Channel YouTube

Selasa, 17 Maret 2020

Makhluk Kecil




Namrudz bin Kan’an. Dia dikenal sebagai raja yang cerdas dan memiliki kekuasaan yang besar. Sangat disayangkan bahwa kecerdasan dan kekuasaan yang dimilikinya membuat dia sombong. Puncak kesombongannya adalah mengangkat dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah oleh rakyatnya.

Allah mengutus Nabi Ibrahim untuk mengajaknya ke jalan yang benar. Namun kesombongan menutupinya dari hidayah. Alih-alih mengikuti ajaran Nabi Ibrahim, Namrudz malah menunjukkan kuasanya dengan memanggang Nabi Ibrahim dalam kobaran api. Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim.

Tersebut dalam riwayat yang masyhur. Untuk meruntuhkan kesombongan Namrudz, Allah hanya mengirimkan tentaranya yang sangat kecil, nyamuk. Nyamuk yang semula dianggap lemah dan hina menyelinap masuk ke bagian tubuh Namrudz. Nyamuk kecil bekerja cukup efektif, menggerogoti tubuh Namrudz dari dalam. Berhari-hari raja sekaligus tuhan palsu ini mengerang kesakitan, merasakan siksaan yang sangat pedih. Sebelum akhirnya tumbang, meninggal dengan hina. Hanya oleh seekor makhluk kecil, nyamuk.

Abrahah, penguasa Yaman hendak menyaingi ketenaran Ka’bah di Makkah. Dia irih melihat ramainya orang kerziarah ke Ka’bah. Abrahah kemudian membuat bangunan yang lebih megah di Yaman. Harapannya, para peziarah akan meninggalkan Ka’bah dan berpaling ke bangunan yang dia dirikan. Perkiraannya meleset, peziarah tetap membajiri Ka’bah. Tidak ada jalan lain, ka'bah harus dihancurkan.

Abrahah menyiapkan tentaranya. Mengenderai gajah, tentara ini dengan gagah perkasa bergerak memasuki kota Makkah dengan misi khusus menghancurkan ka'bah. Tentara bergajah merangsek masuk ke wilayah Makkah tanpa hambatan berarti. Ketika mereka sangat yakin bisa mewujudkan cita-citanya, Allah mengirimkan mahkluk-makluk kecil, burung ababil. Burung ababil menghujani tentara bergajah dengan batu-batu api. Tentara yang dibangga-banggakan Abrahah ini seketika hancur berantakan. Ambisi Abrahah gagal, digagalkan Allah melalui makhlul kecil, burung ababil.

Virus corona (Covid-19) yang sekarang menebar ketakutan di seluruh dunia. Ukurannya teramat kecil, tidak terlihat tanpa alat pembesar. Tetapi makhluk yang super kecil ini telah menjadi momok yang paling menakutkan saat ini. Mobilitas manusia, barang dan jasa menjadi terganggu. Sejumlah tempat yang selama ini menjadi pusat keramaian mendadak sunyi.

Virus ini telah mengubah pola hubungan antar manusia. Jabat tangan, cipika-cipiki dan rangkulan persahabatan ditiadakan. Aktivitas ibadah yang selama ini menjadi zona yang paling sensitif harus menyesuaikan. Beberapa Negara bahkan menghentikan peribadatan massal tanpa protes dari penganut agama apapun. Tiba-tiba manusia menjadi makhluk pasrah, lemah tiada daya.

Nyamuk yang membunuh Namrudz, ababil yang membinasakan Abrahah dan tentaranya, serta virus Corona yang yang telah merenggut ribuan nyawa manusia. Ketiga-tiganya hanyalah sebagian dari makhluk kecil yang dikirimkan Allah kepada manusia.

Makhluk kecil itu adalah duta Allah, pembawa pesan. Mengingatkan manusia tentang kebesaran dan kekuasaan Allah. Bahwa manusia sama sekali tidak punya daya, tidak punya kuasa. Daya dan kuasa hanya milik Allah semata. Kalaupun ada manusia yang memilikinya, itu hanya titipan. Jika Allah berkehendak, Dia dengan mudah untuk mencabutnya dan mengambilnya kembali. Tidak ada manusia yang sanggup mempertahankannya, meski seorang raja yang memiliki kekuasaan besar dan mengklaim diri sebagai Tuhan.

Pesan penting untuk zaman ini. Zaman yang dihuni oleh manusia modern dengan prilaku primitif. Manusia yang dengan kecanggihan teknologi yang dimilikinya sudah merasa lebih berkuasa dari Tuhan. Tuhan disingkirkan dalam hidup. Aturan-aturan-Nya yang luhur dilecehkan. Para penganjur ajaran-Nya dicemooh, dicaci, dihina, difitnah dengan sangat keji.

Covid-19 adalah krikil kecil yang dilemparkan Allah ke arah kita. Agar kita berpaling sejenak dari hiruk pikuk dunia yang seakan tiada akhir. Bersegeralah menanggalkan segala bentuk kesombongan. Berlari menuju Allah, mendekat dan bersimpuh di hadapan-Nya. Bersegeralah sebelum Allah menutup jalan untuk kembali.

Semoga wabah ini menggugah kembali semangat kebersamaan yang dulu pernah menjadi ikon kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa. Bersama berikhtiar mencari jalan keluar terbaik. Hentikan saling caci dan saling curiga. Cukuplah banjir Jakarta kemarin yang dihadapi dengan main sikut dengan aroma politik yang menyengat.

Semoga kita tetap dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

Berdikari 1, 16 Maret 2020

0 komentar:

Posting Komentar