Setiap orang memiliki motivasi tersendiri untuk berolahraga. Karena itu lahirlah beberapa varian olahraga. Pertama, ada yang berolahraga semata-mata karena alasan kesehatan. Kelompok ini sadar betul betapa pentingnya gerak tubuh dalam menunjang kesehatan. Karena motivasinya hanya untuk kesehatan mereka biasanya tidak mempedulikan bentuk olahraganya. Yang penting bergerak dan menghasilkan keringat. Joging adalah salah satu bentuk olahraga yang banyak dipilih oleh kelompok ini. Terutama bagi mereka yang terlambat sadar, giat berolahraga setelah usia mendekati finis. Joging, murah meriah tidak membutuhkan keahlian khusus dan juga peralatan yang ribet. Yang penting bisa jalan, sempoyongan pun tak masalah.
Kedua; mereka yang berolahraga karena dorongan hobi, kesenangan. Mereka biasanya fokus pada olahraga tertentu, bahkan olahraga ekstrim sekalipun. Kelompok ini terkadang nekad menyalurkan hobinya. Tidak jarang olahraga jenis ini menelan banyak korban. Penyuka olahraga ekstrim sepertinya yakin punya nyawa serep. Berani menantang maut. MotoGP bisa dimasukkan pada kategori ini. Sirkuit sudah menelan banyak korban tetapi minat orang terhadap jenis olahraga ini tak kunjung surut.
Ketiga; dorongan untuk berprestasi, disebut olahraga prestasi. Orang yang menekuni olahraga jenis ini adalah mereka yang dipersiapkan atau mempersiapkan diri untuk berbagai event kejuaraan. Baik atas nama perorangan maupun atas nama lembaga, institusi. Berolahraga dengan motivasi untuk meraih juara. Imbalannya adalah hadiah, medali, aneka macam bonus, dan ketenaran. Pelaku olahraga ini telah banyak mengharumkan nama bangsa. Memperkenalkan Indonesia di dunia internasional. Rudi Hartono adalah legenda bulutangkis Indonesia yang namanya abadi sepanjang sejarah bulutangkis. Tidak tanggung-tanggung, juara All England 8 kali tahun 1960-an hingga 1970-an dan juara dunia tahun 1980.
Keempat, olahraga sebagai profesi. Olahraga yang dijadikan sebagai profesi. Mereka yang menekuni olahraga ini bukan sekadar kesenangan, tidak juga semata untuk kesehatan tetapi baginya olahraga adalah mata pencaharian, tempat menggantungkan hidup. Untuk urusan yang satu ini olahraga telah menyumbangkan banyak atlit atau olahragawan dalam deretan orang-orang kaya di dunia. Cristiano Ronaldo adalah salah contoh pesepak bola yang menjadi milyarder, yang membuat kita pusing bagaimana dia menghabiskan uangnya.
Sejak dulu olahraga sudah melahirkan industri tersendiri dengan perputaran uang yang sangat cepat. Banyak perusahaan yang menjadikan olahraga sebagai mesin pencetak uang. Mulai dari perlengkapannya hingga kostum pemainnya. Belum lagi perhelatannya yang melibatkan banyak sektor. Olimpiade, Piala Dunia, Piala Eropa, Piala Thomas dan Uber adalah deretan pesta olahraga yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat internasional. Dan ini merupakan keuntungan besar bagi dunia industri.
Jenis kelima saya menyebutnya olahraga produktif. Olahraga multiguna, menyehatkan, menyenangkan, dan juga bisa menghasilkan. Melihat prospeknya yang cukup menjanjikan, saya memilih olahraga ini untuk saya tekuni. Selain karena sepertinya olahraga jenis inilah yang paling cocok untuk saya. Gerakannya bebas tak terikat. Pakaiannya tak harus aneh-aneh seperti olahraga tertentu yang orang lebih tertarik menonton pemainnya yang berpakaian seadanya daripada menikmati permainannya. Tidak juga dipusingkan dengan aturan-aturan tak beraturan mulai dari tingkat RT hingga internasional.
Berkebun, inilah olahraga yang saya tekuni. Saya kategorikan sebagai olahraga produktif. Berkebun menyehatkan. Mencangkul, menebas ilalang, menjolok mangga, menyiram, dan mensupervisi tanaman adalah gerakan-gerakan yang menyegarkan, menghasilkan keringat dan menyenangkan.
Produktif? Iya. Berkebun juga membuahkan hasil, hasil kebun tentu. Setidaknya bisa membantu meringankan beban keperluan dapur. "Kalau cabe mahal, ya tanam cabe di halaman," Jadi ingat solusi rada konyol dari seorang pejabat ketika harga cabe melonjak tinggi, tinggi sekali.
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu ayah saya menanam mangga di halaman rumah. Kini ketika ayah saya sudah tiada, mangga yang dia tanam masih dinikmati buahnya. Mudah-mudahan menjadi amal jariyah baginya. Berkebun bukan saja produktif dalam hitungan duniawi tetapi juga produktif dalam ukuran ukhrawi. Menjadi ladang amal, amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun pelakunya sudah meninggal. Itulah sebabnya saya sering menolak jika buah mangga ayah saya dijual, biarkan dinikmati secara gratis, sebagai tabungan untuknya.
Berkebun insyaallah mendatangkan keberkahan. Jika hasil kebun kita bisa dinikmati orang banyak, terlebih jika gratis. Insyaallah sehat, insyaallah berkah.
Bagi Anda yang pusing memilih olahraga untuk menjaga kebugaran. Berkebun adalah pilihan terbaik. Kalau tidak punya kebun, maksimalkan halaman rumah. Kalau itupun sulit, boleh numpang pada kebun tetangga. Tetapi jangan lupa berdoa semoga dapat bagi hasil.
Selamat berkebun, dapat sehatnya dapat berkahnya.
Malino, 13 Juli 2019
Kedua; mereka yang berolahraga karena dorongan hobi, kesenangan. Mereka biasanya fokus pada olahraga tertentu, bahkan olahraga ekstrim sekalipun. Kelompok ini terkadang nekad menyalurkan hobinya. Tidak jarang olahraga jenis ini menelan banyak korban. Penyuka olahraga ekstrim sepertinya yakin punya nyawa serep. Berani menantang maut. MotoGP bisa dimasukkan pada kategori ini. Sirkuit sudah menelan banyak korban tetapi minat orang terhadap jenis olahraga ini tak kunjung surut.
Ketiga; dorongan untuk berprestasi, disebut olahraga prestasi. Orang yang menekuni olahraga jenis ini adalah mereka yang dipersiapkan atau mempersiapkan diri untuk berbagai event kejuaraan. Baik atas nama perorangan maupun atas nama lembaga, institusi. Berolahraga dengan motivasi untuk meraih juara. Imbalannya adalah hadiah, medali, aneka macam bonus, dan ketenaran. Pelaku olahraga ini telah banyak mengharumkan nama bangsa. Memperkenalkan Indonesia di dunia internasional. Rudi Hartono adalah legenda bulutangkis Indonesia yang namanya abadi sepanjang sejarah bulutangkis. Tidak tanggung-tanggung, juara All England 8 kali tahun 1960-an hingga 1970-an dan juara dunia tahun 1980.
Keempat, olahraga sebagai profesi. Olahraga yang dijadikan sebagai profesi. Mereka yang menekuni olahraga ini bukan sekadar kesenangan, tidak juga semata untuk kesehatan tetapi baginya olahraga adalah mata pencaharian, tempat menggantungkan hidup. Untuk urusan yang satu ini olahraga telah menyumbangkan banyak atlit atau olahragawan dalam deretan orang-orang kaya di dunia. Cristiano Ronaldo adalah salah contoh pesepak bola yang menjadi milyarder, yang membuat kita pusing bagaimana dia menghabiskan uangnya.
Sejak dulu olahraga sudah melahirkan industri tersendiri dengan perputaran uang yang sangat cepat. Banyak perusahaan yang menjadikan olahraga sebagai mesin pencetak uang. Mulai dari perlengkapannya hingga kostum pemainnya. Belum lagi perhelatannya yang melibatkan banyak sektor. Olimpiade, Piala Dunia, Piala Eropa, Piala Thomas dan Uber adalah deretan pesta olahraga yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat internasional. Dan ini merupakan keuntungan besar bagi dunia industri.
Jenis kelima saya menyebutnya olahraga produktif. Olahraga multiguna, menyehatkan, menyenangkan, dan juga bisa menghasilkan. Melihat prospeknya yang cukup menjanjikan, saya memilih olahraga ini untuk saya tekuni. Selain karena sepertinya olahraga jenis inilah yang paling cocok untuk saya. Gerakannya bebas tak terikat. Pakaiannya tak harus aneh-aneh seperti olahraga tertentu yang orang lebih tertarik menonton pemainnya yang berpakaian seadanya daripada menikmati permainannya. Tidak juga dipusingkan dengan aturan-aturan tak beraturan mulai dari tingkat RT hingga internasional.
Berkebun, inilah olahraga yang saya tekuni. Saya kategorikan sebagai olahraga produktif. Berkebun menyehatkan. Mencangkul, menebas ilalang, menjolok mangga, menyiram, dan mensupervisi tanaman adalah gerakan-gerakan yang menyegarkan, menghasilkan keringat dan menyenangkan.
Produktif? Iya. Berkebun juga membuahkan hasil, hasil kebun tentu. Setidaknya bisa membantu meringankan beban keperluan dapur. "Kalau cabe mahal, ya tanam cabe di halaman," Jadi ingat solusi rada konyol dari seorang pejabat ketika harga cabe melonjak tinggi, tinggi sekali.
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu ayah saya menanam mangga di halaman rumah. Kini ketika ayah saya sudah tiada, mangga yang dia tanam masih dinikmati buahnya. Mudah-mudahan menjadi amal jariyah baginya. Berkebun bukan saja produktif dalam hitungan duniawi tetapi juga produktif dalam ukuran ukhrawi. Menjadi ladang amal, amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun pelakunya sudah meninggal. Itulah sebabnya saya sering menolak jika buah mangga ayah saya dijual, biarkan dinikmati secara gratis, sebagai tabungan untuknya.
Berkebun insyaallah mendatangkan keberkahan. Jika hasil kebun kita bisa dinikmati orang banyak, terlebih jika gratis. Insyaallah sehat, insyaallah berkah.
Bagi Anda yang pusing memilih olahraga untuk menjaga kebugaran. Berkebun adalah pilihan terbaik. Kalau tidak punya kebun, maksimalkan halaman rumah. Kalau itupun sulit, boleh numpang pada kebun tetangga. Tetapi jangan lupa berdoa semoga dapat bagi hasil.
Selamat berkebun, dapat sehatnya dapat berkahnya.
Malino, 13 Juli 2019
