Channel YouTube

Senin, 05 April 2021

Kelas Akuarium



Akhirnya sebuah akuarium terpajang di rumah saya. Ini atas permintaan si kecil sejak dulu. Dia ingin sekali menyaksikan dari dekat gaya ikan berenang. Mungkin dia penasaran. Selama ini dalam urusan gaya renang, yang sering disebut dan mungkin juga secara tidak sengaja sudah dipraktekkannya di sungai (secara sembunyi-sembunyi) hanya gaya katak dan gaya kupu-kupu. Tidak ada gaya ikan. Memang aneh, kupu-kupu yang jelas tidak bisa berenang, namanya diabadikan. Sedangkan ikan yang habitatnya di air malah tidak kebagian. 


Tetapi, sudahlah. Apapun alasannya, yang jelas dia sangat menikmati tingkah pola ikan. Tidak boleh diganggu kalau sudah khusyuk di depan akuarium.


Akuarium ini dihuni beberapa jenis ikan. 2 ekor ikan koi kepala singa, 1 ekor ikan patin, 2 ekor ikan komet dan 2 ekor ikan kecil seukuran jari kelingking namanya ikan pedang (nama-nama ikan ini saya kutip langsung dari penjualnya, mohon diampuni jika nama dan gelar tidak sesuai).


Menariknya. Ikan-ikan ini bukan hanya wajah, warna, dan bentuknya yang beragam. Tetapi kelakuannya pun berbeda-beda. Patin adalah ikan yang paling besar. Besarnya sekira jempol kaki orang dewasa dengan panjang sekitar 15 cm. Memiliki tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. Sedikit saja gerakan aneh di akuarium, dia langsung gelisah mondar-mondar mencari jalan keluar. Semula ikan patin ada dua ekor, tetapi yang satunya melompat keluar dan jatuh di pelukan kucing yang kebetulan lewat. Dan innalilah! Segala sesuatu memang tidak boleh berlebihan, termasuk terlalu waspada! Banyak orang yang justru dapat celaka karena over sensitif terhadap ancaman. Belum apa-apa sudah melompat duluan.


Ikan pedang. Bentuknya kecil seukuran jari kelingking. Gerakannya sangat lincah. Awalnya saya khawatir akan jadi santapan ikan lain. Tetapi setelah melihat kelincahan geraknya, kekhawatiran saya hilang. Sulit  menangkapnya. Kecuali jika ikan-ikan lain berkoalisi mengeroyoknya. Lagi pula ikan-ikan ini sepertinya tidak doyan makan sesamanya. Atau mungkin di antara mereka sudah menandatangani fakta integritas untuk tidak saling memangsa? hehe.


Komet,  saya paling suka memandangi jenis ikan ini. Ekornya yang menjuntai menjadi daya tariknya. Bergerak lincah dan menguasai seluruh penjuru akuarium. Satu lagi, paling kuat berebut makanan. Sayangnya, dia suka membully. Sungguh perbuatan yang tidak terpuji.


Terakhir, ikan kepala singa. Gerakannya lambat dan paling jinak. Inilah jenis ikan yang paling sengsara. Hidup di akuarium tanpa ketenangan. Menjadi obyek bully-an ikan komet. Dikejar ke sana kemari tanpa alasan yang jelas. Kasihan sekali.


Untuk menolong si Kepala singa, saya coba pisahkan. Kepala singa saya tempatkan di penyaringan, sendirian. Lama-lama saya merasa kasihan. Dia yang dibully kenapa dia yang diasingkan. Akhirnya saya kembalikan, lalu si komet saya pindahkan ke kolam depan rumah. Dengan cara ini tampaknya semua puas. kepala singa bisa kembali hidup bersama ikan lainnya tanpa gangguan. Sementara yang komet juga kelihatannya senang mendapat tempat yang  lebih luas, di dalam kolam. 


Kehidupan di akuarium begitu mirip dengan ruang kelas. Kelas dihuni oleh siswa dengan aneka karakter, dengan latar belakang budaya yang juga berbeda-beda. Perilakunya pun tidak sama. Persis suasana di akuarium itu. 


Bedanya hanyalah bahwa menyelesaikan masalah di akuarium jauh lebih mudah dibanding penyelesaian masalah di kelas. Menghentikan perilaku bully di akuarium misalnya,  cukup dengan memindahkan si pembully ke kolam. Pembully dengan sendirinya berhenti, di kolam tidak ada lagi ikan dibawa levelnya yang bisa dia bully. Keadaan aman terkendali.


Ruang kelas memiliki kompleksitas masalah yang lebih rumit. Kelas dihuni oleh siswa dengan segenap potensi yang dimilikinya. Mereka memiliki keinginan untuk mengaktualisasikan potensinya hingga ke level irrasional. Jika tidak bijak, guru akan dengan mudah menjatuhkan vonis nakal, bodoh, egois, dan label-label negatif sejenisnya.


Padahal seringkali vonis terburu-buru ini terbukti keliru. Siswa yang dulu divonis negatif itu ternyata sukses di kemudian hari. Kebalikan dari label yang dilengketkan dahulu.


Saya kerapkali menemukannya. Seorang siswa yang dulu dikeluhkan kenakalannya tetapi di kampus dia malah menjadi aktivis dakwah yang getol menyerukan pesan-pesan kebaikan. Dan begitu hormat jika ketemu gurunya. Siswa yang dulu dianggap bodoh nyatanya sukses di bidang pekerjaan yang ditekuninya. Tidak jarang bahkan menjadi kebanggaan seluruh warga sekolah.


Guru sebaiknya fokus di titik ini. Agar tidak keliru dalam membaca tanda-tanda yang diperlihatkan siswa. Bisa jadi tanda-tanda itu adalah jalan sukses baginya yang sudah tentu butuh sentuhan guru untuk menatanya dengan benar. Keliru dalam menyikapi masalah ini, akan menjadi awal lahirnya problem yang bukan tidak mungkin akan berpengaruh terhadap masa depan siswa.


Itulah sebabnya, salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah mengenal karakteristik siswa. Dan memperlakukan mereka sesuai dengan karakternya. Komunikasi yang baik dengan siswa juga sangat dibutuhkan. Berbicaralah dengan mereka dan jadilah pendengar yang baik.


Guru sesekali berperan selaku coach untuk menggali potensi yang dimiliki siswa. Selanjutnya, membimbing mereka menemukan cara terbaik mengoptimalkan potensi itu. Arahkan mereka untuk membuat komitmen, dan tugas guru adalah mendampingi serta memastikan bahwa semua berjalan sesuai dengan komitmennya.


Saya kutipkan sebuah pernyataan yang patut dijadikan sebagai renungan bersama. Pernyataan dari seorang ahli komputer yang pernah disampaikan oleh Ayah Edy dalam tulisannya. Beliau mengatakan bahwa ternyata anak-anak kita itu dirancang dengan kekuatan dan kecepatan berpikir yang sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan Prossesor (otaknya) Komputer mungkin setara dengan Pentium Core I5 atau I7 (Kecepatan tertinggi note book saat ini) atau bahkan lebih hebat lagi. Namun menurutnya, kekuatan dan kecepatan para orang tua dan guru sering kali berada jauh di bawah itu. 


Mari terus belajar, introspeksi, dan mengasah kearifan untuk tetap bisa mendampingi anak-anak kita. Mengawal serta mengarahkannya untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.


Gowa 31 Maret 2021 


0 komentar:

Posting Komentar