Channel YouTube

Senin, 22 April 2019

Benteng Somba Opu; Lambang Keperkasaan Kerajaan Gowa

Benteng Somba Opu  terletak di Kecamatan Barombong. Tepatnya di Kampung Sapiria Kelurahan Benteng Somba Opu.  Bentuknya  segi empat panjang dengan luas 363,00 M2, tinggi dindingnya tujuh meter dengan ketebalan yang bervariasi antara 3,66 – 4,10 meter dan 10,3 – 10,5 meter. Pintu benteng terdiri atas dua yaitu, terletak di sisi utara bagian barat dan pintu lainnya di bagian selatan. 
              
Benteng Somba Opu terdapat di pesisir utara sungai Jeneberang. Di bagian belakang atau sebelah timur dilindungi oleh  Benteng Anak Gowa dan Kale Gowa, serta Benteng Garassi melindungi di seberang Sungai Je’ne Berang di sebelah selatannya. Sedangkan benteng Somba Opu itu sendiri menghadap ke arah barat, yakni ke arah selat Makassar.  

Benteng Somba Opu  dibangun pada masa pemerintahan raja Gowa ke IX yakni Daeng Matanre Karaeng Manguntungi “Tumapakrisik Kallonna” (1510-1546). Hal ini sejalan dengan  perkembangan kerajaan Gowa dalam berbagai bidang terutama dalam bidang politik dan ekonomi.

Pada masa ini perluasaan wilayah juga mulai giat dilakukan.  penaklukan-penaklukan ini antara lain mempunyai motif ekonomi, yaitu Raja Gowa ingin memajukan bandar Somba Opu sebagai satu-satunya bandar niaga yang menjadi sasaran para pedagang.  Oleh karena itu, kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan umumnya adalah kerajaan yang sudah lama menggeluti dunia perdagangan.  Kerajaan-kerajaan tersebut seperti; Garassi, Katingang, Parigi, Siang, Sidenreng, dan Lembangang, Bulukumba, Selayar, Panaikang,  Maros, Polongbangkeng dan Bone .

Cita-cita kerajaan Gowa untuk memegang hegemoni dalam bidang perdagangan maupun politik di Sulawesi serta kawasan timur Nusantara  membutuhkan bukan hanya pasukan yang kuat tetapi juga benteng pertahanan yang kokoh untuk melindungi wilayahnya dari berbagai ancaman dan gangguan keamanan. Dengan dasar itu maka  Karaeng Tumapakrisik Kallonna kemudian mendirikan beberapa benteng pertahanan, salah satunya adalah benteng Somba Opu yang kemudian berfungsi  sebagai benteng utama sekaligus sebagai tempat tinggal (istana raja). Tumapakrisik Kallonna juga yang menetapkan Somba Opu sebagai ibukota kerajaan.  

Pada masa Karaeng Tumapakrisik Kallonna dinding benteng Somba Opu dibuat dari tanah liat. Tetapi Raja Gowa X  I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung “ Tunipalangga Ulaweng”  (1546-1565) merenovasi dinding benteng Somba Opu dengan menggunakan batu bata, batu padas, pada kaki benteng dan bastion serta tanah isian di tengahnya. Pada masa ini benteng Somba Opu sudah dilengkapi dengan meriam. Raja Gowa XII  I Maggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa “ Tunijallo” (1565-1590) membuat tembok batu bata sekeliling benteng Somba Opu serta menambah jumlah meriam atas bantuan pedagang Portugis.

Pada masa Sultan Alauddin (I Mangngarrangi Daeng Mangrabbia Karaeng Lakiung “Tumenanga ri Gaukanna)  Raja Gowa  XIV  (1593-1639) benteng Somba Opu lebih dikembangkan lagi seiring dengan dijadikannya Somba Opu sebagai bandar niaga intenasional. Perkembangan ini didukung dengan direbutnya Malaka oleh Portugis pada tahun 1511. Jatuhnya Malaka ke tangan Potugis  berpengaruh terhadap menurunnya aktivitas perdagangan di selat Malaka. Para pedagang kemudian mengalihkan perhatiannya ke pelabuhan-pelabuhan lain seperti pelabuhan Somba Opu di Gowa.  Sultan Hasanuddin (I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape “Tumenanga ri Balla Pangkana”) Raja Gowa XVI menyempurnakan dan memperkuat bagian luar benteng. 

Menurut data dari  Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sulselra (2002)  yang didasarkan pada   hasil stilasi Francois Valentijn  yang disempurnakan  oleh Bleau  dalam sebuah peta berangka tahun 1638, benteng Somba Opu berbentuk segi empat panjang. Di dalamnya terdapat istana raja (Maccini sombala), rumah para bangsawan, pembesar dan pegawai kerajaan yang dikelilingi oleh tembok lingkar yang tinggi dari tembok serta dilengkapi dengan persenjataan.

Istana Maccini Sombala terletak di bagian Barat,  selatan sejajar dengan tembok. Di istana inilah raja mengawasi aktifitas pelayaran/perdagangan, sekitar keluar masuknya kapal di pelabuhan Somba Opu. Kediaman para bangsawan terletak di bagian utara  yang di belah dua oleh sumbu jalan utama yang membujur utara-selatan. Masih di bagian utara, menempel pada dinding luar benteng terdapat pasar.  Terdapat pula mesjid yang terletak di ujung selatan jalan utama, melintang barat-timur. 

Di luar benteng juga dijadikan sebagai tempat hunian. Di situ tinggal para prajurit dan keluarganya, tukang-tukang, saudagar dan para pendatang dari berbagai suku bangsa.  Bangsa-bangsa asing  diberikan juga tempat bahkan diizinkan membuka kantor dagang di bagian utara, seperti Portugis, Belanda , Inggris, Spanyol, China, dan Denmark.  Sebelah utara benteng terdapat kampung Mangallekana yang dihuni oleh orang-orang Melayu. Di kampung inilah   Karaeng Tunijallo (1565-1590)  mendirikan masjid untuk orang-orang Melayu (Muslim) dan menjadi masjid pertama di Kerajaan Gowa. Hal ini menarik mengingat pada saat itu agama Islam belum diterima sebagai agama resmi kerajaan. Fakta ini menunjukkan bahwa kerajaan Gowa sangat menghormati perbedaan latar belakang para pendatang dan berusaha menciptakan ketenteraman dan hidup berdampingan secara damai di Somba Opu. 

Di daerah sekitar benteng itu pula tinggal pedagang Bugis dan Makassar,  serta petani yang mengerjakan sawah milik kerajaan yang menempati Kampung Bontoala. Para petani ini mengerjakan sawah milik kerajaan yang bernama Kanrebosi (sekarang, Karebosi yang dijadikan lapangan olah raga di Makassar).  

Gambaran ini menunjukkan bahwa  Somba Opu merupakan pusat aktivitas kerajaan Gowa dalam berbagai bidang. Pertama; bidang politik (pemerintahan) yakni dengan dijadikannya Somba Opu sebagai ibukota kerajaan yang berarti menjadi pusat pengendalian pemerintahan. Kedua; bidang ekonomi, yakni dengan dijadikan Somba Opu sebagai bandar niaga utama yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari berbagai etnis di nusantara bahkan mancanegara. Ketiga; bidang kebudayaan, dengan membaurnya berbagai etnis dan berbagai kalangan di Somba Opu,     memungkinkan terjadinya akulturasi budaya antar mereka, misalnya dalam hal bahasa dan agama. Keempat; Somba Opu juga menjadi pusat pertahanan  kerajaan Gowa.   Sebagai benteng pertahanan,  Somba Opu dilengkapi dengan persenjataan berupa meriam-meriam modern menurut ukuran zaman itu.

Perkembangan Somba Opu sebagian bandar niaga yang cukup ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagai bangsa, mengundang minat bangsa asing terutama yang mempunyai ambisi kekuasaan, untuk berkuasa dan memegang hegemoni di Somba Opu yang merupakan kunci pembuka untuk menguasai Gowa. Belanda (VOC = Verenigde van Oost-Indesche Compagnie) adalah bangsa asing yang paling berambisi untuk menguasai perdagangan di Somba Opu, hal ini kemudian memicu pertentangan antara Kerajaan Gowa dengan pihak VOC.

Pertentangan antara VOC dengan Kerajaan Gowa memuncak setelah terlibatnya pihak ketiga yakni, Arung Palakka (yang kemudian menjadi raja Bone). Keterlibatan Arung Palakka dalam perselisihan Gowa dengan VOC erat kaitannya dengan perjuangannya dalam membebaskan kerajaan Bone dari kekuasaan Gowa. Persekutuan antara VOC dengan Arung Palakka (Bone) menentang Gowa ini kemudian menjerumuskan kerajaan-kerajaan di   Sulawesi, bahkan Kawasan Timur Indonesia dalam perang besar yang disebut “Perang Makassar.”

Perang Makassar dimulai pada tanggal 21 Desember 1666, yakni ketika Cornelis Spelman  (pimpinan pasukan VOC) memaklumkan perang atas Gowa yang ketika itu diperintah oleh Sultan Hasanuddin, dan berakhir setelah  ditandatanganinya perjanjian Bungaya (dalam bahasa Belanda disebut het bongaais verdrag, orang-orang Makassar menamakanya Cappaya ri Bungaya) pada tanggal 18 Nopember 1667 .  Perjanjian Bungaya menandai kekalahan Gowa atas Belanda.  Perjanjian ini sangat memberatkankan kerajaan Gowa, bahkan orang-orang Gowa menganggapnya sebagai suatu penghinaan. 

Penolakan terhadap perjanjian Bungaya merebak,  terutama di kalangan pembesar istana yang tidak mau tunduk kepada VOC. Akhirnya pada tanggal 12 April 1668 perang kembali berkobar antara Gowa dan VOC. Akhir dari perang ini adalah direbutnya benteng Somba Opu oleh VOC pada tanggal 24 Juni 1669. Karena kekurangan tentara untuk ditempatkan di benteng Somba Opu maka benteng kebanggaan orang Gowa itu pun dihancurkan.

Sebelum benteng Somba Opu dihancurkan, VOC menyita sekitar 272 (dua ratus tujuh puluh dua) buah meriam  termasuk meriam kebanggaan orang Gowa yang bernama “Anak Mangkasara” yang terpasang di sudut barat laut benteng. Meriam Anak Mangkasara kemudian dibawah oleh VOC ke Batavia dan hingga tahun 1710 meriam tersebut masih   terdapat  di Batavia.

Hancurnya benteng Somba Opu tidak menyurutkan semangat juang sebagian pembesar Gowa. Beberapa di antaranya, seperti Karaeng Bontomarannu dan Karaeng Galesong melanjutkan perjuangannya di tanah Jawa, membantu Trunojoyo maupun Sultan Ageng Tirtayasa– Syekh Yusuf menghadapi musuh bersama mereka yaitu VOC.

Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa benteng Somba Opu mempunyai peranan yang penting di masa  silam. Kejayaan Kerajaan Gowa sama sekali tidak bisa dilepaskan dari peranan benteng Somba Opu. Oleh karena itu sudah sepantasnya jika keberadaannya perlu dilestarikan dengan cara penggalian (eskavasi penyelamatan) dan pembangunan kembali sesuai dengan wujud aslinya (rekonstruksi). Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah melalui Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar. Lokasi benteng Somba Opu  sekarang telah dijadikan sebagai taman miniatur Sulawesi Selatan dengan dibangunnya sejumlah rumah adat yang mewakili seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan. Lokasi ini juga telah digunakan sebagai sarana pameran kebudayaan dan hasil pembangunan Sulawesi Selatan. 


Saat ini benteng Somba Opu telah dijadikan sebagai salah satu obyek wisata sejarah/budaya yang banyak dikunjungi wisatawan. Sangat disayangkan bahwa pengembangan kawasan benteng Somba Opu masih terhambat oleh berbagai kendala. terutama mengenai masih kurangnya kepedulian masyarakat dan juga pemerintah dalam memelihara dan melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah.

0 komentar:

Posting Komentar