Channel YouTube

Kamis, 25 April 2019

Spirit Sejarah Lokal




Henry Ford pernah berkata “ History is bunk”, sejarah itu bohong. Pernyataan ini mewakili sebagian orang yang beranggapan bahwa sejarah tidaklah berguna dan untuk itu tidak perlu buang-buang waktu untuk mengajarkannya. Ketika penulis mengusulkan agar sejarah lokal dimasukkan sebagai salah satu pelajaran muatan lokal di sekolah, seorang teman dengan sinis berkata, “apa tidak ada mata pelajaran yang lebih berguna?” Benarkah sejarah tidak berguna?

Bung Karno punya jawaban yang cukup menarik mengenai masalah ini. Pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke VI (1951) beliau mengatakan : “Sejarah adalah berguna sekali. Dari mempelajari sejarah orang menemukan hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia. Salah satu hukum itu ialah: Bahwa tidak ada bangsa bisa menjadi besar zonder kerja. Terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran-kebesaran dan kemakmuran tidak pernah jatuh gratis dari langit. Kebesaran bangsa dan kemakmuran selalu kristalisasi keringat. Ini adalah hukum, yang kita temukan dari mempelajari sejarah”. 

Jawaban ini keluar dari mulut seorang yang bukan sekedar ahli dalam teori-teori sejarah tetapi sekaligus seorang pelaku sejarah yang sudah membuktikan betapa romantisme masa lalu, mampu membakar semangat rakyat untuk berjuang membebaskan diri dari penjajahan. Dalam konteks ini jelas sekali bahwa sejarah bukanlah masa lampau untuk masa lampau, tetapi sejarah adalah masa lampau untuk masa depan. 

Dalam menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks sebagaimana yang kita hadapi saat ini, masalah kesejarahan - khususnya sejarah Gowa - terasa sangat penting untuk diperbincangkan kembali. Bukan tanpa alasan, sebab Gowa adalah bekas sebuah kerajaan yang cukup berpengaruh di kawasan Timur Nusantara, bahkan sampai ke mancanegara. Dengan sejarahnya yang panjang, Gowa telah turut mengambil peran dalam percaturan politik, ekonomi dan sosial budaya di Nusantara. Dalam posisi yang demikian, sejarah Gowa sarat dengan makna hidup yang perlu diwariskan kepada generasi pelanjut.

Oleh karena itu, sejarah Gowa perlu untuk dipahami oleh setiap generasi, guna menumbuhkan apa yang sering disebut sebagai kesadaran sejarah. Yakni sikap mental, jiwa, pemikiran yang dapat membawa untuk tetap dalam rotasi sejarah (Juraid Abdul Latief; 2001).  Sikap ini akan membuat seseorang semakin arif dan bijaksana dalam memaknai kehidupan. Dengan karateristiknya yang berorientasi pada sikap mental, semangat dan muatan moral, maka masyarakat yang memiliki kesadaran sejarah tidak akan kehilangan nilai-nilai dasar yang sangat dibutuhkan dalam membangun sebuah masyarakat.

Dengan demikian, salah satu persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Gowa saat ini adalah bagaimana membangkitkan kesadaran sejarah itu. Mengingatkan orang-orang Gowa tentang kebesaran dan kejayaan Gowa di masa lalu, dan menjadikannya sebagai sprit dan motivasi untuk membangun.

Menurut penulis, setidaknya ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama; menjadikan sejarah Gowa sebagai muatan lokal wajib di sekolah-sekolah. Hal ini perlu dilakukan karena saat ini pemahaman siswa tentang sejarah Gowa sangat terbatas. Penyebabnya adalah karena sejarah lokal termasuk sejarah Gowa kurang mendapat tempat semestinya dalam kurikulum pelajaran sejarah (SMA) maupun IPS (SD dan SMP). Kalaupun sejarah Gowa diungkap hanya pada dua kesempatan yaitu ketika membahas tentang masuknya Islam di Indonesia dan ketika perjuangan Sultan Hasanuddin melawan VOC (Belanda). Tetapi bagaimana kerajaan Gowa tumbuh, berkembang, dan mencapai puncak kejayaannya, dan siapa saja tokoh-tokohnya yang berpengaruh tidak pernah dibahas secara detail.

Sangat bertolak belakang jika dibandingkan dengan beberapa kerajaan di Pulau Jawa yang diberikan tempat yang sangat memadai dalam kurikulum. Tidak mengherankan jika siswa sangat hapal sejarah Mataram, Singosari, Majapahit dsb. tetapi kebingungan ketika ditanya tentang sejarah kerajaan Gowa yang justru adalah daerahnya  sendiri.  Memilukan sekaligus memalukan!

Menjadikan sejarah Gowa sebagai muatan lokal sangat mungkin dilakukan. Dalam Buku Panduan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk SMP dikemukakan bahwa Ruang lingkup muatan lokal adalah lingkup keadaan dan kebutuhan daerah. Yang dimaksud dengan keadaan daerah menurut buku itu adalah  segala sesuatu yang terdapat di daerah tertentu yang pada dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan sosial budaya. Sedangkan kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat di suatu daerah, khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat tersebut, yang disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta potensi daerah yang bersangkutan. Salah satu kebutuhan daerah yang dimaksud adalah melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah. 

Dalam upaya melestarikan dan mengembangkan budaya daerah inilah sejarah lokal  memegang peranan penting. Sebab sejarah lokal mengandung unsur-unsur budaya lokal, yang keberadaannya perlu dilestarikan dan dikembangkan, tentunya dengan tetap memperhatikan relevansinya dengan nilai-nilai yang berkembang dan dianut oleh  masyarakat dewasa ini. 

Kedua; melestarikan peninggaan-peninggalan bersejarah. Sebagai sebuah kerajaan besar, kerajaan Gowa memiliki peninggalan-peninggalan bersejarah yang tersebar di berbagai tempat.  Peninggalan-peninggalan itu harus dijaga kelestariannya karena situs itulah yang menjadi saksi yang akan berdialog kepada generasi sekarang dan yang akan datang tentang Gowa di masa lalu. Adanya upaya revitalasasi sejumlah peninggalan bersejarah oleh Pemkab Gowa saat ini, semisal situs  Ballalompoa, perlu diapresiasi dengan baik. Mudah-mudahan setelah revitalisasi minat orang berkunjung ke tempat-tempat bersejarah terutama siswa semakin meningkat.

Penelitian yang penulis lakukan pada tahun 2006 menunjukkan bahwa minat masyarakat berkunjung ke tempat bersejarah sangat kurang. Di kalangan siswa misalnya, menurut data dari BPPP Makassar memperlihatkan bahwa siswa yang berkunjung ke tempat bersejarah di Gowa hanya sekitar 3,30%. Kenyataan ini menjadi pertanda betapa apresiasi siswa dan boleh jadi juga gurunya sangat minim terhadap sejarah daerahnya sendiri.

Jadi revitalisasi sebagai bagian dari pelestarian peninggalan sejarah sangat diperlukan, dengan catatan bahwa upaya tersebut tetap mempertahankan aspek keasliannya. Agar peninggalan bersejarah itu tetap memiliki “roh” sebagai warisan masa lalu yang mewakili jiwa zamannya. Dan tetap eksis sebagai simbol pergulatan hidup masyarakat pendukungnya.

Semoga dengan demikian, kebesaran Gowa ratusan tahun yang lalu akan selalu memberikan inspirasi kepada generasi-generasi sekarang dan yang akan datang untuk terus berkarya, mengejar impian-impiannya. Bukan tidak mungkin kebesaran Gowa akan kembali terulang ditangan generasi sekarang.


0 komentar:

Posting Komentar