Channel YouTube

Rabu, 30 Juni 2021

Guru Pamong


Pada Pendidikan Profesi Guru (PPG) UNM tahun ini, saya mendapat kehormatan menjadi guru pamong. Untuk itu kepada panitia, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, sekaligus minta maaf jika tidak maksimal menjalankan tugas. Selama bertugas, saya merasakan bahwa proses untuk menjadi guru profesional yang bersertifikat pendidik tidaklah mudah.

Sebelum mengikuti PPG mereka harus lulus tes awal. Berhasil masuk PPG bukan jaminan keluar dengan mengantongi sertifikat pendidik. Mereka masih harus mengikuti pendidikan yang menguras waktu dan tenaga. Saya saja yang hanya sebagai pamong kesulitan mengatur waktu, apalagi mereka.  Berjibaku dengan tugas-tugas, membaca modul, diskusi dengan sesama mahasiswa, konsultasi dengan dosen dan guru pamong. Luar biasa sibuknya. Ditambah lagi, mereka bukan mahasiswa biasa, mereka adalah guru yang punya tanggung jawab sebagai pendidik di sekolahnya masing-masing. Jika tidak siap mental, bisa stres.

PPG kali ini dilaksanakan secara daring, makanya tantangannya pun lebih variatif di banding dengan luring. Banyak peserta yang berasal dari pelosok, mereka harus berpindah-pindah tempat menyesuaikan mood jaringan. Ada peserta yang bahkan mengungsi ke masjid. Ketahuan saat web meeting berlangsung hingga menjelang magrib. Dia izin presentasi duluan karena di masjid tempatnya mangkal sedang persiapan shalat. Pengeras suara akan segera dibunyikan untuk mengingatkan, waktu shalat segera tiba. Ada pula yang harus berpindah daerah. Terungkap saat menyusun RTL, persiapan Ukom dan PPL.

Saya kagum pada mereka. Guru-guru mudah, cerdas dan penuh optimisme. Saya menikmati berdiskusi dengan mereka di ruang maya. Semoga mereka bisa lulus dan  benar-benar menjadi guru yang profesional.

Sebelum menjadi PPG, prosedur mendapatkan sertifikat pendidik telah beberapa kali berubah. Dahulu sekali, sertifikasi guru dilakukan dengan menyusun portofolio. Portofolio ini berisi dokumen yang memberikan gambaran tentang aktivitas selama menjadi guru. Portofolio lalu dinilai oleh asesor di Perguruan Tinggi Penyelenggara. Lulus, dan dapat sertifikat. Bagi yang tidak lulus, masih punya harapan yakni dengan mengikuti remedial.

Tetapi menyusun portofolio tidaklah mudah, apalagi yang tidak terbiasa mengikuti pengembangan diri atau membuat karya pengembangan diri sedari awal. Ada juga yang rajin ikut kegiatan pengembangan diri, seminar, diklat, dan semacamnya tetapi kurang telaten mengumpulkan bukti fisik. Jadi kesulitan menyusun portofolio.

Alhamdulillah saya sertifikasi di tahap-tahap awal, tahun 2007 melalui jalur portofolio. Betapa senangnya,  terlebih karena usaha dan karya-karya saya selama ini dihargai, meskipun dilakukan bukan untuk tujuan sertifikasi. Saat itu istilah sertifikasi guru masih sangat asing, saya bahkan belum sempat membayangkannya.

Penyusunan portofolio ini menyisakan kisah suram. Ada masa di mana sertifikasi guru mengarah ke ajang jual beli sertifikat. Mengetahui banyak guru yang membutuhkan sertifikat, lalu bermunculanlah lembaga-lambaga diklat dengan beragam kegiatan ilmiahnya.

Maksudnya mungkin baik, membantu para guru yang kesulitan dokumen untuk portofolio. Tetapi karena kegiatannya diadakan tanpa pengaturan yang jelas, maka kesannya justru merusak prosedur sertifikasi itu. Betapa tidak, di zaman itu, kegiatan ilmiah demikian menjamurnya, dalam satu hari bisa bersamaan beberapa kali dengan peserta yang berjubel. Saking banyaknya, seringkali peserta tak kebagian tempat duduk. Mereka memilih berkerumun di luar ruangan.

Dalam kondisi seperti ini, kehadiran peserta bisa jadi tidak lagi jadi prioritas. Yang penting terdaftar, membayar, dapat sertifikat. Belum lagi dengan peserta yang berdesak-desakan seperti itu, sangat tidak efektif untuk sebuah pelatihan, atau seminar. Kalau tabligh akbar, mungkin iya.

Tetapi yang pantas diapresiasi adalah animo guru ikut kegiatan ilmiah begitu tingginya, sangat antusias. Andai saja dilaksanakan dengan niat benar-benar untuk alasan peningkatan kompetensi guru, tentu ini sangat menggembirakan. Sayangnya agak meragukan.

Bukan hanya di pertemuan-pertemuan yang seolah-olah ilmiah. Hal ini juga berimbas ke soal tulis menulis. Ada seorang teman yang tulisannya sering dimuat di sebuah tabloid. Tetapi setelah demam sertifikasi guru melanda, tiba-tiba tabloid tersebut berhenti memuat tulisannya. Redakturnya beralasan, rubrik opini di mana tulisan teman tersebut sering muncul, dikomersilkan untuk guru-guru yang butuh angka kredit untuk sertifikasi.

Mendengar alasan tersebut, teman ini malah tertawa . Sepertinya dia sedang mengamalkan pesan seorang filosof, “hidup ini lucu, maka tertawalah.” Sayangnya hingga tulisan ini saya ketik saya belum bisa menemukan letak kelucuannya. Atau mungkin teman itu teringat dengan tagline salah satu iklan, “wani piro?” Atau dia sedang menertawai dirinya sendiri. Tetapi sudahlah, mungkin saya yang kurang piknik.

Bersyukurlah masa suram yang saya maksud itu tidak berlangsung lama. Pemerintah segera mengevaluasi dan menggantinya dengan diklat. Diklatnya pun bukan main-main, keras dan banyak cerita horor dari para alumninya. Tetapi semuanya bisa tersenyum lebar ketika tunjangan profesinya cair. Kerasnya perjuangan saat diklat seolah tidak ada apa-apanya, terbayar kontan.

Terakhir, proses sertifikasi guru semakin tidak sederhana. Melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) dengan seleksi yang berlapis. Dengan prosedur sedemikian ketat, harapannya tentu saja akan menghasilkan luaran yang memang pantas menyandang gelar guru profesional. Bukan hanya menyandang gelar, tetapi juga memantaskan diri dengan gelar itu.

Saya senang membaca RTL yang mereka buat. Akan mengamalkan dan mengembangkan ilmu yang mereka dapat di PPG ini dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.

Semoga mereka yang sedang berjuang di PPG ini bisa memetik hasil menggembirakan, bukan hanya untuk dirinya tetapi juga untuk peserta didiknya, dan pendidikan nasional secara menyeluruh.

0 komentar:

Posting Komentar