Channel YouTube

Selasa, 24 November 2020

Musik PJJ

 




Lagi bersemangat. Selesai mengikuti Bimbingan Tekhnik (Bimtek) guru belajar seri pandemic covid-19. Bimtek ini diadakan oleh Dirjen GTK secara daring melalui sim PKB masing-masing guru. Mengikuti bimtek ini sangat mudah. Guru bisa belajar secara mandiri dengan menentukan jadwal sesuai dengan waktu longgarnya. Waktu belajar juga sangat luwes, kapan saja. Asal tidak di luar jadwal yang sudah dipilih. Sangat mudah dan tentu sangat membantu guru dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama covid-19 ini. Beruntung saya bisa mengikutinya.


Tidak sabar ingin mempraktekkan ilmu yang diperoleh, beberapa waktu lalu saya memulai pembelajaran dengan terlebih dahulu memberikan asesmen nonkognitif, sesuatu yang sangat ditekankan dalam Bimtek. Asesmen nonkognitif dimaksudkan untuk menggali informasi mengenai keadaan siswa. Keadaan keluarganya, kondisi tempat tinggalnya, termasuk ketersediaan perangkat pendukung pembelajaran. Dengan mengetahui kondisi siswa yang sebenarnya maka guru dapat menyesuaikan mode serta alat pembelajaran yang digunakan. Cara ini diharapkan bisa membantu mengatasi hambatan pelaksanaan PJJ.


Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan ke siswa sekitar ketersediaan smartphone, kualitas jaringan di sekitar tempat tinggalnya, dukungan orang tua, model pembelajaran yang mereka sukai. Tidak ketinggalan bagaimana tanggapan mereka tentang aktivitas pembelajaran yang selama ini berlangsung. Apa saran mereka untuk pembelajaran mendatang.


Dari hasil asesmen ini, saya paham. Rupanya problem PJJ bukan hanya masalah perangkat seperti smarphone, bukan juga sekedar kualitas jaringan yang uring-uringan, atau pembeli kuota yang entah di mana memperolehnya. Tetapi juga persoalan ketentraman lingkungan.


Ketika saya Tanya tentang kondisi tempat tinggalnya, seorang siswa dengan panjang lebar menuliskan keluhannya. Dia tinggal di lingkungan yang lumayan padat penduduk. Pandemik covid-19 membuat orang lebih banyak tinggal di rumah. Hal ini membuat kebanyakan orang membuat kesibukan masing-masing untuk melawan rasa bosan. Menggeliatnya pencinta bunga akhir-akhir ini boleh jadi adalah pelampiasan dari rasa bosan itu. Dalam batas-batas yang wajar, tentu ini sangat positif. Konon bunga bisa menyegarkan mata, menenangkan pikiran dan mendamaikan hati. Artinya sibuk dengan bunga bisa meningkatkan imun tubuh. Ahli kesehatan mengatakan, imun tubuh yang kuat bisa menjadi penangkal covid-19. Berbahagialah mereka yang sibuk dengan bunga.


Menjamurnya pesepada juga bisa jadi motifnya sama. Daripada nganggur, lebih baik ambil sepeda, gowes. Dapat sehatnya banyak kenalan dan terhibur. Sangat positif.


Namun ada pula yang memilih kesibukan yang merugikan orang sekitarnya. Contohnya seperti apa yang dikeluhkan oleh siswa yang saya diceritakan di atas. Tetangganya memilih kesibukan yang justru membuat sang siswa stress. Betapa tidak, tetangga yang tidak memiliki kepekaan ini saban hari memutar musik keras-keras, berkaraoke ria, tanpa mengena waktu. “Bagaimana saya bisa konsentrasi belajar pak kalau telingaku penuh dengan suara musik?”, keluhnya. “Apa tidak ada yang tegur?”, tanyaku. “Tidak ada pak, saya sendiri tidak berani. Jadi saya pasrah saja, meskipun tersiksa karena tidak bisa mengikuti pembejaran dengan baik”, jawabnya.


Saya tertegun membaca chatnya. Selama ini kita sibuk mempersoalkan jaringan, kuota, dan smartphone. Tetapi abai mempersiapkan lingkungan belajar yang nyaman bagi anak-anak kita. Sudahlah cara belajarnya ribet,  ditambah lingkungan yang tidak mendukung. Lengkap sudah derita ini.


Bukan hanya siswa, guru, pekerja kantoran serta karyawan pun memerlukan lingkungan yang nyaman. Saat ini rapat-rapat kantor lebih banyak dilakukan secara virtual. Guru-guru mengikuti pelatihan juga secara daring. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya sebuah vidcon yang dipenuhi oleh suara musik.


Sangat mendesak, memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang kondisi ini. Aparat pemerintah setempat, dan semua tokoh masyarakat harus pro aktif dalam upaya menciptakan rasa aman dan nyaman. Demikian juga pihak sekolah, harus jeli mendeteksi problem yang dihadapi siswa. Di samping menjalin komunikasi yang intens dengan orang tua siswa dan seluruh pihak yang berkepentingan. Keberhasilan PJJ sangat ditentukan oleh dukungan semua pihak sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.

 


Berdikari 1, 24 Nopember 2020

0 komentar:

Posting Komentar