Ini ngotot yang benar. Tak sekadar berjalan bahkan dia berlari untuk meraih mimpinya. Terus bergerak dari satu tugas ke tugas yang lain. Dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain. Dia paham betul makna ayat "Maka apabila engkau telah selesai (dri suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)" QS 94 : 7.
Selasa, 30 November 2021
NGOTOT
Jumat, 26 November 2021
TLC KENDARI
Menyebrang ke bagian lain Pulau Sulawesi. Sulawesi Tenggara, tepatnya Kota Kendari. Di bawah penugasan dari Putra Sampoerna Foundation (PSF), saya bersama Ibu Jani Natasari (PSF) melanjutkan rintisan pembentukan TLC (Teacher Learning Center) di Kendari. Kerja sama PSF dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara. TLC di tempat lain dinamakan PBG (Pusat Belajar Guru).
Tugas kami adalah melaksanakan seleksi tahap 2 terhadap 62 calon Master Teacher/guru inti yang dinyatakan lulus pada seleksi tahap 1.
Jika TLC Kendari terbentuk, ini akan menjadi TLC kedua di Pulau Sulawesi, setelah PBG Gowa, Sulawesi Selatan.
Saat diskusi dengan panitia, terlihat betapa antusiasnya mereka. Berharap, di masa depan Sulawesi Tenggara akan memiliki TLC yang kelak menjadi mercusuar perkembangan pendidikan di daerah ini.
Apakah ini sekadar angan-angan? Saya yakin bukan. Saya telah mengalami proses yang sama ketika PBG Gowa dirintis sejak tahun 2017 lalu. Sebagai Calon Guru Inti (GI), saya dan teman-teman mengikuti gemblengan yang terprogram dengan sangat rapi dan terstruktur. Sangat terukur.
Model pelatihannya khas, sangat beda dengan pelatihan yang sering saya ikuti selama ini. Dimulai dari seleksi calon GI yang ketat. Test tertulis, penilaian portofolio, test wawancara, dan test mengajar melalui video pembelajaran. Lalu mengikuti diklat dan pendampingan hampir tiga tahun lamanya. Sebuah proses yang panjang.
Program ini serius tidak asal jadi, bukan karbitan. Sistem yang dibangun PSF Sangat mengayomi dan terkontrol. Bahkan hingga program ini selesai hubungan kelembagaan dan juga personal masih tetap terjaga. PSF memberdayakan para "kadernya" untuk tampil di program pendidikan yang dikelolanya. Bentuknya, kerja sama kemitraan antara PSF dengan TLC/PBG yang sudah terbentuk.
Saya pikir, ini adalah cara PSF menjaga konsistensi sistem yang sudah terbangun. Memang disayangkan jika susah payah membangun, mengerahkan segala daya namun setelah program selesai, habis pula aktivitas di dalamnya. Lenyap tanpa bekas. Seperti sering kita jumpai pada beberapa program di waktu yang lalu.
Ibarat membangun sebuah monumen, PSF membangun TLC dimulai dengan memperkuat pondasinya. Memang membutuhkan waktu yang relatif lama. Begitu banyak hal yang perlu penyesuaian agar pondasi itu kokoh. Butuh kesabaran.
Bagian terpenting dari pondasi itu adalah meletakkan landasan berpikir yang benar. Bahwa mengembangkan kompetensi guru harus dimulai dari memperbaiki mindsetnya. Guru harus berpikir maju. Melahirkan ide-ide kreatif untuk perkembangan pendidikan.
Bukan hanya guru, para pemangku kepentingan pun harus memiliki mindset yang benar, yang padu tentang arah yang ingin dituju dan bagaimana mencapainya. Setidaknya para pemangku kepentingan memberi ruang dan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para guru untuk berkarya.
Monumen yang dibangun di atas pondasi yang kokoh tidak akan mudah goyah. Dia akan berdiri gagah menatap derap zaman. Dan TLC bukan monumen biasa. Monumen yang dibangun di atas ide. Ide itu abadi, tidak akan pernah hilang. Akan terus menginspirasi, sekalipun pencetusnya telah tiada.
Dari proses pembentukannya TLC Sultra tampak sekali didukung penuh oleh pemangku kepentingan. Para pejabat struktural, Gubernur, Kadis dikbud beserta jajarannya. Demikian pula dengan MKKS, pengawas dan MGMP. Inilah pondasinya, modal dasar yang jika mampu dikelola dengan baik akan menjadi daya dorong yang kuat untuk percepatan ketercapaian tujuan TLC.
Antusiasme para calon master teacher/guru inti yang mengikuti seleksi pun sangat memberi harapan. Bukan antusiasme belaka. Dari wawancara yang kami lakukan, mereka adalah guru-guru hebat, kompeten, dan punya komitmen yang kuat untuk membesarkan TLC. Tinggal bagaimana manajemen bisa mengelola dengan baik potensi ini. Kekuatan jika tidak dikelola dengan benar bisa saja berbalik arah menjadi titik lemah yang akan menjadi bumerang. Harus diwaspadai.
Jika ingin menjadikan guru hebat. Hadirkan sistem yang sehat dan ruang yang layak untuk berkarya. TLC adalah salah satu ikhtiar menghadirkan sistem sekaligus ruang yang layak bagi mereka.
Untuk itu TLC didesain tidak seperti rumah makan yang semuanya sudah tersaji lengkap. TLC hanya menyiapkan kail, dan membebaskan siapa saja untuk berkreasi dengan kail itu untuk memperoleh ikan. TLC adalah tempat para guru mempertemukan ide, menyatukan langkah, berkreasi, dan bergerak untuk tujuan yang sama.
Semoga TLC Kendari segera terwujud, dan benar-benar menjadi mercusuar bagi kemajuan pendidikan. Bukan hanya Sulawesi Tenggara tetapi juga untuk kemajuan Pendidikan Nasional.
Kendari, 26 November 2021
Selasa, 16 November 2021
Ekspedisi Topidi
Mewujudkan rencana membutuhkan keteguhan hati, tekad yang kuat. Tidak cukup dengan debat kusir seperti yang sering terjadi grup-grup WA. Saling berbalas ocehan yang tidak punya titik temu. Masalah remeh diributkan, masalah substantif terlupakan.
Ini adalah ekspedisi kecil yang dibangun hanya dengan diskusi seadanya, tanpa debat, dan terwujud.
Saya hanya mengikuti seseorang teman yang meskipun posturnya kecil tetapi gerak telunjuknya mampu mengendalikan kemana ban mobil berputar. Tanpa acara basa-basi dan bahkan tanpa sepengetahuannya saya serahkan kepemimpinan kepadanya. Ekspedisi dadakan seperti ini adalah keahliannya.
Dua mobil bergerak membawa rombongan kecil ini, dibekali tekad kuat. Takkan pulang sebelum mencium hawa Langit Topidi, sasaran ekspedisi ini. Begitu bersemangatnya. Tetiba saya membayangkan diri sebagai pengelana Makassar tempo dulu sekali, yang bersumpah dengan kalimat penyemangat yang abadi hingga hari ini. "Takunjunga' bangungturu nakugunciri' gulingku, kuallenna tallanga na toalia" (tidak begitu saja aku ikut angin buritan dan aku putar kemudiku, lebih baik aku pilih tenggelam daripada balik haluan).
Inilah prinsip tekad kuat itu. Jika layar sudah berkembang, kemudi pun sudah terpasang. Tidak ada lagi alasan untuk mundur. Bahkan risiko terberat sekalipun siap dihadapi daripada balik haluan kembali ke pantai.
Di saat yang lain. Saya terasa turut menyaksikan para pahlawan Badar Kubra bahu membahu menahan gempuran pasukan kafir Quraisy dengan kekuatan yang tidak sebanding. Kaum Muslimin berjumlah 300-an orang menghadapi 1000-an musuh. Keyakinan yang kuat akan janji Allah menjadi amunisi tak terkalahkan. Kaum Muslimin menang, tak masuk akal. "Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” (Qs. 2 : 249)
Pada menit berikutnya, saya membayangkan ikut memanggul tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dengan keteguhanhatinya mempimpin perang gerilya di hutan-hutan. Meskipun fisiknya lemah akibat sakit yang dideritanya. Keteguhan itu pula yang menulari para prajuritnya hingga mampu bertahan menyusuri hutan lebat sambil memanggul tandu sang Panglima. Di bawah bayang-bayang ancaman musuh.
Kita butuh keteguhan itu untuk menyelesaikan bengkalai problem di banyak titik hidup ini. Dan ekspedisi yang saya maksud di awal tulisan ini hanyalah wujud kecil dari bagaimana keteguhan itu bekerja.
Selesai mengikuti sebuah workshop di Malino, saya dan teman-teman dari PBG Gowa sepakat memulai ekspedisi ini. Tujuannya adalah salah satu destinasi wisata alam "langit Topidi". Letaknya di desa Topidi kecamatan Tinggimoncong kurang lebih 11 KM dari Malino.
Perjalanan menuju lokasi, ekstra hati-hati. Mengendalikan mobil kecil yang cocoknya mengaspal di jalan-jalan kota yang datar, dipaksa mengikuti jalan di perbukitan yang berombak, dengan tanjakan dan penurunan. Jalan yang sempit dan berbatu sekitar satu kilometer sebelum lokasi membuat suasana mirip sedang mengikuti acara adu nyali seperti di tivi-tivi itu.
Terus terang saya harus berjuang keras meredam rasa khawatir. Apapun yang terjadi supir harus terlihat tenang. Tidak boleh sama sekali memperlihatkan kecemasan kepada penumpang. Kecemasan hanya akan membuat suasana menjadi kacau. Jika 4 orang penumpang mobil ini cemas, kacaulah segalanya. Sampai pada akhirnya kami harus turun, berjalan kaki. Mobil tidak bisa dipaksakan pada medan yang tidak layak.
Perjuangan tidak sia-sia. Kami tiba di wisata alam Langit Topidi. Alam pegunungan yang sejuk dengan pemandangan yang menakjubkan. Suasananya tenang, jauh dari kebisingan. Sangat cocok sebagai tempat beristirahat dari kepenatan hidup. Tempat ini dirancang sedemikian menarik, dilengkapi dengan penginapan dan restoran. Bangunannya menyatu dengan alam, terbuat dari bambu dan kayu. Berada di tempat ini terasa kita dibawa ke alam pedesaan asli Indonesia yang biasanya kita hanya menikmatinya pada lukisan-lukisan hayalan.
Keteguhan hati membawa kami ke sini. Teruslah berkarya jangan pernah menyerah.
