Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun ini mengambil tema “Bangkit!, Kita Bangsa yang Tangguh.” Tema ini mengingatkan kita tentang perjuangan para perintis pergerakan nasional yang dengan segala keterbatasannya mampu mengorganisir sebuah gerakan kebangsaan secara modern.
Pendidikan memegang peranan yang sangat menentukan bagi lahirnya pergerakan nasional. Melalui institusi pendidikanlah lahirnya kelompok-kelompok terpelajar yang kemudian menjadi motor penggerak kebangkitan nasional. Mereka mengorganisir diri melalui organisasi pergerakan, mengusahakan pengajaran bagi pribumi dan menyuarakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Bukan lagi gerakan bersenjata seperti perlawanan masa sebelumnya tetapi melalui gerakan politik. Beberapa dari organisasi tersebut dengan berani menjadikan kemerdekaan sebagai tujuan gerakannya.
Para pendiri bangsa mengabadikan masa-masa ini dalam teks Pembukaan UUD 1945. Jelas disebutkan... "Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dan dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia..."
Berbicara tentang pendidikan, tentu berkaitan erat dengan sosok guru. Sebuah kisah yang sangat populer. Tentang bagaimana penghargaan Kaisar Jepang, Hirohito pada sosok guru. Pada Perang Dunia II dua kota terkemuka Jepang, Hiroshima dan nagasaki hancur oleh bom atom tentara Sekutu. Jepang kalah dan menyerah. Setelah kekalahan itu, Kaisar Hirohito mengumpulkan Jenderal yang masih tersisa. Kepada jenderal-jenderal itu, Hirohito menanyakan, “Berapa jumlah guru yang masih hidup?” Para jenderal itu kebingungan mendengar pertanyaan sang kaisar. Mereka pun berusaha meyakinkan kaisar bahwa mereka masih bisa melindungi kaisar meski tanpa guru. Namun Kaisar Hirohito menegaskan bahwa kejatuhan Jepang karena tidak belajar. Jepang kuat dalam senjata dan strategi perang tetapi tidak memiliki kemampuan membuat bom sebagaimana yang dimiliki tentara sekutu. “Kalau kita tidak belajar, bagaimana kita akan mengajar mereka?”, kata Kaisar. “Kumpulkan seluruh guru yang masih tersisa, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan”, titahnya kemudian.
Sejak itu, Jepang berkonsentrasi memajukan bidang pendidikan. Membekali generasi mudanya dengan pendidikan terbaik. Mengirim mereka ke negara-negara Eropa dan Amerika untuk mempelajari berbagai cabang ilmu.
Pemuda-pemuda terdidik inilah yang kemudian menjadi penggerak kebangkitan Jepang. Tidak menunggu lama, Jepang berhasil bangkit dari puing-puing Perang Dunia II. Jepang kembali menguasai dunia, bukan lagi dengan kekuatan militer, tetapi dengan kekuatan industri hasil dari revolusi bidang pendidikan. Saat ini Jepang dengan bangga bisa berdiri sama tinggi dengan negara-negara yang dulu membuatnya bertekuk lutut.
Demikianlah, sejarah mengajari kita, bahwa syarat terpenting dari kebangkitan suatu bangsa adalah pendidikan. Dan unsur terpenting dari proses itu adalah guru. Sampai di sini bisa dipahami mengapa Kaisar Hirohito meletakkan harapan bagi kebangkitan Jepang di atas pundak para guru.
Bagaimana dengan Indonesia? Tahun ini kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke 113. Namun, kualitas pendidikan kita masih tertinggal jauh, bahkan untuk ukuran regional Asia Tenggara.
Peringatan Harkitnas adalah moment yang sangat tepat untuk menggelorakan kembali semangat insan-insan pendidik untuk mengambil peran dalam memajukan pendidikan. Khususnya ketika saat ini kita masih diperhadapkan dengan tantangan besar, pandemi Covid19 yang tak kunjung usai.
Ini sesuai dengan semangat yang dibangun oleh Kementerian Pendidikan melalui Program Pendidikan Guru Penggerak. Saatnya para guru dan semua pemangku kepentingan bergerak bersama, bahu membahu dan saling memberi dukungan.
Kebangkitan hakiki hanya bisa terwujud melalui pemikiran yang benar. Pemikiran yang benar lahir dari proses pendidikan yang tepat. Dengan usaha yang sungguh-sungguh yakinlah kita bisa. Sejarah telah membuktikan, KITA ADALAH BANGSA YANG TANGGUH, maka BERGERAKLAH.


0 komentar:
Posting Komentar