Cerita ini sudah sering saya sampaikan. Di banyak tempat. Di kegiatan resmi, juga di obrolan lepas. Tetapi di media sosial, belum. Jadi anggaplah ini adalah versi medsosnya. Bagi yang sudah pernah mendengar, anggap saja pengulangan. Hal baik jika diulang-ulang akan berlipat kebaikannya bukan?
Beberapa tahun yang lalu, seorang teman akan mengakhiri masa dinasnya. Sekitar satu lagi. Sebelum pensiun, ada satu mimpinya yang ingin sekali dia wujudkan: Bisa mengoperasikan laptop. Membuat administrasi pembelajaran dan berharap bisa menggunakan laptop dalam pembelajaran.
Impian yang mungkin remeh bagi sebagian orang. Tapi baginya, ini misi penting. Meski sulit. Mengerti sendirilah kawan, belajar di usia senja begini tantangannya tidaklah sederhana. Pepatah yang pasti banyak orang menghafalnya : "Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar setelah dewasa bagai mengukir di atas air." Bayangkan, begitu sulitnya.
Sadar sudah terlambat, dia tidak menyia-nyiakan waktu. Belajar seolah berpacu dengan putaran jarum jam. Belajarnya serius. Amat serius bahkan.
Tiap ke sekolah laptop selalu terselempang di bahunya. Di sela-sela mengajar, di waktu kosong, laptop dibuka dan jarinya hilir mudik di atas keyboard. Sesekali terlihat bingung seperti sedang mencari sesuatu. Keyboard dan layar bergantian ditatapnya. Jika keadaannya begitu, dia akan sibuk bertanya kepada siapa saja. Kepada siswa sekalipun.
Saya suka melihat senyumannya setiap kali berhasil mempraktekkan ilmu baru. Sumringah!
Alhasil, sebelum SK pensiunnya keluar, dia sudah bisa meng-printout RPP-nya sendiri. Tak hanya itu, dia juga bisa mengajar menggunakan PPt. "Saya senang bisa mengakhiri masa dinas saya dengan baik, tanpa dihantui gelar guru gaptek." Katanya suatu ketika.
Kita patut berbangga memilki guru-guru yang menjaga semangatnya hingga di titik akhir. Mereka yang tidak larut dalam pusaran waktu. Berdiri tegak menantang ombak.
Mereka layak dijadikan teladan. Darinya kita belajar tentang semangat yang tak pernah luntur. Tak terkikis oleh zaman. Seberapa pun seringnya zaman itu berganti.
Kita juga belajar tentang tanggung jawab. Bahwa tugas harus ditunaikan, dengan kemampuan
terbaik
yang dimiliki. Kemampuan maksimal. Tidak boleh puas dengan usaha minimalis, yang hanya akan menghasilkan produk ala kadarnya. Atau bisa jadi produknya gagal. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Jangan pernah berhenti untuk belajar. Hanya dengan demikian layanan pendidikan yang berkualitas akan dapat dinikmati oleh anak-anak kita.
Pun sahabat-sahabat yang masih muda. Semangat sedang tinggi-tingginya. Lihatlah, lahan pengabdian terbentang luas. Teruslah berkarya, berprestasi.
Guru adalah arsitek wajah masa depan Indonesia. Tugas mulia, harus diemban dengan kesungguhan.
