Channel YouTube

Minggu, 10 Mei 2020

Ramadhan Spesial




Biasanya kalau akan memasuki Ramadhan, saya sudah mempersiapkan kebutuhan untuk anak-anak. Terutama baju lebaran. Saya tidak ingin mengganggu kenyamanan berpuasa dengan harus berdesakan-desakan di pasar-pasar atau pertokoan, hanya untuk urusan baju lebaran. Dengan cara ini saya bisa merdeka ketika orang lain masih berkeliling keluar masuk toko di akhir-akhir Ramadhan. Sayang sekali jika akhir Ramadhan yang seharusnya digunakan untuk memperbanyak ibadah, malah digunakan untuk keliling pasar, mall atau semacamnya.

Namun Ramadhan tahun ini berbeda. Semua tiba-tiba tidak berselera berbicara baju lebaran. Beberapa kali saya coba memancing, responnya hanya saling tatap. Tidak ada jawaban. Mungkin lagi bingung: mau lebaran ke mana? Corona menghadang di mana-mana.

Sahur pertama Ramadhan, biasanya dihidangkan menu spesial, agak bedalah dengan yang biasanya. Sekadar memotivasi anak-anak untuk bangun sahur. Tetapi sahur pertama Ramadhan kali ini menunya tidak spesial, biasa saja. Anehnya, pun tidak ada wajah-wajah kecewa di antara peserta sahur. Mereka tetap bersemangat menghadapi hidangan, siap berpuasa di hari pertama Ramadhan. Menu buka puasa pun tidak hingar-bingar, hanya kue kreasi ibunya dengan bahan seadanya yang sempat ditemukan di lemari dapur. Alhmadulillah buka puasanya tetap ceria.

Corona telah membuat Ramadhan tahun ini tampil tak biasa. Sederhana dan bersahaja. Pemberlakuan pembatasan sosial menimbulkan masalah sosial-ekonomi. Begitu banyak orang yang kehilangan pekerjaaan, tinggal di rumah tanpa penghasilan. Sementara mereka harus menghidupi anak dan istrinya. Bantuan pemerintah, kalau pun ada tentu sangat terbatas. Makhlum, Indonesia tidak seperti Jepang yang mampu menggaji rakyatnya Rp 14.400.000 per orang selama masa lockdown.

Bukan hanya kemampuan anggaran yang terbatas, manajemen penyaluran bantuan pun dipertanyakan. Data tidak valid, banyak penduduk miskin yang tidak terdata. Netizen sampai bilang begini : “Bansos banyak yang tidak terdata. Tapi kalau Pemilu, semua kedata. Bahkan orang gila aja terdata.” Benarkah? 

Saatnya Ramadhan benar-benar teraktualisasi. Ramadhan yang tidak hanya meresapi teori-teorinya tetapi melaksanakan ajarannya.

Sudah terlalu sering kita mendengar dan bahkan mungkin berpidato tentang empati. Bahwa puasa mengajarkan rasa empati. Sekarang saatnya empati itu benar-benar mewujud. Resapi apa yang dialami saudara-saudara kita yang secara ekonomi kurang beruntung. Ketika berpuasa, kita merasakan lapar di siang hari, demikianlah yang dirasakan oleh kaum papa. Terkadang mereka harus menahan lapar berhari-hari tanpa sesuap nasi mengisi perutnya.

Di tengah merebaknya covid-19 ini, kita disajikan kabar yang memilukan. Seorang ibu rumah tangga di kota Serang, Banten meninggal dunia diduga karena kelaparan akibat bertahan di rumah tanpa memiliki makanan. Perempuan itu bersama keluarganya menahan lapar selama dua hari hanya dengan meminum air minum galon.

Lalu, di Batam, Kepulauan Riau, seorang pria yang menanggung empat orang anaknya kehabisan uang untuk membeli bahan makanan. Sampai harus menawar-nawarkan ponselnya seharga Rp 10.000 untuk membeli beras.

Dua kasus ini hanya contoh, mungkin masih banyak kasus serupa di berbagai tempat namun tidak terekspos di media. Bisa jadi jumlahnya lebih banyak lagi. Sangat menyedihkan.

Itulah sebabnya mengapa Ramadhan tahun ini sangat istimewa, Ramadhan pembuktian. Bukankah yang diseru berpuasa adalah orang-orang beriman? Dan sangat tidak layak seorang yang beriman merasakan kenyang sementara dia tahu tetangganya dalam keadaan lapar. “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya padahal dia mengetahuinya” (HR. at-Thabrani).

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW berpesan kepada Abu Dzar RA, “jika engkau memasak masakan berkuah, perbanyaklah kuahnya. Kemudian lihatlah anggota keluarga dari tetanggamu, maka berikanlah kepada mereka dengan baik” (HR. Muslim).

Empati juga harus diwujudkan dengan menahan diri dari budaya pamer. Pamer menu buka puasa atau menu sahur misalnya. Termasuk pamer persiapan baju lebaran, padahal lebarannya bisa jadi tetap di rumah saja.

Covid-19 telah menambah daftar panjang saudara-saudara kita yang perlu mendapat uluran tangan. Berbagi untuk mengurangi beban mereka adalah bagian dari penanda sukses ibadah puasa yang kita jalankan.


Keharusan berdiam di rumah, warna lain Ramdhan tahun ini. Ramadhan terasa ringan, tidak banyak tantangan. Kesempatan beribadah terbuka dengan lebar. Baca Qur’an dan shalat-shalat sunnah dapat dengan seluasa dilakukan. Peluang berbuat dosa terkurangi karena pertemuan dengan banyak orang sangat terbatas.

Jika dipersiapkan dengan baik, tentu suasananya akan terasa nikmat. Saat ini kita berkumpul di rumah bersama keluarga. Maka jadikan rumah sebagai pusat ibadah, hidupkan Ramadhan dengan melaksanakan ibadah secara bersama-sama. Shalat berjamaah, tadarrus bersama, sahur, dan buka puasa bersama. Yakinlah Ramadhan tahun ini akan semakin merekatkan kebersamaan dalam keluarga. Sangat merugi jika disia-siakan.

Namun perlu diingat,rumah bukanlah tempat yang steril dari godaan berbuat dosa. Jadi meskipun berkurung di rumah, tetapi bukan berarti peluang itu tertutup sama sekali. Media sosial sebagai sarana baru pendulang dosa benar-benar tidak bisa disepelekan. Maka waspadalah terhadap godaan medsos. Batasi percakapan atau mengakses sesuatu di medsos hanya untuk yang penting-penting saja.

Tentu kita merasa tidak nyaman dengan kondisi Ramadhan tahun ini. Masjid sepi, gerak ekonomi melambat, agenda silaturahmi banyak tertunda, virus yang mengancam, dan problem sosial yang menghadang. Namun apapun adanya kita harus menerima ini sebagai bagian dari skenario Allah. Sebagai orang beriman kita pasti meyakini bahwa tidak satu pun yang terjadi di muka bumi ini tanpa izin-Nya, di balik setiap peristiwa pasti ada hikmah-Nya.

Demikian pula dengan wabah corona ini, begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Terlebih kehadirannya berbarengan dengan Ramadhan. Corona dan Ramadhan kedua-duanya adalah guru kehidupan. Keduanya membawa pesan-pesan Sang Pencipta untuk mengembalikan kehidupan makhluk pada fitrah yang sesungguhnya.

Semoga kita menjadi pembelajar yang baik.

Gowa, 17 Ramadhan 1441 H/10 Mei 2020

0 komentar:

Posting Komentar