Pada tahun 1869 terusan Suez dibuka. Terusan yang terletak di Mesir ini dibangun atas prakarsa seorang insinyur Perancis, Ferdinan Vicomte de Lesseps. Dengan dibukanya Terusan Suez, maka jalur perdagangan Eropa – Asia atau sebaliknya dapat dipersingkat, jalan niaga antara wilayah-wilayah di Nusantara (Indonesia) dengan Timur Tengah semakin dekat. Kedudukan Selat Malaka pun sebagai jalur pelayaran dan perdagangan internasional menjadi sangat strategis (Oktarino; 2018 : 13). Kerajaan Aceh yang berada di ujung barat Pulau Sumatera dan menjadi gerbang Selat Malaka, memiliki posisi yang sangat penting. Akibatnya Aceh menjadi incaran bangsa-bangsa Imprealis terutama Inggris dan Belanda yang berambisi memonopoli perdagangan di kawasan tersebut.
Pada awalnya posisi Aceh bisa dikatakan aman. Hal ini sesuai dengan hasil perjanjian London yang ditandatangani oleh Inggris dan Belanda pada bulan Maret 1824. Perjanjian London mengatur pembagian wilayah jajahan antara Belanda dan Inggris. Inggris mendapatkan dominasinya di Semenanjung Malaya sementara Belanda di Sumatera. Kedua belah pihak sepakat untuk menjamin kemerdekaan Aceh (Ricklefs; 1998 : 217). Akan tetapi konstelasi politik berubah, persaingan di Selat Malaka semakin meruncing. Inggris mengambil keputusan akan lebih baik membiarkan Belanda menguasai Aceh daripada negara yang lebih kuat seperti Perancis atau Amerika yang juga sudah eksis di Selat Malaka. Pada tahun 1871 Belanda dan Inggris mencapai persetujuan dan menandatangani suatu perjanjian yang disebut Traktat Sumatera. Menurut perjanjian ini Belanda diberi kebebasan untuk mengadakan perluasan kekuasaan di seluruh Sumatera, termasuk ke Aceh yang selama ini tidak boleh diganggu kedaulatannya (Poesponegoro; 1990 : 242). Sejak saat itu kemerdekaan Aceh terancam.
Bermodalkan Traktat Sumatera, Belanda dengan percaya diri mempermaklumkan perang terhadap Aceh dengan mengirimkan pasukan untuk menaklukkan Aceh pada tahun 1873. Sejak saat itu Perang Aceh dimulai dan tidak pernah benar-benar selesai hingga Belanda ditarik dari Aceh menyusul kekalahannya atas Jepang pada tahun 1942 (Suryanegara; 2009 : 263). Perlawanan rakyat Aceh bisa jadi merupakan perlawanan yang paling lama dan paling merepotkan kolonialis Belanda. Dilihat dari dana yang dikeluarkan, waktu yang digunakan, maupun banyaknya korban jiwa. Bukan hanya prajurit biasa, bahkan dua panglima tertinggi Belanda, yaitu Johan Harmen Rudolf Kohler dan Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus Pel, meninggal dalam tugasnya di Aceh. Perang Aceh menyisakan trauma yang mendalam bagi Belanda. Faktanya, ketika Perang Dunia II berakhir dan Belanda kembali ke Indonesia, Aceh adalah satu-satunya keresidenan yang mereka tidak coba untuk memasukinya (Ricklefs; 1998 : 222).
Bukan itu saja, Perang Aceh ternyata menjadi isu internasional terutama di kalangan negara-negara yang berpenduduk Muslim. Pecahnya Perang Aceh menimbulkan kehebohan besar di dunia Islam. Kaum Muslimin melihatnya sebagai peristiwa yang memberikan harapan bagi dunia Islam (Vlekke; 2017 : 304). Perang Aceh semakin melegenda ketika mufti Mekah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan atas permintaan orang-orang Aceh yang tinggal di Mekah, mengeluarkan fatwa yang isinya jihad melawan Belanda adalah wajib (Oktorino; 2018 : 82).
Perlawanan rakyat Aceh mendapat legitimasi kuat, perang sabil yang oleh orang Aceh menyebutnya “prang sabi” menjadi ikon sekaligus penyemangat utama. Babak baru ini ditandai dengan tampilnya ulama menjadi pemimpin perlawanan, satu di antarnya adalah Teuku Cik Di Tiro. Peperangan tidak lagi sekedar mempertahankan tanah air dari kerakusan kaum penjajah. Tetapi juga dianggap sebagai perang di jalan Allah, mempertahankan agama. Belanda disifati sebagai orang kafir, sehingga perang melawan Belanda statusnya sama dengan perang membela agama Allah. Gugur dalam peperangan dianggap mati syahid, sesuatu yang banyak dicita-citakan oleh kaum Muslim. Untuk memperkuat semangat perang sabil, Tengku Haji Muhammad Pante, seorang pengikut Teuku Cik Di Tiro membagikan sebuah karya yang berjudul Hikayat Prang Sabi. Karya ini dibacakan oleh ulama di tempat orang-orang berkumpul, dan terbukti sangat efektif membangkitkan semangat perlawanan (Oktorino; 2018 : 69).
G.B. Hooijer, seorang purnawirawan tentara Belanda yang pernah bertugas di Aceh, menceritakan kesaksiannya tentang Perang Aceh, dia mengatakan : Tidak ada pasukan Diponegoro atau Sentot, baik orang-orang Padri yang fanatik maupun rombongan orang-orang Bali atau massa berkuda orang-orang Bone, seperti yang pernah diperagakan oleh para pejuang Aceh yang begitu berani dan tak takut mati menghadapi serangan, yang begitu besar menaruh kepercayaan pada diri sendiri, yang sedemikian gigih menerima nasibnya, yang cinta kemerdekaan, yang bersikap sedemikian fanatik seolah-olah mereka dilahirkan untuk menjadi gerilyawan bangsanya (https://id.wikipedia.org)
Lebih lanjut, Hooijer mengatakan : ….dari semua pemimpin peperangan kita yang pernah bertempur di setiap pelosok kepulauan kita ini, kita mendengar bahwa tidak ada satu bangsa yang begitu gagah berani dan fanatik dalam peperangan kecuali bangsa Aceh; wanita-wanitanya pun mempunyai keberanian dan kerelaan berkorban yang jauh melebihi wanita-wanita lain (https://id.wikipedia.org).
Tentang militansi kaum perempuan, kita bisa bercermin dari sikap Cut Nyak Dien. Ketika Teuku Umar gugur diterjang peluruh Belanda, sang anak, Cut Gambang menangisi ayahnya. Cut Nyak Dien menghardiknya lalu berkata : "Kita perempuan seharusnya tidak menangis di hadapan mereka yang telah syahid" (https://id.wikipedia.org). Cut Nyak Dien kemudian tampil mengambil alih pimpinan perlawanan menggantikan suaminya hingga akhirnya tertangkap pada tahun 1904. Cut Nyak Dien bukanlah satu-satunya perempuan yang terlibat langsung di medan perang. Cut Nyak Meutia juga mencatatkan namanya sebagai perempuan perkasa yang kepahlawanannya patut dikenang dan diwariskan kepada generasi penerus. Perempuan mulia ini gugur di medan perang saat bentrok dengan pasukan elit Belanda, Marechausée di Alue Kurieng bulan Oktober 1910.
Di luar perkiraan Pemerintah Hindia Belanda, Perang Aceh ternyata berlangsung lama dengan korban yang semakin banyak ditambah dengan besarnya biaya perang yang menguras keuangan negara. Selama 15 tahun berlangsung, Perang Aceh telah menghabiskan dana sekitar 200 juta Gulden dan kehilangan 1.280 orang pasukan yang terbunuh serta 5.287 orang yang terluka (Oktorino; 2018 : 81). Jelas bahwa dibutuhkan strategi baru selain pendekatan militer untuk segera menghentikan perang.
Belanda mulai menyadari bahwa Perang Aceh erat hubungannya dengan Islam, karena itu penelitian mendalam tentang Islam dan masyarakat Aceh diperlukan. Snouck Hurgronye, Profesor Studi Islam di Universitas Leiden dikirim ke Aceh untuk mengadakan studi menyeluruh tentang negeri dan orang Aceh. Pilihan ini sangat tepat mengingat reputasinya sebagai peneliti yang pernah tinggal di Mekkah dengan tugas dari Pemerintah Belanda untuk mempelajari masalah Islam khususnya mengenai jamaah Haji.
Snouck Hurgronye menjalankan tugasnya dengan baik. Selama di Aceh dia menghabiskan waktunya untuk menyelidiki perilaku, bahasa, serta pranata-pranata politik dan religius orang Aceh. Dari hasil studinya selama di Aceh Hurgronye kemudian memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Hindia Belanda. Dalam laporannya, dia berkesimpulan bahwa adat dan Islam merupakan dua domain yang berbeda dan terpisah, dalam ranah budaya, sosial, dan politik. Bahkan hubungan adat dan Islam memperlihatkan ketegangan dan konflik (Burhanuddin; 2017 : 296). Untuk melemahkan orang-orang Aceh maka kedua kelompok ini harus dibenturkan. Dalam masyarakat Aceh, kalangan adat diwakili oleh kelompok Uleebalang dan kelompok ulama sebagai refresentasi kalangan Islam.
Hurgronye merekomendasikan kepada pemerintah kolonial untuk menggandeng kelompok uleebalang, memberi mereka penghargaan sehingga bersedia menerima kekuasaan Belanda. Sedangkan terhadap ulama, dia berpendirian bahwa peperangan harus terus dilakukan untuk memukul mundur mereka ke daerah-daerah terpencil di pedalaman (Burhanuddin; 2017 : 296). Kebijakan belah bambu Belanda segera menggerogoti perlawanan orang Aceh. Hurgronye bukan hanya mendesak pimpinan Belanda untuk memperlebar jurang antara para pemimpin adat dan pemimpin agama, tetapi juga menciptakan konflik antar ulama di Aceh (Oktarino; 2017 : 87). Politik de vide et impera atau adu domba ini berjalan dengan efektif, perlawanan rakyat mulai melemah. Konflik yang disulut pemerintah kolonial bahkan berlanjut hingga Belanda meninggalkan Aceh. Ketika itu para ulama bangkit dan menyerang uleebalang yang selama ini bekerja sama dengan Belanda, banyak di antaranya yang terbunuh (Vlekke; 2017 : 306).
Meskipun perlawanan Aceh melemah, akan tetapi Aceh tidak pernah benar-benar tunduk kepada Belanda. Jiwa patriotisme yang dipadu dengan semangat keberagamaan (religius) benar-benar menjadi faktor pendorong dan penggerak perlawanan. Di satu sisi rakyat Aceh tidak rela kemerdekaannya dirampas oleh siapapun. Di sisi lain, melawan penindasan diterjemahkan sebagai bagian dari jihad fisabilillah yang diperintahkan oleh agama yang dianutnya, Islam. Tidak meragukan lagi bahwa Perang Aceh mengajarkan kepada kita bahwa paduan cinta tanah air (patriotisme) dengan semangat keberagamaan (religiusitas) merupakan daya dorong yang sangat kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai inilah yang sepatutnya diwarisi oleh generasi sekarang dan yang akan datang sebagai bekal dalam melanjutkan pembangunan bangsa.
Daftar Pustaka
1. Buku :
Burhanuddin, Jajat. 2017. Islam Dalam Arus Sejarah Indonesia. Jakarta: Kencana
Oktarino, Nino. 2018. Perang Terlama Belanda; Kisah Perang Aceh 1873-1913. Jakarta: PT Elex Media Komputindo
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta: Balai Pustaka.
Ricklefs, M. C. 1998. Sejarah Indonesia Modern. Diterjemahkan oleh Drs. Dharmono Hardjowidjono. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Suryanegara, Ahmad Mansyur. 2009. Api Sejarah. Bandung: Salamadani Pustaka Semesta
Vlekke, Bernard H. M. 2017. Nusantara; Sejarah Indonesia. Diterjemahkan oleh Samsuddin Berlian. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
2. Internet :
https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Aceh
https://www.merdeka.com/peristiwa/heroisme-cut-nyak-dhien-ratu-perang-aceh-bikin-hati-bergetar/murka-melihat-masjid-dibakar-belanda.html

0 komentar:
Posting Komentar