Channel YouTube

Jumat, 29 Oktober 2021

Berjalan


Saya bukan pejalan. Kalau pun melakukan perjalanan hanya karena alasan yang sangat penting, mendesak. Sejak kecil dan sisa-sisanya masih membekas hingga sekarang.
Apa saya tidak suka hiburan, rekreasi misalnya? Eits, jangan salah. Bahkan hari-hariku adalah rekreasi. Saya menikmati alam kampungku. Hamparan sawahnya, rimbun pepohonan dan kesejukan udaranya. Saya menikmati kebebasan bermain lumpur di sawah, malah sering tertidur dengan olesan lumpur di kaki.
Ke sawah adalah rutinitas wajib, tiap hari. Bekerja sambil bermain. Bermainnya pun di alam nyata, bukan di dunia lain (maya). Mengasyikkan, bertengger di atas pohon sambil memandangi mobil yang lalu lalang di jalan raya. Tidak lupa menghitungnya, berapa mobil yang mengarah ke kanan dan berapa pula yang jalan ke arah kiri. Menghitung mobil adalah ajang perlombaan bagi kami anak-anak kampung. Game yang mengasyikkan.
Bukan hanya menghitung mobil. Dari atas pohon itu saya dan teman-teman biasa menikmati tentara yang latihan terjun payung. Dari arah asrama tentara duapuluhan kilometer dari kampung saya. Di kejauhan tentara yang terjun itu tampak seperti bebatuan yang keluar dari (maaf) pantat burung. Mungkin penampakannya mirip dengan burung ababil yang melempari pasukan Abraham dengan krikil panas.
Akstraksi tentara payung ini sangat menghibur. Saking disukainya, ada orang tua yang ingin menyewa tentara payung untuk hiburan di pernikahan putrinya. Sayang tak pernah kesampaian. Padahal banyak yang penasaran dengan model pertunjukkannya. Termasuk saya.
Tetapi berkurung di kampung tidaklah selalu menguntungkan. Kita butuh melihat dunia luar. Jangan bernasib seperti katak yang asyik bermain dengan dunianya sendiri. Dunia di bawah tempurung. Pengetahuannya hanya sebatas langit-langit tempurung. Dan tergagap dengan "keanehan" demi "keanehan" yang terlumrakan di luar sana.
Maka berjalanlah. Banyak berjalan, banyak dilihat, banyak mengalami. Melihat dan mengalami adalah instrumen terpenting bagi tumbuhnya pengetahuan dan lahirnya kebijaksanaan. Allah Swt berfirman, "maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?" (Qs. 22 : 46)
Dengan berjalan anda akan merasakan kerasnya perjuangan. Tokoh-tokoh besar di masa lalu adalah mereka yang berani keluar menembus batas teritorial negerinya. Menjelajah negeri-negeri. Sebutlah Alexander the Great dari Macedonia yang wilayah kekuasaannya membentang luas dari Laut Ionia di Eropa hingga Pegunungan Himalaya di Asia. Penakluk yang tidak pernah terkalahkan dalam pertempuran dan dianggap sebagai komandan perang terhebat sepanjang masa.
Alexander ditempah oleh penjelajahan. Keberaniannya untuk berjalan sejauh yang dapat dijangkaunya. Jatuh bangun menghadapi tantangan. Pengalaman adalah sumber kekuatannya.
Berjalan adalah sebuah kemestian. Butuh kebulatan tekad, butuh keberanian. Berjalan bukan sekadar bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Tetapi juga bergerak dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Bergerak keluar dari zona nyaman yang melenakan. Menuju zona pergerakan yang mungkin saja melelahkan. Tetapi bagi pejalan justru disitulah nilainya.
Berjalanlah menelusuri pelosok bumi yang terhampar luas. Berjalanlah menelusuri jejak-jejak peradaban yang tersisa. Berjalanlah dan jadilah saksi dari proses peradaban yang akan lahir. Berjalanlah dan saksikanlah karya-karya fantastis dari orang-orang yang tak pernah lelah bergerak. Berjalanlah menyusuri alam pikiran orang-orang jenius melalui halaman-halaman kitab yang ditulisnya. Berjalanlah dan anda akan tahu eksistensi diri anda.
Berjalanlah dan jangan lupa pulang. Begitu banyak harapan bertengger di atas pundakmu. Begitu banyak amanah yang harus ditunaikan dari hasil perjalananmu.
Jepang melesat menjadi bangsa modern berawal dari restorasi Meiji. Restorasi Meiji membawa Jepang keluar dari tempurung kekolotan. Di bawah Kaisar Meiji, Jepang memperjalankan putra-putra terbaiknya untuk belajar di negeri-negeri Eropa. Mempelajari teknologi dan yang lainnya. Setelah puas menimba ilmu mereka dipulangkan untuk membangun negerinya. Hasilnya, seperti apa yang anda saksi saat ini. Jepang memang hancur di Perang dunia kedua tetapi begitu cepatnya mereka bisa bangkit lagi. Unggul kembali.
Berjalan adalah gerakan, menuntut ilmu, berburu pengalaman, dan menyerap inspirasi. Perjalanan akan menempah jiwa pelopor. Agar tak hanya menjadi saksi lahirnya peradaban tetapi juga pelaku dan pencipta peradaban.
Siapapun anda, anda harus berjalan, terus bergerak. Termasuk sahabat-sahabat saya, para guru.

Jumat, 08 Oktober 2021

SERAGAM



Ada banyak alasan mengapa sebagian orang suka dengan pakaian seragam. Dalam sebuah komunitas misalnya, tidak afdol rasanya tanpa pakaian seragam. Meskipun pengadaannya harus melewati diskusi dan debat panjang, mengalahkan diskusi tentang substansi keberadaan komunitas itu sendiri. Pesta perkawinan tidak semarak tanpa pakaian seragam. Walaupun harus mendongkrak uang panaik bergerak meninggi menjauhi kemampuan si jomblo yang bisa saja memupus impiannya. Upacara bendera kelihatan unik tanpa baju seragam. Meski upacaranya tetap sah.


Seragam itu perlu sebagai identitas. Perusahaan merasa penting untuk menyeragamkan pakaian karyawannya. Sebagai bagian dari brand, identitas, dan ajang promosi. Dengan pakaian seragam, perusahaan bisa dikenal, menembus pelosok yang tidak terjangkau oleh rayuan iklan televisi. Bagi anak sekolah, seragam bisa melatih kedisiplinan. Seragam juga bisa menunjukkan kebersamaan, kekompakan, juga sebagai suplemen rasa bangga. Bangga tentu tidak dilarang, kecuali jika kebanggaan kelewat batas yang lalu menimbulkan arogansi pada pihak-pihak yang tidak berseragam.


Konon, kegiatan mengenakan seragam, telah ada sejak dahulu. Tentara Kekaisaran Romawi telah mengenakan seragam sebagai simbol kesatuan. Juga, agar mudah mengenali lawan atau kawan saat terjadi perang. Untuk urusan ini, tentara Indonesia mungkin bisa dikecualikan. Saat perang kemerdekaan, mereka justru mudah dikenali karena tidak seragam.


Tetapi tidak semua hal harus diseragamkan. Dalam beberapa kasus, keragaman justru menciptakan harmoni dan keindahan. Taman menjadi indah karena bunga yang berwarna-warni. Pelangi dirindukan justru karena paduan warna yang berbeda. Hidup menjadi nikmat karena menyatunya keragaman. Keragaman adalah kodrat, sunnatullah. Memaksakan keseragaman di atas kodrat keragaman justru bisa merugikan.


Penyeragaman soal penilaian peserta didik, misalnya. Menyamakan soal untuk semua sekolah dalam satu wilayah di masa pembelajaran tidak normal ini, tentu tidaklah bijak. Ada sejumlah alasan yang bisa dikemukakan. Di antaranya;


Pertama; Kementerian telah mengeluarkan kebijakan memberikan pilihan kepada setiap sekolah untuk menggunakan kurikulum khusus di masa pandemik. Ada tiga opsi yang ditawarkan; menggunakan kurikulum 2013 secara penuh, menggunakan kurikulum 2013 yang disederhanakan oleh kementerian, atau pihak sekolah secara mandiri membuat penyederhanaan kurikulum. Jadi besar kemungkinan dalam satu wilayah, sekolah menerapkan kurikulum yang berbeda-beda.


Kedua; Menteri Pendidikan di banyak kesempatan sering menyatakan bahwa pembelajaran di masa pandemik ini tidak dituntut untuk menuntaskan semua Kompetensi Dasar (KD) di setiap mata pelajaran. Guru dipersilahkan kembali mengkaji/membuat pemetaan KD dan hanya mengajarkan materi-materi esensial saja. Artinya, ada kemungkinan ketidakseragaman materi ajar di setiap sekolah.


Ketiga; Pembelajaran jarak jauh yang dilakukan selama ini menghadapi hambatan yang tidak sederhana, terutama di daerah dataran tinggi atau daerah-daerah pinggiran lainnya. Jaringan internet yang timbul tenggelam, bahkan tidak ada sama sekali, perangkat siswa yang sangat terbatas, belum lagi soal kuota yang saya tidak tegah menyebutkannya. Memang ada upaya teman-teman guru untuk mendatangi siswa di titik-titik tertentu. Sesuatu yang perlu diapresiasi. Tetapi pembelajaran dengan cara seperti ini jauh dari kata efektif. Bagi sekolah-sekolah di kota, kendala ini mungkin bisa teratasi sehingga pembelajaran sedikit lebih baik. Maka penyeragaman soal dalam kondisi seperti ini adalah sesuatu yang tidak adil.


Keempat; Peluang kebocoran soal sangat mungkin terjadi, zaman serba online akan menyulitkan siapapun mengontrol dan mengawasi agar soal tidak bocor. Soal Ujian Nasional saja yang pengamanannya super ketat masih bisa bocor, apalagi soal Penilaian Akhir Semester yang tanpa pengamanan. Jika hal itu terjadi penilaian tidak lagi punya arti selain formalitas semata.


Problem pendidikan di masa pandemik ini sudah terlalu banyak. Sangatlah bijak untuk tidak menambah problem baru. Penilaian siswa serahkan kepada guru yang mengajar mereka. Guru yang lebih tahu kondisi siswanya. Saatnya guru diberi kebebasan untuk memilih bentuk penilaian yang paling sesuai dengan karakteristik siswanya. Dan ini sangat sejalan dengan program Kementerian Pendidikan, MERDEKA BELAJAR!!!