Channel YouTube

Jumat, 28 Mei 2021

Menaklukkan Tantangan
(Catatan Pendampingan CGP#0)



Jika sering mengeluhkan keadaan Anda sekarang, sering-seringlah berjalan. Anda akan menyadari begitu banyak orang yang keadaanya lebih memprihatinkan. Hebatnya lagi, mereka tidak menganggap keadaan itu sebagai sesuatu yang patut dikeluhkan. Mereka menjalaninya dengan semangat pengabdian yang pantas membuat kita iri.

Selama empat hari saya mengunjungi empat sekolah dalam rangka pendampingan Individu untuk program Pendidikan Guru Penggerak. Empat orang teman, Calon Guru Penggerak (CGP) yang saya dampingi, semuanya bertugas di wilayah dataran tinggi. Wilayah yang identik dengan akses transportasi yang sulit, jaringan internet yang timbul tenggelam, dan fasilitas pembelajaran yang minim.
Dari empat sekolah yang saya datangi, hanya satu sekolah yang terjangkau angkutan umum, itu pun sangat terbatas. Yang lainnya hanya bisa dengan kendaraan pribadi dengan tingkat kesulitan yang lumayan menantang. Terlebih bagi saya yang tidak berpengalaman di medan seperti itu. Jalan berbelok-belok, tanjakan dan penurunan dengan luas yang cocoknya hanya seukuran satu mobil. Jika berpapasan,salah satu mobil harus mengalah, menepi. Sesekali ketemu dengan jalanan berbatu bekas longsoran atau aspal berlubang termakan usia. Bisa dibayangkan keadaan jalan ini kalau musim hujan tiba.
Menyusuri jalan ini, serasa saya sedang berpetualang bersama Dora. Atau si Upin Ipin yang sering menyebut jalan berkelok-kelok semacam ini dengan pusing kanan-pusing kiri. Bersyukurlah saya tidak sempat pusing, malah menikmati perjalanan ini. Senang sekali, menikmati pemandangan alam yang sejuk, hawa segar dari perbukitan yang hijau. Diselingi sapaan warga. Keramahan khas warga desa, watak asli penduduk Indonesia.
Selama ini saya hanya mendengar cerita tentang sekolah yang satu ruangan diisi oleh dua kelas. Nalar saya tidak bisa menerima. Bagaimana mungkin? Bagaimana cara mengajarnya? Aneh. Tetapi faktanya, salah satu sekolah yang saya kunjungi hanya memiliki tiga ruang kelas untuk enam tingkatan siswa, tanpa ruang kantor. Jadi satu ruangan dihuni dua kelas. Bahkan satu ruangan dijadikan ruang multifungsi; ruang kelas, ruang guru merangkap ruang kepala sekolah, dan dapur.
Sekolah yang bernasib seperti ini bertebaran di mana-mana. Di pelosok-pelosok yang lebih terpencil di negeri ini. Sementara tempat lain, banyak sekolah yang bangunannya sudah baik, prasarananya lengkap tetapi terus saja menjadi prioritas penerima bantuan. Dana rehab, pengadaan ruang kelas baru, dan beragam fasilitas lain.
Apa pemegang kebijakan tidak tahu keadaan ini? Lalu apa gunanya survey yang kerap dilakukan? Apa gunanya data-data sekolah di data pokok kependidikan?
Kalau masalah mendasar seperti ini belum tertangani, begitu berat tantangan kita mewujudkan mimpi membangun generasi emas 2045. Generasi yang katanya akan menjadi kekuatan utama membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju, jaya dan bermartabat.
Sangat beruntung bahwa teman-teman di sekolah-sekolah seperti ini memiliki semangat pengabdian di atas rata-rata. Dari diskusi saya dengan teman-teman CGP, mereka sejak dulu telah menjadikan tantangan sebagai peluang untuk menghasilkan inovasi pembelajaran. Menjadikan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, alamnya dan budayanya.
Pembelajaran tidak harus dilakukan di kelas, dan juga tidak harus sesuai dengan buku teks. Pembelajaran sering dilakukan di luar, di bawah pohon, di halaman rumah penduduk. Sambil memainkan permainan tradisional. Permainan tradisional yang diangkat dari budaya setempat yang bukan hanya bermuatan ilmu pengetahuan tetapi juga sarat dengan pesan-pesan moral. Sangat cocok untuk mengokohkan karakter peserta didik.
Dari sini saya begitu yakin bahwa masyarakat desa, bukan hanya pusat ketahanan pangan negeri ini. Tetapi juga penyokong pembentukan karakter bangsa. Karakter membangun dari dulu sudah menyatu dengan mereka. Dan teman-teman CGP bersama guru yang lain berusaha merawat dengan menuntun peserta didik untuk menetapi kearifan-kearifan yang sudah tertanam di masyarakatnya agar tetap kuat dan terlestarikan. Kuat dari gempuran budaya asing yang merusak, namun bisa menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan positif yang terjadi di dunia global.
Ini sangat relevan dengan konsep merdeka belajar. Konsep yang diterjemahkan dari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang melalui Program Guru Penggerak, digali dan dihidupkan kembali.
Berdiskusi dengan teman-teman CGP, kepala sekolah, dan guru yang lain di setiap sekolah yang saya kunjungi, terasa menerima transfer semangat. Beberapa kalimat penguat yang sangat membekas; “Guru penggerak adalah teladan, satu kata dengan perbuatan; Bergeraklah sebelum menggerakkan orang lain; Guru penggerak adalah pionir perubahan, bersiaplah menjadi bagian dari agent of change”.
Terima kasih yang tak terhingga kepada teman-teman CGP, kepala sekolah dan teman guru yang lain atas sambutannya yang penuh kekeluargaan, perbincangan yang akrab meski baru pertama bertemu. Insya Allah bulan depan bertemu lagi dengan cerita yang lain. Semoga selalu dalam bimbingan dan lindungan Allah SWT.

0 komentar:

Posting Komentar