Channel YouTube

Sabtu, 19 Februari 2022

Misi Penting



Cerita ini sudah sering saya sampaikan. Di banyak tempat. Di kegiatan resmi, juga di obrolan lepas. Tetapi di media sosial, belum. Jadi anggaplah ini adalah versi medsosnya. Bagi yang sudah pernah mendengar, anggap saja pengulangan. Hal baik jika diulang-ulang akan berlipat kebaikannya bukan?
Beberapa tahun yang lalu, seorang teman akan mengakhiri masa dinasnya. Sekitar satu lagi. Sebelum pensiun, ada satu mimpinya yang ingin sekali dia wujudkan: Bisa mengoperasikan laptop. Membuat administrasi pembelajaran dan berharap bisa menggunakan laptop dalam pembelajaran.
Impian yang mungkin remeh bagi sebagian orang. Tapi baginya, ini misi penting. Meski sulit. Mengerti sendirilah kawan, belajar di usia senja begini tantangannya tidaklah sederhana. Pepatah yang pasti banyak orang menghafalnya : "Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar setelah dewasa bagai mengukir di atas air." Bayangkan, begitu sulitnya.
Sadar sudah terlambat, dia tidak menyia-nyiakan waktu. Belajar seolah berpacu dengan putaran jarum jam. Belajarnya serius. Amat serius bahkan.
Tiap ke sekolah laptop selalu terselempang di bahunya. Di sela-sela mengajar, di waktu kosong, laptop dibuka dan jarinya hilir mudik di atas keyboard. Sesekali terlihat bingung seperti sedang mencari sesuatu. Keyboard dan layar bergantian ditatapnya. Jika keadaannya begitu, dia akan sibuk bertanya kepada siapa saja. Kepada siswa sekalipun.
Saya suka melihat senyumannya setiap kali berhasil mempraktekkan ilmu baru. Sumringah!
Alhasil, sebelum SK pensiunnya keluar, dia sudah bisa meng-printout RPP-nya sendiri. Tak hanya itu, dia juga bisa mengajar menggunakan PPt. "Saya senang bisa mengakhiri masa dinas saya dengan baik, tanpa dihantui gelar guru gaptek." Katanya suatu ketika.
Kita patut berbangga memilki guru-guru yang menjaga semangatnya hingga di titik akhir. Mereka yang tidak larut dalam pusaran waktu. Berdiri tegak menantang ombak.
Mereka layak dijadikan teladan. Darinya kita belajar tentang semangat yang tak pernah luntur. Tak terkikis oleh zaman. Seberapa pun seringnya zaman itu berganti.
Kita juga belajar tentang tanggung jawab. Bahwa tugas harus ditunaikan, dengan kemampuan
terbaik
yang dimiliki. Kemampuan maksimal. Tidak boleh puas dengan usaha minimalis, yang hanya akan menghasilkan produk ala kadarnya. Atau bisa jadi produknya gagal.
Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Jangan pernah berhenti untuk belajar. Hanya dengan demikian layanan pendidikan yang berkualitas akan dapat dinikmati oleh anak-anak kita.
Pun sahabat-sahabat yang masih muda. Semangat sedang tinggi-tingginya. Lihatlah, lahan pengabdian terbentang luas. Teruslah berkarya, berprestasi.

Guru adalah arsitek wajah masa depan Indonesia. Tugas mulia, harus diemban dengan kesungguhan. 

Sabtu, 05 Februari 2022

Ular Tangga



Selalu bangga dengan guru-guru muda. Mereka yang tidak pernah diam. Terus berkarya, berinovasi. Saya mengenal dan akrab beberapa dari mereka. Kegiatan di PBG Gowa dan juga di Pendidikan guru penggerak membuat saya sering berinteraksi dengannya. Kadang lupa umur jika berada di tengah-tengah mereka. Kadang pula terselip iri. Ingin rasanya memutar jarum waktu, mundur barang sejenak. Ingin memulai semua yang luput di masa itu. Saat usia masih belia. Maaf, penyakit akut kumat lagi. Haluuu....

Tetapi sudahlah. Dengan membersamai mereka saya sudah senang. Turut merasakan semangat muda yang menggebu. Berusaha menyelami alur berpikirnya yang seringkali liar. Membingungkan!
Saya juga senang menikmati ocehan mereka, mengalir tiada henti. Lucu tapi menginspirasi. Bahkan ocehannya pun menginspirasi. Gila benar!
Guru muda ini penuh talenta. Sangat membanggakan. Perhatikan capaian-capaian mereka. Tidak sulit. Buka saja media sosial, ada banyak jejak yang bisa membuat kita terkagum-kagum. Jejak aktivitasnya, pun karya-karyanya.
Sebenarnya, bangsa ini tidak kekurangan anak muda hebat. Cuma seringkali luput dari perhatian. Padahal mereka layak diapresiasi, layak difasilitasi.
Untungnya, mereka bukan anak-anak baperan. Tetap berkarya. Ada atau tanpa perhatian dari pihak manapun.
Namun, kekurangpedulian terhadap anak-anak muda kreatif ini, bisa jadi sebab bangsa ini banyak kehilangan orang-orang hebatnya. Mereka memilih berkarir di negeri orang. Setelah sukses di luar sana, barulah kita berteriak memintanya pulang. Begitu seringnya kita kecolongan.
Kembali ke guru-guru muda kreatif. Baru-baru ini pesanan saya tiba, diantar oleh sahabat muda saya yang hebat, pak Hairuddin Andi Hairi. APE (alat peraga edukatif). Saya pesan langsung dari pembuatnya, Pak Munandar Asko. APE-nya berbentuk permainan ular tangga. Tetapi didesain khusus, disesuaikan dengan materi pembelajaran. Ada muatan karakter dan juga nilai religiusnya.
Anak saya sangat tertarik memainkannya. Efektif mengalihkan perhatiannya dari nonton TV dan maini HP ibunya.
Ular tangga ini, mainan anak-anak sejak dulu. Saya pun sering memainkannya. Di pos ronda. Tetapi wadahnya kecil. Kita hanya bisa duduk melingkarinya, berdesakan. Disentuh sedikit saja, pionnya berserakan, bergeser dari posisinya. Memicu pertengkaran yang bisa membuat permainan bubar. Game over berjamaah.
Ular tangga karya pak Munandar ini, lain. Bukan hanya muatannya yang didesain khusus untuk pembelajarannya. Ukurannya pun lebar, 2 meter persegi. Jadi enak memainkannya. Tidak harus duduk bersila mengitarinya. Pemainnya masuk ke areanya, pengganti pion. Bergerak mengikuti instruksi yang terdapat pada kotak.
APE ini sangat cocok digunakan. Untuk meningkatkan minat dan motivasi anak-anak untuk belajar. Kita tidak bisa memisahkan anak-anak dengan permainan. Bagaimanapun juga, bermain adalah dunianya. Memisahkannya, sama saja mengeluarkan ikan dari dalam air. Menyiksa.
Saya pernah menantang, teman muda lainnya. Mengumpulkan permainan tradisional untuk diintegrasikan ke dalam pembelajaran. Sangat banyak, namun terancam punah. Sangat disayangkan jika itu terjadi.
Permainan tradisional sudah jarang dimainkan. Tergerus game digital yang kelihatannya lebih menarik.
Menjadikan permainan tradisional sebagai bagian dari pembelajaran bukan hanya memantik ketertarikan anak untuk belajar. Tetapi juga mengakrabkan anak-anak dengan kodrat alamnya. Memahami dan menghormati budaya masyarakat yang mengasuhnya.
Sebagai bagian dari budaya, permainan tradisional sarat makna. Sejalan dengan nilai karakter yang diharapkan tumbuh dari proses belajar. Karakter yang mengakar pada budaya lokal. Ini penting sebagai tameng dalam menghadapi budaya global yang merusak. Di samping perisai agama, tentu.
Berharap suatu saat, akan lahir APE yang berbasis permainan lokal. Anak-anak akan belajar, bermain, dan sekaligus menjaga kelestarian budayanya.
Semoga akan selalu ada orang-orang bijak yang memberi support dan menyiapkan panggung bagi anak-anak muda untuk berkarya. Tak hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam kebijakan dan tindakan.
Ayo anak muda, teruskan perjuanganmu.