Menyebrang ke bagian lain Pulau Sulawesi. Sulawesi Tenggara, tepatnya Kota Kendari. Di bawah penugasan dari Putra Sampoerna Foundation (PSF), saya bersama Ibu Jani Natasari (PSF) melanjutkan rintisan pembentukan TLC (Teacher Learning Center) di Kendari. Kerja sama PSF dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara. TLC di tempat lain dinamakan PBG (Pusat Belajar Guru).
Tugas kami adalah melaksanakan seleksi tahap 2 terhadap 62 calon Master Teacher/guru inti yang dinyatakan lulus pada seleksi tahap 1.
Jika TLC Kendari terbentuk, ini akan menjadi TLC kedua di Pulau Sulawesi, setelah PBG Gowa, Sulawesi Selatan.
Saat diskusi dengan panitia, terlihat betapa antusiasnya mereka. Berharap, di masa depan Sulawesi Tenggara akan memiliki TLC yang kelak menjadi mercusuar perkembangan pendidikan di daerah ini.
Apakah ini sekadar angan-angan? Saya yakin bukan. Saya telah mengalami proses yang sama ketika PBG Gowa dirintis sejak tahun 2017 lalu. Sebagai Calon Guru Inti (GI), saya dan teman-teman mengikuti gemblengan yang terprogram dengan sangat rapi dan terstruktur. Sangat terukur.
Model pelatihannya khas, sangat beda dengan pelatihan yang sering saya ikuti selama ini. Dimulai dari seleksi calon GI yang ketat. Test tertulis, penilaian portofolio, test wawancara, dan test mengajar melalui video pembelajaran. Lalu mengikuti diklat dan pendampingan hampir tiga tahun lamanya. Sebuah proses yang panjang.
Program ini serius tidak asal jadi, bukan karbitan. Sistem yang dibangun PSF Sangat mengayomi dan terkontrol. Bahkan hingga program ini selesai hubungan kelembagaan dan juga personal masih tetap terjaga. PSF memberdayakan para "kadernya" untuk tampil di program pendidikan yang dikelolanya. Bentuknya, kerja sama kemitraan antara PSF dengan TLC/PBG yang sudah terbentuk.
Saya pikir, ini adalah cara PSF menjaga konsistensi sistem yang sudah terbangun. Memang disayangkan jika susah payah membangun, mengerahkan segala daya namun setelah program selesai, habis pula aktivitas di dalamnya. Lenyap tanpa bekas. Seperti sering kita jumpai pada beberapa program di waktu yang lalu.
Ibarat membangun sebuah monumen, PSF membangun TLC dimulai dengan memperkuat pondasinya. Memang membutuhkan waktu yang relatif lama. Begitu banyak hal yang perlu penyesuaian agar pondasi itu kokoh. Butuh kesabaran.
Bagian terpenting dari pondasi itu adalah meletakkan landasan berpikir yang benar. Bahwa mengembangkan kompetensi guru harus dimulai dari memperbaiki mindsetnya. Guru harus berpikir maju. Melahirkan ide-ide kreatif untuk perkembangan pendidikan.
Bukan hanya guru, para pemangku kepentingan pun harus memiliki mindset yang benar, yang padu tentang arah yang ingin dituju dan bagaimana mencapainya. Setidaknya para pemangku kepentingan memberi ruang dan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para guru untuk berkarya.
Monumen yang dibangun di atas pondasi yang kokoh tidak akan mudah goyah. Dia akan berdiri gagah menatap derap zaman. Dan TLC bukan monumen biasa. Monumen yang dibangun di atas ide. Ide itu abadi, tidak akan pernah hilang. Akan terus menginspirasi, sekalipun pencetusnya telah tiada.
Dari proses pembentukannya TLC Sultra tampak sekali didukung penuh oleh pemangku kepentingan. Para pejabat struktural, Gubernur, Kadis dikbud beserta jajarannya. Demikian pula dengan MKKS, pengawas dan MGMP. Inilah pondasinya, modal dasar yang jika mampu dikelola dengan baik akan menjadi daya dorong yang kuat untuk percepatan ketercapaian tujuan TLC.
Antusiasme para calon master teacher/guru inti yang mengikuti seleksi pun sangat memberi harapan. Bukan antusiasme belaka. Dari wawancara yang kami lakukan, mereka adalah guru-guru hebat, kompeten, dan punya komitmen yang kuat untuk membesarkan TLC. Tinggal bagaimana manajemen bisa mengelola dengan baik potensi ini. Kekuatan jika tidak dikelola dengan benar bisa saja berbalik arah menjadi titik lemah yang akan menjadi bumerang. Harus diwaspadai.
Jika ingin menjadikan guru hebat. Hadirkan sistem yang sehat dan ruang yang layak untuk berkarya. TLC adalah salah satu ikhtiar menghadirkan sistem sekaligus ruang yang layak bagi mereka.
Untuk itu TLC didesain tidak seperti rumah makan yang semuanya sudah tersaji lengkap. TLC hanya menyiapkan kail, dan membebaskan siapa saja untuk berkreasi dengan kail itu untuk memperoleh ikan. TLC adalah tempat para guru mempertemukan ide, menyatukan langkah, berkreasi, dan bergerak untuk tujuan yang sama.
Semoga TLC Kendari segera terwujud, dan benar-benar menjadi mercusuar bagi kemajuan pendidikan. Bukan hanya Sulawesi Tenggara tetapi juga untuk kemajuan Pendidikan Nasional.
Kendari, 26 November 2021

0 komentar:
Posting Komentar