Channel YouTube

Sabtu, 21 Maret 2020

The Power of Kepepet


Covid-19 menyebar dengan cepat, jumlah orang yang dinyatakan positif terinfeksi terus bertambah. Untuk mengurangi laju penyebarannya pemerintah mengeluarkan himbauan melakukan social distancing. Tujuannya untuk mengurangi kemungkinan kontak antara orang yang terinfeksi dengan orang lain yang belum terinfeksi. Cara ini diharapkan bisa mengurangi tingkat penyebaran virus yang sangat mengkhawatirkan ini.

Social distancing berdampak ke dunia pendidikan. Menteri Pendidikan mengambil kebijakan meliburkan persekolahan. Langkah serupa dilakukan pula oleh pemerintah  daerah. Sekolah diliburkan tetapi pembelajaran tetap berlangsung. Modelnya adalah dengan melakukan pembelajaran dalam jaringan (daring). Model ini memungkinkan siswa dan guru tetap terhubung tanpa harus meninggalkan rumah.

Pembelajaran daring. Apakah guru dan siswa siap? Untuk wilayah perkotaan mungkin tidak terlalu bermasalah. Sarana dan prasarana daring cukup tersedia. Kemampuan guru dan siswa dalam beradabtasi juga tidak diragukan. Bagaimana dengan wilayah-wilayah lain.
Tetapi tidak baik mengeluh. Apalagi keadaan sudah darurat, “keluhan hanya akan melemahkan jiwa”, kata Bung Karno.

Di sekolah, saya segera mengumpulkan teman-teman di ruang guru. “Hari ini kita berkumpul untuk kursus kilat”, kataku membuka pembicaraan. Kursus kilat tips membelajarkan siswa secara daring. Ini mendesak. Tidak semua teman terbiasa dengan model pembelajaran daring. Meskipun semuanya memiliki perangkat smartphone yang mendukung.

Hari itu kami berdiskusi bersama. Kami memilih aplikasi yang paling sederhana dan paling familiar, yakni WhatsApp (WA). Langkah pertama adalah mendata nomor WA siswa, orang tua, atau kerabat lainnya yang bisa terhubung. Buat grup di setiap kelas. Kemudian belajar bagaimana mengunduh bahan ajar di internet baik berupa tulisan maupun video dan mengirimnya ke grup WA siswa. Untuk penilaian kami memilih quizizz pun dibahas secara kilat. Alhamdulillah, kami bubar dengan semangat siap membelajarkan siswa dengan model daring.

Kebijakan belajar di rumah secara daring membuat guru-guru memaksakan diri belajar IT. Melirik kembali aplikasi-aplikasi pembelajaran daring yang di masa lalu tak dianggap mendesak untuk dipelajari. Guru-guru menjadi akrab dengan mbah google mencari panduan, di samping rajin mengutak-atik playstore menginstal aplikasi pembelajaran di smartphonenya. 

Akhirnya guru-guru tersadar begitu pentingnya paham IT. Ternyata energi untuk belajar, visi untuk maju tidak pernah padam. Hanya membutuhkan pemicu, dorongan, atau sedikit rasa keterpaksaan. Dalam keadaan darurat energi itu menemukan jalannya.  

Jagat maya dibanjiri training daring yang dilakukan oleh komunitas-komunitas pendidik maupun secara individu. Tidak terkecuali, Teman-teman di Pusat Belajar Guru (PBG) Gowa sibuk membuka kelas bimbingan belajar daring. Mereka seolah berlomba untuk bersama membantu guru untuk terus terhubung dengan siswanya melakukan pembelajaran jarak jauh. Geliat guru-guru mengembangkan diri berjalan dengan alami, tanpa instruksi. Juga tanpa ancaman.

Teringat sebuah cerita. Seorang dikejar anjing. Dia berlari demikian cepat seperti kesurupan angin puting beliung. Tak hanya mampu berlari super cepat, dia juga bisa membuat selebrasi memukau untuk mengecoh pergerakan anjing. Bahkan bisa melompati tembok yang tinggi dan membuat anjing kehilangan jejak. Dia benar-benar bisa lolos. Setelah beristirahat dan menenangkan diri, bukan ekspresi bahagia yang nampak di mukanya.  Dia malah bingung, heran, kok bisa-bisanya berlari sekencang itu, membuat selebrasi gila dan melompati tembok yang tidak mungkin dia sanggup melakukannya dalam keadaan normal.
Manusia sesungguhnya punya kekuatan besar melebihi yang kita kira. Hanya saja jarang dimaksimalkan. Keadaan kepepetlah yang memaksa kekuatan itu muncul. Seorang teman menyebutnya “the power of kepepet” (istilah ini saya comot dari status WA seorang teman).

Semasa kuliah, saya dan teman-teman seringkali menggunakan kekuatan ini. Apalagi kalau bukan untuk menyelesaikan tugas-tugas. Khususnya mahasiswa yang punya keahlian khas, menunda-nunda pekerjaan. Begitu batas waktu penyetoran tugas mendekat baru dikebut mengumpulkan seluruh kekuatan dari segala penjuru arah angin. Tak peduli harus begadang semalam suntuk. Kami menyebutnya, SKS (Sistem Kebut Semalam). Tugas selesai, hati pun lega. Setelah tiba di tempat penjilidan baru tersadar bisa-bisanya menyelesaikan tugas setebal itu, hanya dalam semalam. Ini contoh jelek yang tidak boleh ditiru oleh mahasiswa zaman sekarang, meskipun didampingi oleh instruktur yang berpengalaman.

Keadaan darurat ini memicu semangat guru untuk belajar. Andai saja semangat belajar ini bisa dirawat, dipelihara hingga ke masa damai nanti (setelah wabah covid-19 berakhir), maka akan menjadi berita yang menggembirakan bagi kemajuan pendidikan nasional. Yang harus dilakukan tinggal membenahi fasilitas di setiap sekolah. Menyiapkan jaringan internet dan membekali siswa dengan perangkat elektronik.

Jika ini bisa terlaksana saya kira kesibukan pemerintah untuk melatih guru akan berkurang. Guru bisa dengan mandiri mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhannya.  Apalagi saat ini sudah banyak komunitas guru maupun lembaga diklat nonpemerintah yang melakukannya. Malah pelatihan yang mereka lakukan sangat diminati, karena sesuai dengan kebutuhan guru, selaras dengan perkembangan zaman (up to date).

Dengan demikian, anggaran untuk pelatihan guru di kementerian sebagian bisa dialihkan untuk pengadaan perangkat jaringan internet di sekolah. Saya yakin ini bisa menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan.

Dari kelas yang saya bimbing, nampaknya siswa cukup menikmati pembelajaran. Mereka bisa berselancar di dunia maya mencari materi, membaca atau menonton video pembelajaran. Menjawab pertanyaan seolah main game. “Mengasyikkan”, kata mereka. Memang asyik karena gadget adalah dunianya, game adalah mainannya. Maka, ketika pembelajaran memasuki dunianya dan memungsikan mainannya, tentu mereka akan senang.

Saya menikmati percakapan mereka di google classroom dan antusias mereka mengirimkan tugas. Saya juga menikmati semangat mereka berkompetisi menjawab soal di Quizizz . Betapa gembiranya mereka ketika pembelajaran kami laksanakan lewat Zoom Cloud Meeting. Saya kaget juga, kemampuan siswa untuk menggunakan aplikasi yang saya rujuk sangat luar biasa. Tidak terbayangkan sebelumnya. Sayang sekali bahwa belum semua siswa bisa terhubung, karena terkendala jaringan yang tidak stabil.

Semoga Allah segera menurunkan pertolongan-Nya. Mengangkat wabah ini dan menyelamatkan kita. Selanjutnya kita memunguti butiran-butiran hikmah yang tersisa. Semoga Allah berkenan memberikan kesempatan kepada kita semua untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu. Cukuplah wabah ini menjadi pengingat akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Dan membuat kita tersadar betapa kerdilnya manusia di hadapan Sang Khalik.

Gowa, 21 Maret 2020

Selasa, 17 Maret 2020

Makhluk Kecil




Namrudz bin Kan’an. Dia dikenal sebagai raja yang cerdas dan memiliki kekuasaan yang besar. Sangat disayangkan bahwa kecerdasan dan kekuasaan yang dimilikinya membuat dia sombong. Puncak kesombongannya adalah mengangkat dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya.

Allah mengutus Nabi Ibrahim untuk mengajaknya ke jalan yang benar. Namun kesombongan menutupinya dari hidayah. Alih-alih mengikuti ajaran Nabi Ibrahim, Namrudz malah menunjukkan kuasanya dengan memanggang Nabi Ibrahim dalam kobaran api. Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim.

Tersebut dalam riwayat yang masyhur. Untuk meruntuhkan kesombongan Namrudz, Allah hanya mengirimkan tentaranya yang sangat kecil, nyamuk. Nyamuk yang semula dianggap lemah dan hina menyelinap masuk ke bagian tubuh Namrudz. Nyamuk kecil bekerja cukup efektif, menggerogoti tubuh Namrudz dari dalam. Berhari-hari raja sekaligus tuhan palsu ini mengerang kesakitan, merasakan siksaan yang sangat pedih. Sebelum akhirnya tumbang, meninggal dengan hina. Hanya oleh seekor makhluk kecil, nyamuk.

Abrahah, penguasa Yaman hendak menyaingi ketenaran Ka’bah di Makkah. Dia irih melihat ramainya orang kerziarah ke Ka’bah. Abrahah kemudian membuat bangunan yang lebih megah di Yaman. Harapannya, para peziarah akan meninggalkan Ka’bah dan berpaling ke bangunan yang dia dirikan. Perkiraannya meleset, peziarah tetap membajiri Ka’bah. Tidak ada jalan lain, ka'bah harus dihancurkan.

Abrahah menyiapkan tentaranya. Mengenderai gajah, tentara ini dengan gagah perkasa bergerak memasuki kota Makkah dengan misi khusus menghancurkan ka'bah. Tentara bergajah merangsek masuk ke wilayah Makkah tanpa hambatan berarti. Ketika mereka sangat yakin bisa mewujudkan cita-citanya, Allah mengirimkan mahkluk-makluk kecil, burung ababil. Burung ababil menghujani tentara bergajah dengan batu-batu api. Tentara yang dibangga-banggakan Abrahah ini seketika hancur berantakan. Ambisi Abrahah gagal, digagalkan Allah melalui makhlul kecil, burung ababil.

Virus corona (Covid-19) yang sekarang menebar ketakutan di seluruh dunia. Ukurannya teramat kecil, tidak terlihat tanpa alat pembesar. Tetapi makhluk yang super kecil ini telah menjadi momok yang paling menakutkan saat ini. Mobilitas manusia, barang dan jasa menjadi terganggu. Sejumlah tempat yang selama ini menjadi pusat keramaian mendadak sunyi.

Virus ini telah mengubah pola hubungan antar manusia. Jabat tangan, cipika-cipiki dan rangkulan persahabatan ditiadakan. Aktivitas ibadah yang selama ini menjadi zona yang paling sensitif harus menyesuaikan. Beberapa Negara bahkan menghentikan peribadatan massal tanpa protes dari penganut agama apapun. Tiba-tiba manusia menjadi makhluk pasrah, lemah tiada daya.

Nyamuk yang membunuh Namrudz, ababil yang membinasakan Abrahah dan tentaranya, serta virus Corona yang yang telah merenggut ribuan nyawa manusia. Ketiga-tiganya hanyalah sebagian dari makhluk kecil yang dikirimkan Allah kepada manusia.

Makhluk kecil itu adalah duta Allah, pembawa pesan. Mengingatkan manusia tentang kebesaran dan kekuasaan Allah. Bahwa manusia sama sekali tidak punya daya, tidak punya kuasa. Daya dan kuasa hanya milik Allah semata. Kalaupun ada manusia yang memilikinya, itu hanya titipan. Jika Allah berkehendak, Dia dengan mudah untuk mencabutnya dan mengambilnya kembali. Tidak ada manusia yang sanggup mempertahankannya, meski seorang raja yang memiliki kekuasaan besar dan mengklaim diri sebagai Tuhan.

Pesan penting untuk zaman ini. Zaman yang dihuni oleh manusia modern dengan prilaku primitif. Manusia yang dengan kecanggihan teknologi yang dimilikinya sudah merasa lebih berkuasa dari Tuhan. Tuhan disingkirkan dalam hidup. Aturan-aturan-Nya yang luhur dilecehkan. Para penganjur ajaran-Nya dicemooh, dicaci, dihina, difitnah dengan sangat keji.

Covid-19 adalah krikil kecil yang dilemparkan Allah ke arah kita. Agar kita berpaling sejenak dari hiruk pikuk dunia yang seakan tiada akhir. Bersegeralah menanggalkan segala bentuk kesombongan. Berlari menuju Allah, mendekat dan bersimpuh di hadapan-Nya. Bersegeralah sebelum Allah menutup jalan untuk kembali.

Semoga wabah ini menggugah kembali semangat kebersamaan yang dulu pernah menjadi ikon kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa. Bersama berikhtiar mencari jalan keluar terbaik. Hentikan saling caci dan saling curiga. Cukuplah banjir Jakarta kemarin yang dihadapi dengan main sikut dengan aroma politik yang menyengat.

Semoga kita tetap dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

Berdikari 1, 16 Maret 2020

Tak Hafal Pancasila



Yang sedang viral. Finalis pemilihan Putri Indonesia tidak hafal Pancasila. Kebangetan sih. Setengah tidak percaya. Saya lalu membuka youtube mencari videonya. Kurang percaya dengan video-video yang sudah beredar di media sosial. Keseringan dibohongi dengan video editan. Di youtube saya bisa menyeleksi video dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan.

Benar saja. Beberapa video memperlihatkan bagaimana Kalista Iskandar, wakil Sumatera Barat kelimpuhan menjawab pertanyaan. Ketua MPR-RI, Bambang Soesatyo yang hadir sebagai juri mengajukan pertanyaan. “Pertanyaan saya adalah, apakah Kalista hafal, 5 sila yang terkandung dalam Pancasila, silahkan”, demikian Bambang Soesatyo.

Pembawa acara memberikan 30 detik kepada Kalista untuk menjawab. Kalista bisa menjawab sila ke-1 sampai sila ke-3 dengan benar. Namun ketika sampai pada sila ke-4 dan ke-5 Kalista seperti bingung dan sulit menjawab. Kata-katanya seketika tak beraturan. Detik-detik yang sungguh memalukan.

Saya sebenarnya tidak tertarik membahas perhelatan tahunan pemilihan Putri Indonesia ini. Bagi saya Pemilihan Putri Indonesia dan juga acara pencarian bakat lainnya lebih sering menjadi ajang eksploitasi kaum perempuan untuk kepentingan kaum pemodal. Hanya menyuburkan gaya hidup hedon di kalangan anak-anak muda.

Namun untuk kali ini, ada yang menarik. Pertanyaan soal Pancasila. Miris juga, di saat guru-guru di sekolah diarahkan untuk membimbing siswa agar memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi atau disebut juga Hots (Higher Order Thinking Skills), tiba-tiba ada pejabat yang memberikan pertanyaan dengan level rendah, Lots (Lower Order Thinking Skills).

Pertanyaan hafalan yang dalam taksonomi Bloom hanya berada pada level C1. Pun dalam ajang yang dianggap sangat bergengsi, menjadi pusat perhatian bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di mancanegara.

Sebenarnya saya berharap Pak Bambang menanyakan, “Bagaimana pendapat Kalista tentang pengamalan Pancasila di kalangan pejabat negara saat ini?” Kalau pertanyaan model ini mungkin levelnya bisa naik menjadi level C3 atau C4.

Sebagai generasi muda Kalista perlu diuji dalam hal menganalisis dan menghubungkan antara satu fakta dengan fakta lainnya lalu merangkainya menjadi pendapat. Bisa membedakan antara fakta dan opini, antara berita sungguhan dan mana yang hoaks.

Pertanyaan yang diajukan Pak Bambang bukan hanya level kognitifnya rendah. Tetapi redaksi kalimatnya pun bisa multi tafsir, bisa membingungkan. “Apakah Kalista hafal, 5 sila yang terkandung dalam Pancasila?” Ini yang dimaksud menghafal sila-sila Pancasila atau menghafal kandungan dari 5 sila Pancasila. Menghafal sila Pancasila jelas berbeda dengan menghafal kandungan sila-sila Pancasila.

Kadang memang pertanyaan level rendah begini membuat sebagian orang kelabakan. Makanya sering digunakan untuk menjebak atau menjatuhkan. Dalam debat Capres yang lalu pertanyaan jenis ini sering juga dijadikan senjata. Sehingga debatnya menjadi ajang cerdas-cermat yang mengandalkan ingatan, bukan pada penalaran atau kemampuan memberikan solusi nyata dari problem yang ada.

Om saya tukang servis Radio yang paling terkenal di kampung saya sekitar tahun 80-an hingga 90-an. Dia buta huruf belajar memperbaiki radio juga hanya modal keberanian mengutak-atik radio rusak, otodidak.

Setelah kegagalan demi kegagalan ditemuinya dia pun menjadi mahir. Tak sekedar memperbaiki, dia juga bahkan bisa merakit radio. Tetapi jika ditanya apa nama dari alat-alat radio yang dia bongkar dan pasang tiap hari, dia menggeleng, tidak tahu. Jika mau membeli alat-alat yang dia butuhkan, dia hanya membawa contoh dan memperlihatkannya ke penjaga toko.

Sangat simpel. Apakah om saya bodoh dan karena itu halal dibully hanya karena tidak hafal nama alat-alat radio? Lalu kita lupakan kemampuannya.

Masih ingat Khairul? Anak muda dari Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Namanya terkenal setelah videonya menerbangkan pesawat rakitannya sendiri viral di media sosial. Perkiraan saya, Khairul tidak menghafal semua komponen yang merangkai pesawatnya. Dan ketika dia bertekad merakit pesawat, tidak mengawalinya dengan menghafal bagian-bagian yang harus ada dalam pesawat supaya layak terbang. Dia hanya mempelajari keterhubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Fungsi setiap bagian, memasang dan mencobanya. Gagal, coba lagi, dan akhirnya berhasil, trial and error.

Itulah sebabnya pembelajaran di sekolah di arahkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi. Siswa dilatih untuk menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Harapannya, di masa depan generasi muda Indonesia akan menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar menjadi bagian dari masalah.

Menjadi bangsa produsen, bukan hanya konsumen. Pengekspor bukan sekedar pengimpor. Bukan hanya jadi tempat pelemparan hasil produksi negara lain, tetapi juga turut meramaikan pasar global dengan hasil produksinya yang punya daya saing.

Kelak anak-anak kita tidak sekadar jago menghafal teori tetapi juga mampu mengaplikasikan teori itu dengan karya-karya monumental. Mereka akan menunjukkan kebermanfaatannya terhadap orang banyak.

Sekali lagi, ini baru pada tahap harapan. Semoga kelak terwujud.

Lalu, apakah sila-sila Pancasila tidak perlu dihafal? Tentu saja perlu, tetapi yang lebih penting dari itu adalah menerjemahkan Pancasila dalam kehidupan nyata. Apakah Pancasila itu ada dalam kehidupan bangsa Indonesia atau hanya sekedar semboyan? Jangan sampai kita hafal Pancasila tetapi mengingkari sila-silanya. Ingat, dulu ada beberapa tokoh dengan gagah perkasa berteriak “Aku Indonesia, Aku Pancasila”, ujung-ujungnya dia malah menjadi pasien KPK.

Makassar, 10 Maret 2020

Senin, 09 Maret 2020

Homo Homoni Lupus


Saya mengira kelangkaan masker hanya terjadi di kota-kota besar. Pulang dari rumah ibu, diakhir pekan, saya penasaran. Saya coba melakukan survey kecil-kecilan dengan menyinggahi beberapa apotek di sepanjang Jalan yang saya lalui. Saya ingin memastikan ketersediaan masker di tempat-tempat tersebut (seolah-olah pejabat lagi sidak, hehe). Hasilnya, nihil. Semua apotek yang saya masuki kehabisan stok.

Teringat beberapa hari yang lalu media ramai memberitakan dua orang mahasiswa di Makassar ditangkap polisi karena berusaha menjual masker ke luar negeri, Selandia Baru. Polisi berhasil mengamankan paket berisi 200 boks masker dengan berbagai merek. Keduanya mengumpulkan masker tersebut selama dua pekan dari tiga daerah yaitu, Makassar, Gowa, dan Takalar.

Wadduh! Pantas saja masker di beberapa apotek yang saya datangi ludes. Anehnya, saat singgah dipenjual roti langganan saya, lagi-lagi saya kehabisan stok. Roti kok ikut-ikutan menghilang.

Masker menjadi barang yang paling dicari menyusul pernyataan pemerintah yang memastikan adanya 2 orang WNI positif COVID-19. Kondisi ini menyebabkan kenaikan harga yang tidak wajar di pasaran. Data dari kepolisian menyebutkan, masker yang biasanya dijual dengan harga 50.000 – 70.000 Rupiah per dus bisa menembus harga ratusan ribu rupiah. Bahkan untuk masker dengan merek tertentu bisa mencapai 1,5 juta rupiah. Bukan hanya harganya yang naik, keberadaannya pun semakin langka.

Selain masker, hand sanitizer juga menghilang di pasaran. Di Bogor warga menjadikan alkohol sebagai pengganti hand sanitizer. Akibatnya, alkohol pun menjadi barang buruan.

Kenaikan harga masker dan hand sanitizer disebabkan oleh adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja menimbun. Kabareskrim Polri pada hari Kamis, 5 Maret 2020 mengatakan bahwa pihaknya sudah menemukan 13 kasus penimbunan masker hingga hand sanitizer, dengan barang bukti 822 kardus, 61.550 lembar masker, 138 kardus sanitizer. Kita pantas mengapresiasi kerja polisi yang cepat tanggap.

Kasus penimbunan barang-barang kebutuhan hal jamak terjadi. Terutama dalam menghadapi peristiwa tertentu. Saat terjadi bencana misalnya, selalu saja ada orang yang rela mengambil keuntungan dengan mempermainkan nyawa sesamanya manusia. Baginya, permintaan yang meningkat adalah kesempatan emas yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Bahan bakar minyak, gas, dan sembako adalah deretan barang yang sering langka pada saat-saat tertentu.

Dalam kebudayaan Romawi Kuno dikenal ungkapan homo homoni lupus yang berarti manusia adalah serigala bagi manusia yang lainnya. Ungkapan ini Pertama kali diperkenalkan oleh penulis drama asal Roma bernama Titus Maccius Plautus dalam karyanya berjudul Asinaria pada tahun 195 SM. Kemudian Thomas Hobbes menuliskan dalam bukunya yang berjudul De Cive pada tahun 1651.

Homo homoni lupus mengumpamakan kehidupan manusia seperti binatang. Bersaing, saling memangsa. Tidak sekedar untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menunjukkan kekuasaan atas manusia lainnya. Maka berlakulah hukum rimba. Siapa kuat, dia yang berkuasa. Dan dengan kekuasaannya dia bisa melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya.

Dalam ekonomi, homo homoni lupus mewujud dalam bentuk ideologi kapitalisme. Kapitalisme memandang segala sesuatu dengan azas manfaat. Perilaku dan pola pikir manusia diukur berdasarkan kebermanfaatan atas dirinya. Tidak peduli, sekalipun merugikan orang lain. Kapitalisme sejatinya adalah ideologi serakah yang menjadi sumber kerusakan di muka bumi.

Hutan digunduli, perut bumi dikuras, air laut, tanah dan udara dicemari. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin menganga lebar dan merosotnya nilai-nilai luhur kemanusiaan. Relasi antar manusia diukur dari keuntungan materi, bukan atas dasar prikemanusiaan apalagi nilai-nilai keilahian. Maka pantas jika dalam keadaan genting sekalipun masih saja ada orang yang rela menari-nari di atas derita orang lain.

Dalam politik, homo homoni lupus diadopsi oleh Niccolo Machiavelli (1469-1527). Seorang filsuf Italia yang terkenal dengan bukunya “The Prince”. Namanya dimasukkan oleh Michael H. Hart dalam bukunya, “100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia”. Machiavelli dikenal dengan sarannya bahwa seorang penguasa yang ingin memelihara dan meningkatkan kekuasaannya harus menggunakan cara-cara curang, licik, dan kebohongan dikombinasikan dengan penggunaan kekerasan yang bengis.

Konsepsi politik Machiavelli yang demikian itu banyak digunakan oleh penguasa-penguasa diktator maupun pelaku-pelaku politik untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan. Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Meskipun kawan harus menjadi lawan atau sebaliknya, lawan menjadi kawan. Keluarga dekat pun rela disingkirkan jika menghalangi tujuan.

Kolaborasi antara kapitalisme dan Machiavellisme inilah yang saat ini mengendalikan dunia. Negara-negara Barat dan Amerika sebagai sponsor utamanya. Jelas keberadaannya merupakan ancaman serius.

Benarkah manusia adalah serigala bagi manusia lainnya? Teks-teks agama menyatakan sebaliknya. Dalam ajaran Islam, orang-orang beriman adalah bersaudara. Tidak peduli asal keturunan, warna kulit maupun strata sosial.

Persaudaraan diikat dengan cinta dan kasih sayang. Rasulullah SAW bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam hadist yang lain disebutkan : “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

Islam sangat mencela manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa mempedulikan orang lain, serakah dan aniayah. Alih alih menjadi serigala bagi manusia lainnya. Islam justru mendorong manusia menjadi rahmat untuk seluruh alam.