Channel YouTube

Rabu, 14 April 2021

Mengulang


Mendiang ayah saya (semoga Allah merahmatinya) adalah khatib tunggal di kampung saya. Mohon jangan dihubung-hubungkan dengan Datuk ri Bandang. Pemilik gelar Khatib Tunggal yang sebenarnya dan penyebar Islam di Kerajaan Gowa ini, sama sekali tidak ada kaitannya dengan cerita ini.


Saya menggelari ayah saya Khatib Tunggal karena dialah satu-satunya khatib di kampungku. Setiap Jumat dia yang tampil di mimbar, berkhutbah. Sesekali diganti kalau ada ustadz berkunjung. Biasanya penyuluh agama dari kecamatan atau kabupaten. Tetapi sangat jarang. 


Zaman dulu ustadz begitu langka. Alhamdulillah sekarang sudah berdiri sebuah pesantren. Di kampung tetangga juga sudah banyak. Insya Allah tidak akan kekurangan ustadz lagi. Semoga anak-anak di kampung saya sudah bisa menikmati pendidikan agama yang lebih baik.


Bukan hanya khatib Jumat, di bulan Ramadan pun ayahku menjadi penguasa mimbar. Akibatnya pesan-pesan, termasuk cerita yang disampaikannya sering berulang. Saking seringnya diulang saya sampai hafal ceramahnya.  Ayah saya juga masih suka mengulang sebagian ceramahnya di rumah. Di hadapan jamaah yang terbatas, saya dan saudara-saudaraku. Tentu dengan format yang berbeda. Sambil berbincang santai. 


Di kemudian hari, baru saya paham. Pengulangan adalah salah satu prinsip pembelajaran. Prinsip ini terutama direkomendasi oleh penganut teori psikologi daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamati, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, dan berpikir. 

Penganut teori ini yakin, dengan mengadakan pengulangan, maka daya-daya tersebut akan berkembang. Sama halnya dengan pisau, jika selalu diasah maka akan semakin tajam. Demikian juga, daya yang selalu dilatih dengan mengadakan pengulangan maka akan menjadi sempurna.


Dalam Islam, pembelajaran dengan menggunakan sistem pengulangan ini sering kali dijumpai. Beberapa ayat atau kisah dalam al-Qur'an banyak yang diulang di berbagai surat, kadang dengan redaksi yang berbeda. Bahkan di surat ke 55 (Ar-Rahman) terdapat ayat yang diulang hingga 31 kali. Ayat dengan terjemahan : "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


Kalau kita perhatikan hadist-hadist yang ada, kita juga akan menemukan cara yang sama. Nabi menggunakan cara pengulangan ketika berdialog atau menyampaikan sesuatu kepada para sahabatnya.


Ayah saya tidak pernah belajar teori psikologi daya. Strata pendidikannya terlalu rendah untuk pemikiran serumit itu. Tetapi dia telah mempraktekkannya dengan baik. Walaupun mungkin tanpa kesengajaan. Dan hasilnya, saya yang nikmati. Cerita atau kisah yang selalu dia ulang itu masih saya ingat hingga sekarang. Sebagiannya sudah saya wariskan ke anak-anak saya. Sebagian lagi sudah saya bagikan ke siswa jika mereka menantang saya bercerita di kelas. Kelihatannya mereka sangat senang. 


Dalam pembelajaran di kelas setiap sesi perlu dilakukan pengulangan. Apakah itu dalam bentuk penugasan, pemberian kesimpulan, atau refleksi. Setiap guru tentu sudah melakukannya. Yang perlu lebih dipahami adalah mengapa pengulangan itu perlu dilakukan. Tanpa pemahaman ini, penugasan, kesimpulan, refleksi, dan bentuk-bentuk pengulangan yang lain hanya sebatas formalitas. Memenuhi langkah-langkah pembelajaran. Beralasan jika pengulangan yang dilakukan tidak membawa kesan.


Ramadan ini adalah waktu yang terbaik melakukan pengulangan. Mengulang-ulang kembali bacaan Qur'an kita. Memperbaiki hafalan yang mungkin sudah mulai kabur termakan usia. Mengulangi lagi pelajaran agama yang sering luput dikalahkan oleh kesibukan. Mengulang-ulang lagi kebiasaan-kebiasaan baik yang lain.


Hebatnya, menurut sebuah penelitian sesuatu yang diulang-ulang dalam rentang waktu sebulan maka akan menjadi kebiasaan. Pada akhirnya kebiasaan akan menjadi karakter. Jadi karakter seseorang sangat tergantung dari apa yang menjadi kebiasaannya. 


Mungkin inilah rahasianya, mengapa ibadah Ramadan dilakukan selama satu bulan. Tidak salah jika Ramadan disebut-sebut sebagai universitas peradaban.  Tempat menempa manusia unggul dengan kualitas takwa yang meninggi. Sangat merugi seseorang yang Ramadan mendatanginya lalu menyia-nyiakannya.



Selamat menjalankan ibadah Ramadan. Jangan pernah bosan mengulang kebiasaan-kebiasaan baik Anda. 

Berikari 1, 2 Ramadan 1442 H/14 April 2021 M

0 komentar:

Posting Komentar