Covid-19 menyebar dengan cepat, jumlah orang yang
dinyatakan positif terinfeksi terus bertambah. Untuk mengurangi laju
penyebarannya pemerintah mengeluarkan himbauan melakukan social distancing. Tujuannya untuk mengurangi kemungkinan kontak
antara orang yang terinfeksi dengan orang lain yang belum terinfeksi. Cara ini
diharapkan bisa mengurangi tingkat penyebaran virus yang sangat mengkhawatirkan
ini.
Social
distancing berdampak ke dunia pendidikan. Menteri Pendidikan
mengambil kebijakan meliburkan persekolahan. Langkah serupa dilakukan pula oleh
pemerintah daerah. Sekolah diliburkan
tetapi pembelajaran tetap berlangsung. Modelnya adalah dengan melakukan pembelajaran
dalam jaringan (daring). Model ini memungkinkan siswa dan guru tetap terhubung
tanpa harus meninggalkan rumah.
Pembelajaran daring. Apakah guru dan siswa siap? Untuk
wilayah perkotaan mungkin tidak terlalu bermasalah. Sarana dan prasarana daring
cukup tersedia. Kemampuan guru dan siswa dalam beradabtasi juga tidak diragukan.
Bagaimana dengan wilayah-wilayah lain.
Tetapi tidak baik mengeluh. Apalagi keadaan sudah
darurat, “keluhan hanya akan melemahkan jiwa”, kata Bung Karno.
Di sekolah, saya segera mengumpulkan teman-teman di
ruang guru. “Hari ini kita berkumpul untuk kursus kilat”, kataku membuka pembicaraan.
Kursus kilat tips membelajarkan siswa secara daring. Ini mendesak. Tidak semua
teman terbiasa dengan model pembelajaran daring. Meskipun semuanya memiliki
perangkat smartphone yang mendukung.
Hari itu kami berdiskusi bersama. Kami memilih aplikasi
yang paling sederhana dan paling familiar, yakni WhatsApp (WA). Langkah pertama
adalah mendata nomor WA siswa, orang tua, atau kerabat lainnya yang bisa
terhubung. Buat grup di setiap kelas. Kemudian belajar bagaimana mengunduh
bahan ajar di internet baik berupa tulisan maupun video dan mengirimnya ke grup
WA siswa. Untuk penilaian kami memilih quizizz pun dibahas secara kilat. Alhamdulillah,
kami bubar dengan semangat siap membelajarkan siswa dengan model daring.
Kebijakan belajar di rumah secara daring membuat guru-guru
memaksakan diri belajar IT. Melirik
kembali aplikasi-aplikasi pembelajaran daring yang di masa lalu tak dianggap
mendesak untuk dipelajari. Guru-guru menjadi akrab dengan mbah google mencari
panduan, di samping rajin mengutak-atik playstore menginstal aplikasi
pembelajaran di smartphonenya.
Akhirnya guru-guru tersadar begitu pentingnya paham IT.
Ternyata energi untuk belajar, visi untuk maju tidak pernah padam. Hanya
membutuhkan pemicu, dorongan, atau sedikit rasa keterpaksaan. Dalam keadaan darurat
energi itu menemukan jalannya.
Jagat maya dibanjiri training daring yang dilakukan oleh
komunitas-komunitas pendidik maupun secara individu. Tidak terkecuali, Teman-teman
di Pusat Belajar Guru (PBG) Gowa sibuk membuka kelas bimbingan belajar daring. Mereka
seolah berlomba untuk bersama membantu guru untuk terus terhubung dengan
siswanya melakukan pembelajaran jarak jauh. Geliat guru-guru mengembangkan diri
berjalan dengan alami, tanpa instruksi. Juga tanpa ancaman.
Teringat sebuah cerita. Seorang dikejar anjing. Dia
berlari demikian cepat seperti kesurupan angin puting beliung. Tak hanya mampu
berlari super cepat, dia juga bisa membuat selebrasi memukau untuk mengecoh
pergerakan anjing. Bahkan bisa melompati tembok yang tinggi dan membuat anjing
kehilangan jejak. Dia benar-benar bisa lolos. Setelah beristirahat dan
menenangkan diri, bukan ekspresi bahagia yang nampak di mukanya. Dia malah bingung, heran, kok bisa-bisanya
berlari sekencang itu, membuat selebrasi gila dan melompati tembok yang tidak
mungkin dia sanggup melakukannya dalam keadaan normal.
Manusia sesungguhnya punya kekuatan besar melebihi yang
kita kira. Hanya saja jarang dimaksimalkan. Keadaan kepepetlah yang memaksa
kekuatan itu muncul. Seorang teman menyebutnya “the power of kepepet” (istilah
ini saya comot dari status WA seorang teman).
Semasa kuliah, saya dan teman-teman seringkali
menggunakan kekuatan ini. Apalagi kalau bukan untuk menyelesaikan tugas-tugas. Khususnya
mahasiswa yang punya keahlian khas, menunda-nunda pekerjaan. Begitu batas waktu
penyetoran tugas mendekat baru dikebut mengumpulkan seluruh kekuatan dari
segala penjuru arah angin. Tak peduli harus begadang semalam suntuk. Kami menyebutnya,
SKS (Sistem Kebut Semalam). Tugas selesai, hati pun lega. Setelah tiba di
tempat penjilidan baru tersadar bisa-bisanya menyelesaikan tugas setebal itu,
hanya dalam semalam. Ini contoh jelek yang tidak boleh ditiru oleh mahasiswa
zaman sekarang, meskipun didampingi oleh instruktur yang berpengalaman.
Keadaan darurat ini memicu semangat guru untuk belajar. Andai saja
semangat belajar ini bisa dirawat, dipelihara hingga ke masa damai nanti
(setelah wabah covid-19 berakhir), maka akan menjadi berita yang menggembirakan
bagi kemajuan pendidikan nasional. Yang harus dilakukan tinggal membenahi
fasilitas di setiap sekolah. Menyiapkan jaringan internet dan membekali siswa
dengan perangkat elektronik.
Jika ini bisa terlaksana saya kira kesibukan pemerintah untuk
melatih guru akan berkurang. Guru bisa dengan mandiri mengembangkan diri sesuai
dengan kebutuhannya. Apalagi saat ini
sudah banyak komunitas guru maupun lembaga diklat nonpemerintah yang
melakukannya. Malah pelatihan yang mereka lakukan sangat diminati, karena sesuai
dengan kebutuhan guru, selaras dengan perkembangan zaman (up to date).
Dengan demikian, anggaran untuk pelatihan guru di
kementerian sebagian bisa dialihkan untuk pengadaan perangkat jaringan internet
di sekolah. Saya yakin ini bisa menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan.
Dari kelas yang saya bimbing, nampaknya siswa cukup
menikmati pembelajaran. Mereka bisa berselancar di dunia maya mencari materi,
membaca atau menonton video pembelajaran. Menjawab pertanyaan seolah main game.
“Mengasyikkan”, kata mereka. Memang asyik karena gadget adalah dunianya, game
adalah mainannya. Maka, ketika pembelajaran memasuki dunianya dan memungsikan
mainannya, tentu mereka akan senang.
Saya menikmati percakapan mereka di google classroom dan
antusias mereka mengirimkan tugas. Saya juga menikmati semangat mereka
berkompetisi menjawab soal di Quizizz . Betapa gembiranya mereka ketika pembelajaran
kami laksanakan lewat Zoom Cloud Meeting. Saya kaget juga, kemampuan siswa
untuk menggunakan aplikasi yang saya rujuk sangat luar biasa. Tidak
terbayangkan sebelumnya. Sayang sekali bahwa belum semua siswa bisa terhubung,
karena terkendala jaringan yang tidak stabil.
Semoga Allah segera menurunkan pertolongan-Nya. Mengangkat
wabah ini dan menyelamatkan kita. Selanjutnya kita memunguti butiran-butiran
hikmah yang tersisa. Semoga Allah berkenan memberikan kesempatan kepada kita
semua untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu. Cukuplah wabah ini
menjadi pengingat akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Dan membuat kita
tersadar betapa kerdilnya manusia di hadapan Sang Khalik.
Gowa, 21 Maret 2020




