Channel YouTube

Selasa, 17 Maret 2020

Tak Hafal Pancasila



Yang sedang viral. Finalis pemilihan Putri Indonesia tidak hafal Pancasila. Kebangetan sih. Setengah tidak percaya. Saya lalu membuka youtube mencari videonya. Kurang percaya dengan video-video yang sudah beredar di media sosial. Keseringan dibohongi dengan video editan. Di youtube saya bisa menyeleksi video dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan.

Benar saja. Beberapa video memperlihatkan bagaimana Kalista Iskandar, wakil Sumatera Barat kelimpuhan menjawab pertanyaan. Ketua MPR-RI, Bambang Soesatyo yang hadir sebagai juri mengajukan pertanyaan. “Pertanyaan saya adalah, apakah Kalista hafal, 5 sila yang terkandung dalam Pancasila, silahkan”, demikian Bambang Soesatyo.

Pembawa acara memberikan 30 detik kepada Kalista untuk menjawab. Kalista bisa menjawab sila ke-1 sampai sila ke-3 dengan benar. Namun ketika sampai pada sila ke-4 dan ke-5 Kalista seperti bingung dan sulit menjawab. Kata-katanya seketika tak beraturan. Detik-detik yang sungguh memalukan.

Saya sebenarnya tidak tertarik membahas perhelatan tahunan pemilihan Putri Indonesia ini. Bagi saya Pemilihan Putri Indonesia dan juga acara pencarian bakat lainnya lebih sering menjadi ajang eksploitasi kaum perempuan untuk kepentingan kaum pemodal. Hanya menyuburkan gaya hidup hedon di kalangan anak-anak muda.

Namun untuk kali ini, ada yang menarik. Pertanyaan soal Pancasila. Miris juga, di saat guru-guru di sekolah diarahkan untuk membimbing siswa agar memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi atau disebut juga Hots (Higher Order Thinking Skills), tiba-tiba ada pejabat yang memberikan pertanyaan dengan level rendah, Lots (Lower Order Thinking Skills).

Pertanyaan hafalan yang dalam taksonomi Bloom hanya berada pada level C1. Pun dalam ajang yang dianggap sangat bergengsi, menjadi pusat perhatian bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di mancanegara.

Sebenarnya saya berharap Pak Bambang menanyakan, “Bagaimana pendapat Kalista tentang pengamalan Pancasila di kalangan pejabat negara saat ini?” Kalau pertanyaan model ini mungkin levelnya bisa naik menjadi level C3 atau C4.

Sebagai generasi muda Kalista perlu diuji dalam hal menganalisis dan menghubungkan antara satu fakta dengan fakta lainnya lalu merangkainya menjadi pendapat. Bisa membedakan antara fakta dan opini, antara berita sungguhan dan mana yang hoaks.

Pertanyaan yang diajukan Pak Bambang bukan hanya level kognitifnya rendah. Tetapi redaksi kalimatnya pun bisa multi tafsir, bisa membingungkan. “Apakah Kalista hafal, 5 sila yang terkandung dalam Pancasila?” Ini yang dimaksud menghafal sila-sila Pancasila atau menghafal kandungan dari 5 sila Pancasila. Menghafal sila Pancasila jelas berbeda dengan menghafal kandungan sila-sila Pancasila.

Kadang memang pertanyaan level rendah begini membuat sebagian orang kelabakan. Makanya sering digunakan untuk menjebak atau menjatuhkan. Dalam debat Capres yang lalu pertanyaan jenis ini sering juga dijadikan senjata. Sehingga debatnya menjadi ajang cerdas-cermat yang mengandalkan ingatan, bukan pada penalaran atau kemampuan memberikan solusi nyata dari problem yang ada.

Om saya tukang servis Radio yang paling terkenal di kampung saya sekitar tahun 80-an hingga 90-an. Dia buta huruf belajar memperbaiki radio juga hanya modal keberanian mengutak-atik radio rusak, otodidak.

Setelah kegagalan demi kegagalan ditemuinya dia pun menjadi mahir. Tak sekedar memperbaiki, dia juga bahkan bisa merakit radio. Tetapi jika ditanya apa nama dari alat-alat radio yang dia bongkar dan pasang tiap hari, dia menggeleng, tidak tahu. Jika mau membeli alat-alat yang dia butuhkan, dia hanya membawa contoh dan memperlihatkannya ke penjaga toko.

Sangat simpel. Apakah om saya bodoh dan karena itu halal dibully hanya karena tidak hafal nama alat-alat radio? Lalu kita lupakan kemampuannya.

Masih ingat Khairul? Anak muda dari Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Namanya terkenal setelah videonya menerbangkan pesawat rakitannya sendiri viral di media sosial. Perkiraan saya, Khairul tidak menghafal semua komponen yang merangkai pesawatnya. Dan ketika dia bertekad merakit pesawat, tidak mengawalinya dengan menghafal bagian-bagian yang harus ada dalam pesawat supaya layak terbang. Dia hanya mempelajari keterhubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Fungsi setiap bagian, memasang dan mencobanya. Gagal, coba lagi, dan akhirnya berhasil, trial and error.

Itulah sebabnya pembelajaran di sekolah di arahkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi. Siswa dilatih untuk menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Harapannya, di masa depan generasi muda Indonesia akan menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar menjadi bagian dari masalah.

Menjadi bangsa produsen, bukan hanya konsumen. Pengekspor bukan sekedar pengimpor. Bukan hanya jadi tempat pelemparan hasil produksi negara lain, tetapi juga turut meramaikan pasar global dengan hasil produksinya yang punya daya saing.

Kelak anak-anak kita tidak sekadar jago menghafal teori tetapi juga mampu mengaplikasikan teori itu dengan karya-karya monumental. Mereka akan menunjukkan kebermanfaatannya terhadap orang banyak.

Sekali lagi, ini baru pada tahap harapan. Semoga kelak terwujud.

Lalu, apakah sila-sila Pancasila tidak perlu dihafal? Tentu saja perlu, tetapi yang lebih penting dari itu adalah menerjemahkan Pancasila dalam kehidupan nyata. Apakah Pancasila itu ada dalam kehidupan bangsa Indonesia atau hanya sekedar semboyan? Jangan sampai kita hafal Pancasila tetapi mengingkari sila-silanya. Ingat, dulu ada beberapa tokoh dengan gagah perkasa berteriak “Aku Indonesia, Aku Pancasila”, ujung-ujungnya dia malah menjadi pasien KPK.

Makassar, 10 Maret 2020

0 komentar:

Posting Komentar