Channel YouTube

Kamis, 21 April 2022

PEREMPUAN; ANTARA BELENGGU ADAT DAN JERATAN LIBERALISME

Sejarah pergerakan kaum perempuan Indonesia  berawal dari kepeloporan R.A. Kartini. Putri Bupati Jepara ini  merasa terpanggil  setelah melihat dan merasakan sendiri betapa kaum perempuan di zamannya terbelenggu oleh aturan adat yang sangat tidak adil.

Keadaan perempuan pada masa itu terangkum dalam surat yang ditulis oleh Kartini kepada sahabatnya, Stellah Zeehandelaar, seorang gadis Belanda.  Dalam suratnya yang tertanggal 25 Mei 1899, Kartini mengatakan : “ Kami gadis-gadis masih terikat oleh adat istiadat lama dan sedikit sekali memperoleh kebahagiaan dari kemajuan pengajaran. Untuk keluar rumah sehari-hari dan mendapat pelajaran di sekolah saja sudah dianggap melanggar adat. Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis keluar rumah. Ketika saya berusia duabelas tahun, maka saya dikurung di dalam rumah, saya mesti masuk ‘kurungan’.. Saya dikurung dalam rumah, seorang diri, sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tidak boleh keluar dunia itu lagi, bila tidak disertai oleh seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi saya, dipilih oleh orang tua saya untuk saya, dikawinkan dengan tanpa sepengetahuan saya sendiri.”

Kartini sedikit lebih beruntung dibanding dengan perempuan-perempuan lainnya. Meskipun dia terlahir dalam keluarga bangsawan yang teguh memegamg adat, tetapi Ayahnya, R.M.A. Adipati Sostroningrat  yang juga adalah Bupati Jepara adalah seorang bangsawan yang berpikiran maju. Kartini diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan pada sekolah Rendah Kelas 2 di kotanya. Padahal akses pendidikan bagi perempuan ketika itu sangat dibatasi oleh aturan adat. Ricklefs (1998) menyebutkan bahwa sebagian besar Bupati di Jawa ketika itu berpandangan bahwa gagasan mengenai pendidikan bagi kaum wanita sama sekali tidak bisa diterima.

Pengalaman yang paling berharga bagi Kartini selama menempuh pendidikan yang kemudian banyak mempengaruhi ide-idenya adalah pergaulannya  dengan anak-anak gadis Belanda, teman sekolahnya. Kesempatannya bergaul dengan  gadis-gadis Belanda telah membuka mata serta membangkitkan kesadarannya akan dunia luar beserta nilai-nilai dan gaya hidup yang berbeda dengan apa yang dihayatinya selama ini. Hal inilah yang  memperkuat tekadnya untuk berjuang membebaskan kaumnya dari keterbelakangan. 

Perjuangan Kartini  dimulai dengan mendirikan sekolah khusus putri di rumahnya dengan memberikan pelajaran dan keterampilan dasar seperti membaca, menulis, memasak, dan menyulam.  Kartini yakin bahwa pendidikan akan mengangkat derajat kaum perempuan. Dalam salah satu suratnya kepada Prof. Anton dan Nyonya tertanggal 4 Oktober 1902, Kartini menulis : “ Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan  kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Perlahan tapi pasti, usaha Kartini mendapat sambutan yang baik dari berbagai kalangan. Sehingga berdirilah sekolah-sekolah keputrian di berbagai tempat.  Dari sekolah-sekolah keputrian inilah kemudian lahir perempuan-perempuan yang berpikiran “modern” yang  dengan berani melawan ketidakadilan   yang selama ini membelenggunya. Bahkan kemudian mereka tampil berjuang bersama-sama dengan kaum laki-laki dalam menegakkan kehormatan bangsanya, mengusir kaum penjajah.

Buah perjuangan Kartini untuk memajukan kaum perempuan Indonesia boleh dikatakan telah menghasilkan lompatan yang luar biasa.   Kaum perempuan  telah bebas mengekpresikan diri tanpa harus dihambat oleh aturan-aturan adat sebagaimana yang pernah dirasakan oleh Kartini dan perempuan-perempuan lain di zamannya. Pekerjaan yang dulu menjadi dominasi laki-laki kini telah banyak diisi oleh kaum perempuan, seperti pejabat, pengusaha, bahkan pekerjaan berat sekalipun seperti tukang becak, buruh bangunan, tukang parkir dsb. 

Akan tetapi seiring dengan kemajuan itu  muncul pula persoalan baru. Dengan dalih emansipasi, banyaknya kaum perempuan yang “mabuk” kebebasan yang akhirnya terjerat dalam  “jaring” liberalisme yang jauh lebih berbahaya.  Liberalisme yang terus menerus dikampanyekan oleh negara-negara Barat telah menyeret kaum perempuan ke dalam konspirasi kapitalisme, mereka tanpa sadar telah dijadikan mesin-mesin penghasil uang oleh kaum pemodal. Mereka menjadi obyek eksploitasi sistem kapitalis yang memandang materi adalah segalanya. 

Gaya hidup sebagian perempuan kemudian menjadi sangat hedonis, berlomba-lomba memburu kemewahan dan ketenaran, sekalipun harus mereduksi nilai-nilai agama dan budaya kemudian memuja budaya Barat sebagai simbol kemajuan.  Padahal Kartini - yang dijadikan sebagai icon perjuangan kaum perempuan - berpandangan sebaliknya. Kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902 Kartini menulis : “...... tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?” 

Seorang penulis perempuan, Asri Supatmiati, menuturkan keresahannya  terhadap nasib kaumnya. Beliau mengatakan, dengan dalih kebebasan berekspresi setiap inchi tubuh perempuan dijadikan komoditi. Membuka aurat bahkan sampai adegan berzina pun dilakoni, asalkan mendatangkan materi, aurat perempuan dilombakan dan dinilai, mana yang paling mendatangkan hoki (keuntungan). Anehnya, dengan penuh kesadaran, kaum perempuan antri minta dieksploitasi; bahkan semakin hari kian menggila. 

Fenomena seperti ini  sangat jelas dalam realitas di masyarakat. Perhatikan saja, tayangan yang disuguhkan melalui Televisi dalam bentuk sinetron, iklan, acara-acara pencarian bakat,  hingga kuis, terasa tidak sah jika tidak diwarnai penampilan wanita-wanita cantik yang mengumbar syahwat. Tak hanya perempuan dewasa, gadis-gadis ABG maupun anak-anak, sejak belia sudah mulai “dikader” untuk menjadi bagian dari bisnis eksploitasi ini.  Seandainya Kartini bisa bangun kembali dari kuburnya maka yakinlah dia akan menangis melihat kenyataan betapa misi perjuangannya dahulu tengah dirobek-robek oleh kaumnya yang justru menganggap diri sebagai penerus Kartini.

Implikasi dari semua ini adalah terjadinya dekadensi moral yang kemudian berimbas kepada rusaknya tatanan masyarakat. Walaupun tetap disadari bahwa perempuan bukanlah penyebab tunggal dari permasalahan ini, tetapi setidaknya, moralitas kaum perempuan sangat menentukan kondisi sebuah masyarakat. Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadistnya mengatakan : “perempuan adalah tiang negara, jika perempuannya baik maka baiklah negara tetapi jika perempuan rusak maka rusaklah negara” 

Karena itu diperlukan sebuah gerakan untuk “merebut” kaum perempuan dari   kaum pemodal dan mengembalikan kehormatan mereka.   Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah melalui pendekatan agama. Agama Islam misalnya, sejak awal kehadirannya telah menyelamatkan kaum perempuan dari rusaknya adat jahiliyah, kemudian menempatkan mereka pada posisi yang sangat terhormat bahkan lebih mulia dari kaum laki-laki. Agama akan menyadarkan perempuan tentang kodrat dan jati dirinya yang sebenarnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa kerusakan yang banyak terjadi di muka bumi disebabkan oleh pengingkaran manusia terhadap hukum-hukum Allah, termasuk pengingkaran perempuan terhadap kodrat yang ditetapkan Allah terhadapnya.

Akhirnya, perjalanan hidup Marlyn Monroe patut pula dijadikan sebagai bahan renungan. Sebelum bunuh diri, Merlyn Monroe menulis sebuah surat yang kemudian dimasukkan pada sebuah kotak di sebuah bank di New York. Dalam suratnya dia menulis :”Berhati-hatilah dengan ketenaran, berhati-hatilah dan waspadalah terhadap sinar-sinar yang menipu kalian. Sesungguhnya aku adalah wanita yang paling celaka di dunia! Aku tidak mampu menjadi seorang ibu. Aku adalah seorang wanita yang mencintai rumah. Kehidupan keluarga adalah simbol kebahagiaan seorang wanita, bahkan simbol bagi kemanusiaan itu sendiri. Aku adalah seorang wanita yang benar-benar telah didzalimi oleh manusia-manusia lain. Bekerja dalam sebuah teater atau perfilman betul-betul menjadikan wanita sebagai barang dagangan murahan dan remeh, meskipun dia mendapatkan popularitas dan ketinggian.”


Minggu, 03 April 2022

Healing Ramadan



Kata "healing" Menjadi trend akhir-akhir ini. Pengguna media sosial banyak memakainya dalam postingan di status maupun ketika memberi komentar.
"Healing" berasal dari bahasa Inggris yang berarti "penyembuhan". Dalam penggunaannya, lebih mengarah kepada self healing (penyembuhan diri sendiri) secara psikologis yakni jiwa, perasaan, dan pikiran.
Aktivitas yang demikian padat, ditambah dengan berbagai permasalahan yang kerap muncul, membuat seseorang mudah mengalami gangguan kejiwaan. Pikiran kalut, emosi, sedih, khawatir, stres dan berbagai gejala mental lainnya. Kita tahu, gejala-gejala ini sering menjadi pemicu lahirnya masalah yang lebih besar.
Mungkin anda masih ingat. Kasus seorang ibu di Brebes yang tega menggorok leher 3 orang anaknya, pertengahan Maret lalu. Sang ibu diduga depresi karena tekanan ekonomi.
Kebanyakan kasus bunuh diri juga dipicu oleh tekanan kejiwaan. Jumlah kematian akibat bunuh diri di dunia menurut laporan WHO Global Health Estimates diperkirakan mencapai 793 ribu kematian pada tahun 2016 atau satu kematian setiap 40 detik. Bunuh diri menyumbang 1,4 persen kematian seluruh dunia dan merupakan ranking ke-18 penyebab kematian terbanyak (antara.com
).
Healing diyakini bisa mengurangi depresi dan tekanan mental yang lain. Ada banyak hal yang biasa dilakukan, misalnya dengan mengadakan perjalanan ke tempat-tempat yang menyenangkan, berkumpul dengan sahabat atau keluarga atau menekuni hobi tertentu di sela-sela rutinitas.
Sebenarnya, fasilitas healing sudah disiapkan Allah SWT. Al-Quran secara tersirat menghubungkan antara tekanan kejiwaan dengan ketenangan hati. Siapa yang bisa mengelola hatinya dengan baik, akan terhindar dari depresi. Allah SWT menjelaskan :
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. 13 : 28).
Obat dari keresahan, ketidaktentraman adalah dengan mengingat Allah. Mengembalikan segala urusan kepada-Nya. Tidak akan terjadi sesuatu tanpa izin dan kehendak-Nya.
Beruntunglah seorang Muslim yang memelihara shalatnya. Shalat adalah waktu healing yang terbaik, mengingat Allah sambil menghadapkan segala persoalan kepada-Nya. "....laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. 20 : 14).
Setidaknya seorang Muslim mendatangi Allah lima kali sehari semalam. Atau jika berkenan, dan ini sangat dianjurkan, gunakan jalur khusus. Bangun tengah malam. Sujud, berdialog dengan Allah melalui dzikir dan doa-doa yang dipanjatkan dalam shalat lail.
“Dan pada sebahagian malam hari sholat Tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. 17 : 97)
Nabi SAW bersabda :
“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikitpun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
Dengan shalat, Allah menghapus segala dosa. Ini hebat, bukankah penyebab kegelisahan dan perasaan tak tenang itu adalah tumpukan dosa?
Shalat adalah satu-satunya ibadah yang diterima langsung oleh Nabi tanpa perantaraan Malaikat Jibril sebagaimana ibadah-ibadah lainnya. Pada peristiwa Isra mi'raj yang terkenal itu.
Sebelumnya Nabi mengalami tahun duka cita (amul huzni). Dua orang pembela dan pendukung utamanya yakni pamannya, Abu Thalib dan istrinya, Khadijah meninggal dunia. Sementara penentangan kaum Quraisy terhadap dakwahnya semakin meningkat. Penyiksaan yang diterima kaum Muslimin juga tambah parah. Nabi mengalami masa-masa yang sangat sulit, sedih yang teramat.
Dalam keadaan seperti itulah Allah mengundang Nabi SAW menghadap-Nya. Seolah-olah Allah hendak menghibur Rasul-Nya, mengembalikan semangatnya dengan melakukan perjalanan, memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kekuasan-Nya.
Shalat adalah mi'rajnya kaum Muslimin. Maka sejatinya shalat adalah perjalanan batin menuju Allah, mengisi jiwa dengan energi baru dan mengusir kegundahan..
Demikian juga. Dalam setahun Allah membuka kesempatan seluas-luasnya untuk menyegarkan kembali kehidupan spiritual kita. Sebulan penuh, bulan Ramadan. Inilah bulan tamasya, tamasya ruhani. Saat tepat untuk membersihkan jiwa dari penyakit yang mengotorinya. Lalu mengisinya dengan amalan-amalan yang menentramkan dan memperkuat keimanan.
"Sungguh beruntunglah orang yang mensucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS : 91 : 9-10)
Jika belum punya waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang Anda impikan. Tenanglah, Allah telah mengirimkan Ramadan untuk menemani hari-harimu. Ramadan adalah waktu istimewa, hadiah dari Allah untuk meng-healing-kan diri.