
Pada Pendidikan
Profesi Guru (PPG) UNM tahun ini, saya mendapat kehormatan menjadi guru pamong.
Untuk itu kepada panitia, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga,
sekaligus minta maaf jika tidak maksimal menjalankan tugas. Selama bertugas,
saya merasakan bahwa proses untuk menjadi guru profesional yang bersertifikat
pendidik tidaklah mudah.
Sebelum mengikuti
PPG mereka harus lulus tes awal. Berhasil masuk PPG bukan jaminan keluar dengan
mengantongi sertifikat pendidik. Mereka masih harus mengikuti pendidikan yang
menguras waktu dan tenaga. Saya saja yang hanya sebagai pamong kesulitan mengatur
waktu, apalagi mereka. Berjibaku dengan
tugas-tugas, membaca modul, diskusi dengan sesama mahasiswa, konsultasi dengan
dosen dan guru pamong. Luar biasa sibuknya. Ditambah lagi, mereka bukan
mahasiswa biasa, mereka adalah guru yang punya tanggung jawab sebagai pendidik
di sekolahnya masing-masing. Jika tidak siap mental, bisa stres.
PPG kali ini
dilaksanakan secara daring, makanya tantangannya pun lebih variatif di banding
dengan luring. Banyak peserta yang berasal dari pelosok, mereka harus
berpindah-pindah tempat menyesuaikan mood jaringan. Ada peserta yang bahkan
mengungsi ke masjid. Ketahuan saat web meeting berlangsung hingga menjelang
magrib. Dia izin presentasi duluan karena di masjid tempatnya mangkal sedang
persiapan shalat. Pengeras suara akan segera dibunyikan untuk mengingatkan,
waktu shalat segera tiba. Ada pula yang harus berpindah daerah. Terungkap saat
menyusun RTL, persiapan Ukom dan PPL.
Saya kagum pada
mereka. Guru-guru mudah, cerdas dan penuh optimisme. Saya menikmati berdiskusi
dengan mereka di ruang maya. Semoga mereka bisa lulus dan benar-benar menjadi guru yang profesional.
Sebelum menjadi
PPG, prosedur mendapatkan sertifikat pendidik telah beberapa kali berubah.
Dahulu sekali, sertifikasi guru dilakukan dengan menyusun portofolio.
Portofolio ini berisi dokumen yang memberikan gambaran tentang aktivitas selama
menjadi guru. Portofolio lalu dinilai oleh asesor di Perguruan Tinggi
Penyelenggara. Lulus, dan dapat sertifikat. Bagi yang tidak lulus, masih punya
harapan yakni dengan mengikuti remedial.
Tetapi menyusun
portofolio tidaklah mudah, apalagi yang tidak terbiasa mengikuti pengembangan
diri atau membuat karya pengembangan diri sedari awal. Ada juga yang rajin ikut
kegiatan pengembangan diri, seminar, diklat, dan semacamnya tetapi kurang
telaten mengumpulkan bukti fisik. Jadi kesulitan menyusun portofolio.
Alhamdulillah saya
sertifikasi di tahap-tahap awal, tahun 2007 melalui jalur portofolio. Betapa
senangnya, terlebih karena usaha dan
karya-karya saya selama ini dihargai, meskipun dilakukan bukan untuk tujuan
sertifikasi. Saat itu istilah sertifikasi guru masih sangat asing, saya bahkan
belum sempat membayangkannya.
Penyusunan
portofolio ini menyisakan kisah suram. Ada masa di mana sertifikasi guru
mengarah ke ajang jual beli sertifikat. Mengetahui banyak guru yang membutuhkan
sertifikat, lalu bermunculanlah lembaga-lambaga diklat dengan beragam kegiatan
ilmiahnya.
Maksudnya mungkin baik,
membantu para guru yang kesulitan dokumen untuk portofolio. Tetapi karena
kegiatannya diadakan tanpa pengaturan yang jelas, maka kesannya justru merusak
prosedur sertifikasi itu. Betapa tidak, di zaman itu, kegiatan ilmiah demikian
menjamurnya, dalam satu hari bisa bersamaan beberapa kali dengan peserta yang
berjubel. Saking banyaknya, seringkali peserta tak kebagian tempat duduk.
Mereka memilih berkerumun di luar ruangan.
Dalam kondisi
seperti ini, kehadiran peserta bisa jadi tidak lagi jadi prioritas. Yang
penting terdaftar, membayar, dapat sertifikat. Belum lagi dengan peserta yang
berdesak-desakan seperti itu, sangat tidak efektif untuk sebuah pelatihan, atau
seminar. Kalau tabligh akbar, mungkin iya.
Tetapi yang pantas
diapresiasi adalah animo guru ikut kegiatan ilmiah begitu tingginya, sangat
antusias. Andai saja dilaksanakan dengan niat benar-benar untuk alasan
peningkatan kompetensi guru, tentu ini sangat menggembirakan. Sayangnya agak
meragukan.
Bukan hanya di
pertemuan-pertemuan yang seolah-olah ilmiah. Hal ini juga berimbas ke soal
tulis menulis. Ada seorang teman yang tulisannya sering dimuat di sebuah
tabloid. Tetapi setelah demam sertifikasi guru melanda, tiba-tiba tabloid
tersebut berhenti memuat tulisannya. Redakturnya beralasan, rubrik opini di
mana tulisan teman tersebut sering muncul, dikomersilkan untuk guru-guru yang
butuh angka kredit untuk sertifikasi.
Mendengar alasan
tersebut, teman ini malah tertawa . Sepertinya dia sedang mengamalkan pesan
seorang filosof, “hidup ini lucu, maka tertawalah.” Sayangnya hingga tulisan
ini saya ketik saya belum bisa menemukan letak kelucuannya. Atau mungkin teman
itu teringat dengan tagline salah satu iklan, “wani piro?” Atau dia sedang
menertawai dirinya sendiri. Tetapi sudahlah, mungkin saya yang kurang piknik.
Bersyukurlah masa
suram yang saya maksud itu tidak berlangsung lama. Pemerintah segera mengevaluasi
dan menggantinya dengan diklat. Diklatnya pun bukan main-main, keras dan banyak
cerita horor dari para alumninya. Tetapi semuanya bisa tersenyum lebar ketika
tunjangan profesinya cair. Kerasnya perjuangan saat diklat seolah tidak ada
apa-apanya, terbayar kontan.
Terakhir, proses
sertifikasi guru semakin tidak sederhana. Melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG)
dengan seleksi yang berlapis. Dengan prosedur sedemikian ketat, harapannya
tentu saja akan menghasilkan luaran yang memang pantas menyandang gelar guru
profesional. Bukan hanya menyandang gelar, tetapi juga memantaskan diri dengan
gelar itu.
Saya senang membaca
RTL yang mereka buat. Akan mengamalkan dan mengembangkan ilmu yang mereka dapat
di PPG ini dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.
Semoga mereka yang sedang berjuang di PPG ini bisa memetik hasil menggembirakan, bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk peserta didiknya, dan pendidikan nasional secara menyeluruh.

