Benteng Somba
Opu terletak di Kecamatan Barombong.
Tepatnya di Kampung Sapiria Kelurahan Benteng Somba Opu. Bentuknya
segi empat panjang dengan luas 363,00 M2, tinggi dindingnya
tujuh meter dengan ketebalan yang bervariasi antara 3,66 – 4,10 meter dan 10,3
– 10,5 meter. Pintu benteng terdiri atas dua yaitu, terletak di sisi utara
bagian barat dan pintu lainnya di bagian selatan.
Benteng Somba Opu terdapat di pesisir utara
sungai Jeneberang. Di bagian belakang atau sebelah timur dilindungi oleh Benteng Anak Gowa dan Kale Gowa, serta
Benteng Garassi melindungi di seberang Sungai Je’ne Berang di sebelah
selatannya. Sedangkan benteng Somba Opu itu sendiri menghadap ke arah barat,
yakni ke arah selat Makassar .
Benteng Somba Opu dibangun pada masa pemerintahan raja Gowa ke
IX yakni Daeng Matanre Karaeng Manguntungi “Tumapakrisik Kallonna” (1510-1546).
Hal ini sejalan dengan perkembangan
kerajaan Gowa dalam berbagai bidang terutama dalam bidang politik dan ekonomi.
Pada masa ini perluasaan wilayah
juga mulai giat dilakukan. penaklukan-penaklukan
ini antara lain mempunyai motif ekonomi, yaitu Raja Gowa ingin memajukan bandar
Somba Opu sebagai satu-satunya bandar niaga yang menjadi sasaran para
pedagang. Oleh karena itu,
kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan umumnya adalah kerajaan yang sudah lama
menggeluti dunia perdagangan. Kerajaan-kerajaan
tersebut seperti; Garassi, Katingang, Parigi, Siang, Sidenreng, dan Lembangang,
Bulukumba, Selayar, Panaikang, Maros,
Polongbangkeng dan Bone .
Cita-cita kerajaan Gowa untuk
memegang hegemoni dalam bidang perdagangan maupun politik di Sulawesi
serta kawasan timur Nusantara
membutuhkan bukan hanya pasukan yang kuat tetapi juga benteng pertahanan
yang kokoh untuk melindungi wilayahnya dari berbagai ancaman dan gangguan
keamanan. Dengan dasar itu maka Karaeng
Tumapakrisik Kallonna kemudian mendirikan beberapa benteng pertahanan, salah
satunya adalah benteng Somba Opu yang kemudian berfungsi sebagai benteng utama sekaligus sebagai
tempat tinggal (istana raja). Tumapakrisik Kallonna juga yang menetapkan Somba
Opu sebagai ibukota kerajaan.
Pada masa Karaeng Tumapakrisik
Kallonna dinding benteng Somba Opu dibuat dari tanah liat. Tetapi Raja Gowa
X I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng
Lakiung “ Tunipalangga Ulaweng”
(1546-1565) merenovasi dinding benteng Somba Opu dengan menggunakan batu
bata, batu padas, pada kaki benteng dan bastion serta tanah isian di tengahnya.
Pada masa ini benteng Somba Opu sudah dilengkapi dengan meriam. Raja Gowa
XII I Maggorai Daeng Mammeta Karaeng
Bontolangkasa “ Tunijallo” (1565-1590) membuat tembok batu bata sekeliling
benteng Somba Opu serta menambah jumlah meriam atas bantuan pedagang Portugis.
Pada masa Sultan Alauddin (I
Mangngarrangi Daeng Mangrabbia Karaeng Lakiung “Tumenanga ri Gaukanna) Raja Gowa
XIV (1593-1639) benteng Somba Opu
lebih dikembangkan lagi seiring dengan dijadikannya Somba Opu sebagai bandar
niaga intenasional. Perkembangan ini didukung dengan direbutnya Malaka oleh
Portugis pada tahun 1511. Jatuhnya Malaka ke tangan Potugis berpengaruh terhadap menurunnya aktivitas
perdagangan di selat Malaka. Para pedagang
kemudian mengalihkan perhatiannya ke pelabuhan-pelabuhan lain seperti pelabuhan
Somba Opu di Gowa. Sultan Hasanuddin (I
Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape “Tumenanga ri Balla Pangkana”)
Raja Gowa XVI menyempurnakan dan memperkuat bagian luar benteng.
Menurut data dari Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala
Sulselra (2002) yang didasarkan
pada hasil stilasi Francois
Valentijn yang disempurnakan oleh Bleau dalam sebuah peta berangka tahun 1638, benteng
Somba Opu berbentuk segi empat panjang. Di dalamnya terdapat istana raja
(Maccini sombala), rumah para bangsawan, pembesar dan pegawai kerajaan yang
dikelilingi oleh tembok lingkar yang tinggi dari tembok serta dilengkapi dengan
persenjataan.
Istana
Maccini Sombala terletak di bagian Barat,
selatan sejajar dengan tembok. Di istana inilah raja mengawasi aktifitas
pelayaran/perdagangan, sekitar keluar masuknya kapal di pelabuhan Somba Opu.
Kediaman para bangsawan terletak di bagian utara yang di belah dua oleh sumbu jalan utama yang
membujur utara-selatan. Masih di bagian utara, menempel pada dinding luar
benteng terdapat pasar. Terdapat pula
mesjid yang terletak di ujung selatan jalan utama, melintang barat-timur.
Di luar benteng juga dijadikan
sebagai tempat hunian. Di situ tinggal para prajurit dan keluarganya,
tukang-tukang, saudagar dan para pendatang dari berbagai suku bangsa. Bangsa-bangsa asing diberikan juga tempat bahkan diizinkan
membuka kantor dagang di bagian utara, seperti Portugis, Belanda , Inggris, Spanyol , China ,
dan Denmark . Sebelah utara benteng terdapat kampung
Mangallekana yang dihuni oleh orang-orang Melayu. Di kampung inilah Karaeng Tunijallo (1565-1590) mendirikan masjid untuk orang-orang Melayu
(Muslim) dan menjadi masjid pertama di Kerajaan Gowa. Hal ini menarik mengingat
pada saat itu agama Islam belum diterima sebagai agama resmi kerajaan. Fakta
ini menunjukkan bahwa kerajaan Gowa sangat menghormati perbedaan latar belakang
para pendatang dan berusaha menciptakan ketenteraman dan hidup berdampingan
secara damai di Somba Opu.
Di daerah sekitar benteng itu pula
tinggal pedagang Bugis dan Makassar , serta petani yang mengerjakan sawah milik
kerajaan yang menempati Kampung Bontoala. Para petani ini mengerjakan sawah
milik kerajaan yang bernama Kanrebosi (sekarang, Karebosi yang dijadikan
lapangan olah raga di Makassar ).
Gambaran ini menunjukkan bahwa Somba Opu merupakan pusat aktivitas kerajaan
Gowa dalam berbagai bidang. Pertama; bidang politik (pemerintahan) yakni dengan
dijadikannya Somba Opu sebagai ibukota kerajaan yang berarti menjadi pusat
pengendalian pemerintahan. Kedua; bidang ekonomi, yakni dengan dijadikan Somba
Opu sebagai bandar niaga utama yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari
berbagai etnis di nusantara bahkan mancanegara. Ketiga; bidang kebudayaan,
dengan membaurnya berbagai etnis dan berbagai kalangan di Somba Opu, memungkinkan terjadinya akulturasi budaya
antar mereka, misalnya dalam hal bahasa dan agama. Keempat; Somba Opu juga
menjadi pusat pertahanan kerajaan
Gowa. Sebagai benteng pertahanan, Somba Opu dilengkapi dengan persenjataan
berupa meriam-meriam modern menurut ukuran zaman itu.
Perkembangan Somba Opu sebagian bandar niaga
yang cukup ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagai bangsa, mengundang
minat bangsa asing terutama yang mempunyai ambisi kekuasaan, untuk berkuasa dan
memegang hegemoni di Somba Opu yang merupakan kunci pembuka untuk menguasai
Gowa. Belanda (VOC = Verenigde van Oost-Indesche Compagnie) adalah
bangsa asing yang paling berambisi untuk menguasai perdagangan di Somba Opu,
hal ini kemudian memicu pertentangan antara Kerajaan Gowa dengan pihak VOC.
Pertentangan antara VOC dengan
Kerajaan Gowa memuncak setelah terlibatnya pihak ketiga yakni, Arung Palakka
(yang kemudian menjadi raja Bone). Keterlibatan Arung Palakka dalam
perselisihan Gowa dengan VOC erat kaitannya dengan perjuangannya dalam
membebaskan kerajaan Bone dari kekuasaan Gowa. Persekutuan antara VOC dengan
Arung Palakka (Bone) menentang Gowa ini kemudian menjerumuskan
kerajaan-kerajaan di Sulawesi, bahkan
Kawasan Timur Indonesia
dalam perang besar yang disebut “Perang Makassar.”
Perang Makassar dimulai pada
tanggal 21 Desember 1666, yakni ketika Cornelis Spelman (pimpinan pasukan VOC) memaklumkan perang
atas Gowa yang ketika itu diperintah oleh Sultan Hasanuddin, dan berakhir
setelah ditandatanganinya
perjanjian Bungaya (dalam bahasa Belanda disebut het bongaais verdrag, orang-orang
Makassar menamakanya Cappaya ri Bungaya) pada tanggal 18 Nopember 1667 . Perjanjian Bungaya menandai kekalahan Gowa
atas Belanda. Perjanjian ini sangat memberatkankan
kerajaan Gowa, bahkan orang-orang Gowa menganggapnya sebagai suatu
penghinaan.
Penolakan terhadap perjanjian
Bungaya merebak, terutama di kalangan
pembesar istana yang tidak mau tunduk kepada VOC. Akhirnya pada tanggal 12
April 1668 perang kembali berkobar antara Gowa dan VOC. Akhir dari perang ini
adalah direbutnya benteng Somba Opu oleh VOC pada tanggal 24 Juni 1669. Karena
kekurangan tentara untuk ditempatkan di benteng Somba Opu maka benteng
kebanggaan orang Gowa itu pun dihancurkan.
Sebelum benteng Somba Opu
dihancurkan, VOC menyita sekitar 272 (dua ratus tujuh puluh dua) buah
meriam termasuk meriam kebanggaan orang
Gowa yang bernama “Anak Mangkasara” yang terpasang di sudut barat laut
benteng. Meriam Anak Mangkasara kemudian dibawah oleh VOC ke Batavia dan hingga tahun 1710 meriam tersebut masih terdapat
di Batavia .
Hancurnya benteng Somba Opu tidak
menyurutkan semangat juang sebagian pembesar Gowa. Beberapa di antaranya,
seperti Karaeng Bontomarannu dan Karaeng Galesong melanjutkan perjuangannya di
tanah Jawa, membantu Trunojoyo maupun Sultan Ageng Tirtayasa– Syekh Yusuf
menghadapi musuh bersama mereka yaitu VOC.
Berdasarkan uraian di atas, jelas
bahwa benteng Somba Opu mempunyai peranan yang penting di masa silam. Kejayaan Kerajaan Gowa sama sekali
tidak bisa dilepaskan dari peranan benteng Somba Opu. Oleh karena itu sudah
sepantasnya jika keberadaannya perlu dilestarikan dengan cara penggalian
(eskavasi penyelamatan) dan pembangunan kembali sesuai dengan wujud aslinya
(rekonstruksi). Hal ini telah dilakukan oleh pemerintah melalui Balai
Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar .
Lokasi benteng Somba Opu sekarang telah
dijadikan sebagai taman miniatur Sulawesi Selatan dengan dibangunnya sejumlah
rumah adat yang mewakili seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan. Lokasi ini juga
telah digunakan sebagai sarana pameran kebudayaan dan hasil pembangunan
Sulawesi Selatan.
Saat ini benteng Somba Opu telah
dijadikan sebagai salah satu obyek wisata sejarah/budaya yang banyak dikunjungi
wisatawan. Sangat disayangkan bahwa pengembangan kawasan benteng Somba Opu masih terhambat oleh berbagai kendala. terutama mengenai masih kurangnya kepedulian masyarakat dan juga pemerintah dalam memelihara dan melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah.

0 komentar:
Posting Komentar