![]() |
| (Ilustrasi : experd.com) |
Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar Ash-shiddiq dibaiat menjadi Khalifah. Di awal kekhalifahan Abu Bakar, kaum Muslimin menghadapi ancaman perpecahan. Beberapa kelompok secara terang-terangan murtad dan menolak membayar zakat. Ini adalah sebuah ancaman yang serius dan jika tidak segera diselesaikan akan menjadi masalah besar di kemudian hari. Sang Khalifah memutuskan untuk memerangi mereka.
Sikap Abu Bakar tidak disetujui oleh beberapa orang sahabat. Umar bin Khattab mendatangi Abu Bakar dan meminta untuk mengurungkan niatnya memerangi mereka. Umar berkata; “ Wahai Khalifah Rasul, bersikap lembutlah kepada umat. Mereka sekarang seperti binatang liar (karena baru ditinggalkan Nabi).”
Mendengar saran sahabatnya itu, Abu Bakar dengan tegas mengatakan; “Demi Allah, akan kuperangi mereka selama pedang dalam genggaman tanganku. Walau benda yang tidak mau mereka bayarkan itu hanya tali kekang kuda.” Dalam riwayat yang lain Abu Bakar berkata; “Demi Allah, aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat, karena zakat adalah haknya harta. Demi Allah seandainya mereka tidak mau menyerahkan tali kekang unta yang dulu pernah mereka serahkan kepada Rasulullah, aku akan memerangi mereka.”
Abu bakar tanpa ragu melaksanakan rencananya. Beliau segera menyiapkan pasukan untuk dikirim ke wilayah kaum murtad. Ekspedisi militer yang dikirim ini berhasil dengan gemilang. Islam terselamatkan dari orang-orang yang mencoba mempermainkan agama ini.
Sikap tegas Abu Bakar juga terlihat pada perdebatan mengenai pengiriman pasukan Usamah bin Zaid. Sebelum Nabi wafat, beliau telah mempersiapkan pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid untuk diberangkatkan ke Balqa (Romawi). Ketika Nabi wafat situasi menjadi tidak menentu. Banyak suku yang murtad, yang lainnya menolak menyerahkan zakat. Beredar pula desas-desus bahwa orang-orang Arab Badui akan menyerang Madinah.
Melihat situasi yang demikian, para sahabat meminta kepada Abu Bakar untuk membatalkan pemberangkatan pasukan Usamah. Namun, Abu Bakar menolak dan memutuskan pasukan Usamah tetap harus diberangkatkan. Abu Bakar berkata; “Demi zat yang jiwa Abu Bakar berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya binatang buas menyerangku, tetap kuberangkatkan pasukan Usamah seperti yang telah diperintahkan Rasulullah. Walaupun di tempat ini yang tersisa hanya aku, tetap kuberangkatkan pasukan Usamah.”
Alhasil, pasukan Usamah diberangkatkan dan kembali dengan membawa kemenangan. Pasukan Usamah sekaligus menjadi show of power Negara Madinah yang menciutkan nyali suku-suku yang semula ingin memberontak sepeninggal Nabi SAW.
Dua kebijakan yang diambil Abu Bakar di awal kekhalifahannya dua-duanya adalah pilihan yang sulit. Tetapi harus segera diputuskan, Negara dalam ancaman. Keliruh dalam bersikap apalagi tidak tegas mengambil kebijakan maka masa depan Negara menjadi taruhannya.
Abu Bakar berhasil menghilangkan bibit-bibit perpecahan dalam negeri dan juga menegakkan kewibawaan Islam di wilayah-wilayah lain.
Pengaruh dari kebijakan Abu Bakar ini tergambar dari apa yang dikatakan oleh Umar bin Khattab setelah kaum murtad berhasil dikalahkan. Umar berkata; “Abu Bakar benar-benar melaksanakan komitmennya. Dia tidak mendengar pendapatku. Dia justru makin yakin dengan keputusannya memerangi mereka dan mengajak manusia untuk melakukan hal-hal yang dampaknya bisa kami rasakan saat aku memimpin mereka”.
Pengakuan ini juga datang dari Abu Hurairah. Beliau mengatakan; “Demi zat yang tiada Tuhan selain Dia, seandainya Abu Bakar tidak diangkat sebagai khalifah pasti tidak ada lagi yang menyembah Allah.” (Tarikh Khulafah, Ibrahim al-Quraibi).
Peristiwa yang lain. Tentang penaklukan benteng Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih. Konstantinopel dianggap sebagai salah satu kota terpenting di dunia, dibangun sejak tahun 330 Masehi. Posisinya sangat strategis sehingga ada yang mengatakan, “andaikata dunia berbentuk satu kerajaan, maka Konstantinopel akan menjadi kota yang paling cocok untuk menjadi ibukota kerajaan itu.”
Ketika kaum Muslimin berjihad melawan kekaisaran Byzantium, Konstantinopel menjadi penghalang yang sulit ditaklukkan. Itulah sebabnya beberapa pemimpin kaum Muslimin menjadikan penaklukan benteng itu sebagai agenda utamanya. Termasuk Sultan Muhammad II dari Kesultanan Turki Utsmani atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Al-Fatih.
Sejak dilantik menjadi Sultan, Al-Fatih sudah mempersiapkan rencana besar penaklukan. Segala kebutuhan perang dipersiapkan dengan matang.
Penakukan Konstantinopel bukan perkara mudah, benteng itu dilindungan dengan pertahanan berlapis yang sulit ditembus. Dalam sebuah pertempuran di Teluk Tanduk Emas, angkatan laut Utsmani berhasil dipukul mundur oleh pasukan gabungan dari beberapa negara Eropa yang membantu Byzantium. Al-Fatih marah besar dan langsung mencopot panglima armada lautnya.
Keadaan ini digunakan oleh para pembisik untuk membatalkan misi itu. Perdana Menteri Khalil Pasya menghadap Sultan dan membujuknya untuk menghentikan serangan dan melupakan impiannya menaklukkan Konstantinopel dan berdamai dengan Byzantium. Tetapi Sultan tidak menghiraukan. Dia tetap pada pendiriannya, tidak bergeser sedikit pun.
Serangan dilanjutkan. Akhirnya, pada bulan Mei 1453 Konstantinopel berhasil direbut oleh pasukan Utsmani. Keberhasilan ini disambut dengan suka cita di wilayah-wilayah Islam. Menjadi kisah yang sangat membanggakan hingga saat ini.
Dari dua tokoh yang kita bicarakan ini, kita belajar bahwa integritas pemimpin sangat menentukan. Baik Abu Bakar maupun Al-Fatih adalah pemimpin yang memiliki ketegasan untuk berpegang teguh pada apa yang diyakininya benar. Dan bersungguh-bersungguh berjuang untuk membuktikannya. Andai saja Abu Bakar atau Al-Fatih terpengaruh dengan para pembisiknya maka sejarah Islam tidak akan memperlihatkan kegemilangan selama kurang lebih 13 abad lamanya.
Saat ini seluruh dunia sedang menghadapi perang besar. Perang melawan corona. Ini musuh yang luar biasa, sampai presiden “sepede” Donald Trump pun dibuat frustrasi. Kelompok Yakuza, kelompok kriminal paling ditakuti di Jepang mengalami kebangkrutan. Hingga anggotanya beralih profesi menjadi penjual masker. Bahkan ketua gangster terkuat di Meksiko, Moises Escamilla May dikabarkan tewas hanya dua hari setelah terinfeksi virus ini. Hingga tulisan ini buat, covid-19 telah menewaskan lebih dari tiga ratus ribu orang di dunia. Ngeri!
Jika musuh sedemikian menakutkan maka tentu penanganannya pun tidak boleh main-main. Strategi yang dipilih harus jelas dan tegas sebagaimana yang dicontohkan pada kisah sejarah dari dua tokoh kita sebelumnya.
Terbukti dari negara-negara yang sampai hari ini dinilai suskes menangani virus ini. Misalnya Vietnam, Taiwan, Selandia Baru dan juga pemerintah China khususnya di Wuhan. Negara-negara yang disebutkan, dari awal cepat tanggap, mempersiapkan protokol yang ketat. Didukung oleh kepatuhan dan kedisiplinan rakyatnya. Dan satu lagi, tidak mencla-mencle.
Gowa, 25 Ramadhan 1441 H/18 Mei 2020


0 komentar:
Posting Komentar