Channel YouTube

Kamis, 14 Mei 2020

Kearifan Orang-orang Kecil

(Ilustrasi; BeritaSatu.com)
Akun Facebook Humas Pemkab Gowa (10/05/ 2020) memberitakan; Irma, salah seorang warga Dusun Bontocinde, Desa Bontoramba, Kecamatan Pallangga memilih mengembalikan Paket sembako yang disalurkan Pemerintah Kabupaten Gowa melalui Pemerintah Desa. Pengembalikan bantuan itu dengan alasan dia telah menerima bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial.

Dari sumber yang sama. Di Kecamatan Parangloe juga diberitakan, seorang ibu rumah tangga bernama Daeng Saralia mengembalikan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Warga lingkungan Parang Kelurahan Lanna ini mengembalikan Uang sejumlah Rp 600.000 juga dengan alasan yang sama, yang bersangkutan adalah sebagai penerima bantuan PKH.

Akun Instagram Makassar_info (10/05/2020) mengunggah sebuah video yang memperlihatkan seorang warga yang mengembalikan bantuan sosial yang diantarkan petugas ke rumahnya. Warga yang kemudian diketahui bernama Alimin Dg Ngitung itu adalah warga dusun Pangajiang Desa Parigi Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa. Adapun alasan Alimin mengembalikan bansos itu adalah karena merasa masih ada yang lebih membutuhkan. “Merasa ada yang lebih membutuhkan, bapak ini memberikan kembali bantuan bansos kepada petugas lapangan”, demikian caption yang menyertai video tersebut.

Di Banyumas belasan warga desa Kemranjen juga mengembalikan BLT yang diterimanya dengan alasan mereka adalah orang-orang yang mampu dan tidak layak menerimanya. Siti Khasanah, salah seorang warga berterima kasih kepada Bapak Presiden dan berharap bantuan itu diserahkan kepada yang lebih berhak (cnnindonesia.com/tv).

Di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam Sumatera Barat sekitar 200 orang warga yang juga mengembalikan beras bantuan pemerintah. Mereka mengembalikan karena merasa masih berkecukupan dan ingin berbagi dengan warga lain yang lebih membutuhkan.

Salah satunya adalah seorang nenek bernama Opet. Meskipun tidak masuk pada kategori mampu tetapi dia dengan ikhlas mengembalikan bantuan itu. Hal ini sebagai wujud keprihatinannya dengan banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan akibat dari pademi ini (metrotvnews).

Tribunnews.com juga memberitakan; di Kulon Progo, DI Yogyakarta, seorang kakek bernama Suwardi merasa bersalah hingga tak bisa tidur lantaran mendapatkan undangan untuk mengambil BLT dari pemerintah. Rasa bersalahnya lantaran kakek yang sering dipanggil Mbah Wardi ini mendapat bantuan sebanyak dua kali. BLT yang bersumber dari APBDes dan Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kementerian Sosial. Nilainya sama, Rp. 600.000 perbulan selama tiga bulan.

Karena dobel maka Mbah Wardi mengembalikan dana sebesar Rp.600.000 ke Pemerintah Desa. Selanjutnya dia diberi tahu hanya akan menerima dari Kementerian Sosial.

Akun Twitter @kitabisacom (16 April 2020) mengunggah sebuah video yang kemudian diketahui terjadi di Kabupaten Agam Sumatera Barat. Seorang nenek menolak bantuan beras dari petugas. Nenek tersebut menolak karena merasa masih mampu mencukupi kebutuhan makanan pokok tersebut. Menurut sang nenek persediaan berasnya masih bisa untuk tiga bulan ke depan.

Bahagia sekali membaca berita-berita ini. Setidaknya ada berita baik. Berita yang memberikan harapan; denyut hati nurani masih ada. Dulu sempat ragu ketika seorang wanita penerima bantuan kecewa dengan paket yang diterimanya. Dalam rekaman video yang beredar di media sosial, dia melampiaskan kekecewaannya, mengamuk dan memaki-maki gubernurnya. Bahkan mengajak orang-orang yang bersamanya untuk memotong-motong gubernurnya dan memasukkannya ke dalam karung. Sadis!

Bahwa ini adalah fakta bahwa pendataan warga masih semrawut, harus diakui. Tetapi itu soal lain. Yang menarik adalah sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang kecil ini yang sangat mengagumkan, sangat arif. Mereka tidak rela mengambil sesuatu yang bukan haknya. Merasa berdosa sampai-sampai Mbah Wardi tidak bisa tidur karena mendapat dua jatah bantuan yang seharusnya hanya satu. Nenek Opet rela menyerahkan bantuan yang dia terima kepada orang lain yang lebih membutuhkan, meskipun dia sendiri berhak menerimanya.

Andai saja sikap seperti ini juga dimiliki oleh para penyelenggara Negara dan juga orang-orang berpunya di negeri ini maka kemakmuran tidak hanya sekadar impian. Sangat disayangkan mental korup dan penyalahgunaan kekuasaan masih saja menjadi mimpi buruk.

Sumber daya alam yang melimpah dan sejatinya dinikmati oleh seluruh rakyat justru hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Pengelolaannya pun sebagian diserahkan ke negara lain yang menurut banyak ahli, berpotensi membawa kerugian Negara.

Membaca berita tentang penghasilan kanal youtube teratas di Indonesia yang dimuat di Tribunwow.com (12/05/2020), saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, ada yang diproyeksikkan memiliki penghasilan US $ 29,800 juta – US$ 476.500 per bulan. Setara dengan Rp 447 juta - 7,15 miliar perbulan (dengan kurs Rp 15.000 per dolar AS). Ini baru satu orang. Belum yang lainnya.

Belum termasuk pengusaha, pejabat, dan juga pejabat yang merangkap pengusaha. Kelompok ini bahkan banyak yang memiliki aset hingga triliunan. Menghitung nolnya saja kita bisa kelimpuhan. Apalagi hanya menggunakan kalkulator penjual telur di pasar-pasar tradisional di pelosok kampung.
Kembali berandai-andai. Andai saja mereka ini memiliki sikap seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang kecil yang diberitakan itu, maka persoalan kemiskinan akan menjadi lebih mudah ditangani.

Masyarakat kita adalah sumber kearifan yang tidak pernah habis untuk diselami. Corona telah memaksa kita membuka mata lebar-lebar menyaksikan itu semua. ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Semoga menjadi bahan renungan.

Gowa, 21 Ramadhan 1441 H/14 Mei 2020

0 komentar:

Posting Komentar