Inggris mendapatkan dominasinya di Semenanjung Malaya sementara Belanda di Sumatera. Kedua belah pihak sepakat untuk menjamin kemerdekaan Aceh (Ricklefs; 1998 : 217). Akan tetapi konstelasi politik berubah, persaingan di Selat Malaka semakin meruncing. Inggris mengambil keputusan akan lebih baik membiarkan Belanda menguasai Aceh daripada negara yang lebih kuat seperti Perancis atau Amerika yang juga sudah eksis di Selat Malaka. Pada tahun 1871 Belanda dan Inggris mencapai persetujuan dan menandatangani suatu perjanjian yang disebut Traktat Sumatera. Menurut perjanjian ini Belanda diberi kebebasan untuk mengadakan perluasan kekuasaan di seluruh Sumatera, termasuk ke Aceh yang selama ini tidak boleh diganggu kedaulatannya (Poesponegoro; 1990 : 242). Sejak saat itu kemerdekaan Aceh terancam.

Bermodalkan Traktat Sumatera, Belanda dengan percaya diri mempermaklumkan perang terhadap Aceh dengan mengirimkan pasukan untuk menaklukkan Aceh pada tahun 1873. Sejak saat itu Perang Aceh dimulai dan tidak pernah benar-benar selesai hingga Belanda ditarik dari Aceh menyusul kekalahannya atas Jepang pada tahun 1942 (Suryanegara; 2009 : 263). Perlawanan rakyat Aceh bisa jadi merupakan perlawanan yang paling lama dan paling merepotkan kolonialis Belanda. Dilihat dari dana yang dikeluarkan, waktu yang digunakan, maupun banyaknya korban jiwa. Bukan  hanya prajurit biasa, bahkan  dua panglima tertinggi Belanda, yaitu Johan Harmen Rudolf Kohler dan Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus Pel, meninggal dalam tugasnya di Aceh. Perang Aceh menyisakan trauma yang mendalam bagi Belanda. Faktanya, ketika Perang Dunia II berakhir dan Belanda kembali ke  Indonesia, Aceh adalah satu-satunya keresidenan yang mereka tidak coba untuk memasukinya (Ricklefs; 1998 : 222).

Bukan itu saja, Perang Aceh ternyata menjadi isu internasional terutama di kalangan negara-negara yang berpenduduk Muslim. Pecahnya Perang Aceh menimbulkan kehebohan besar di dunia Islam. Kaum Muslimin melihatnya sebagai peristiwa yang memberikan harapan bagi dunia Islam (Vlekke; 2017 : 304). Perang Aceh semakin melegenda ketika mufti Mekah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan atas permintaan orang-orang Aceh yang tinggal di Mekah, mengeluarkan fatwa yang isinya jihad melawan Belanda adalah wajib (Oktorino; 2018 : 82).

Perlawanan rakyat Aceh mendapat legitimasi kuat, perang sabil yang oleh orang Aceh menyebutnya “prang sabi” menjadi ikon sekaligus penyemangat utama. Babak baru ini ditandai dengan tampilnya ulama menjadi pemimpin perlawanan, satu di antarnya adalah Teuku Cik Di Tiro. Peperangan tidak lagi sekedar mempertahankan tanah air dari kerakusan kaum penjajah. Tetapi juga dianggap sebagai perang di jalan Allah, mempertahankan agama.  Belanda disifati sebagai orang kafir, sehingga perang melawan Belanda statusnya sama dengan perang membela agama Allah.  Gugur dalam peperangan dianggap mati syahid, sesuatu yang banyak dicita-citakan oleh kaum Muslim. Untuk memperkuat semangat perang sabil, Tengku Haji Muhammad Pante, seorang pengikut Teuku Cik Di Tiro membagikan sebuah karya yang berjudul Hikayat Prang Sabi. Karya ini dibacakan oleh ulama di tempat orang-orang berkumpul, dan terbukti sangat efektif membangkitkan semangat perlawanan (Oktorino; 2018 : 69).

G.B. Hooijer, seorang purnawirawan tentara Belanda yang pernah bertugas di Aceh, menceritakan kesaksiannya tentang Perang Aceh, dia mengatakan : Tidak ada pasukan Diponegoro atau Sentot, baik orang-orang Padri yang fanatik maupun rombongan orang-orang Bali atau massa berkuda orang-orang Bone, seperti yang pernah diperagakan oleh para pejuang Aceh yang begitu berani dan tak takut mati menghadapi serangan, yang begitu besar menaruh kepercayaan pada diri sendiri, yang sedemikian gigih menerima nasibnya, yang cinta kemerdekaan, yang bersikap sedemikian fanatik seolah-olah mereka dilahirkan untuk menjadi gerilyawan bangsanya (https://id.wikipedia.org)

Lebih lanjut, Hooijer mengatakan : ….dari semua pemimpin peperangan kita yang pernah bertempur di setiap pelosok kepulauan kita ini, kita mendengar bahwa tidak ada satu bangsa yang begitu gagah berani dan fanatik dalam peperangan kecuali bangsa Aceh; wanita-wanitanya pun mempunyai keberanian dan kerelaan berkorban yang jauh melebihi wanita-wanita lain (https://id.wikipedia.org).

Tentang militansi kaum perempuan, kita bisa bercermin dari sikap Cut Nyak Dien. Ketika Teuku Umar gugur diterjang peluruh Belanda, sang anak, Cut Gambang menangisi ayahnya. Cut Nyak Dien menghardiknya lalu berkata : "Kita perempuan seharusnya tidak menangis di hadapan mereka yang telah syahid" (https://id.wikipedia.org). Cut Nyak Dien kemudian tampil mengambil alih pimpinan perlawanan menggantikan suaminya hingga akhirnya tertangkap pada tahun 1904. Cut Nyak Dien bukanlah satu-satunya perempuan yang terlibat langsung di medan perang. Cut Nyak Meutia juga mencatatkan namanya sebagai perempuan perkasa yang kepahlawanannya patut dikenang dan diwariskan kepada generasi penerus. Perempuan mulia ini gugur di medan perang saat bentrok dengan pasukan elit Belanda, Marechausée di Alue Kurieng bulan Oktober 1910.

Di luar perkiraan Pemerintah Hindia Belanda, Perang Aceh ternyata berlangsung lama dengan korban yang semakin banyak ditambah dengan besarnya biaya perang yang menguras keuangan negara. Selama 15 tahun berlangsung, Perang Aceh telah menghabiskan dana sekitar 200 juta Gulden dan kehilangan 1.280 orang pasukan yang terbunuh serta 5.287 orang yang terluka (Oktorino; 2018 : 81). Jelas bahwa dibutuhkan strategi baru selain pendekatan militer untuk segera menghentikan perang.

Belanda mulai menyadari bahwa Perang Aceh erat hubungannya dengan Islam, karena itu penelitian mendalam tentang Islam dan masyarakat Aceh diperlukan. Snouck Hurgronye, Profesor Studi Islam di Universitas Leiden dikirim ke Aceh untuk mengadakan studi menyeluruh tentang negeri dan orang Aceh. Pilihan ini sangat tepat mengingat reputasinya sebagai peneliti yang pernah tinggal di Mekkah dengan tugas dari Pemerintah Belanda untuk mempelajari masalah Islam khususnya mengenai jamaah Haji.

Snouck Hurgronye menjalankan tugasnya dengan baik. Selama di Aceh dia menghabiskan waktunya untuk menyelidiki perilaku, bahasa, serta pranata-pranata politik dan religius orang Aceh. Dari hasil studinya selama di Aceh Hurgronye kemudian memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Hindia Belanda. Dalam laporannya, dia berkesimpulan bahwa adat dan Islam merupakan dua domain yang berbeda dan terpisah, dalam ranah budaya, sosial, dan politik. Bahkan hubungan adat dan Islam memperlihatkan ketegangan dan konflik (Burhanuddin; 2017 : 296). Untuk melemahkan orang-orang Aceh maka kedua kelompok ini harus dibenturkan.   Dalam masyarakat Aceh, kalangan adat diwakili oleh kelompok Uleebalang dan kelompok ulama sebagai refresentasi kalangan Islam. 

Hurgronye merekomendasikan kepada pemerintah kolonial untuk menggandeng kelompok uleebalang, memberi mereka penghargaan sehingga bersedia menerima kekuasaan Belanda. Sedangkan terhadap ulama, dia berpendirian bahwa peperangan harus terus dilakukan untuk memukul mundur mereka ke daerah-daerah terpencil di pedalaman (Burhanuddin; 2017 : 296). Kebijakan belah bambu Belanda segera menggerogoti perlawanan orang Aceh. Hurgronye bukan hanya mendesak pimpinan Belanda untuk memperlebar jurang antara para pemimpin adat dan pemimpin agama, tetapi juga menciptakan konflik antar ulama di Aceh (Oktarino; 2017 : 87). Politik de vide et impera atau adu domba ini berjalan dengan efektif, perlawanan rakyat mulai melemah. Konflik yang disulut pemerintah kolonial bahkan berlanjut hingga Belanda meninggalkan Aceh. Ketika itu para ulama bangkit dan menyerang uleebalang yang selama ini bekerja sama dengan Belanda, banyak di antaranya yang terbunuh (Vlekke; 2017 : 306).

Meskipun perlawanan Aceh melemah, akan tetapi  Aceh tidak pernah benar-benar tunduk kepada Belanda.  Jiwa patriotisme yang dipadu dengan semangat keberagamaan (religius) benar-benar menjadi faktor pendorong dan penggerak perlawanan. Di satu sisi rakyat Aceh tidak rela kemerdekaannya dirampas oleh siapapun. Di sisi lain, melawan penindasan diterjemahkan sebagai bagian dari jihad fisabilillah yang diperintahkan oleh agama yang dianutnya, Islam. Tidak meragukan lagi bahwa Perang Aceh mengajarkan kepada kita bahwa paduan cinta tanah air (patriotisme) dengan semangat keberagamaan (religiusitas) merupakan daya dorong yang sangat kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai inilah yang sepatutnya diwarisi oleh generasi sekarang dan yang akan datang sebagai bekal dalam melanjutkan pembangunan bangsa.

Daftar Pustaka

1. Buku :

Burhanuddin, Jajat. 2017. Islam Dalam Arus Sejarah Indonesia. Jakarta: Kencana
Oktarino, Nino. 2018. Perang Terlama Belanda; Kisah Perang Aceh 1873-1913. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta: Balai Pustaka.

Ricklefs, M. C. 1998. Sejarah Indonesia Modern. Diterjemahkan oleh Drs. Dharmono Hardjowidjono. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Suryanegara, Ahmad Mansyur. 2009. Api Sejarah. Bandung: Salamadani Pustaka Semesta

Vlekke, Bernard H. M. 2017. Nusantara; Sejarah Indonesia. Diterjemahkan oleh Samsuddin Berlian. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

2.      Internet :

https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Aceh

https://www.merdeka.com/peristiwa/heroisme-cut-nyak-dhien-ratu-perang-aceh-bikin-hati-bergetar/murka-melihat-masjid-dibakar-belanda.html

Rabu, 24 April 2019

REUNI, MEMAKNAI PERUBAHAN

Duduk bersama di sebuah warkop setelah 20-an tahun berlalu, sekumpulan mahasiswa zaman old saling membaca diri.  Secara fisik banyak yang berubah, ada yang kepalanya sudah dipenuhi uban (seperti saya, hehe), ada yang dulu kurus dan tidak terurus kini tampil dengan body gempal mirip bodyguard, necis pula. Yang dulu agak redup kini tampil bercahaya bak bintang kejora. Ini karena pengaruh uang, kata Amir ketika mengomentari gaya teman-teman di grup Whatsapp.  

Bisa jadi! Kok bisa?  Ya… dulu gaya hidup sangat dipengaruhi oleh kelancaran “amunisi” kiriman orang tua dari kampung.  Sialnya, kiriman seringkali terlambat membuat tatanan gaya hidup pun tidak beraturan. Begitu kira-kira korelasi sederhananya (hanya mengira-ngira loh, makhlum saya bukan anak kost). Hebatnya di zaman itu penampilan tidak menjadi yang utama. Yang terpenting adalah selesaikan kuliah undang keluarga dari kampung, kalau perlu sewa beberapa bis untuk menghadiri wisuda titik. Tidak peduli setelah itu akan menjadi pengangguran intelek atau seperti ungkapan yang sangat familiar dulu; “merdeka tapi pusing”, sehari merdeka pusingnya berhari-hari.

Sesi pesan menu. Nah di sinilah titik krusialnya. Pesanannya mulai bervariasi.  Tidak seperti dulu yang nyaris seragam dan sangat terukur (diukur berdasarkan penghuni dompet tentunya). Pokoknya kali ini bervariasi broo…Ada yang pesan teh tidak pakai gula, ada yang pesan air putih saja, ada yang menghindari makanan yang berlemak dan memilih sajian yang alami saja. Pilihan-pilihan ini tidak lagi dipengaruhi oleh penghuni dompet, tetapi lebih mengarah ke persoalan riwayat kesehatan. Point pentingnya saya kira adalah seperti kata Ratu, “ dulu tidak ada uang tetapi semua jenis makanan bebas kita makan, bahkan rumputpun kalau dikasih kecap mau saya makan”, katanya bercanda. “Sekarang uang ada tetapi  makanan serba dibatasi, sudah banyak pantangan”, sambung Salahuddin Si Bolang dari Sinjai.

Satu hal yang tidak banyak berubah adalah karakter kami.  Yang suka kocak tetap saja kocak, yang sejak dulu kalem sekarang pun tetap kalem (kalem asli loh..bukan kaya’ lembu), yang dulu santai-santai saja sekarang pun tampil dengan gaya santainya. Saya termasuk yang mana ya? Karakter memang lebih sulit berubah dibanding dengan penampakan fisik. Karena karakter sangat berkaitan dengan kebiasaan atau para ahli menyebutnya habits, suatu aktivitas yang dilakukan terus menerus sehingga melekat pada diri seseorang. Ustadz Felix mendefinisikannya sebagai sesuatu yang kita lakukan secara otomatis, bahkan kita melakukannya tanpa berpikir.

Makanya para penganjur kebaikan sering-sering berwasiat untuk membiasakan perbuatan  baik. Berhati-hatilah dengan kebiasaan Anda, karena pada awalnya Andalah yang menciptakan kebiasaan tetapi pada akhirnya Anda akan menjadi tawanan kebiasaan itu. Demikianlah kata-kata bijak yang sering saya ulang bahkan sampai anak-anak saya bosan mendengarnya.  Bisa dibayangkan betapa bahayanya kalau tertawan oleh kebiasaan buruk yang kita ciptakan sendiri. Sebaliknya betapa bahagianya mereka yang terbiasa dengan perbuatan baik sehingga itulah yang menjadi karakternya. Contohnya ya teman kita ini, siapa lagi kalau bukan Hj. Suri (Suriatmah – nama di absen perkualihan) yang menurut pengamatan saya  selalu pasang badan setiap ada jumpa-jumpa dengan teman, termasuk hari ini. Oh ya..terima kasih bu Hajjah atas traktirannya semoga rezekinya semakin bertambah dan berkah, dan satu lagi semoga dapat dicontoh oleh teman yang lain.

Historia Magistra Vitae, sejarah adalah guru kehidupan. Kalau pertemuan hari ini dianggap bersejarah, lalu apa pelajaran pentingnya? Bagi Andi Ija mungkin yang tidak terlupakan adalah ketika dia tampil di panggung menerima kipas angin, doorprize yang dia menangkan. Tetapi saya kira bukan itu, terlalu rendah motif pertemuan ini kalau hanya untuk sebuah kipas angin atau doorprize lainnya (andaipun saya dapat pasti dengan sangat ikhlas saya akan menerimanya, hehe). Sekali lagi bukan itu. Menurut penerawangan saya, pelajaran terpenting dari pertemuan hari ini adalah : Perubahan.

Salah satu hukum alam yang pasti terjadi adalah perubahan, tidak satupun makhluk yang langgeng dengan keberadaannya semuanya tunduk pada hukum perubahan. Diam-diam saya membaca guratan demi guratan yang menggores wajah-wajah kami. Tuhan, sebangga apapun kami dengan tampilan fisik ini, hukum-Mu pula yang berlaku, kami sedang berproses menuju ketidakabadian fisik menuju keabadian hidup setelah mati. Tanda-tanda itu begitu Nampak di wajah-wajah kami. Tuhan ajari kami untuk menghindari sekecil apapun bentuk keangkuhan dalam diri kami, jangan biarkan hati kami menjadi sarang kesombongan atas setitik sukses yang engkau titipkan.  Engkaulah yang berhak atas kesombongan itu, persempit jalan bagi kami untuk mengenakannya.

Saya tersentak ketika Hasruddin tiba-tiba berbicara tentang masa pensiun yang tinggal belasan tahun lagi. Dalam hati saya juga ikut menghitung. Dekat, demikian dekat waktu itu, sementara saya merasa belum berbuat apa-apa. Saya kerdil rasanya di hadapan orang-orang hebat yang bahkan usianya jauh di bawah saya.

Teman-teman! waktu, sekali lagi waktu. Jangan bermain-main dengan waktu karena waktu tidak pernah berhenti untuk berputar dan masa lalu tidak pernah balik lagi. Konon orang Arab mengibaratkan waktu laksana pedang, bermain-main dengan waktu suatu saat nanti kita akan tersabet olehnya. Maka bergegaslah mengumpulkan sebanyak mungkin kebaikan sebelum waktu memaksa perubahan menggilas kita. Fastabikul khairat (berlomba-lombalah dalam kebaikan) demikian pesan Allah dalam Qur’an Suci.

Akhirnya.
Tuhan meski kami sadar dengan ketidakabadian tetapi kami mohon berkati usia kami, sehatkan raga kami untuk selalu dapat merawat dan memelihara dengan baik persahabatan ini. Eratkan persahabatan kami atas dasar kecintaan kepada-Mu. Terima kasih Tuhan atas pertemuan singkat ini!

Aamiin

Guru di Negeri Impian

Semester awal kuliah di IKIP para mahasiswa sibuk beradaptasi dengan suasana kampus dengan lingkungannya termasuk dengan teman-teman baru. Di sela-sela menunggu dosen kami biasa berbincang-bincang mengakrabkan diri.  Salah satu tema perbincangan yang masih terkesan adalah membahas pertanyaan tentang “mengapa memilih kuliah di IKIP?” Atau lebih konkretnya, “mengapa bercita-cita jadi guru?”

Teman-teman yang terlibat dalam diskusi dadakan itu, mempunyai jawaban yang bervariasi. Tetapi jawaban yang membuat saya melongo adalah jawaban dari salah seorang teman yang mengatakan bahwa dia kuliah di IKIP karena berkali-kali mendaftar di perguruan tinggi negeri yang lain tetapi tidak lulus, maka diapun mencoba keberuntungan mendaftar di IKIP dan ajaibnya dia lulus. “Jadi saya kuliah di IKIP hanya pelarian daripada tidak kuliah, kuliah di pabrik gurupun tidak masalah”, begitu katanya. Malah ada yang mengaku hingga percakapan itu berlangsung, dia masih kebingungan mengapa harus kuliah di IKIP yang akan mengarahkan dirinya kelak menjadi guru. Masih ada jawaban dengan versi lain, dari sudut pandang ekonomi. “Saya kuliah di IKIP supaya cepat dapat pekerjaan”, kata teman yang lain dengan singkat, padat dan jelas.


Perbincangan ini memberikan fakta bahwa tidak semua mahasiswa keguruan benar-benar tertarik menjadi guru. Dan bisa dikatakan bahwa tidak semua guru termotivasi menjadi guru karena panggilan jiwa untuk mengabdikan dirinya sebagai pendidik. Ini perlu ditekankan karena motivasi sangat menentukan prilaku seseorang terhadap profesi yang dipilihnya.Entahlah hari ini. Tetapi dahulu kala, menjadi mahasiswa keguruan itu dianggap rendahan. Tempat pelarian, setelah tidak lulus di tempat lain, alias pilihan terakhir. Maka jangan heran jika saat itu istilah yang sangat terkenal di kalangan mahasiswa keguruan adalah istilah “IKIP ji”.  Jika ada yang tanya, “kuliah di mana?” kadang ada yang spontan menjawab, “di IKIP ji om”. Sebuah ungkapan yang tidak saja merendahkan tetapi juga menguras rasa percaya diri.

Untuk memperbaiki kualitas guru yang juga berarti memajukan kualitas pendidikan, saya kira salah satunya adalah dengan memulai dari titik ini. Menjadikan guru sebagai profesi terhormat dan pantas dibanggakan.

Izinkan saya untuk bermimpi tentang sebuah negeri.  Negeri yang menjadikan kampus-kampus keguruan sebagai kampus terbaik dengan fasilitas lengkap, dibimbing oleh dosen-dosen hebat dan ahli di bidangnya. Kampus keguruan di negeri itu menjadi impian generasi-generasi terbaiknya. Mereka berlomba-lomba menjadikan kampus keguruan sebagai tempatnya menimbah ilmu. Bukan karena terpaksa, tetapi karena kesungguhan hatinya.

Kampus itu diyakini bisa memenuhi dahaganya akan ilmu pengetahuan. Mereka bangga dan menikmati masa belajarnya sebagai calon guru. Seleksi masuk kampus itu juga tidak main-main, benar-benar selektif. Persaingan sangat ketat karena peminatnya yang berjubel. Mereka yang lulus dipastikan adalah orang-orang terbaik. Wajar! karena mereka adalah calon-calon guru yang sangat menentukan arah bagi masa depan bangsanya.

Kampus yang berkualitas bukan satu-satunya daya tarik generasi terbaik negeri itu untuk menjadi guru. Negeri yang sedang kita impikan ini menjadikan guru sebagai profesi yang sangat terhormat. Bukan dengan jargon-jargon kosong penghibur larah. Bukan juga janji –janji semu yang dengan cepat dilupakan secepat mengucapkannya.  Kesejahteraannya benar-benar terjamin hak-haknya pun terpenuhi. 

Tidak ada ceritanya siswa dan orang tua melecehkan dan menghina guru, sebab guru memiliki kompetensi yang terukur dan sangat profesional. Mereka menjalankan tugas berdasar pada SOP (standard Operating Prosedur) dan panduan yang jelas, disiplin dan penuh tanggung jawab. Hal ini dimungkinkan karena mereka terlahir dari hasil seleksi yang ketat, dibina melalui proses pembelajaran yang tepat di perguruan tinggi yang berkualitas juga dengan tenaga-tenaga dosen yang berdedikasi tinggi.

Karena kesejahteraannya terjamin, guru fokus pada tugasnya. Tidak ada guru yang nyambi jadi tukang ojek, buruh bangunan, pemulung dan pekerjaan-pekerjaan sampingan lainnya yang bisa mengganggu tugasnya. Mereka bisa tampil di hadapan siswanya dan juga dengan siapa saja dengan penuh wibawa, dihormati dan dan diteladani. Mereka dihormati bukan sekedar karena pertimbangan materi tetap karena ilmu dan sikap keteladannya.

Guru di negeri impian melek teknologi. Tak perlu pelatihan khusus IT yang sekedar melatih mereka membuat email, membuat PPT dan cara memindahkan file dari flashdisk ke laptop atau sebaliknya. Mereka sudah sangat terlatih sejak di bangku sekolah dan bangku kuliah. Tidak heran jika siswanya antusias mengikuti pembelajaran. Tidak ada siswa bolos atau tertidur di kelas, yang ada siswa yang ketagihan belajar. Bagaimana tidak! Guru mengajar dengan model-model pembelajaran yang menarik didukung oleh fasilitas pembelajaran dengan teknologi terkini. 

Pembelajaran tidak hanya berlangsung di kelas tetapi juga di luar kelas. Guru bisa terhubung dengan siswanya secara online di mana saja melalui aplikasi yang dibuat oleh guru sendiri yang dibenamkan ke dalam laptop atau smartphone siswa. Di negeri impian smartphone benar-benar digunakan untuk pembelajaran bukan hanya bermain medsos atau main game seperti kesibukan siswa pada sebuah negeri di dunia nyata.

Fasilitas pembelajarannya lengkap? Anggarannya darimana? Wah, jangan salah Bung. Negeri impian adalah negeri yang kaya raya. Alamnya subur dijejali dengan sumber daya alam yang melimpah. Itulah sebabnya di masa lampau, negeri impian menjadi rebutan bangsa-bangsa penjajah. Bukan hanya itu, pembesar-pembesarnya sangat bijak, 20% anggaran belanjanya dialokasikan untuk membiayai bidang pendidikan.

Anggaran benar-benar digunakan semestinya untuk pengembangan pendidikan. Melengkapi sarana prasarana pembelajaran, meningkatkan kompetensi guru, serta memperbaiki sistem pendidikan.  Tidak ada kebocoran anggaran. Korupsi dan penyalahgunaan wewenang adalah berita langkah di negeri itu. Kenapa? Karena negeri impian di bangun di atas dasar Ketuhanan, pejabatnya jauh lebih takut kepada Tuhan dari pada kemiskinan. Mereka juga sadar betul bahwa mengurus pendidikan sama saja dengan mengurus keberlangsungan generasi,  yang juga berarti keberlangsungan negara. Jadi bermain-main dengan masalah pendidikan sama saja dengan mempermainkan nasib bangsa di masa depan. Ngeri bukan?

Guru di negeri impian sangat bebas mengembangkan kemampuannya. Selain dapat gaji bulanan, mereka juga dapat tunjungan profesi sebesar 1 bulan gaji. Mereka menggunakannya untuk melengkapi diri dengan alat dan sarana pembelajaran terkini. Dengan tunjangan itu mereka juga bisa mengikuti seminar dan pelatihan-pelatihan kependidikan. Berlangganan media cetak maupun online, dan tidak lupa belanja buku tiap bulan. Hebat kan?

Sayangnya kita hidup di alam nyata, bukan di alam mimpi! 

Masuk dan Berkembangnya Islam di Gowa

Menurut Mattulada (1982) agama Islam telah sampai di Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan raja Gowa X, Tunipalangga (1546-1565). Mereka terdiri atas para pedagang Melayu yang diberikan tempat bermukim di Kampung Mangallekana di sebelah utara Benteng Somba Opu. Salah seorang tokohnya bernama Nahkoda Bonang.  Kehadiran mereka seiring dengan perkembangan Somba Opu sebagai bandar  niaga yang ramai dikunjungi para pedagang setelah Malaka direbut oleh Portugis (1511).

Pada masa pemerintahan I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Raja Gowa ke 11, tepatnya pada tahun 1580 Sultan Kerajaan Ternate yang bernama Sultan Baabullah berkunjung ke Gowa. Beberapa sumber menyebutkan bahwa pada kunjungannya itu, Sultan Baabullah berusaha membujuk Raja Gowa untuk memeluk agama Islam tetapi tidak berhasil.

Meskipun demikian Karaeng Bontolangkasa tetap memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan orang-orang Muslim di Somba opu.  Terbukti dengan dibangunnya sebuah masjid di Kampung Mangallekana.  Oleh orang Muslim Masjid tersebut selain digunakan sebagai tempat ibadah mereka juga menggunakannya sebagai tempat mengajarkan dan menyebarkan agama Islam walaupun hanya dalam kalangan terbatas.

Keberhasilan penyebaran agama Islam terjadi setelah memasuki awal abad ke 17 dengan kehadiran tiga orang Muballig yang bergelar “Datuk” dari Minangkabau. Ketiganya kemudian digelari Datuk Tallua (Makassar) atau Datuk Tellue (Bugis). Ketiga ulama ini diutus secara khusus oleh Sultan Aceh untuk menyebarkan dan mengembangkan Islam di Sulawesi Selatan. Ketiga Datuk itu adalah; 1) Abdul Makmur, Khatib Tunggal yang lebih populer dengan nama Datuk ri Bandan, 2) Sulaiman, Khatib Sulung yang lebih populer dengan nama Datuk Patiman, 3) Abdul Jawad, Khatib Bungsu yang lebih populer dengan nama Datuk ri Tiro.


Pada perkembangan selanjutnya, ketiga ulama dari Minangkabau ini masing-masing menetapkan daerah  dakwah mereka. Abdul Makmur, Khatib Tunggal mengajarkan Islam di Gowa (Bandang), Sulaiman, Khatib Sulung mengajarkan Islam di Luwu (Patimang), sedangkan Abdul Jawad, Khatib Bungsu mengajarkan Islam di Bulukumba (Tiro).

Pada tahun 1605 para penyebar Islam berhasil mempengaruhi kalangan elit kerajaan Gowa-Tallo.  Mangkubumi Kerajaan Gowa yakni I Mallingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka, disebut sebagai pembesar Gowa yang pertama memeluk agama Islam beliau kemudian diberi gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam. Peristiwa ini terjadi pada malam Jum’at  9 Jumadil Awal 1014 Hijriyah atau 22 September 1605 Masehi.  Disusul Raja Gowa ke 14  I Mangngarangi Daeng Manrabbia yang diberi gelar Sultan Alauddin. 

Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa sudah berhasil diislamkan, dan sebagai buktinya diadakan Shalat Jum’at pertama di Tallo yakni pada tanggal 9 Nopember 1617 Masehi atau 19 Rajab 1016 Hijriyah. Sejak saat itu,  agama Islam menjadi agama resmi kerjaan Gowa-Tallo.

Sejak agama Islam menjadi agama  resmi kerajaan maka raja Gowa Sultan Alauddin semakin kuat kedudukannya. Sebab beliau juga diakui sebagai Amirul Mukminin (pemimpin orang –orang Islam) di Sulawesi Selatan. Beliaupun aktif menyebarkan agama Islam ke beberapa kerajaan lain. Cara pendekatan yang dilakukan Sultan Alauddin adalah dengan cara damai yakni dengan mengingatkan perjanjian persaudaraan lama antara Gowa dengan negeri-negeri taklukan atau kerajaan-kerajaan sahabat yang berbunyi antara lain : barangsiapa di antara kita (Gowa dan sekutunya atau daerah taklukannya) melihat suatu jalan kebajikan maka salah satu dari mereka yang melihat itu harus menyampaikan kepada pihak lainnya. Karena itu dengan dalih bahwa Gowa sekarang sudah melihat kebajikan, yaitu agama Islam maka Kerajaan Gowa meminta kepada kerajaan-kerajaan taklukkannya untuk memeluk Islam.

Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan, bahkan sampai ke bagian timur Nusantara telah memberikan pengaruh dan perubahan terhadap kehidupan social masyarakat yang meliputi segala aspek kehidupan, baik pendidikan, politik, ekonomi, hokum  maupun  dalam bidang kebudayaan.

Dalam bidang hukum misalnya, syariat Islam dimasukkan sebagai  salah unsur dari pangadakkang. Yakni sistem pranata sosial yang berisi kitab undang-undang dasar tertinggi orang-orang Bugis/Makassar. Sebelum Islam datang pangadakkang ini terdiri atas 4 sendi yaitu; ade’ (adat istiadat), Rapang (pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan), wari’(system keprotokoleran kerajaaan), dan bicara (sistem hukum). Kemudian bertambah satu sendi lagi  setelah Islam resmi menjadi agama kerajaan yakni sara’ (syariat Islam). Jadi syariat Islam menjadi salah satu unsur yang harus dipertimbangkan dalam memutuskan suatu perkara.

Dalam bidang pemerintahan, Islam berpengaruh dalam pemberian gelar “Sultan” kepada raja Gowa-Tallo. Dalam hal pakaian, sebelum Islam diterima sebagai agama kerajaan pakaian kebesaran wanita yang dikenal adalah baju bodo setelah Islam masuk diganti dengan baju labbu.

           
Sumber bacaan :

Daeng Patunru, Abd. Razak. 1993. Sejarah Gowa. Makassar: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan  
Mattulada. 1982. Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah. Ujungpandang: Bhakti Baru – Berita Utama.
Kerajaan Gowa-Tallo; Ekspedisi Islam oleh Serambi Madinah dari Timur. Majalah Al-Wa’ie edisi Mei. Juni, dan Juli 2008


      

Selasa, 23 April 2019

Menanti Moratorium Ujian Nasional

Ujian akhir yang terpusat mulai diperkenalkan pemerintah melalui departemen pendidikan sejak tahun 1950, saat itu disebut Ujian Penghabisan. Departemen Pendidikan bertugas sebagai penyelenggara ujian dan sekaligus penanggung jawab pembuatan soal. Tahun 1970-an ujian terpusat dihapus, diganti dengan Ujian Sekolah. Sekolah diberikan kewenangan penuh, menyelenggarakan ujian, membuat soal dan menentukan kelulusan siswa. Tahun 1980-an ujian terpusat kembali diadakan dengan nama EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional). Sistem ini terus berlanjut dari tahun ke tahun dengan nama yang berganti-ganti. Terakhir (2005) namanya diubah menjadi Ujian Nasional, disingkat UN.
Penulis pertama kali mengikuti Ujian Nasional di Sekolah Dasar (SD). Hari-hari menjelang ujian, ketegangan sangat terasa di sekolah, hampir setiap hari Kepala Sekolah masuk ke kelas. Beliau berusaha meyakinkan murid-murid tentang betapa pentingnya ujian yang akan dihadapi.
Bukan hanya di SD, ketika mengikuti ujian yang sama di SMP dan SMA situasinya tidak jauh beda. Jauh hari sebelum ujian, persiapan sudah dimatangkan. Jam pembelajaran untuk Mata pelajaran Ujian Nasional ditambah. Beberapa orang tua malahan tidak merasa tenang jika tidak  mengadakan les private untuk anak-anaknya. Lembaga bimbingan belajar pun menjamur. Menimbulkan kesan bahwa masyarakat lebih percaya pada lembaga bimbingan belajar daripada guru-guru di sekolah dalam urusan kelulusan siswa.
Tanpa disadari, Ujian Nasional telah menciptakan situasi panik dalam dunia pendidikan. Melahirkan kecemasan dan ketegangan. Hal ini bisa terbaca dari sikap siswa dalam detik-detik menanti ujian. Ada yang positif; belajar dengan tekun, mengadakan istighosah, rajin minta maaf pada kedua orang tua, dan mendadak patuh pada guru. Namun ada pula yang menyalurkan kecemasannya dengan cara yang keliru seperti jual beli kunci jawaban, meskipun ternyata palsu. Aksi konvoi di jalan-jalan dan corat-coret baju seragam seusai ujian juga bisa dimaknai sebagai cara mereka merayakan kemerdekaan dari kecemasan. Seringnya terjadi praktek-praktek kurang terpuji dalam pelaksanaan Ujian Nasional oleh oknum guru dan Kepala Sekolah boleh jadi juga merupakan wujud dari kecemasan itu.
Kondisi semacam ini bisa dipahami. Selama bertahun-tahun Ujian Nasional menjadi “malaikat pencabut nyawa”, penentu kelulusan siswa. Enam atau tiga tahun anak-anak bergelut dengan berbagai macam kegiatan pembelajaran, tetapi nasibnya ditentukan oleh kurang dari sepekan penyelenggaraan Ujian Nasional. Setiap hari anak-anak disuguhi dengan belasan atau mungkin puluhan mata pelajaran  tetapi lagi-lagi nasibnya ditentukan oleh hanya beberapa gelintir Mata Pelajaran. Lalu Mata pelajaran yang lain, untuk apa?
Ujian Nasional membagi Mata pelajaran menjadi dua kelompok; Mata Pelajaran Ujian Nasional dan Mata pelajaran bukan Ujian Nasional. Mata Pelajaran Ujian Nasional menempati kasta tertinggi (high class). Diperlakukan bagai raja dan bangsawan tinggi dengan segala keistimewaannya. Sebaliknya Mata Pelajaran bukan Ujian Nasional ditempatkan pada kasta rendahan (lower class), rakyat jelata yang nyaris tidak memilki pengaruh apapun. Tidak heran jika di kalangan siswa muncul sikap meremehkan Mata Pelajaran yang tidak masuk Ujian Nasional sebagai Mata Pelajaran yang tidak penting.
Waktu berlalu. Keberadaan Ujian Nasional terus dipersoalkan. Sampai pada akhirnya, aturan kelulusan siswa diubah. Tidak lagi ditentukan oleh hasil Ujian Nasional, nilai semester pun turut diperhitungkan. Sampai pada akhirnya wewenang Ujian Nasional sebagai satu-satunya eksekutor kelulusan siswa benar-benar dicabut. Pemerintah mengembalikan hak sekolah dalam menentukan kelulusan. Kalaupun saat ini Ujian Nasional masih dilakukan, fungsinya tidak lagi sebagai penentu kelulusan tetapi hanya  untuk kebutuhan standarisasi/pemetaan mutu pendidikan. Ujian Nasional diharapkan menjadi pisau bedah dari tumpukan problem pendidikan selama ini.
Melihat fungsinya yang demikian, maka wacana tentang moratorium Ujian Nasional yang dulu pernah diusulkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhajir Effendy, menarik untuk dikaji kembali.  Mendikbud ketika itu merencanakan menghentikan pelaksanaan Ujian Nasional untuk tahun 2017 dengan alasan belum meratanya kualitas pendidikan di seluruh Indonesia. Pertimbangan lain, menurutnya adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk penyelenggaraan Ujian Nasional.  Namun rencana ini kemudian dibatalkan,  sejumlah pihak beralasan bahwa Ujian Nasional masih diperlukan sebagai standarisasi kualitas pendidikan. 
Padahal, penghentian sementara Ujian Nasional diperlukan untuk memberi kesempatan kepada pemerintah menindaklanjuti hasil pemetaan dari beberapa kali penyelenggaraan Ujian Nasional. Anggaran Ujian Nasional yang besarannya mencapai Rp. 500 miliyar pertahun,  dapat dialihkan untuk memperbaiki sarana prasarana, peningkatan kualitas guru, perbaikan manajerial kepala sekolah, membenahi standar proses, dan problem-problem lain yang  sering dikeluhkan sebagai biang rendahnya mutu pendidikan.
Ujian Nasional tidak harus dilaksanakan tiap tahun. Misalnya, sekali dalam lima tahun. Tekhnis pelaksanaannya memungkinkan dengan model sampling. Tidak perlu semua sekolah di setiap daerah diikutkan. Cukup perwakilan saja sesuai dengan kriteria dan persyaratan tertentu. Jadi sangat praktis dan menghemat biaya. Hasilnya saya yakin bisa dipertanggungjawabkan. Kalau lembaga quik count pemilu bisa menghasilkan data yang nyaris sempurna, kenapa para peneliti di Kementrian Pendidikan tidak bisa melakukan hal yang sama? Yakin bisa.

Dengan adanya moratorium,  pemerintah bisa memfokuskan tenaga dan pikiran pada hal-hal yang lebih mendesak dan mendasar.  Serta mengatur strategi yang paling baik untuk menghasilkan kebijakan pendidikan yang benar-benar dibutuhkan. Sederhananya, moratorium Ujian Nasional adalah kesempatan untuk merenung atau muhasabah diri bagi setiap pemangku kepentingan demi masa depan pendidikan Indonesia. 

Senin, 22 April 2019

Tiga Alasan Mengapa Pemilihan Langsung Sebaiknya Dihentikan

Gerakan Reformasi melahirkan perubahan terhadap sistem ketatanegaraan kita, sebagai koreksi total terhadap sistem Orde Baru yang tidak demokratis. Maka atas nama demokrasi, rakyat dilibatkan secara langsung untuk memilih pemimpinnya. Mulai dari Bupati hingga Presiden. Hal ini merupakan keniscayaan dalam sistem demokrasi, suara rakyat adalah suara Tuhan, katanya. Rakyatpun dimobilisasi setiap pemilu dan pemilukada yang sambung menyambung seolah tiada putusnya.
Harapannya jika pemimpin yang terpilih adalah kehendak rakyat maka sang pemimpin akan mengerti persoalan-persoalan rakyat, paham akan kehendak rakyat dan akan berjuang untuk kepentingan rakyat. Pendek kata, demokratisasi melalui pemilihan langsung akan mendekatkan rakyat pada kesejahteraan dan kemajuan yang dicita-citakan.

Namun faktanya. Dari rentetan pelaksanaan pemilu maupun pemilukada, kesejahteraan yang diidamkan tak kunjung datang. Justru penghianatan demi penghianatan terhadap amanah rakyat terus saja terjadi seiring dengan euforia demokrasi. Kepala Daerah yang mendekam di tahanan KPK karena kasus korupsi terus bertambah dari tahun ke tahun. Belum termasuk pejabat-pejabat lain baik di level pusat maupun daerah. 

Lalu haruskah pemilihan langsung dipertahankan? Penulis berpendapat bahwa sudah saatnya pemilihan langsung dihentikan.

Berikut adalah tiga alasan yang bisa dikemukakan. 

1. Membeli kucing dalam karung

Sepulang dari TPS seorang seorang kakek ditanya sama cucunya, "Kakek pilih siapa? Ah tidak tahu, tidak ada yang saya kenal," Jadi gimana kek? "Saya asal tusuk saja, yang penting tusuk. Selesai, hehe." Di TPS juga kelihatan begitu banyak orang kebingungan dengan daftar panjang nama-nama yang tertera dalam kartu suara. Banyak di antaranya yang keluar dari bilik suara dengan menyisakan wajah bingung. 

Pemilihan langsung bisa membuat rakyat memilih asal memilih alias membeli kucing dalam karung. Terutama di kampung-kampung terpencil yang kesulitan mengakses informasi. Atau karena pengetahuan terbatas. Bisa dipastikan mereka tidak mengenal dengan detil kontestan pemilu.Sebagian mungkin mengenal wajah dari baliho-baliho yang terpajang di banyak sudut jalan. Tetapi bagaimana track record seorang calon? Bagaimana kemampuan dan kepribadian mereka? Kemungkinan di beberapa tempat masyarakat tidak memiliki referensi yang cukup.
Akhirnya mereka akan memilih sesuai dengan "anjuran" orang-orang yang dianggapnya berpengaruh. Memilih bukan dengan hati nurani tetapi sesuai instruksi. Dalam situasi seperti ini suara rakyat akan dengan mudah dipermainkan. Jadi slogan bahwa biar rakyat menentukan pemimpinnya, tidak benar.

2. Biaya tinggi

Untuk penyelenggaraan Pemilu tahun 2019 pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp. 25,59 Triliun. Naik 61% dari anggaran Pemilu tahun 2014 yang dianggarkan sebesar 15,62 triliun. Selain itu dianggarkan pula untuk pengawasan sebesar Rp. 4,85 triliun dan anggaran keamanan sebesar Rp. 3,29 triliun.

Dana sebesar ini belum termasuk yang dikeluarkan oleh setiap calon yang jika dijumlahkan akan lebih besar lagi. Seorang Anggota Dewan pernah mengakui bahwa dia pernah ditawari untuk diajukan sebagai calon Wakil Gubernur di suatu provinsi dengan syarat menyiapkan uang sebesar Rp. 50 miliyar. Ini baru uang mahar untuk satu partai pengusung. Bagaimana dengan calon yang diusung oleh lebih dari satu partai? Bagaimana pula dengan biaya kampanye dengan berbagai alat peraganya?
Demokrasi berbiaya tinggi merupakan salah satu penyebab suburnya korupsi di Indonesia. Reformasi yang agenda utamanya adalah memerangi prilaku korup justru melahirkan korupsi yang gila-gilaan. Semakin diberantas semakin tumbuh, seperti kata pepatah, “Mati satu tumbuh seribu. Patah tumbuh, hilang berganti.”

3. Disintegrasi bangsa

Trend yang cukup meresahkan seiring dengan pelaksanaan pemilihan langsung adalah terjadinya perpecahan (disintegrasi) bangsa. Masyarakat terpecah berdasarkan pilihan politiknya. Benturan antar kelompok pendukung calon kerap terjadi, mengakibatkan kerugian harta benda maupun jiwa. Kehidupan harmonis perlahan redup diganti dengan saling mencurigai. Para elit hanya sibuk mengurusi politik, mengatur siasat untuk berkuasa dan mempertahankan kekuasaan. Untuk itu tidak jarang menghalalkan segala cara termasuk mengorbankan keutuhan bangsa. 

Lalu bagaimana seharusnya? Demokrasi adalah sistem yang kita caplok dari Barat pemuja kebebasan yang nyaris tanpa batas. Tentu tidak cocok untuk negeri kita yang masih terikat dengan nilai-nilai luhur bangsa. Dalam menyelesaikan masalah bangsa kita terbiasa dengan musyawarah untuk mufakat sebagaimana yang disebutkan pada sila ke empat Pancasila. Maka sebaiknya dalam menentukan pemimpin kita kembali ke azas musyawarah. Bukan dilelang kepada semua orang yang kebanyakan tidak mengerti siapa dan bagaimana orang yang dipilihnya.

Dengan cara musyawarah, pemimpin yang terpilih bisa lebih kompeten karena dipilih oleh orang-orang yang mumpuni, ahli dan kredibel dalam sebuah permusayawaratan. Selain itu, dengan cara musyawarah anggaran bisa dihemat dan bisa meminimalisir terjadinya disintegrasi bangsa. 

Benteng Somba Opu; Lambang Keperkasaan Kerajaan Gowa

Benteng Somba Opu  terletak di Kecamatan Barombong. Tepatnya di Kampung Sapiria Kelurahan Benteng Somba Opu.  Bentuknya  segi empat panjang dengan luas 363,00 M2, tinggi dindingnya tujuh meter dengan ketebalan yang bervariasi antara 3,66 – 4,10 meter dan 10,3 – 10,5 meter. Pintu benteng terdiri atas dua yaitu, terletak di sisi utara bagian barat dan pintu lainnya di bagian selatan. 
              
Benteng Somba Opu terdapat di pesisir utara sungai Jeneberang. Di bagian belakang atau sebelah timur dilindungi oleh  Benteng Anak Gowa dan Kale Gowa, serta Benteng Garassi melindungi di seberang Sungai Je’ne Berang di sebelah selatannya. Sedangkan benteng Somba Opu itu sendiri menghadap ke arah barat, yakni ke arah selat Makassar.  

Benteng Somba Opu  dibangun pada masa pemerintahan raja Gowa ke IX yakni Daeng Matanre Karaeng Manguntungi “Tumapakrisik Kallonna” (1510-1546). Hal ini sejalan dengan  perkembangan kerajaan Gowa dalam berbagai bidang terutama dalam bidang politik dan ekonomi.

Pada masa ini perluasaan wilayah juga mulai giat dilakukan.  penaklukan-penaklukan ini antara lain mempunyai motif ekonomi, yaitu Raja Gowa ingin memajukan bandar Somba Opu sebagai satu-satunya bandar niaga yang menjadi sasaran para pedagang.  Oleh karena itu, kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan umumnya adalah kerajaan yang sudah lama menggeluti dunia perdagangan.  Kerajaan-kerajaan tersebut seperti; Garassi, Katingang, Parigi, Siang, Sidenreng, dan Lembangang, Bulukumba, Selayar, Panaikang,  Maros, Polongbangkeng dan Bone .

Cita-cita kerajaan Gowa untuk memegang hegemoni dalam bidang perdagangan maupun politik di Sulawesi serta kawasan timur Nusantara  membutuhkan bukan hanya pasukan yang kuat tetapi juga benteng pertahanan yang kokoh untuk melindungi wilayahnya dari berbagai ancaman dan gangguan keamanan. Dengan dasar itu maka  Karaeng Tumapakrisik Kallonna kemudian mendirikan beberapa benteng pertahanan, salah satunya adalah benteng Somba Opu yang kemudian berfungsi  sebagai benteng utama sekaligus sebagai tempat tinggal (istana raja). Tumapakrisik Kallonna juga yang menetapkan Somba Opu sebagai ibukota kerajaan.  

Pada masa Karaeng Tumapakrisik Kallonna dinding benteng Somba Opu dibuat dari tanah liat. Tetapi Raja Gowa X  I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung “ Tunipalangga Ulaweng”  (1546-1565) merenovasi dinding benteng Somba Opu dengan menggunakan batu bata, batu padas, pada kaki benteng dan bastion serta tanah isian di tengahnya. Pada masa ini benteng Somba Opu sudah dilengkapi dengan meriam. Raja Gowa XII  I Maggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa “ Tunijallo” (1565-1590) membuat tembok batu bata sekeliling benteng Somba Opu serta menambah jumlah meriam atas bantuan pedagang Portugis.

Pada masa Sultan Alauddin (I Mangngarrangi Daeng Mangrabbia Karaeng Lakiung “Tumenanga ri Gaukanna)  Raja Gowa  XIV  (1593-1639) benteng Somba Opu lebih dikembangkan lagi seiring dengan dijadikannya Somba Opu sebagai bandar niaga intenasional. Perkembangan ini didukung dengan direbutnya Malaka oleh Portugis pada tahun 1511. Jatuhnya Malaka ke tangan Potugis  berpengaruh terhadap menurunnya aktivitas perdagangan di selat Malaka. Para pedagang kemudian mengalihkan perhatiannya ke pelabuhan-pelabuhan lain seperti pelabuhan Somba Opu di Gowa.  Sultan Hasanuddin (I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape “Tumenanga ri Balla Pangkana”) Raja Gowa XVI menyempurnakan dan memperkuat bagian luar benteng. 

Menurut data dari  Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulselra (2002)  yang didasarkan pada   hasil stilasi Francois Valentijn  yang disempurnakan  oleh Bleau  dalam sebuah peta berangka tahun 1638, benteng Somba Opu berbentuk segi empat panjang. Di dalamnya terdapat istana raja (Maccini sombala), rumah para bangsawan, pembesar dan pegawai kerajaan yang dikelilingi oleh tembok lingkar yang tinggi dari tembok serta dilengkapi dengan persenjataan.

Istana Maccini Sombala terletak di bagian Barat,  selatan sejajar dengan tembok. Di istana inilah raja mengawasi aktifitas pelayaran/perdagangan, sekitar keluar masuknya kapal di pelabuhan Somba Opu. Kediaman para bangsawan terletak di bagian utara  yang di belah dua oleh sumbu jalan utama yang membujur utara-selatan. Masih di bagian utara, menempel pada dinding luar benteng terdapat pasar.  Terdapat pula mesjid yang terletak di ujung selatan jalan utama, melintang barat-timur. 

Di luar benteng juga dijadikan sebagai tempat hunian. Di situ tinggal para prajurit dan keluarganya, tukang-tukang, saudagar dan para pendatang dari berbagai suku bangsa.  Bangsa-bangsa asing  diberikan juga tempat bahkan diizinkan membuka kantor dagang di bagian utara, seperti Portugis, Belanda , Inggris, Spanyol, China, dan Denmark.  Sebelah utara benteng terdapat kampung Mangallekana yang dihuni oleh orang-orang Melayu. Di kampung inilah   Karaeng Tunijallo (1565-1590)  mendirikan masjid untuk orang-orang Melayu (Muslim) dan menjadi masjid pertama di Kerajaan Gowa. Hal ini menarik mengingat pada saat itu agama Islam belum diterima sebagai agama resmi kerajaan. Fakta ini menunjukkan bahwa kerajaan Gowa sangat menghormati perbedaan latar belakang para pendatang dan berusaha menciptakan ketenteraman dan hidup berdampingan secara damai di Somba Opu. 

Di daerah sekitar benteng itu pula tinggal pedagang Bugis dan Makassar,  serta petani yang mengerjakan sawah milik kerajaan yang menempati Kampung Bontoala. Para petani ini mengerjakan sawah milik kerajaan yang bernama Kanrebosi (sekarang, Karebosi yang dijadikan lapangan olah raga di Makassar).  

Gambaran ini menunjukkan bahwa  Somba Opu merupakan pusat aktivitas kerajaan Gowa dalam berbagai bidang. Pertama; bidang politik (pemerintahan) yakni dengan dijadikannya Somba Opu sebagai ibukota kerajaan yang berarti menjadi pusat pengendalian pemerintahan. Kedua; bidang ekonomi, yakni dengan dijadikan Somba Opu sebagai bandar niaga utama yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai etnis di nusantara bahkan mancanegara. Ketiga; bidang kebudayaan, dengan membaurnya berbagai etnis dan berbagai kalangan di Somba Opu,     memungkinkan terjadinya akulturasi budaya antar mereka, misalnya dalam hal bahasa dan agama. Keempat; Somba Opu juga menjadi pusat pertahanan  kerajaan Gowa.   Sebagai benteng pertahanan,  Somba Opu dilengkapi dengan persenjataan berupa meriam-meriam modern menurut ukuran zaman itu.

Perkembangan Somba Opu sebagian bandar niaga yang cukup ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagai bangsa, mengundang minat bangsa asing terutama yang mempunyai ambisi kekuasaan, untuk berkuasa dan memegang hegemoni di Somba Opu yang merupakan kunci pembuka untuk menguasai Gowa. Belanda (VOC = Verenigde van Oost-Indesche Compagnie) adalah bangsa asing yang paling berambisi untuk menguasai perdagangan di Somba Opu, hal ini kemudian memicu pertentangan antara Kerajaan Gowa dengan pihak VOC.

Pertentangan antara VOC dengan Kerajaan Gowa memuncak setelah terlibatnya pihak ketiga yakni, Arung Palakka (yang kemudian menjadi raja Bone). Keterlibatan Arung Palakka dalam perselisihan Gowa dengan VOC erat kaitannya dengan perjuangannya dalam membebaskan kerajaan Bone dari kekuasaan Gowa. Persekutuan antara VOC dengan Arung Palakka (Bone) menentang Gowa ini kemudian menjerumuskan kerajaan-kerajaan di   Sulawesi, bahkan Kawasan Timur Indonesia dalam perang besar yang disebut “Perang Makassar.”

Perang Makassar dimulai pada tanggal 21 Desember 1666, yakni ketika Cornelis Spelman  (pimpinan pasukan VOC) memaklumkan perang atas Gowa yang ketika itu diperintah oleh Sultan Hasanuddin, dan berakhir setelah  ditandatanganinya perjanjian Bungaya (dalam bahasa Belanda disebut het bongaais verdrag, orang-orang Makassar menamakanya Cappaya ri Bungaya) pada tanggal 18 Nopember 1667 .  Perjanjian Bungaya menandai kekalahan Gowa atas Belanda.  Perjanjian ini sangat memberatkankan kerajaan Gowa, bahkan orang-orang Gowa menganggapnya sebagai suatu penghinaan. 

Penolakan terhadap perjanjian Bungaya merebak,  terutama di kalangan pembesar istana yang tidak mau tunduk kepada VOC. Akhirnya pada tanggal 12 April 1668 perang kembali berkobar antara Gowa dan VOC. Akhir dari perang ini adalah direbutnya benteng Somba Opu oleh VOC pada tanggal 24 Juni 1669. Karena kekurangan tentara untuk ditempatkan di benteng Somba Opu maka benteng kebanggaan orang Gowa itu pun dihancurkan.

Sebelum benteng Somba Opu dihancurkan, VOC menyita sekitar 272 (dua ratus tujuh puluh dua) buah meriam  termasuk meriam kebanggaan orang Gowa yang bernama “Anak Mangkasara” yang terpasang di sudut barat laut benteng. Meriam Anak Mangkasara kemudian dibawah oleh VOC ke Batavia dan hingga tahun 1710 meriam tersebut masih   terdapat  di Batavia.

Hancurnya benteng Somba Opu tidak menyurutkan semangat juang sebagian pembesar Gowa. Beberapa di antaranya, seperti Karaeng Bontomarannu dan Karaeng Galesong melanjutkan perjuangannya di tanah Jawa, membantu Trunojoyo maupun Sultan Ageng Tirtayasa– Syekh Yusuf menghadapi musuh bersama mereka yaitu VOC.

Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa benteng Somba Opu mempunyai peranan yang penting di masa  silam. Kejayaan Kerajaan Gowa sama sekali tidak bisa dilepaskan dari peranan benteng Somba Opu. Oleh karena itu sudah sepantasnya jika keberadaannya perlu dilestarikan dengan cara penggalian (eskavasi penyelamatan) dan pembangunan kembali sesuai dengan wujud aslinya (rekonstruksi). Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar. Lokasi benteng Somba Opu  sekarang telah dijadikan sebagai taman miniatur Sulawesi Selatan dengan dibangunnya sejumlah rumah adat yang mewakili seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan. Lokasi ini juga telah digunakan sebagai sarana pameran kebudayaan dan hasil pembangunan Sulawesi Selatan. 


Saat ini benteng Somba Opu telah dijadikan sebagai salah satu obyek wisata sejarah/budaya yang banyak dikunjungi wisatawan. Sangat disayangkan bahwa pengembangan kawasan benteng Somba Opu masih terhambat oleh berbagai kendala. terutama mengenai masih kurangnya kepedulian masyarakat dan juga pemerintah dalam memelihara dan melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah.