Channel YouTube

Minggu, 20 Juni 2021

Komunitas Praktisi Pendidikan
(Catatan PI-1 dan LK-2 CGP Angkatan 2)




Pendampingan Calon Guru Penggerak (CGP) ke 1, berdiskusi tentang proses apa yang telah berjalan selama satu bulan terakhir serta capaian masing-masing CGP. Apa hambatan-hambatannya dan bagaimana mengatasinya. Meminta pendapat dari Kepala sekolah dan rekan sejawat melalui kuesioner serta mewawancarai peserta didik untuk mengetahui bagaimana aksi nyata CGP di sekolah. Bagaimana tanggapan mereka terhadap proses perubahan yang direncanakan dan yang telah dilakukan oleh CGP.
Menggembirakan, komunitas sekolah memberikan dukungan kepada masing-masing CGP. Mereka sudah mulai merasakan perubahan-perubahan yang terjadi. CGP memberi contoh bagaimana menghadirkan pembelajaran yang berpusat pada murid. Keberadaan CGP di sekolah selain sebagai teman juga sekaligus sebagai sumber belajar. Bukan hanya di sekolah tetapi juga pada Kelompok Kerja Guru (KKG)..
Dua hal yang membuat saya optimis. Yang pertama dukungan dari komunitas sekolah dan komunitas pendidik, yang kedua, kemampuan individual para CGP. Mereka adalah orang-orang terpilih yang sejak dulu menjadi penggerak dari banyak perubahan yang terjadi di sekolah.
Berdiskusi dengan CGP, melahirkan banyak ide brilian. Beberapa masalah yang selama ini bak benang kusut akhirnya bisa terurai. Teman-teman CGP yang saya dampingi kelihatannya sudah tidak sabar dan seolah ingin melipat waktu. Ingin segera mewujudkan aksi nyata yang telah direncanakan.
Point pentingnya adalah, guru butuh teman diskusi untuk saling berbagi ilmu, tukar pengalaman dan menemukan solusi dari problem pembelajaran yang mereka alami. Di sinilah arti penting komunitas praktisi. Komunitas tempat berkumpulnya para guru yang memiliki semangat dan kegelisahan yang sama tentang praktik dan pengelolaan pendidikan yang mereka lakukan dan ingin melakukannya dengan lebih baik.
Pada Program Pendidikan Guru Penggerak, keberadaan komunitas praktisi menjadi salah satu bagian yang sangat diperhatikan. Secara khusus dibahas pada lokakarya 2. Pada lokakarya ini, CGP diajak memahami pentingnya komunitas praktisi. Diawali dengan mengidentifikasi masalah yang sering mereka hadapi dalam pembelajaran. Lalu secara berkelompok mendiskusikan permasalahan itu untuk menemukan pemecahannya. Melalui diskusi kelompok, CGP menyadari, bahwa dengan ber-komunitas, pemecahan masalah demikian mudahnya.
Pada akhirnya, CGP diharapkan dapat membentuk komunitas praktisi di sekolahnya. Bahkan kalau bisa, lintas sekolah, lintas mata pelajaran. Untuk itu, CGP dituntut berperan dalam hal; 1) menganalisis kebutuhan belajar anggota, 2) memfasilitasi rencana kegiatan belajar berdasarkan hasil analisis kebutuhan, 3) mencari narasumber yang relevan terkait kebutuhan belajar, 4) menyelenggarakan kegiatan belajar di komunitas, 5) mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan,6) mendampingi rekan sejawat dalam mempraktikkan hasil belajar di komunitas, dan 7) memfasilitasi evaluasi dan refleksi pembelajaran dan penerapan kegiatan.
Pembentukan komunitas praktisi bisa melalui tiga tahapan; merintis, menumbuhkan dan merawat. Pada tahapan merintis, CGP harus mengidentifikasi sumber daya yang ada di sekitarnya. Orang-orang yang memiliki visi, semangat dan kegelisahan yang sama dalam memajukan dunia pendidikan. Mendekati pihak-pihak terkait yang bisa memberikan dukungan bagi keberadaan komunitas, kepala Sekolah dan semua unsur yang memegang peranan penting.
Tumbuhkan komunitas dengan memberdayakan seluruh kemampuan. Mengelola dengan baik, buat program yang berfokus pada peningkatan profesionalisme guru, diskusi tentang isu-isu pendidikan, dan berbagai problem yang sering ditemui guru dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Sebarkan praktik-praktik baik dalam pengelolaan pembelajaran dan saling mendukung dalam melahirkan karya-karya kreatif-inovatif.
Selanjutnya, merawat komunitas. Mempertahankan eksistensinya. Tahapan ini sangat penting. Jika tidak hati-hati, bisa jadi komunitas yang susah payah dibentuk layu sebelum berkembang. Merawat komunitas adalah dengan menjaga konsistensi nilai-nilai dan tujuan yang disepakati serta menjaga komitmen pada cita-cita luhur yang ingin dicapai. Beri kesempatan kepada setiap anggota untuk menjadi penggerak komunitas praktik. Dan pelihara keberlangsungan kolaborasi dengan pihak-pihak di luar komunitas. Komunitas yang terawat akan memberikan jaminan bagi tetap berlangsungnya praktik-praktik baik walaupun terjadi perubahan-perubahan di komunitas maupun sekolah.

0 komentar:

Posting Komentar