Lagi bersemangat. Selesai mengikuti Bimbingan Tekhnik (Bimtek)
guru belajar seri pandemic covid-19. Bimtek ini diadakan oleh Dirjen GTK secara
daring melalui sim PKB masing-masing guru. Mengikuti bimtek ini sangat mudah.
Guru bisa belajar secara mandiri dengan menentukan jadwal sesuai dengan waktu
longgarnya. Waktu belajar juga sangat luwes, kapan saja. Asal tidak di luar
jadwal yang sudah dipilih. Sangat mudah dan tentu sangat membantu guru dalam
pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama covid-19 ini. Beruntung saya
bisa mengikutinya.
Tidak sabar ingin mempraktekkan ilmu yang diperoleh,
beberapa waktu lalu saya memulai pembelajaran dengan terlebih dahulu memberikan
asesmen nonkognitif, sesuatu yang sangat ditekankan dalam Bimtek. Asesmen
nonkognitif dimaksudkan untuk menggali informasi mengenai keadaan siswa.
Keadaan keluarganya, kondisi tempat tinggalnya, termasuk ketersediaan perangkat
pendukung pembelajaran. Dengan mengetahui kondisi siswa yang sebenarnya maka
guru dapat menyesuaikan mode serta alat pembelajaran yang digunakan. Cara ini
diharapkan bisa membantu mengatasi hambatan pelaksanaan PJJ.
Pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan ke siswa sekitar
ketersediaan smartphone, kualitas jaringan di sekitar tempat tinggalnya, dukungan
orang tua, model pembelajaran yang mereka sukai. Tidak ketinggalan bagaimana
tanggapan mereka tentang aktivitas pembelajaran yang selama ini berlangsung.
Apa saran mereka untuk pembelajaran mendatang.
Dari hasil asesmen ini, saya paham. Rupanya problem PJJ
bukan hanya masalah perangkat seperti smarphone, bukan juga sekedar kualitas
jaringan yang uring-uringan, atau pembeli kuota yang entah di mana
memperolehnya. Tetapi juga persoalan ketentraman lingkungan.
Ketika saya Tanya tentang kondisi tempat tinggalnya, seorang
siswa dengan panjang lebar menuliskan keluhannya. Dia tinggal di lingkungan
yang lumayan padat penduduk. Pandemik covid-19 membuat orang lebih banyak
tinggal di rumah. Hal ini membuat kebanyakan orang membuat kesibukan
masing-masing untuk melawan rasa bosan. Menggeliatnya pencinta bunga
akhir-akhir ini boleh jadi adalah pelampiasan dari rasa bosan itu. Dalam
batas-batas yang wajar, tentu ini sangat positif. Konon bunga bisa menyegarkan
mata, menenangkan pikiran dan mendamaikan hati. Artinya sibuk dengan bunga bisa
meningkatkan imun tubuh. Ahli kesehatan mengatakan, imun tubuh yang kuat bisa
menjadi penangkal covid-19. Berbahagialah mereka yang sibuk dengan bunga.
Menjamurnya pesepada juga bisa jadi motifnya sama. Daripada
nganggur, lebih baik ambil sepeda, gowes. Dapat sehatnya banyak kenalan dan
terhibur. Sangat positif.
Namun ada pula yang memilih kesibukan yang merugikan orang
sekitarnya. Contohnya seperti apa yang dikeluhkan oleh siswa yang saya
diceritakan di atas. Tetangganya memilih kesibukan yang justru membuat sang
siswa stress. Betapa tidak, tetangga yang tidak memiliki kepekaan ini saban
hari memutar musik keras-keras, berkaraoke ria, tanpa mengena waktu. “Bagaimana
saya bisa konsentrasi belajar pak kalau telingaku penuh dengan suara musik?”,
keluhnya. “Apa tidak ada yang tegur?”, tanyaku. “Tidak ada pak, saya sendiri
tidak berani. Jadi saya pasrah saja, meskipun tersiksa karena tidak bisa
mengikuti pembejaran dengan baik”, jawabnya.
Saya tertegun membaca chatnya. Selama ini kita sibuk
mempersoalkan jaringan, kuota, dan smartphone. Tetapi abai mempersiapkan
lingkungan belajar yang nyaman bagi anak-anak kita. Sudahlah cara belajarnya
ribet, ditambah lingkungan yang tidak
mendukung. Lengkap sudah derita ini.
Bukan hanya siswa, guru, pekerja kantoran serta karyawan pun
memerlukan lingkungan yang nyaman. Saat ini rapat-rapat kantor lebih banyak
dilakukan secara virtual. Guru-guru mengikuti pelatihan juga secara daring.
Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya sebuah vidcon yang dipenuhi oleh suara musik.
Sangat mendesak, memberikan penyadaran kepada masyarakat
tentang kondisi ini. Aparat pemerintah setempat, dan semua tokoh masyarakat
harus pro aktif dalam upaya menciptakan rasa aman dan nyaman. Demikian juga
pihak sekolah, harus jeli mendeteksi problem yang dihadapi siswa. Di samping
menjalin komunikasi yang intens dengan orang tua siswa dan seluruh pihak yang
berkepentingan. Keberhasilan PJJ sangat ditentukan oleh dukungan semua pihak
sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.
Berdikari 1, 24 Nopember 2020


0 komentar:
Posting Komentar