Channel YouTube

Senin, 18 Mei 2020

Tidak Mencla-mencle

(Ilustrasi : experd.com)

Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar Ash-shiddiq dibaiat menjadi Khalifah. Di awal kekhalifahan Abu Bakar, kaum Muslimin menghadapi ancaman perpecahan. Beberapa kelompok secara terang-terangan murtad dan menolak membayar zakat. Ini adalah sebuah ancaman yang serius dan jika tidak segera diselesaikan akan menjadi masalah besar di kemudian hari. Sang Khalifah memutuskan untuk memerangi mereka.

Sikap Abu Bakar tidak disetujui oleh beberapa orang sahabat. Umar bin Khattab mendatangi Abu Bakar dan meminta untuk mengurungkan niatnya memerangi mereka. Umar berkata; “ Wahai Khalifah Rasul, bersikap lembutlah kepada umat. Mereka sekarang seperti binatang liar (karena baru ditinggalkan Nabi).”

Mendengar saran sahabatnya itu, Abu Bakar dengan tegas mengatakan; “Demi Allah, akan kuperangi mereka selama pedang dalam genggaman tanganku. Walau benda yang tidak mau mereka bayarkan itu hanya tali kekang kuda.” Dalam riwayat yang lain Abu Bakar berkata; “Demi Allah, aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat, karena zakat adalah haknya harta. Demi Allah seandainya mereka tidak mau menyerahkan tali kekang unta yang dulu pernah mereka serahkan kepada Rasulullah, aku akan memerangi mereka.”

Abu bakar tanpa ragu melaksanakan rencananya. Beliau segera menyiapkan pasukan untuk dikirim ke wilayah kaum murtad. Ekspedisi militer yang dikirim ini berhasil dengan gemilang. Islam terselamatkan dari orang-orang yang mencoba mempermainkan agama ini.

Sikap tegas Abu Bakar juga terlihat pada perdebatan mengenai pengiriman pasukan Usamah bin Zaid. Sebelum Nabi wafat, beliau telah mempersiapkan pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid untuk diberangkatkan ke Balqa (Romawi). Ketika Nabi wafat situasi menjadi tidak menentu. Banyak suku yang murtad, yang lainnya menolak menyerahkan zakat. Beredar pula desas-desus bahwa orang-orang Arab Badui akan menyerang Madinah.

Melihat situasi yang demikian, para sahabat meminta kepada Abu Bakar untuk membatalkan pemberangkatan pasukan Usamah. Namun, Abu Bakar menolak dan memutuskan pasukan Usamah tetap harus diberangkatkan. Abu Bakar berkata; “Demi zat yang jiwa Abu Bakar berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya binatang buas menyerangku, tetap kuberangkatkan pasukan Usamah seperti yang telah diperintahkan Rasulullah. Walaupun di tempat ini yang tersisa hanya aku, tetap kuberangkatkan pasukan Usamah.”

Alhasil, pasukan Usamah diberangkatkan dan kembali dengan membawa kemenangan. Pasukan Usamah sekaligus menjadi show of power Negara Madinah yang menciutkan nyali suku-suku yang semula ingin memberontak sepeninggal Nabi SAW.

Dua kebijakan yang diambil Abu Bakar di awal kekhalifahannya dua-duanya adalah pilihan yang sulit. Tetapi harus segera diputuskan, Negara dalam ancaman. Keliruh dalam bersikap apalagi tidak tegas mengambil kebijakan maka masa depan Negara menjadi taruhannya.

Abu Bakar berhasil menghilangkan bibit-bibit perpecahan dalam negeri dan juga menegakkan kewibawaan Islam di wilayah-wilayah lain.

Pengaruh dari kebijakan Abu Bakar ini tergambar dari apa yang dikatakan oleh Umar bin Khattab setelah kaum murtad berhasil dikalahkan. Umar berkata; “Abu Bakar benar-benar melaksanakan komitmennya. Dia tidak mendengar pendapatku. Dia justru makin yakin dengan keputusannya memerangi mereka dan mengajak manusia untuk melakukan hal-hal yang dampaknya bisa kami rasakan saat aku memimpin mereka”.
Pengakuan ini juga datang dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan; “Demi zat yang tiada Tuhan selain Dia, seandainya Abu Bakar tidak diangkat sebagai khalifah pasti tidak ada lagi yang menyembah Allah.” (Tarikh Khulafah, Ibrahim al-Quraibi).

Peristiwa yang lain. Tentang penaklukan benteng Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih. Konstantinopel dianggap sebagai salah satu kota terpenting di dunia, dibangun sejak tahun 330 Masehi. Posisinya sangat strategis sehingga ada yang mengatakan, “andaikata dunia berbentuk satu kerajaan, maka Konstantinopel akan menjadi kota yang paling cocok untuk menjadi ibukota kerajaan itu.”
Ketika kaum Muslimin berjihad melawan kekaisaran Byzantium, Konstantinopel menjadi penghalang yang sulit ditaklukkan. Itulah sebabnya beberapa pemimpin kaum Muslimin menjadikan penaklukan benteng itu sebagai agenda utamanya. Termasuk Sultan Muhammad II dari Kesultanan Turki Utsmani atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Al-Fatih.

Sejak dilantik menjadi Sultan, Al-Fatih sudah mempersiapkan rencana besar penaklukan. Segala kebutuhan perang dipersiapkan dengan matang.

Penakukan Konstantinopel bukan perkara mudah, benteng itu dilindungan dengan pertahanan berlapis yang sulit ditembus. Dalam sebuah pertempuran di Teluk Tanduk Emas, angkatan laut Utsmani berhasil dipukul mundur oleh pasukan gabungan dari beberapa negara Eropa yang membantu Byzantium. Al-Fatih marah besar dan langsung mencopot panglima armada lautnya.

Keadaan ini digunakan oleh para pembisik untuk membatalkan misi itu. Perdana Menteri Khalil Pasya menghadap Sultan dan membujuknya untuk menghentikan serangan dan melupakan impiannya menaklukkan Konstantinopel dan berdamai dengan Byzantium. Tetapi Sultan tidak menghiraukan. Dia tetap pada pendiriannya, tidak bergeser sedikit pun.

Serangan dilanjutkan. Akhirnya, pada bulan Mei 1453 Konstantinopel berhasil direbut oleh pasukan Utsmani. Keberhasilan ini disambut dengan suka cita di wilayah-wilayah Islam. Menjadi kisah yang sangat membanggakan hingga saat ini.

Dari dua tokoh yang kita bicarakan ini, kita belajar bahwa integritas pemimpin sangat menentukan. Baik Abu Bakar maupun Al-Fatih adalah pemimpin yang memiliki ketegasan untuk berpegang teguh pada apa yang diyakininya benar. Dan bersungguh-bersungguh berjuang untuk membuktikannya. Andai saja Abu Bakar atau Al-Fatih terpengaruh dengan para pembisiknya maka sejarah Islam tidak akan memperlihatkan kegemilangan selama kurang lebih 13 abad lamanya.

Saat ini seluruh dunia sedang menghadapi perang besar. Perang melawan corona. Ini musuh yang luar biasa, sampai presiden “sepede” Donald Trump pun dibuat frustrasi. Kelompok Yakuza, kelompok kriminal paling ditakuti di Jepang mengalami kebangkrutan. Hingga anggotanya beralih profesi menjadi penjual masker. Bahkan ketua gangster terkuat di Meksiko, Moises Escamilla May dikabarkan tewas hanya dua hari setelah terinfeksi virus ini. Hingga tulisan ini buat, covid-19 telah menewaskan lebih dari tiga ratus ribu orang di dunia. Ngeri!

Jika musuh sedemikian menakutkan maka tentu penanganannya pun tidak boleh main-main. Strategi yang dipilih harus jelas dan tegas sebagaimana yang dicontohkan pada kisah sejarah dari dua tokoh kita sebelumnya.

Terbukti dari negara-negara yang sampai hari ini dinilai suskes menangani virus ini. Misalnya Vietnam, Taiwan, Selandia Baru dan juga pemerintah China khususnya di Wuhan. Negara-negara yang disebutkan, dari awal cepat tanggap, mempersiapkan protokol yang ketat. Didukung oleh kepatuhan dan kedisiplinan rakyatnya. Dan satu lagi, tidak mencla-mencle.

Gowa, 25 Ramadhan 1441 H/18 Mei 2020

Kamis, 14 Mei 2020

Kearifan Orang-orang Kecil

(Ilustrasi; BeritaSatu.com)
Akun Facebook Humas Pemkab Gowa (10/05/ 2020) memberitakan; Irma, salah seorang warga Dusun Bontocinde, Desa Bontoramba, Kecamatan Pallangga memilih mengembalikan Paket sembako yang disalurkan Pemerintah Kabupaten Gowa melalui Pemerintah Desa. Pengembalikan bantuan itu dengan alasan dia telah menerima bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial.

Dari sumber yang sama. Di Kecamatan Parangloe juga diberitakan, seorang ibu rumah tangga bernama Daeng Saralia mengembalikan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Warga lingkungan Parang Kelurahan Lanna ini mengembalikan Uang sejumlah Rp 600.000 juga dengan alasan yang sama, yang bersangkutan adalah sebagai penerima bantuan PKH.

Akun Instagram Makassar_info (10/05/2020) mengunggah sebuah video yang memperlihatkan seorang warga yang mengembalikan bantuan sosial yang diantarkan petugas ke rumahnya. Warga yang kemudian diketahui bernama Alimin Dg Ngitung itu adalah warga dusun Pangajiang Desa Parigi Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Adapun alasan Alimin mengembalikan bansos itu adalah karena merasa masih ada yang lebih membutuhkan. “Merasa ada yang lebih membutuhkan, bapak ini memberikan kembali bantuan bansos kepada petugas lapangan”, demikian caption yang menyertai video tersebut.

Di Banyumas belasan warga desa Kemranjen juga mengembalikan BLT yang diterimanya dengan alasan mereka adalah orang-orang yang mampu dan tidak layak menerimanya. Siti Khasanah, salah seorang warga berterima kasih kepada Bapak Presiden dan berharap bantuan itu diserahkan kepada yang lebih berhak (cnnindonesia.com/tv).

Di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam Sumatera Barat sekitar 200 orang warga yang juga mengembalikan beras bantuan pemerintah. Mereka mengembalikan karena merasa masih berkecukupan dan ingin berbagi dengan warga lain yang lebih membutuhkan.

Salah satunya adalah seorang nenek bernama Opet. Meskipun tidak masuk pada kategori mampu tetapi dia dengan ikhlas mengembalikan bantuan itu. Hal ini sebagai wujud keprihatinannya dengan banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan akibat dari pademi ini (metrotvnews).

Tribunnews.com juga memberitakan; di Kulon Progo, DI Yogyakarta, seorang kakek bernama Suwardi merasa bersalah hingga tak bisa tidur lantaran mendapatkan undangan untuk mengambil BLT dari pemerintah. Rasa bersalahnya lantaran kakek yang sering dipanggil Mbah Wardi ini mendapat bantuan sebanyak dua kali. BLT yang bersumber dari APBDes dan Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kementerian Sosial. Nilainya sama, Rp. 600.000 perbulan selama tiga bulan.

Karena dobel maka Mbah Wardi mengembalikan dana sebesar Rp.600.000 ke Pemerintah Desa. Selanjutnya dia diberi tahu hanya akan menerima dari Kementerian Sosial.

Akun Twitter @kitabisacom (16 April 2020) mengunggah sebuah video yang kemudian diketahui terjadi di Kabupaten Agam Sumatera Barat. Seorang nenek menolak bantuan beras dari petugas. Nenek tersebut menolak karena merasa masih mampu mencukupi kebutuhan makanan pokok tersebut. Menurut sang nenek persediaan berasnya masih bisa untuk tiga bulan ke depan.

Bahagia sekali membaca berita-berita ini. Setidaknya ada berita baik. Berita yang memberikan harapan; denyut hati nurani masih ada. Dulu sempat ragu ketika seorang wanita penerima bantuan kecewa dengan paket yang diterimanya. Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, dia melampiaskan kekecewaannya, mengamuk dan memaki-maki gubernurnya. Bahkan mengajak orang-orang yang bersamanya untuk memotong-motong gubernurnya dan memasukkannya ke dalam karung. Sadis!

Bahwa ini adalah fakta bahwa pendataan warga masih semrawut, harus diakui. Tetapi itu soal lain. Yang menarik adalah sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang kecil ini yang sangat mengagumkan, sangat arif. Mereka tidak rela mengambil sesuatu yang bukan haknya. Merasa berdosa sampai-sampai Mbah Wardi tidak bisa tidur karena mendapat dua jatah bantuan yang seharusnya hanya satu. Nenek Opet rela menyerahkan bantuan yang dia terima kepada orang lain yang lebih membutuhkan, meskipun dia sendiri berhak menerimanya.

Andai saja sikap seperti ini juga dimiliki oleh para penyelenggara Negara dan juga orang-orang berpunya di negeri ini maka kemakmuran tidak hanya sekadar impian. Sangat disayangkan mental korup dan penyalahgunaan kekuasaan masih saja menjadi mimpi buruk.

Sumber daya alam yang melimpah dan sejatinya dinikmati oleh seluruh rakyat justru hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Pengelolaannya pun sebagian diserahkan ke negara lain yang menurut banyak ahli, berpotensi membawa kerugian Negara.

Membaca berita tentang penghasilan kanal youtube teratas di Indonesia yang dimuat di Tribunwow.com (12/05/2020), saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, ada yang diproyeksikkan memiliki penghasilan US $ 29,800 juta – US$ 476.500 per bulan. Setara dengan Rp 447 juta - 7,15 miliar perbulan (dengan kurs Rp 15.000 per dolar AS). Ini baru satu orang. Belum yang lainnya.

Belum termasuk pengusaha, pejabat, dan juga pejabat yang merangkap pengusaha. Kelompok ini bahkan banyak yang memiliki aset hingga triliunan. Menghitung nolnya saja kita bisa kelimpuhan. Apalagi hanya menggunakan kalkulator penjual telur di pasar-pasar tradisional di pelosok kampung.
Kembali berandai-andai. Andai saja mereka ini memiliki sikap seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang kecil yang diberitakan itu, maka persoalan kemiskinan akan menjadi lebih mudah ditangani.

Masyarakat kita adalah sumber kearifan yang tidak pernah habis untuk diselami. Corona telah memaksa kita membuka mata lebar-lebar menyaksikan itu semua. ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Semoga menjadi bahan renungan.

Gowa, 21 Ramadhan 1441 H/14 Mei 2020

Minggu, 10 Mei 2020

Ramadhan Spesial




Biasanya kalau akan memasuki Ramadhan, saya sudah mempersiapkan kebutuhan untuk anak-anak. Terutama baju lebaran. Saya tidak ingin mengganggu kenyamanan berpuasa dengan harus berdesakan-desakan di pasar-pasar atau pertokoan, hanya untuk urusan baju lebaran. Dengan cara ini saya bisa merdeka ketika orang lain masih berkeliling keluar masuk toko di akhir-akhir Ramadhan. Sayang sekali jika akhir Ramadhan yang seharusnya digunakan untuk memperbanyak ibadah, malah digunakan untuk keliling pasar, mall atau semacamnya.

Namun Ramadhan tahun ini berbeda. Semua tiba-tiba tidak berselera berbicara baju lebaran. Beberapa kali saya coba memancing, responnya hanya saling tatap. Tidak ada jawaban. Mungkin lagi bingung: mau lebaran ke mana? Corona menghadang di mana-mana.

Sahur pertama Ramadhan, biasanya dihidangkan menu spesial, agak bedalah dengan yang biasanya. Sekadar memotivasi anak-anak untuk bangun sahur. Tetapi sahur pertama Ramadhan kali ini menunya tidak spesial, biasa saja. Anehnya, pun tidak ada wajah-wajah kecewa di antara peserta sahur. Mereka tetap bersemangat menghadapi hidangan, siap berpuasa di hari pertama Ramadhan. Menu buka puasa pun tidak hingar-bingar, hanya kue kreasi ibunya dengan bahan seadanya yang sempat ditemukan di lemari dapur. Alhmadulillah buka puasanya tetap ceria.

Corona telah membuat Ramadhan tahun ini tampil tak biasa. Sederhana dan bersahaja. Pemberlakuan pembatasan sosial menimbulkan masalah sosial-ekonomi. Begitu banyak orang yang kehilangan pekerjaaan, tinggal di rumah tanpa penghasilan. Sementara mereka harus menghidupi anak dan istrinya. Bantuan pemerintah, kalau pun ada tentu sangat terbatas. Makhlum, Indonesia tidak seperti Jepang yang mampu menggaji rakyatnya Rp 14.400.000 per orang selama masa lockdown.

Bukan hanya kemampuan anggaran yang terbatas, manajemen penyaluran bantuan pun dipertanyakan. Data tidak valid, banyak penduduk miskin yang tidak terdata. Netizen sampai bilang begini : “Bansos banyak yang tidak terdata. Tapi kalau Pemilu, semua kedata. Bahkan orang gila aja terdata.” Benarkah? 

Saatnya Ramadhan benar-benar teraktualisasi. Ramadhan yang tidak hanya meresapi teori-teorinya tetapi melaksanakan ajarannya.

Sudah terlalu sering kita mendengar dan bahkan mungkin berpidato tentang empati. Bahwa puasa mengajarkan rasa empati. Sekarang saatnya empati itu benar-benar mewujud. Resapi apa yang dialami saudara-saudara kita yang secara ekonomi kurang beruntung. Ketika berpuasa, kita merasakan lapar di siang hari, demikianlah yang dirasakan oleh kaum papa. Terkadang mereka harus menahan lapar berhari-hari tanpa sesuap nasi mengisi perutnya.

Di tengah merebaknya covid-19 ini, kita disajikan kabar yang memilukan. Seorang ibu rumah tangga di kota Serang, Banten meninggal dunia diduga karena kelaparan akibat bertahan di rumah tanpa memiliki makanan. Perempuan itu bersama keluarganya menahan lapar selama dua hari hanya dengan meminum air minum galon.

Lalu, di Batam, Kepulauan Riau, seorang pria yang menanggung empat orang anaknya kehabisan uang untuk membeli bahan makanan. Sampai harus menawar-nawarkan ponselnya seharga Rp 10.000 untuk membeli beras.

Dua kasus ini hanya contoh, mungkin masih banyak kasus serupa di berbagai tempat namun tidak terekspos di media. Bisa jadi jumlahnya lebih banyak lagi. Sangat menyedihkan.

Itulah sebabnya mengapa Ramadhan tahun ini sangat istimewa, Ramadhan pembuktian. Bukankah yang diseru berpuasa adalah orang-orang beriman? Dan sangat tidak layak seorang yang beriman merasakan kenyang sementara dia tahu tetangganya dalam keadaan lapar. “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya padahal dia mengetahuinya” (HR. at-Thabrani).

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW berpesan kepada Abu Dzar RA, “jika engkau memasak masakan berkuah, perbanyaklah kuahnya. Kemudian lihatlah anggota keluarga dari tetanggamu, maka berikanlah kepada mereka dengan baik” (HR. Muslim).

Empati juga harus diwujudkan dengan menahan diri dari budaya pamer. Pamer menu buka puasa atau menu sahur misalnya. Termasuk pamer persiapan baju lebaran, padahal lebarannya bisa jadi tetap di rumah saja.

Covid-19 telah menambah daftar panjang saudara-saudara kita yang perlu mendapat uluran tangan. Berbagi untuk mengurangi beban mereka adalah bagian dari penanda sukses ibadah puasa yang kita jalankan.


Keharusan berdiam di rumah, warna lain Ramdhan tahun ini. Ramadhan terasa ringan, tidak banyak tantangan. Kesempatan beribadah terbuka dengan lebar. Baca Qur’an dan shalat-shalat sunnah dapat dengan seluasa dilakukan. Peluang berbuat dosa terkurangi karena pertemuan dengan banyak orang sangat terbatas.

Jika dipersiapkan dengan baik, tentu suasananya akan terasa nikmat. Saat ini kita berkumpul di rumah bersama keluarga. Maka jadikan rumah sebagai pusat ibadah, hidupkan Ramadhan dengan melaksanakan ibadah secara bersama-sama. Shalat berjamaah, tadarrus bersama, sahur, dan buka puasa bersama. Yakinlah Ramadhan tahun ini akan semakin merekatkan kebersamaan dalam keluarga. Sangat merugi jika disia-siakan.

Namun perlu diingat,rumah bukanlah tempat yang steril dari godaan berbuat dosa. Jadi meskipun berkurung di rumah, tetapi bukan berarti peluang itu tertutup sama sekali. Media sosial sebagai sarana baru pendulang dosa benar-benar tidak bisa disepelekan. Maka waspadalah terhadap godaan medsos. Batasi percakapan atau mengakses sesuatu di medsos hanya untuk yang penting-penting saja.

Tentu kita merasa tidak nyaman dengan kondisi Ramadhan tahun ini. Masjid sepi, gerak ekonomi melambat, agenda silaturahmi banyak tertunda, virus yang mengancam, dan problem sosial yang menghadang. Namun apapun adanya kita harus menerima ini sebagai bagian dari skenario Allah. Sebagai orang beriman kita pasti meyakini bahwa tidak satu pun yang terjadi di muka bumi ini tanpa izin-Nya, di balik setiap peristiwa pasti ada hikmah-Nya.

Demikian pula dengan wabah corona ini, begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Terlebih kehadirannya berbarengan dengan Ramadhan. Corona dan Ramadhan kedua-duanya adalah guru kehidupan. Keduanya membawa pesan-pesan Sang Pencipta untuk mengembalikan kehidupan makhluk pada fitrah yang sesungguhnya.

Semoga kita menjadi pembelajar yang baik.

Gowa, 17 Ramadhan 1441 H/10 Mei 2020

Sabtu, 02 Mei 2020

Belajar dari Covid-19


Judul di atas adalah tema yang dipilih oleh Kemdikbud dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini. Peringatan yang tentu jauh dari hingar bingar seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini bahkan upacara bendara di satuan-satuan pendidikan serta di instansi-instansi pun ditiadakan. Tidak mengapa. Bukankah yang terpenting dari sebuah peringatan adalah seberapa banyak kita mengambil pelajaran dari peristiwa yang dikenang. Bukan seberapa ramai dan seberapa meriah prosesi peringatan itu.

Tema ini saya kira membawa pesan. Bahwa kita tidak boleh terus-menerus memaki corona sebagai sumber dari segala kesulitan yang ada. Mari rehat sejenak dan melihat apa yang bisa kita pelajari dari merebaknya wabah ini. Khususnya dalam kaitannya dengan pendidikan.

Covid-19 memaksa pemerintah mengambil langkah cepat menyelamatkan siswa dari terpapar virus. Siswa diliburkan, pembelajaran dilaksanakan di rumah dengan mode daring. Mau tidak mau, guru harus menyesuaikan diri dengan model pembelajaran ini. Meskipun kelihatannya banyak yang kesulitan. Jujur saja belum semua guru terbiasa menggunakan internet untuk pembelajaran. Kabar baiknya, mereka segera bergegas ikut pelatihan yang mendadak ramai.

Tiba-tiba pembelajaran daring menjadi tren di dunia pendidikan. Sesuatu yang mungkin dulu sulit dibayangkan. Akhirnya guru dan siswa terbiasa dengan aplikasi-aplikasi video konferensi, serta aplikasi pembelajaran daring lainnya.

Covid-19 telah mengintervensi dunia pendidikan. Memaksa untuk mengubah gaya pembelajaran. Bahwa pembelajaran tidak harus di ruang-ruang kelas. Pembelajaran tidak harus bertatap muka antara guru dengan siswa. Persepsi tentang ruang-ruang kelas seketika berubah. Tidak harus berbentuk fisik dengan sekat-sekat tembok di setiap satuan pendidikan. Tetapi bisa berupa kelas virtual di ruang-ruang maya. Bukan tidak mungkin, di masa depan, ruang-ruang fisik di sekolah lebih banyak difungsikan dalam kegiatan administratif daripada ruang belajar.

Dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, bisa diprediksi bahwa pembelajaran jarak jauh akan mendominasi model pembelajaran. Dengan atau tanpa corona sekalipun. Kehadiran corona hanya mempercepatnya. Corona membuka selaput ketidaksadaran kita selama ini tentang mitos, “guru tak tergantikan.” Faktanya perangkat komunikasi perlahan mulai menggeser peran guru sebagai pemegang otoritas dalam proses belajar mengajar. Ini adalah tantangan bagi praktisi pendidikan dan lembaga-lembaga kependidikan pemerintah maupun nonpemerintah.

Era digital telah membawa perubahan besar-besaran dalam pola hidup manusia. Aktivitas manusia mulai bergeser dari kehidupan nyata ke alam maya. Dunia menghadapi inovasi disruptif. Renald Kasali dalam bukunya, Disruption, memaparkan tumbangnya satu persatu perusahaan-perusahan besar yang ditengarai sebagai akibat inovasi destruptif ini.

Beberapa tahun yang lalu kita bisa melihat begaimana perkasanya Nokia merajai produk ponsel dunia. Tetapi penemuan smartphone telah merubah segalannya, Nokia pun tumbang. Hal yang sama juga dialami oleh Blackberry. Kodak yang menjadi pioner dalam perkembangan fotografi film harus menyerah di tangan kamera digital. Taksi konvensional harus rela memberi jalan untuk berkembangnya taksi online. Demikaian juga dengan ojek pangkalan yang tersingkir oleh ojek online.

Kita pun bisa menyaksikan begitu banyak jenis pekerjaan yang dulu akrab dengan kita sekarang harus menerima kenyataan, tidak terpakai lagi. Atau setidaknya perannya terkurangi. Digantikan dengan pendatang-pendatang baru.

Bagaimana dengan dunia pendidikan? Di dunia pendidikan, sepertinya pun mengarah ke sana. Kita bisa melihat bimbingan belajar kini telah banyak dilakukan secara daring. Lembaga-lembaga pelatihan juga telah melakukan hal yang sama. Perpustakaan pun sudah banyak yang digitalkan dan bisa diakses secara daring. Bahkan peminjaman buku bisa dilakukan tanpa seseorang harus meninggalkan rumah.

Fakta-fakta ini memperlihatkan kepada kita betapa dunia pendidikan khususnya profesi guru menghadapi tantangan yang tidak ringan. Dan untuk itu kita mestinya berterima kasih pada corona. Corona secara tidak langsung membuat tantangan ini yang semula tidak terlihat menjadi lebih nyata.

Corana telah menyentak kalangan pendidik segera berbenah. Berbenah sesegera mungkin. Menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Guru bukan hanya berhadapan dengan perangkat-perangkat canggih yang berkembangannya tidak terbendung. Tetapi juga berhadapan dengan generasi digital yang konon terlahir dengan “gadget di tangannya.”

Maka berubah adalah sebuah keniscayaan, bukan tawaran. Meminjam istilah Renald Kasali, guru harus mendisrupsi diri (self disruption). Bagaimana mungkin kita membelajarkan generasi zaman now dengan pengajaran zaman old? Bagaimana mungkin guru membereskan persoalan-persoalan kekinian dengan cara-cara kemarin? Bagaimana mungkin menghadapi anak-anak milineal dengan gaya kolonial?

Jika guru tidak membekali diri dengan penguasaan teknologi pembelajaran bukan tidak mungkin perannya akan tergeser oleh teknologi. Bisa jadi siswa akan lebih tertarik belajar ke google atau youtube daripada ke gurunya. Dan pendidikan akan menghasilkan manusia-manusia robot yang mungkin saja memiliki kompetensi yang baik tetapi jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Bukan hanya guru yang harus berbenah, lembaga-lembaga kependidikan pun demikian. Para pemegang kebijakan di bidang pendidikan, pembuat regulasi pun mestinya menyesuaikan diri. Kebijakan-kebijakan yang dihasilkan harus memberikan dukungan terhadap kemajuan pendidikan bukan justru menjadi penghambat. Perangkat kurikulum dirancang dan dipersiapkan untuk mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah. Aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan riil masa kini dan masa depan.

Memahami dengan baik kebutuhan dunia pendidikan dan fokus untuk memenuhinya. Pemenuhan kebutuhan akan perangkat teknologi dan sarana belajar lainnya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah konsisten dalam upaya peningkatan kompetensi guru.

Tiap-tiap celaka pasti ada gunanya. Pribahasa ini mengandung arti bawa setiap musibah sudah barang tentu ada hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik. Covid-19 adalah bencana yang berdampak demikian luas. Tetapi Covid-19 juga bisa menjadi sebab timbulnya revolusi besar-besaran dalam bidang pembelajaran. Mudah-mudahan ini menjadi wasilah bagi kemajuan pendidikan nasional.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020.
Jayalah pendidikan Indonesia

Gowa, 9 Ramadhan 1441 H/2 Mei 2020