Channel YouTube

Senin, 25 November 2019

Jadilah Guru Inspiratif


Apa yang paling berkesan dari sosok guru-guru anda? Bagi yang sering reunian saya yakin tahu jawabannya.  Hal yang paling sering dibicarakan menyangkut guru-guru kita adalah tentang kepribadiannya. Mengenai sikap, cara berbicara, kelakuan, dan nasehat-nasehatnya. Saat masih dibangku sekolah saja, ketika ada acara ngumpul yang banyak dibahas adalah pribadi guru. Tentang materi pelajaran yang mereka sampaikan sangat jarang dibahas, kalaupun dibicarakan ada kelompok tersendiri dengan bahasan yang super serius dan orang-orang terpilih, mirip dengan FGD (Focus Group Discussion) zaman sekarang.

Materi yang disampaikan oleh guru lebih banyak dilupa dari pada diingat. Tetapi kepribadian seorang guru tertancap sangat dalam di hati siswanya. Tidak jarang kepribadian seorang guru menginspirasi siswa hingga menjadi panduan dalam memilih jalan hidup di masa depan.  Seorang guru pernah bertemu dengan siswanya di SMP dulu. Muridnya ini kebetulan juga berprofesi sebagai guru. Ketika dia bertanya mengapa memilih menjadi guru. Sang murid dengan enteng menjawab “karena Bapaklah sehingga saya memilih menjadi guru”. Sang siswa mengaku terkesan dengan pribadi gurunya sehingga diapun memutuskan menjadikan guru.

Di SD ada guru saya yang mengajar dengan menyelipkan dongeng atau kisah yang sarat dengan makna hidup. Saya paling suka dengan beliau, saya selalu menunggu cerita-ceritanya. Sepulang sekolah ketika berada di tengah-tengah keluarga saya selalu mengulangi cerita-cerita dari guru saya. Ayah, Ibu dan saudara-saudara saya menjadi penyimaknya. Dongeng dan cerita guru saya menempel dengan kuat dalam benak saya hingga sekarang. Begitu berkesannya, saat mengajar sayapun sering menyelipkan dongengan dan cerita tentang pengalaman hidup kepada siswa. Tentu saja sebagian besarnya hasil copy paste dari cerita guru saya. Siswa sepertinya senang dengan cerita-cerita ini, setiap saya mengajar selalu diminta bercerita. Kadang waktu istirahat ada saja yang datang ingin mendengar saya bercerita. 

Masa kuliah, saya mengagumi seorang dosen. Pintar, wawasannya luas, kritis dan penuh semangat. Tetapi yang paling membekas bagi saya adalah ketika suatu pagi sebelum perkuliahan dimulai, sang dosen memanggil saya dan berkata, “saya sudah membaca tugasmu kemarin dan luar biasa, kamu mengerjakannya dengan sangat baik”. Wah, saya dipuji dosen, bangga dong. Efeknya, seharian itu, saya sering senyum-senyum sendiri tanpa diperintah, hehe.  Dan sejak saat saya tambah semangat mengikuti perkuliahan.  

Ternyata pujian berdampak besar bagi peserta didik. Karena itu, guru jangan pelit memberikan pujian pada hal-hal baik yang dilakukan oleh siswa. Tentu pujian yang sesuai dengan proporsinya, tidak berlebih-lebihan.

Masih ingat bu Een Sukaesih? Beliau adalah penerima penghargaan spesial Achievement Liputan6 Award untuk kategori Inovasi, Kemanusiaan, Pendidikan, Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan dari SCTV Award 2013. Ibu Een adalah pendiri Rumah Pintar yang diberi nama Al-Barokah yang berlokasi di Dusun Batukarut, Desa Cibereum Wetan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Rumah Pintar ini menjadi sarana kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak darimana saja yang ingin belajar secara gratis. Di Rumah Pintar yang dia dirikan ini, Bu Een sekaligus sebagai tenaga pengajar. Aktivitas mengajar beliau lakoni sambil berbaring di tempat tidur akibat penyakit lumpuh yang telah lama dideritanya.  Semangat hidup dan pengabdiannya di bidang pendidikan patut diteladani. Keterbatasan yang dialaminya bukan penghalang untuk memajukan pendidikan bagi semua kalangan.

Ketika Ibu Een ditanya siapa sumber inspirasinya, beliau menyebut Pak Ahmad, Gurunya semasa SD. Menurutnya, cara Pak Ahmad mengajar mudah dipahami membuat murid-muridnya jadi pintar. Tidak hanya itu, Bu Een juga sangat kagum pada tulisan gurunya ini di papan tulis, tulisannya cantik. Sampai-sampai bu Een berlatih untuk meniru tulisan gurunya tetapi selalu gagal. Hal ini diungkapkan Bu Een ketika wartawan dari Lipuutan6.com bertandang ke rumahnya.

Bill Gates, pebinis dan penulis asal Amerika Serikat, serta mantan CEO dan saat ini sebagai ketua Microsoft, perusahaan perangkat lunak yang dia didirikan bersama seorang rekannya, Paul Allen. Sejak 1995 hingga 2009, Dia menduduki peringkat pertama orang terkaya di dunia. Tidak termasuk tahun 2008 ketika dia turun ke peringkat ke tiga. Kisah perjalanan hidupnya telah memotivasi dan menginspirasi begitu banya orang. Ketika ditanya, siapakah yang telah membentuk dirinya sehingga menjadi pebisnis milyarder seperti sekarang ini, dengan mantap Bill Gates menjawab: guru-gurunya. Dan dia merasa beruntung memiliki guru-guru yang merupakan sumber inspirasinya. Dia tidak pernah melupakan jasa Blanche Caffiere, guru SD-nya yang disebut memiliki peran penting dalam hidup Gates di masa lampau. Baginya Caffiere adalah pemicu semangatnya untuk belajar.

Stephen Hawking, seorang ilmuan besar asal Oxford, Inggris. Kelumpuhan bahkan tidak membuatnya lemah semangat. Dia terus menciptakan terobosan-terobosan baru dalam bidang ilmu pengetahuan Alam hingga membuat namanya termasyhur di dunia. Ketertarikannya akan ilmu pengetahuan alam dimulai saat dirinya menjadi siswa di St. Albans School di Hertfordshire, Inggris. Dalam sebuah video yang dibuat khusus, Hawking mengakui dirinya sebagai anak yang malas dengan tulisan tangan yang buruk. Itu karena guru-guru di sekolahnya yang membosankan, katanya. Tetapi ada seorang guru yang sangat dia idolakan, Dikran Tahta. Lewat kelas yang dihadirinya, Hawking mengaku gurunya itu berhasil membuka matanya bahwa untuk menyingkap rahasia alam semesta adalah dengan matematika. “Kelasnya begitu hidup dan menarik. Semuanya bisa diperdebatkan, kata Prof. Hawking (dilansir dari BBC.com; 9/3/2016).

Guru yang hebat adalah guru yang mampu menginspirasi sebanyak mungkin peserta didik. Begitu banyak kisah yang dapat dijadikan contoh betapa guru inspiratif memiliki jasa besar dalam mengubah dan membukakan jalan sukses bagi peserta didiknya di masa depan. Menginspirasi peserta didik yang juga adalah generasi penerus berarti telah memberikan arah dan tuntutan bagi kemajuan bangsa.

Selamat Hari Guru Nasional untuk semua guruku dan sesamaku guru
Selamat menginspirasi



Selasa, 19 November 2019

CINGKRANG



Ribut tentang celana cingkrang membuat saya penasaran. Cingkrang itu apa sih? Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) cingkrang artinya “sangat pendek”. Kalau begitu celana cingkrang berarti celana yang sangat pendek. Sementara yang diributkan selama ini adalah celana panjang yang menggantung di atas mata kaki. Model celana ini digunakan oleh sebagian kaum Muslimin untuk menghindari isbal atau menjulurkan kain sampai ke mata kaki. Dalam beberapa riwayat perbuatan ini dilarang oleh Nabi. Jadi celana yang dimaksud tidak tepat disebut celana cingkrang, lebih tepat disebut celana anti isbal kalau mau lebih keren singkat saja celtibal.

Andai saja yang dipersoalkan adalah celana cingkrang versi KBBI, saya kira tidak terlalu gaduh, bahkan kemungkinan akan banjir dukungan. Bukankah penggunaan celana semacam itu di tempat-tempat umum telah meneror mental kita dan anak-anak selama ini. Heran juga kok bukan yang ini yang dilarang. Bayangkan jika orang-orang yang bercelana sangat pendek dibiarkan berkeliaran dan membuat aksi di mana-mana apa jadinya bangsa ini.

Berbicara tentang cingkrang, izinkan saya meminjam istilah ini untuk membahas masalah pendidikan. Menurut saya, perkembangan pendidikan kita yang melambat, antara lain disebabkan oleh ke-cingkrang-an ini. Sebut saja ke-cingkarang-an berpikir, atau boleh juga disebut pikiran cingkrang. Pikiran cingkrang itu apa? Lagi-lagi kalau kita merujuk ke KBBI maka Pikiran cingkrang berarti pikiran (yang) sangat pendek. Sebuah keputusan yang diambil tidak melalui pemikiran dan pertimbangan yang mendalam. Nah sekarang ngerti kan?

Di ruang guru,  seorang guru dengan jengkel bercerita tentang keadaan kelas yang baru saja ditinggalkannya. Dia mengeluh disertai kedongkolan yang sulit terlukiskan, beberapa kali dia harus berhenti bercerita untuk mengatur nafasnya yang tersengal dilumat amarah. Guru-guru yang lain menyimak dengan setia, sambil sesekali manggut-manggut, kadang memberi komentar pendek tanda simpati.

Merasa mendapat respon baik dari guru yang lain, guru ini semakin semangat bercerita tentang siswanya yang super bandel, kurang ajar, bodoh dan malas. Sebuah kombinasi yang memang sangat sempurna untuk menaikkan tekanan darah hingga ke level hipertensi yang bisa berakhir stroke. Endingnya adalah dia bersumpah untuk tidak lagi mau mengajar di kelas itu dan merelakan siswanya terbengkalai tanpa menerima pelajaran darinya. Beberapa guru menasihati untuk bersabar dan tetap masuk mengajar tetapi dia teguh dengan pendiriannya. “Biarkan saja, siapa suruh membandel” demikian closing statement yang dia ucapkan setelah beberapa menit menumpahkan kekesalannya.

Jika anda pernah menyaksikan potongan sinetron seperti kisah di atas, selamat anda sudah bertemu dengan guru yang mengidap ke-cingkrang-an berpikir. Bagaimana mungkin dia rela mengorbankan kepentingan siswa demi memuaskan ke-cingkrang-annya. Aneh kan? Mengapa dia tidak mencoba berpikir lebih jauh, merganalisa secara mendalam untuk mengetahui permasalahan yang sesungguhnya. Setelah itu mencarikan jalan keluar yang lebih bijak. Bukan dengan menunjukkan kekerdilan jiwa, lari dari tanggung jawab dan mengorbankan integritasnya sebagai pendidik. Jelas ini bukan karakter guru yang pantas dilestarikan.

Kita tentu sangat prihatin dan maklum betapa karakter anak didik kita terkadang di luar batas kewajaran. Ruang-ruang pemberitaan hampir setiap hari tersuguhi berita tentang peserta didik yang melawan guru atau berbagai jenis perilaku menyimpang lainnya. Tetapi hal ini tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan dan mengabaikan mereka. Jika kita melihat persoalan ini secara komprehensif, maka kita akan mengetahui bahwa prilaku anak-anak kita tidak berdiri sendiri tetapi merupakan akumulasi dari banyak faktor yang saling berkaitan. Faktor lingkungan, keluarga, pemerintah, bahkan termasuk pihak guru (sekolah). Ditambah lagi dengan gegap-gempitanya perkembangan teknologi yang memengaruhi sikap dan mental peserta didik. Bisa jadi perilaku konyol anak-anak kita adalah akibat dari kegagapan menghadapi perkembangan zaman. Jadi persoalannya tidak sesederhana membuat keputusan untuk mogok mengajar dan mencopoti hak peserta didik untuk mendapatkan pembelajaran.

Lalu apa yang harus dilakukan? Setiap guru harus memahami identitas dirinya. Seorang penulis pernah mengatakan bahwa ada perbedaan mendasar antara ‘Saya bekerja sebagai guru’ dan ‘Saya seorang Guru’. Yang pertama berbicara tentang profesi dan yang kedua berbicara tentang identitas. Profesi terkait dengan gaji, sedangkan identitas berbicara tentang nilai. Guru yang memahami identitasnya sebagai pendidik akan bekerja berdasarkan nilai. Dan ini jauh melebihi sekadar menjalankan fungsi profesi. Nilai-nilai identitas ini terpancar dari cara berinteraksi dengan siswa dan rekan guru serta semua orang di sekitarnya.

Guru harus bisa diteladani, diguguh dan ditiru. Menebarkan semangat, memberikan motivasi, serta bijak dalam bertindak. Begitu banyak problem pembelajaran yang terjadi di kelas hanya karena pola interaksi antara guru dan peserta didik yang tidak harmonis. Maka pola interaksi ini yang perlu dijaga dengan baik untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondisif. Tentu saja tanpa melupakan hal-hal lain yang tidak kalah pentingnya. Misalnya yang terkait dengan kemampuan dan kompetensi guru serta kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Semoga ke-cingkrang-an berpikir segera berakhir.